Jamaluddin Feeli

AL-QUR’AN YANG AGUNG

In Ahmadiyah, Kamis, November, Tabligh, Uncategorized on 12 Oktober 2009 at 17:05

Bulan Ramadhan ialah bulan yang didalamnya telah diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan keterangan-keterangan yang yata mengenai petunjuk dan Furqan. Maka barangsiapa diantara kamu yang hadir pada bulan ini hendaklah ia berpuasa didalamnya. Tetapi barangsiapa sakit atau didalam perjalanan, maka hendaklah ia berpuasa sebanyak bilangan itu pada hari-hari lain. Allah menghendaki keringanan bagi kamu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu, dan Dia menghendaki supaya kamu menyempurnakan bilangan itu dan supaya kamu mengagungkan Allah, karena Dia memberi petunjuk kepada kamu dan supaya kamu bersyukur. (Al Baqqarah: 186)
Puasa dibulan Ramadhan tidak ditetapkan begitu saja oleh Allah swt melainkan sangat erat kaitannya dengan diturunkannya Kitab Suci Al-Qur’an yang Agung kepada Rasulullah saw sebagai Kitab undang-undang Syariah yang paling sempurna. Jadi dari ayat tersebut menunjukkan bahwa didalam bulan Ramadhan tidak cukup hanya menunaikan ibadah puasa dan beriabadah kepada Allah swt saja melainkan membaca serta menelaah Kitab Suci Al-Qur’an juga harus diberi perhatian sepenuhnya.

Terdapat sebuah hadis yang meriwayatkan bahwa pada bulan suci Ramadhan Malaikat Jibrail a.s. datang setiap tahun kepada Rasulullah saw untuk bersama-sama mengulangi ayat-ayat suci Al-Qur’an yang telah diturunkan kepada beliau. Jadi semakin jelas sekali kemuliaan bulan Ramadhan ini bahwa Undang-undang Syariah yang kamil dan sempurna itu telah diturunkan Allah swt didalam bulan suci Ramadhan dalam bentuk Al Qur’an.

Pada bulan Ramadhan terakhir didalam kehidupan Rasulullah saw Malaikat Jibrail turun dua kali kepada Rasulullah saw untuk mengulangi bersama-sama ayat-ayat suci Al-Qur’an. Maka dari itu demi mengikuti sunnah Rasulullah saw kita-pun harus berusaha dua kali menamatkan bacaan Al-Qur’an pada bulan suci Ramadhan ini. Jika tidak bisa menamatkan bacaan Al-Qur’an sebanyak dua kali sekurang-kurangnya harus berusaha untuk menamatkannya satu kali saja dibulan suci Ramadhan ini.

Kemudian didalam bulan Ramadhan ini terdapat shalat tarawih dimana dibacakan banyak ayat-ayat suci Al-Qur’an juga dan biasanya diselenggarakan daras-daras Al-Qur’an juga selama bulan suci Ramadhan ini. Semua itu harus kita ikuti dan kita dengarkan sebaik-baiknya. Orang-orang yang keluar rumah pergi untuk bekerja atau berniaga bisa mendengarkan tilawat Al-Qur’an dari rekaman yang dipasang di kendaraan mereka. Pendeknya didalam bulan suci Ramadhan ini usaha untuk membaca atau mendengar tilawat kitab suci Al-Qur’an harus diusahakan sebanyak-banyaknya. Selain membacanya kita harus menelaah dan mencari hukum-hukum atau petunjuk-petunjuk didalamnya untuk diamalkan sehingga apabila bulan suci Ramadhan ini sudah berlalu kita bisa terus mengamalkan hukum-hukum itu pada hari-hari lain sepanjang bulan-bulan berikutnya, sehingga kita bisa menghargai betapa penting dan agung martabat bulan suci Ramadhan ini.

Dengan hanya mendengarkan penjelasan atau nasihat untuk menjadi orang bertakwa dan melakukan amal-amal saleh namun tidak tahu apa artinya takwa itu dan apa yang dimaksud dengan amal saleh itu, atau lama mendengarkan khutbah atau mendengarkan penjelasan tentang takwa kemudian pergi tanpa mempunyai kesan yang mendalam, tidak membawa kesan dan faedah yang nyata. Itulah sebabnya Allah swt berfirman: alladziina aatainaahumul-kitaaba yatluunahuu haqqo tilaawatih – Yakni Orang-orang yang kepada mereka Kami berikan Al Kitab ini mereka membacanya dengan bacaan yang sesungguh-sungguhnya. Artinya membacanya harus berulangkali dengan penuh semangat sambil merenungkan dan memahami apa yang terkandung didalamnya kemudian harus berusaha mengamalkan ajarannya.

Al-Qur’an harus dibaca dengan tekun secara dawam sambil merenungkan apa yang dimaksud dengan firman Tuhan didalamnya, kemudian berusaha menerapkan ajarannya didalam kehidupan kita. Didalam ayat 186 tersebut diatas Allah swt menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia. Jika Al-Qur’an ini tidak dibaca dengan penuh perhatian yang sungguh-sungguh dan tidak diresapi betul apa maksudnya maka bagaimanapun hebatnya petunjuk daripadanya tidak akan bisa diperoleh dan antara perkara yang benar dan yang dusta tidak bisa dibedakan. Jika orang mukmin ingin menunaikan ibadah puasa didalam bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya ia harus membaca Al-Qur’an ini dengan penuh perhatian sambil mencari hukum yang sesungguhnya untuk diamalkan.

Sehubungan dengan cara membaca Al-Qur’an Allah swt telah memberi petunjuk lain lagi yaitu: wa umirtu an akuuna minal-muslimiin, wa an-atluwal-qur’aana – Dan aku diperintah untuk menjadi salah seorang dari yang berserah diri kepada Tuhan – Dan supaya aku bacakan Al-Qur’an. (An Naml : 92-93) Berserah diri yang sempurna kepada Tuhan adalah berjanji untuk menghormati Kitab syariah yang sempurna ini yang telah diturunkan kepada Rasulullah saw dengan membacanya secara teratur didalam bulan suci Ramadhan, dan berjanji untuk meneruskan amalan ini setiap hari setelah Ramdhan berlalu dan berusaha untuk mengamalkan ajarannya didalam kehidupan sehari-hari. Hal itu akan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan membuat ibadah puasa kita diterima oleh Allah swt.

Masih Mau’ud a.s.bersabda: “Janganlah kalian meninggalkan Al-Qur’an seperti barang yang telah ditinggalkan, sebab di dalamnyalah terdapat kehidupan bagi kalian. Jangan hanya sekedar membaca dengan lantang, namun ia harus dibaca dengan tekun sambil memahami dan meresapi ajarannya dan berusaha untuk mengamalkannya. Jika tidak, kalian akan menjadi seperti murdah atau manusia sudah mati tak bernyawa. Barangsiapa yang menghormati Kitab suci Al-Qur’an ia akan mendapat kehormatan dilangit. Barangsiapa yang mendahulukan Al-Qur’an dari yang lainnya, dia akan ditempatkan paling depan dilangit”

Kita sangat beruntung dan bernasib baik sekali telah mendapat taufik untuk bergabung kedalam Jema’at Masih Mau’ud a.s. kita sudah berjanji untuk berusaha memahami kedudukan Syariah yang paling sempurna ini dan telah memahami martabat dan kedudukan Rasulullah saw sebagai Khataman Nabiyyin, sedangkan golongan Islam lainnya banyak sekali yang belum mendapat karunia untuk memahami hakikat sebenar Khataman Nabiyyin itu. Karunia inilah yang merupakan kehormatan istimewa bagi kita yang membedakan antara kita orang-orang Ahmadi dengan non Ahmadi dan menarik perhatian kita sepenuhnya terhadap pemahaman ajaran Al-Qur’an yang hakiki dan menanamkan kehormatan sejati terhadap Al-Qur’an didalam hati kita. Setiap perkataan dan setiap amalan kita harus menampilkan kenyataan sepenuhnya tentang kebenaran itu. Jika kita tidak berusaha menampilkan ajaran Al-Qur’an ini dengan perkataan dan dengan amalan maka akan berarti bahwa Al-Qur’an ini seperti benda yang telah ditinggalkan. Keadaan seperti itu telah difirmankan Tuhan sebelumnya sebagai peringatan berupa nubuatan didalam surah Al Furqan ayat 31 yang berbunyi:
Dan Rasul itu akan berkata: “Ya Tuhan-ku, sesungguhnya kaumku telah memperlakukan Al-Qur’an ini sebagai benda yang telah ditinggalkan.

Kaumku membacanya tetapi tidak mengamalkan hukum-hukumnya. Hal ini merupakan perkara yang sangat serius yang harus dipikirkan oleh setiap orang Ahmadi. Allah swt telah memberi taufiq kepada kita untuk beriman kepada Imam Zaman agar kita berusaha menerapkan ajaran-ajaran Al-Qur’an yang indah ini pada diri kita. Semoga Allah swt memberi taufiq dan kekuatan kepada kita untuk menegakkan Kerajaan Al-Qur’an dimuka bumi ini, dan berusaha keras untuk menjalani kehidupan sesuai dengan ajaran yang terkandung didalamnya. Dengan mengamalkan ajarannya setiap hari didalam kehidupan kita berarti kita terselamat dari perbuatan “meninggalkan Al-Qur’an ini.”

Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa Kitab Suci Al-Qur’an ini adalah sumber mata air hakiki yang mampu memberi kehidupan dan keselamatan kepada kita. Dari antara orang-orang yang tidak mematuhi ajarannya adalah mereka yang tidak beriman kepadanya, dan tidak menganggapnya sebagai Kalam Allah swt. Mereka itulah yang akan terlempar jauh. Akan tetapi orang-orang yang beriman dan menganggap bahwa Al-Qur’an adalah Kalam Allah swt dan Kitab yang memberi keselamatan kepada orang-orang beriman, jika mereka tidak mengamalkan ajaran-ajarannya maka mereka sangat disesalkan dan akan bernasib sangat malang sekali. Banyak sekali orang-orang yang telah beriman namun sepanjang hidup mereka tidak pernah membacanya. Permisalan orang yang lalai, tidak mempunyai perhatian kepada Kitab yang memberi kehidupan ini, adalah seperti orang yang mengetahui ada sebuah sumber mata air yang sangat jernih dan murni serta yang bisa memberi kesegaran, bahkan air itu memberi kesehatan bagi manusia. Ia mengetahui betul tentang keadaan dan khasiat sumber mata air yang sangat baik itu namun ia tidak pernah pergi kesana untuk meminumnya dan tetap ia dalam keadaan dahaga dan kehausan. Keadaan orang seperti itu sungguh bodoh dan jahil yang amat sangat. Orang Muslim harus menghargai sumber mata air ruhani yang agung dan murni yang merupakan karunia dari Allah swt ini dan harus berusaha untuk beramal sesuai dengan ajaran-nya. Kemudian tengoklah bagaimana Allah swt akan menolong memecahkan segala problema yang tengah mereka hadapi.

Kewajiban kita untuk menyebarkan ajaran-ajaran Al-Qur’an semakin luas dan bertambah berat sebab Masih Mau’ud a.s. telah mengisyarahkan keadaan orang-orang Islam zaman sekarang sudah demikian buruk dan jauh dari hukum-hukum dan syariah Al-Qur’an. Kita harus berpegang sungguh-sungguh kepada ajaran-ajaran Al-Qur’an sedemikian rupa eratnya sehingga kelancangan dan ketidak sopanan yang dilancarkan oleh orang-orang Non Muslim terhadap Islam disebabkan perilaku buruk beberapa gelintir orang Muslim bisa dihentikan. Prilaku baik dan ramah orang-orang Ahmadi sesuai ajaran Islam sejati harus mampu merubah sikap dan imej orang-orang Non Muslim. Dengan karunia Allah swt banyak orang-orang Ahmadi yang telah menyampaikan keindahan ajaran Al-Qur’an melalui ceramah-ceramah atau diskusi didalam seminar-seminar yang membuat orang-orang Non Muslim sangat terkesan dan mengatakan bahwa mereka belum pernah mendengar keindahan ajaran Islam seperti itu sebelumnya.

Jika kita menjalani kehidupan sehari-hari sambil menampilkan ajaran Islam yang hakiki sesuai dengan keindahan yang telah kita jelaskan kepada mereka, bukanlah hanya sekedar ucapan retorika atau akademika belaka melainkan harus berupa teladan secara praktikal yang berkesan. Kita harus berseru kepada orang-orang Muslim lain didunia, jika mereka ingin menunjukkan jati diri mereka sebagai Muslim berbeda dengan kita orang-orang Ahmadi boleh saja mereka berbuat demikian. Akan tetapi mereka jangan mencemarkan nama baik Islam atas nama Agama Islam. Prilaku atau tindak-tanduk mereka harus menampilkan ajaran Al-Qur’an yang sesungguhnya. Bagaimana bentuk dan keadaan ummat Islam pada masa sekarang yang digambarkan oleh Masih Mau’ud a.s. masih tetap buruk tidak berobah keadaannya. Dalam beberapa segi keadaan ummat Islam pada masa sekarang sangat buruk sekali. Selama mereka tidak merubah perilaku hidup mereka sesuai dengan ajaran Al-Qur’an mereka tidak akan bisa terlepas dari berbagai problema dan musibah yang mereka hadapi. Manusia tidak mau mendengar tentang keindahan Islam hanya sekedar lisan saja. Nama Islam yang harum akan berbicara sendiri apabila manusia telah giat menampilkan keindahan ajarannya didalam pergaulan masyarakat maupun didalam kehidupan sehari-hari.

Tidak akan ada seorang alim-pun yang mampu menjelaskan maksud firman-firman Tuhan didalam Al-Qur’an selama Tuhan tidak mengajar atau memberi petunjuk secara langsung kepadanya. Pada zaman sekarang ini Allah swt telah mengajar dan memberi petunjuk langsung tentang rahasia Al-Qur’an kepada seorang hamba pilihan-Nya yang ianya telah dianggap oleh dunia Islam sebagai pendusta dan dajjal. Semoga Allah swt mengasihani mereka dan semoga Allah swt membuka pintu hati mereka untuk menerima kebenaran hamba pilihan-Nya itu. Dan semoga Tuhan memberi taufiq kepada kita semua untuk mengamalkan ajaran-ajaran Al-Qur’an yang hakiki didalam kehidupan kita lebih giat dari sebelumnya.

Allah swt sendiri memberi bimbingan terus-menerus bagaimana cara menjaga dan menghormati Al-Qur’an dan apa yang harus dilakukan sebelum kita memulai membacanya. Al-Qur’an sendiri menjelaskan: faidzaa qoro’tal-qur’aana fasta’idz billahi minasy-syaithoonirrojiim – Apabila engkau (hai Muhammad) hendak membaca Al-Qur’an, maka mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.

Syaitan telah mencoba untuk menggoda manusia dari jalan kebaikan kejalan yang sesat. Sedangkan setiap lafaz didalam Al-Qur’an membimbing manusia kearah jalan takwa demi memperoleh kecintaan dan keridhaan Allah swt. Itulah sebabnya Allah swt telah mewajibkan kepada siapapun yang ingin meraih kedudukan yang tinggi dalam mencintai dan mendekatkan dirinya kepada-Nya, sebelum membaca firman-Nya didalam Al-Qur’an ia harus memanjatkan do’a dengan sungguh-sungguh agar dilindungi dari serangan atau godaan syaitan yang terkutuk itu dan agar ia diberi kemampuan untuk mengamalkan ajaran-ajaran-nya. Syaitan akan membuat banyak sekali hambatan-hambatan, jika tidak dilakukan usaha untuk menjaga diri dari bahayanya, syaitan akan mencegah kita dari memahami ajaran Al-Qur’an yang sebenarnya atau kita akan selalu berada dibawah pengaruh kekuasaannya. Itulah sebabnya setiap orang membaca Al-Qur’an terlebih dahulu ia harus memohon perlindungan dari syaitan yang terkutuk itu, jika tidak ia tidak akan mampu memahami arti sebenar dari ayat-ayat yang ia baca itu.

Didalam surah Al Muzammil Allah swt berfirman sebagai berikut :
” …Dan Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kamu tak dapat mengukur waktu dengan cermat, maka datanglah Dia kembali dengan kasih sayang kepadamu. Maka bacalah Al-Qur’an sebanyak yang mudah bagimu. Dia mengetahui bahwa beberapa diantara kamu yang mungkin sakit, dan beberapa yang lainnya sedang bepergian dibumi mencari karunia Allah, dan beberapa lainnya lagi sedang berjihad dijalan Allah. Maka bacalah dari Al-Qur’an itu yang mudah bagimu, dan dirikanlah salat…..” (Al Muzammil : 21)

Pada bagian permulaan surah ini Allah swt telah memerintah Rasulullah saw untuk menunaikan salat tahajjud dimalam hari. Dan disini Allah swt menyuruh beliau untuk membaca Al-Qur’an sebanyak yang mudah dilakukan atau yang sudah dihafal. Firman-Nya: Maka bacalah dari Al-Qur’an itu sebanyak kemudahan yang ada padamu. Ini bukan berarti bahwa apa yang manusia sudah ketahui atau sudah dihafal tentang Qur’an sudah cukup baginya. Bahkan manusia harus berusaha terus belajar dan mempelajari Al-Qur’an sebanyak mungkin supaya bisa meraih berkat-berkatnya sebanyak-banyaknya. Sebab, membaca Al-Qur’an, menelaah pengertian ajarannya dan menerapkan ajarannya didalam kehidupan sehari-hari adalah pekerjaan yang sangat penting sekali. Allah swt telah menurunkan ilham kepada Masih Mau’ud a.s.:

al-khiru kulluhu fil-qur’aani Artinya : Semua jenis kebaikan terdapat didalam Al-Qur’an (Tazkirah hal: 444)

Membaca Al-Qur’an harus jelas dan terang setiap lafaz yang diucapkan sehingga mudah untuk dipahami artinya, dan harus dibaca perlahan-lahan dan dengan suara yang baik dan merdu. Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Membaca Al-Qur’an dengan suara yang merdu juga adalah ibadah” Bahkan Rasulullah saw pernah bersabda: “Barangsiapa yang membaca Al-Qur’an tidak dengan suara yang merdu dia bukanlah dari kita.”

Didalam surah Albqarah ayat 232 Allah swt berfirman :

Artinya: “ …dan ingatlah ni’mat Allah kepadamu, dan apa yang diturunkan kepadamu Yakni Kitab dan Hikmah yang dengan itu Dia menasihati kamu.

Jadi semua perkara yang telah diturunkan Allah swt didalam Al-Qur’an ini adalah nikmat bagi orang-orang mukmin. Apabila Al-Qur’an tidak dibaca dengan perhatian dan pemahaman yang baik siapapun tidak akan memperoleh ni’mat yang dimaksud didalam ayat tersebut. Sebetulnya didalam membaca Al-Qur’an dan menela’ah hukum-hukumnya banyak sekali berkatnya bagi orang-orang beriman. Sebab hal itulah semua yang bisa meningkatkan takwa orang-orang beriman.

Didalam surah As Sad ayat 30 Allah swt berfirman :

Artinya : Inilah kitab yang telah Kami turunkan kepada engkau, penuh dengan keberkatan, supaya mereka dapat merenungkan ayat-ayat-nya, dan supaya mereka yang diberi pengertian dapat memperhatikannya.

Orang-orang yang beriman dan membacanya dengan tekun, mereka diberi pemahaman yang hakiki, sebab Al-Qur’an mengandungi perkara-perkara yang berkaitan dengan para anbiya dimasa lampau dan Tuhan hendak melestarikan semua perkara dizaman lampau itu, perkara-perkara dizaman sekarang sebaik mungkin dan juga perkara-perkara yang akan datang kemudian sebagai nubuatan. Adalah kewajiban manusia yang sudah mempunyai pemahaman luas untuk mengumumkan kepada di dunia agar mereka mengikuti ajaran Al Qur’an ini dan menaruh perhatian terhadap hukum-hukumnya. Mereka akan layak mengumumkan demikian kepada dunia jika mereka sendiri sudah mengamalkan ajaran-ajarannya didalam kehidupan mereka sehari-hari.

Didalam surah Al ‘Araf ayat 205, Allah swt berfirman :

Artinya: “Dan apabila Al-Qur’an maka hendaklah kamu mendengarkannya dan diamlah agar kamu dikasihi.”

Setiap orang Ahmadi harus menaruh rasa hormat terhadap Al-Qur’an, dan harus menanamkan perasaan hormat demikian didalam hati anak-anak mereka. Banyak orang yang bersikap lalai tidak menaruh perhatian apabila tilawat Al-Qur’an sedang dikumandangkan melalui TV. Kadangkala di TV tengah dilakukan tilawat Al-Qur’an, sedangkan orang-orang yang duduk disampingnya sibuk bercakap-cakap dan mereka tidak menaruh hormat kepadanya. Apabila tilawat Al-Qur’an sedang dikumandangkan di TV, percakapan harus dihentikan atau jika percakapan itu begitu penting untuk dilanjutkan, maka TV harus dipadamkan.

Didalam surah Hud ayat 111 Allah swt berfirman :

Artinya : Maka tetaplah engkau pada jalan yang lurus sebagaimana yang telah diperintahkan kepada engkau, dan juga kepada orang yang telah bertaubah kepada Allah bersama engkau, dan janganlah kamu melampaui batas, sebab sesungguhnya Dia melihat apa-pun yang tengah kamu kerjakan.

Perintah ini bukan ditujukan hanya kepada Rasulullah saw. Sesungguhnya semua perintah didalam Al-Qur’an yang turun kepada Rasulullah saw ditujukan kepada semua orang-orang beriman. Disini khasnya kepada orang-orang beriman dan orang-orang yang telah bertaubah. Ingatlah, hubungan perintah ini tidak cukup hanya berkaitan dengan beribadah secara paraktikal saja, namun intisari dari perintah itu harus dicari, yaitu meraih keridhaan dan kecintaan Allah swt.

Rasulullah saw bersabda : Pengaruh Surat Hud ini sudah membuat saya jadi tua. Memang tanggung jawab yang beliau terima itu sangat berat. Bahwa beliau sangat memikirkan bagaimana pentingnya perintah Allah swt didalam surah itu khasnya fastaqim kama umirta – tetaplah engkau pada jalan yang lurus sebagaimana yang telah diperintahkan kepada engkau. Dan beliau selalu berfikir bagaimana perintah ini bisa diamalkan sepenuhnya oleh ummat beliau. Jadi didalam sabda beliau inipun terdapat nasihat bagi kita untuk mengamalkan perintah itu. Beliau adalah seorang pemberi petunjuk yang paling sempurna yang wawasan missinya meliputi seluruh dunia dan pola kehidupan beliau merupakan implimentasi ajaran Al-Qur’an secara sempurna yang menjadi suri teladan bagi manusia di seluruh dunia sampai hari kiamat.

Hari ini sungguh menjadi pelajaran bagi kita, jangan hanya pandai bicara, namun kita harus memahami betul perintah-perintah Allah sawt itu kemudian berusaha menerapkannya didalam perikehidupan kita sehari-hari. Sebagaimana firman-Nya didalam surah Al An’am ayat 156 Allah swt berfirman: “Dan inilah Kitab Al-Qur’an yang Kami telah menurunkannya dengan penuh berkat, maka ikutilah dia dan bertakwalah supaya kamu dikasihani.”

Selain itu mengenai menegakkan suasana damai ditengah-tengah masyarakat Allah swt telah berfirman didalam surah Al An’an ayat 55 yaitu :

“Dan apabila datang kepada engkau orang-orang yang beriman kepada Tanda-tanda Kami maka katakanlah: “ Selamat sejahteralah atasmu ! Tuhan-mu telah menetapkan atas zat-Nya memberi rahmat sehingga barangsiapa diantara kamu berbuat keburukan karena kejahilan, lalu ia bertobat sesudah itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Ajaran yang sangat indah ini menjelaskan suasana damai ditengah-tengah masyarakat. Apabila ajaran yang sangat indah ini dikembangkan ditengah-tengah masyarakat, maka suasana kacau dan perselisihan atau pertengkaran satu sama lain akan hilang lenyap dengan sendirinya. Suasana persaudaraan yang nyaman dikalangan masyarakat akan tumbuh dengan baik.

Orang-orang Ahmadi mengaku bahwa mereka betul-betul beriman kepada Kitab suci Al-Qur’an dan berusaha untuk mengamalkan ajaran-ajarannya. Al-Qur’an menyuruh kita untuk saling menyampaikan amanat keselamatan. Al-Qur’an adalah sebuah Kitab Agung yang ajarannya mencakup segala kepentingan ummat manusia. Sangat penting sekali bagi kita untuk membacanya setiap hari secara dawam sambil merenungkan kandungannya demi meningkatkan martabat keruhanian kita. Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa Kitab suci Qur’an harus selalu dipelajari dan direnungkan isinya, sebab didalamnya mengandungi segala macam perkara untuk panduan hidup kita. Al-Qur’an adalah obat bagi setiap penyakit yang terkandung didalam dada manusia dan ia juga sebagai obat penawar untuk memperbaiki setiap jenis keburukan.

Semoga Allah swt memberi taufik kepada kita semua untuk meraih keridhaan-Nya melalui Al-Qur’an ini dan semoga kita juga mampu membimbing anak-anak kita untuk memahami kindahan ajaran Al-Qur’an dan mencintainya dengan sungguh-sungguh. Amin !!

Alih Bahasa oleh Hasan Basri

Khutbah Huzur: Al-Qur’an dan Puasa Ramadhan
RINGKASAN KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 4 SEPTEMBER 2009 dari Baitul Futuh, London, U.K.

Sunber : http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&task=view&id=262&Itemid=89

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: