Jamaluddin Feeli

KEBENARAN PENDIRI AHMADIYAH

In Uncategorized on 27 Oktober 2009 at 06:26

KEBENARAN PENDIRI JEMAAT AHMADIYAH
MENURUT AL-QUR’AN DAN HADITS

Allah Taala berfirman dalam Al-Qur’an Syarif, surah Al-Baqarah ayat 285 :

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (٢٨٥)

Artinya:
“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Pada zaman ini Allah Swt. telah membangkitkan seorang Utusan dan Rasul untuk kemajuan rohani ummat manusia di seluruh dunia, yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Masih Mau’ud dan Imam Mahdi. Banyak orang yang sudah beriman kepada beliau, tetapi sebagian besar ummat manusia dewasa ini masih belum dapat mempercayai kebenaran beliau a.s. Berikut ini kami kemukakan beberapa ayat Al-Qur’an Suci dan Hadits Sahih yang menunjang kebenaran beliau.

Firman Allah Taala dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 16 :

قُلْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلا أَدْرَاكُمْ بِهِ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ (١٦)

Artinya:
“Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya Maka Apakah kamu tidak memikirkannya”?

Menurut ayat ini, orang yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi dan Rasul haruslah orang yang suci dan tidak mempunyai keaiban sedikitpun. Begitu pulalah kehidupan Pendiri Jemaat Ahmadiyah, baik kawan maupun yang tidak menyenangi beliau mengakui keluhuran akhlak beliau.

Ulama besar India, Mohammad Husain Batalwi, yang hidup sezaman dengan Pendiri Jemaat Ahmadiyah menulis tentang Masih Mau’ud a.s. di dalam “Isyaatus sunnah”:

“Pengarang kitab Barahin Ahmadiyah sebagai yang telah disaksikan dan dilihat oleh kawan dan lawan adalah seorang yang berpegang atas syariat, lagi muttaqi dan seorang yang benar”.

Lebih lanjut dikatakannya :
“Dengan ringkas dan tidak berlebih-lebihan, kami terangkan pemandangan kami tentang kitab ini (Barahin Ahmadiyah), bahwa melihat kepada keadaan yang ada pada masa sekarang, adalah kitab ini suatu kitab yang tidak ada bandingannya, dan belum ada contohnya di dalam Islam sampai sekarang. Dan pengarangnya pun adalah seorang yang selalu tetap memajukan Islam dengan pengorbanan jiwa, tulisan dan perkataan dengan perbuatan dan kenyataan. Orang semacam ini, di antara orang Islam yang dahulu-dahulu pun jarang di dapat contohnya”.

Pengakuan ulama besar India ini ditulis sebelum pendakwaan Masih Mau’ud a.s. yang kemudian, setelah pendakwaan, sangat membenci Pendiri Jemaat Ahmadiyah.

Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Haqqah ayat 44 – 47 :

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأقَاوِيلِ (٤٤)
لأخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (٤٥)
ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (٤٦)
فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (٤٧)

Artinya:
“Seandainya Dia (Muhammad) Mengadakan sebagian Perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang Dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.”.

Menurut ayat ini, jika seseorang mengaku mendapat wahyu dari Allah Swt. padahal pendusta, maka Allah Swt. sendiri akan membinasakannya. Orang yang mendapat wahyu dan ilham kemudian mendakwakan dirinya sebagai Nabi dan Rasul, ia harus hidup sekurang-kurangnya 23 tahun, dihitung sejak menerima wahyu (Kitab Nibras halaman 444). Sejak menerima wahyu pertama (1871), Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad berumur lebih dari 23 tahun (wafat 1908).

Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 15 :

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ (١٥)

Artinya:
“Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua ummat manusia”.

Dimasa hidup Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., India dilanda musibah penyakit ta’un (pes). Tak terhitung banyaknya orang yang meninggal dunia akibat penyakit itu. Pendiri Ahmadiyah menerima wahyu dari Allah Swt. :

إنِّي اُحَافِظُ كُلَّ مَنْ فِى الدَّارِ

Artinya:
“Aku (Allah) akan selamatkan semua orang yang ada di dalam rumahmu” (Bahtera Nuh).

Benarlah, sebagaimana dijanjikan oleh Allah Taala, semua orang yang bernaung di rumah beliau, begitu juga orang yang beriman kepada beliau dengan tulus ikhlas, seorangpun tidak ada yang terserang penyakit itu.

Allah Taala berfirman dalam surah Al-Mujadalah ayat 21 :

كَتَبَ اللَّهُ لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (٢١)

Artinya:
“Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.”.

Pendiri Jemat Ahmadiyah mendapat wahyu dari Allah Taala yang bunyinya :

“Aku akan sampaikan tablighmu ke pelosok-pelosok dunia”. Kebenaran kedua wahyu ini telah terbukti dan dari hari ke hari semakin nyata dalam perjuangan Jemaat Ahmadiyah. Pendiri Jemaat Ahmadiyah tatkala beliau masih hidup telah mendapat tantangan keras dari segala penjuru. Akan tetapi janji Allah Taala lewat wahyu tersebut telah terbukti kebenaran pendakwaan beliau yang disertai dalil-dalil yang unggul. Kebenaran lainnya adalah bahwasanya sampai hari ini missi-missi yang diteruskan oleh para Khalifahnya telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Allah Taala berfirman dalam surah Al-Jin ayat 26 – 27

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦)
: إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (٢٧)

Artinya:
“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu., kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”.

Hadhrat Masih Mau’ud (Pendiri Jemaat Ahmadiyah) mendapat wahyu dari Allah Swt.:
“Seorang Pemberi-Ingat datang di dunia, tapi dunia tidak menerimanya. Allah-lah yang akan menerimanya dan akan menzahirkan kebenarannya dengan serangan-serangan hebat”.

Wahyu ini menyatakan, bahwa Jemaat beliau akhirnya akan dimenangkan oleh Allah Taala dengan pertolongan-Nya yang khas. Penentang-penentang dan musuh-musuh beliau yang besar di antaranya: Alexander Dowie, pemimpin kaum Kristen di Amerika Serikat, mati dengan kehinaan pada tahun 1907. Abdullah Atham, pendeta Kristen di India, mati dengan keaiban pada tahun 1896. Lekhram, pemimpin kaum Hindu terbunuh pada tahun 1897 dengan kesedihan, dan lain-lain.

Kebiasaan mereka itu semuanya sesuai dengan khabar ghaib yang diterima oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Pembelaan yang dilakukan oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah adalah semata-mata pembelaan untuk kemuliaan, kesucian Islam dan Rasulullah saw., karena ketiga tokoh agama itu senantiasa memaki, menghina dan memburuk-burukkan agama Islam dan Nabi Muhammad saw.

Allah Taala berfirman dalam surah Al-Jum’ah ayat 3 :

وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٣)

Artinya:
“Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”.

Tafsir dari ayat ini terdapat dalam Hadits Bukhari jilid III halaman 1560 :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ ر.ع قَالَ : كُنَّا جُلُوْسًا عِنْدَ النَّبِىّ صعلم فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُوْرَةُ الْجُمُعَةِ (وَآخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ) قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هُمْ ياَ رَسُوْلَ الله ؟ فَلَمْ يُرَاجِعْهُ حَتَّى سَأَلَ ثَلاَثاً, وَفِيْناَ سَلْماَنُ الْفاَرِسِىُّ وَضَعَ رَسُوْلُ اللهِ صعلم يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ الْفاَرِسِىِّ ثُمَّ قَالَ: لَوْكَانَ اْلإِيْمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَناَ لَهُ رِجَالٌ أَوْ رَجُلٌ مِنْ هؤُلآءِ

Artinya:
“Abu Hurairah ra. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw., lalu diturunkan kepada beliau Surah Jumu’ah, pada kata-kata (Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum pernah bertemu dengan mereka). Saya bertanya, siapa yang dimaksud dengan mereka wahai Rasulullah? Beliau tidak menjawab hingga saya menanyakan itu sampai tiga kali. Diantara kami sedang duduk Salman al-Farisi (Salman asal Parsi) dan Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau diatas pundak Salman, lalu bersabda: Bila iman telah terbang ke bintang Tsurayya, seorang laki-laki atau beberapa orang laki-laki dari antara mereka ini yang akan mengambilnya kembali.” (HR Bukhari, bab Tafsir Surah Jum’ah dalam kata Wa aakhariina minhum lammaa yalhaquu bihim, Jilid III, hal. 1560).

Surah Jum’ah ayat 3 diatas beserta tafsirnya ada dalam Bukhari tersebut. Sebagaimana Allah Swt. wahyukan kepada Imam Mahdi a.s. beliau tiada lain adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, karena nenek moyang beliau berasal dari Persia (Iran) dan tinggal di Qadian, India. Dan beliau pulalah yang “membawa kembali iman dari bintang Tsurayya” itu.

Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran ayat 61 :

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ (٦١)

Artinya:
“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”.

Sehubungan dengan ayat ini, Hadhrat Masih Mau’ud a.s dalam kitabnya Anjame Atham halaman 65 – 67 tahun 1896 menulis :
“Orang-orang yang tidak mau mengerti dakwaanku meskipun aku telah menjelaskannya berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an Suci dan Hadits Sahih, dan mereka tidak henti-hentinya mengkafirkan dan mendustakan aku, maka aku memanggil mereka semua untuk memanjatkan do’a mubahalah (putusan do’a). Tetapi ternyata tidak ada dari pihak musuhku yang menerima tantanganku ini”.

Rasulullah saw. bersabda dalam Hadits Ad-Darul Qutni jilid I halaman 188 :

عَنْ مُحَمَّد بْنِ عَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم اِنَّ لِمَهْدِيِّنَا اَيَتَيْنِ لَمْ تَكُوْنَ مُنْذُ خَلْقِِِ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضِ يَنْكَسِفُ الْقَمَرُ لِأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَ تَنْكَسِفُ الشَّمْسُ فِى النِّصْفِ مِنْهُ

Artinya:
“Muhammad bin Ali meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya untuk Mahdi kita ada dua tanda yang belum pernah terjadi sejak saat bumi dan langit diciptakan. Gerhana bulan akan terjadi pada malam pertama bulan Ramadhan, dan gerhana matahari akan terjadi pada pertengahannya.”

Tidak ada yang tersembunyi dari ahli ilmu bahwa untuk gerhana tersebut, Tuhan telah mengatur tanggal kejadiannya. Dan sudah ditetapkan yaitu tanggal 13, 14, dan 15. dan untuk gerhana matahari tanggal 27, 28 dan 29. maka yang dimaksud dengan gerhana matahari pada tanggal pertengahannya adalah tanggal 28 Ramadhan. Sebagaimana telah diterangkan dalam hadits demikianlah gerhana bulan terjadi pada tanggal 13 di bulan Ramadhan dan terjadi gerhana matahari pada tanggal 28 pada bulan itu juga. Dan pada waktu itu (pada waktu terjadinya kedua gerhana tersebut) Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi juga sudah ada. Pada saat itu juga berdasarkan Ilham dari Tuhan beliau telah mendakwakan diri sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi. Dan sebelum zahirnya tanda-tanda itu, orang-orang telah meminta munculnya tanda itu kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai tanda kebenarannya. Dan mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami percaya kepada Tuan sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi, apabila gerhana bulan dan gerhana matahari pada bulan Ramadhan belum terpenuhi.”

Maka Allah Ta’ala pada tahun 1311 H yaitu tahun 1894 M, telah memenuhi penzahiran tanda dari langit ini dan langitpun telah memberi kesaksian, bahwa pendakwaan orang yang telah mendakwakan dirinya itu benar datang dari Tuhan.

Rasulullah saw. bersabda dalam kitab Hadits Abu Daud jilid II halaman 21 dan Misykat halaman 36 :

اِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَاذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

Artinya:
“Sesungguhnya Allah Taala senantiasa akan membangkitkan untuk umat ini pada permulaan tiap abad orang yang akan memperbaharui agamanya.”

Pendiri Jemaat Ahmadiyah mendakwakan dirinya sebagai Mujadid pada akhir abad ketiga belas sebagai Mujadid abad ke 14 Hijrah. Abad ke 14 Hijrah telah berlalu, dan hanya beliaulah yang mendakwakan diri sebagai mujadid yang diutus oleh Allah Taala.

Rasulullah saw. bersabda dalam kitab Hadits Musnad Ahmad bin Hanbal jilid II halaman 411 :

يُوْشِكُ مَنْ عَاشَ مِنْكُمْ أَنْ يَلْقى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اِمَامًا مَهْدِ يًّا وَحَكَمًا عَدْلاً وَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْحِنْزِيْرَ

Artinya:
“Sudah dekat orang yang hidup di antara kamu akan bertemu dengan Isa Ibnu Maryam sebagai Imam Mahdi dan Hakim yang adil. Ia akan memecahkan salib, dan membunuh babi.”

Dari hadits ini terbuktilah bahwa Mahdi adalah bayangan Isa ibnu Maryam. Isa aslinya tidak akan mungkin datang lagi, melainkan Imam Mahdi ummat Muhammad itulah yang akan dikatakan sebagai bayangan Isa ibnu Maryam a.s. Dan di dalam kitab Hadits Bukhari dan Muslim tertulis;

فَأَمَّكُمْ مِنْكُمْ danوَاِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

Yakni, “Al-Masih bin Maryam akan mengimami kalian dan menjadi imam dari kalian juga.”

Dalam kalimat ini Imam Mahdi itulah yang ditetapkan sebagai Al-Masih bin Maryam.

Dari ayat Istikhlaf terbukti bahwa khalifah-khalifah ummat Nabi Muhammad akan terjadi dari ummat beliau saw sendiri. Maka kalaupun seandainya Nabi Isa a.s. masih hidup pun, tidak akan bisa menjadi khalifah atau pengganti Nabi Muhammad saw. dalam ummat ini, hanya masilnya saja yang bisa datang, karena Musyabahnya bukan Musyabah bihi yakni tidak ada persamaan yang persis dengannya. Nabi Isa a.s. disebabkan berkedudukan sebagai khalifatullah sebelum ummat Nabi Muhammad, maka telah ditetapkan sebagai Musyabah bihi (ada persamaan dengannya). Dalam ayat ini telah dijanjikan akan menjadikan terus-menerus khalifah-khalifah yang ada persamaannya dengan khalifah-khalifah sebelumnya (Musyabah bihi). Maka Nabi Isa a.s. sendiri tidak mungkin bisa datang lagi.

Di lain tempat Rasulullah saw. bersabda lagi (Hadits Ibnu Majah bab ayidatuz-zaman) :

لاَ مَهْدِيَّ اِلاَّ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ

Artinya:
“Isa ibnu Maryam itulah Imam Mahdi”.

Hadits ini dengan sangat jelas menerangkan bahwa, selain Isa ibnu Maryam tidak ada Imam Mahdi. Dalam makna inilah Hadits Musnad Ahmad bin Hambal mengemukakan sabda Rasulullah saw.:

يُوْشِكُ مَنْ عَاشَ مِنْكُمْ أَنْ يَلْقَى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اِمَامًا مَهْدِيًّا وَحَكَمًا عَدْلاً

“Sudah dekat orang yang hidup dari antara kamu akan bertemu dengan Isa ibnu Maryam sebagai Imam Mahdi dan hakim yang adil.” (Musnad Ahmad bin Hanbal jld. II hal. 411).

Ada juga satu kelompok para ulama Suni berpendapat bahwa yang akan datang adalah “bayangan” Masih ibnu Maryam. Demikian juga Syekh Muhyiddin ibnu Arabi yang mendapat gelar Syaikhul Akbar menulis tentang hal ini dalam Futuhat Makiyah, beliau berkata: Yang maksudnya: “Sudah pasti, bahwa nuzul (turun)-nya Masih ibnu Maryam di akhir zaman adalah dalam bentuk personal lain, yaitu turunnya Al-Masih ibnu Maryam bukan pada wujud aslinya.”
Tentang tugas beliau a.s. berkenaan dengan kedua nama itu, beliau a.s. mengemukakan :

“Wahai manusia! Bangunlah untuk Tuhan dengan segera dan takutlah kepada Tuhan dan berfikirlah seperti bukan seorang musuh atau orang kafir. Bukankah sudah tiba waktunya bagi Tuhan untuk bersikap rahim terhadap makhluk-Nya? Tidakkah Dia sepatutnya melenyapkan kejahatan dan melepaskan manusia dari dahaga keras dengan hujan musim semi? Tidakkah badai kejahatan berada di puncaknya yang tertinggi? Tidakkah tepi-tepi kebodohan membentang jauh? Bukankah seluruh dunia telah rusak? Tidakkah syetan senang terhadap pengikut-pengikutnya sehingga berterima-kasih kepada mereka? Bersyukurlah kamu kepada Tuhan yang ingat kepada kamu dan agamamu. Dan Dia tidak mengizinkannya menjadi rusak. DIA menjaga panenanmu dan ladang-ladangmu dengan rumput muda. DIA telah menurunkan hujan dan menyempurnakan ukurannya. Dan Dia telah membangkitkan Almasih-Nya untuk melenyapkan kejahatan dan Mahdi-Nya untuk kebaikan ummat manusia. DIA telah membawa kamu kepada suatu masa yang imamnya adalah dari kamu sendiri, hal mana tidak demikian sebelumnya”(Khutbah Ilhamiyah, 13 April 1900 M).

Rasulullah saw. bersabda dalam kitab Hadits Kanzul Ummal jilid III halamn 200 dan dalam Abu Daud :

مَنْ لَمْ يَعْرِفْ إِمَامَ زَمَاِنهِ فَقَدْ مَاتَ مَيْتَةَ الْجَاهِلِيَّةِ
Artinya:
“Orang yang tidak mengenal Imam Zamannya, maka kematiannya dalam keadaan jahiliyah”.

Rasulullah saw. bersabda dalam kitab Hadits Musnad Ahmad, jilid IV halaman 85 dan Ibnu Majah halaman 315, bab Khurujul Mahdi :

فَاِذاَ رَأَيْتُمُوْهُ فَبَايِعُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَاِنَّهُ خَلِيْفَةَ اللهِ الْمَهْدِيُّ.

Artinya:
“Apabila kamu melihatnya (Mahdi), maka ambil bai’atnya, kendatipun engkau merangkak di gunung es (berjalan di atas salju dengan lututmu) karena beliau itu Khalifah dan Mahdi dari Allah swt.”

Kesaksian Ulama Rabithah terkemuka tentang :

“KEMUTAWATIRAN HADITS-HADITS MAHDI”

Dalam berkala Akhbarul Alamul Islami, 21 Muharram 1400 Hijrah, halaman 7, terdapat karangan ulama terkemuka dari Rabithah Alam Islami, Syekh Abdul Azis bin Baaz, dengan judul (terjemahannya), “Kejahatan yang terjadi di Masyjidil Haram, pemikiran yang bathil tentang Mahdi Al-Muntazar”. Berikut ini adalah guntingan bagian akhir dari karangan itu beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

اماانكارالمهدي المنتظر بالكلية كما زعم ذالك بعض المتأخرين فهو قول باطل لان احاديث خروجه فى اخرالزمان وانه يملأ الارض عدلاوقسطا كما ملئت جورا قد تواترت تواترا معنويا وكثرت جدا واستفاصت كماصرح بذالك جماعة من العلماء بينهم ابوالحسن الابرى السجستانى من علماء القرن الرابع والعلامع السفارين والعلامه الشوكانى وغيرهم وهم كالا جماع من اهل العلم ولكن لا يجوز الجزم بأن فلانا هوالمهدي الا بعي توافر العلامات التى بينهاالنبي صلى الله عليه وسلم فى الاحديث الثابتة واعظمها واوضحها كونه يملأ الارض قسطاوعدلا كما ملئت جورا وظلما كما سبق بيان ذلك.

Artinya:
“Adapun mengingkari sama sekali kedatangan Mahdi yang dijanjikan, sebagaimana anggapan sementara golongan mutaakhkhirin, adalah pendapat yang salah. Karena hadits-hadits tentang kedatangannya di akhir zaman dan tentang ia akan mengisi bumi ini dengan keadilan dan kejujuran, karena telah penuh kezaliman, adalah mutawatir dari segi isi dari artinya dan terdapat dalam jumlah banyak. Hal ini seperti sudah dijelaskan oleh kalangan ulama, di antaranya Abdul Hasan Al-Abiri As-Sajastani, seorang ulama abad keempat Hijrah, Allamah As-Safarini, Allamah As-Syaukani dan lain-lain. Hal ini sudah menjadi semacam ijmak di kalangan para ahli ilmu.
Memang tidak dapat dipastikan seorang adalah Mahdi kecuali bila ia dipenuhi tanda-tanda sebagaimana diterangkan oleh Nabi saw. dalam hadits-hadits yang teguh, dan tanda paling besar dan jelas ialah bahwa ia (Mahdi) akan mengisi bumi dengan kejujuran dan keadilan, karena telah dipenuhi oleh kekejaman dan kezaliman, seperti diterangkan di muka tadi”.

Ayat-ayat Al-Qur’an Suci yang mendukung kebenaran Pendiri Jemaat Ahmadiyah:

1. Ummat Islam setiap waktu disuruh untuk memanjatkan do’a sebagaimana kita dapati dalam surah Al-Fatihah, meminta petunjuk jalan “mustaqim” yaitu jalan yang dijejaki oleh nabi-nabi (Al-An’am 84-88, 127) dan yang diberi nikmat oleh Tuhan (Maryam 41-59; Al-Maidah 21; An-Nisaa 69-71).

2. Selama dunia berkembang, Allah swt. senantiasa akan memilih dan mengirim nabi-nabi-Nya untuk memberi petunjuk kepada manusia (Al-Hajj 76; Ali Imran 180; An-Nisaa 69-70; Al-A’raf 36; An-Nahl 3; Al-Mu’min 16, 51 – 52; Al-Jum’ah 4).

3. Menolak atau mengingkari seorang nabi berarti menolak atau mengingkari semua nabi (An-Nisaa 150-151; As-Syu’ara 105, 123, 141, 160, 176).

4. Seorang nabi yang palsu atau khianat akan tidak sukses dan dihancurkan oleh Tuhan (Al-Haqqah 43-53; Ali Imran 159-164; Yunus 17-18; An-Nahl 117).

5. Tugas nabi ialah menyampaikan perintah Tuhan kepada manusia (5:100; 6:49; 10:48, 73; 16:36, 37, 83; 19:52, 55; 21:31; 25:11; 28:48, 49; 20:135).

6. Orang yang beriman kepada nabi-nabi akan diberi balasan besar oleh Allah Swt. (2:285-287; 3:180, 191-195; 4:174; 40:52; 30:48; 57:19-20; 58:22; 10:104).

7. Bilamana penduduk dunia menjadi sesat. Allah Swt. akan mengutus nabi-nabi-Nya (As-Shaffaat 72-73; 172-183; Al-Mukmin 50-53; Al-Mujadalah 18-22; Yaasin 15-20).

8. Allah Swt. tidak akan menurunkan pelbagai azab di dunia kecuali Dia lebih dahulu mengirim nabi-Nya (6:132; 11:117-120; 17:16-18, 59; 20:135; 22:46-49; 26:209; 28:59-60).

9. Setiap nabi yang diutus oleh Allah Swt. senantiasa dipermainkan, ditertawakan, dicemoohkan, dituduh pembohong dan ahli sihir, dimusuhi dan lain-lain oleh manusia (6:11, 35, 112-113; 13:33; 14:10-14; 15:11-12; 16:102, 114; 17:48; 21:42; 22:43-47; 23:45; 25:9, 32; 36:8, 31; 38:15; 43:8-9).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: