Jamaluddin Feeli

Khutbah Khalifah Ahmadiyah : Jum’atul Wida dan Tatakrama Mesjid

In Ahmadiyah, Khutbah Khalifah Ahmadiyah, Shalat, Tarbiyat on 31 Oktober 2009 at 04:12

ِمْKHUTBAH JUM’AH
HADHRAT KHALIFATUL MASIH V ATBA.

Tanggal 21 November 2003 di mesjid Fadhal – London.
Tentang : JUM’ATUL WIDA & TATAKRAMA MESJID

Setelah membaca tasyahud, ta’awwudz dan surah Al Fatihah selanjutnya Hudhur Atba
menilawayatkan ayat berikut :
َ
Yang artinya:
“(Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian dipanggil untuk menunaikan shalat pada hari Jum’ah maka bergegaslah untuk mengingat Allah. Dan tinggalkanlah segala urusan jual beli. Hal demikian adalah terbaik bagi kalian sekiranya kalian mengetahui. Dan, apabila shalat telah usai maka bertebaranlah kalian di bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah sebanyakbanyaknya kepada Allah supaya kalian mendapatkan kebahagiaan/kesuksesan (Al-Jumu’ah 10-11).

Hari ini merupakan Jum’ah terakhir bulan Ramadhan, yang mana sudah berjalan sebuah istilah menyebutnya “Jumatulwida.” Di kalangan luar, memang telah diciptakan dalam agama sedemikian rupa kerusakan, sehingga apa yang mereka inginkan mereka dapat namakan, apa yang mereka inginkan mereka amalkan, seberapa yang hati mereka inginkan mereka dapat lakukan, komentarnya terserah apa yang mereka inginkan dan ini merupakan urusan mereka. Bahkan, menurut mereka, jika pada hari Juma’atulwida’ melakukan shalat empat rakaat maka qadhoe umri akan terpenuhi, yakni shalat-shalat yang tertinggal menjadi terbayar sebagai ganti tiga dan empat rakaat yang mereka lakukan. Dan kini/seterusnya tidak perlu lagi melakukan shalat. Shalat-shalat yang dahulu tidak dikerjakan telah cukup.

Mengqadha Shalat

Kemudian pemikiran ini berkembang bahwa apabila Juma’atul-widha’ tiba, maka kita akan shalat empat rakaat lalu akan libur setahun penuh.Maka kalau sudah demikian siapa yang akan enggan pergi ke mesjid melakukan shalat lima waktu (apabila jum’atulwidaa’ tiba – yang sesuai pandangan mereka ?). Atas gerakangerakan/sikap mereka seperti itu ,jelas kita tidak merasa heran sedemikian rupa, karena mereka pasti akan melakukan demikian; sebab dari orang-orang yang ingkar kepada Al-Masih Muhammadi tidak dapat diharapkan sesuatu yang lebih dari itu.

Akan tetapi keheranan itu pasti timbul apabila kondisi itu terjadi pada mereka yang mengimani Imam Zaman dan mendakwakan diri bergabung dalam baiatnya lalu tidak menjaga agama mereka. Pada kondisi umum/hari-hari biasa tidak begitu teratur datang ke mesjid, yang dengan teratur sejumlah orang lakukan, dan sejumlah orang inipun menjadi kian banyak yang dengan begitu teratur datang pada Jum’ah terakhir Ramadhan ini. Padahal, perintah ialah untuk shalat lima waktupun harus datang ke mesjid. Maka, kita yang mendakwakan diri berbaiat di tangan Hadhrat Masih Mau’ud a.s., bukanlah merupakan pekerjaan kita bahwa karena meniru orang-orang lain, kitapun menjadi sedemikian tekun/hanyut dalam pekerjaan-pekerjaan dunia sehingga jangankan melaksanakan shalat-shalat (lima waktu) pelaksanaan shalat Jum’ah pun tidak dapat dilakukan dengan teratur. Dan perkiraan akan perkara itu dapat dilihat bahwa di antara kita sejumlah orang-orang Ahmadi pun secara tidak sadar mulai terus mengekor meyakini akan pentingnnya Jum’atulwida. Itu dapat dihitung dari jumlah yang hadir di mesjidmesjid. Jika hari ini, dari antara kita yang pada umumnya datang ke mesjid tidak teratur (belang-belang), tidak menganggap begitu penting hari Jum’ah (lalu hari ini) mereka datang ke mesjid karena Ramadhan telah menciptakan perubahan dalam diri mereka, timbul kesenangan dalam melaksanakan perintah-perintah Allah dan ibadat kepada-Nya dan mereka berjanji bahwa “untuk yang akan datang kami akan menjaga Jum’ah-Jum’ah kami, dan untuk yang akan datang kami akan menjalankan shalat Jum’ah dengan disiplin, sebab, terdapat perintah Allah yaitu: ”Hai orangorang yang beriman! apabila pada suatu bagian hari Jum’ah kalian diseru pada shalat, maka bergegaslah berzikir pada Allah dan tinggalkanlah perniagaan. Ini adalah merupakan hal terbaik bagi kalian jika kalian mengetahui. Dan apabila shalat telah dilaksanakan maka bertebaranlah di bumi dan carilah dari antara karunia Tuhan dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kalian menjadi orang yang berjaya.”

Sebagai Kaffarah (Tebusan)

Inilah terjemah ayat-ayat yang saya bacakan tadi. Jika memang seperti ini situasinya, maka orang seperti itu layak untuk mendapat ucapan selamat, bahwa Allah telah menganugerahkan taufik kepadanya untuk menciptakan perubahan di dalam dirinya. Semoga Allah menganugerahkan keteguhan padanya bahwa untuk yang akan datangpun seperti itu mereka akan menyambut perintahperintah Allah, mengamalkannya dan dengan penuh semangat seperti itu semoga mereka termasuk orang-orang yang mengambil bagian dalam semua perintahperintah itu dan kitapun menjadi orangorang yang mengamalkan hadits-hadits itu.

Tertera dalam sebuah hadits yang bersumber dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Untuk orang yang menghindar dari dosa-dosa besar adalah [menunaikan] lima shalat, [menunaikan Jum’ah] dari satu Jum’ah sampai ke Jum’ah berikutnya dan dari satu Ramadhan sampai ke Ramadhan berikutnya adalah merupakan kaffarah/tebusan”. (Shahih Muslim kitabul- thaharah.)

Sesuai dengan hadits ini Allah mengingatkan kepada kita terkait dengan penganugerahan taufik. Dan dalam bulan Ramadhan ini perubahan suci yang telah Dia ciptakan dalam diri kita, atas hal itu maka kita sambil memohon karunia-Nya kitapun seyogianya berupaya untuk bekerja. Semoga Allah menegakkan kita pada hal itu dan mesjid-mesjid kita memberikan kesaksian akan hal itu bahwa orang-orang Ahmadi juga memberikan perhatian ke arah datang [untuk beribadah] ke mesjid-mesjid pada waktu shalat lima waktu, dan sebagaimana mereka telah meramaikan mesjid-mesjid jangan dengan berlalunya Ramadhan mulai nampak mesjid-mesjid itu menjadi kosong, bahkan kinipun seperti itulah ramainya sebagaimana itu ramai dalam bulan Rmadhan.

Kemudian sesudah Ramadhan setiap Jum’ah yang akan datang memberikan kesaksian bahwa setelah mengimani Imam Zaman, perubahan suci yang telah kita ciptakan dalam diri kita, dan di dalam Ramadhan kita tambah lebih menjadikannya lebih cemerlang, kini penzahiran keelokan/keindahan itu sedang nampak pada setiap Jum’ah. Ini (orang Ahmadi) bukanlah orang-orang yang hanya datang untuk shalat qadhae umri (shalat empat rakaat sebagai tebusan shalat yang tertinggal di masa yang lalu) mereka nampak ke mesjid. Bahkan mereka adalah orang-orang yang telah menciptakan perubahan-perubahan suci di dalam diri mereka. Ini adalah orang-orang yang ketakwaannya telah begitu tinggi sehingga setiap langkahnya lebih maju dari sebelumnya.

Kini mereka bukanlah orangorang tak peduli bahwa, “Tak apalah, karena Ramadhan telah usai, kini apabila datang Ramadhan yang akan datang maka nanti kita akan lihat belakangan, kita akan melaksanakan (shalat) Juma’atulwidha”. Bahkan mereka ini merupakan orang-orang yang telah menciptakan perubahan sedemikian rupa, sehingga senantiasa berada dalam posisi penantian bahwa untuk menghindarkan diri dari dosa-dosa besar sesuai dengan sabda Rasulullah saw.. yang baru ini saya bacakan, bahwa “Setelah Jum’ah ini Jum’ah yang akan datangpun kita harus laksanakan, itupun juga perlu. Ya, kami akan senantiasa menantikan Ramadhan, namun bukanlah dengan tujuan akan mendapatkan bahwa kami akan mendapat peluang untuk melaksanakan qadhae umri, (penebusan meninggalkan shalat dengan empat rakaat shalat), bahkan karena di dalamnya dibukakan pintu rahmat Allah dan syaithan diikat/dibelenggu. Akan tersedia peluang yang lebih banyak lagi untuk meraih kedekatan dengan Tuhan”.

Sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. :
”Melarang Orang Yang Shalat”
Bahasan terkait dengan qadhai umri tengah berlalu. Di dalam hal ini tertera sebuah sabda dari Hadhrat Masih Mau’ud juga itu saya akan bacakan: “Ada sebuah soal, bahwa di saat Juma’atulwidha orang-orang melaksanakan shalat empat rakaat dan mereka menamakannya qadhae umri dan maksudnya adalah shalat-shalat yang tidak dapat dikerjakan di masa yang lalu itu dapat disempurnakan, apakah itu ada buktinya atau tidak?”

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Ini merupakan hal yang sia-sia, namun ada seorang yang tengah shalat pada saat yang bukan pada waktunya lalu seorang berkata kepada Hadhrat Ali bahwa: “Tuan ini adalah khalifah, kenapa Tuan tidak melarangnya?” Beliau bersabda bahwa “Jangan sampai saya termasuk dalam katagori ayat yang berbunyi: يِذــ.لا َتــ ْيَأَرَأ ىـ َهْنَي () ى.لـَص اَذِإ اًدـْبَع (bagaimana pendapatmu mengenai orang yang melarang seorang hamba tatkala dia melakukan shalat? – Al- ‘Alaq).

Nah, jika ada orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja bahwa, “Saya akan melaksanakan shalat qadhae umri”, maka dia telah melakukan hal yang tidak benar, dan jika dia karena rasa menyesal lalu dia melakukan shalat untuk menjauhkan apa yang telah hilang maka biarkanlah dia melaksanakan itu kenapa kalian melarangnnya? Akhirnya kan dia itu berdoa juga.Ya, di dalam dirinya pasti terdapat tekad yang lemah. Waspadalah, jangan sampai dengan melarangnya maka kalianpun termasuk dalam apa yang disebutkan ayat itu”. Al-Hakam 24 April ; 1901 hal. 65. Fatwa-fatwa Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Beliau bersabda: “Barangsiapa yang dengan sengaja sepanjang tahun meningggalkan shalat dengan niat bahwa dia akan melaksanakannya pada hari qadhae umri maka dia berdosa, tetapi barangsiapa karena malu/menyesal dia bertaubah dan dengan niat bahwa untuk yang akan datang saya/dia tidak akan meninggalkan shalat maka untuknya tidak apa-apa/boleh. Kami dalam perkara itu hanya akan memberikan jawaban seperti jawaban Hadhrat Ali r.a. “Al-Badar jilid 2 no. 15 tanggal 1 Mei 1903 hal. 114.

Maka Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Niat orang yang shalat seperti itu kita tidak mengatahui bahwa dengan niat apa dia melakukan itu. Jika niatnya adalah ingin menciptakan perubahan suci di dalam dirinya dan sambil bertaubah dia melakukan itu bahwa “Untuk yang akan datang saya tidak akan meninggalkan shalat dan saya akan melakukan itu dengan kesungguhan sepenuhnya dan shalat Jum’ah juga saya tidak akan tinggalkan”, maka biarkanlah dia melakukan itu, tidak apa-apa. Dan jika niatnya melaksanakan untuk qadhai umri/sekedar penebusan bahwa “Kali ini kita lakukan baru untuk yang akan datang kita akan lihat bagaimana nanti”, maka ini jelas adalah salah dan dia adalah orang yang berdosa.”

Berkenaan dengan wajibnya Jum’ah sejumlah hadits akan saya sajikan, yang di dalamnya tertera berkenaan dengan tentang wajibnya shalat Jum’ah bahwa betapa pentingnya Jum’ah itu, tetapi tidak tertera seberapa pentingnya Juma’atulwidha itu.

Keutamaan-keutamaan hari Jum’at

Hadhrat Abu Hurairah r.a. meriwayatkan Rasulullah saw. bersabda: “Dari antara hari-hari yang terbaik dimana matahari terbit adalah hari Jum’ah. Pada hari itu Adam diciptakan dan pada hari itulah dia dimasukkan ke dalam surga dan pada hari itulah Adam turun [dari surga] dan di dalamnya terdapat saat dimana apapun yang seorang muslim minta/panjatkan kepada Allah maka Allah akan memberikannya”. Jami’ Tirmidzi kitabul-jumu’ah fissa’ati allati turja fiyaumil jumu’ati.

Nah, perhatikanlah betapa banyak berkat-berkat Jum’ah. Satu, itu dinyatakan sebagai hari yang terbaik. Kini, dari hari terbaik pada pandangan Allah dan Rasul-Nya siapa yang tidak ingin mengambil faedah dan mengambil berkah-berkahnya. Di sini jelas, sama sekali tidak terbukti bahwa hanya Jum’atulwidaa merupakan hari yang terbaik. Dengan mendapatkan hari itu kita harus lebih banyak seyogianya beribadah, seyogianya takut kepada Allah, sebab setelah mengirim Adam ke bawah Dia memberitahukan bahwa “Kini pekerjaan kalian adalah beribadah kepada Allah dan menghindar dari seranganserangan syaitan. Dari antara kalian barangsiapa yang takut kepada Aku dan menjadi orang-orang yang beribadat kepada-Ku maka mereka akan disebut hamba-hamba Allah yang Rahmaan. Dan sebaliknya orang-orang yang berjalan bertentangan dengan ajaran-Ku mereka akan menjadi hamba-hamba syaitan.”

Jadi Allah telah memberitahukan bahwa “Orang yang berjalan mengikuti syaitan maka neraka akan saya penuhi dengan mereka”. Tetapi rahmat Allah setiap saat senantiasa bergejolak untuk makhluknya. Meskipun Dia berfirman ini, tetapi Dia senantiasa mengajarkan kepada kita metode pengampunan (dosa-dosa) kita. Oleh karena itulah berfirman bahwa “Barangsiapa yang mengamalkan perintahh-perintah-Ku dan beriman pada Khaatamul-Anbiya maka khabar suka/salam sejahtera bagi kalian, bahwa untuk kalian Aku telah menetapkan suatu hari sedemikian rupa dan pada hari itu ada suatu saat dimana di dalamnya apa saja yang kalian minta kepada-Ku maka Aku akan kabulkan”. Maka bagi orang-orang Ahmadi ini merupakan kedudukan yang tambah lebih menyenangkan bahwa mereka sesuai dengan nubuatan Rasulullah saw.. mereka telah mengenal Imam Zaman, mereka tentu harus lebih menaruh perhatian ke arah ini. Dan bersama doa-doa mereka inipun mereka seyogianya terus panjatkan doa supaya Allah setiap saat terus memperdalam (meningkatkan) ketakwaannya, dan dengan perantaraan pengabulan doa yang sebelumnya dalam khutbah telah saya katakan bahwa kini selain Rasulullah saw.. tidak ada lagi [washilah/perantara]. Oleh karena itu upayakanlah perantara (washilah) itu maka doa akan mencapai titik pengabulannya/doa akan diterima. Oleh karena itu pada hari Jum’ah seyogianya mengirim selawat kepada Rasulullah saw. lebih dari hari-hari umum.

Perbanyak Membaca Shalawat

Di dalam hadits Rasululah saw. bersabda: “Dari antara hari-harimu (satu) adalah hari Jum’ah. Pada hari itulah Adam diciptakan, pada hari itulah dia diwafatkan, dan pada hari itulah akan terjadi peniupan sangkakala dan pada hari itulah akan terjadi pingsan. Maka perbanyaklah olehmu pada hari itu mengirim selawat kepadaku”. دـمحم لا ىـلع و دمحم ىلع لص مهللا كراـبو دـيجم دبمح كنا ملسو- (Allaahumma shalli ‘alaa muhammadin wa aali muhammad wa baarik wa sallim innaka hamiydun majiid) Dan selawat kalian akan disampaikan kepada saya.” Perawi berkata: Maka sahabah bertanya, “Ya Rasulullah, apabila wujud Tuan telah lapuk maka pada waktu itu selawat kami bagaimana akan disampaikan? Beliau bersabda bahwa “Allah telah mengharamkan wujud pada nabi dimakan tanah”. Sunan Abu Daud abwaabul-Jum’ah.

Kemudian terkait dengan pentingnya hari Jum’ah tertera sebuah hadits dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah sw bersabda: “Apabila tiba hari Jum’ah maka di pintu setiap mesjid terdapat malaikat-malaikat. Dia menulis nama-nama orang-orang yang pertamatama datang di mesjid dan seperti itulah dia terus menyiapkan daftar orang-orang permulaan datang sehingga imam duduk setelah menyampaikan khutbah, maka dia menutup buku catatannya”. Shahih Muslim kitabul jumu’aah.

Kemudian tertera sebuah hadits yang bersumber dari Al-Qamah bahwa Hadhrat Abdullah bin Mas’ud bersabda: Saya telah mendengar Rasulullah saw. Bersabda : ”Pada hari Qiamat orang-orang akan duduk di hadapan Tuhan sesuai dengan hisab datangnya pada hari Jum’ah, yakni pertama, kedua dan ketiga”, kemudian beliau bersabda, “Yang keempat dan yang keempat pun dari segi duduknya di hadapan Tuhan/singgasana Ilahi tidaklah jauh.” Ibnu Majah kitab iqamatishalat bab maajaa- a- fi tajhiizi ilal Jum’ah.

Bersumber dari Hadhrat Ibni Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Hari ini (Jum’ah) adalah Hari Raya yang Allah telah ciptakan untuk orang-orang Islam. Jadi, barangsiapa yang datang untuk menunaikan shalat Jum’ah maka sayogianya [sebelumnya] dia mandi, dan barangsiapa yang memiliki minyak wangi/parfum maka gunakanlah wewangian itu dan haruskanlah diri kalian untuk bermiswak.” Sunan Ibnu Majah kitab iqamatishalat wa sunnah fiha bab maa fi zzinati yaumal jumu’aah.

Nah, cermatilah dari semua haditshadits itu, di manapun tidak terdapat kesan bahwa jika ingin meraih sarana pengampunan maka lakukanlah Jumu’aatulwida. Bahkan setiap Jum’ah itu adalah penting, lazim dan wajib. Dan dalam pandangan orang-orang bahwa lakukanlah shalat yang sehari maka sudah cukup. Sejumlah orang dua langkah lebih maju dari orang-orang yang melaksanakan Jum’aatulwida. Mereka pada Jumaatulwida pun tidak datang, mereka hanya datang pada hari hari Raya.

Semoga Allah mengasihi mereka, maka untuk mereka hadits yang saya telah bacakan di dalam itu Dia memberitahukan bahwa: “Hari Jum’ah pun merupakan hari Raya. apabila hari-hari raya ini akan menyatu, maka akan mendapatkan taufik pula untuk meraih keberkatan-keberkatan bulan Ramadhan. Dan kemudian dari hari raya yang datang setelah Ramadhan pun kalian akan mendapatkan karunia dan kalian akan menciptakan sarana untuk terhindar dari dosa-dosa”.

Duduk Dekat Imam

Kemudian berkenaan dengan yang mula pertama datang pada hari Jum’ah dan berkenaan dengan duduk di dekat imam tertera sebuah hadits. Hadhrat Samurah r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Senantiasa datanglah untuk menunaikan shalat Jum’ah dan selalulah duduk dekat dengan imam, dan seorang yang terus menerus senantiasa tertinggal di belakang maka dia tertinggal dari surga, padahal dia adalah dari antara orang-orang ahli surga”. Musnad Ahmad bin Hanbal jilid 5 hal. 10 .

Maksud dari tertinggal di belakang adalah bahwa “jika kalian meninggalkan Jum’ah maka kalian akan terus meninggalkan Jum’ah”. Di dalam itu pun hal sebenarnya ialah yang memiliki keinginan keras/rasa gelisah untuk datang ke mesjid, terdapat keinginan yang kuat untuk mendengarkan wejangan iman dan terdapat pula keinginan untuk mengamalkannya. Hal yang sebenarnya adalah bahwa apa niatnya? Sejumlah orang pergi [dari mesjid] sesudah melewatkan beberapa waktu (beberapa menit) di mesjid-mesjid, yakni, “Kita akan pergi sebentar, kita akan pergi dengan tenang karena Imam Sahib menyampaikan khutbahnya sangat panjang. Cukup lama harus duduk di sana, harus lama menunggu, siapa yang tahan duduk sebegitu lama? Apabila tersisa lima-tujuh menit kita akan pergi (datang ke mesjid), kita akan mendengarkan khutbah duaempat menit lalu kita akan shalat dan kembali ke rumah”.

Nah, pemikiran ini merupakan pemikiran yang sangat berbahaya. Sebab, perbedaan ganjaran orang-orang yang lebih dahulu pergi ke mesjid dan terakhir datang ke mesjid perbedaannya adalah sama antara unta dan telur ayam atau di sejumlah tempat perbedaannya disebutkan sama dengan sebiji beras/nasi. Namun demikian [hendaklah diperhatikan oleh imam] bahwa siapapun yang menjadi imam [shalat] maka mereka pun sesuai kondisi, sesuai musim, sesuai waktu orang-orang, seyogianya memikirkan waktu khutbah.

Kini terkait dengan kepentingan Jum’ah dan tarbiyatnya, saya ingin menambahkan beberapa hadits-hadits. Tanpa udzur jangan hendaknya Jum’ah ditinggalkan. Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang dengan sengaja meninggalkan Jum’ah selama tiga kali berturut-turut maka Allah akan mencap hatinya.” Tirmidzi Kitabul-Jum’ah bab ma jaa a fii tarkil Jum’ah min gairi udzrin.

Dan kemudian lama kelamaan sama sekali dia menjadi terus tertinggal di belakang. Disini terdapat peringatan yang sangat keras sekali. Kemudian tertera sebuah riwayat yang bersumber dari Tariq bin Syahab bahwa Nabi saw. bersabda: “Sedemikian rupa mutlak harusnya bagi setiap orang muslim melaksanakan shalat Jum’ah dengan berjama’ah yang merupakan sebuah kewajiban kecuali 4 orang. Yakni, sahaya, wanita anak-anak dan orang yang sakit” Abu Daud Kitabushashalat babul jumu’ai lilmuluk.

Tatakrama Mesjid & Anak Kecil

Sejumlah orang menyangka bahwa apabila imam tengah menyampaikan khutbah maka tidak apa-apa berbicara. Sejumlah orang pada saat khutbah dengan suara melarang anak-anak mereka untuk berbicara, khususnya di kalangan perempuan atau ibu-ibu. Maka mereka seyogianya ingat bahwa pertama anakanak yang memang masih kecil susah diatur jangan dibawa ke mesjid, dan dalam kondisi seperti itu tidak perlu pula bahwa untuk perempuan seperti itu harus pergi ke mesjid.

Nah, hadits yang saya baca ini di dalamnya bagi anak anak seperti itu terdapat kelonggaran. Kepada anak-anak yang lain seyogianya mereka dibawa setelah memberikan pengertian kepada mereka bahwa mesjid itu ada tatakramanya. Jangan bicara, jangan ribut/teriak dll. Dan jika secara permanent/terus menerus dimasukkan dalam benak anak-anak (terus diberikan pengertian) maka lambat laun anak-anak akan mengerti. Jika tidak diberikan pengertian maka saya melihat bahwa anak berumur 8 dan 10 tahun pun mereka diantara mereka akan berbicara satu dengan yang lain saat khutbah disampaikan, satu dengan yang lain akan saling menggangggu, dan berbuat nakal. Nah anak-anak seperti itu seyogianya dengan teratur mereka diingatkan . Jika ingin menyuruh mendiamkan anak-anak yang duduk dan orang-orang lain maka seyogianya dilakukan dengan isyarah, yakni tegurlah mereka dengan isyarah.

Tertera dalam sebuah hadits bahwa bersumber dari Hadhrat abu Hurairah r.a.: {Rasulullah saw. bersabda], “Tatkala imam tengah menyampaikan khutbah pada hari Jum’ah maka jika kalian menyampaikan sesuatu kepada teman terdekatmu, “Diamlah” maka perkataan kalian inipun merupakan perbuatan yang sia-sia” Muslim Kitabul Jum’ah.

Keistimewaan Hari Jum’at & Hubungannya dengan Masih Mau’ud a.s.
Ayat yang ditilawatkan tadi dalam menafsirkannya Hadhrat Mushlih Mau’ud r.a. bersabda: “Di dalam Islam untuk hari Jum’ah telah ditetapkan keistimewaankeistimewaan ini bahwa pada hari itu ditetapkan hari libur, lebih banyak dilakukan ibadah, dijadikan sebagai hari pertemuan umum, dilakukan mandi, dilakukan kebersihan, dilakukan pekerjaan menjenguk orang yang sakit, demikian pula dilakukan tugas-tugas ummat, dilakukan perbaikan sosial kemasyaratan. Ya setelah melaksanakan shalat Jum’ah orang-orang diizinkan untuk melaksanakan kesibukan-kesibukannya, tetapi inilah yang dinyatakan lebih tepat bahwa sesudahnya pun orang-orang sibuk dalam zikir Ilahi.”

Pada suatu saat pada Jum’ah akhir Ramadhan Hadhrat Khalifatul Masih Awal r.a. menyampaikan khutbah dimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s pun hadir di dalamnya. Dalam khutbah itu yang beliau sampaikan adalah: “Imam kita [saw.] senantiasa bersabda bahwa sangat malang sekali orang yang mendapatkan Ramadhan namun tidak mendapatkan ada perubahan di dalam dirinya. Lima, tujuh puasa lagi yang tersisa (itu pun merupakan Jum’ah terakhir juga dan kinipun tiga empat hari lagi yang tersisa). Di dalam hari-hari ini perbanyaklah upaya-upaya, perbanyaklah memohon doa-doa, perbanyaklah mendekatkan diri kepada Allah, bacalah istighfar dan laa haula walaa sebanyakbayaknya, dengarlah Alquran dan fahamilah, dan seberapa bisa perbanyaklah sedekah dan derma, dan gerakkanlah terus menerus anak-anak kalian untuk melakukan itu, semoga Allah menganugerahkan taufik kepada saya dan juga kepada kalian. (Amin Khutubah Nur cetakan baru hal. 265.

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “Nikmat yang Allah telah sempurnakan ialah agama ini yang Dia beri nama Islam. Kemudian kemudian hari Jum’ah juga [termasuk] dalam nikmat itu, yang pada hari mana nikmat itu sempurna. Ini merupakan isyarah ke arah bahwa kemudian penyempurnaan nikmat itu akan terjadi dalam bentuk ِني.دـ لا ىـ َلَع ُهَرـ ِهْظُيِل (Dia akan memenangkannya atas semua agama) Itupun akan merupakan Jum’ah yang sangat agung. Jum’ah itu kini telah tiba, sebab Tuhan telah mengkhususkan Jum’ah itu dengan Masih Mau’ud a.s. … Saya katakan dengan sebenarnya bahwa ini merupakan sebuah acara/hidangan pesta ruhani yang Allah telah ciptakan untuk orang-orang yang mujur/bernasib baik.

Berbahagialah/salam sejahtera bagi mereka yang menggunakan kesempatan emas itu. Kalian yang telah mengikat tali baiat dengan saya sama sekali jangan menjadi angkuh karena apa yang tadinya kalian akan peroleh itu kalian telah raih…Sungguh kalian telah sampai di dekat mata air yang Tuhan telah ciptakan untuk kehidupan yang abadi itu. Ya, yang tersisa kini adalah tinggal meminum air itu. Maka mohonlah taufik dan karunia dari-Nya supaya Dia mengairi kalian. Sebab, tana Tuhan tidak akan ada yang bisa terjadi.

Saya sungguh mengetahui bahwa barangsiapa yang minum dari mata air ini maka dia tidak akan binasa. Sebab, air ini memberikan kehidupan dan menyelamatkan dari kehancuran dan melindungi dari serangan-serangan syaitan. Untuk terairi dengan air mata air ini bagaimanakah caranya? Caranya ialah kebenaran yang Allah telah tegakkan pada kalian itu tegakkanlah kembali dan jalankanlah itu dengan sepenuh hati. Dari antaranya ialah hak Allah dan hak makhluk” Malfuzhat jilid 2 hal. 144 –145.

Jadi kita setiap Ahmadi seyogianya memberikan perhatian kepada pentingnya hal itu bahwa dengan mengimani Imam Zaman banyak sekali tanggung jawab yang dipikulkan di pundak kita. Seyogianya memberikan perhatian yang khusus pada ibadah. Dan sesuai dengan cara metode ibadah yang Allah telah beritahukan hendaknya berupaya melaksanakan semua ibadah-ibadah sebagaimana Hadhrat Masih Mau’ud a.s. telah terangkan bahwa dengan zaman beliau juga Jum’ah memiliki ikatan yang khas.

Perhatian Kepada Doa

Kita secara khusus seyogianya memperhatikan akan pentingnnya hal itu bahwa kita hendaknya banyak memberikan penekanan pada doa.Merupakan nasib baik bahwa hari-hari ini Ramadhan tengah berlalu. Dan sepuluh hari terakhir Ramadhan tinggal beberapa hari lagi. Di dalam itu diberikan khabar suka tentang pengabulan doa.Oleh karena pada hari-hari itu harus memberikan perhatian yang serius pada doa.

Tertera dalam sebuah hadits yang bersumber dari Hadhrat Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah saw.: “Doa adalah ibadat. Kemudian beliau membaca ayat Al-Quran ini : يِتَداـَبِع ْنـَع َنوُرِبْكَتـْسَي َنيِذـ .لا .نِإ ْمُكَل ْبِجَتْسَأ يِنوُعْدا َنيِرِخاَد َم.نَهَج َنوُلُخْدَيَس Yakni tuhan kalian berfirman yakni “Mintalah kepada-Ku maka Aku akan kabulkan. Orang-orang yang tidak beibadat kepada-Ku maka akibat ketakabburannya mereka akan masuk neraka dalam keadaan hina.” Sunan Tirmidzi abwabudda’waat.

Betapa merupakan kedudukan menakutkan bahwa sementara Allah memfirmankan, “Aku senantiasa menunggu, siap mengabulkan harapanharapan dan doa-doa kalian, namun kalian tetap tidak memohon. Dan meskipun Aku mendorong kalian bahwa pada hari Jum’ah ada juga tiba suatu saat dimana semua doadoa akan dikabulkan, namun sebagaimana perhatian kalian seyogianya tercipta, perhatian itu tidak tengah terjadi. Semoga Allah menganugerahi kepada kita saat pengabulan itu dan menganugerahkan juga taufik berdoa.

Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Tuhan lebih dari doa”. Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa yang tidak memohon kepada Tuhan maka Allah akan murka kepadanya.” Tirmidzi Kitabudda’waat.

Diriwayatkan dari Hadhrat Anas r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Setiap di antara kalian seyogianya memohon segala apa yang dia inginkan dari Tuhannya, sehingga jika tali sepatunya putus sekalipun maka seyogianya dia memohon kepada-Nya”. Tirmidzi Kitabudda’waat.

Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “[Allah Ta’ala berfirman bahwa] Aku selalu mengingat dia selama dia mengingat-Ku atau mulutnya bergerak untuk menyebut Aku” Bukhari kitabuttauhid.

Diriwayatkan dari Hadhrat umar r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Di antara kalian barangsiapa yang pintu doa dibukakan untuknya maka pintu rahmat dibukakan untuknya. Dan pada pandangan Tuhan doa yang paling dicintai adalah memohon kesehatan kepada-Nya” Tirmidzi Kitabudda’waat.

Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Manusia paling dekat kepada Tuhan-Nya ialah pada saat tatkala dia baerada dalam sujud, karena itu perbanyaklah doa dalam sujud.” Muslim kitabushalat ma yaqulu firrukui wassujud.

Hadhrat Abu Saiid meriwayatkan bahwa Rasululah saw. bersabda: “Kapan saja seorang muslim berdoa yang dimana di dalamnya tidak ada unsur dosa atau unsur pemutusan tali kekerabatan maka Allah dari antara yang tiga hal, satu pasti Dia akan anugerahkan kepadanya. Apakah tiga hal itu? Atau doanya cepat didengarkan. Atau pada hari akhirat untuk faedah baginya akan dikumpulkan sebagai sarana pengampunan. Atau Allah sebanyak itu keburukannya akan Dia jauhkan. Dan jika dalam corak itu tidak juga sempurna maka niscaya ada saja keburukannya yang dijauhkan”. Maka para sahabah berkata” Kalau begitu kami akan banyak memanjatkan doa”. Rasulullah saw. bersabda bahwa “Allah juga Mahakuasa untuk memberikannya lebih banyak dari itu.” Sunan Ahmad bin Hanbal baqi mutakatsyirin.

Nah, perhatikanlah betapa Rasulullah saw. berupaya menarik perhatian kita kepada doa. Dari antara kita setiap kita mempunyai kewajiban bahwa dalam bulan Ramadhan yang tersisa ini berdoalah untuk diri sendiri, untuk anak istri kita, untuk keluarga kita, untuk Jemaat. Apabila manusia berdoa untuk orang lain maka para malaikat terus berdoa untuknya. Hal ini harus senantisa menjadi bahan perhatian kita. Oleh karena itu Jemaat seyogianya berdoa untuk mereka yang tidak ada penolong/penopang dan tidak berdaya yang dalam suatu corak tertentu tengah menahan penderitaan dari para penentang. Allah sebagai gantinya berhak mengabulkan ketiga corak doa-doa itu. Bahkan sebagaimana disini diterangkan bahwa lebih dari itu kepada kita dapat Dia anugerahkan. Dia adalah pemilik segenap kekuasaan. Janganlah memandangnya
sebagai wujud yang terbatas.

Sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Tentang Peran Doa

Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Barangsiapa yang tidak menghadapkan wajahnya kepada Allah Swt. dengan doa (tidak pernah berdoa) dia senantiasa akan tetap buta dan mati dalam kebutaan …. Barangsiapa yang berdoa dengan ruh ketulusan maka tidak mungkin dia tidak berhasil secara hakiki. Bahkan kesejahteraan yang hanya dengan harta tidak dapat diraih dan tidak dengan pemerintahan dan tidak dengan kesehatan, bahkan berada di tangan Tuhan yang dengan cara mana Dia ingin berikan Dia dapat menganugerahkan. Ya, dianugerahkan dengan doa-doa yang sempurna.

Jika Tuhan menghendaki maka seorang mukhlis yang tulus persis pada saat musibah melanda, sesudah doa, dia meraih kelezatan yang tidak dapat diraih oleh seorang raja yang berada di atas tahtanya. Inilah yang dimaksud dengan kesuksesan yang akhirnya diraih oleh orang-orang yang berdoa”. Ayyamush- Shulah hal. 7-8..

Kemudian bersabda: “Doa memiliki suatu jalinan dengan pengabulan. Apakah itu kami dapat menanamkan atau tidak dapat menanamkan secara selayaknya dalam hati orang lain, tetapi berjuta-juta pengalaman para pilihan Tuhan dan pengalaman kami sendiri telah menunjukkan kepada kami hakikat yang terselubung itu bahwa doa yang kita panjatkan itu memiliki kekuatan daya tarik magnit dan dapat menarik karunia dan rahmat Tuhan”. Ayyamush-Shulah; Ruhani Khazain jilid 14 hal. 240-241.

Beliau menambahkan: “Perlu diingat bahwa doa yang telah diwajibkan atas orang-orang Islam oleh kitab suci Allah taala memiliki empat sebab kenapa itu diwajibkan: Pertama, adalah supaya pada setiap saat dan dalam setiap kondisi setelah [perhatian] mereka kembali kepada Tuhan, mereka meraih keteguhan pada tauhid Ilahi, sebab memohon kepada Allah merupakan sebuah pengakuan/pernyataan bahwa hanya Allah-lah yang memberikan hasil semua tujuan /maksud. Kedua, supaya iman mereka menjadi kokoh pada saat doa-doa itu terkabul dan maksud-maksud mereka tercapai. Ketiga, jika dalam corak lain anugerah Ilahi itu ada maka ilmu dan hikmah menjadi bertambah (yakni tambah lebih banyak perhatian untuk meraih ilmu dan hikmah dan untuk meraih makrifat Ilahi). Keempat, jika pengabulan doa itu dijanjikan melalui ilham dan ru’ya lalu seperti itu juga sempurnannya maka makrifat Ilahi itu semakin bertambah, dari makrifat itu akan tumbuh keyakinan dan dari keyakinan tumbuh kecintaan, dan dari kecintaan manusia akan meraih karunia pemutusan hubungan dengan segenap dosa dan dengan segenap selain Allah yang merupakan buah keselamatan hakiki.” Ayyaamush-Shulah hal. 12-13

Beliau bersabda: “Saya menyatakan dengan sebenarnya, bahwa jika jeritan kita sedemikian rupa sendunya/memelasnya di hadapan Tuhan, maka hal itu akan menimbulkan gejolak dalam rahmat dan karunia-Nya yang kemudian akan menariknya. Dan saya mengatakan atas dasar pengalaman saya, bahwa karunia dan rahmat Tuhan yang datang dalam bentuk pengabulan doa, saya merasakan itu terseret/terserap ke arah saya,bahkan saya berani mengatakan bahwa saya melihatnya.”

Beliau bersabda: “Setiap orang yang kini mendengar ingatlah bahwa senjata kalian adalah doa, karena itu senantiasa sibuklah dalam doa. Ingatlah bahwa maksiat dan kefasikan nasihat dan alasan lain tidak dapat menjauhkannya. Untuk itu hanya satu jalan yaitu doa. Inilah yang Tuhan firmankan kepada kita. Pada zaman ini terfikir ke arah kebaikan dan meninggalkan keburukan bukanlah merupakan masalah kecil. Ini menginginkan sebuah revolusi dan revolusi ini berada di tangan Tuhan. Dan ini akan terjadi dengan doa-doa. Jemaat kita seyogianya bangunlah tengah malam menangislah sambil berdoa janji-Nya adalah . ْمـُكَل ْبِجَتْسَأ يِنوُعْدا (serulah Aku Saya akan menjawab seruanmu)”.

Kemudian beliau bersabda: “Doa yang timbul sesudah [mencapai] makrifat dan dengan perantaraan karunia Ilahi, memiliki nuansa dan kondisi yang lain. Itu merupakan sebuah benda (sesuatu) yang melenyapkan, suatu api yang membakar, sebuah magnit yang menarik rahmat Tuhan, sebuah kematian yang pada akhirnya akan menghidupkan, sebuah banjir dahsyat yang pada akhirnya menjadi sebuah bahtera, segenap perkara yang tak pernah beres menjadi terpecahkan karenanya, dan segenap racun pada akhirnya menjadi obat penawar karenanya.

Salam sejahtera bagi tahanan yang berdoa tampa mengenal lelah, sebab pada suatu saat akhirnya dia akan meraih kebebasan. Salam sejahtera bagi sang tunanetra yang tidak malas dalam memanjatkan doa-doa, sebab pada suatu saat dia akan dapat melihat. Salam sejahtera bagi yang berada di dalam kubur-kubur yang memohon dengan doadoa pertolongan Tuhan, sebab pada suatu saat mereka akan dikeluarkan dari kuburan-kuburan itu.

Salam sejahtera kepada kalian yang tidak pernah lelah dalam memanjatkan doa dan ruh kalian mencair dalam doa, dan mata kalian mencucurkan air mata dan di dalam relung dada kalian menciptakan sebuah api dan untuk meraih rasa kebahagiaan kesendirian, itu (doa) membawa kalian pada kamar yang gelap dan hutan-hutan yang sunyi sepi dan menjadikan kalian resah, gila serta tidak sadarkan diri. Sebab, pada akhirnya akan dibukakan pintu karunia-Nya padamu. Dia Tuhan yang ke arah-Nya kami menyeru kalian adalah Yang Maha Mulia, Maha Penyayang,

Pemalu, jujur, setia dan Maha Pengasih pada orang-orang yang lemah. Maka, kalianpun jadilah orang yang setia dan berdoalah dengan penuh ketulusan supaya Dia akan mengasihani kalian. Berpisahlah kalian dari keramaian dunia/orang-orang dan keributannya. Janganlah mewarnai agama dengan warna hawa nafsu. Pikullah beban demi untuk Tuhan dan terimalah kekalahan supaya kalian menjadi waris kemenangankemenangan yang besar. Tuhan memperlihatkan mukjizah-Nya kepada orang-orang yang berdoa dan kepada orang yang memohon akan dianugerahi nikmat yang luar biasa. Doa datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Dengan doa Tuhan sedemikian rupa menjadi dekat sebagaimana jiwamu menjadi dekat denganmu.

Nikmat pertama doa ialah terlahir perubahan suci di dalam diri manusia. Kemudian Tuhan pun dengan perubahan itu menciptakan perubahan dalam sifat-sifat-Nya. Dan sifat-sifat-Nya tidaklah berubah-ubah, namun untuk yang telah menciptakan perubahan dalam dirinya Dia memiliki manifestasi/ penampakan yang terpisah yang dunia tidak dapat mengetahuinya seolah-olah Dia merupakan Tuhan yang lain, padahal tidak ada Tuhan yang lain, tetapi manifestasi yang baru menzahirkan-Nya dalam nuansa yang baru. Baru dalam keagungan menifestasi yang khas Dia bekerja untuk yang telah berubah itu yang Dia tidak lakukan untuk orang lain. Inilah dia mukjizah- mukjizah itu. Walhasil, doa merupakan sebuah obat penawar yang menciptakan segenggam tanah menjadi barang tak ternilai harganya dan itu merupakan air yang membersihkan kekotoran-kekotoran yang ada di dalam batin manusia. Dengan doa itu ruh mencair dan mengalir bagaikan air lalu jatuh diatas singgasana Tuhan yang Maha Esa”. Ruhani Khazain; Pidato Sialkot jilid no.2 hal. 222 –223.

Oleh karena itu, marilah kita semua anak-anak kita, para pemuda kita, para orang tua kita, para wanita kita dan lakilaki kita hari ini kita memohon dengan khusyuk berdoa di hadapan Tuhan dan di hari-hari yang tersisa dalam bulan Ramadhan apa-apa kekurangan itu kita dapat sempurnakan. Kita menghidupkan malam-malam kita dengan beribadah kepada-Nya. Kita melewati hari-hari kita dengan zikir Ilahi. Dan kita meminta belas kasih sayang-Nya. Semoga Allah memaafkan kekurangankekurangan dan kelemahan-kelemahan kita, memutupi aib-aib kita ,melimpahkan kasih sayang dan kemuliaan-Nya pada kita. Semoga Allah mengasihi saudarasaudara kita yang teraniaya karena mereka telah mengenal dan mengimani Imam yang dijanjikan. Ya, Allah anugerahilah pengertian kepada para penentang kami sedemikian rupa sehingga mereka berhenti dari perlawanan itu dan jadikanlah orang yang bersifat syaitan yang menjerumuskan orang-orang yang lugu tidak berdosa (ikutikutan dengan mereka) sebagai tanda dan ibrat. Dan di mana-mana saja orang-orang Ahmadi melewati kehidupan sulit dan hanya dengan menurunkan belas kasih saying-Mu gantikanlah hari-hari sulit mereka dengan kebebasan dan jadikanlah kami orang yang senantiasa menyembah Engkau. Dan, karunia-karunia yang mengalir kepada kami dalam bulan Ramadhan ini jadikanlah itu berkesinabungan. Ya Allah, kami dengan mengedepankan firman Engkau يِنوـــُعْدا ْمـُكَل ْبِجَتـ ْسَأ – (mohonlah pada-Ku maka Aku akan mengabulkan permohonan kalian) kami memohon kepada-Mu.

Semoga Allah mengabulkan semua doa-doa kita. Amiin.

Pent. Mln Qomaruddin S

Sumber :
Darusus No 61/2004 JA

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: