Jamaluddin Feeli

Archive for the ‘Ahmadiyah’ Category

Arti dari khataman Nabiyyin

In Ahmadiyah on 21 Mei 2013 at 23:00

Arti dari khataman Nabiyyin

Dikompilasi dari berbagai tulas, hasil korespondensi di internet

ARTI KHATAM DALAM AYAT KHATAMAN – NABIYYIN

Ayat KS Aquran (Quran Suci/QS) Surat Al Ahzab 33:40 A’udzubillah himinasy-syaithan

 

…… Maa kaana Muhammadun abaa ahadin minr rijaalikum wa laakinr rosuuulal laahi wa khaatamannabiyyin

Yang artinya Muhammad bukanlah Bapak dari seorang laki-laki kamu, tetapi ia adalah seorang Rasul dan Khaataman Nabiyyin, khatam-nya dari para nabi-nabi.

 

Ayat Khataman-Nabiyyin ini diturunkan di dalam rangkaian pembelaan dari Allah SWT kepada YM. Nabi Suci Muhammad Rasulullah s.a.w. atas tuduhan orang Arab Quraisy , bahwa pernikahan Rasulullah s.a.w dengan Hadhrat Siti Zainab, janda dari Zaid “anak angkat” Rasulullah s.a.w. yang dituduh mengawini janda menantunya sendiri. Tuhan menjawab cemoohan orang Quraisy terhadap Rasulullah s.a.w. yang melanggar tradisi berlaku pada saat itu yang tidak membolehkan orang mengawini janda bekas menantunya walaupun dari anak angkatnya, yang kedudukan anak angkat itu menurut adat kebiasaan orang Quraisy disamakan statusnya dengan anak sendiri.

Pada saat diturunkannya wahyu tentang Khaataman Nabiyyin tersebut, tidak pernah terpikir waktu itu oleh para sahabat Rasulullah s.a.w., bahwa khatam itu diartikan sebagai penutup untuk nabi-nabi, ini adalah berdasarkan keterangan dari YM. Rasulullah s.a.w. sendiri. Apalagi jika kita membaca keseluruhan ayat-ayat yang ada di dalam Rukuk ke-5 dari Surah Al Ahzaab ini bahkan di keseluruhan Surah al Ahzaab pun tidak ada disinggung satu pun indikasi yang berkenaan dengan inniy aakhirul-anbiya’ atau laa nabiyya ba’di; tetapi yang ada disebutkan di dalam surah ini Al Ahzaab ini adalah: Jangan engkau mengikuti kebiasaan orang-orang kafir dan orang munafik (ayat 1, dalam hal status anak angkat dll.), menjadikan istri-istrimu sebagai ibu dan anak-anak angkatmu sebagai anak sendiri (ayat 4), tetapi panggillah anak ini dengan nama bapak mereka (ayat 5), dan Kami pun mengatur pernikahan engkau dengan Zainab, yang janda dari Zaid anak angkat engkau itu; di mana sama sekali tidak ada sesuatu pun yang akan mencemarkan nama engkau, di mana engkau adalah Khaataman Nabiyyin.

Selain yang artinya penutup (yaitu khatim) ada banyak arti dari kata Khatam yaitu: Cincin, perhiasan (bagi yang memakainya), meterai, segel, yang membenarkan, yang paling afdhal, yang paling mulia, yang terbaik, sebagai pujian terutama kalau dikaitkan dengan kata benda plural / jamak, dan hanya sebagai penutup (khatim), terutama kalau dikaitkan dengan kata benda singular. Dalam tata bahasa Arab, kata Khaatam jika digandeng dengan kata jamak maka artinya bukan lagi terakhir atau penutup melainkan yang paling sempurna, paling afdhal. Contohnya:

  1. Nabi s.a.w. bersabda kepada Hadhrat Ali r.a. : Aku adalah khatam dari nabi-nabi dan engkau wahai Ali adalah khatamul aulia (khatam dari Wali-wali) (Tafsir Safi & Jalandari), benarkan Ali penghabisan dari wali-wali? Tentu bukan, karena di sini diartikan bahwa Hadhrat Ali sebagai yang paling mulia di antara wali-wali.
  2. Imam Safi’i r.h. (767-820) juga disebut “khaatam-ul auliya” (Al Tuhfatus-Sunniyya, hal. 45).
  3. Rasulullah s.a.w. berkata kepada Umar r.a.: Tenteramkanlah hatimu hai Umar, sesunguhnya engkau adalah khatamul Muhajjirin (sahabat yang mengikuti pindah ke Medinah yang paling afdhal) di dalam kepindahan ini, seperti aku khataman nabiyyin dalam kenabian. (Kanzul Umal).
  4. Dalam zaman-zaman berikutnya, kata khatam juga dipakai dalam arti sebagai yang paling nge-top (mulia):
  5. Imam Syech Muhammad Abdul dari Mesir ditulis sebagai Khatam Al-A’immah; Imam/Pemimpin agama (Tafsir Al-Fatihah halaman 148. Apakah tidak ada imam lainnya setelah Muhammad Abduh?
  6. Abu Tamaam At-Ta-i (804-805) ditulis oleh Hasan ibnu Wahab sebagai Khatimus-syuara (Ahli syair). (Dafiyaatul A’ayaan, vol. 1 hal 123, Kairo). Apakah setelah Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi?
  7. Untuk Syekh Rasyid Ali Ridha ditulis sebagai Khatamul Mufasysyiriin (Al Jaami’atul Islamiyah 1354 H).
  8. Imam Suyuthi mendapat gelar khaatamu-ul- muhadditsin, ahli hadits (Hadya Al-Shiah, hal. 210).
  9. Aflatun ditulis sebagai Khatamul Hakim (Mirtusuruh hal. 38), Khatam Al-Hukkam.
  10. Tokoh-tokoh lainnya yang pernah ditulis/disebut sebagai Khatam Al-Kiram, Khatam Al-Wilayat (Muqaddimah Ibnu Khaldun hal. 271), Khatam Al-Jasinaniyyat, Khatam Al-Kamilin, Khatam Al-Asfiya, dalam sebutan sebagai yang paling afdhal, yang terbaik pujian terhadap seseorang yang dikagumi.

Arti kata Khatam sebagai penutup atau terakhir sebenarnya baru timbul di abad pertengahan, di mana ulama-ulama Medieval ini mulai mengartikan khataman nabiyyin itu sebagai nabi penutup dan nabi terakhir. Ada riwayat, bagaimana para ulama yang karena takutnya pada arti Khaatam sebagai yang paling afdhal, paling terbaik (kalau digabungkan dengan kata benda jamak/plural) , meterai, atau cincin, stempel, maka mereka dengan tidak takut-takutnya mempengaruhi pemerintah melalui Departemen Wakaf-nya, untukmerobah Kitab Suci Alquran, yaitu dengan merobah tulisan kata khatam dengan merobah tulisannya dengan kata khatim dalam Alquran yang diterbitkan- nya. Ini terjadi di Afrika pada tahun 1987, dan ada yang menunjukkannya kepada kita. Mereka ingin mengartikan kata khatam itu sebagai penutup dengan kata khatim, yang mereka pikir punya hak untuk menggantinya. Ini adalah perbuatan yang nyata-nyata campur-tangan terhadap keaslian KS. Alquran, hanya karena mereka takut kepada Ahmadiyah. Inilah gambaran keliru yang amat mengerikan sebagai usaha mereka untuk menyelamatkan diri dari pengaruh pendapat orang Ahmadi, mengenai arti dari kata khatam ini.

Kepercayaan tentang Nabi Muhammad s.a.w. adalah nabi terakhir memang pernah muncul dan sekarang kepercayaan yang demikian mestinya sudah lenyap kembali; kepercayaan mana adalah yang di-isukan oleh ulama dari zaman masa medieval (pertengahan) , bersamaan dengan kepercayaan bahwa, katanya Nabi Isa a.s. itu diangkat ke langit, dengan tubuh kasarnya dan akan turun kembali di akhir zaman.

Tentang penggunaan kata khatam yang berarti termulia, tertinggi dan sebagainya dalam berbagai istilah dalam bahasa Arab lainnya dapat dilihat pada beberapa kata di bawah ini:

  1. KHATAM-USH-SHU’ARAA (seal of poets) was used for the poet Abu Tamam. (Wafiyatul A’yan, vol. 1, p. 23, Cairo).
  2. KHATAM-USH-SHU’ARAA again, used for Abul Tayyeb. (Muqaddama Deewanul Mutanabbi, Egyptian p.4)
  3. KHATAM-USH-SHU’ARAA again, used for Abul ‘Ala Alme’ry. (ibid, p.4, footnote).
  4. KHATAM-USH-SHU’ARAA used for Shaikh Ali Huzain in India. (Hayati Sa’di, p. 117.)
  5. KHATAM-USH-SHU’ARAA used for Habeeb Shairaazi in Iran. (Hayati Sa’di, p. 87) Note here that all five people have been given the above title. How could it be interpreted as “last”. They did not come and go at the exact same time.
  6. KHATAM-AL-AULIYAA (seal of saints) for Hazrat Ali (May God be pleased with him). (Tafsir Safi, Chapter AlAhzab) Can no other person now attain wilaayat, if “seal” meant last?
  7. KHATAM-AL-AULIYAA used for Imam Shaf’ee. (Al Tuhfatus Sunniyya, p. 45).
  8. KHATAM-AL-AULIYAA used for Shaikh Ibnul ‘Arabee. (Fatoohati Makkiyyah, on title page).
  9. KHATAM-AL-KARAAM (seal of remedies) used for camphor. (Sharah Deewanul Mutanabbee, p. 304) Has no medicine been found or used after camphor, if “seal” means “last”?
  10. KHATAM-AL-A’IMMAH (seal of religious leaders) used for Imam Muhammad ‘Abdah of Egypt. (Tafseer Alfatehah, p. 148) Don’t we have leaders today?
  11. KHATAM-ATUL-MUJAHIDEEN (seal of crusaders) for AlSayyad Ahmad Sanosi. (Akhbar AlJami’atul Islamiyyah, Palestine, 27 Muharram, 1352 A.H.)
  12. KHATAM-ATUL-ULAMAA-ALMUHAQQIQEEN (seal of research scholars) used for Ahmad Bin Idrees. (Al’Aqadun Nafees)
  13. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN (seal of researchers) for Abul Fazl Aloosi. (on the title page of the Commentary Roohul Ma’aanee)
  14. KHATAM-AL-MUHAQQIQEEN used for Shaikh AlAzhar Saleem Al Bashree. (Al Haraab,  p. 372)
  15. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN used for Imam Siyotee. (Title page of Tafseerul Taqaan)
  16. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN (seal of narrators) for Hazrat Shah Waliyyullah of Delhi.  (‘Ijaalah Naafi’ah, vol. 1)
  17. KHATAMAT-AL-HUFFAAZ (seal of custodians) for AlShaikh Shamsuddin. (AlTajreedul Sareeh Muqaddimah, p. 4) A “hafiz” is one who has memorised the full arabic text of the Holy Quran. Two of my cousins happen to belong to this category and more people will memorize it.
  18. KHATAM-AL-AULIA (seal of saints) used for the greatest saint. (Tazkiratul Auliyaa’, p. 422)
  19. KHATAM-AL-AULIA used for a saint who completes stages of progress. (Fatoohul Ghaib,  p. 43)
  20. KHATAM-ATUL-FUQAHAA (seal of jurists) used for Al Shaikh Najeet. (Akhbaar Siraatal Mustaqeem Yaafaa, 27 Rajab, 1354 A.H.)
  21. KHATAM-AL-MUFASSIREEN (seal of commentators or exegetes) for Shaikh Rasheed Raza. (Al Jaami’atul Islamia, 9 Jamadiy thaani, 1354 A.H.)
  22. KHATAM-ATUL-FUQAHAA used for Shaikh Abdul Haque. (Tafseerul Akleel, title page)
  23. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN (seal of researchers) for Al Shaikh Muhammad Najeet. (Al Islam Asr Shi’baan, 1354 A.H.)
  24. KHATAM-AL-WALAAYAT (seal of sainthood) for best saint. (Muqaddimah Ibne Khuldoon, p. 271)
  25. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN WAL MUFASSIREEN (seal of narrators and commentators) used for Shah ‘Abdul ‘Azeez. (Hadiyyatul Shi’ah, p. 4)
  26. KHATAM-AL-MAKHLOOQAAT AL-JISMAANIYYAH (seal of bodily creatures) used for the human being. (Tafseer Kabeer, vol. 2, p. 22, published in Egypt)
  27. KHATAM-ATUL-HUFFAAZ used for Shaikh Muhammad Abdullah. (Al Rasaail Naadirah, p. 30)
  28. KHATAM-ATUL-MUHAQQIQEEN used for Allaama Sa’duddeen Taftaazaani. (Shara’ Hadeethul Arba’een, p. 1)
  29. KHATAM-ATUL-HUFFAAZ used for Ibn Hajrul ‘Asqalaani. (Tabqaatul Madlaseen, title page)
  30. KHATAM-AL-MUFASSIREEN (seal of commentators) used for Maulvi Muhammad Qaasim. (Israare Quraani, title page)
  31. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN (seal of narrators) used for Imam Siyotee. (Hadiyyatul Shee’ah, p. 210)
  32. KHATAM-AL-HUKKAAM (seal of rulers) used for kings. (Hujjatul Islam, p. 35)
  33. KHATAM-AL-KAAMILEEN (seal of the perfect) used for the Holy Prophet (pbuh). (Hujjatul Islam, p. 35)
  34. KHATAM-AL-MARAATAB (seal of statuses) for status of humanity. (‘Ilmul Kitaab, p. 140) We have the “highest, not “last” status.
  35. KHATAM-AL-KAMAALAAT (seal of miracles) for the Holy Prophet (pbuh). (ibid, p. 140)
  36. KHATAM-AL-ASFIYAA AL A’IMMAH (seal of mystics of the nation) for Jesus (peace be on him). (Baqiyyatul Mutaqaddimeen, p. 184)
  37. KHATAM-AL-AUSIYAA (seal of advisers) for Hazrat Ali (R.A.A.). (Minar Al Hudaa, p. 106)
  38. KHATAM-AL-MU’ALLIMEEN (seal of teachers/scholars) used for the Holy Prophet(pbuh). (Alsiraatul Sawee by Allama Muhammad Sabtain  Now, I am a teacher myself, and you know that I still exist, AFTER the Holy Prophet (pbuh), but I am nowhere close to being able to teach as PERFECTLY as he could or did. How then could he be “last” of teacher Seal means “best” here and not “last”.
  39. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN (seal of narrators) for Al Shaikhul Sadooq. (Kitaab Man Laa Yahdarahul Faqeeh)
  40. KHATAM-AL-MUHADDITHEEN used for Maulvi Anwar Shah of Kashmir. (Kitaab Raeesul Ahrar, p. 99)

 

Pendapat lainnya tentang masih berlanjutnya pintu Kenabian dalam Islam dapat dilihat dari berbagai hadits dan ulama berikut ini:

1. “Katakanlah bahwa beliau (Rasulullah s.a.w.) adalah Khataman Nabiyyin, tetapi janganlah mengatakan tidak akan ada nabi lagi sesudah beliau” (lihat Durr Mantsur oleh Hafizh Jalal-ud-Din `Abdur Rahman Sayuthi).

2. “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)” (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm.5).

3. Rasulullah s.a.w. adalah yang terbaik, termulia, dan paling sempurna dari antara semua nabi dan juga beliau adalah sumber hiasan bagi mereka (lihat Syarh Zurqani oleh Imam Muhammad ibn `Abdul Baqi al-Zurqani, dan Syarah Mawahib al-Laduniyyah oleh Syihab-ud-Din Ahmad Qastalani).

4. Berkata Sheikh Muhyiddin Ibnu Arabi: “Maksud sabda Nabi Muhammad SAW sesungguhnya kerasulan dan kenabian telah terputus dan tidak ada lagi rasul dan nabi sesudahku, ialah tidak akan ada nabi yang membawa syariat yang akan menentang syariat aku. Maka tidaklah nubuwat itu terangkat seluruhnya. Karena itu kami mengatakan sesungguhnya yang terangkat ialah nubuwat tasyri’i (kenabian yang pakai syariat), maka inilah ma’na tidak ada nabi sesudah beliau”.(Futuhatul Makkiyah, jilid II halaman 73).
Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis: “Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w., “Sesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang datang sesudahku yang bertentangan dengan Syari’atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syari’atku.” (Futuuhatul Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3) Imam Muhammad Thahir Al-Gujarati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan hadits tidak ada nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang akan mebatalkan syariat beliau”….(Takmilah Majmaul Bihar, halaman 85).

5. Mulla ‘Ali Al-Qari berkata: “Maka tidaklah hal itu bertentangan dengan ayat “khaatamannabiyin” karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi nabi yang akan membatalkan agama beliau dan nabi yang bukan dari umat beliau”….. .(Maudhuat Kabir, halaman 59).

6. Nawwab Siddiq Hasan Khan menulis: “Benar ada hadist yang berbunyi “la nabiyya ba’di” artinya menurut pendapat ahli ilmu pengetahuan ialah bahwa sesudahku tidak akan ada lagi nabi yang menasikhkan/ membatalkan syariatku”.. …(Iqtirabussa’ ah, halaman 162).

7. Imam Sya’rani berkata:”Dan sabda Nabi Muhammad SAW, tidak ada nabi dan rasul sesudahku, adalah maksudnya tidak ada lagi nabi sesudah aku yang membawa syariat”…. (Al-Yawaqit wal Jawahir, jilid II halaman 42).

8. Arif Rabbani Sayyid Abdul Karim Jaelani berkata:”Maka terputuslah undang-undang syariat sesudah beliau dan adalah Nabi Muhammad SAW ‘khaatamannabiyyin” …..(Al- Insanul Kamil halaman 66).

9. Sayyid Waliuyullah Muhaddist Al-Dahlawi berkata:” Dan khaatamlah nabi-nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa syariat untuk manusia”…. (Tafhimati Ilahiyah, halaman 53).

10. Imam Suyuti berkata: “Barang siapa yang mengatakan bahwa Nabi Isa apabila turun nanti pangkatnya sebagai Nabi akan dicabut, maka kafirlah ia sebenar-benarnya. Maka dia (Isa yang dijanjikan) sekalipun ia menjadi khalifah dalam umat Nabi Muhammad SAW, namun ia tetap berpangkat rasul dan nabi yang mulia sebagaimana semula”…..(Hujajul Kiramah , halaman 31 dan 426).

11. Imam Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata: “Dan sabda Nabi s.a.w.: “tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari’at.”
(Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42).

12. Imam Thahir Al Gujrati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari’at beliau.” (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85).

13. Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan: “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas ‘alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin . Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w.” (Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69).

14. Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Maria Qibtiyah) tercatat sebagai berikut: Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah s.a.w. wafat, beliau menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar.” (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, sedangkan ayat “khaataman-nabiyyiin” diturunkan pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau menerima ayat “khaataman-nabiyyiin.” Jika ayat “khaataman-nabiyyii n” diartikan sebagai “penutup / sesudahan / penghabisan /akhir” nabi-nabi yaitu tidak boleh ada nabi lagi apa pun juga setelah beliau s.a.w., maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Nabi s.a.w-lah yang menerima wahyu, jadi beliaulah yang paling mengetahui arti/makna wahyu yang diterimanya.

15. Dalam Kitab Nuzulul Masih, Imam Jalaluddin Assuyuti rh (Mujaddid abad
IX) menyatakan bahwa hadis-hadis yang menyatakan bahwa tidak ada lagi
wahyu setelah nabi Muhammad saw adalah Palsu.

Kini pertanyaannya adalah apakah ada Ulama Salaf yang menafsirkan kalimat “Khaataman Nabiyyin” dalam Al Qur’an dengan mengikuti kaidah tata bahasa Arab di atas? Mengingat tafsir yang dipopulerkan oleh para Ulama saat ini terhadap kalimat Khaataman Nabiyyin yang didasarkan atas klaim ijma’ seluruh Ulama adalah penutup para Nabi dalam arti tiada lagi akan ada Nabi yang diutus oleh Allah SWT. Berikut adalah penafsiran dari beberapa Ulama Salaf :

1. Umayyah bin Abi Salt dlm Kitab Diwan hal 24 menulis mengenai Khaataman nabiyin : “Dengannya (Rasulullah saw) telah dicap/stempel para nabi sebelum maupun sesudahnya”.

2. Abu Ubaidah (wafat 209 H) ketika mengomentari Khair Al Khawatim dlm Naqa’id ibn Jarir dan Faradzaq tentang rasulullahsaw sebagai khaataman nabiyyin : “Nabi saw adalah Khaatam al Anbiya, yaitu sebaik-baik para nabi”.

3. Abu Riyash Ahmad Ibrahim Al Qaisi (wafat 339 H) dlm mengomentari kitab Hasyimiyyat karangan Al Kumait berkata : “Barang siapa mengatakan Khaatim al anbiya, maka ia adalah dengannya para nabi di cap/stempel, dan barang siapa yg mengatakan Khaatam al anbiya, maka ia adalah sebaik-baik para nabi. Dikatakan” Fulan khaatam kaumnya”, yakni ia adalah terbaik dari antara mereka”.

4. Allamah Al Zarqani menulis dlm Syarah Al Mawahib Al Laduniyah Juz III, hal 163, bahwa jika khatam dibaca dengan baris di atas ta sebagaimana tersebut dlm Al Qur’an (al ahzab 40), maka artinya : “sebaik-baik para nabi dlm hal kejadian dan dalam hal akhlak”.

5. Imam Mulla Ali al Qari menulis dlm kitabnya Al Maudhu’at hal.59 tentang Khaatam Al Nabiyyin : “Tidak akan datang lagi sembarang nabi yg akan memansukhkan agama Islam dan yg bukan dari umat beliau”.

6. Syekh Abdul Qadir Al Jaelani r.a. dlm Kitab ” Al Insanul Kamil” cetakan Mesir, bab 33, hal 76 menulis : “Kenabian yg mengandung sya’riat baru sudah putus. Nabi Muhammad adalah “Khaataman nabiyyin”, ialah karena beliau telah membawa syari’at yg sudah sempurna dan tiada ada seorang Nabi pun dahulunya yg membawa syariat yg begitu sempurna”.

7. Ibnu Khuldun telah menulis dalam mukadimah tarikh-nya hal 271 : “Bahwa ulama-ulama Tasawuf mengartikan “Khaataman Nabiyyin” begini; yakni Nabi yg sudah mendapat kenabian yg sempurna dalam segala hal”.

8. Syekh Abdul Qadir Al Karostistani r.a. menulis : ” Adanya beliau saw Khaataman nabiyyin maknanya ialah sesudah beliau tidak akan ada nabi diutus dengan membawa syariat lain”. (Taqribul Muram, jld 2, hal 233).

9. Hazrat Sufi Muhyidin Ibn Arabi menulis : “Nubuwat dan Risalah Tasyri’i ( pembawa Syariat) telah tertutup, oleh karena itu sesudah Rasulullah saw tidak akan ada lagi Nabi pembawa/penyandang Syari’at….kecuali demi kasih sayang Allah untuk mereka akan diberlakukan Nubuwat umum yg tidak membawa syariat” (Fushushul Hakam, hal 140-141). Lagi beliau menulis dalam Futuhat al makiyyah Juz 2 : ” Berkata ia : Yakni tidak ada Nabi sesudahku yg berada pada syariat yg menyalahi syariatku , Sebaliknya apabila nanti ada (Nabi) maka ia akan berada di bawah kekuasaan syariatku”.

10. Syekh Muhammad Thahir Gujarati menulis : “Sesungguhnya yg beliau kehendaki ialah tidak ada Nabi yg mengganti syari’at beliau”. (Takmilah Majma’il Bihar, hal 85).

11. Siti Aisyah r.a. bersabda : “Hai, orang-orang kalian boleh mengatakan Khaatamul anbiya, tapi jangan mengatakan setelah beliau tidak ada lagi nabi”. (Tafsir Darul Mantsur Imam As Suyuthi, Jld V, hal.204).

12. Hz. Abdul Wahab Sya’rani (Wafat 976H) menulis : “Ketahuilah bahwa kenabian mutlak tidak tertutup, hanya kenabian syar’i (yg membawa syariat) yg telah tutup”. (Al Yawaqit wal Jawahir, jld 2,h.35)

Dari keterangan di atas maka bisa disimpulkan bahwa penafsiran Khaataman Nabiyyin sebagai Penutup Kenabian (jenis apapun) bukanlah satu-satunya penafsiran. Para penafsiran Ulama Salaf di atas menerangkan bahwa:

1. Khaatamun Nabiyyin adalah pangkat / derajat kenabian tertinggi (tersempurna) yang dikaruniai oleh Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad saw.

2. Kesempurnaan ini juga terkait dengan nikmat syariat yang beliau bawa yaitu Islam.

3. Tidak ada Nabi lagi yang akan datang yang akan melampaui atau bahkan membatalkan kesempurnaan derajat dan syariat beliau (Beliau saw penutup Kenabian Syar’i).

4. Tidak semua jenis kenabian tertutup, hanya kenabian yang membawa syariat yang tertutup.

5. Jika ada Nabi yang datang maka akan tunduk dalam syariat Islam dan berasal dari umatnya.

http://kodokpurba.wordpress.com/2008/06/16/arti-dari-khataman-nabiyyin/

 

Iklan

Menteri Agama Menangis, Saat 20 Anggota Jemaah Ahmadiyah Tasikmalaya Ucapkan Syahadat

In Ahmadiyah on 21 Mei 2013 at 22:30

Ttg Berita Keluarnya Anggota Jema’at Tasikmalaya. “Ass.Wr.Wb. Hari ini di brbgai media massa tlh dimuat pmberitaan tlh keluarnya warga Ahmadi di Tasikmalaya sbnyk 20 org di Masjid Agung Pemda Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat pada saat kunjungan SDA/Surya Dharma Ali (Menteri Agama). Dgn ini kami smpikn dan britahukn kpd smuanya, bhw pmberitaan itu TDK BENAR, tdk ada org2 ahmadi yg mnyatakn keluar. Dan smpi saat ini kami tdk mndpat adanya laporan apapun dari masing2 Pengurus Jemaat Lokal di Wilayah Priatim perihal tsbt. Mohon hal ini di smpikn pada anggota Jema’at lainnya. Jzkmllh. Wass. Mln. Asep Jamaluddin, Mubwil Priangan Timur”. Wassalam-Dendi Ahmad Daud/Pengasuh.

Menteri Agama Menangis, Saat 20 Anggota Jemaah Ahmadiyah Tasikmalaya Ucapkan Syahadat

In Ahmadiyah on 21 Mei 2013 at 22:24

Ttg Berita Keluarnya Anggota Jema’at Tasikmalaya. “Ass.Wr.Wb. Hari ini di brbgai media massa tlh dimuat pmberitaan tlh keluarnya warga Ahmadi di Tasikmalaya sbnyk 20 org di Masjid Agung Pemda Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat pada saat kunjungan SDA/Surya Dharma Ali (Menteri Agama). Dgn ini kami smpikn dan britahukn kpd smuanya, bhw pmberitaan itu TDK BENAR, tdk ada org2 ahmadi yg mnyatakn keluar. Dan smpi saat ini kami tdk mndpat adanya laporan apapun dari masing2 Pengurus Jemaat Lokal di Wilayah Priatim perihal tsbt. Mohon hal ini di smpikn pada anggota Jema’at lainnya. Jzkmllh. Wass. Mln. Asep Jamaluddin, Mubwil Priangan Timur”. Wassalam-Dendi Ahmad Daud/Pengasuh.

20 Pengikut Aliran Sesat Ahmadiyah Masuk Islam

In Ahmadiyah on 21 Mei 2013 at 22:05

Ttg Berita Keluarnya Anggota Jema’at Tasikmalaya. “Ass.Wr.Wb. Hari ini di brbgai media massa tlh dimuat pmberitaan tlh keluarnya warga Ahmadi di Tasikmalaya sbnyk 20 org di Masjid Agung Pemda Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat pada saat kunjungan SDA/Surya Dharma Ali (Menteri Agama). Dgn ini kami smpikn dan britahukn kpd smuanya, bhw pmberitaan itu TDK BENAR, tdk ada org2 ahmadi yg mnyatakn keluar. Dan smpi saat ini kami tdk mndpat adanya laporan apapun dari masing2 Pengurus Jemaat Lokal di Wilayah Priatim perihal tsbt. Mohon hal ini di smpikn pada anggota Jema’at lainnya. Jzkmllh. Wass. Mln. Asep Jamaluddin, Mubwil Priangan Timur”. Wassalam-Dendi Ahmad Daud/Pengasuh.

20 Orang Tinggalkan Ahmadiyah

In Ahmadiyah on 21 Mei 2013 at 21:57

Tentang Berita Keluarnya Anggota Jema’at Tasikmalaya. “Ass.Wr.Wb. Hari ini di brbgai media massa tlh dimuat pmberitaan tlh keluarnya warga Ahmadi di Tasikmalaya sbnyk 20 org di Masjid Agung Pemda Singaparna Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat pada saat kunjungan SDA/Surya Dharma Ali (Menteri Agama). Dgn ini kami smpikn dan britahukn kpd smuanya, bhw pmberitaan itu TDK BENAR, tdk ada org2 ahmadi yg mnyatakn keluar. Dan smpi saat ini kami tdk mndpat adanya laporan apapun dari masing2 Pengurus Jemaat Lokal di Wilayah Priatim perihal tsbt. Mohon hal ini di smpikn pada anggota Jema’at lainnya. Jzkmllh. Wass. Mln. Asep Jamaluddin, Mubwil Priangan Timur”. Wassalam-Dendi Ahmad Daud/Pengasuh.

Berkat daripada Khilafat

In Ahmadiyah, Khalifah I, Khalifah II, Khalifah III, Khalifah IV, Khalifah V, November, Tabligh on 22 November 2009 at 23:19

Oleh: Tommy Bockarie Kallon – Review Of Religion, September 2002
Penterjemah: A.Q. Khalid

Sejak penciptaan awal manusia, kedatangan seorang nabi selalu merupakan manifestasi daripada rahmat Ilahi dan menjadi sumber dari berbagai berkat. Dengan wafatnya Nabi bersangkutan, muncul manifestasi kedua dari rahmat dan karunia Ilahi dalam bentuk lembaga Khilafat. Lembaga Khilafat merupakan sistem Ilahi yang unik. Khilafat merupakan jabatan dan kawasan dari seorang Khalifah atau penerus seorang Nabi, yang dipilih sebagai pemimpin tertinggi dari komunitas mukminin. Yang bersangkutan menduduki posisi akhlak tertinggi di masanya dan dalam dirinya terkandung kewenangan absolut dalam segala hal yang berkaitan dengan agama. Artikel ini memberikan uraian singkat tentang beberapa keberhasilan akbar dari para penerus Hazrat Rasulullah s.a.w. dan Hazrat Masih Maud a.s. yang menggambarkan bagaimana lembaga Khilafat telah menjadi sarana penegakan hegemoni ruhani dan politis Islam.

Semua Nabi-nabi, tanpa kecuali pada hakikatnya adalah manusia biasa. Hanya saja, meski Hazrat Rasulullah s.a.w., Nabi umat Islam, telah berpulang sebagaimana halnya semua Nabi-nabi sebelum beliau, pesan yang dibawanya harus bertahan sampai dengan akhir zaman. Karena itu Allah s.w.t. dalam Al-Quran menjanjikan bahwa Islam akan tetap dipelihara dan diperkuat melalui dedikasi upaya para Khulafa ur-Rasyidin sehingga para musuh tidak lantas bisa bergembira bahwa setelah wafatnya beliau, Islam akan melayu dan lenyap dalam relung-relung sejarah. Kita bisa membaca dalam Ayatul Istikhlaf yaitu ayat Al-Quran yang mengatur tentang masalah Khilafat:

‘Allah telah menjanjikan kepada orang-orang dari antara kamu yang beriman dan berbuat amal saleh bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah-khalifah di muka bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah-khalifah dari antara orang-orang yang sebelum mereka dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai bagi mereka dan niscayalah Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. . .’ (S.24 An-Nur:56)

Janji tentang akan ditegakkannya Khilafat disini jelas dan tidak bisa diragukan lagi. Mengingat Hazrat Rasulullah s.a.w. sekarang menjadi satu-satunya petunjuk bagi umat manusia, maka tentunya Khilafat beliau dengan satu dan lain cara akan selalu eksis di muka bumi sampai dengan akhir kiamat nanti. Hal ini juga yang menjadi ciri kelebihan beliau di atas semua nabi-nabi dan rasul lainnya.
Sejalan dengan janji tersebut maka ketika Hazrat Rasulullah s.a.w. wafat dan ketika semua mukminin sedang amat kebingungan, Hazrat Abu Bakar r.a. dipilih sebagai Khalifah Islam yang pertama. Pemerintahan Islam kemudian segera dirundung berbagai pertikaian internal dan ancaman eksternal. Saat itu muncul beberapa nabi palsu dari antara umat Muslim yang mengambil kesempatan untuk memberontak, sedangkan dari luar musuh-musuh eksternal mulai mengancam keamanan negara Islamiah. Hazrat Abu Bakar r.a. menangani keduanya berdasar sunnah dan teladan, dan dengan cara demikian berhasil menumpas kekuatan pemberontak sehingga Islam terpelihara dari perpecahan dan disintegrasi. Pada akhir masa Khilafat beliau, umat Muslim kembali bersatu di bawah satu panji-panji. Jika kita perhatikan secara cermat kerugian besar yang diderita umat Muslim dengan wafatnya Rasulullah s.a.w., kekosongan yang tercipta akibat kepergian beliau serta beratnya tugas dari orang yang harus mengisi posisinya, kita bisa menyimpulkan bahwa upaya itu bukan main sulitnya dan hanya berhasil diatasi berkat rahmat yang muncul dari kepemimpinan Hazrat Abu Bakar r.a..

Setelah wafat Hazrat Abu Bakar, tampil Hazrat Umar r.a. yang mengenakan jubah Khilafat dan berkat rahmat Allah s.w.t., umat Muslim menikmati banyak sekali karunia di bawah kepemimpinan beliau yang amat tolerant dan lembut hati. Masa Khilafat beliau merupakan masa keemasan dalam sejarah Islam. Energinya yang tak kenal lelah, sifat tidak mementingkan diri sendiri, simpatinya terhadap sesama, kedisiplinan dalam menjalankan tugas, sifat keadilan serta semangat mengkhidmati Islam diakui manusia secara universal dan bahkan masih dikagumi sekarang ini sebagaimana juga pada empatbelas abad yang silam. Beliau mengembangkan berbagai rancangan bagi kesejahteraan umat Muslim. Adalah Hazrat Umar r.a. yang pertama kali memperkenalkan sistem pensiun hari tua yang sekarang dipakai di Barat. Anak-anak yang tidak memiliki pemelihara dibesarkan dengan biaya negara. Pendidikan merupakan suatu kewajiban bagi anak-anak laki dan perempuan. Mereka yang lemah dan cacat tubuh diberi tunjangan dari perbendaharaan negara. Secara umum, rakyat menjadi makmur di bawah kepemimpinan beliau. Kita masih saja terpana membaca bagaimana Hazrat Umar r.a. biasa berjalan malam secara menyamar guna memastikan bahwa rakyat tidak ada yang berkekurangan. Tidak heran jika beliau memperoleh rahmat demikian besar sehingga dalam masa Khilafat beliau, dua kerajaan besar Romawi dan Persia yang tadinya merupakan ancaman bagi Islam, nyatanya bisa dikalahkan secara total.

Hanya saja kemenangan tersebut tidak menjadikan dirinya berubah sifat. Tetap saja beliau mengingatkan pasukan tentaranya untuk selalu mentaati ajaran Islam dan menunjukkan toleransi, keadilan dan kelembutan kepada semua bangsa yang masuk dalam pemerintahan Islam. Mereka ini lalu menterjemahkan kebijakan tersebut dalam tindakan sehingga mereka berhasil memenangkan hati bangsa yang ditaklukkan dan menumbuhkan banyak sahabat di kawasan taklukan itu. Disamping banyaknya taklukan, masa Khilafat dari Hazrat Umar r.a. juga membawa berbagai berkat lain. Beliau menetapkan Majlis Syura yang merupakan dewan penasihat Khalifah. Beliau menunjukkan kejeniusan luar biasa dalam penataan administrasi sipil pemerintahan negara Muslim. Setiap negeri dibagi dalam beberapa propinsi, dibentuk angkatan kepolisian, dilakukan penggalian kanal-kanal irigasi, didirikan baitul mal di mana-mana serta diperkenalkannya kalender Muslim berdasar Hijrah yang amat menolong dalam preservasi sejarah.
Setelah wafatnya sosok akbar ini, Hazrat Usman r.a. terpilih sebagai Khalifah ketiga. Sebagaimana kedua pendahulunya, beliau ini pun seorang pemimpin yang terpuji dimana beliau berhasil memperluas kawasan pemerintahan Muslim lebih jauh lagi. Muncul gelombang pemberontakan dan invasi dari luar tetapi berkat rahmat Ilahi dan berkat daripada Khilafat semuanya berhasil dipadamkan.

Hazrat Usman r.a. banyak memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Beliau mengawasi pembangunan banyak gedung-gedung, jalan-jalan dan jembatan-jembatan baru. Banyak pula didirikan mesjid dan tempat persinggahan di berbagai kota. Kitab Al-Quran sebagaimana keadaannya sekarang ini merupakan hasil kompilasi di bawah pengawasan beliau secara langsung. Hal ini menjadi kontribusinya yang paling utama bagi Islam. Beliau adalah seorang yang amat sederhana dan lembut hati yang tidak pernah goyah dalam integritas, kejujuran dan kesalehannya. Beliau selalu menunjukkan sifat toleransi dan kesabaran yang luar biasa bahkan sampai ke akhir masa Khilafat beliau ketika berbagai faksi berupaya menggulingkan beliau. Beliau menolak menanggalkan jubah Khilafat yang dititipkan Allah s.w.t. tetapi pada saat yang sama juga tidak mau melawan mereka agar tidak sampai mengalirkan darah Muslim yang tidak berdosa. Beliau kemudian dibunuh, tetapi tidak ada yang meragukan bahwa beliau menyerahkan nyawa demi integritas Khilafat dan demi kemaslahatan Islam.

Wafatnya Hazrat Usman r.a. merupakan salah satu bab paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Kesatuan dan persatuan umat Muslim terpecah sudah. Pertikaian internal menjadi bumbu kehidupan sehari-hari dimana umat Muslim saling bermusuhan satu sama lain. Hazrat Ali r.a. dipilih sebagai Khalifah keempat enam hari setelah wafatnya Hazrat Usman r.a.. Beliau memaklumkan bahwa prioritas utamanya adalah mengembalikan hukum dan ketertiban dalam negeri dan untuk tujuan ini beliau amat menahan diri guna menghindari pertumpahan darah meski beberapa sahabat Rasulullah yang berpengaruh besar telah memintanya untuk mengadili para pembunuh Hazrat Usman. Ketika kota Medinah kemudian merosot menjadi masyarakat tidak berhukum, Hazrat Ali r.a. memindahkan ibukota dari Medinah ke Kufa di Irak. Sayangnya masa Khilafat beliau digrogoti oleh kekacauan dan perpecahan. Beliau mencoba menenangkan umat Muslim namun rupanya gejala penyakit anti-Khilafat sudah meruyak dan tidak bisa diobati lagi. Muncul beberapa perang saudara dan seluruh kerancuan itu memuncak pada saat sahidnya Hazrat Ali r.a..
Seperti kata pepatah Afrika, ‘nilai suatu naungan belum dihargai sampai kemudian pohonnya ditebang.’ Dengan terbunuhnya Hazrat Ali r.a. maka mercu suar cemerlang dari bimbingan dan persatuan, sumber mata air berkat dan rahmat, semuanya menjadi punah. Umat Muslim telah membuang jubah Khilafat dan besertanya segala rahmat ikutan. Sebagai pengganti Khilafat, ditegakkan sistem kerajaan yang kalis dari keluhuran ruhani dimana muncul berbagai dinasti atau wangsa dalam rentang masa sekian abad. Perang saudara dan pertengkaran keluarga amat melemahkan umat Muslim. Bangsa-bangsa yang dimasa lalu gemetar dan tunduk kepada mereka sekarang berbalik menyerang dan selalu berhasil mempermalukan umat Muslim. Pengaruh dan dominasi Islamiah mulai memudar sampai akhirnya agama-agama lain yang meski berlandaskan akidah palsu tetapi nyatanya telah berhasil mendominasi agama Islam yang hakiki.
Upaya menegakkan kembali Khilafat di antara umat Muslim di masa kini merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi. Islam masa kini terpecah belah oleh pertikaian internal dan intrik-intrik eksternal dan sungguh-sungguh membutuhkan seorang pemimpin berintegritas luhur yang bisa mengemban lembaga Khilafat agar dengan petunjuk Ilahi bisa membimbing umat Muslim. Berbagai gerakan muncul di kalangan Muslim ortodoks yang mencoba menegakkan kembali Khilafat. Tetapi menyedihkan sekali bahwa semua upaya tersebut telah gagal. Hal mana sebenarnya akibat dari mereka itu kalis dari petunjuk Ilahi dan semata-mata didasarkan pada upaya manusia yang tidak lepas dari sifat mementingkan diri dan nafsu berkuasa.
Khilafat merupakan wacana ruhani yang sepenuhnya milik Allah s.w.t. dimana kemunculannya tidak pernah mewujud sebagai hasil dorongan politis atau gerakan pseudo-agama. Dimana pun jika Allah s.w.t. menghendaki terwujudnya Khilafat, selalu berkaitan dengan penerusan kerja seorang Nabi Allah. Dalam sejarah tidak pernah tercatat ada Khilafat yang bisa muncul tanpa didahului seorang Nabi. Khilafat yang dijanjikan dalam Al-Quran adalah sebagai penerusan langkah seorang Nabi. Dikemukakan dalam salah riwayat bahwa Hazrat Rasulullah s.a.w. bersabda:

‘Kenabian akan berada di tengah kalian selama Tuhan menghendaki. Dia akan mengakhirinya dan meneruskannya dengan Khilafat berdasarkan sunnah rasul, untuk jangka waktu selama dikehendaki-Nya dan setelah itu akan mengakhirinya. Bentuk monarki tiranikal akan mengikutinya dan akan ada selama Allah menghendakinya untuk kemudian juga diakhiri. Setelah itu akan muncul despotisme non-monarki selama Allah menghendakinya dan akan berakhir sesuai takdir-Nya. Barulah setelah itu akan muncul Khilafat yang berdasarkan sunnah Kenabian.’ (Masnad Ahmad)
Dari nubuatan Hazrat Rasulullah s.a.w. ini jelas bahwa Khilafat yang akan muncul kemudian setelah beliau akan terdiri dari dua era, yaitu yang satu langsung mewujud setelah kewafatan beliau, dimana dengan era Khilafat yang satunya lagi, akan ada periode rejim yang bersifat supresif, opresif dan kejam. Saat wafat Hazrat Rasulullah s.a.w. lembaga Khilafat yang beberkat itu langsung mewujud sebagaimana dinubuatkan. Khilafat baru akan mewujud lagi dengan kemunculan Al-Masih yang Dijanjikan yaitu pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah.

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dari Qadian adalah seorang hamba Allah dan pengikut Hazrat Rasulullah s.a.w. yang setia. Beliau menyatakan bahwa dirinya telah ditunjuk Allah s.w.t. sebagai suara penyeru di zaman ini, bahwa dirinya adalah Al-Masih serta Imam Mahdi yang dinubuatkan dalam hadith Rasulullah s.a.w.. Beliau menyatakan bahwa semua nubuatan yang terkandung dalam berbagai kitab suci semua agama tentang kedatangan seorang utusan Ilahi di akhir zaman, telah terpenuhi dalam dirinya. Bahwa Tuhan telah membangkitkan dirinya untuk siar Islam di zaman ini dan bahwa Tuhan telah memberikan kepadanya wawasan tentang isi Al-Quran serta mengungkapkan kepadanya makna dan kebenaran hakikinya.
Melalui karya beliau, pesan-pesan dan teladan yang diberikan, beliau mengagungkan Hazrat Rasulullah s.a.w. serta mengungkapkan superioritas Islam di atas semua agama lainnya sedemikian rupa sehingga Hazrat Rasulullah s.a.w. akan diterima sebagai Khataman Nabiyyin oleh semua bangsa di dunia. Ketika fanatisme dan kekaburan menjadi ciri cara berfikir Muslim, beliau mengungkapkan khazanah tak terbatas berisi pengetahuan, filsafat dan kebijakan Al-Quran. Nilai-nilai moral dan spiritual sebagaimana diterakan dalam Al-Quran dan diilustrasikan secara sempurna oleh Hazrat Rasulullah s.a.w. telah beliau hidupkan kembali sehingga manusia bisa menarik manfaat tidak saja dari sunnah tetapi juga dari teladan beliau.

Ketika Hazrat Masih Maud a.s. wafat, muncul obituari dari Muslim yang berfikiran terbuka dan non-Muslim pun ikut memuji fitrat messianik, kesucian dan ketakwaan beliau. Namun para musuh yang berfikiran cupat langsung bergembira atas kewafatan beliau, sambil mengharap bahwa apa yang mereka anggap sebagai bid’ah besar sekarang akan mati dengan sendirinya. Pada saat kritis demikian, salah seorang pengikut beliau yang paling setia, seorang ulama, dokter yang terkenal, seorang penafsir Al-Quran yang terpelajar, secara aklamasi dipilih menjabat sebagai Khalifatul Masih. Berkat rahmat Allah s.w.t., dalam kapasitas tersebut beliau berhasil mengemudikan bahtera Ahmadiyah ke perairan yang aman dan menjaganya dari disintegrasi. Nama beliau adalah Nuruddin (Nur Agama) dan sinonim dengan kecemerlangan jasa beliau dalam mengkhidmati agama.

Hazrat Maulvi Nuruddin r.a. memiliki keimanan bulat kepada Allah s.w.t. dan sepenuhnya bertopang kepada-Nya untuk segala kebutuhan dirinya. Sebagai sosok Khalifatul Masih, peran beliau amat beraneka dan berfaset banyak. Meski kesehatan dirinya tidak selalu baik namun semua tugas-tugas dilaksanakannya dengan wajah teduh dan kesungguhan yang membuat orang lain iri. Beliau tetap mendiagnosa dan memberi obat kepada para pasien, memberikan pengarahan, nasihat dan petunjuk kepada para pejabat Jemaat, memberikan khutbah tentang Al-Quran, Hadith dan filosofi Islam, mendiktekan jawaban atas kritik terhadap Islam serta mempelajari proyek-proyek siar Islam. Namun yang paling menonjol dari beliau adalah laku pemeliharaan dan penguatan lembaga Khilafat dalam menghadapi tentangan dari para pengacau yang berusaha mendongkel kewenangan beliau dan menciptakan kegalauan dalam Jemaat. Tidak ada suatu apa pun yang bisa mempengaruhi tekad dan kebijakan beliau. Dengan suara lantang tanpa tedeng aling-aling beliau menyatakan: ‘Aku nyatakan dengan sesungguhnya dan Allah menjadi saksi bahwa aku tidak akan menanggalkan jubah yang telah dikaruniakan oleh-Nya kepadaku.’

Ketika beliau wafat, jubah Khilafat tersebut diberikan kepada Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. Wujud Khalifatul Masih II ini adalah Putra yang dijanjikan kepada Hazrat Masih Maud a.s.. Kelahiran beliau merupakan pemenuhan nubuatan akbar dari Hazrat Masih Maud bahwa dirinya akan dikaruniai seorang putra yang fitrat dan keluhurannya akan menjadi amat luar biasa. Beliau ini ditahbiskan sebagai Khalifatul Masih pada usia relatif muda yaitu 25 tahun dan berkat rahmat Ilahi, masa jabatan beliau diberkati dengan keberhasilan yang sungguh luar biasa tak ada tandingannya. Dengan dana yang amat terbatas, beliau membimbing Jemaat ini menggapai ketinggian yang tadinya tidak pernah terbayangkan. Yang paling mencolok dari berbagai skema yang dilancarkan beliau adalah Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid yang menjadi sarana guna membangun Jemaat ini hampir di semua negeri di dunia. Adalah kejeniusan dirinya yang unik yang juga telah melahirkan badan-badan pendukung yang merupakan anak-anak organisasi sehingga sekarang ini semua anggota Jemaat merasa terikat satu sama lain dalam suatu tali persaudaraan yang akrab dalam melaksanakan program-program peningkatan nilai-nilai akhlak dan keruhanian.

Hazrat Khalifatul Masih II menetapkan pembentukan Majlis Syura dalam Jemaat, sebuah dewan penasihat yang bertemu setiap tahun guna mempertimbangkan dan memberikan saran kepada Khalifah berkenaan dengan kebijakan-kebijakan penting. Beliau juga menetapkan dewan Qada yang merupakan sistem yudisial, yang memberikan kesempatan kepada Jemaat untuk menyelesaikan pertikaian internal dengan cara yang adil, ekonomis dan terhormat, sejalan dengan hukum dan yurisprudensi Islam. Beliau juga yang mengawali Jalsah Siratun Nabi dan Hari Pendiri Agama-agama Dunia guna merayakan riwayat hidup Rasulullah s.a.w. dan semua Nabi pendiri agama-agama besar. Beliau juga mempunyai perhatian khusus terhadap masalah-masalah politis dan sosial yang kompleks dan dengan itu berhasil menyelamatkan Jemaat melalui Perang Dunia yang menakutkan serta migrasi besar-besaran ke Pakistan setelah aksi perpisahan dengan India pada tahun 1947 dimana beliau mendirikan kota Rabwah dari titik nol di sebidang tanah yang tadinya tidak bisa dihuni sama sekali.

Buku-buku dan selebaran yang diterbitkan Hazrat Khalifatul Masih II lebih dari 200 judul sehingga hal ini mentabalkan beliau sebagai ahli agama dan ahli diagnostika tentang kebenaran-kebenaran eksternal. Karunia terbesar dari masa Khilafat beliau adalah magnum opus berbentuk Tafsiri Kabir yaitu tafsir Al-Quran yang amat mendetil. Tafsir setebal sepuluh ribu halaman ini mengandung berbagai pemahaman esoterika dan pengungkapan ribuan hakikat keruhanian serta rahasia-rahasia tersembunyi, banyak dari antaranya yang belum pernah dikemukakan siapa pun sebelumnya. Masa Khilafat beliau merentang selama limapuluh dua tahun dan merupakan periode emas dalam sejarah Ahmadiyah dan Islam. Meski demikian banyak tugas dan kegiatan yang harus dilakukan, beliau tetap berusaha keras agar Jemaat selalu tetap aktif dalam memperbaiki diri dan dalam kegiatan siar Islam. Beliau mengerahkan segala kemampuan unggulan yang ada pada diri beliau, selalu memberikan nasihat, ajakan dan teguran. Beliau sendiri memberikan teladan diri yang cemerlang dan menghabiskan sebagian malam dalam berdoa kepada Tuhan.
Ketika Hazrat Khalifatul Masih II wafat maka putra beliau yang tertua yaitu Hazrat Mirza Nasir Ahmad r.a. terpilih sebagai Khalifatul Masih III. Dalam masa Khilafat beliau selama tujuhbelas tahun, dengan kemampuan administratif yang unik dan perencanaan kemaslahatan jangka panjang yang menonjol, beliau telah berhasil memperkuat Jemaat dan mengembangkannya secara luar biasa. Beberapa ciri mencolok dari masa Khilafat beliau antara lain adalah pendirian Yayasan Fazl Umar guna mengembangkan aktivitas di bidang riset, pendidikan, tugas-tugas muballigh dan kesejahteraan ekonomi Jemaat serta Majlis Nusrat Jehan yang mendirikan berpuluh sekolah dan rumah sakit di Afrika Barat, semata-mata demi kemanusiaan tanpa motivasi laba. Melalui skema tersebut, berjuta-juta bangsa Afrika yang kemudian masuk dalam Jemaat Ahmadiyah dan sekarang pun masih berlangsung terus. Namun mungkin yang paling dikenang dari diri beliau adalah modus vivendi yang sederhana tetapi pragmatis yang diwariskan kepada Jemaat yaitu motto: Love for All, Hatred for None (Kasih untuk semua, tiada kebencian bagi siapa pun).

Sekarang ini kita sedang melalui masa keemasan dari Hazrat Khalifatul Masih IV. Beliau ini sebagaimana juga para pendahulu sebelumnya adalah sosok yang memperoleh bimbingan Ilahi. Beliau melancarkan berbagai skema guna memobilisasi upaya Jemaat bagi kegiatan siar Islam secara global. Pada tanggal 10 Juni 2002 yang merupakan tahun ke 20 masa Khilafat beliau, Jemaat demikian diberkati dengan pertambahan anggota dari tadinya sekitar 10 juta orang sampai sekarang telah mencapai 150 juta orang di seluruh dunia. Di bawah bimbingan beliau, ribuan mesjid, rumah missi, klinik, rumah sakit, sekolah dan perguruan tinggi didirikan demi pengkhidmatan kepada Islam. Rumah-rumah obat homeopathy didirikan di seluruh dunia di bawah bimbingan beliau, memberikan pengobatan untuk berbagai penyakit tanpa memungut biaya. Di antara sekian banyak buku yang dikarangnya, Revelation, Rationality, Knowledge and Truth merupakan buku yang paling kondang diakui sebagai karya tulis terbesar di abad lalu. Pengabdian bagi Al-Quran nyata dari supervisi langsung yang beliau lakukan atas berbagai terjemah dan revisi akurat terjemahan Al-Quran dalam berbagai bahasa, dimana beliau sendiri menyumbangkan terjemah dan tafsir bernas dalam bahasa Urdu.
Muslim Television Ahmadiyya (MTA) merupakan saluran televisi global Muslim pertama yang diterjemahkan dalam delapan bahasa adalah juga hasil pemikiran Hazrat Khalifatul Masih IV. Hampir tidak mungkin membilang segala berkat yang telah ditimbulkan oleh peluncuran MTA International ini. Saluran ini menjadi sumber pengetahuan, mengajarkan berbagai bahasa, membahas masalah-masalah topikal dan kaitannya dengan kesejahteraan moral dan spiritual manusia. Secara umum, saluran ini menjadi nara sumber bagi pemerhati agama dan filsafat di seluruh dunia. Kunci keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari kemunculan Hazrat Khalifatul Masih dalam berbagai tayangan sehingga baik Muslim mau pun non-Muslim bisa memetik faedah dari luas pengetahuan, kebijaksanaan dan wawasan beliau. Melalui MTA inilah kita bisa menyaksikan kejadian historis seperti Acara Bai’at Internasional pada saat Jalsah Salanah dimana dalam satu tahun saja sekitar 81 juta orang Ahmadi baru bergabung dari ratusan negeri di seluruh dunia, bersama-sama melakukan ikrar bai’at di tangan Hazrat Khalifatul Masih melalui transmisi satelit.
Jelas kiranya bahwa Khilafat tidak saja merupakan suatu lembaga yang amat berberkat tetapi juga merupakan suatu lembaga yang amat penting dalam Islam dan karena itu wajib dipatuhi sebaik-baiknya. Seorang Khalifah dipilih melalui kehendak Ilahi tetapi melalui laku pemilihan oleh kaum mukminin. Dengan kata lain, pada saat kritis dalam pemilihan seorang Khalifah, fikiran dan kalbu para mukminin dibimbing Allah s.w.t. untuk memberi suara kepada orang pilihan-Nya. Karena sosok Khalifah dipilih sejalan dengan kehendak Ilahi maka laku ketidak-patuhan kepadanya sama dengan tidak patuh kepada Tuhan. Hal ini dengan sendirinya menjadi prasyarat bagi kelanjutan lembaga Ilahi yang akbar tersebut. Bagi Jemaat Ahmadiyah, Khilafat tidak diragukan lagi adalah karunia terbesar yang bisa dinikmati. Sosok Khalifah memainkan peran sentral sebagai pemersatu Jemaat di bawah satu panji-panji. Bagi semua anggota Jemaat, sosok Khalifah menjadi bapak yang mengasihi kepada siapa mereka bisa meminta bimbingan, nasihat dan dorongan. Bagi semua orang yang berfikir dan berniat baik maka sosok Khalifah menjadi kawan dan konselor, sedangkan bagi mereka yang sedang kesulitan maka ia menjadi penghibur.
Hanya melalui berkat Khilafat dan rahmat Ilahi maka Islam maju di masa lalu dan hal yang sama insya Allah akan berlanjut sekarang selama berabad-abad yang akan datang. Kenabian merupakan benih yang pertumbuhannya kemudian dipelihara agar menyebar ke seluruh dunia oleh lembaga Khilafat. Setelah berpulangnya Hazrat Rasulullah s.a.w., adalah melalui kinerja Khulafa ur-Rasyidin maka Islam menyebar ke seluruh dunia yang dikenal waktu itu. Sekarang ini di bawah bimbingan Khalifatul Masih maka Jemaat Islam Ahmadiyah terus menyebar ke seluruh dunia dengan kecepatan tinggi meski dirintangi oleh para fanatikus yang memusuhi, baik yang individual mau pun pemerintahan, yang berupaya memupus Ahmadiyah dari muka bumi. Berkat rahmat Khilafat Ahmadiyah maka janji Allah dalam Al-Quran bahwa ‘Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai bagi mereka’ akan terpenuhi. Sudah dekat hari-harinya ketika kita akan melihat persatuan umat manusia di bawah panji-panji Islam dan kita akan menyaksikan manifestasi final dan universal dari Ketauhidan Allah s.w.t.

http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&task=view&id=181&Itemid=1

Persyaratan Masuk Dalam Jemaat Ahmadiyah

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Aqidah, Ghulam Ahmad, Imam Mahdi, Kamis, Khalifah I, Khalifah II, Khalifah III, Khalifah IV, Khalifah V, November, Tabligh, Tarbiyat on 12 November 2009 at 01:07

SYARAT-SYARAT BAI’AT
DALAM JEMA’AT AHMADIYAH

Oleh: HAZRAT IMAM MAHDI, MASIH MAU’UD A.S.

Orang yang bai’at berjanji dengan hati yang jujur bahwa:

1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.
2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
3. Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim salawat kepada Junjungannya Yang Mulia Muhammad Rasulullah s.a.w. dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
4. Tidak akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
5. Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah atau pun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah Alquran Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
7. Meninggalkan takabur dan sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan santun.
8. Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih daripada jiwanya, hartanya, anak-anaknya, dan dari segala yang dicintainya.
9. Akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud” semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.

Diterjemahkan dari “ISYTIHAR TAKMIL TABLIGH”

Arti Khataman Nabiyyin menurut Ahmadiyah

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Aqidah, Kamis, Tabligh, Tafsir on 12 November 2009 at 01:02

Pandangan Ahmadiyah tentang “Khataman Nabiyin” :
Berikut ini keterangan dalam Hadits serta literatur-literatur terkenal dalam dunia Islam yang telah mengungkapkan penggunaan kata khaatam dengan arti yang menunjukkan suatu derajat (rank) kemuliaan, keunggulan, keutamaan, kesempurnaan, atau derajat lainnya, sebagai berikut:

(i) Hadhrat Ali r.a. adalah “khaatam-ul-auliya” (Tafsir Saafi, pada Surah al-Ahzab). Apakah setelah Hz. Ali r.a. wafat tidak ada auliya (wali) lagi? Tentu tidak. Banyak kemudian hadir wali-wali Allah yang termashur dalam dunia Islam.

(ii) Imam Syafi’i r.h. (767-820) juga disebut “khaatam-ul-auliya” (Al Tuhfatus-Sunniyya, hlm. 45)

(iii) Syekh Ibn-ul-Arabi r.h. (1164-1240) disebut sebagai “khaatam-ul-auliya.” (Futuhaat Makkiyyah, pada halaman judul)

Tiga orang auliya (wali) Allah ini masing-masing telah diberikan gelar khaatam-ul-auliya. Bagaimanakah kata khaatam menurut ungkapan bahasa Arab itu hanya dapat diartikan sebagai terakhir/penutup saja, yaitu tidak boleh ada lagi auliya (wali) lain setelah Hz. Ali bin Abi Thalib r.a.?

Kita lanjutkan pemakaian dan ungkapan kata khaatam menurut bahasa Arab.

(iv) Abu Tamaam (804-845), seorang penyair yang dijuluki sebagai “khaatam-usy-syu’araa” (Dafiyaatul A’ayaan, vol. 1, hlm. 123, Kairo). Apakah setelah Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi? Tentu tidak. Banyak kemudian hadir penyair-penyair terkenal dalam dunia Islam.

(v) Abu Al-Tayyib (915-965) juga disebut sebagai “khaatam-usy-syu’araa” (Muqaddimah Deewan Al-Mutanabbi, Mesir, hlm. 10)

(vi) Abul al-‘Alaa al-Ma’arri (973-1057) juga dinyatakan sebagai “khaatam-usy-syu’araa” (Muqaddimah Deewan Al-Mutanabbi, Mesir, Catatan kaki, hal 10)

(vii) Syekh Ali Hazeen (1701-1767) juga dikenal sebagai “khaatam-usy-syu’araa” di negeri Hindustan (Hayati Sa’adi, hlm. 117)

(viii) Habib Shirazi juga dihormati sebagai “khaatam-usy-syu’araa” di Iran (Hayati Sa’adi, hlm. 87)

Dari lima orang penyair di atas masing-masing telah diberikan gelar khaatam-usy-syu’araa. Bagaimanakah kata khaatam menurut ungkapan bahasa Arab itu hanya dapat diartikan sebagai terakhir/penutup saja, yaitu tidak boleh ada lagi penyair lain setelah Abu Tamaam?

Kita lanjutkan pemakaian dan ungkapan kata khaatam menurut bahasa Arab.

(ix) Kamper (Camphor), obat anti ngengat dan jamur disebut “khaatam-ul-kiraam” atau “obat yang terunggul.” (Sharh Deewan-al Mutanabbi, hlm. 304).

Apakah tidak ada obat lain yang digunakan atau ditemukan setelah kamper, jika kata khaatam diartikan sebagai terakhir/penutup?

(x) Imam Muhammad Abduh dari Mesir digelari “khaatam-ul-a’imma” (Tafsir Al-Fatihah, hlm. 148). Apakah tidak ada lagi pemimpin (Imam) agama setelah Muhammad Abduh?

(xi) Al-Sayyid Ahmad Al-Sanusi dinamakan “khaatam-ul-mujahidiin” (Akhbaar Al-Jaami’atul Islamiyyah, Palestina, 27 Muharram 1352 H). Apakah Sayyid Ahmad Sanusi merupakan mujahid terakhir/penutup di Palestina?

(xii) Ahmad bin Idris disebut “khaatam-ul-muhaqqiqin” (Al-Aqd-al-Nafees). Apakah Ahmad bin Idris orang yang terakhir mencari kebenaran (haq)?

(xiii) Abul Fazl Al-Alusi juga disebut “khaatam-ul-muhaqqiqin” (Pada halaman judul dari Tafsir Ruhul Ma’aani)

(xiv) Syekh Al-Azhar Saleem Al Bashree juga disebut “khaatam-ul-muhaqqiqin” (Al-Heraab, hlm. 372)

(xv) Imam Abdurahman As-Suyuthi r.h. juga dicatat sebagai “khaatam-ul-muhaqqiqin.” (Pada halaman judul Tafsir Itqaan)

Sampai di sini menjadi semakin jelas arti dan hakikat sesungguhnya dari kata khaatam. Selanjutnya kita dapatkan lagi:

(xvi) Hadhrat Shah Waliyullah dari Delhi diakui sebagai “khaatam-ul-muhaditsiin” (Ajaala Naafi’a). Apakah tidak ada lagi ahli Hadits lain di dunia ini setelah Hz. Shah Waliyyullah?

(xvii) Syekh Syamsuddin disebut sebagai “khaatama-tul-huffaaz” (Al-Tajreed-us Sareeh, Muqaddimah, hlm. 4). Hafiz adalah orang yang hafal luar kepala seluruh isi Al-Qur’an. Apakah tidak ada lagi hafiz di dunia ini setelah Syekh Syamsuddin?

(xviii) Syekh Rasyid Ridha mendapat gelar sebagai “khaatam-ul-mufassirin” (Al-Jaami’atul Islamiyyah, 9 Jumadi-us-Tsaani, 1354 H). Apakah tidak ada lagi ahli tafsir di dunia ini setelah Syekh Rasyid Ridha?

(xix) Dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun, halaman 271 terdapat istilah “khaatam-ul-wilayah” yang digunakan untuk menunjukkan kesempurnaan wali. Apakah hanya ada satu wali saja di dunia ini?

(xx) Imam Suyuthi mendapat gelar “khaatam-ul-muhadditsin” (Hadya Al-Shiah, hlm. 210). Apakah setelah beliau tidak ada lagi ahli Hadits di dunia ini?

(xxi) Dalam Bible bahasa Arab kita temukan kata “khaatam-ul-kamaal” (gambar kesempurnaan). Kita lihat dalam Yehezkiel 28:12 versi bahasa Indonesia sebagai berikut: “Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Demikianlah firman Tuhan Allah: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah.”

(xxii) Dalam Hadits kita temukan “khaatam-ul-muhajiriin.” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tentramlah wahai pamanku, sesungguhnya engkau adalah khaatam-ul-muhajiriin dalam hijrah, sebagaimana aku adalah khaataman-nabiyyiin dalam kenabian.” (H. R. Ibnu Asakir dan Asyaasyi, dalam Kanzul ‘Ummal, Alaudin Alhindi, Muassatur Risalah, Beirut, 1989, jld. XIII, hlm. 519, Hadits no. 37339). Apakah setelah Hz. Abbas r.a. tidak ada lagi orang yang berhijrah ke Medinah? Apakah Hz. Abbas r.a. adalah orang yang terakhir berhijrah ke Medinah? Tentu tidak.
Dan masih banyak contoh lainnya mengenai pemakaian kata khaatam yang dapat ditemukan dalam literatur-literatur dunia Islam yang mengungkapkan kata khaatam bukanlah mutlak berarti terakhir/penutup saja.
Jadi, sesuai dengan literatur-literatur berbahasa Arab seperti di atas, maka makna kata khaatam memiliki arti yang menunjukkan suatu derajat (rank) kemuliaan, keunggulan, keutamaan, kesempurnaan, atau derajat lainnya.

Sumber : http://www.cybermq.com/forum/isi/3/8/2575

PENDIRIAN DAN ITIKAD JEMAAT AHMADIYAH

In Ahmadiyah on 12 November 2009 at 01:02

PENDIRIAN DAN ITIKAD JEMAAT AHMADIYAH

Riwayat Singkat Jemaat Ahmadiyah

Jemaat Ahmadiyah adalah gerakan dalam Islam yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. pada tahun 1889 atau tahun 1306 Hijrah. Beliau lahir di Qadian, India, pada Jum’at pagi, tanggal 13 Februari 1835 bertepatan dengan 14 Syawal 1250 H dan berpulang ke rahmatullah pada tanggal 26 Mei 1908.

Berdasarkan wahyu-wahyu dan perintah Allah Swt. beliau adalah Almasih Yang Ditunggu dan Imam Mahdi Yang Dijanjikan kedatangannya di kemudian hari sebagaimana dinubuwatkan oleh junjungan kita Nabi Muhammad saw. Beliau berpangkat Nabi dan Rasul, tetapi tidak membawa syariat yang baru. Syariat yang dipegang teguh oleh beliau adalah Al-Qur’an Suci 30 Juz serta Sunnah Rasulullah saw. Tugas beliau yang berkali-kali diwahyukan oleh Allah Swt. kepada beliau adalah “yuhyid diina wa yuqiimusy syriah”, yaitu semata-mata menghidupkan agama serta menegakkan syariat agama Islam. Beliau telah menulis lebih dari 80 buku dalam bahasa Urdu, Parsi, dan Arab dengan maksud menjelaskan kepada penduduk dunia tentang kesucian dan kemuliaan ajaran-ajaran Islam. Dalam salah satu buku yang berjudul AL-WASIYAT, beliau berpesan antara lain :
“Adalah kehendak dan keinginan Allah Swt. bahwa Dia akan menarik semua roh-roh suci yang tinggal pada berbagai tempat dalam berbagai negeri di Eropa atau Asia, semua orang yang mempunyai fitrat baik, kepada ajaran Tauhid. Allah Swt. akan mengumpulkan semua hamba-hamba-Nya dalam agama yang satu. Inilah maksud Allah Swt. yang untuk perwujudannya ini aku telah diutus ke dunia. Maka ada baiknya kamu mengikuti benar-benar maksud itu, tetapi dengan jalan lemah lembut, mengutamakan keluhuran akhlak serta banyak-banyak berdo’a ke hadirat Allah Swt.”.
Setelah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Almasihul Mau’ud dan Imam Mahdi wafat, sesudah mengumpulkan kira-kira 200.000 pengikut-pengikut yang saleh dan setia, pimpinan Jemaat Ahmadiyah diteruskan dengan khilafat sesuai dengan sunnah Islam. Sebagai Khalifatul Masih I dipilih Hadhrat Haji Hakim Nuruddin r.a. yang wafat pada tanggal 13 Maret 1914. Beliau ini pernah menjadi guru agama di kota Medinah. Beliau keturunan langsung dari Khalifah yang kedua, Sayyidina Umar r.a.
Setelah beliau ini, dipilih Hadhrat Haji Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a., Mushlih Mau’ud, sebagai Khalifatul Masih II. Mengenai diri beliau ini, Hadhrat Imam Mahdi a.s. banyak menerima wahyu dari Allah Swt. yang menyatakan bahwa Hadhrat Haji Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad akan memainkan peranan untuk perkembangan Islam. Beliau memegang jabatan Khilafat selama 51 tahun dan telah menulis lebih dari 200 buku mengenai keluhuran dan kesucian ajaran-ajaran agama Islam, di antaranya tafsiran Al-Qur’an Suci setebal kira-kira 10.000 halaman. Dalam masa pimpinan beliau, Jemaat Ahmadiyah berkembang ke seluruh penjuru bumi. Beliau wafat pada tahun 1965 dan meninggalkan kira-kira 10 juta pengikut-pengikut Ahmadi yang sangat setia.
Kemudian setelah beliau wafat, dipilih Hadhrat Hafiz Mirza Nasir Ahmad rh. sebagai Khalifatul Masih III. Beliau memperoleh pendidikan di sekolah-sekolah tinggi di India, Pakistan dan Inggris serta hafal di luar kepala Al-Qur’an 30 juz. Setelah beliau ini wafat dalam 1982, lalu dipilih Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rh. sebagai Khalifatul Masih IV, yang hingga sekarang memegang pimpinan Jemaat Ahmadiyah.
Pada masa ini pengikut Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia berjumlah kurang lebih 20 juta orang. Missi-missi dan pusat pertablighan Jemaat Ahmadiyah selain didapati di Pakistan, India dan Bangladesh tersebar pula di seluruh pelosok dunia seperti di Amerika dengan mesjid-mesjidnya di Dayton, Chicago, Washington dan di beberapa kota di Canada dan lain-lain. Demikian pula kita jumpai anggota-anggota Jemaat Ahmadiyah di Afghanistan, Persia (Iran) dan negara-negera Timur Tengah lainnya.
Di benua Eropa kita dapati mesjid-mesjid Ahmadiyah di kota London, di kota Zurich (Switzerland), di Den Haag (negeri Belanda), di kota Frankfurt dan Hamburg (Jerman Barat), di Kopenhagen (Denmark), di Gotenberg (Swedia), di Madrid (Spanyol) dan lain-lain.
Di benua Afrika, dibagian Barat dan Timur benua itu, missi-missi Jemaat Ahmadiyah telah banyak membangun proyek-proyek pendidikan dan kesehatan seperti di Nigeria, Ghana, Siera Leon, Gambia, Pantai Gading (Ivory Coast), Kenya, Zambia, Uganda, Tanzania, Mauritius dan lain-lain. Demikian pun terdapat pusat-pusat missi dan mesjid-mesjid di Guyana, Trinidad, Suriname, Kepulauan Fiji, Sri Langka, Malaysia, Singapore, Pilipina, Jepang dan lain-lain.
Kebenaran pendakwaan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai Almasihul Mau’ud dan Imam Mahdi dapat diuji dengan Al-Qur’an Hakim dan Hadits-hadits Nabi Muhammad saw. Jika penyelidikan demikian tidak memberikan kepuasan, dapat diminta petunjuk langsung dari Allah Swt. dengan jalan shalat istikharah yang dilakukan dengan hati khusyu dan ikhlas.

SYARAT-SYARAT BAI’AT MASUK KE DALAM JEMAAT AHMADIYAH
(Diambil dari sabda Hadhrat Masih Mau’ud a.s.).

3.2. Tiap-tiap orang yang hendak bai’at masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah harus berjanji dengan ikhlas hatinya, bahwa :
3.2.1. Dia akan menjauhi syirik sampai meninggal dunia.
3.2.2. Dia akan menjauhkan diri dari zina, berdusta, memandang wanita yang bukan muhrim, menjauhi segala macam kedurhakaan dan kemaksiatan, penganiayaan dan pengkhianatan. Dan akan menjauhi perbuatan yang berupa pemberontakan dan kekacauan. Dan tidak akan membiarkan dirinya dikalahkan oleh dorongan-dorongan hawa-mafsunya, walaupun berapa kuat dan hebatnya.
3.2.3. Dia akan tetap mendirikan sembahyang yang lima waktu, sesuai dengan perintah-perintah Allah Taala dan Rasul-Nya saw. Dan senantiasa berusaha sedapat mungkin untuk mendirikan tahajjud (sembahyang malam), menghaturkan salawat dan salam untuk Nabi Muhammad saw. dan meminta ampun kepada Tuhan dari dosa-dosanya, dan mengingat setiap saat akan nikmat-nikmat-Nya dan karunia-karunia-Nya dengan ikhlas hati, serta bersyukur kepada-Nya dan membiasakan memuji dan menjunjung-Nya.
3.2.4. Dia, walaupun ada dorongan hawa nafsunya, tidak akan menyakiti seorangpun dari pada makhluk Allah pada umumnya, dan kaum Muslimin pada khususnya, baik dengan tangannya maupun dengan lidahnya ataupun dengan jalan lain.
3.2.5. Dia akan tulus dan ikhlas kepada Allah dan ridha kepada keputusan-Nya dalam segala hal, baik waktu duka atau waktu sukar dan senang atau waktu sempit dan lapang. Dan ia bersedia untuk menerima segala macam kehinaan dan menderita segala kesulitan pada jalan-Nya. Dia tidak akan memalingkan diri dari pada-Nya ketika datang suatu musibah atau turun suatu bala, bahkan dia akan lebih akrab mendekati-Nya.
3.2.6. Dia akan berhenti dari mengikuti adat istiadat yang buruk dan keinginan-keinginan yang jahat. Dia akan tunduk sepenuhnya pada ajaran-ajaran Al-Qur’an dan akan menjadikan firman Allah Taala serta sabda Rasul-Nya saw. sebagai pedoman bagi amal perbuatannya pada segala bidang penghidupannya.
3.2.7. Dia akan membuang jauh sifat sombong dan angkuh, dan berlaku sepanjang hidupnya dengan merendahkan diri, dan akan menghadapi ummat manusia dengan muka jernih dan bergaul dengan mereka dengan sopan-santun dan budi pekerti yang baik.
3.2.8. Dia akan memandang agama, kehormatan agama dan kewajiban agama Islam lebih mulia dari jiwa-raganya, harta bendanya, anak cucunya dan dari segala apa saja yang dicintainya.
3.2.9. Dia akan menolong dan mengasihani segala makhluk Allah semata-mata mencari keridhaan-Nya. Dan sebisa-bisanya akan mengorbankan apa-apa yang telah diberikan Allah kepadanya berupa kekuatan dan kekayaan untuk kebaikan sesamanya.
3.2.10. Dia akan mengikat janji persaudaraan dengan Hamba Allah ini (Masih Mau’ud a.s.) semata-mata karena mencari keridhaan Allah Taala, yakni bahwa dia akan menaati aku dalam segala hal ma’ruf yang aku anjurkan kepadanya, kemudian dia tidak akan berpaling dari padanya dan tidak pula akan memungkirinya sampai mati. Dan janji persaudaraan ini hendaklah demikian sempurnanya sehingga tidak ada pertalian-pertalian dunia yang dapat menyamainya, baik pertalian kekeluargaan ataupun perniagaan.
Selain 10 syarat ini, seorang yang masuk Jemaat Ahmadiyah wajib berjanji akan memberikan sumbangan untuk da’wah dan tabligh Islam sedikitnya seper-enam belas (1/16) dan adakalanya sampai sepertiga (1/3) dari penghasilan atau gaji yang diperdapatnya dalam tiap-tiap bulan.

Tafsir Al Fatihah Bag 5 (ayat 6 & 7)

In Ahmadiyah on 12 November 2009 at 00:57

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)

Artinya:
“Tunjukilah kami pada [a] jalan yang lurus; [13]”
________________________________________
[a] 19:37 ; 36:62 ; 42:53,54

Tafsir:
[13]. “Doa ini meliputi seluruh keperluan manusia — kebendaan dan rohani, untk masa ini dan masa yang akan datang. Orang mukmin berdoa agar kepadanya ditunjukkan jalan lutus, jalan terpendek. Kadang-kadang kepada manusia diperlihatkan jalan uang benar dan lurus itu, tetapi ia ridak dipimpin kepadanya, atau, jika ia dibimbing ke sana, ia tidak berditetap pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir. Doa itu menhandaki, agar orang beriman tidak merasa pulas dengan hanya diperlihatkan kepadanya siati kalanm atau juga dengan dibimbing ke sana, ia tidak bersitetap pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir, Dia itu menghendaki, atau orang beriman tidak merasa puas dengan hanya diperlihatkan kepadanya siati jalan, atau juga dengan dibimbing pada jalan itu, tetapi ia harus senantiasa terus menerus mengikutinya hingga mencapai tujuannya, dan inilah makna hidayah, yang berarti, menunjukkan jalan yang lurus (90:11), membimbing ke jalan lurus ( 29:70 ) dan membuat orang mengikuti halan yang lurus ( 7:44 ) (Mufradat dan Baqa ). Pada hakikatnya, manusia memerlukan pertolongan Tuhan pada tiap-tiap langkah dan pada setiap saat, dan sangat perlu sekali baginya, agar ia senantiasa mengajukan kepada Tuhan permohonan yang terkandung dalam ayat ini. Maka oleh karena itu, dia terus-menerus itu memang sangat perlu, Selama kita mempunyai keperluan -keperluan yang belum kesampaian dan keperluan-keperluan yang belum terpenuhi dan tujuan- tujuan yang belum tercapai, kita selamanya memerlukan doa”.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)

Jalan [a] orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, [14] bukan atas mereka [b] yang dimurkai dan bukan pula [c] yang sesat. [15]
________________________________________
[a] 4:70 ; 5:21 ; 19:59
[b] 2:62, 91 ; 3:113 ; 5:61,70
[c] 3:91 ; 5:78; 18:105

Tafsir :
[14]. “Orang mukmin sejati tidak akan merasa puas hanya dengan dipimpin ke jalan yang lurus atau dengan melakukan beberapa amal saleh tertentu saja,. Ia menempatkan tujuannya jauh lebih tinggi dan berusaha mancapai kedudukan saat Tuhan mulai menganugerakan karunia-karunia Ilahi yang dianugerakan kepada para pilihan Tuhan, lalu memperoleh dorongan semangat dari mereka. Ia malahan tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi ia berusaha keras dan mendoa supaya digolongkan di antara “orang-orang yang telah mendapat nikmat itu, telah disebut dalam 4:70. Doa itu umum dan tidak untuk sesuatu karunia tertentu. Orang mukmin bermohon kepada Tuhan agar menganugerakan karunia rohani yang tertinggi kepadanya dan terserah kepada Tuhan untuk menganugerahkan kepadanya karunia yang dianggap-Nya pantas dan layak bagi orang mukmin itu menerimanya”

[15]. “Surah Al-Fatihah membuka suatu tertib indah dalam susunan kata-katanya dan kalimat – kalimatnya. Surah ini dapat dibagi dalam dua bagian yang sama. Separuhnya yang pertama bertalian dengan Tuhan, separuhnya yang kedua dengan manusia, dan tiap bagian bertalian sama sama lain dengan cara yang sangat menarik. Berkenaan dengan nama “Allah swt. ” yang menunjuk kepada Dzat yang memiliki segala sifat mulia yang tersebut dalam bagian pertama. Kita dapati kata- kata, hanya Engkau kamu sembah dalam bagian yang kedua. Segera setelah seseorang abid (yang melakukan ibadah) ingat bahwa Tuhan bebas dari segala cacat dan kekurangan dan memiliki segala sifat sempurna, maka seruan hanya Engkau kamu sembah dengan sendirinya timbul dari hati sanubarinya. Dan sesuai dengan sifat “Tuhan semesta Alam ” tercantum kata-kata kepada Engkau kami mohon pertolongan dalam bagian kedua. Setelah orang Islam mengetahui bahwa Tuhan itu Khalik dan Pemelihara sekalian alam dan Sumber dari segala kemajuan, ia segera berlindung kepada Tuhan, sambil berkata, kepada Engkau kamu mohon pertolongan, Kemudian, sesuai dengan sifat “Ar-Rahman,” yakni Pemberi karunia tak berbilang dan Pemberi dengan cuma-cuma segala keperluan kita, tercantum kata-kata, Tunjukilah kami pada jalan yang lurus dalam bagian kedua; sebab karunia terbesar yang tersedia bagi manusia ialah petunjuk yang disediakan Tuhan baginya, dengan menurunkan wahyu dengan perantaraan rasul-rasul-Nya. Sesuai dengan sifat “Ar-Rahim,” yakni, Pemberi ganjaran terbaik untuk amal perbuatan manusia dengan bagian pertama, kita jumpai kata-kata, Jalan orang- orang yang telah Engkau beri nikmat dalam bagian kedua, sebab memang Ar-Rahim -lah yang menganugerakan nikmat-nikmat yang layak bagi hamba-hamba-Nya yang khas. Lagi, sesuai dengan “Pemilik Hari Pembalasan” kita dapatkan Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Bila terlintas dalam pikiran manusia bahwa ia harus memberikan pertanggunjawaban atas amal perbuatannya, ia takut menemui kegagalan, maka dengan merenungkan sifat Pemilik hari Pembalasan, ia mulai mendoa kepada Tuhan, supaya ia diperlihara dari murka-Nya dan dari kesesatan dari jalan yang lurus.

Sifat khusus lainnya pada doa yang terkandung dalam Surah ini ialah dia itu mengimbau naluri-naluri manusia yang dalam, dengan cara yang wajar sekali. dalam fitrat manusia ada dua pendorong yang merangsangnya untuk menyerahkan diri ialah cinta dan takut. Sebagian orang tergerak oleh cinta, sedang yang lain terdorong oleh takut. Dorongan cinta memang lebih mulia, tetapi mungkin ada dan sungguh-sungguh ada — orang-orang yang hatinya tidak tergerak oleh cinta. Mereka hanya menyerah karena pengaruh takut. Dalam Al-Fatihah kedua pendorong manusia itu telah diimbau. Mula-mula tampil sifat-sifat Ilahi yang membangkitkan cinta, “Pencipta dan Pemelihara sekalian alam,” “Maha Pemurah” dan “Maha Penyayang”. Kemudian. segera mengikutinya sifat “Pemilik Hari Pembalasan,” yang memperingatkan manusia bahwa, bila ia tidak memperbaiki tingkah-lakunya dan tidak menyambut cinta dengan baik, maka ia harus bersedia mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Tuhan. Dengan demikian pendorong kepada “takut:dipergunakan berdampingan dengan pendorong kepada cinta. Tetapi, oleh karena kasih-sayang Tuhan itu jauh mengatasi sifat Murka-Nya sifat ini pun — yang merupakan satu-satunya sifat pokok yang bertujuan membangkitkan takut — tidak dibiarkan tanpa menyebut kasih-sayang. Pada hakikatnya, di sini pun kasih-sayang Tuhan mengatasi murka-Nya, sebab telah terkandung juga dalam sifat ini bahwa, kita tidak akan menghadap seorang Hakim ,tetapi menghadapTuhan Yang berkuasa mengampuni dan Yang hanya akan menyiksa bila siksaan itu sangat perlu sekali. Pendek kata, Al-Fatihah itu khazanah ilmu rohani yang menakjubkan. Al-Fatihah itu surah pendek dengan tujuan ayat ringkas, tetapi Surah yang sungguh-sungguh merupakan tambang ilmu dan hikmah. Tepat sekali disebut “Ibu Kitab,” Al-Fatihah itu intisari dan pati Alquran. Mulai dengan nama Allah swt., Sumber pokok pancaran segala karunia, rahmat dan berkat, Surah ini melanjutkan penuturan keempat sifat pokok Tuhan, ialah :

1. Yang menjadikan dan memelihara alam semesta
2. Maha Pemurah Yang mengadakan jaminan untuk segala keperluan manusia, bahan sebelum ia dilahirkan, dan tampa suatu usaha apa pun dari pihak manusia untuk memperolehnya.
3. Maha Penyayang, Yang menetapkan hasil sebaik mungkin amal perbautan manusia dan Yang menganjarkannya dengan amat berlimpah-limpah.
4. Pemilik Hari Pembalasan.

Di hadapan-Nya, manusia harus menpertanggungjawabkan amal perbuatannya dan Yang akan menurunkan siksaan kepada si jahat, tetapi tidak akan berlaku terhadap makluk-Nya semata-mata sebagai Hakim, melainkan sebagai majikannya Yang melunakkan hukuman dengan kasih-sayang, dan Yang sangat cenderung mengampuni, kapan saja pengampunan akan membawa hasil yang baik. Itulah citra Islam, seperti dikemukakan pada awal sekali Alquran, mengenai Dzat Yang kekuasaan serta kedaulatan-Nya tak ada hingganya dan kasih-sayang serta kemurahan-Nya tiada batasnya. Kemudian datanglah pernyataan manusia bahwa, mengingat Tuhan-nya itu Pemilik semua sifat agung dan luhur, maka ia bersedia malah berhasrat, menyembah Dia dan menjatuhkan diri pada kaki-Nya, agar mohon pertolongan-Nya pada setiap derap langkah majunya dan setiap keperluan yang di hadapinya. Akhirnya, datanglah doa — padat dan berjangkauan jauh — suatu doa yang di dalamnya manusia bermohon kepada Khalik-nya, untuk membimbingnya ke jalan yang lurus dalam segala urusan rohani dan duniawi, baik mengenai keperluan -keperluan sekarang atau pun di hari depan. Ia mencoba kepada Tuhan, agar ia bukan saja dapat menghadapi segala cobaan dan ujian dengan tabah, tetapi selaku “orang-orang terpilih,” menghadapinya dengan cara yang sebaik-baiknya dan menjadi penerima karunia dan berkat Tuhan yang paling banyak dan paling besar, agar ia selama-lamanya terus melangkah maju pada jalan yang lurus, maju terus makin dekat dan lebih dekat lagi kepada Tuhan dan Junjungan-nya, tampa terantuk-antuk di perjalanannya, seperti telah terkadi pada banyak dari antara mereka yang hidup di masa yang lampau. Itulah pokok Surah pembukaan Alquran, yang senantiasa diulangi dengan suatu bentuk atau cara lain, dalam seluruh tubuh Kitab suci itu”.