Jamaluddin Feeli

Tafsir Al Fatihah Bag 2 (بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ )

In Ahmadiyah, Rukun Iman, Ta'lim, Tabligh, Tafsir, Tarbiyat on 28 Oktober 2009 at 00:49

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١)

Artinya :
“[a] Aku baca dengan [1] nama [2] Allah swt. [3], Maha Pemurah, Maha Penyayang [4]”
________________________________________
[a] Ditempatkan di permulaan tiap surah kecuali Surah 9; juga dalam 27:31. Lihat juga 96:2.

Tafsir:
[1]. “Ba’ kata depan yang dipakai untuk menyatakan beberapa arti dan arti yang lebih tepat di sini, ialah “dengan”, Maka kata majemuk bism itu akan berarti “dengan nama”. Menurut kebiasaan orang Arab, kara iqra’ atau aqra’u atau naqra’u atau asyra’u atau nasyra’u harus dianggap ada tercantum sebelum bismillah, suatu ungkapan dengan arti “mulailah dengan nama Allah swt. “, atau “bacalah dengan nama Allah swt.” atau “aku atau kami mulai dengan nama Allah swt. .”, atau ” aku atau kami baca dengan nama Allah swt.”. Dalam terjemahan ini ucapan bismillah diartikan “dengan nama Allah swt. “, yang merupakan bentuk lebih lazim (Lane).”

[2]. “ism mengandung arti:nama atau sifat (Aqrab).Di sini kata itu dipakai dalam kedua pengertian tersebut. Kata itu menunjukan kepada Allah swt., nama wujud Tuhan; dan kepada Ar-Rahman (Maha Pemurah) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang), keduanya nama sifat Tuhan’.

[3]. Allah swt. itu nama Dzat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat kesempurnaan dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab kata Allah swt. itu tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun. Tiada bahasa lain memiliki nama tertentu atau khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain, semuanya nama-petunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak; akan tetapi, kata “Allah swt. ” tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak. Kata Allah swt. itu “ism dzat,” tidak “musytak,” tidak diambil dari kata lain, dan tidak pernah dipakai sebagai karangan atau sifat. Karena tiada kata lain yang sepadan, maka nama “Allah swt.” dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Alquran. Pandangan ini di dukung oleh para alim bahasa arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat. kata “Allah swt.” itu, nama wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya sendiri, memiliki segala sifat kesempurnaan, dan huruf al adalah dipisahkan dari kata itu (Lane).

[4]. Ar-Rahman (Maha Pemurah) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) keduanya berasal dari akar yang sama. Rahima artinya, ia telah menampakan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni. kata Rahmah menggabungkan arti riqqah, ialah ” kehalusan” dan ihsan, “kebaikan” (Mufradat). Ar-Rahman dalam wazan (ukuran) fa’lan, dan Ar-Rahim dalam ukuran fa’il. Menurut kaedah tatabahasa Arab, makin banyak jumlah ditambahkan pada akar kata, makin luas dan mendalam pula artinya (Kasysyaf). Ukuran fa’lan membawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan dan (Muhith). Jadi, di mana kata Ar-Rahman menunjukan “kasih sayang meliputi alam semesta”, kata Ar-Rahim berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas, tetapi berulang-ulang ditampakkan.” Menggingat arti-arti di atas, Ar-Rahman itu Dzat Yang Menampakkan kasih sayang dengan cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa pertimbangan usaha atau amal; dan Ar-Rahim itu Dzat Yang menampakkan kasih sayang sebagai imbalan atas amal perbuatan manusia, tetapi menampakkannya dengan murah dan berulang-ulang.

Kata Ar-Rahman Hanya dipakai untuk Tuhan, sedang Ar-Rahim dipakai pula untuk manusia. Ar-Rahman tidak hanya meliputi orang-orang mukmin dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk. Ar-Rahim terutama tertuju pada mukmin saja. Menurut Sabda Rasulullah saw., sifat Ar-Rahman umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Ar-Rahim umumnya bertalian dengan kehidupan yang akan datang (Muhith). Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah dunia perbuatan, dan karena alam akhirat itu suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa, maka sifat Tuhan Ar-Rahman menganugerahi manusia alat dan bahan, untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, dan Sifat Tuhan Ar-Rahim mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang. Segala benda yang kita perlukan dan atas itu kehidupan kita bergantung adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk kita, sebelum kita berbuat sesuatu yang menyebabkan kita layak menerumahnya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan; sedang karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang-akan-datang, akan dianugerahkan kepada kita sebagai ganjaran atas amal perbuatan kita. Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahman itu pemberi Karunia yang mendahului kelahiran kita, sedang Ar-Rahim itu pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal perbuatan kita sebagai ganjaran.

Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim adalah ayat pertama tiap-tiap Surah Alquran kecuali Al Bara’ah (At-Taubah) yang sebenarnya bukan Surah yang berdiri sendiri, melainkan lanjutan Surah Al-Anfal. Ada sesuatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas yang maksudnya, bila sesuatu Surah-baru diwahyukan, biasanya dimulai dengan Bismillah, dan tanpa bismillah, Rasulullah saw. tidak mengetahui bahwa Surah baru saja dimulai (Daud). Hadis ini menampakkan bahwa (1) bismillah itu bagian dari Alquran bukan suatu tambahan, (2) bahwa Surah Bara’ah itu, bukan Surah yang berdiri sendiri. Hadis itu menolak pula kepercayaan yang dikemukakan oleh sementara orang bahwa, bismillah hanya merupakan bagian surat Al-Fatihah saja dan bukan bagian semua Surah Alquran. Selanjutnya ada riwayat Rasulullah s.a.w pernah bersabda bahwa, ayat bismillah itu bagian semua Surah Alquran (Bukhari dan Quhni). Ditempatkannya bismillah pada permulaan tiap-tiap Surah mempunyai arti seperti berikut:Alquran itu khazanah ilmu Ilahi yang tidak dapat disentuh tanpa karunia khusus dari Tuhan, “Tiada orang boleh menyentuhnya, kecuali mereka yang telah disucikan” ( 56:80 ). Jadi, bismillah telat ditempatkan pada permulaan tiap Surah untuk memperingati orang muslim bahwa, untuk dapat masuk ke dalam Khazanah ilmu Ilahi yang termuat dalam Aquran; dan untuk suci, melainkan ia harus pula senantiasa mohon pertolongan Tuhan. Ayat bismillah itu, mempunyai pula tujuan penting yang lain. Ayat itu ialah kunci bagi arti dan maksud tiap-tiap Surah, karena segala persoalan mengenai urusan akhlak dan rohani, yaitu Rahmaniya (kemurahan) dan Rahimiyah (Kasih-Sayang). Jadi tiap-tiap Surah pada hakikatnya, merupakan uraian terperinci dari beberapa segi Sifat-sifat Ilahi yang tersebut dalam ayat ini. Ada tuduhan bahwa kalimah bismillah, itudiambil dari kitab-kitab suci sebelum Alquran. Kalau Sale mengatakan bahwa, kalimah itu diambil dari Zend Avesta, maka Rodwell berpendapat bahwa, orang-orang Arab sebelum Islam mengambilnya dari orang-orang Yahudi, dan kemudian dimasukkan ke dalam Alquran. Kedua paham itu nyata salah sekali. Pertama, tidak pernah dida’wakan oleh orang-orang Islam bahwa, kalimah itu dalam bentuk ini atau sebangsanya tidak dikenal sebelum Alquran diwahyukan. Kedua, keliru sekali mengemukakan sebagai bukti bahwa, karena kalimah itu dalam bentuk yang sama atau serupa kadang-kadang dipakai oleh orang-orang Arab sebelum diwahyukan dalam Alquran, maka kalimah itu tidak mungkin asalnya dari Tuhan. Sebenarnya Alquran sendiri menegaskan bahwa, Nabi Sulaiman a.s. memakai kalimah itu dalam suratnya kepada Ratu Saba (27:31). Apa yang dida’wakan oleh orang-orang Islam — sedang da’wa itu, tidak pernah ada yang membantah, ialah bahwa, di antara Kitab-kitab Suci, Alquran adalah yang pertama-tama memakai kalimah tiu dengan caranya sendiri. Pula keliru sekali mengatakan bahwa, kalimah itu sudah lazim di antara orang-orang arab sebelum islam, sebab kenyataan yang sudah diketahui ialah bahwa, orang-orang arab mempunyai rasa keseganan menggunakan kata Ar-Rahman sebagai pangilan untuk tuhan. Pula, jika kalimah demikian dikenal sebelumnya, maka hal itu malah mendukung kebenaran ajaran Alquran bahwa, tiada satu kaum pun yang kepadanya tidak pernah diutus seorang Pemberi Ingat (35:25), dan juga bahwa, Alquran itu adalah khazanah semua kebenaran yang kekal dan termaktub dalam Kitab-kitab Suci sebelumnya (98:5).Alquran tentu menambah lebih banyak lagi dan apa pun yang diambilalihnya, Alquran memperbaiki bentuk atau pemakaiannya,atau memperbaiki kedua-duanya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: