Jamaluddin Feeli

Tafsir Al Fatihah Bag 5 (ayat 6 & 7)

In Ahmadiyah on 12 November 2009 at 00:57

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)

Artinya:
“Tunjukilah kami pada [a] jalan yang lurus; [13]”
________________________________________
[a] 19:37 ; 36:62 ; 42:53,54

Tafsir:
[13]. “Doa ini meliputi seluruh keperluan manusia — kebendaan dan rohani, untk masa ini dan masa yang akan datang. Orang mukmin berdoa agar kepadanya ditunjukkan jalan lutus, jalan terpendek. Kadang-kadang kepada manusia diperlihatkan jalan uang benar dan lurus itu, tetapi ia ridak dipimpin kepadanya, atau, jika ia dibimbing ke sana, ia tidak berditetap pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir. Doa itu menhandaki, agar orang beriman tidak merasa pulas dengan hanya diperlihatkan kepadanya siati kalanm atau juga dengan dibimbing ke sana, ia tidak bersitetap pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir, Dia itu menghendaki, atau orang beriman tidak merasa puas dengan hanya diperlihatkan kepadanya siati jalan, atau juga dengan dibimbing pada jalan itu, tetapi ia harus senantiasa terus menerus mengikutinya hingga mencapai tujuannya, dan inilah makna hidayah, yang berarti, menunjukkan jalan yang lurus (90:11), membimbing ke jalan lurus ( 29:70 ) dan membuat orang mengikuti halan yang lurus ( 7:44 ) (Mufradat dan Baqa ). Pada hakikatnya, manusia memerlukan pertolongan Tuhan pada tiap-tiap langkah dan pada setiap saat, dan sangat perlu sekali baginya, agar ia senantiasa mengajukan kepada Tuhan permohonan yang terkandung dalam ayat ini. Maka oleh karena itu, dia terus-menerus itu memang sangat perlu, Selama kita mempunyai keperluan -keperluan yang belum kesampaian dan keperluan-keperluan yang belum terpenuhi dan tujuan- tujuan yang belum tercapai, kita selamanya memerlukan doa”.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)

Jalan [a] orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, [14] bukan atas mereka [b] yang dimurkai dan bukan pula [c] yang sesat. [15]
________________________________________
[a] 4:70 ; 5:21 ; 19:59
[b] 2:62, 91 ; 3:113 ; 5:61,70
[c] 3:91 ; 5:78; 18:105

Tafsir :
[14]. “Orang mukmin sejati tidak akan merasa puas hanya dengan dipimpin ke jalan yang lurus atau dengan melakukan beberapa amal saleh tertentu saja,. Ia menempatkan tujuannya jauh lebih tinggi dan berusaha mancapai kedudukan saat Tuhan mulai menganugerakan karunia-karunia Ilahi yang dianugerakan kepada para pilihan Tuhan, lalu memperoleh dorongan semangat dari mereka. Ia malahan tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi ia berusaha keras dan mendoa supaya digolongkan di antara “orang-orang yang telah mendapat nikmat itu, telah disebut dalam 4:70. Doa itu umum dan tidak untuk sesuatu karunia tertentu. Orang mukmin bermohon kepada Tuhan agar menganugerakan karunia rohani yang tertinggi kepadanya dan terserah kepada Tuhan untuk menganugerahkan kepadanya karunia yang dianggap-Nya pantas dan layak bagi orang mukmin itu menerimanya”

[15]. “Surah Al-Fatihah membuka suatu tertib indah dalam susunan kata-katanya dan kalimat – kalimatnya. Surah ini dapat dibagi dalam dua bagian yang sama. Separuhnya yang pertama bertalian dengan Tuhan, separuhnya yang kedua dengan manusia, dan tiap bagian bertalian sama sama lain dengan cara yang sangat menarik. Berkenaan dengan nama “Allah swt. ” yang menunjuk kepada Dzat yang memiliki segala sifat mulia yang tersebut dalam bagian pertama. Kita dapati kata- kata, hanya Engkau kamu sembah dalam bagian yang kedua. Segera setelah seseorang abid (yang melakukan ibadah) ingat bahwa Tuhan bebas dari segala cacat dan kekurangan dan memiliki segala sifat sempurna, maka seruan hanya Engkau kamu sembah dengan sendirinya timbul dari hati sanubarinya. Dan sesuai dengan sifat “Tuhan semesta Alam ” tercantum kata-kata kepada Engkau kami mohon pertolongan dalam bagian kedua. Setelah orang Islam mengetahui bahwa Tuhan itu Khalik dan Pemelihara sekalian alam dan Sumber dari segala kemajuan, ia segera berlindung kepada Tuhan, sambil berkata, kepada Engkau kamu mohon pertolongan, Kemudian, sesuai dengan sifat “Ar-Rahman,” yakni Pemberi karunia tak berbilang dan Pemberi dengan cuma-cuma segala keperluan kita, tercantum kata-kata, Tunjukilah kami pada jalan yang lurus dalam bagian kedua; sebab karunia terbesar yang tersedia bagi manusia ialah petunjuk yang disediakan Tuhan baginya, dengan menurunkan wahyu dengan perantaraan rasul-rasul-Nya. Sesuai dengan sifat “Ar-Rahim,” yakni, Pemberi ganjaran terbaik untuk amal perbuatan manusia dengan bagian pertama, kita jumpai kata-kata, Jalan orang- orang yang telah Engkau beri nikmat dalam bagian kedua, sebab memang Ar-Rahim -lah yang menganugerakan nikmat-nikmat yang layak bagi hamba-hamba-Nya yang khas. Lagi, sesuai dengan “Pemilik Hari Pembalasan” kita dapatkan Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Bila terlintas dalam pikiran manusia bahwa ia harus memberikan pertanggunjawaban atas amal perbuatannya, ia takut menemui kegagalan, maka dengan merenungkan sifat Pemilik hari Pembalasan, ia mulai mendoa kepada Tuhan, supaya ia diperlihara dari murka-Nya dan dari kesesatan dari jalan yang lurus.

Sifat khusus lainnya pada doa yang terkandung dalam Surah ini ialah dia itu mengimbau naluri-naluri manusia yang dalam, dengan cara yang wajar sekali. dalam fitrat manusia ada dua pendorong yang merangsangnya untuk menyerahkan diri ialah cinta dan takut. Sebagian orang tergerak oleh cinta, sedang yang lain terdorong oleh takut. Dorongan cinta memang lebih mulia, tetapi mungkin ada dan sungguh-sungguh ada — orang-orang yang hatinya tidak tergerak oleh cinta. Mereka hanya menyerah karena pengaruh takut. Dalam Al-Fatihah kedua pendorong manusia itu telah diimbau. Mula-mula tampil sifat-sifat Ilahi yang membangkitkan cinta, “Pencipta dan Pemelihara sekalian alam,” “Maha Pemurah” dan “Maha Penyayang”. Kemudian. segera mengikutinya sifat “Pemilik Hari Pembalasan,” yang memperingatkan manusia bahwa, bila ia tidak memperbaiki tingkah-lakunya dan tidak menyambut cinta dengan baik, maka ia harus bersedia mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Tuhan. Dengan demikian pendorong kepada “takut:dipergunakan berdampingan dengan pendorong kepada cinta. Tetapi, oleh karena kasih-sayang Tuhan itu jauh mengatasi sifat Murka-Nya sifat ini pun — yang merupakan satu-satunya sifat pokok yang bertujuan membangkitkan takut — tidak dibiarkan tanpa menyebut kasih-sayang. Pada hakikatnya, di sini pun kasih-sayang Tuhan mengatasi murka-Nya, sebab telah terkandung juga dalam sifat ini bahwa, kita tidak akan menghadap seorang Hakim ,tetapi menghadapTuhan Yang berkuasa mengampuni dan Yang hanya akan menyiksa bila siksaan itu sangat perlu sekali. Pendek kata, Al-Fatihah itu khazanah ilmu rohani yang menakjubkan. Al-Fatihah itu surah pendek dengan tujuan ayat ringkas, tetapi Surah yang sungguh-sungguh merupakan tambang ilmu dan hikmah. Tepat sekali disebut “Ibu Kitab,” Al-Fatihah itu intisari dan pati Alquran. Mulai dengan nama Allah swt., Sumber pokok pancaran segala karunia, rahmat dan berkat, Surah ini melanjutkan penuturan keempat sifat pokok Tuhan, ialah :

1. Yang menjadikan dan memelihara alam semesta
2. Maha Pemurah Yang mengadakan jaminan untuk segala keperluan manusia, bahan sebelum ia dilahirkan, dan tampa suatu usaha apa pun dari pihak manusia untuk memperolehnya.
3. Maha Penyayang, Yang menetapkan hasil sebaik mungkin amal perbautan manusia dan Yang menganjarkannya dengan amat berlimpah-limpah.
4. Pemilik Hari Pembalasan.

Di hadapan-Nya, manusia harus menpertanggungjawabkan amal perbuatannya dan Yang akan menurunkan siksaan kepada si jahat, tetapi tidak akan berlaku terhadap makluk-Nya semata-mata sebagai Hakim, melainkan sebagai majikannya Yang melunakkan hukuman dengan kasih-sayang, dan Yang sangat cenderung mengampuni, kapan saja pengampunan akan membawa hasil yang baik. Itulah citra Islam, seperti dikemukakan pada awal sekali Alquran, mengenai Dzat Yang kekuasaan serta kedaulatan-Nya tak ada hingganya dan kasih-sayang serta kemurahan-Nya tiada batasnya. Kemudian datanglah pernyataan manusia bahwa, mengingat Tuhan-nya itu Pemilik semua sifat agung dan luhur, maka ia bersedia malah berhasrat, menyembah Dia dan menjatuhkan diri pada kaki-Nya, agar mohon pertolongan-Nya pada setiap derap langkah majunya dan setiap keperluan yang di hadapinya. Akhirnya, datanglah doa — padat dan berjangkauan jauh — suatu doa yang di dalamnya manusia bermohon kepada Khalik-nya, untuk membimbingnya ke jalan yang lurus dalam segala urusan rohani dan duniawi, baik mengenai keperluan -keperluan sekarang atau pun di hari depan. Ia mencoba kepada Tuhan, agar ia bukan saja dapat menghadapi segala cobaan dan ujian dengan tabah, tetapi selaku “orang-orang terpilih,” menghadapinya dengan cara yang sebaik-baiknya dan menjadi penerima karunia dan berkat Tuhan yang paling banyak dan paling besar, agar ia selama-lamanya terus melangkah maju pada jalan yang lurus, maju terus makin dekat dan lebih dekat lagi kepada Tuhan dan Junjungan-nya, tampa terantuk-antuk di perjalanannya, seperti telah terkadi pada banyak dari antara mereka yang hidup di masa yang lampau. Itulah pokok Surah pembukaan Alquran, yang senantiasa diulangi dengan suatu bentuk atau cara lain, dalam seluruh tubuh Kitab suci itu”.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: