Jamaluddin Feeli

Apakah Wajib Mengeraskan Bacaan ’Basmalah’ dalam Shalat Berjamaah?

In Pesantren, Tafsir, Ulama, Ustadz on 28 Oktober 2009 at 23:38

Bagaimana hukum membaca basmalah atau lafadz

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ

dalam Surat al-Fatihah ketika shalat? Dan kalau wajib, apakah harus dikeraskan bacaannya? Sebelum menjawab pertanyaan ini akan dibahas mengenai status surat al-Fatihah dalam shalat.

Membaca Surat al-Fatihah merupakan rukun shalat, baik dalam shalat fardhu maupun shalat sunnah. Hal ini didasarkan pada Hadits Nabi SAW berikut ini:
عَنْ عُبَادَةَ بْنِ صَامِتٍ يَبْلُغُ بِهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا صَلَاةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ

Dari ‘Ubadah bin Shamit, Nabi SAW menyampaikan padanya bahwa tidak sah shalatnya orang yang tidak membaca suratt al-Fatihah. (HR Muslim)

Sementara basmalah merupakan ayat dari Surat al-Fatihah. Maka tidak sah jika seseorang shalat tanpa membaca basmalah berdasarkan dengan firman Allah SWT :

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعاً مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Dan sungguh Kami telah berikan kepadamu (Nabi Muhammad) tujuh ayat yang berulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung. (QS al-Hijr: 87)

Yang dimaksud dengan ”tujuh ayat yang berulang-ulang”’ adalah Surat al-Fatihah. Karena al-Fatihah itu terdiri dari ayat yang dibaca secara berulang-ulang pada tiap-tiap raka’at shalat. Dan ayat yang pertama adalah basmalah. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ أُمُّ الْقُرْآنِ وَ أُمُّ الْكِتَابِ وَالسَّبْعُ الْمَثَانِ

Dari Abu Hurairah beliau berkata, Rasalullah SAW bersabda, ”alhamdu lillahi rabbil ‘alamin” merupakan induk Al-Qur’an, pokoknya al-Kitab, serta Surat as-Sab’ul Matsani. (HR Abu Dawud)

Berdasarkan dalil ini, Imam Syafi’i RA mengatakan bahwa basmalah merupakan bagian dari ayat yang tujuh dalam surat al-Fatihah. Jika ditinggalkan, baik seluruhnya maupun sebagian, maka raka’ at shalatnya tidak sah.

قَالَ الشَّافِعِيُّ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ الآيَاتُ السَّابِعَةُ فَإِنْ تَرَكَهَا أَوْ بَعْضَهَا لَمْ تُجْزِهِ الرَّكْعَةُ الَّتِيْ تَرَكَهَا فِيْهَا

Imam Syafi’f RA mengatakan bahwa basmalah merupakan tujuh ayat dari surat al-Fatiاah. Apabila ditinggalkan atau tidak dibaca sebagian ayatnya, maka raka’atnya tidak cukup. (Al-Umm, juz I, haL 129)

Karena merupakan bagian dari surat al-Fatihah, maka basmalah ini juga dianjurkan untuk dikeraskan ketika seseorang membaca al-Fatihah dalam shalatnya, sesuai dengan Hadits Nabi SAW:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْهَرُ بِالْبَسْمَلَةِ

Dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW (selalu) mengeraskan suaranya ketika membaca basmalah (dalam shalat). (HR Bukhari)

Menjelaskan hadits ini, ‘Ali Nayif Biqa’i dalam tahqiq kitab Idza Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi karangan Syeikh as-¬Subki menjelaskan:

“Ibn Khuzaimah berkata dalam kitab Mushannaf-nya menyatakan, pendapat yang menyatakan sunnah mengeraskan basmalah merupakan pendapat yang benar. Ada hadits dari Nabi SAW dengan sanad yang muttashil (urutan perawi hadfts yang sampai langsung kepada Nabi Muhanzmad SAW), tidak diragukan, serta tidak ada keraguan dari para ahli hadfts tentang shahih serta muttashil-nya sanad hadfts ini. Lalu Ibn Khuzaimah berkata, telah jelas dan telah terbukti bahwa Nabi SAW (dalam hadits tersebut) mengeraskan bacaan basmalah dalam shalat.” (Ma’na Qawl al-Imam al-Muththalibi Izda Shahha al-Hadits Fahuwa Madzhabi, hal 161)

Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa basmalah merupakan sebagian surat dari al-Fatihah, sehingga harus dibaca manakala membaca al-Fatihah dalam shalat. Dan juga basmalah disunnahkan untuk dikeraskan dalam shalat jahriyyah atau shalat yang disunnahkan untuk mengeraskan suara yakni maghrib, isya’ dan subuh dan beberapa shalat sunnah berjamaah yang dikerjakan pada malam hari.

Sunnah artinya lebih utama dikerjakan tapi tidak sampai pada hukum wajib. Kesunnahan mengeraskan bacaan basmalah ini sebagaimana sunnahnya mengeraskan keseluruhan al-Fatihah dalam shalat jahriyyah tersebut.

KH Muhyiddin Abdusshomad
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam, Ketua PCNU Jember
________________________________________
Komentar:
________________________________________
Abumusa menulis:
Sebagai perbandingan:

Dari Aisyah ra berkata, “Nabi SAW memulai sholat dengan takbir dan (memulai) bacaan dengan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.(HR Bukhari dan Muslim)

Makanya, para imam masjid di negara timur tengah tidak mengeraskan bacaan bismillahirrahmanirrahim pada surat Alfatihah ataupun surat yang lainnya pada waktu shalat Shubuh, Maghrib dan Isya.

Dari Anas bin Malik ra berkata bahwasanya Nabi SAW dan Abu Bakar dan Umar, mereka memulai shalat dengan Alhamdulillahi rabbil ‘alamin.” (HR Bukhari-Muslim)

Makanya, para imam masjid di negara timur tengah tidak mengeraskan bacaan bismillahirrahmanirrahim pada surat Alfatihah ataupun surat yang lainnya pada waktu shalat Shubuh, Maghrib dan Isya.

Wallaahu a’lam.
________________________________________
Hammas menulis:
Perbedaan hukum dr yg ditulis KH Abdusshomad dan abumusa dpt dianalisa setdknya dari 2 hal :
1. Sumber/Cara mengambil pendapat.
KH Abdusshomad dari madzhab syafi’i atau
dr syafi’iyin (se-tdk-nya dr ulama madzhab).Sedang abumusa TDK dr Imam Syafi’i/Syafi’iyin atau ulama madzhab. Hal ini meyakinkan kita bahwa asal sumber ilmu abumusa adalah aliran WAHABI.Sbgmn kita tahu bhw kampanye Wahabi ada 2 tema, yaitu ANTI MADZHAB dan ANTI TASAWUF.
2. Kebenaran hadits (ilmu muthala’ah hadits).KH Abdusshomad ilmunya berantai,mulai dia,gurunya dan gurunya sampai syafi’iyin,imam syafi’i bahkan sampai nabi Muhammad.Sedangkan abumusa dari ulama Wahabi atau mungkin dari buku yg dibaca shg cuma ditafsirkan sendiri.Sehingga kita lebih percaya mana, manhaj yg dipakai KH Abdusshomat atau Abumusa ? Pasti kita lebih percaya argumen dari KH Abdusshomad karena mu’tabarah/diakui.Imam madzhab lebih tahu cara meracik hukum,ibarat koki makanan pasti lebih tahu dari kita,apalagi dr abumusa.
________________________________________
Abumusa menulis:
Khilafiyah dalam Mengeraskan Bacaan Basmalah

1. Mazhab As-Syafi’i seperti yang ditulis dalam artikel KH. Abdusshomad

2. Mazhab Al-Malikiyah

Sedangkan pandangan mazhab Al-Malikiyah, basmalah bukan bagian dari surat Al-Fatihah. Sehingga tidak boleh dibaca dalam shalat baik shalat wajib maupun shalat sunnah. Dan juga baik dalam shaalt jahriyah maupun sirriyah.

3. Mazhab Al-Hanabilah

Sedangkan dalam pandangan Al-Hanabilah, basmalah adalah bagian dari surat Al-Fatihah, namun tidak dibaca secara keras (jahr), cukup dibaca pelan saja (sirr).

Bila anda perhatikan imam masjidil al-haram di Makkah, tidak terdengar membaca basmalah, namun mereka membacanya umumnya orang-orang di sana bermazhab Hanbali. (Diambil dari artikel yang ditulis Ustadz Ahmad Sarwat, Lc.)

Wallaahu a’lam.
________________________________________
ardan menulis:
komentar abu musa kurang berlandaskan pada realitas empiris.say yakin abu musa belum sepenuhnya pergi ke timur tengah.atau mungkin dia hanya jebolan salah satu negara timur tengah saja.kang abu, coba anda dengarkan radio cairo, egypt/mesir melaui internet setiap antara jam 8 – 11 siang. di radio tersebut disiarkan sholat shubuh secarang. ketika sholat subuh, imam membaca bismilah dalam al-fatihah, bahkan do’a qunut.
________________________________________
Heru Bagus A. menulis:
Terimakasih NU Online dan diskusi ustadz serta teman2, memberikan tambahan ilmu buat saya.

Saya ingin tanya, untuk ulama yang menganggap basmalah bukan bagian dari ayat, lalu bagaimana dengan sab’ul masani atau tujuh ayat yang disebut kan dalam al-Qur’an? sebenarnya sab’ul matsani itu ayatnya apa saja? Yang saya tahu, hampir semua cetakan Al-Qur’an menempatkan basmalah sebagai ayat 1 surat al-fatihah.

Terimakasih atas penjelasannya.
________________________________________
Hamba Tuhan menulis:
Mengenai bacaan “basmalah” itu dikeraskan atau tidak hal tersebut kembalikan lagi kepada kita, mana yg kita pakai.
Kita sebagai umat muslim, hendaklah kita menjadi muslim yang arief untuk setiap perbedaan yang substansi tersebut.
Perbedaan itu harus ada dan menurut saya sebagai sarana kita untuk lebih bertagwa kepada ALLAH SWT, bukan jadi arena pembenaran diri.
Marilah kita diskusi atau dikaji lebih dalam lagi ISLAM kita kembali untuk dipelajari, dan yang terakhir adalah saya takutkan sekali ISLAM hancur karena perbedaan seperti ini

Sum,ber : http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=15107&category_id=&hal=1
.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: