Jamaluddin Feeli

Khutbah Huzur: Tentang Rofa’a

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Kamis, November, Tabligh, Uncategorized on 14 Oktober 2009 at 10:49

KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 10 JULI 2009 dari Baitul Futuh London, U.K.

TENTANG : ROFA’A

Di dalam khutbah jum’at yang lalu saya telah menjelaskan arti perkataan Rafa’a di dalam Kitab Suci Alqur’an yang bertalian dengan Hazrat Isa a.s. Dan Tafsir Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah menjelaskan arti hakiki tentang ayat roofi’uka ilayya dan rofa’ahullahu ilaihi sehubungan dengan Hazrat Isa a.s. itu demi menegakkan kekudusan Allah swt. Dan selanjutnya saya ingin menjelaskan apakah perkataan itu di dalam Alqur’an digunakan untuk para Nabi lainnya juga selain untuk Nabi Isa a.s. ataukah ada perkataan yang serupa dengan itu di dalam Alqur’an digunakan bagi Nabi-Nabi yang lain yang mungkin bisa disalah artikan bahwa Tuhan telah mengangkat dengan tubuh kasar kelangit?

Sehubungan dengan itu di dalam Al-Qur’an Surah Maryam ayat 57 dan 58 ada firman Tuhan tentang Nabi Idris a.s. sebagai berikut:

Artinya : Dan ceriterakanlah kisah Idris seperti tercantum di dalam Kitab Alqur’an. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar dan seorang Nabi. Dan Kami telah mengangkat-nya ke martabat yang tinggi

Sekarang tengoklah di dalam ayat ini Hazrat Idris a.s. telah diberi kedudukan atau martabah yang lebih tinggi dari pada martabah Nabi Isa a.s. Tentang Nabi Isa a.s. telah difirmankan: bal rofa’ahu ilaihi Allah swt hanya mengangkat-nya (Nabi Isa a.s. itu) kepada-Nya. Sedangkan tentang Nabi Idris a.s. difirmankan : wa rofa’naahu makaanan aliyyan dan Kami telah mengangkat-nya ke martabat yang tinggi.

Jadi orang-orang Islam umum harus memberi perhatian khas kepada firman Tuhan di dalam Kitab Suci Al-Qur’an ini. Pada zaman ini seorang Utusan yang terpilih atas dasar petunjuk dari pada Tuhan telah memberi penjelasan secara gamblang pengertian tentang rafa’a atau diangkatnya seseorang, bahkan semua para Anbiya diangkat oleh Allah swt bukan bersama tubuh kasar mereka kelangit melainkan diangkat martabah kerohanian atau spiritual mereka yang tinggi. Demikianlah juga tentang Nabi Isa a.s. dengan menggunakan perkataan rofaahullahu ilaihi artinya Allah swt telah mengangkat martabah ruhani beliau bukan mengangkat tubuh kasar beliau kepada-Nya. Potongan dua ayat tersebut di atas tentang Nabi Isa a.s. secara khas dimaksudkan untuk menyelamatkan Hazrat Isa a.s. dari tuduhan Kaum Yahudi bahwa barangsiapa yang mati di atas palang kayu salib adalah mati terkutuk atau mati dilaknat, na’uzubillahi min zalik! Jadi untuk menyelamatkan Nabi Isa a.s. dari tuduhan yang keji itu Alqur’an berfirman bahwa beliau a.s. tidak mati di atas palang kayu salib melainkan Allah swt telah memberi kematian kepada beliau secara wajar dan mengangkat martabat-nya kepada-Nya.

Disebabkan orang-orang Kristian tidak mempunyai dalil atau bukti tentang itu maka orang-orang Kristian sendiri membuat alasan-alasan diraba-raba secara kacau dan mencampur-adukkan dengan perkiraan akal pikiran mereka sendiri sambil menggunakan kata-kata yang betul-betul meragukan sehingga akalpun tidak bersedia untuk menerimanya. Dan mereka memaksakan diri menerima kematian Nabi Isa a.s. di atas palang kayu salib sebagai dogma dengan alasan untuk menebus dosa manusia. Selanjutnya mereka membuat rekayasa dengan mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. telah diangkat dengan tubuh kasarnya keatas langit dan disana duduk disebelah kanan Allah swt berbagi kekuasaan dengan Allah Bapak. Dan beliau akan turun kembali diakhir zaman untuk menegakkan pengadilan dimuka bumi. Dan barangsiapa yang tidak beriman dan yakin terhadap tuhan tiga atau trinitas dia akan ditangkap dan diadili. Demikianlah pendirian dan akidah orang-orang Kristian pada zaman sekarang. Mereka meyakini bahwa Nabi Isa a.s. tengah duduk di atas langit melaksanakan tugas ketuhanan bersama tuhan bapak.

Akan tetapi sebagaimana telah saya katakan bahwa dikalangan orang-orang Islam juga telah terdapat kekeliruan dengan mempercayai kenaikan Nabi Isa a.s. keatas langit dan diakhir zaman beliau akan turun kembali kedunia dan bersama Mahdi penumpah darah akan memaksa umat manusia untuk percaya kemudian masuk Islam. Sehubungan dengan itu pada khutbah jum’at yang lalu telah saya singgung mengenai pendirian Kepala Negara Iran yang telah membuat pernyataan seperti itu yang telah dimuat di dalam Surat Khabar Bahasa Urdu dan terjemahannya menimbulkan kesan yang salah seolah-olah dia mengatakan bahwa Nabi Isa a.s. selama beliau hidup tidak memberikan ajaran seperti itu namun di dalam Surat Khabar Bahasa Inggeris terdapat terjemahan yang benar bahwa apabila beliau a.s. akan datang kedunia akan berkerja sama menjalankan da’wahnya bersama Imam Mahdi, sesuai betul dengan akidah umat Islam umum pada zaman sekarang. Dan secara mayoritas umat Islam dizaman sekarang mempunyai pandangan dan pengertian seperti itu. Bahwa Nabi Isa a.s. akan datang diakhir zaman dan akan bekerja sama dengan Mahdi Sang Penumpah darah untuk memaksa dunia masuk Islam. Dan barangsiapa yang tidak bersedia masuk Islam akan dibunuh.

Kita orang-orang Ahmadi sangat bernasib baik dan beruntung bahwa dengan beriman kepada Hazrat Imam Zaman dan Al Masih yang dijanjikan, telah selamat dari pengertian dan pemahaman revolusi berdarah yang sangat menakutkan itu. Sehubungan dengan itu saya ingin menyampaikan kutipan-kutipan dari sabda Hazrat Imam Zaman, Masih Mau’ud a.s. Namun sebelumnya saya ingin menjelaskan tentang kenaikan Nabi Idris a.s. dan Nabi Isa a.s. kelangit yang telah disebutkan di dalam Byble.

Di dalam Bible kitab Kejadian bab 5 ayat 24 dikatakan bahwa : Idris berjalan bersama Tuhan kemudian ia pergi kealam ghaib, sebab Tuhan telah mengangkat-nya. Demikianlah perkataan yang terdapat di dalam Byble. Di dalam Bible bahasa Inggeris juga terdapat perkataan yang serupa dengan itu. Maka jika di dalam Byble disebutkan tentang Nabi Isa a.s. yang tersebut di dalam Lukas bab 24 ayat 51 maka tentang Nabi Idris juga yang tersebut di dalam Bible yang disebut Hunuk dikatakan bahwa beliau telah diangkat keatas langit. Jika diangkatnya keatas langit diartikan kedudukannya seperti Tuhan maka pengertian tentang Nabi Idris a.s. juga akan sesuai dengan itu bahwa beliau juga diangkat kelangit beserta jasad beliau.

Jika kedudukan Nabi Idris a.s. diangkat kelangit dengan jasad beliau tidak dapat dibuktikan maka pengertian Nabi Isa a.s. telah diangkat kelangit dengan jasad beliau juga tidak bisa dibuktikan. Sejauh mana yang difirmankan oleh Alqur’an ayat yang telah saya bacakan tentang Nabi Idris a.s. dan sehubungan dengan Nabi Isa a.s. lebih jelas digaris bawahi tentang kenaikan beliau keatas langit. Jadi di dalam Bible dan Al-Qur’an kedua-duanya menjelaskan bahwa selain kenaikan Nabi Isa a.s. kenaikan Nabi-Nabi lainnya juga telah disebutkan dengan jelas. Dan kedua Kitab itu telah menjelaskan bahwa kedudukan pribadi Nabi Isa a.s. sangat tinggi. Orang-orang Kristen sendiri tidak mempercayai ajaran-ajaran beliau yang sebenarnya dan mereka telah membuat perubahan-perubahan di dalamnya yang tidak bisa diterima oleh akal.

Orang-orang Islam harus mengambil petunjuk dari ayat-ayat Al-Qur’an tersebut di atas. Sebab Allah swt telah berjanji dan perjanjian ini terus berlanjut sampai Qiamat bahwa ajaran Al-Qur’an sedikitpun tidak akan pernah mengalami sembarang perubahan. Allah sendiri menyediakan sarana-sarananya untuk menjaga keutuhan Kitab Suci-Nya Al-Qur’an.

Sekarang, sebagaimana telah saya katakan bahwa untuk memberikan bimbingan dan pengawasan terhadap umat Allah swt telah mengutus seorang pilihannya untuk zaman ini yaitu Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. Namun mula-mula tidak ada yang menyambut pendapat beliau bahkan dituduh bahwa beliau telah melakukan Tafsir yang salah dan menyesatkan.

Di sini saya sambil lalu ingin memberi tahu bahwa di dalam Literature orang-orang Yahudi baik tentang Nabi Isa maupun tentang Nabi Iadris a.s. yang disbebut Nabi Hanuk terdapat keterangan-keterangan yang sangat jelas, bahwa Allah swt telah mengutus beliau-beliau itu kedunia untuk melakukan perbaikan-perbaikan terhadap manusia. Akan tetapi tatkala dunia sudah penuh dengan perbuatan maksiat dan dosa-dosa, maka Allah swt mengangkat mereka keatas langit. Bagaimanapun hal itu adalah pendapat orang-orang Yahudi. Sejauh mana pendirian kita orang-orang Ahmadi sesuai dengan firman Allah swt di dalam Kitab Suci Alqur’an bahwa beliau-beliau adalah Nabi-Nabi yang benar datang dari Allah swt. Allah swt memberi kedudukan dan martabat yang tinggi. Dan kepada setiap Nabi yang diutus kedunia ini Allah swt memberi kedudukan dan martabat yang tinggi didunia ini juga dan kedudukan serta martabat itu melukiskan ketinggian martabat ruhani beliau itu, supaya beliau mampu mengadakan perbaikan terhadap dunia. Kepada bangsa mana beliau itu diutus disana beliau mampu mengadakan perbaikan dan perobahan ruhani manusia. Dihari akhirat juga para Anbiya akan menerima kedudukan dan martabah yang kamil dan tinggi.

Berkenaan dengan itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Allah swt berfirman : wa rofa’naahu makaanan ‘aliyyan Allah swt telah mengangkat beliau kepada martabah ruhani yang tinggi (Surah Maryam ayat 58) Tafsir ayat ini adalah bahwa orang yang diangkat kepada Allah swt itu maksudnya setelah meninggal dunia dan untuk-nya disediakan banyak sekali martabah atau kedudukan yang baik dan tinggi. Jadi, Allah swt berfirman bahwa mengangkat Nabi itu kepada-Nya maksudnya setelah mematikannya kemudian diberi kedudukan yang tinggi dan mulia disisi-Nya.”

Nawab Siddiq Ahmad Khan di dalam tafsirnya Fathul Bayan mengatakan bahwa maksud dari rafa’a di sini adalah rafa’a ruhani yakni kenaikan ruhani yang terjadi setelah kematian. Jika tidak demikian maksudnya pasti akan menimbulkan pertanyaan bahwa seorang Nabi datang kedunia hanya untuk mengalami kematian saja. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Sangat disesalkan bagaimana orang-orang menjadi lupa dalam mengartikan ayat innii mutawafiika wa roofi’uka ilayya padahal di dalam ayat ini pertama disebutkan mutawaffiika artinya mematikan. Sesudah itu roofi’uka artinya mengangkat engkau. Jadi, jika hanya dalam perkataan rafi’uka saja bisa diartikan kematian mengapa di dalam perkataan mutawafika dan rafi’uka tidak bisa diartikan kematian?”

Selain itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Adalah perkara yang sangat tegas dan meyakinkan bahwa Hazrat Isa a.s. tidak pernah naik keatas langit bersama jasad beliau, melainkan naik kelangit setelah beliau wafat. Cobalah kita bertanya kepada mereka: “Apakah Hazrat Yahya, Hazrat Adam, Hazrat Idris, Hazrat Ibrahim dan Hazrat Yusuf a.s. setelah wafat diangkat kelangit atau tidak? Jika tidak diangkat kelangit, bagaimana diwaktu mi’raj Rasulullah saw bertemu dengan beliau-beliau itu di atas langit? Jika diangkat maka mengapa semata-mata untuk Isa Ibnu Mariyam saja rafa’a itu diartikan lain dari pada itu? Mengherankan sekali ! Arti perkataan tawaffi yang jelas-jelas menyatakan kematian mengenai Isa a.s. dan arti diangkat juga sebagai contoh nyata terbuka artinya bagi beliau. Sebab beliau telah bertemu dengan orang-orang (para Anbiya) dilangit yang telah diangkat sebelum beliau. Dan jika dikatakan bahwa beliau-beliau itu tidak diangkat kelangit maka saya katakan, bagaimana beliau-beliau itu telah sampai kelangit? Karena beliau-beliau itu telah diangkat maka sampailah beliau-beliau itu keatas langit. Apakah kalian tidak membaca ayat ini dalam Alqur’an wa rofa’naahu makaanan ‘aliyyan? Bukankah perkataan rafa’a ini juga yang telah dipergunakan untuk Isa Almasih a.s.? Apakah perkataan itu bukan berarti diangkat? Pikirlah baik-baik, kemana pikiran kalian berkelana?” Jadi, hal itu bukan saja dalil menurut akal, bahkan dengan pemahaman dan pengertian yang benar terhadap Alqur’an Hazrat Masih Mau’ud a.s telah membuktikannya dengan nyata dan gamblang.

Ada seorang yang telah mengaku dirinya ‘alim besar, tentang orang itu saya telah menceritakan melalui MTA (Muslim Television Ahmadiyya) bahwa dia tidak bersedia mempercayai arti rafa’a itu secara ruhani, dia tetap bertahan dengan arti kenaikan secara jasmani. Ketika seorang pemuda Ahmadi pergi untuk menginterview-nya, diwaktu itu ia mengatakan : “Saya jauh lebih terpelajar dari ulama-ulama kalian dan saya telah banyak membaca buku-buku Mirza Sahib (Mirza Ghulam Ahmad a.s.)” Ringkasnya ia mengatakan bahwa dia tidak setuju dengan pengertian yang diberikan oleh Mirza Sahib tentang Rafa’a itu. Jadi, sesungguhnya memberi petunjuk kepada seseorang adalah tugas Allah swt. Abu Jahal dan banyak sekali para Pemimpin dan Pembesar Mekah jika tidak bisa menyaksikan nur Hazrat Muhammad saw atau mereka menganggap Alqur’an sebagai kumpulan syair-syair maka hal itu disebabkan kesalahan akal mereka sendiri yang merupakan nasib buruk mereka. Tindak kebodohan dan kejahilan mereka sama-sekali tidak mempengaruhi keagungan Hazrat Rasulullah saw dan keagungan Kitab Suci Alqur’an. Namun orang-orang yang mempunyai fitrat baik dan lurus dan mendapat pancaran Nur dari Allah swt, mereka telah menyambut kebenaran Hazrat Rasulullah saw. Maka tidaklah mengherankan jika terhadap Ghulam Sadiq, Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan pencinta sejati beliau saw diperlakukan serupa seperti itu.

Disatu tempat Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Disetiap tempat di dalam Alqur’an Syarif maksud dari pada rafa’a itu adalah rafa’a ruhani (kenaikan ruhani). Banyak orang dungu mengatakan bahwa di dalam Kitab Suci Alqur’an terdapat ayat: wa rofa’naahu makaanan ‘aliyyan mereka menjelaskannya sebagai kisah yang dibuat-buat. Katanya: Ada seorang bernama Idris yang telah diangkat kelangit beserta jasadnya oleh Allah swt. Pendapat serupa itu dikemukakan oleh orang Yahudi. Akan tetapi jika pandangan seperti itu dikemukakan oleh seorang Muslim, maka ia harus berpikir, tentang siapa yang sedang ia takwilkan itu. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, ingatlah bahwa kisah itu serupa dengan kisah Hazrat Isa a.s. yang dalam mengartikannya telah menjadi kesalahan para ulama Islam. Sebenarnya yang dimaksud dengan rafa’a ini tidak lain adalah Rafa’a ruhani. Dan kenaikan ruhani itu hanyalah bagi orang-orang mu’min, bagi para Anbiya dan para Rasul, sedangkan bagi orang-orang kafir tidak ada kenaikan ruhani, mereka tidak akan faham dengan istilah kenaikan ruhani itu. Dan hal itu mengisyarahkan kepada ayat 41 dari Surah Al Araf ini laa taftahu lahum abwaabussamaa’i artinya bagi mereka tidak dibukakan pintu-pintu langit ruhani. Dan jika kenaikan Hazrat Idris bersama jasad beliau kelangit maka berdasarkan ayat berikut ini fiiha tahyuuna wa fiihaa tamutuuna wa minha tukhrajuun tentang kissah Nabi Adam Tuhan berfirman: Disitulah (di dalam bumilah) kamu sekalian akan hidup dan disitulah kamu sekalian akan mati dan dari padanyalah kamu sekalian akan dikeluarkan (Al ‘Araf : 26).

Beliau bersabda lagi : Menurut ayat tersebut sebagaimana kenaikan Hazrat Isa a.s. keatas langit perkara yang tidak mungkin, maka tidak mungkin pula beliau bisa tinggal di atas langit, sebab di dalam ayat tersebut Allah swt telah memutuskan dengan tegas bahwa siapapun tidak bisa menjalani kehidupan secara jasmani di atas langit melainkan telah ditetapkan tempat tinggal bagi manusia adalah di atas bumi. Selain dari itu di dalam ayat ini perkataan kedua yaitu wa fiiha tamutuuna adalah kamu sekalian akan mati di atas bumi ini. Maka jelaslah firman Tuhan ini bahwa tempat kematian setiap manusia adalah di atas bumi. Jadi, bagi orang-orang Islam para penentang kita pasti mempunyai akidah bahwa pada suatu waktu Hazrat Idris a.s. juga akan turun dari langit kebumi. Jika mereka mengatakan bahwa Hazrat Idris a.s. hidup di atas langit tentu kepercayaan terhadap Nabi Isa a.s. juga seperti itu pula dan mereka menentang pemahaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. Padahal didunia ini tidak ada yang mempunyai akidah bahwa Hazrat Idris a.s. akan turun kembali kedunia. Sedangkan kuburan Nabi Idris a.s. terdapat di atas bumi ini sebagaimana kuburan Nabi Isa a.s.-pun sudah ada di atas bumi ini.”

Ringkasnya, jika kenaikan Hazrat Idris kelangit disertai dengan jasad beliau seperti anggapan terhadap Hazrat Isa a.s. maka mengapa mereka umat Islam tidak berakidah seperti itu terhadap Hazrat Nabi Idris a.s. bahwa beliau akan turun kembali dari langit kedunia. Akidah terhadap beliaupun harus serupa dengan akidah terhadap Nabi Isa a.s. Maka jika dilihat dari segi dalil-dalil tidak ada seorangpun dari pihak penentang yang bisa menandingi ilmu kalam (theology) atau menandingi dalil-dalil dan akidah serta pendirian Hazrat Masih Mau’ud a.s. Keadaan orang-orang Islam zaman sekarang ini sangat mengherankan, disalah satu segi mereka sangat keliru mengartikan ayat Khataman Nabiyyin, mereka tidak bersedia menerima kedatangan seorang Nabi dari umat Nabi Muhammad sendiri. Padahal Allah swt telah memberitahukan melalui ayat berikut ini: waakhoriina minhum lamma yalhaquu bihim wa huwal ‘aziizul hakiim.

Artinya : Dan Dia akan membangkitkannya ditengah-tengan suatu golongan lain dari antara mereka yang belum pernah bertemu dengan mereka. (Surah Al Jum’ah : 4)

Mereka pasti telah membaca ayat tersebut namun mereka tidak mau faham dan tidak bersedia untuk mempercayainya. Dan mereka tidak menghiraukan sabda Hazrat Rasulullah saw sendiri seperti ini :wa imaamukum minkum dan Imam kamu akan datang dari antara kamu sendiri. Sedangkan dimulut mereka menyatakan cinta kepada Hazrat Rasulullah saw. Mereka Inilah yang disebabkan kejahilan telah menganggap penda’waan Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Masih Mau’ud a.s. sebagai Nabi untuk zaman ini merupakan penghinaan terhadap martabat Hazrat Rasulullah saw. Bahkan mereka menganggap Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. telah manjatuhkan kedudukan Hazrat Rasulullah saw. Padahal sebaliknya merupakan tanda keagungan dan kebesaran Hazrat Rasulullah saw disebabkan kecintaan yang hakiki terhadap beliau saw Allah swt telah mengutus seorang Nabi dizaman ini dari antara umat beliau. Kedudukan beliau sebagai Nabi bukan hanya karena adanya Hubungan erat dengan Allah swt saja, melainkian kedudukan dan kepangkatan kenabian yang diraih oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. semata-mata adanya kesetiaan dan keta’atan sejati terhadap Hazrat Rasulullah saw dan juga beliau datang adalah dari umat beliau saw dan disebabkan kecintaan hakiki terhadap beliau saw, sehingga hal itu semua telah sesuai benar dengan janji Allah swt bahwa Masih Mau’ud akan dibangkitkan dari Kaum Akhirin.

Jadi orang-orang Islam zaman sekarang harus berpikir, dari pada tetap mempercayai Nabi Isa a.s. masih duduk di atas langit sehingga mendukung dan memperkuat pendirian orang-orang Kristian lebih baik percaya kepada seorang yang datang dari umat Hazrat Rasulullah saw sendiri yang akan menjadi hamba beliau saw yang sangat setia demi menghidupkan kembali Islam, sehingga keagungan Hazrat Rasulullah saw semakin menjulang tinggi di atas dunia ini.

Terhadap para penentang dan yang melemparkan kritik dan tuduhan-tuduhan Hazrat Masih Mau’ud a.s bersabda: “Biarkanlah Isa Ibnu Mariyam itu mati sebab dibalik kematiannya terletak kehidupan Agama Islam”. Sebenarnya perkataan Hazrat Masih Mau’ud a.s. itu tidak dimaksudkan demi kehidupan Islam, namun untuk menegakkan da’wa beliau a.s. yang sungguh bertentangan dengan akidah atau pendirian umat Islam dan juga orang-orang Kristen yang menganggap Nabi Isa a.s. akan hidup kembalia kedunia. Semoga Allah swt memberi akal sehat kepada mereka ini !!

Kita semua orang-orang Ahmadi yakin sepenuhnya bahwa diantara para Nabi dan Rasul yang mempunyai derajat atau martabah yang paling tinggi dan luhur adalah Hazrat Rasulullah saw. Dan Nabi yang paling dicintai oleh Allah swt adalah Hazrat Rasulullah saw. Jika terdapat kemungkinan di dalam undang-undang kekuasaan Allah swt bagi manusia untuk naik kelangit dan tinggal disana beserta jasadnya maka tentu Hazrat Rasulullah saw-lah yang lebih berhak untuk melakukan demikian. Selain beliau tidak ada yang lebih berhak untuk itu. Diwaktu peristiwa mi’raj Hazrat Rasulullah saw telah bertemu dengan para Anbiya yang telah wafat jauh sebelum beliau saw. Diantara para Anbiya yang telah beliau jumpai itu adalah Hazrat Isa a.s. dan dengan Hazrat Idris a.s. juga. Namun beliau saw melihat Hazrat Isa a.s. berada dilangit kedua. Sesuai dengan ayat : wa rofa’naahu makaanan ‘aliyya dan Kami telah mengangkat-nya (Idris) ke martabat yang tinggi, beliau saw melihat Nabi Idris a.s. dilangit ke-empat lebih tinggi dari kedudukan Nabi Isa a.s. Sedangkan Hazrat Rasulullah saw sendiri terus naik sampai kesidratul muntaha, kedudukan terakhir yang paling tinggi. Sebab martabat beliau paling tinggi dari antara semua para Anbiya. Bahkan di dalam peristiwa Mi’raj itu ketika Hazrat Rasululklah saw dibawa naik sampai kelangit ke-enam dimana beliau bertemu dengan Hazrat Musa a.s. maka beliau (Musa a.s.) berkata kepada Allah swt : robbii…lam akhunna an yurfa’a alayya ?Wahai Tuhanku ! Aku tidak mengira akan ada nabi lain yang dibangkitkan lebih tinggi dari pada-ku, dan dalam martabahnya melebihi ketinggian martabahku!

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Tengoklah perkataan Rafa’a semata-mata dipergunakan untuk membuktikan tingginya martabat. Sebagaimana disebutkan di dalam surah Albaqarah ayat 254 : wa rofa’a ba’dhohum darojaat dan Dia meninggikan sebagian dari mereka dalam derajatnya. Maka berdasarkan ayat dan Hadis-hadis Rasulullah saw dapat difahami dengan jelas bahw setiap Nabi telah dirafa’ atau diangkat keatas langit menurut derajat dan martabahnya masing-masing. Dan sesuai dengan nilai qurub-nya masing-masing dengan Allah swt mereka mendapat bahagian dari Rafa’a atau pengangkatan itu. Mengenai martabah atau kedudukan dan kemuliaan Hazrat Rasulullah saw di atas Anbiya lainnya yang telah difirmankan Allah swt di dalam Kitab Suci Alqur’an adalah beliau sebagai Khatamun Nabiyyin. Disebabkan orang-orang Islam pada umumnya mempunyai persepsi yang salah tentang ayat Khataman Nabiyyin tidak menyadari bahwa mereka tengah menjatuhkan martabat kemuliaan Hazrat Rasulullah saw dan sebaliknya mereka menuduh Hazrat Masih Mau’ud a.s. tidak memahami arti ayat Khataman Nabiyyin itu. Na’uzubillah !!” Cobalah tengok betapa indahnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah menunjukkan kedudukan dan martabah Hazrat Rasulullah saw sebagai Khataman Nabiyyin. Dan Tafsir beliau itu telah menjadi bahagian yang amat penting dari pada keimanan orang-orang Ahmadi. Dengan Tafsir beliau yang indah itu nampak jelas sekali kepada kita betapa agungnya dan betapa cemerlangnya kedudukan dan kemuliaan Hazrat Rasulullah saw.

Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Ingatlah betul-betul bahwa sejauh mana Hazrat Rasulullah saw sebagai Khatamul Anbiyya dan Hazrat Isa a.s. sejak permulaan telah mendapat kedudukan sebagai Nabi, maka bagaimana mungkin Nabi Isa a.s. akan kembali kebumi dan kenabian beliau akan terlepas.” Pertama yang harus diingat adalah jika Hazrat Rasulullah saw sebagai Khatamul Anbiyya, maka tidak mungkin Nabi Isa a.s. yang telah menerima satu pangkat kenabian sebelum Rasulullah saw, lalu beliau a.s. berada dibawah kenabian Rasulullah saw. Apakah setelah kenabian yang diperoleh sebelumnya dilepas lalu Allah swt mengutusnya kembali kedunia dan menjadi Nabi pengikut Hazrat Rasulullah saw ? Jika Isa a.s. datang kedua kalinya, maka kenabian yang diperoleh sebelumnya akan hilang dan kedudukan sebelumnya yang telah Tuhan berikan kepada beliau dengan sendirinya akan sia-sia. Sebab bagaimanapun alasannya beliau terpaksa harus menjadi pengikut Hazrat Rasulullah saw, yang tidak mungkin akan terjadi dan hal itu tidak ada di dalam konsep undang-undang Allah swt.”

Hazrat Masih Mau’ud a..s. selanjutnya bersabda: “Ayat tersebut di atas setelah Hazrat Rasulullah saw menghalangi kemungkinan datangnya Nabi Mustaqil (Nabi yang langsung ditunjuk oleh Allah swt, tanpa harus mengikuti syare’at Nabi sebelumnya). Sesungguhnya hal ini menjadi sarana untuk menambah semaraknya status keagungan beliau saw. Yaitu seorang manusia dari umat beliau, karena limpahan barkat-barkat beliau, pada suatu waktu bisa memperoleh kedudukan sebagai Nabi. Akan tetapi jika seseorang datang dengan sendirinya menjadi nabi tanpa melalui barkat-barkat Rasulullah saw maka jelaslah ia mendustakan dan menentang ayat Khatamun Nabiyyin.

Sabda muqaddas Hazrat Rasulullah saw menjelaskan bahwa kedatangan Isa Almasih Akhir zaman itu bukanlah maksudnya kedatangan Hazrat Isa Israili a.s pengikut Kitab Taurat dan Injil. Dan Hazrat Rasulullah saw berulang kali telah menjelaskan bahwa setelah aku tidak akan datang sebarang Nabi dan Hadis Laa Nabiyya ba’di adalah hadis yang sangat masyhur dan merupakan hadis yang sahih. Dan di dalam Alqur’an Syarif telah dijelaskan dengan gamblang bahwa setelah Rasulullah saw pintu kenabian telah tertutup. Dan bagaimana mungkin setelah Hazrat Rasulullah saw akan datang seorang Nabi hakiki dari segi kenabian ? Dengan keyakinan bahwa Isa a.s. akan datang tanpa menyandang pangkat kenabian tentu Islam harus mengalami kehancuran. Pendapat demikian sungguh penghinaan dan perkara yang memalukan. Apakah seorang yang terhormat yang dilantik oleh Allah swt akan berhenti dari kenabiannya? Jika orang berpendapat demikian bahwa Nabi Isa a.s. akan datang setelah melucutkan pangkat kenabiannya adalah keyakinan yang sangat memalukan dan merupakan penghinaan. Sebab sebelumnya Allah swt telah menganugerahkan martabah kenabian kepada beliau dan telah disebutkan berulang-kali dibeberapa tempat di dalam Kitab Suci Alqur’an, bahkan beliau telah diselamatkan dari tuduhan-tuduhan yang keji terhadap beliau. Beliau bersabda lagi, bagaimana cara yang akan dipergunakan Nabi Isa a.s. datang kembali kedunia? Pendeknya dengan memberi nama Khataman Nabiyyin kepada Nabi Muhammad saw dan di dalam hadis beliau saw sendiri mengatakan Laa Nabiyya Ba’di Allah swt telah memberi keputusan bahwa tidak bisa datang seorang Nabi hakiki setelah Nabi Muhammad saw (yang langsung ditunjuk tanpa mengikuti syari’at Nabi Muhammad saw).

Dan untuk lebih jelas lagi Hazrat Rasulullah saw telah bersabda: “Al Masih Al Mau’ud akan datang dari ummat ini juga sebagaimana di dalam hadis Bukhari telah disabdakan dengan jelas : imaamukum minkum yakni Imam Kamu dari antara kamu sendiri dan di dalam Hadis Sahih Muslim disebutkan faammaakum minkum orang yang mengimami kamu adalah dari antara kamu sediri, semuanya ini mengisyarahkan tepat kepada Al Masih Al Mau’ud (Al Masih yang dijanjikan) bahwa beliau akan datang dari ummat ini.

Di sini saya ingin menjelaskan sebuah perkara lain lagi bahwa pada zaman ini, sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa Al Masih Mau’ud akan zahir dari umat ini dan martabah yang tinggi telah diberikan Allah swt kepadanya sesuai dengan kehendak-Nya. Dan martabah tinggi itu telah diraihnya karena limpahan barkat-barkat Hazrat Rasulullah saw, dan martabat itu telah diraih beliau disebabkan kecintaan hakiki yang sangat dalam beliau terhadap Hazrat Rasulullah saw. Beliau disebut Nabi dan juga Rasul oleh Allah swt.

Banyak orang-orang Ahmadi yang tidak memahami sepenuhnya kedudukan beliau itu atau disebabkan kurang eratnya hubungan mereka dengan Jema’at atau memang mereka itu adalah para anggota pendatang baru di dalam Jema’at masih kurang menerima tarbiyyat, mereka tidak mendengar atau tidak membaca khutbah-khutbah saya atau disebabkan hal-hal lain lagi, mereka tidak bisa meyakini kedudukan atau status Hazrat Masih Mau’ud a.s. sebagai Nabi atau Rasul atau mereka tidak berani menyatakan dengan tegas bahwa beliau adalah Nabi atau Rasul dihadapan orang lain. Atau jika mereka mengakui beliau sebagai Nabi, mereka masih belum berani mengatakan bahwa beliau adalah seorang Rasul. Pendirian atau pendapat demikian sungguh bertentangan dengan ajaran Jema’at dan bertentangan dengan ajaran Hazrat Masih Mau’ud a.s..

Saya telah menerima banyak keluhan atau komplain dari para anggauta Jema’at bahwa dalam menghadapi ghair Ahmadi diwaktu tabligh atau diwaktu berbual-bual diantara para anggauta Jema’at sendiri terjadi pembahsan yang seperti itu bahwa Hazrat Masih Mau’ud a.s adalah seorang Nabi namun bukan seorang Rasul. Maka perlu dijelaskan di sini bahwa Al Masih Al Mau’ud a.s. berkat patuh dan ta’at sepenuhnya kepada Hazrat Rasulullah saw beliau a.s. mendapat anugrah pangakat Nabi dari Allah swt dan sebagai Rasul juga, seperti telah saya katakan sebelumnya berulang kali. Dan kedua perkataan Nabi dan Rasul itu sama saja maksudnya. Tentang ini Hazrat Masih Mau’ud a.s bersabda sambil mengingatkan kepada wahyu beliau ini : “ ???? ???? ???????? ??????????? ????? ???????????????? ???????????? ????? (Artinya :Katakanlah! Jika kamu sekalian ingin mencintai Allah maka ikutilah aku sepenuhnya, maka Allah akan menciuntai kamu sekalian). Kedudukan ini merupakan kedudukan yang harus direnungkan oleh setiap orang Jema’at kita, sebab Tuhan berfirman di dalamnya bahwa kecintaan Tuhan sangat erat hubungannya dengan kecintaan dan keta’atan sepenuhnya jangan ada sekelumit zarrahpun perilaku yang sifatnya menentang. Di dalam wahyu Ilahi yang disebutkan tentang diriku sebagai Nabi dan Rasul yaitu Nabi dan Rasul Allah swt, adalah sebagai istilah bahasa, yaitu orang yang menerima banyak wahyu langsung dari Allah swt dan secara meyakinkan Tuhan bercakap-cakap kepada-nya, sebagaimana Tuhan telah menurunkan wahyu dan bercakap-cakapa kepada para Anbiya sebelumnya, maka ia disebut Nabi atau Rasul tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sangat jelas sekali keadaannya jika dirujuk kepada Hadis Sahih Bukhari dan Hadis Sahih Muslim bahkan dirujuk kepada Injil sekalipun tentang Nabi Danial, dimana terdapat nubuwatan tentang diriku disana jelas-jelas disebutkan dengan perkataan Nabi. Semoga Allah swt memberi kekuatan dalam keimanan kita dan semoga Dia tidak memperlihatkan sebarang kelemahan di dalam keimanan dan keyakinan kita. Amin !!

Sekarang sehubungan dengan makna perkataan Rafa’a saya ingin mengemukakan sebuah penjelasan lagi, bahwa perkataan Rafa’a tidak hanya dipergunakan kepada para Anbiya saja namun kepada orang-orang mukmin juga Allah swt mempergunakannya. Sebagaimana Hzrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Apabila orang-orang mukmin selalu mendahulukan urusan perkerjaan Allah swt dari pada semua urusan pribadi mereka maka Allah swt mengangkat atau Rafa’a kedudukan mereka. Di dalam peri kehidupan didunia ini juga mereka diangkat (Rafa’a) ketempat yang sangat tinggi dan diberi kekuatan serta keteguhan bahkan akan disinari dengan cahaya yang khas (istimewa). Dalam kedudukan seperti itu mereka akan terlepas dari cengkeraman Syaitan dan kedudukan mereka semakin meningkat keparas yang lebih tinggi sehingga tangan Syaitan tidak akan mampu menggapai mereka. Bagi setiap benda didunia ini Allah swt menentukan sebuah contoh dan suri teladan, dan terhadap ketentuan inilah telah dinisbahkan bahwa apabila Syaitan mulai naik kearah langit maka sebuah Syihab-o-saqib (sebuah meteor, atau kobaran bola api yang terang-benderang) mengikutinya dari belakang, kemudian menjatuhkannya kebawah. Saqib dikatakan kepada bintang yang bercahaya terang, saqib juga dikatakan kepada benda atau orang yang naik ketingkat yang paling tinggi.

Di dalam hal itu dijelaskan sebuah permisalan tentang keadaan manusia. Apabila manusia telah memperoleh keimanan yang kuat dan hakiki, maka dia naik (Rafa’a) kearah Allah swt. Dan kepadanya diberikan kekuatan iman yang khas disertai nur yang cemerlang, dengan perantaraan cemerlangnya nur itu dia menjatuhkan Syaitan kebumi. Saqib juga artinya membunuh atau mematikan. Wajiblah di atas setiap orang mukmin untuk membunuh syaitannya masing-masing dan menghancurkannya. Orang-orang yang tidak mengenal sains atau ilmu kerohanian mereka mentertawakan pernyataan seperti ini. Akan tetapi mereka sendiri yang patut menjadi sasaran cemoohan dan ejekan orang lain. Ada undang-undang kekuasaan Tuhan yang sifatnya zahiriyah dan juga ruhaniah. Allah swt juga telah berfirman di dalam wahyu-Nya kepada saya : anta minni bi manzilatim-najmits-tsaaqib yakni kedudukan engkau disisi-Ku adalah seperti Najmus Saqib, artinya Aku telah menciptakan engkau kedunia untuk membunuh Syaitan. Ditangan engkau syaitan akan hancur binasa. Syaitan tidak bisa naik sampai kapuncak yang tinggi. Jika orang mukmin sudah sampai kepuncak yang tinggi maka syaitan tidak akan bisa mengalahkannya. Orang mukmin harus banyak memanjatkan do’a supaya dengan do’a itu ia mendapat kekuatan yang perkasa sehingga ia mampu menghancurkan syaitan. Seberapa banyak timbul pikiran-pikiran buruk di dalam benak manusia, untuk menjauhkannya sangat bergantung kepada usaha menghancurkan syaitan. Orang-orang mukmin dalam segala upayanya harus selalu disertai dengan pendirian yang kuat dan hati yang teguh. Jangan patah semangat, bahkan harus selalu siap untuk mengancurkan tipu daya syaitan, sehingga akhirnya akan mencapai kemenangan dan kejayaan. Allah swt Maha Raihim dan Karim, Maha penyayang dan Maha Mulia. Orang-orang yang selalu giat berusaha untuk berjuang akhirnya Allah swt memperlihatkan hari kejayaannya. Manusia akan mendapat kedudukan yang sangat besar dan tinggi apabila ia telah berhasil menghancurkan segala upaya syetan. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk memahami arti sesungguhnya dari perkataan Rafa’a. Dan semoga kita tidak menjadi orang-orang yang hanya sibuk membahas apa arti Rafa’a itu melainkan kita menjadi orang-orang yang selalu berusaha giat untuk memperbaiki amal saleh demi meraih keridhaan-Nya. Supaya dengan terjalinnya hubungan yang sangat erat dengan Allah swt kita tergabung kedalam golongan orang-orang yang telah berhasil menghancurkan leburkan syaitan. Amin !!

Alihbahasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

Singapore, 21-07-2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: