Jamaluddin Feeli

Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam Mempunyai Paham Wihdatul Wujud?

In Ahmadiyah, Tabligh, Tafsir on 30 Oktober 2009 at 13:25

BERKENAAN dengan pemahaman wihdatul wujud, diperlukan penelaahan yang mendalam. Banyak wahyu Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa yang mutasyaabihaat. Untuk orang-orang yang memiliki pengetahuan serta pengalaman dalam dunia tasawuf, terutama para Ulama Salaf, maka ilham-ilham/wahyu-wahyu merupakan pengalaman biasa bagi mereka. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam banyak menerima wahyu, diantaranya seperti berikut:

أَنْتَ مِنيِّ ْ وَ أَنَا مِنْكَ – Artinya: Engkau dari-Ku dan Aku darimu
أَنْتَ بِمَنْزِلَةِ تَوْحِيْدِيْ وَتَفْرِيْدِيْ – Artinya : Engkau berkedudukan sebagai Tauhid-Ku dan Keesaan-Ku.

Ilham/wahyu seperti ini tidak akan menimbulkan keheranan bagi Ulama-ulama Salaf karena mereka mengalami dan memahaminya. Contoh wahyu seperti di atas dikarenakan diterima oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam, maka beliau jugalah yang lebih berhak dan lebih mengetahui maksud wahyu-wahyu tersebut; beliau ‘alaihissalaam menjelaskan bahwa maksud wahyu tersebut ialah Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa mengatakan, “Engkau begitu dekat dengan-Ku dan hal itu juga yang Aku inginkan dari engkau sebagaimana kepada Tauhid dan Keesaan. Maka, ketika Aku menginginkan Tauhid-Ku mendapatkan kemasyhuran, begitu juga Aku akan memasyhurkan namamu. Dan dimana saja, ada nama-Ku, di sana pun ada namamu.” (Arba’in Jilid II, halaman 35)

Selanjutnya beliau ‘alaihissalaam bersabda, “Arti wahyu tersebut, yang aku pahami ialah: ‘Bahwa orang seperti itu semisal dengan Tauhid, karena dia menyebarkan Tauhid. Ketika Tauhid sudah tercemar, maka di masa itulah datang seseorang yang menjadi penampakan Tauhid. Setiap orang dikenal dengan tujuan hidupnya (cita-citanya). Akan tetapi, orang ini, tujuan dan cita-citanya hanya Tauhid. Dia mendahulukan dan mengutamakan Tauhid Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa, dibandingkan dengan tujuan dan cita-cita pribadinya.” (Pidato yang dimuat pada Surat Kabar Al-Hakam tahun 1907, halaman 9)
Jadi, dua ilham/wahyu di atas, sangat jelas menunjukkan bahwa maksudnya, Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa mengatakan, “Aku akan memasyhurkan nama-mu dan dimana saja Tauhid-Ku dikenal, di sana juga nama-mu akan dikenal; karena, tujuan dan cita-cita-mu hanyalah, agar Tauhid tersebar ke seluruh dunia.”

Selanjutnya beliau ‘alaihissalaam bersabda, “Ingatlah Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa suci dari mempunyai anak. Dia tidak mempunyai sekutu dan tidak diperanakan dan tidak ada yang akan mendapatkan hak untuk mengatakan bahwa dirinya adalah Tuhan atau anak Tuhan. Bentuk ilham/wahyu yang memerlukan penjelasan seperti ini terdapat juga di dalam Al-Quranul-Karim, misalnya:

يد اللهِ فوق أيديهم…  الأنفال : 18

Jika ilham-ilham/wahyu-wahyu seperti itu direnungkan dengan bijak dan hati-hati, maka maksudnya akan dapat dipahami; bahwa ayat-ayat itu tidak dapat diartikan secara zahiriah tapi harus dipahami sebagai kiasan. Demikian jugalah pengertian sebagian ilham/wahyu yang diterima Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam.

Selanjutnya beliau bersabda, “Wahai orang-orang yang mendengar, dengarlah! Tuhan menghendaki apakah gerangan dari kalian? Hanya ini, yaitu jadikanlah kalian kepunyaan-Nya. Janganlah kalian mempersekutukan Dia dengan siapapun jua, tidak di langit, tidak di bumi. Tuhan kita adalah Tuhan yang sekarang pun masih hidup seperti dahulu Dia hidup. Sekarang pun masih berkata-kata, seperti dahulu selalu berkata-kata. Sekarangpun masih mendengar, seperti dahulu Dia selalu mendengar. Kelirulah pendapat orang yang mengatakan bahwa di zaman ini, Dia hanya dapat mendengar, tetapi tidak bisa berkata-kata; bahkan ingatlah Dia tetap mendengar dan tetap pula berkata-kata. Tiada satu pun sifat Allah yang berhenti atau tidak bekerja lagi, baik sekarang maupun di masa masa depan. Dia Esa, Tunggal tidak ada sekutu-Nya. Dia tidak beranak dan tidak pula beristeri. Dia tidak bermisal, yaitu tidak ada tandingan-Nya. Tiada suatu pun yang bersifat istimewa seperti Dia. Tidak ada menyamai-Nya. Dan tidak ada yang bersifat seperti sifat-Nya…” (Al-Washiyyat, halaman 11-12; Ruuhaanii Khazaa’in, Jilid XX, halaman 309-310, Additional Nazir Isyaat London, 1984)

Wujudi dan Syuhudi

Berkenaan dengan pemahaman Wihdatil-wujud, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ‘alaihissalaam bersabda sebagai berikut:
“Pada dasarnya, paham ini ada dua, wujudi dan syuhudi. Wujudi mempunyai mempunyai pemahaman bahwa kecuali manusia, Tuhan itu tidak bermakna apa-apa; atau sebaliknya, kecuali Tuhan selebihnya tidak bermakna apa-apa. Pendapat itu seperti pemahaman para filosof. Tetapi halnya dengan syuhudi, mereka ini benar. Dari cinta dan penampakkan sifat Ilahi, mereka dapat mengetahui bahwa Tuhan itu ada. Di hadapan zat dan wujud-Nya, mereka menganggap diri mereka tidak bermakna sama sekali. Hal itu telah menggenapi makna mantoo syadam too man syadii (bahasa Farsi), yakni: Pada hakikatnya sikap menafikan (menganggap diri tiada berarti) merupakan buah dari kecintaan. Hal itu tidak dapat disangkal bahkan Al-Quranul-Karim sendiri membenarkannya. Inilah yang disebut fanaafillaah.
Tetapi paham wujudi, tidaklah demikian. Keadaan mereka seperti para dokter yang setelah mendiagnosa suatu wujud, barulah mereka menyaksikan Tuhan. Sampai-sampai, ada dari mereka yang menganggap diri mereka sendiri sebagai Tuhan. Yang demikian itu jelas menrupakan kesalahan nyata dan suatu hal yang tidak mempunyai hakikat.

Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa telah jelas berfirman:

لا تدركه الأبصار… الأنعام : 104

Golongan wujudi itu mengatakan Laa ilaaha illallaah dan bahwa merekalah penjunjung Tauhid sejati, dan selebihnya adalah musyrik. Akibatnya, di kalangan masyarakat, muncul sikap menghalalkan segala larangan dan hal ini menjadi berkembang kemana-mana. Kejahatan dan kebejatan menjadi meningkat. Sebab, semua hal itu tidak mereka anggap haram. Mereka menganggap shalat, puasa dan hal-hal lainnya sebagai suatu yang tidak penting. Hal ini menimbulkan suatu bencana yang sangat besar atas Islam. Menurut saya, perbedaan antara orang-orang wujudi dengan orang-orang atheis hanya beda antara angka 19 dan 20.

Golongan wujudi memang patut dibenci dan dicela. Sangat disayangkan, sekian banyak tokoh suci yang hidup mengasingkan-diri, mungkin tidak satu pun di antara mereka yang tidak menganut paham tersebut. Yang paling disayangkan adalah firkah yang menisbahkan diri merekake Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullaahu—yang disebut qadiri. Mereka pun sudah menjadi wujudi. Padahal, Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullaahu bukanlah seorang wujudi. Amal perbuatan dan tulisan-tulisan beliau rahimahullaahu justeru merupakan bukti nyata dari ihdinash-shiraathal-mustaqiim. Para ulama memahami bahwa ihdinash-shiraathal-mustaqiim ini, hanya untuk dibaca saja. Sedangkan dampak-dampak dan buahnya tidak ada. Namun, beliau (Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani) rahimahullaahu secara amalan memperlihatkan bahwa contoh-contoh orang yang memperoleh nikmat/anugerah tersebut, memang terdapat di dalam umat ini.

Ringkasnya,, dengan karunia Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa, walaupun orang-orang seperti ini jumlahnya sedikit (orang-orang) suci, tetapi sudah pasti bahwa mereka menjalin kecintaan yang sempurna terhadap Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa, dan sambil hidup di dunia ini, mereka menerapkan inqitaa’ (pemutusan hubungan dengan dunia) dan melakukan persiapan perjalanan akhirat. Hal ini tampil di dalam diri orang-orang seperti Sayyid Abdul Qadir Al-Jailani rahimahullaahu. Namun, sekarang berbeda dari itu, justeru orang yang banyak adalah orang-orang wujudi. Dan karena itulah, keburukan dan kejahatan menjadi berkembang.

Saripati ajaran Quran Syarif (Al-Quranul-Karim) adalah, manusia sedemikian rupa tenggelam ke dalam kecintaan terhadap Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa sehingga selain Allah, segala sesuatunya itu menjadi halus terbakar. Dan, inilah resep yang menganugerahkan indera serta bashirat (penglihatan) sedemikian rupa kepada manusia di dunia ini juga sehingga melalui itu, manusia meraih berkat-berkat alam akhirat di alam dunia ini juga. Dan dengan makrifat serta bashirat itulah, manusia pergi meninggalkan dunia ini.

Demikian pula orang-orang yang bukan dari kelompok tersebut, tentang mereka dikatakan, “Wa man kaana fii haadzihii a’maa fahuwa fil-aakhirati a’maa—(dan barangsiapa di dunia buta, maka di akhirat dia lebih buta).” (QS Al-Isra’ {17} : 73)
Dan begitupula orang-orang (suci) tadi, tentang mereka dikatakan: Waliman khaafa maqaama rabbihii jannataan—(dan bagi orang yang takut maqam Tuhan-nya, ada dua surga).” (QS Ar-Rahman {55} : 47)
Yakni, orang-orang yang takut yang berdiri di hadapan Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa, bagi mereka tersedia dua surga. Menurut saya, hakikatnya satu surga akan diperoleh setelah mati dan satu surga lagi, yang akan dianugerahkan di dunia ini juga. Dan surga di dunia inilah, yang merupakan bukti tentang adanya surga di akhirat nanti. Orang-orang mukmin seperti itu terbebas dari banyak sekali neraka di dunia ini. Berbagai macam akhlak juga merupakan neraka. Benda-benda yang dengannya, manusia menjalin hubungan mendalam, juga merupakan sejenis neraka. Sebab, dengan meninggalkan benda-benda itu, manusia mengalami penderitaan berat. Misalnya, kecintaan terhadap harta. Dan jika pencuri merampasnya, maka manusia menderita sekali. Sampai kadang-kadang orang seperti itu bisa mati karenanya; atau tidak bisa berbicara lagi. Seperti itu pula yang mencintai benda-benda tidak abadi lainnya. Jika benda-benda itu hilang atau mati, maka manusia merasa pedih dan sedih sekali.” (Malfuzhaat, Jiid VIII, hal. 52-54, Additional Nazir Isyaat London, 1984)
“Ringkasnya, golongan wujudi ini sangat kotor. Dan orang-orang yang menganut paham wihdatul wujud, mereka itu sangat lancang dan takabur. Mereka tidak meninggalkan kesalahankesalahan mereka; dan memeang bagaimana mungkin mereka meninggalkan kesalahan-kesalahan mereka sebab—ma’aadzallaah—mereka telah menganggap diri mereka sendiri tuhan. Jika dipaparkan perbedaan antara Tuhan dengan makhluk, tentu mereka akan mengetahui hakikat kesalahan-kesalahan mereka. Mereka puas terhadap pemikiran mereka yang kekanak-kanakan itu. Oleh karena itu, mereka tidak dapat mengetahui hakikat Quran Syarif (Al-Quranul-Karim). Ini dalah adalah suatu kerusakan besar. Saya tidak dapat mengerti sejak kapana kerusakan ini timbul… Sebenarnya perbedaan paham fanaa nadziiri dan fanaa wujudi, golongan pertama itu tidak menganut falsafah melainkan menganut kecintaan yang mendalam. Sedangkan golongan yang kedua, mereka menjadi filosof. Ini adalah musuh dan pengingkar Tuhan. Sebab, sebagaimana seorang filosof dapat menyayat orang mati tai tidak mutlak ia pun memakan bangkai itu, demikian pul agolongan wihdatul wujud ini duduk menjadi tuhan tetapi tidak mutlak bahwa mereka pun mencintai Tuhan… Para tokoh (Sufi) besar yang telah melangkahkan kaki ke depan, mereka telah menjadi orang-orang yang telah diterima di sisi Allah. Sebabnya adalah, kecintaan akan Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa menguasai diri mereka. Mereka beriman kepada Quran Syarif (Al-Quranul-Karim). Dan mereka berenang di lautan kecintaan terhadap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Agama mereka adalah Islam. Oleh karena itu, dengan karunia Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa, mereka menampakkan keajaiban demikian. …Hakikatnya adalah, tatkala seorang hamba menjalin suatu hubungan kecintaan yang mendalam dengan khaliq-Nya, maka saat itu Allah Subhaanahuu wa Ta’aalaa menganugerahkan keppadanya suatu kelezatan dari antara sifat-sifat-Nya. Sebab, Allah telah menjadikan manusia sebagai khalifah-Nya.
Ringkasnya, ini adalah kesalahan orang-orang yang telah menjadi tuhan itu. Dan mereka telah menimbulkan kerugian besar terhadap Islam. Para penentang Islam mengutip kata-kata mereka lalu melontarkan kritikan-kritikan terhadap Islam. (Malfuzhat, Jilid II, halaman 352-353)

Sumber :
Buku Klarifikasi Tazkirah PB JAI

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: