Jamaluddin Feeli

AHMADIYAH ADALAH ISLAM

In Ahmadiyah, Kamis, November, Tabligh, Uncategorized on 14 Oktober 2009 at 11:53

Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah bagian dari Jemaat Ahmadiyah yang tersebardi 178 negara dengan jumlah anggota lebih dari 200 juta orang.

Jemaat Ahmadiyah merupakan organisasi keagamaan yang berlandaskan Islam dengan kitab sucinya ALQURAN yang terdiri dari 30 juz dan 114 surah.

Jemaat Ahmadiyah mempercayai Yang Mulia Nabi Muhammad saw. sebagai Khatamun-Nabiyyin, yakni, Nabi Terakhir pembawa syariat. Dan juga, pembawa agama Islam yang sempurna sehingga tidak diperlukan lagi Kitab Suci baru dan Agama baru.

Jemaat Ahmadiyah sebagaimana Umat Islam yang lain, percaya dan mengamalkan sepenuh hati Rukun Islam yang lima.

Jemaat Ahmadiyah sebagaimana Umat Islam yang lain, juga percaya kepada Rukun Iman yang enam.

Pada umumnya, umat Islam percaya bahwa Nabi Isa a.s. akan datang di akhir zaman dengan pangkat NABI yang akan datang sesudah YM Nabi Muhammad saw.. Bahkan, empat kali telah digunakan kata “Nabi Allah Isa” (Hadits Muslim), kedatangannya tanpa membawa agama baru, kitab suci baru dan ajaran baru.

Dalam kumpulan masalah-masalah diniyah dari Muktamar NU ke-1
sampai ke-7 yang diterbitkan oleh Pengurus Besar NU tanggal 21 September 1960, dalam Muktamar yang ke-3 di Surabaya tanggal 27 September 1928, halaman 34-35, menyebutkan tentang Nabi Isa a.s. setelah turun kembali ke dunia… Kita wajib berkeyakinan bahwa Nabi Isa a.s. itu akan turun kembali pada akhir zaman sebagai Nabi dan Rasul yang melaksanakan syariat Nabi Muhammad saw. dan hal itutidak berarti menghalangi Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi terakhir sebab Nabi Isa a.s. hanya akan melaksanakan syariat Nabi Muhammad saw.. Sedang Mazhab Empat, pada masa itu hapus (tidak berlaku).

Semua golongan dalam Ahli Sunnah, percaya bahwa Nabi Isa Akhir aman berpangkat Nabi. (Al-Mirqot Syarh Misykat, hal. 564).

Syech Muhyiddin Ibu Ar-Rabbi: “Isa yang akan datang, akan menjadi hakim di antara umat Islam tanpa syariat baru. Dan tanpa diragukan, ia adalah seorang Nabi.”

Imam As-Sayuti menjelaskan: “Nabi Isa a.s., meskipun Khalifah dalam umat Muhammad, namun beliau seperti kedudukan semula tetap Nabi dan juga Rasul.” (Hujajul Kiramah, hal. 426) MKN 22

Sabda Rasulullah saw.: “Abu Bakar adalah sebaik-baik manusia di
dalam umat ini, kecuali ada seorang Nabi.” (Kunuzul-Haqaa’iq Fii “Haditsi Khairul Khala’iq”, hal. 4).
“Abu Bakar dan Umar r.a. adalah pemimpin orang-orang biasa Ahli Surga dari orang-orang sebelumnya dan yang akan datang, kecuali, ada Nabi-nabi dan Rasul-rasul.” (Misykat Bab “Manaqib Shahabah”) MKN 186

Rasulullah saw. bersabda kepada Hadhrat Ibnu Abbas r.a., “Bahwa, di antaramu akan ada Kenabian dan Kerajaan.” (Hujajul-Kiramah, hal. 97) MKN 186

Rasulullah saw. bersabda, “Di antaramu akan ada Khilafat dan juga Kenabian.” (Ibnu Asy-Syakir, dari Abu Hurairah; Kanzul Umal) MKN 186

Riwayat Hadhrat Anas r.a.: “Hadhrat Ali r.a. berkata, aku tak dapatkan zaman yang lebih baik dari zaman ini. Kecuali, suatu zaman yang bersamanya ada Nabi.” (Musnad Ahmad, Jilid II, hal. 27) MKN 204

“Nabi Musa memohon, `Ya Allah jadikan aku Nabi umat itu.’ Allah berfirman, `Nabi umat itu adalah dari antara umat itu sendiri.'” (Imam Jalaluddin Sayuti r.h. dalam Kitab Al-Khashaish Al-Kubro, Jilid I, hal. 12) MKN 188

Hadhrat Siti Aisyah r.a. berkata, “Katakanlah beliau khataman-Nabiyyin, tapi, jangan katakan tidak ada Nabi sesudahnya.” (Tafsir Durr Manshur, Jilid V, hal. 204) MKN 200

Imam Muhammad Tahir: “Katakan beliau saw., khataman-Nabiyyin. Tapi, jangan katakan: Tidak ada Nabi sesudahnya.” (Takmilah Majma’ul Bihar, hal. 85) MKN 200

Rasulullah saw. bersabda, “Para Sahabat bertanya, `Ya Rasulullah, kapan wajibnya Kenabian engkau?’ Beliau menjawab, “Sejak saat ketika Adam a.s. masih dalam keadaan antara ruh dan jasad.” (Tirmidzi) Beliau juga bersabda, “Aku sudah menjadi Nabi ketika Adam masih dalam bentuk antara air dan tanah.” Beliau saw. juga bersabda, “Aku telah ditetapkan di sisi Allah sebagai Khatamun-Nabiyyin, sedangkan Adam masih dalam bentuk tanah lempung.” (Kanzul Umal, Jilid VI, hal. 112) MKN 81

“Orang yang itaat kepada Rasulullah saw., akan mendapat kedudukan Nabi-nabi, Shiddiq-shiddiq, Syahid-syahid, dan sholeh-sholeh.” (Tafsir Bahrul Muhith, Jilid III, halaman 87; IN 65).

Kepercayaan orang Syiah: “Allah Taala pasti akan mengembalikan lagi ke dunia semua Nabi-nabi yang pernah diutus dari sejak Adam hingga akhir.” (Tafsir Al-Qummi, hal. 23; IN 67).

Nawab Shiddiq Hassan Khan: “Nabi Isa akan datang sebagai Khalifah pada umat Muhammad. Namun, beliau juga seorang Rasul dan Nabi.” (Hujajul Kiramah, hal. 426; IN 68).

Imam Sayuthi memberikan bukti bahwa Isa Yang-Akan-Datang adalah Nabi. Sifat Kenabian-nya tidak akan sirna semasa hidupnya, maupun setelah wafatnya.” (Hujajul Kiramah, hal. 431; IN 68).

Sabda Rasulullah saw.: “Jika sekiranya Ibrahim hidup, ia akan menjadi Nabi yang benar.” (Ibnu Majah, Jilid I, Kitab “Janaiz”). Dan sabda Rasulullah, “Demi Tuhan, anakku (Ibrahim), pasti akan menjadi seorang Nabi putera dari seorang Nabi.” (Hujajul Kiramah, Jilid VI, hal. 18; IN 68). Ibrahim wafat tahun 9 H, sedang ayat Khataman-Nabiyyin turun tahun 5 H.

Rasulullah saw. bersabda, “Aku khataman-nabiyyin sedangkan Adam belum lagi lahir.” (Tafsir Ibnu Katsir; Tafsir Fat’hul-Bayan, Jilid VIII, hal. 91; Ref. Hadits Musnad Ahmad; IN 69).

Riwayat Hadhrat Abu Hurairah: “Ya Rasulullah, sejak kapan kenabian Tuan?” Beliau menjawab, “Sejak Adam belum lagi lahir.” (Tirmidzi, Jilid II, “…Manaqib Rasulullah”; IN 69).

Ada seorang datang kepada Mughirah bin Syu’bah r.a.. Ia berkata, “Allah Taala memberikan pujian kepada Muhammad: Khatamul-Anbiya Laa Nabiya Ba’dahu. Lalu Mughirah berkata, “Jika kamu katakan saja khatamul-anbiya, sudahlah cukup, sebab, kami pada masa Rasulullah selalu mengatakan bahwa Isa a.s. akan datang. Jika ia datang, maka sebelum beliau saw. pun, ia adalah seorang Nabi. Dan setelah beliau saw. pun, ia akan tetap seorang Nabi.” (Kitab Darr Mantsur, Jilid V, hal. 204, di bawah ayat “khaataman-nabiyyin”; IN 70)

Ibnu Al-Anbari menulis dalam kitab Al-Mas’haahif bahwa Abdurrahman Salma mengatakan bahwa “Saya ditugaskan mengajar Hasan dan Husain membaca Alquran”. Pada suatu hari, saya mengajarkan bacaan Alquran, ketika itu Hadhrat Ali sedang lewat. Saat itu saya membaca ayat khataman-nabiyyin. Lalu Hadhrat Ali berhenti dan berkata, semoga Allah memberi taufik kepadamu supaya engkau mengajarkan anak-anakku membaca khataman-nabiyyin dengan “ta’ fat’hah (Êó)” . (Darr Mantsur, Jilid V, hal. 204) IN 71

Nabi Isa yang akan datang di akhir zaman, akan menjadi Imam kamu dari antara kamu sendiri (Bukhari, Juz II, hal. 162).

Sabda Rasulullah saw.: “Bagaimana akan rusak umat (Islam) yang saya pada permulaan dan Isa pada akhirnya (akhir zaman).” (Kanzul ‘Umal, Hujajul Kiramah, hal. 423).

Sebaik-baik umat ini ialah, permulaannya dan bagian akhirnya, karena pada permulaannya ada Rasulullah saw. dan pada akhirnya ada Isa yang akan datang di akhir zaman. (Hujajul Kiramah, hal. 423).

Syech Akbar Muhyiddin Ibnu Arabi: “Wajib turunnya (Isa) di akhir zaman dalam wujud orang lain.” (Tafsir Ibnu Arabi, hal. 65).

Imam Sirajuddin ibn Al-Wardi dalam kitabnya, Haridatul-`Ajaa’ib wa Faridhatul Raghaib, hal. 214: “Satu golongan berkata bahwa maksud turunnya Isa a.s. adalah pemunculan seorang yang dalam hal berkat dan kemuliaan, serupa dengan Nabi Isa a.s. (Israil) sebagaimana seorang yang baik dikatakan malaikat dan orang yang jahat dikatakan syaithan, tetapi bukan berarti ia wujud malaikat dan syaithan.” MKN 17

Imam Ibnu Hajar Al-Haytsami dalam Al-Fatawa Al-Haditsiyyah: “Ya, wahyu hakiki akan diturunkan kepada Nabi Isa Yang Akan Datang seperti tersebut di dalam Hadis Muslim.” (Ruhul-Ma’ani, Jilid VII, hal. 65). MKN 51

Imam Ghazali: “Nabi-nabi adalah dokter-dokter hati (ruh) manusia… mereka berhajat kepada Nabi-nabi seperti mereka berhajat kepada dokter-dokter.” (Ihya-u-‘Ulumuddin, Juz I, hal. 28, 100).

Kami bersifat mursil (yang mengutus Nabi dan Rasul) sebagai rahmat dari Tuhan-mu (QS Ad-Dukhan : 6, 7).

Pendiri Jemaat Ahmadiyah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah satu-satunya orang yang telah menda’wakan dirinya sebagai Nabi Isa yang datang di akhir zaman.

Orang-orang Ahmadiyah telah mengakui pendakwaan beliau yang berdasarkan Alquran dan Hadits. Sedangkan umat Islam pada umumnya masih menunggu kedatangannya. Di sinilah letak perbedaannya.

Pendapat Muhammadiyah: “Pergerakan Ahmadiyah telah didirikan dengan Pimpinan Ilahi oleh Hazratul-Mukaram Almarhum Ghulam Ahmad, Mujadid (Pengubah) untuk abad ke-14, Mahdi dan Almasih yang tersebut dalam nubuwat… (Dikutip dari Almanak Muhammadiyah, hal. 42, tahun 1347 H).

Departemen Urusan Agama Islam, Wakaf, Da’wah dan Irsyad Kerajaan Saudi Arabia yang menaungi pencetakan Alquran dan terjemahnya, hadiah dari Raja Fahd ibn Abdal Aziz Al-Saud, menulis: “Sebagai usaha kedua dalam menterjemahkan Alquran ke dalam Yoruba ialah, menggabungkan diri dengan Ahmadiyah yang salah satu kegiatannya menerjemahkan Alquran. Ahmadiyah melakukan kegiatan di Nigeria sejak 1916 dan sangat cepat mendapat pengikut.” (Hal. 33-35)

TADZKIRAH bukanlah kitab suci orang Ahmadiyah. Tadzkirah adalah kumpulan wahyu, ilham dan mimpi-mimpi suci Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad selaku Imam Mahdi dan Nabi Isa Yang Dijanjikan yang dibukukan setelah beliau wafat. Di kalangan orang Ahmadiyah Indonesia, hanya segelintir orang yang memiliki buku itu. Sedangkan Alquran dimiliki oleh setiap orang Ahmadiyah di mana saja dan mereka membaca dan mengamalkannya.

Nawa bin Sam’an meriwayatkan bahwa ketika Nabi Isa akan turun ke dunia. Allah akan menurunkan wahyu kepadanya. (Muslim, Jilid II, Bab “Zikir Dajjal”, halaman 411).

Tafsir Ruhul Ma’ani, Jilid V, halaman 65: “Nabi Isa yang akan datang kepadanya akan diturunkan wahyu hakiki.”

Allamah Muhammad Al-Haban: “Nabi Isa yang akan datang akan memberi perintah sesuai syariat Rasulullah saw. … Dan Jibril, akan membawakan wahyu hakiki kepada beliau.” (As-‘aafurrooghibiin, halaman 147; IN 56).

Imam Abdul Wahab Sya’rani: “Nabi Isa yang akan datang, akan diturunkan ilham kepadanya berupa syariat Nabi Muhammad (Alquran).” (Al-Yawaqit Wal-Jawahir, hal. 89, pembahasan no. 47; APB, hal. 171).

Imam Ali Al-Qori: “Nabi Isa Yang Akan Datang menjelaskan hukum-hukum syariat Nabi Muhammad saw. dan menguatkan cara-cara (pengamalannya). Meskipun, kepadanya diturunkan wahyu.” (Mirqotusy-Syarh Misykat, Juz V, hal. 564).

Syech Muhyiddin Ibnu Ar-Rabbi: “Turunnya Alquran pada kalbu para Wali, tidak terputus meskipun bentuk asli Alquran ada pada mereka. Tetapi, turunnya Alquran kepada para Wali Allah, adalah untuk kenikmatan. Kemuliaan ini dianugerahkan hanya kepada sebagian mereka.” (Futuhatul-Makiyyah, Jilid II, hal. 287; APB 171).

Kebanyakan orang benci kepada kebenaran. (QS Al-Maidah : 70).

Jika engkau mengikuti orang banyak di bumi, tentu mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah. Karena, mereka hanya mengikuti persangkaan mereka saja. Dan mereka hanya suka berbohong. (QS Al-An’am : 117).

Sesungguhnya kami mengutus engkau dengan kebenaran sebagai pembawa khabar suka dan pemberi peringatan dan tiada suatu kaumpun melainkan telah
diutus kepada mereka seorang pemberi peringatan (QS ………………………………).

Dan ada beberapa Rasul yang telah kami ceritakan kepada engkau sebelum ini, dan ada pula beberapa Rasul yang tidak kami ceritakan kepada engkau (QS An-Nisa : 164).

Menurut hadis Musnad Ahmad Jilid V hal. 266; Allah Taala telah mengutus 124.000 Nabi.

Dalam Tafsir Al-Khazin, Juz I, hal. 169: “Jumlah Nabi adalah 124.000, di antaranya adalah 313 Rasul…”

Dalam Tafsir Kabir, Juz III, hal. 408: “Sesungguhnya Allah telah mengutus kepada kaum Israil ribuan Nabi yang tidak mempunyai kitab baru. Mereka diutus untuk mendirikan Taurat saja.”

Rasulullah saw. bahwa dari bukit Ruha, telah bertawaf di Ka’bah, 70 Nabi dengan bercadar tanpa alas kaki. (Syarh Ta’aruf, hal. 7; APB, hal. 339).

Imam Asy-Syauqani: “Bumi tidak pernah kosong dari seorang Rasul yang hidup dengan tubuh kasarnya, yang demikian jumlahnya RIBUAN.” (Al-Yawaqit wal Jawaahir, pembahasan no. 45, Jilid II, hal. 60; APB, hal. 201).

Jadi jumlah Nabi/Rasul itu bukan DUA PULUH LIMA.

ARTI KHATAMAN-NABIYYIN

Kata “Khatam”

1. Allamah Az-Zarqani: “Sebagus-bagus Nabi dalam hal kejadian dan dalam hal akhlaq.” (Syarh Al-Mawahibul Laduniyah, Juz III, hal. 163).

2. Allamah Ibnu Khaldun: “Nabi yang mendapat Kenabian yang sempurna.” (Muqadimah Fatsal 52).

3. Abu Hasan Asy-Syarif Ar-Ridha: “Penjaga bagi syariat, pengumpul bagi ajaran dan tanda-tanda, cap atau stempel.” (Takhsinul Biyan Fii Majaazatil-Quraan, hal. 191-192).

4. Asy-Syech Bali Effendi: “Tidak ada sesudahnya Nabi yang membawa syariat dan tidak menghalangi adanya Nabi Isa di belakang beliau.” (Syarh Fususul-Hikam, hal. 56).

5. Menurut ahli Lughot `Arab: “Paling mulia”. (Miratusy-Syuruh, hal. 38).

6. Kamus Quran Imam Ar-Raghib: “Stempel.” (Di bawah kata “khatam”).

7. Allamah Abdul Fadhli: “Kebagusan atau perhiasan.” (Gharibul-Quraan Fii Lughatil-Quraan).

8. Lembaga Bahasa IAIN Syarif Hidayatullah: “Cincin”. (Al-`Arabiyyah Bin Namaazij, hal. 149).

9. Allamah Imam `Ali Al-Qori: “Tidak ada Nabi sesudahnya yang akan membatalkan agamanya, dan Nabi yang bukan dari umatnya.” (Maudhuat Kabir,
hal. 59).

10. Maulana Jalaluddin Rumi: “Limpahan karunia Tuhan tidak akan menyamai beliau saw. baik sebelumnya atau yang akan datang.” (Matsnawi, Jilid VII, hal. 8).

11. Waliyullah Syah Muhaddits Delvi, Mujaddid Abad XII: “Tidak didapatkan seseorang yang seperti beliau yang Allah utus kepada manusia sebagai pembawa syariat.” (Tafhimatul Ilahiyyah, Jilid II, hal. 72; APB, hal. 204).

12. Syech Abdul Qadir Al-Rustani: “Setelah beliau saw., tak dibangkitkan seorang Nabi pembawa syariat baru.” (Taqribul-Maram, Jilid II, hal. 233; AKN, hal. 13).

13. Maulana Abu Hasanat Abdul Hayye: “Setelah pribadi Rasulullah saw., tidak tertutup kemungkinan adanya Nabi kecuali pembawa syariat baru.” (Dafi’ul Was-waas, hal. 16; AKN, hal. 13).

14. Ahli Tasawuf, Mirza Madhzar Jan Jana (wafat, 1781): “Selain pembawa syariat sempurna, bagi Allah tidak ada penghalang adanya Kenabian lain.” (Maqamat Mazhari, hal. 88; AKN, hal. 14).

15. Syech Abu Said Mubarak Ibn Ali Mahzumi (wafat, 513 H): “Manusia yang paling sempurna.” (Tuhfah Mursalah Syarif Materjam, hal. 51; AKN, hal. 21).

16. Sufi Abu Abdullah Muhammad bin Ali Hussain Al-Hakim At-Tarmidzi (wafat, 308 H): “Nabi terakhir dalam hal kedatangan tiada keistimewaan, ini adalah ta’wil orang-orang bodoh dan jahil.” (Kitaab Khaatamul-Auliyaa’, hal. 341; AKN, hal. 21).

17. Maulana Muhammad Qosim Nanotawi (wafat, 1297 H): “Kedudukan terpuji.” (Tahzirun-Naas, hal. 3; AKN, hal. 22).

18. Imam Fachruddin Ar-Razi (wafat, 544 H): “Harus berarti paling mulia.” (Tafsir Kabir, Jilid VI, hal. 31).

19. Sayyid Abdul Karim Jailani (wafat, 767 H): “Pembawa kesempurnaan.” (Insaanul-Kamiil, Bab 36, Jilid X, hal. 69).

20. Tafsir Shafi, hal. 111: “Paling mulia.”

21. Tafsir Majma’ul Bahrain, di bawah ayat “khataman-nabiyyin”: “Rasulullah saw. adalah perhiasan bagi para Nabi.” IN 76

22. Tafsir Fat’hul-Bayan, Jilid VII, hal. 286: “Cincin bagi para Nabi.” IN 81

23. Imam Qasthalani menulis dalam Syarh Bukhari: “Penyempurnaan syariat-syariat agama (Irsyad Assari Qasthalani, Jilid VII, Bab “Khataman-Nabiyyin”, hal. 256) dan turunnya Nabi Isa a.s. tidak bertentangan khataman-nubuwwat, sebab, ia ada pada agama beliau saw. (Syarh Bukhari, Jilid VII, hal. 255). IN 81

24. Akmal Addin, hal. 375 adalah kitab orang Syiah: “Kedatangan pemberi petunjuk dari antara Nabi-nabi dan Wali-wali, sekali-kali tidak boleh tertutup selagi manusia belum mengamalkan hukum-hukum Allah.” IN 82

25. Tafsir Al-Qummi, hal. 33: “Allah Taala mengambil air, lalu berfirman, Aku akan tetap menjadikan Nabi dari-mu, menjadikan Rasul, orang-orang Saleh, Imam-imam pemberi petunjuk…” IN 82

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: