Jamaluddin Feeli

HADITS-HADITS TENTANG KEDATANGAN NABI SESUDAH RASUL SUCI MUHAMMAD SAW

In Tabligh on 27 Oktober 2009 at 06:47

اَنَّ لَهُ مُرْضِعًا فىِ الْجَنَّةِ وَلَوْعَاشَ لَكَانَ صِدِّيْقًا نَبِيًا. ( تاريخ ابن عساكر, جلد  ص )

Artinya:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, berkatalah ia: Tatkala wafat putra Rasulullah saw. yang bernama Ibrahim, anak dari istri nabi yang bernama Mariah Qibtiyyah, beliau sembahyangkan jenazahnya dan berkata: “Sesungguhnya di sorga ada pengasuhnya dan sekiranya usianya panjang, tentu ia (Ibrahim) akan menjadi seorang nabi yang benar”.

Peristiwa wafat Ibrahim tersebut terjadi pada tahun kesembilan Hijrah, sedangkan ayat khataman nabiyyin turunnya pada tahun lima Hidjrah. Jadi ucapan beliau itu, beliau berikan empat tahun sesudah beliau menerima ayat khataman nabiyyin. Jadi sekiranya ayat khataman nabiyyin itu berarti kesudahan nabi,maka seharusnya beliau saw. berkata: sekiranya usianya panjang sekalipun, ia tidak akan bisa menjadi nabi, karena aku penghabisan nabi. Jadi jelas, bahwa Nabi saw. yang menerima wahyu tersebut tidak mengartikan khatam dengan kesudahan atau penghabisan.

Sabda Rasulullah saw. itu dapat diberi kesimpulan sebagai berikut :

1. Nabi bisa datang sesudah beliau,
2. Putra beliau tidak menjadi nabi karena wafat dalam usia kecil
3. Anak beliau Ibrahim pasti akan menjadi nabi, jika usianya panjang.
4. Kemungkinan ada nabi tidak hanya lama sesudah wafat beliau, tetapi di masa yang sangat berdekatan dengan masa beliau.

Dalam hadits Nawas bin Sam’an yang menceriterakan dengan panjang lebar tentang kedatangan Nabi Isa yang dijanjikan akan datang di akhir zaman, terdapat 4 (empat) kali perkataan Nabi :

وَيُحْصَرُ نَبِيُّ الله ِعِيْسى وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة)

(Nanti Nabi Isa dengan sahabat-sahabatnya akan dikepung)

فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيْسى وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة)

(Nanti Nabi Allah Isa akan memanjatkan do’a kepada Allah)

ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيْسى وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة)

(Kemudian turunlah Nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya)

فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيْس وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة)

(Maka berdo’alah Nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya)
(Muslim, Misykat, halaman 474)

Dalam hadits Muslim tersebut, empat kali Rasulullah saw. menggunakan perkataan nabi terhadap Isa yang telah dijanjikan kedatangannya oleh beliau saw. sendiri di akhir zaman, sebelum hari kiamat. Maksudnya jelas Nabi saw. sendiri berpendirian, bahwa beliau bukanlah nabi yang penghabisan, karena Nabi Isa yang akan datang di akhir zaman, beliau saw katakan nabi juga.

اَبُوْبَكْرٍ اَفْضَلُ هذِهِ اْلاُمَّةِ اِلاَّ اَنْ يَكُوْنَ نَبِيٌ. (كنوزالحقائق فى حديث خيرالخلائق )

Artinya :
“Abu Bakar adalah orang yang lebih afdhal(mulia) dari antara ummat ini, kecuali apabila dari ummat ada yang berpangkat nabi”.

Maksudnya terang, Abu Bakar yang berpangkat shiddiq itu adalah yang termulia di antara seluruh ummat Islam dan jika ada yang melebihi beliau, maka hanya seorang Islam yang berpangkat nabi. Sebab pangkat nabi itu lebih tinggi dari pangkat shiddiq.

PENJELASAN TENTANG HADITS “LAA NABIYYA BA’DII

يَاعَلِيُّ اَمَاتَرْضى اَنْ تَكُوْنَ مِنِّى بِمَنْـزِلَةِ هَارُوْنَ مِنْ مُوْسى اِلاَّ اَنَّهُ لاَنَبِيَّ بَعْدِى. (رواه البخارى)

Artinya:
“Wahai Ali, tidakkah engkau suka mempunyai kedudukan di sampingku seperti kedudukan Nabi Harun a.s. disamping Nabi Musa a.s.? Tetapi “laa nabiyya ba’di”, tidak ada nabi sesudah aku (Bukhari).

Penjelasan :

a). Dalam suatu riwayat lain, hadits berbunyi :
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: يَاعَلِيُّ اَمَاتَرْض اَنْ تَكُوْنَ مِنىِّ كَهَارُوْنَ مِنْ مُوْس غَيْرَ اَنَّكَ لَسْتَ نَبِيًّا. (طبقات كبيلر, جلد  – ص )

Artinya:
“Berkata ia (Rasulullah saw): “Wahai Ali, tidakkah engkau suka mempunyai kedudukan seperti harun di samping Musa a.s.? Tetapi bedanya engkau bukan nabi”.

Dengan riwayat ini jelaslah bahwa perkaaan “Laa nabiyya ba’di (tidak ada nabi di belakangku) khusus untuk Ali dan tidak untuk umum.

b). Dalam Bukhari juga terdapat suatu hadits berbunyi :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ: اِذَا هَلَكَ كِسْرى فَلاَكِسْرى بَعْدَهُ وَاِذَا هَلَكَ قَيْصَرُ فَلاَ قَيْصَرَ بَعْدَهُ. (كتاب الايمان والنزور باب كيف كانت يمين النبى, جلد - ص  )

Artinya:
“Telah berkata Rasulullah saw.: “Apabila mati Kisra (raja Iran) maka tidak ada lagi Kisra sesudahnya dan apabila mati Kaisar (raja Roma) maka tidak ada lagi Kaisar di belakangnya”.

Jadi perkataan “laa nabiyya ba’di” (tidak ada nabi dibelakangku) sama dengan perkataan beliau “laa kisra ba’dahu”(tidak ada Kisra di belakangnya). Maksudnya, nabi yang seperti beliau dan Kisra yang seperti raja Iran itu. Bukankah pengganti Kisra itu Kisra juga? Kisra adalah pangkat raja Iran dan Kaisar pangkat raja Roma. Maksud Nabi saw. tidak ada lagi Kisra sesudah matinya Kisra, ialah Kisra yang sama sifat-sifatnya dengan Kisra yang masih hidup ketika itu.

Jadi hadits tidak ada lagi nabi “dikemudianku” adalah maksudnya nabi yang sama derajatnya dengan Nabi Muhammad saw. Dalam kitab Fathul-Bari syarah sahih Bukhari jilid II-VI telah dijelaskan maksud hadits, apabila mati Kaisar tidak ada lagi Kaisar di belakangnya.

مَعْنَاهُ فَلاَ قَيْصَرَ بَعْدَهُ يَمْلِكُ مِثْلَ مَايَمْلِكُ هُوَ.

Artinya:
“Maksudnya (tidak ada Kaisar sesudahnya) tidak akan ada lagi Kaisar yang akan menjalankan pemerintahan seperti dia (Kaisar itu sendiri)”.

Ringkasnya, maksud hadits Bukhari tersebut ialah sesudah Nabi saw. tidak akan ada lagi nabi yang sifat-sifatnya seperti beliau, yaitu nabi yang membawa syariat, nabi yang termulia dan nabi yang sesempurna-sempurnanya.

c). Kalimat ba’di tidaklah hanya berarti kemudian atau sesudah saya, tetapi ada juga artinya khilafa’a yaitu lain dan menentang.

Artinya:
“Maka perkataan siapa lagi sesudah (perkataan) Allah dan ayat-ayat-Nya yang (harus) mereka percaya?” (Q.45:6).

Perkataan ba’da dalam ayat ini tidak dapat diartikan sesudah atau kemudian sebab Allah tiada berkesudahan, tetapi artinya adalah lain dan menentang. Jadi menurut ini maka adalah arti hadits Bukhari tadi itu tidak ada nabi lagi yang menentangku (menentang syariatku).

Dalam satu hadits Rasulullah saw. bersabda :

فَاَوَّلْتُهُمَا كَذَّابَيْنِ يَخْرُجَانِ بَعْدِى اَحَدُهُمَا الْعَنْسِ وَاْلآخَرُ مُسَيْلَمَةُ. (رواه (رواه البخارى, جلد  – ص )

Artinya:
“Maka aku ta’wilkan (mimpiku itu) dengan kedatangan dua orang pendusta yang akan muncul sesudah aku yaitu pertama Al Ansi dan yang kedua Musailamah” (Bukhari jilid III – 49).

Perkataan ba’di (sesudahku) dalam hadits ini bukanlah sesudah mati atau sepeninggal aku, tetapi artinya ialah yang menentang aku (yang bertentangan dengan syariat Islam). Karena Al Ansi dan Musailamah itu kedua-duanya hidup semasa dengan Nabi saw. yang muncul melawan beliau.

لَوْكَانَ بَعْدِى نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرُ. (رواه الترمذى وسشكوة)

Artinya:
“Jika ada nabi sesudah aku, tentu Umar yang akan menjadi nabi”.

a. Hadits ini ada dalam hadits Tirmizi dan Misykat.
b. Dalam riwayat lain tertulis :

لَوْلَمْ اُبْعَثْ فِيْكُمْ لَبُعِثَ عُمَرُ فِيْكُمْ. (كنـزالحقائق )

Artinya:
“Jika aku tidak diutus di tengah-tengah kamu, tentu Umar yang diutus”. Oleh karena Nabi Muhammad saw. yang diutus, maka Umar tidak diutus lagi. Jadi bukan tidak akan ada nabi yang akan diutus.

كَانَتْ بَنُوْااِسْرَائِيْلَ تَسُوْسُهُمُ اْلاَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَاَنَّهُ لاَنَبِيَّ بَعْدِى وَسَيَكُوْنُ خُلَفَاءٌ.

Artinya :
“Adalah kaum Bani Israil dipimpin oleh para nabi-nabi. Apabila mati seorang nabi, digantikan oleh nabi lagi, tapi dibelakangku tidak akan ada nabi, yang akan ada Khalifah-khalifah” (Bukhari, jilid II).

Penjelasan :

1.Perkataan sayakuunu khulafa (akan ada khalifah) menunjukkan, bahwa perkataan di belakangku atau kemudian aku itu adalah yang dimaksud masa yang dekat, karena huruf “sa” dalam perkataan sayakuunu, menunjukkan kepada masa yang dekat. Jadi setelah wafat beliau langsung tidak akan ada nabi.
2.Di masa Bani Israil, nabi-nabi itu disamping menjadi nabi, mereka juga jadi raja-raja. Tiap-tiap seorang nabi wafat, maka yang menggantikannya nabi pula. Tapi di masa Nabi Muhammad saw. tidaklah demikian, apabila beliau wafat akan digantikan oleh Khalifah. Jadi dalam ummat Islam tidak berkumpul dalam satu waktu dua jabatan nabi dan raja.
3.Mengambil alasan dari hadits ini bahwa nabi tidak akan ada lagi, tidak benar, sebab Nabi Muhammad saw. sendiri mengatakan bahwa yang dijanjikan datang pada akhir zaman itu adalah nabi (Muslim dan Misykat halaman 469).
4.
Hadits tersebut hanya untuk menyatakan tidak akan ada nabi antara aku dan antara Isa Almasih Mau’ud a.s yang dijanjikan, bukan seterusnya.

Dalam hadits, ada tersebut :

لَيْسَ بَيْنىِ وَبَيْنَهُ نَبِيٌّ وَاَنَّهُ نَازِلٌ. (رواه ابو داود, جلد  – ص )

Artinya:
“Antara aku dan antaranya tidak ada nabi dan ia (pasti) akan datang”.

Dalam Bukhari juga tersebut demikian.(Bukhari jilid II halaman 158).

اَنَّهُ سَيَكُوْنَ فىِ اُمَّتِى كَذَّابُوْنَ ثَلاَثُوْنَ كُلُّهُمْ يَزْعَمُ اَنَّهُ نَبِيُّ اللهِ وَاَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ لاَ نَبِيَّ بَعْدِى. (رواه الابوداود والترمذى)

Artinya:
“Akan ada nanti dalam ummatku 30 orang sangat pendusta, masing-masing mendakwakan dirinya menjadi nabi dan aku khatam nabi-nabi, tidak ada nabi sesudahku”(Abu Daud – Tirmizi).

Keterangan:

a.Membataskan, bahwa nanti akan muncul 30 orang pembohong Dajjal yang mendakwakan dirinya nabi itu, sudah menunjukkan akan adanya nabi yang benar. Kalau tiap-tiap nabi yang mendakwakan dirinya dianggap pendusta, tentu Nabi saw. mengatakan tiap-tiap orang yang mendakwakan dirinya nabi semuanya bohong.
b.Hadits ini tersebut dalam Muslim. Dalam syarah Muslim Ikmalul Ikmal jilid VII halaman 258 tersebut :

هَذًا الْحَدِيْثُ ظَهَرَ صِدْقُهُ وَاَنَّهُ لَوْ عُدَّ مَنْ تَنَبَّأََ مِنْ زَمَنِهِ صعلم إِلَى الْآنَ لَبَلَغَ هَذَا الْعَدَدَ وَ يَعْرِفُ ذَلِكَ مَنْ يُطَالِعُ التَّارِيْخَ

Artinya :
“Kebenaran hadits ini sudah nyata, sebabnya, jika dihitung jumlahnya orang-orang yang mendakwakan dirinya nabi dari semenjak masa Nabi saw. hingga sekarang, pasti sudah mencapai jumlah tersebut dan ini diketahui oleh orang-orang yang suka mempelajari sejarah (tarikh)”.

Penulis buku tersebut telah wafat pada tahun 828 Hijrah. Jadi dalam masa ini sudah 30 orang pembohong Dajjal yang telah mendakwakan dirinya menjadi nabi muncul ke dunia ini.

c). Hadits ini sanadnya dinyatakan dhaif (lemah) oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar. Beliau menulis dalam kitab beliau Fathul-Bari, bahwa sanadnya dhaif, lemah (Hujajul Karamah, halaman 233).

اِنَّ مَثَلِيْ وَمَثَلَ الْأَنْبِيَاءِ مِنْ قَبْلِي كَمَثَلِ رَجُلٍ بَنىَ بُنْيَانًاً فَاَحْسَنَهُ وَاَجْمَلَهُ اِلاََّ مَوْضِعَ لَبِنَةٍ مِنْ زَاوِيَةِ مِنْ زَاوَيَاهُ فَجَعَلَ النَّاسُ يَطُوْفُوْنَ بِهِ وَيُعَجِّبُوْنَ لَهُ وَيَقُوْلوُْنَ هَلاَ وُضِعَتْ هَذِهِ الْلَبِنَةُ قاَلَ فَاَنَا اللَّبِنَةُ وَاَنَا خَاتَمُ النَّبِيِّيْنَ

Artinya :
“Permisalan antara aku dan para nabi sebelumku tak ubahnya seperti seseorang yang membuat sebuah bangunan lalu dihiasinya rumah tersebut dengan indahnya. Akan tetapi salah satu penjurunya kosong tertinggal satu batu bata, orang-orang berdatangan untuk melihatnya dengan sangat ta’ajub melihatnya dan mengatakan satu batu bata ini kenapa tidak terpasang? Beliau berkata sayalah batu bata itu, saya adalah Khatamun Nabiyyin.”

Keterangan:
1). Jika yang dimaksud dengan batu bata itu adalah Nabi Muhammad saw., maka itu satu penghinaan atas diri Nabi saw. sendiri. Adakah beliau hanya seperti batu bata saja bagi sebuah gedung yang indah bentuknya? Jika dimisalkan dengan tiang mungkin juga diterima, tetapi jika Nabi saw. cuma sekedar batu bata saja, sangat keterlaluan, padahal Nabi Muhammad saw. lebih dari nabi-nabi yang lain, bahkan dari malaikat sekali pun.

Firman Tuhan: “Jika sekiranya bukan karena engkau (Muhammad) sungguh tidak Aku jadikan dunia ini” (Hadits Qudsi). Adapun yang dimaksud satu bata itu adalah syariat atau agama. Syariat yang telah diturunkan kepada nabi-nabi yang dahulu merupakan satu gedung yang masih kurang, maka dengan kedatangan Nabi Muhammad saw. sempurnalah gedung itu.

2). Dalam hadits tersebut ada perkataan sebelumku (min qalbi). Jadi misal itu hanya antara beliau dengan nabi-nabi yang dahulu, bukan yang akan datang.

اَنَاالْعَقِبُ وَاْلعَاقِبُ الَّذِى لَيْسَ بَعْدَهُ نَبِيٌ. (رواه الترمذى)

Artinya :
“Sayalah Aqib, dan Aqib ialah yang tidak ada lagi sesudahnya nabi”. (Tirmizi)

Penjelasan :
(a). Kepada sahabat-sahabat yang memang berbahasakan Arab dan bahasa itu bahasa asli mereka tidak perlu lagi diartikan dengan menjelaskan bahwa Aqib itu ialah yang tidak ada lagi nabi sesudahnya.
(b). Imam Mulla Ali Al-Qari berkata: Jelas bahwa ini adalah tafsir dari sahabat atau orang yang kemudiannya. Dalam syarah Muslim, Ibnu Arabi berkata: Aqib itu ialah orang yang menggantikan seorang dalam sifat-sifat yang baik.

اِنىِّ اَخِرُ اْلاَنْبِيَاءِ وَاَنْتُمْ اَخِرًاْلاُمَمِ. (رواه ابن ماجه)

Artinya :
“Aku adalah akhir nabi-nabi, dan kamu akhir ummat”

Penjelasan :
a.Dalam hadits ini terang bahwa beliau akhir nabi yang mempunyai ummat sendiri, tetapi nabi yang tidak mempunyai ummat sendiri dan hanya mengaku ummat dari nabi sebelumnya tidak ada halangan akan datang.
b.Dalam hadits Muslim tertulis :

اِنىِّ اَخِرُ اْلاَنْبِيَاءِ وَاِنَّ مَسْجِدِى اَخِرُالْمَسَاجِدِ. (رواه الْمسلم)

Artinya :
“Aku akhir nabi-nabi dan mesjidku akhir mesjid-mesjid”.

Apakah sesudah mesjid Nabi Muhammad saw. tidak ada mesjid lagi? Maksudnya ialah tidak ada mesjid lagi yang akan digunakan untuk acara-acara ibadat yang berlainan dengan acara ibadat yang sudah diajarkan oleh Nabi Muhammad saw.

Sumber:
Buku Kami Orang Islam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: