Jamaluddin Feeli

Shalat Tarawih dan Jumlah Raka’atnya

In Islam, Kiyai, Shalat, Ulama, Ustadz on 29 Oktober 2009 at 01:48

Shalat Tarawih hukumnya sangat disunnahkan (sunnah muakkadah), lebih utama berjama’ah. Demikian pendapat masyhur yang disampaikann oleh para sahabat dan ulama.

Ada beberapa pendapat tentang raka’at shalat Tarawih; ada pendapat yang mengatakan bahwa shalat tarawih ini tidak ada batasan bilangannya, yaitu boleh dikerjakan dengan 20 (dua puluh) raka’at, 8 (delapan), atau 36 (tiga puluh enam) raka’at; ada pula yang mengatakan 8 raka’at; 20 raka’at; dan ada pula yang mengatakan 36 raka’at.

Pangkal perbedaan awal dalam masalah jumlah raka’at shalat Tarawih adalah pada sebuah pertanyaan mendasar. Yaitu apakah shalat Tarawih itu sama dengan shalat malam atau keduanya adalah jenis shalat sendiri-sendiri? Mereka yang menganggap keduanya adalah sama, biasanya akan mengatakan bahwa jumlah bilangan shalat Tawarih dan Witir itu 11 raka’at.

Dalam wacana mereka, di malam-malam Ramadhan, namanya menjadi Tarawih dan di luar malam-malam Ramadhan namanya menjadi shalat malam / qiyamullail. Dasar mereka adalah hadits Nabi SAW:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا مَا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيْدُ فِيْ رَمَضَانَ وَلاَغَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً. رواه النسائي

”Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW tidak pernah menambah di dalam ramadhan dan di luar Ramadhan dari 11 rakaat”. (HR. Al-Bukhari)

Sedangkan mereka yang membedakan antara keduanya (shalat malam dan shalat tarawih), akan cenderung mengatakan bahwa shalat Tarawih itu menjadi 36 raka’at karena mengikuti ijtihad Khalifah Umar bin ’Abdul Aziz yang ingin menyamai pahala shalat Tarawih Ahli Makkah yang menyelingi setiap empat raka’at dengan ibadah Thawaf.

Lalu Umar bin ’Abdul Aziz menambah raka’at shalat Tarawih menjadi 36 raka’at bagi orang di luar kota Makkah agar menyamahi pahala Tarawih ahli makkah; Atau shalat Tarawih 20 raka’at dan Witir 3 raka’at menjadi 23 raka’at. Sebab 11 rakaat itu adalah jumlah bilangan rakaat shalat malamnya Rasulullah saw bersama sahabat dan setelah itu Beliau menyempurnakan shalat malam di rumahnya. Sebagaimana Hadits Nabi SAW.:

أَنَّهُ صلّى الله عليه وسلّم خَرَجَ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ لَيَالِيْ مِنْ رَمَضَانَ وَهِيَ ثَلاَثُ مُتَفَرِّّقَةٍ: لَيْلَةُ الثَالِثِ, وَالخَامِسِ, وَالسَّابِعِ وَالعِشْرِيْنَ, وَصَلَّى فِيْ المَسْجِدِ, وَصَلَّّى النَّاسُ بِصَلاَتِهِ فِيْهَا, وَكَانَ يُصَلِّّْي بِهِمْ ثَمَانِ رَكَعَاتٍ, وَيُكَمِّلُوْنَ بَاقِيْهَا فِيْ بُيُوْتِهِمْ. رواه الشيخان

“Rasulullah SAW keluar untuk shalat malam di bulan Ramadlan sebanyak tiga tahap: malam ketiga, kelima dan kedua puluh tujuh untuk shalat bersama umat di masjid, Rasulullah saw. shalat delapan raka’at, dan kemudian mereka menyempurnakan sisa shalatnya di rumah masing-masing. (HR Bukhari dan Muslim).

Sedangkan menurut ulama lain yang mendukung jumlah 20 raka’at, jumlah 11 raka’at yang dilakukan oleh Rasulullah SAW tidak bisa dijadikan dasar tentang jumlah raka’at shalat Tarawih. Karena shalat Tarawih tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah saw kecuali hanya 2 atau 3 kali saja. Dan itu pun dilakukan di masjid, bukan di rumah.

Bagaimana mungkin Aisyah RA meriwayatkan hadits tentang shalat Tarawih Nabi SAW? Lagi pula, istilah shalat Tarawih juga belum dikenal di masa Nabi SAW. Shalat tarawih bermula pada masa Umar bin Khattab RA karena pada bulan Ramadlan orang berbeda-beda, sebagian ada yang shalat dan ada yang tidak shalat, maka Umar menyuruh agar umat Islam berjamaah di masjid dengan imamnya Ubay bin Ka’b.

Itulah yang kemudian populer dengan sebutan shalat tarawih, artinya istirahat, karena mereka melakukan istirahat setiap selesai melakukan shalat 4 raka’at dengan dua salam. Dan Umar RA. berkata: “Inilah sebaik-baik bid’ah”.

Bagi para ulama pendukung shalat Tarawih 20 raka’at+witir 3= 23, apa yang disebutkan oleh Aisyah bukanlah jumlah raka’at shalat Tarawih melainkan shalat malam (qiyamullail) yang dilakukan di dalam rumah beliau sendiri. Apalagi dalam riwayat yang lain, hadits itu secara tegas menyebutkan bahwa itu adalah jumlah raka’at shalat malam Nabi SAW., baik di dalam bulan Ramadhan dan juga di luar bulan Ramadhan.

Ijtihad Umar bin Khoththab RA tidak mungkin mengada-ada tanpa ada dasar pijakan pendapat dari Rasulullah saw, karena para sahabat semuanya sepakat dan mengerjakan 20 raka’at (ijma’ ash-shahabat as-sukuti).

Di samping itu, Rasulullah menegaskan bahwa Posisi Sahabat Nabi SAW sangat agung yang harus diikuti oleh umat Islam sebagaimana dalam Hadits Nabi SAW:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّّتِيْ, وَسُنَّةِ الخُلَفَآءِ الرَّاشِدِيْنَ مِنْ بَعْدِيْ

“Maka hendaklah kamu berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah al-Khulafa’ al-Rasyidun sesudah aku “. (Musnad Ahmad bin Hanbal).

Ulama Syafi’ayah, di antaranya Imam Zainuddin bin Abdul ‘Aziz al Malibari dalam kitab Fathul Mu’in menyimpulkan bahwa shalat Tarawhi hukumnya sunnah yang jumlahnya 20 raka’at:

وَصَلاَةُ التَّرَاوِيْحِ سنة مُؤَكَّدَةٌ وَهِيَ عِشْرُوْنَ رَكْعَةً بِعَشْرِ تَسْلِيْماَتٍ فِيْ كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ لِخَبَرٍ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَاناً وَاحْتِسَاباً غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَيَجِبُ التَّسْلِيْمُ مِنْ كُلِّ رَكْعَتَيْنِ فَلَوْ صَلَّى أَرْبَعًا مِنْهَا بِتَسْلِيْمَةٍ لَمْ تَصِحَّ .

“Shalat Tarawih hukumnya sunnah, 20- raka’at dan 10 salam pada setiap malam di bulan Ramadlan. Karena ada hadits: Barangsiapa Melaksanakan (shalat Tarawih) di malam Ramadlan dengan iman dan mengharap pahala, maka dosanya yang terdahullu diampuni. Setiap dua raka’at haru salam. Jika shalat Tarawih 4 raka’at dengan satu kali salam maka hukumnya tidak sah……”. (Zainuddin al Malibari, Fathul Mu’in, Bairut: Dar al Fikr, juz I, h. 360).

Pada kesimpilannya, bahwa pendapat yang unggul tentang jumlah raka’at shalat tarawih adalah 20 raka’at + raka’at witir jumlahnya 23 raka’at. Akan tetapi jika ada yang melaksanakan shalat tarawih 8 raka’at + 3 withir jumlahnya 11 raka’at tidak berarti menyalahi Islam. Sebab perbedaan ini hanya masalah furu’iyyah bukan masalah aqidah tidak perla dipertentangkan. Wallahu a’lam bi al-shawab.

HM Cholil Nafis MA
Wakil Ketua Lembaga Bahtsul Masa’il PBNU

Komentar:

Sutan Mantari menulis:
Tanya: Apakah salat witir itu sebagai penutup salat malam atau salat tarawih.
Jika benar dan hadis Siti Aisyah dipercaya berarti salat malam sama dengan tarawih.
dan lebih baik kita mencontoh Rasulullah saja. Benar ngak pak HM Cholol Nafis Abumusa menulis:
Shalat tarawih 11 rakaat atau 23 rakaat sebaiknya dilaksanakan secara thuma’ninah. Janganlah melakukan shalat tarawih dengan sangat cepat seperti yang digambarkan oleh Rasuulullaah shalallaahu ‘alaihi wassalaam sebagai ayam yang mematuk-matuk atau pencuri yang paling jahat.

Mari kita melaksanakan shalat tarawih dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala sehingga kita dapat menikmatinya dan dosa kita yang telah lalu dihapuskan.

Wallahu a’lam. hamba Allah menulis:
Mari kita tingkatkan kwalitas jangan hanya kwantitas. kwantitasnya banyak tapi kwalitasnya renda itu tidak ada artinya. untuk itu kami mohon kepada jajaaran NU dimana saja berada untuk menghimbau kepada semua jam’iyah agar meningkatkan kwalitas terwaihnya. Nia menulis:
Di Masjidil Haram Mekkah juga 23 raka’at, tidak ada yang menyalahkan. Beberapa tahun yang lalu ada satu stasiun TV swasta yang selalu menyiarkannya secara langsung (mulainya kira2 jam 12 malam WIB) hingga bisa diikuti pemirsa Indonesia dengan bacaan Al Quran-nya yang merdu dan 1 juz per malam. Bahkan menurut keterangan presenternya, dinihari sekitar jam 2-3, para jama’ah kembali lagi ke Masjid untuk melakukan solat tahajjud bersama. Berarti lebih banyak lagi shalatnya dan raka’atnya. Yang mempercayai 11 raka’at, tinggal berhenti setelah raka’at ke-8, dan melanjutkan dengan witir sendiri. Beres kan? hadi menulis:
buat mas Sutan Mantari:
klo seperti pendapat anda kenapa di bulan Ramadlan disebut solat malam dan di bulan luar ramadhan disebut solat malam..

bukan kah solat malam dan solat taraweh ada perbedaan arti??

sejarah istilah solat taraweh adalah dimulai pada jaman sahabat dgn jumlah 20+3 rakaat. ketika Kanjeng Rasul masih hidup istilah solat taraweh belum ada..

Abdullah menulis:
klo aku boleh komentar, …
aku lebih suka terhadap mereka yang mau konsisten melaksanakan shalat malam (tarawih) disetiap malam ramadhan penuh dengan keimanan dan mencari pahala & ridho-Nya sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah Azza wa-Jall ketimbang mereka yang terus berkutit mempermaslahkan konteks ini tanpa ada faidah sama sekali, … ok ?!. agar supaya kita benar-benar termasuk sebagai orang yang bertaqwa seperti yang disinggung dalam alquran ..
ketahuilah Allah hanya melihat hamba-hamba-Nya yang bertaqwa, .. MUSLIM menulis:
Khilafiyah ini berkualitas, masing-masing menunjukkan argumentasi dalil hujjah yang kuat (shahih) Insya Allah semoga tidak bemasalah dalam agama, tidak seperti masalah penciptaan yang baru (bid’ah) kadang hujjah yang digunakan tidak matching dengan, terkesan dalil memaksakan/disambungkan untuk memperkuat argumentasinya. Tapi kalau pendapat Umar jamaah tarawih bidah yang baik, itu hanya pernyataan dari sudut etimologi, bukan syariyah. Rasul sering tarawih jamaah, karena takut dijadikan wajib, beliau tidak hadir mengimaminya (lihat Hadis Hasan Thabrani/Fath Al Aziz 4/265) Ini ijtihad beliau karena melihat fenomena jamaah tarawih yang berkelompok-kelompok waktu itu. Akhirnya disatukan jamaah-jamaah itu. Kita ikuti ijtihad (bukan bid’ah hasanah)khulafaturrasyidin. Yang menjadi essensi bukan kita memperkuat pendapat golongan, tapi kebersamaan menikmati suasana ramadhan dengan shalat tarawih jamaah. Bukan gembar-gembor berpendapat tapi tarawihnya bolong-bolong. Lalu bagaimana rajihnya j

MUSLIM menulis:
Lanjutan Khilafiyah berdalil 4 Oleh Muslim

5. Ibn Taimiyah berkata, “boleh shalat tarawih 20 raka’at sebagaimana yang mashur dalam madzhab Ahmad dan Syafi’i. Boleh shalat 36 raka’at (madzhab Malik). Boleh shalat 11 raka’at, 13 raka’at. Semuanya baik. Jadi banyaknya raka’at atau sedikitnya tergantung lamanya bacaan dan pendeknya.” “Yang paling utama itu berbeda-beda sesuai dengan perbedaan orang yang shalat. Jika mereka kuat 10 raka’at ditambah witir 3 raka’at sebagaimana yang diperbuat oleh Rasul di Ramadhan dan di luar Ramadhan- maka ini yang lebih utama. Kalau mereka kuat 20 raka’at, maka itu afdhal dan inilah yang dikerjakan oleh kebanyakan kaum muslimin, karena ia adalah pertengahan antara 10 dan 40. “Barangsiapa menyangka, bahwa qiyam Ramadhan itu terdiri dari bilangan tertentu, tidak boleh lebih dan tidak boleh kurang, maka ia telah salah.”(Majmu’ Al Fatawa, 23/113)

Demikian pendapat para ulama’ tanpa kita memandang madhzab/golongan karena amalan ini bagus dan ber

MUSLIM menulis:
Lanjutan Khilafiyah berdalil 5 Oleh Muslim

Menyangkut perubahan jumlah rakaat,

6. Al Tharthusi berkata “Mungkin Umar pertama kali memerintahkan 11 raka’at dengan bacaan yang amat panjang. Pada raka’at pertama, imam membaca sekitar 200ayat, karena berdiri lama adalah yang terbaik dalam shalat.Tatkala masyarakat tidak lagi kuat menanggung hal itu, maka Umar memerintahkan 23 raka’at demi meringankan lamanya bacaan. Dia menutupi kurangnya keutamaan dengan tambahan raka’at. Maka mereka membaca surat Al Baqarah dalam 8-12 raka’at sesuai dengan hadits al a’raj.” Waktu itu imam membaca antara 20-30 ayat. berlangsung hingga yaumul Harrah, maka terasa berat bagi mereka lamanya bacaan. Akhirnya mereka mengurangi bacaan dan menambah bilangannya menjadi 36 raka’at ditambah 3 witir. Dan inilah yang berlaku kemudian (Pertama atas perintah Khalifah Muawiyah 60 H). 36 Rakaat sejak Khalifah Utsman, Lalu Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz (Lihat Al Hawadits, 143-145)

Abumusa menulis:
Janganlah shalat tarawih dijadikan beban, tapi jadikanlah ia sebagai kegiatan yang sangat menyenangkan sehingga kita enjoy saja melakukannya walau surat yang dibaca panjang-panjang hingga satu juz.

Wallahu a’lam. Gus Nur menulis:
Permasalahan shalat tarawih ini sudah pernah dibahas di halaman lain pada bagian ubudiyyah dalam situs ini juga (lihat arsip).

Sebenarnya artikel yang diangkat pada beberapa kali terakhir ini cukup memberi pencerahan dan tidak menimbulkan perdebatan.

Sekedar usul untuk redaksi, permasalahan ‘ubudiyyah tentu tidak hanya meliputi masalah itu-itu saja yang bisa menjadi pemicu perdebatan, apalagi diangkat secara berulang-ulang.

Masih banyak urusan ibadah yang lebih sejuk dan mencerahkan bagi umat.

Ini hanya sekedar usul, terima kasih. Redaksi NU Online menulis:
Pembaca Yth.
Tujuan utama rubrik Ubudiyah adalah menjelaskan atau “mengingatkan kembali” umat Islam tentang dasar hukum amaliyah keagamaan yang berkembang di Nusantara yang oleh sementara kalangan dianggap bid’ah, sesat bahkan musyrik. Beberapa ibadah yang kami anggap penting kita ulang pembahasannya pada momen tertentu, dan tentunya dari perpektiif yang agak berbeda.
Namun kami juga masih membuka pertanyaan atau tanggapan pembaca untuk memperdalam materi atau meluaskan pembahasan, sebatas disampaikan dengan kalimat yang baik.
Materi Ubudiyah lainnya akan kami sampaikan secara bertahap. Dan kami mohon maaf kepada pembaca jika misalnya memuat sesuatu yang sifatnya sangat dasar misalnya doa berbuka puasa yang sudah banyak diketahui, karena pembaca NU Online adalah dari kalangan yang beragam.
Terimakasih atas semua saran dan partisipasinya.
Wassalam
Redaksi NU Online Inggrid Dewata menulis:
Beberapa masalah klasik yang terus muncul saat ramadhan dan sesudahnya tiba: 1. ru’yah dan hisab. 2. jumlah bilangan teraweh. 3 qunut di witir separo ramadhan. 4. hala bihalal 5. dll.
mungkin yang lain bisa menambahkan…… MUSLIM menulis:
Kalau ubudiyah yang dikaji NU Online selalu direspon dengan controversial, sunnah/bid’ah/syirik. Menunjukkan tujuannya hanya mencari legitimasi bahwa ibadah yang selama ini diamalkan benar, dengan menujukkan dalil dan argumentasinya. Pada bab diatas, pembahasan hanya pada satu sisi madzhab tidak terbuka dengan ulama lainnya. justru umat akan terpasung/tidak ada pencerahan atau takut kalau mereka lari dari golongannya. Contoh dalam kajian ini saya kirimkan beberapa pendapat dari berbagai ulama semua mazhab dan para salaf, yang diterbitkan hanya yang mendukung pendapanya saja, pendapat lainya di edit pihak admin yang terkesan corrupt tidak transparan dan tidak obyektif. Bagaimana Islam akan maju. Maaf ini kritisi konstuktif untuk kemajuan bersama.

ntoes menulis:
to muslim :
kalo 1 tema dibahas semua dengan persfektif madzhab dan pendapat yg berbeda namanya ngaji mas, bkn artikel seperti yg tedapat dalm kolom ubudiyah ini. kalo mau ngaji sampeyan sm sy aja, bawa kitab-kitab andalan sampeyan, kita ngaji bareng-bareng, mau sampeyan ato sy yg baca silahkan pilih, kita berdiskusi tanpa saling menyalahkan semata-mata ingin mencari dalih yg lbh rajih

silahkan hubungi saya di ntoes_wilnon@yahoo.com MUSLIM menulis:

“Adapun hadits yg diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah,Nabi pernah shalat (malam) dibulan Ramadhan 20 raka’at dan beriwitir satu raka’at itu,sanadnya lemah”(Ibnu Hajar,FathulBaari IV).Perawi Abu Syaibah Ibrahim Bin ’Utsman sbg Matrukul Hadits/ditinggalkan (Dlm At-Taqriib). rawi ini Syadidud-dha’fi/sangat lemah/Maudhu (Dlm Al-Fatawal Kubra I) Dan Bukhari berkata ia Sakatu’anhu (Ulama Hadits mendiamkannya)Indikasi hadits bertentangan dg hadits ‘Aisyah dlm shahihain. ‘Aisyah-lah lbh mengetahui hal ihwal Nabi pd malam harinya, Nabi SAW tidak pernah mengerjakan lebih dari 11 raka’at, kebiasaan beliau bila mengerjakan sesuatu amalan, dikerjakan dg tetap.

Imam Suyuthi, berkata:”Singkatnya 20 raka’at itu, tidak pernah dikerjakan Nabi.Dan hadis riwayat Ibnu Hibban sesuai dg hadits ‘Aisyah, bahwa beliau tidak pernah mengerjakan lebih dari 11 raka’at, baik Ramadhan/lainnya, sebab dlm riwayat Ibnu Hibban tsb diterangkan bahwa beliau shalat Tarawih 8 raka’at.Berwitir 3, jmlnya 11 raka’at.

Abumusa menulis:
Kebanyakan kaum Muslim di Indonesia kurang menyukai shalat tarawih sehingga mereka melakukannya dengan terpaksa dan ingin cepat-cepat selesai.

Namun ada sebagian kecil manusia yang menyukai bahkan menikmati shalat tarawih sehingga betah berlama-lama dalam shalat tarawih.

Wallahu a’lam. azvel menulis:
masalahnya bukan 20 atau 8, tapi ada dari sodara2 kita di suatu ponpes di kab. M yang shalat tarawihnya kencang sekali, amm…..puuunnn. bayangin isya’ + tarawih hanya sekitar 12 menit. sekali lagi tuh bayangin!!!! hadi menulis:
to mas muslim:
napa anda berpendapat terlalu memaksakan bahwa ijtihad khalifah Umar bukan disebut bidah hasanah??

memang itu ijtihad sahabat di zaman khal Umar tapi khal Umar jelas menyatakan bidah hasanah..

Klo mengikuti pendapat anda untuk menyampaikan pendapat semua mazhab semua ulama JELAS banyak ulama mazhab yg menyatakan bahwa bidah digolongkan jd 2 : hasanah dan dholalah..

apakah anda akan menyangkal??
mahmud rifai n menulis:
to Muslim,saya kira dgn logika awam tentu kita sudah bs langsung menganalisa,ketika Umar RA memerintahkan utk mjdkan satu jama’ah tarawih 23 rokaat kpd seluruh sahabat(termsuk UstmanRA,Ali KW yg mjd pintu ilmunya Rosul dan jg penghujung para wali disamping keutamaan yang lain jg masih banyak)mereka semua sutuju dan tidak ad yg menolak termasuk Aisyah RA yg meriwayatkan hadis bahwasannya Rosululloh SAW “melakukan sholat malam baik romadhon ato bukan 11 rokaat” dia jg tdk kok menolak dgn perintah Umar dgn mengajukan dalil yg diriwayatkannya sendiri.Dr sahabat,tabi’in,tabi’ut tabi’n,Imam Bukhori & Muslim,sampai skrang pd kita telah mashur bahwasannya jumlah rokaat tarweh itu 23 rokaat.kecuali “mazhabnya muhamadiyah dan pengikutnya”.tp yg jls itu cuma Sunah,lebih banyak rokaatnya tentunta lbh baik&berjama’ah tentunya akan lbh afdhol.Itu kalo sampeyan mau memahami dan mengerti dgn arif dan sabar.alangkah baiknya anda mengaji di pondok dan bertanya lgsng dng penuh tumo’ninah kpd pak Kiyai.

Sumber:
http://www.nu.or.id/page.php?lang=id&menu=news_view&news_id=14047

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: