Jamaluddin Feeli

Justifikasi Tentang Kenabian Ahmad

In Ahmadiyah, Tabligh, Tafsir on 30 Oktober 2009 at 13:26

– Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama, walaupun orang-orang kafir tidak menyukainya
– Mirza Ghulam Ahmad sebagai Al-Masih Yang Dijanjikan (hal. 519)
– “Segala puji bagi Tuhan yang menjadikan saya seperti Al-Masih Putra Maryam” (hal. 637)
– “Engkau Syekh Al-Masih yang tidak disia-siakan waktunya” (hal. 632)

BEBERAPA ilham/wahyu seperti yang tersebut di atas memang memberikan justifikasi tentang Kenabian Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam. Tersebut di dalam hadits Bukhari dan Muslim:

كيف أنتم إذا نزل عيسى ابن مريم فيكم و إمامكم منكم . (صحيح مسلم مشكل ، صفحه 94 ، الجزء الأول ، مطبعة : محمد علي صبيح و أولاده بمصر )
كيف أنتم إذا نزل ابن مريم فيكم و إمامكم منكم . (صحيح البخاري ، الجزء الثاني ، صفحه168 ، “مطبعه العامرة اْلمليحية” ، سـنة 1332 هـ )
و عن النواس بن سمعان قال ذكر رسول الله صل الله عليه وسلم… و يحصر نبي الله عيسـاـى عليه السلام و أصحابه‘… فيرغب نبي الله عيسى عليه السلام و أصحابه‘ ثم يهبط نبي الله عيسـاـى عليه السلام و أصحابه إلى الأرض… فيرغب نبي الله عيسـاـى عليه السلام و أصحابه إلى الله… إذ بعث الله ريحا طيبة… فيقبض روح كل مؤمن و كل مسلم… و يبقـاـى شرار الناس… فعليهم تقوم السّـاـعـة. ( صحيح مسلم ، الجزء الثامن ، صفحه197-198 ، مطتعه محمد علي صبيح بمصر )

Yang paling penting pada hadits tersebut di atas, Nabi Isa ‘alaihissalaam yang dijanjikan itu disebut sebagai NABI, sebanyak 4 (empat) kali.

Nabi Isa ‘alaihissalaam yang disebut pada beberapa hadits di atas juga sebagai Imam Mahdi, sesuai hadits berikut:

………………ولا المهديُّ إلاّعيسى ابنُ مريمَ . (سنن ابن ماجة ، الجزء الثانى كتاب الفتن – باب شدّة الزمان صفحة1341 ، حديث نمرة : 4039، دار الفكر لبنان)

Yang artinya: “Tiada Mahdi kecuali Isa ibnu Maryam.” (Sunan Ibnu Majah, Juz II, “Kitabul Fitnah” Bab Syiddatuz-Zaman, hal. 1341, Hadits No. 4039, …)

Di dalam Al-Quran terdapat beberapa ayat yang menyebutkan masih adanya kemungkinan tentang datangnya Nabi setelah Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Nabi tersebut, selain tidak membawa syari’at, juga harus datang di dalam umat Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam sendiri.
Diantara ayat-ayat tersebut adalah:

 إهدنا الصّراط المستقيم صراط الذين أنعمت عليهم سورة الفاتحة : 4-5

Artinya: “Tunjukilah kami jalan yang lurus. Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat.” (QS Al-Fatihah {1} : 4-5)
Penafsiran dari أنعمت dalam Surat Al-Fatihah tersebut, terdapat di dalam Surah An-Nisa (4) : 70.

ومن يطع الله والرسول فاؤلئك مع الذين انعم الله عليهم من النبيّن والصّدّيقين والشّهداء والصّلحين وحسن ا ؤلئك رفيقا النسآء : 70

“Dan barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka itu ‘termasuk’ golongan orang-orang yang kepada mereka Allah memberi “nikmat” yaitu para Nabi, para Sidiq, para Syahid, dan orang-orang saleh. Dan merekalah sebaik-baik kawan.”

Kata الرسول , dalam ayat di atas menunjukan kepada rasul tertentu, yaitu: Yang Mulia Baginda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Jadi barangsiapa yang taat kepada Allah dan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, pasti akan meraih salah satu dari empat tingkatan kerohanian tersebut, yaitu: Nabi, Shidiq, Syahid, dan Shaleh.
Kalau sekiranya kata ma’a ( مع ) hanya diartikan “bersama” (dengan), maka di dalam umat Islam alih-alih menjadi nabi, bahkan tidak mungkin ada orang yang menjadi shaleh, syahid maupun shiddiq. Sebab, jika kata ma’a ( مع ) diartikan “bersama”, maka di dalam umat Islam yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya hanya akan “bersama” dengan orang-orang shaleh, syahid, dan shiddiq dari umat lain. Padahal di kalangan umat Islam, banyak yang menjadi shaleh, syahid dan ada yang menjadi shiddiq, dimana derajat-derajat kerohanian tersebut mereka peroleh berkat ketaatan kepada Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa dan Yang Mulia Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam.

Jadi, kesimpulan dari ayat tersebut menjelaskan bahwa orang yang menaati Allah dan Yang Mulia Muhammad Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, akan mencapai empat derajat kerohanian tersebut, yaitu: shaleh, syahid, shiddiq dan Nabi—sesuai dengan kadar ketaatan masing-masing. Hanya berkenaan dengan pangkat Kenabian, Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa berfirman:

…الله أعلم حيث يجعل رسالته… الأنعام : 125

“Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa Yang Lebih Mengetahui kepada siapa Dia menunjuk Utusan-Nya…” QS Al-An’am {6} : 125
Oleh karena itu, kata ma’a ( مع ) di dalam ayat tersebut di atas (Surah An-Nisa {4} : 70), harus diartikan “menjadi”. Jika diteliti kata ma’a ( مع ) dalam ayat tersebut dengan ayat berikut:

إن المنافقين فى الدرك الأسفل من النارج ولن تجدلهم نصيرا  إلا الذين تابوا وأصلحوا واعتصموا بالله وأخلصوا دينهم لله فأولـاـئك مع المؤمنين ط وسوف يؤت الله المؤمنين أجرا عظيما النساء : 146-147  وتوفّنا مع الأبرار… آل عمران : 194

“Sesungguhnya orang-orang munafik berada di bagian paling bawah dalam Api; dan engkau tidak akan mendapatkan penolong bagi mereka, kecuali orang-orang yang bertobat dan memperbaiki diri dan berpegang teguh kepada Allah, serta mereka ikhlas dalam ibadah mereka kepada Allah. Dan mereka ini termasuk golongan orang-orang mukmin. Dan, kelak Allah akan memberi kepada orang-orang mukmin ganjaran besar.” (QS An-Nisa : 146-147)

Maka, pengertiannya orang munafik pun bisa menjadi mukmin selagi mereka itu bertobat, memperbaiki diri dan berpegang teuh kepada Allah serta mereka ikhlas dalam beribadah kepada Allah, termasuk “golongan orang Muknin.

Penda’waan Hadrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam:

1- وان الله قدعلمنى ان عيسى ابن مريم قدمات _ والحق الاموات و ان الذى كان نازلامن السماء فهو هذ القاءم بينكم كما او حى الى من حضرة الكبرياء

“Dan sesungguhnya Allah telah mengajarkan kepada saya sesungguhnya Isa ibnu Maryam telah wafat. Dan sesungguhnya orang yang turun dari langit itu, maka dia inilah orangnya, yang berdiri di hadapan kamu sekalian, sebagaimana apa yang telah diwahyukan kepada saya dari Hadirat yang Maha Agung.” (Al-Khutbah Al-Ilhammiyah, hal. “ ا ”Alif ).

2- وعلمنى ربّى علوم كتابه واعطيت مما كان يخفى و يستروا سرار قرآن مجيد-

“Dan Tuhan saya telah mengajarkan kepada saya ilmu-ilmu Kitab-Nya, dan saya diberi rahasia-rahasia Quran Agung yang masih tersembunyi dan tertutup.” (Hamaamatul-Busyraa, hal. 359)

3- وان رسولنا خاتم النبين و عليه انقطعت سلسلة المرسلين فليس حق احد ان يدعى النبوة بعد رسولنا المصطفى على الطريقة المستقلة – ومابقى بعده الا كثرة المكالمة – وهو بشرط الاتباع لابغير متابعة خير البرية – و و الله ما حصل لى هذا المقام الا من انوار اتباعا لاشعة المصطفوية – وسميت نبيا من الله على طريقة المجاز لا على وجه الحقيقة-

“Dan sesungguhnya Rasul kita adalah Khatamun-Nabiyyin; dan atasnya silsilah Rasul-rasul itu telah terputus, maka tidak ada hak (kebenaran) bagi seseorang mendakwakan diri sebagai Nabi sesudah Rasul kita Al Musthafa shallallaahu ‘alaihi wasallam di atas jalan yang terpisah. Dan tidak ada yang tersisa sesudah beliau, kecuali wawancakap yang banyak. Dan hal itu terjadi dengan syarat mengikuti beliau, bukan tanpa mengikut kepada sebaik-baik manusia (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam). Dan demi Allah, kedudukan ini tidak akan sampai kepada saya, kecuali karena cahaya-cahaya mengikuti cahaya Matahari yang terpilih (Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam). Dan saya dinamakan Nabi dari Allah di atas jalan Majaz (metafora), bukan sebagai hal yang hakikat.” (Al-Istiftaa, hal. 71, 72).

Batu Ujian Kebenaran Kenabian Hazrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam
Batu ujian yang paling akurat dan meyakinkan adalah Al-Quran. Lihat surah Al Haqqah {69} : 45-47.

ولو تقوّل علينا بعض الاقاويل  لاخذنا منه با ليمين  ثمّ لقطعنا منه الو تين
الحـاقة : 45-47

“Dan sekiranya seseorang mengaku-ngaku atasnama Kami mendapatkan sebagian perkataan, niscaya Kami akan menangkap dia dengan kekuatan. Kemudian, tentulah kami memutuskan urat nadinya.”
Ayat-ayat di atas menjelaskan bahwa tak seorangpun yang akan selamat di dunia ini jika ia berani mengatakan telah menerima wahyu dari Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa padahal dia dusta.
Oleh karena itu, bukanlah wewenang manusia untuk menghukum seseorang yang mengaku menerima wahyu dari Allah Taala sebab jika dia berdusta dalam hal ini, maka Allah Taala sendiri yang akan menghukumnya di dunia ini juga.

Sumber;
Buku Klarifikasi Tazkirah PB JAI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: