Jamaluddin Feeli

Archive for the ‘Tabligh’ Category

Berkat daripada Khilafat

In Ahmadiyah, Khalifah I, Khalifah II, Khalifah III, Khalifah IV, Khalifah V, November, Tabligh on 22 November 2009 at 23:19

Oleh: Tommy Bockarie Kallon – Review Of Religion, September 2002
Penterjemah: A.Q. Khalid

Sejak penciptaan awal manusia, kedatangan seorang nabi selalu merupakan manifestasi daripada rahmat Ilahi dan menjadi sumber dari berbagai berkat. Dengan wafatnya Nabi bersangkutan, muncul manifestasi kedua dari rahmat dan karunia Ilahi dalam bentuk lembaga Khilafat. Lembaga Khilafat merupakan sistem Ilahi yang unik. Khilafat merupakan jabatan dan kawasan dari seorang Khalifah atau penerus seorang Nabi, yang dipilih sebagai pemimpin tertinggi dari komunitas mukminin. Yang bersangkutan menduduki posisi akhlak tertinggi di masanya dan dalam dirinya terkandung kewenangan absolut dalam segala hal yang berkaitan dengan agama. Artikel ini memberikan uraian singkat tentang beberapa keberhasilan akbar dari para penerus Hazrat Rasulullah s.a.w. dan Hazrat Masih Maud a.s. yang menggambarkan bagaimana lembaga Khilafat telah menjadi sarana penegakan hegemoni ruhani dan politis Islam.

Semua Nabi-nabi, tanpa kecuali pada hakikatnya adalah manusia biasa. Hanya saja, meski Hazrat Rasulullah s.a.w., Nabi umat Islam, telah berpulang sebagaimana halnya semua Nabi-nabi sebelum beliau, pesan yang dibawanya harus bertahan sampai dengan akhir zaman. Karena itu Allah s.w.t. dalam Al-Quran menjanjikan bahwa Islam akan tetap dipelihara dan diperkuat melalui dedikasi upaya para Khulafa ur-Rasyidin sehingga para musuh tidak lantas bisa bergembira bahwa setelah wafatnya beliau, Islam akan melayu dan lenyap dalam relung-relung sejarah. Kita bisa membaca dalam Ayatul Istikhlaf yaitu ayat Al-Quran yang mengatur tentang masalah Khilafat:

‘Allah telah menjanjikan kepada orang-orang dari antara kamu yang beriman dan berbuat amal saleh bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah-khalifah di muka bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah-khalifah dari antara orang-orang yang sebelum mereka dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai bagi mereka dan niscayalah Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. . .’ (S.24 An-Nur:56)

Janji tentang akan ditegakkannya Khilafat disini jelas dan tidak bisa diragukan lagi. Mengingat Hazrat Rasulullah s.a.w. sekarang menjadi satu-satunya petunjuk bagi umat manusia, maka tentunya Khilafat beliau dengan satu dan lain cara akan selalu eksis di muka bumi sampai dengan akhir kiamat nanti. Hal ini juga yang menjadi ciri kelebihan beliau di atas semua nabi-nabi dan rasul lainnya.
Sejalan dengan janji tersebut maka ketika Hazrat Rasulullah s.a.w. wafat dan ketika semua mukminin sedang amat kebingungan, Hazrat Abu Bakar r.a. dipilih sebagai Khalifah Islam yang pertama. Pemerintahan Islam kemudian segera dirundung berbagai pertikaian internal dan ancaman eksternal. Saat itu muncul beberapa nabi palsu dari antara umat Muslim yang mengambil kesempatan untuk memberontak, sedangkan dari luar musuh-musuh eksternal mulai mengancam keamanan negara Islamiah. Hazrat Abu Bakar r.a. menangani keduanya berdasar sunnah dan teladan, dan dengan cara demikian berhasil menumpas kekuatan pemberontak sehingga Islam terpelihara dari perpecahan dan disintegrasi. Pada akhir masa Khilafat beliau, umat Muslim kembali bersatu di bawah satu panji-panji. Jika kita perhatikan secara cermat kerugian besar yang diderita umat Muslim dengan wafatnya Rasulullah s.a.w., kekosongan yang tercipta akibat kepergian beliau serta beratnya tugas dari orang yang harus mengisi posisinya, kita bisa menyimpulkan bahwa upaya itu bukan main sulitnya dan hanya berhasil diatasi berkat rahmat yang muncul dari kepemimpinan Hazrat Abu Bakar r.a..

Setelah wafat Hazrat Abu Bakar, tampil Hazrat Umar r.a. yang mengenakan jubah Khilafat dan berkat rahmat Allah s.w.t., umat Muslim menikmati banyak sekali karunia di bawah kepemimpinan beliau yang amat tolerant dan lembut hati. Masa Khilafat beliau merupakan masa keemasan dalam sejarah Islam. Energinya yang tak kenal lelah, sifat tidak mementingkan diri sendiri, simpatinya terhadap sesama, kedisiplinan dalam menjalankan tugas, sifat keadilan serta semangat mengkhidmati Islam diakui manusia secara universal dan bahkan masih dikagumi sekarang ini sebagaimana juga pada empatbelas abad yang silam. Beliau mengembangkan berbagai rancangan bagi kesejahteraan umat Muslim. Adalah Hazrat Umar r.a. yang pertama kali memperkenalkan sistem pensiun hari tua yang sekarang dipakai di Barat. Anak-anak yang tidak memiliki pemelihara dibesarkan dengan biaya negara. Pendidikan merupakan suatu kewajiban bagi anak-anak laki dan perempuan. Mereka yang lemah dan cacat tubuh diberi tunjangan dari perbendaharaan negara. Secara umum, rakyat menjadi makmur di bawah kepemimpinan beliau. Kita masih saja terpana membaca bagaimana Hazrat Umar r.a. biasa berjalan malam secara menyamar guna memastikan bahwa rakyat tidak ada yang berkekurangan. Tidak heran jika beliau memperoleh rahmat demikian besar sehingga dalam masa Khilafat beliau, dua kerajaan besar Romawi dan Persia yang tadinya merupakan ancaman bagi Islam, nyatanya bisa dikalahkan secara total.

Hanya saja kemenangan tersebut tidak menjadikan dirinya berubah sifat. Tetap saja beliau mengingatkan pasukan tentaranya untuk selalu mentaati ajaran Islam dan menunjukkan toleransi, keadilan dan kelembutan kepada semua bangsa yang masuk dalam pemerintahan Islam. Mereka ini lalu menterjemahkan kebijakan tersebut dalam tindakan sehingga mereka berhasil memenangkan hati bangsa yang ditaklukkan dan menumbuhkan banyak sahabat di kawasan taklukan itu. Disamping banyaknya taklukan, masa Khilafat dari Hazrat Umar r.a. juga membawa berbagai berkat lain. Beliau menetapkan Majlis Syura yang merupakan dewan penasihat Khalifah. Beliau menunjukkan kejeniusan luar biasa dalam penataan administrasi sipil pemerintahan negara Muslim. Setiap negeri dibagi dalam beberapa propinsi, dibentuk angkatan kepolisian, dilakukan penggalian kanal-kanal irigasi, didirikan baitul mal di mana-mana serta diperkenalkannya kalender Muslim berdasar Hijrah yang amat menolong dalam preservasi sejarah.
Setelah wafatnya sosok akbar ini, Hazrat Usman r.a. terpilih sebagai Khalifah ketiga. Sebagaimana kedua pendahulunya, beliau ini pun seorang pemimpin yang terpuji dimana beliau berhasil memperluas kawasan pemerintahan Muslim lebih jauh lagi. Muncul gelombang pemberontakan dan invasi dari luar tetapi berkat rahmat Ilahi dan berkat daripada Khilafat semuanya berhasil dipadamkan.

Hazrat Usman r.a. banyak memberikan kontribusi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat. Beliau mengawasi pembangunan banyak gedung-gedung, jalan-jalan dan jembatan-jembatan baru. Banyak pula didirikan mesjid dan tempat persinggahan di berbagai kota. Kitab Al-Quran sebagaimana keadaannya sekarang ini merupakan hasil kompilasi di bawah pengawasan beliau secara langsung. Hal ini menjadi kontribusinya yang paling utama bagi Islam. Beliau adalah seorang yang amat sederhana dan lembut hati yang tidak pernah goyah dalam integritas, kejujuran dan kesalehannya. Beliau selalu menunjukkan sifat toleransi dan kesabaran yang luar biasa bahkan sampai ke akhir masa Khilafat beliau ketika berbagai faksi berupaya menggulingkan beliau. Beliau menolak menanggalkan jubah Khilafat yang dititipkan Allah s.w.t. tetapi pada saat yang sama juga tidak mau melawan mereka agar tidak sampai mengalirkan darah Muslim yang tidak berdosa. Beliau kemudian dibunuh, tetapi tidak ada yang meragukan bahwa beliau menyerahkan nyawa demi integritas Khilafat dan demi kemaslahatan Islam.

Wafatnya Hazrat Usman r.a. merupakan salah satu bab paling menyedihkan dalam sejarah Islam. Kesatuan dan persatuan umat Muslim terpecah sudah. Pertikaian internal menjadi bumbu kehidupan sehari-hari dimana umat Muslim saling bermusuhan satu sama lain. Hazrat Ali r.a. dipilih sebagai Khalifah keempat enam hari setelah wafatnya Hazrat Usman r.a.. Beliau memaklumkan bahwa prioritas utamanya adalah mengembalikan hukum dan ketertiban dalam negeri dan untuk tujuan ini beliau amat menahan diri guna menghindari pertumpahan darah meski beberapa sahabat Rasulullah yang berpengaruh besar telah memintanya untuk mengadili para pembunuh Hazrat Usman. Ketika kota Medinah kemudian merosot menjadi masyarakat tidak berhukum, Hazrat Ali r.a. memindahkan ibukota dari Medinah ke Kufa di Irak. Sayangnya masa Khilafat beliau digrogoti oleh kekacauan dan perpecahan. Beliau mencoba menenangkan umat Muslim namun rupanya gejala penyakit anti-Khilafat sudah meruyak dan tidak bisa diobati lagi. Muncul beberapa perang saudara dan seluruh kerancuan itu memuncak pada saat sahidnya Hazrat Ali r.a..
Seperti kata pepatah Afrika, ‘nilai suatu naungan belum dihargai sampai kemudian pohonnya ditebang.’ Dengan terbunuhnya Hazrat Ali r.a. maka mercu suar cemerlang dari bimbingan dan persatuan, sumber mata air berkat dan rahmat, semuanya menjadi punah. Umat Muslim telah membuang jubah Khilafat dan besertanya segala rahmat ikutan. Sebagai pengganti Khilafat, ditegakkan sistem kerajaan yang kalis dari keluhuran ruhani dimana muncul berbagai dinasti atau wangsa dalam rentang masa sekian abad. Perang saudara dan pertengkaran keluarga amat melemahkan umat Muslim. Bangsa-bangsa yang dimasa lalu gemetar dan tunduk kepada mereka sekarang berbalik menyerang dan selalu berhasil mempermalukan umat Muslim. Pengaruh dan dominasi Islamiah mulai memudar sampai akhirnya agama-agama lain yang meski berlandaskan akidah palsu tetapi nyatanya telah berhasil mendominasi agama Islam yang hakiki.
Upaya menegakkan kembali Khilafat di antara umat Muslim di masa kini merupakan salah satu tantangan terbesar yang harus dihadapi. Islam masa kini terpecah belah oleh pertikaian internal dan intrik-intrik eksternal dan sungguh-sungguh membutuhkan seorang pemimpin berintegritas luhur yang bisa mengemban lembaga Khilafat agar dengan petunjuk Ilahi bisa membimbing umat Muslim. Berbagai gerakan muncul di kalangan Muslim ortodoks yang mencoba menegakkan kembali Khilafat. Tetapi menyedihkan sekali bahwa semua upaya tersebut telah gagal. Hal mana sebenarnya akibat dari mereka itu kalis dari petunjuk Ilahi dan semata-mata didasarkan pada upaya manusia yang tidak lepas dari sifat mementingkan diri dan nafsu berkuasa.
Khilafat merupakan wacana ruhani yang sepenuhnya milik Allah s.w.t. dimana kemunculannya tidak pernah mewujud sebagai hasil dorongan politis atau gerakan pseudo-agama. Dimana pun jika Allah s.w.t. menghendaki terwujudnya Khilafat, selalu berkaitan dengan penerusan kerja seorang Nabi Allah. Dalam sejarah tidak pernah tercatat ada Khilafat yang bisa muncul tanpa didahului seorang Nabi. Khilafat yang dijanjikan dalam Al-Quran adalah sebagai penerusan langkah seorang Nabi. Dikemukakan dalam salah riwayat bahwa Hazrat Rasulullah s.a.w. bersabda:

‘Kenabian akan berada di tengah kalian selama Tuhan menghendaki. Dia akan mengakhirinya dan meneruskannya dengan Khilafat berdasarkan sunnah rasul, untuk jangka waktu selama dikehendaki-Nya dan setelah itu akan mengakhirinya. Bentuk monarki tiranikal akan mengikutinya dan akan ada selama Allah menghendakinya untuk kemudian juga diakhiri. Setelah itu akan muncul despotisme non-monarki selama Allah menghendakinya dan akan berakhir sesuai takdir-Nya. Barulah setelah itu akan muncul Khilafat yang berdasarkan sunnah Kenabian.’ (Masnad Ahmad)
Dari nubuatan Hazrat Rasulullah s.a.w. ini jelas bahwa Khilafat yang akan muncul kemudian setelah beliau akan terdiri dari dua era, yaitu yang satu langsung mewujud setelah kewafatan beliau, dimana dengan era Khilafat yang satunya lagi, akan ada periode rejim yang bersifat supresif, opresif dan kejam. Saat wafat Hazrat Rasulullah s.a.w. lembaga Khilafat yang beberkat itu langsung mewujud sebagaimana dinubuatkan. Khilafat baru akan mewujud lagi dengan kemunculan Al-Masih yang Dijanjikan yaitu pendiri Jemaat Islam Ahmadiyah.

Hazrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dari Qadian adalah seorang hamba Allah dan pengikut Hazrat Rasulullah s.a.w. yang setia. Beliau menyatakan bahwa dirinya telah ditunjuk Allah s.w.t. sebagai suara penyeru di zaman ini, bahwa dirinya adalah Al-Masih serta Imam Mahdi yang dinubuatkan dalam hadith Rasulullah s.a.w.. Beliau menyatakan bahwa semua nubuatan yang terkandung dalam berbagai kitab suci semua agama tentang kedatangan seorang utusan Ilahi di akhir zaman, telah terpenuhi dalam dirinya. Bahwa Tuhan telah membangkitkan dirinya untuk siar Islam di zaman ini dan bahwa Tuhan telah memberikan kepadanya wawasan tentang isi Al-Quran serta mengungkapkan kepadanya makna dan kebenaran hakikinya.
Melalui karya beliau, pesan-pesan dan teladan yang diberikan, beliau mengagungkan Hazrat Rasulullah s.a.w. serta mengungkapkan superioritas Islam di atas semua agama lainnya sedemikian rupa sehingga Hazrat Rasulullah s.a.w. akan diterima sebagai Khataman Nabiyyin oleh semua bangsa di dunia. Ketika fanatisme dan kekaburan menjadi ciri cara berfikir Muslim, beliau mengungkapkan khazanah tak terbatas berisi pengetahuan, filsafat dan kebijakan Al-Quran. Nilai-nilai moral dan spiritual sebagaimana diterakan dalam Al-Quran dan diilustrasikan secara sempurna oleh Hazrat Rasulullah s.a.w. telah beliau hidupkan kembali sehingga manusia bisa menarik manfaat tidak saja dari sunnah tetapi juga dari teladan beliau.

Ketika Hazrat Masih Maud a.s. wafat, muncul obituari dari Muslim yang berfikiran terbuka dan non-Muslim pun ikut memuji fitrat messianik, kesucian dan ketakwaan beliau. Namun para musuh yang berfikiran cupat langsung bergembira atas kewafatan beliau, sambil mengharap bahwa apa yang mereka anggap sebagai bid’ah besar sekarang akan mati dengan sendirinya. Pada saat kritis demikian, salah seorang pengikut beliau yang paling setia, seorang ulama, dokter yang terkenal, seorang penafsir Al-Quran yang terpelajar, secara aklamasi dipilih menjabat sebagai Khalifatul Masih. Berkat rahmat Allah s.w.t., dalam kapasitas tersebut beliau berhasil mengemudikan bahtera Ahmadiyah ke perairan yang aman dan menjaganya dari disintegrasi. Nama beliau adalah Nuruddin (Nur Agama) dan sinonim dengan kecemerlangan jasa beliau dalam mengkhidmati agama.

Hazrat Maulvi Nuruddin r.a. memiliki keimanan bulat kepada Allah s.w.t. dan sepenuhnya bertopang kepada-Nya untuk segala kebutuhan dirinya. Sebagai sosok Khalifatul Masih, peran beliau amat beraneka dan berfaset banyak. Meski kesehatan dirinya tidak selalu baik namun semua tugas-tugas dilaksanakannya dengan wajah teduh dan kesungguhan yang membuat orang lain iri. Beliau tetap mendiagnosa dan memberi obat kepada para pasien, memberikan pengarahan, nasihat dan petunjuk kepada para pejabat Jemaat, memberikan khutbah tentang Al-Quran, Hadith dan filosofi Islam, mendiktekan jawaban atas kritik terhadap Islam serta mempelajari proyek-proyek siar Islam. Namun yang paling menonjol dari beliau adalah laku pemeliharaan dan penguatan lembaga Khilafat dalam menghadapi tentangan dari para pengacau yang berusaha mendongkel kewenangan beliau dan menciptakan kegalauan dalam Jemaat. Tidak ada suatu apa pun yang bisa mempengaruhi tekad dan kebijakan beliau. Dengan suara lantang tanpa tedeng aling-aling beliau menyatakan: ‘Aku nyatakan dengan sesungguhnya dan Allah menjadi saksi bahwa aku tidak akan menanggalkan jubah yang telah dikaruniakan oleh-Nya kepadaku.’

Ketika beliau wafat, jubah Khilafat tersebut diberikan kepada Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad r.a. Wujud Khalifatul Masih II ini adalah Putra yang dijanjikan kepada Hazrat Masih Maud a.s.. Kelahiran beliau merupakan pemenuhan nubuatan akbar dari Hazrat Masih Maud bahwa dirinya akan dikaruniai seorang putra yang fitrat dan keluhurannya akan menjadi amat luar biasa. Beliau ini ditahbiskan sebagai Khalifatul Masih pada usia relatif muda yaitu 25 tahun dan berkat rahmat Ilahi, masa jabatan beliau diberkati dengan keberhasilan yang sungguh luar biasa tak ada tandingannya. Dengan dana yang amat terbatas, beliau membimbing Jemaat ini menggapai ketinggian yang tadinya tidak pernah terbayangkan. Yang paling mencolok dari berbagai skema yang dilancarkan beliau adalah Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid yang menjadi sarana guna membangun Jemaat ini hampir di semua negeri di dunia. Adalah kejeniusan dirinya yang unik yang juga telah melahirkan badan-badan pendukung yang merupakan anak-anak organisasi sehingga sekarang ini semua anggota Jemaat merasa terikat satu sama lain dalam suatu tali persaudaraan yang akrab dalam melaksanakan program-program peningkatan nilai-nilai akhlak dan keruhanian.

Hazrat Khalifatul Masih II menetapkan pembentukan Majlis Syura dalam Jemaat, sebuah dewan penasihat yang bertemu setiap tahun guna mempertimbangkan dan memberikan saran kepada Khalifah berkenaan dengan kebijakan-kebijakan penting. Beliau juga menetapkan dewan Qada yang merupakan sistem yudisial, yang memberikan kesempatan kepada Jemaat untuk menyelesaikan pertikaian internal dengan cara yang adil, ekonomis dan terhormat, sejalan dengan hukum dan yurisprudensi Islam. Beliau juga yang mengawali Jalsah Siratun Nabi dan Hari Pendiri Agama-agama Dunia guna merayakan riwayat hidup Rasulullah s.a.w. dan semua Nabi pendiri agama-agama besar. Beliau juga mempunyai perhatian khusus terhadap masalah-masalah politis dan sosial yang kompleks dan dengan itu berhasil menyelamatkan Jemaat melalui Perang Dunia yang menakutkan serta migrasi besar-besaran ke Pakistan setelah aksi perpisahan dengan India pada tahun 1947 dimana beliau mendirikan kota Rabwah dari titik nol di sebidang tanah yang tadinya tidak bisa dihuni sama sekali.

Buku-buku dan selebaran yang diterbitkan Hazrat Khalifatul Masih II lebih dari 200 judul sehingga hal ini mentabalkan beliau sebagai ahli agama dan ahli diagnostika tentang kebenaran-kebenaran eksternal. Karunia terbesar dari masa Khilafat beliau adalah magnum opus berbentuk Tafsiri Kabir yaitu tafsir Al-Quran yang amat mendetil. Tafsir setebal sepuluh ribu halaman ini mengandung berbagai pemahaman esoterika dan pengungkapan ribuan hakikat keruhanian serta rahasia-rahasia tersembunyi, banyak dari antaranya yang belum pernah dikemukakan siapa pun sebelumnya. Masa Khilafat beliau merentang selama limapuluh dua tahun dan merupakan periode emas dalam sejarah Ahmadiyah dan Islam. Meski demikian banyak tugas dan kegiatan yang harus dilakukan, beliau tetap berusaha keras agar Jemaat selalu tetap aktif dalam memperbaiki diri dan dalam kegiatan siar Islam. Beliau mengerahkan segala kemampuan unggulan yang ada pada diri beliau, selalu memberikan nasihat, ajakan dan teguran. Beliau sendiri memberikan teladan diri yang cemerlang dan menghabiskan sebagian malam dalam berdoa kepada Tuhan.
Ketika Hazrat Khalifatul Masih II wafat maka putra beliau yang tertua yaitu Hazrat Mirza Nasir Ahmad r.a. terpilih sebagai Khalifatul Masih III. Dalam masa Khilafat beliau selama tujuhbelas tahun, dengan kemampuan administratif yang unik dan perencanaan kemaslahatan jangka panjang yang menonjol, beliau telah berhasil memperkuat Jemaat dan mengembangkannya secara luar biasa. Beberapa ciri mencolok dari masa Khilafat beliau antara lain adalah pendirian Yayasan Fazl Umar guna mengembangkan aktivitas di bidang riset, pendidikan, tugas-tugas muballigh dan kesejahteraan ekonomi Jemaat serta Majlis Nusrat Jehan yang mendirikan berpuluh sekolah dan rumah sakit di Afrika Barat, semata-mata demi kemanusiaan tanpa motivasi laba. Melalui skema tersebut, berjuta-juta bangsa Afrika yang kemudian masuk dalam Jemaat Ahmadiyah dan sekarang pun masih berlangsung terus. Namun mungkin yang paling dikenang dari diri beliau adalah modus vivendi yang sederhana tetapi pragmatis yang diwariskan kepada Jemaat yaitu motto: Love for All, Hatred for None (Kasih untuk semua, tiada kebencian bagi siapa pun).

Sekarang ini kita sedang melalui masa keemasan dari Hazrat Khalifatul Masih IV. Beliau ini sebagaimana juga para pendahulu sebelumnya adalah sosok yang memperoleh bimbingan Ilahi. Beliau melancarkan berbagai skema guna memobilisasi upaya Jemaat bagi kegiatan siar Islam secara global. Pada tanggal 10 Juni 2002 yang merupakan tahun ke 20 masa Khilafat beliau, Jemaat demikian diberkati dengan pertambahan anggota dari tadinya sekitar 10 juta orang sampai sekarang telah mencapai 150 juta orang di seluruh dunia. Di bawah bimbingan beliau, ribuan mesjid, rumah missi, klinik, rumah sakit, sekolah dan perguruan tinggi didirikan demi pengkhidmatan kepada Islam. Rumah-rumah obat homeopathy didirikan di seluruh dunia di bawah bimbingan beliau, memberikan pengobatan untuk berbagai penyakit tanpa memungut biaya. Di antara sekian banyak buku yang dikarangnya, Revelation, Rationality, Knowledge and Truth merupakan buku yang paling kondang diakui sebagai karya tulis terbesar di abad lalu. Pengabdian bagi Al-Quran nyata dari supervisi langsung yang beliau lakukan atas berbagai terjemah dan revisi akurat terjemahan Al-Quran dalam berbagai bahasa, dimana beliau sendiri menyumbangkan terjemah dan tafsir bernas dalam bahasa Urdu.
Muslim Television Ahmadiyya (MTA) merupakan saluran televisi global Muslim pertama yang diterjemahkan dalam delapan bahasa adalah juga hasil pemikiran Hazrat Khalifatul Masih IV. Hampir tidak mungkin membilang segala berkat yang telah ditimbulkan oleh peluncuran MTA International ini. Saluran ini menjadi sumber pengetahuan, mengajarkan berbagai bahasa, membahas masalah-masalah topikal dan kaitannya dengan kesejahteraan moral dan spiritual manusia. Secara umum, saluran ini menjadi nara sumber bagi pemerhati agama dan filsafat di seluruh dunia. Kunci keberhasilan program tersebut tidak terlepas dari kemunculan Hazrat Khalifatul Masih dalam berbagai tayangan sehingga baik Muslim mau pun non-Muslim bisa memetik faedah dari luas pengetahuan, kebijaksanaan dan wawasan beliau. Melalui MTA inilah kita bisa menyaksikan kejadian historis seperti Acara Bai’at Internasional pada saat Jalsah Salanah dimana dalam satu tahun saja sekitar 81 juta orang Ahmadi baru bergabung dari ratusan negeri di seluruh dunia, bersama-sama melakukan ikrar bai’at di tangan Hazrat Khalifatul Masih melalui transmisi satelit.
Jelas kiranya bahwa Khilafat tidak saja merupakan suatu lembaga yang amat berberkat tetapi juga merupakan suatu lembaga yang amat penting dalam Islam dan karena itu wajib dipatuhi sebaik-baiknya. Seorang Khalifah dipilih melalui kehendak Ilahi tetapi melalui laku pemilihan oleh kaum mukminin. Dengan kata lain, pada saat kritis dalam pemilihan seorang Khalifah, fikiran dan kalbu para mukminin dibimbing Allah s.w.t. untuk memberi suara kepada orang pilihan-Nya. Karena sosok Khalifah dipilih sejalan dengan kehendak Ilahi maka laku ketidak-patuhan kepadanya sama dengan tidak patuh kepada Tuhan. Hal ini dengan sendirinya menjadi prasyarat bagi kelanjutan lembaga Ilahi yang akbar tersebut. Bagi Jemaat Ahmadiyah, Khilafat tidak diragukan lagi adalah karunia terbesar yang bisa dinikmati. Sosok Khalifah memainkan peran sentral sebagai pemersatu Jemaat di bawah satu panji-panji. Bagi semua anggota Jemaat, sosok Khalifah menjadi bapak yang mengasihi kepada siapa mereka bisa meminta bimbingan, nasihat dan dorongan. Bagi semua orang yang berfikir dan berniat baik maka sosok Khalifah menjadi kawan dan konselor, sedangkan bagi mereka yang sedang kesulitan maka ia menjadi penghibur.
Hanya melalui berkat Khilafat dan rahmat Ilahi maka Islam maju di masa lalu dan hal yang sama insya Allah akan berlanjut sekarang selama berabad-abad yang akan datang. Kenabian merupakan benih yang pertumbuhannya kemudian dipelihara agar menyebar ke seluruh dunia oleh lembaga Khilafat. Setelah berpulangnya Hazrat Rasulullah s.a.w., adalah melalui kinerja Khulafa ur-Rasyidin maka Islam menyebar ke seluruh dunia yang dikenal waktu itu. Sekarang ini di bawah bimbingan Khalifatul Masih maka Jemaat Islam Ahmadiyah terus menyebar ke seluruh dunia dengan kecepatan tinggi meski dirintangi oleh para fanatikus yang memusuhi, baik yang individual mau pun pemerintahan, yang berupaya memupus Ahmadiyah dari muka bumi. Berkat rahmat Khilafat Ahmadiyah maka janji Allah dalam Al-Quran bahwa ‘Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai bagi mereka’ akan terpenuhi. Sudah dekat hari-harinya ketika kita akan melihat persatuan umat manusia di bawah panji-panji Islam dan kita akan menyaksikan manifestasi final dan universal dari Ketauhidan Allah s.w.t.

http://ahmadiyah.info/index.php?option=com_content&task=view&id=181&Itemid=1

Persyaratan Masuk Dalam Jemaat Ahmadiyah

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Aqidah, Ghulam Ahmad, Imam Mahdi, Kamis, Khalifah I, Khalifah II, Khalifah III, Khalifah IV, Khalifah V, November, Tabligh, Tarbiyat on 12 November 2009 at 01:07

SYARAT-SYARAT BAI’AT
DALAM JEMA’AT AHMADIYAH

Oleh: HAZRAT IMAM MAHDI, MASIH MAU’UD A.S.

Orang yang bai’at berjanji dengan hati yang jujur bahwa:

1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.
2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
3. Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim salawat kepada Junjungannya Yang Mulia Muhammad Rasulullah s.a.w. dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
4. Tidak akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
5. Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah atau pun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah Alquran Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
7. Meninggalkan takabur dan sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan santun.
8. Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih daripada jiwanya, hartanya, anak-anaknya, dan dari segala yang dicintainya.
9. Akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud” semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.

Diterjemahkan dari “ISYTIHAR TAKMIL TABLIGH”

Arti Khataman Nabiyyin menurut Ahmadiyah

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Aqidah, Kamis, Tabligh, Tafsir on 12 November 2009 at 01:02

Pandangan Ahmadiyah tentang “Khataman Nabiyin” :
Berikut ini keterangan dalam Hadits serta literatur-literatur terkenal dalam dunia Islam yang telah mengungkapkan penggunaan kata khaatam dengan arti yang menunjukkan suatu derajat (rank) kemuliaan, keunggulan, keutamaan, kesempurnaan, atau derajat lainnya, sebagai berikut:

(i) Hadhrat Ali r.a. adalah “khaatam-ul-auliya” (Tafsir Saafi, pada Surah al-Ahzab). Apakah setelah Hz. Ali r.a. wafat tidak ada auliya (wali) lagi? Tentu tidak. Banyak kemudian hadir wali-wali Allah yang termashur dalam dunia Islam.

(ii) Imam Syafi’i r.h. (767-820) juga disebut “khaatam-ul-auliya” (Al Tuhfatus-Sunniyya, hlm. 45)

(iii) Syekh Ibn-ul-Arabi r.h. (1164-1240) disebut sebagai “khaatam-ul-auliya.” (Futuhaat Makkiyyah, pada halaman judul)

Tiga orang auliya (wali) Allah ini masing-masing telah diberikan gelar khaatam-ul-auliya. Bagaimanakah kata khaatam menurut ungkapan bahasa Arab itu hanya dapat diartikan sebagai terakhir/penutup saja, yaitu tidak boleh ada lagi auliya (wali) lain setelah Hz. Ali bin Abi Thalib r.a.?

Kita lanjutkan pemakaian dan ungkapan kata khaatam menurut bahasa Arab.

(iv) Abu Tamaam (804-845), seorang penyair yang dijuluki sebagai “khaatam-usy-syu’araa” (Dafiyaatul A’ayaan, vol. 1, hlm. 123, Kairo). Apakah setelah Abu Tamaam wafat tidak ada penyair lagi? Tentu tidak. Banyak kemudian hadir penyair-penyair terkenal dalam dunia Islam.

(v) Abu Al-Tayyib (915-965) juga disebut sebagai “khaatam-usy-syu’araa” (Muqaddimah Deewan Al-Mutanabbi, Mesir, hlm. 10)

(vi) Abul al-‘Alaa al-Ma’arri (973-1057) juga dinyatakan sebagai “khaatam-usy-syu’araa” (Muqaddimah Deewan Al-Mutanabbi, Mesir, Catatan kaki, hal 10)

(vii) Syekh Ali Hazeen (1701-1767) juga dikenal sebagai “khaatam-usy-syu’araa” di negeri Hindustan (Hayati Sa’adi, hlm. 117)

(viii) Habib Shirazi juga dihormati sebagai “khaatam-usy-syu’araa” di Iran (Hayati Sa’adi, hlm. 87)

Dari lima orang penyair di atas masing-masing telah diberikan gelar khaatam-usy-syu’araa. Bagaimanakah kata khaatam menurut ungkapan bahasa Arab itu hanya dapat diartikan sebagai terakhir/penutup saja, yaitu tidak boleh ada lagi penyair lain setelah Abu Tamaam?

Kita lanjutkan pemakaian dan ungkapan kata khaatam menurut bahasa Arab.

(ix) Kamper (Camphor), obat anti ngengat dan jamur disebut “khaatam-ul-kiraam” atau “obat yang terunggul.” (Sharh Deewan-al Mutanabbi, hlm. 304).

Apakah tidak ada obat lain yang digunakan atau ditemukan setelah kamper, jika kata khaatam diartikan sebagai terakhir/penutup?

(x) Imam Muhammad Abduh dari Mesir digelari “khaatam-ul-a’imma” (Tafsir Al-Fatihah, hlm. 148). Apakah tidak ada lagi pemimpin (Imam) agama setelah Muhammad Abduh?

(xi) Al-Sayyid Ahmad Al-Sanusi dinamakan “khaatam-ul-mujahidiin” (Akhbaar Al-Jaami’atul Islamiyyah, Palestina, 27 Muharram 1352 H). Apakah Sayyid Ahmad Sanusi merupakan mujahid terakhir/penutup di Palestina?

(xii) Ahmad bin Idris disebut “khaatam-ul-muhaqqiqin” (Al-Aqd-al-Nafees). Apakah Ahmad bin Idris orang yang terakhir mencari kebenaran (haq)?

(xiii) Abul Fazl Al-Alusi juga disebut “khaatam-ul-muhaqqiqin” (Pada halaman judul dari Tafsir Ruhul Ma’aani)

(xiv) Syekh Al-Azhar Saleem Al Bashree juga disebut “khaatam-ul-muhaqqiqin” (Al-Heraab, hlm. 372)

(xv) Imam Abdurahman As-Suyuthi r.h. juga dicatat sebagai “khaatam-ul-muhaqqiqin.” (Pada halaman judul Tafsir Itqaan)

Sampai di sini menjadi semakin jelas arti dan hakikat sesungguhnya dari kata khaatam. Selanjutnya kita dapatkan lagi:

(xvi) Hadhrat Shah Waliyullah dari Delhi diakui sebagai “khaatam-ul-muhaditsiin” (Ajaala Naafi’a). Apakah tidak ada lagi ahli Hadits lain di dunia ini setelah Hz. Shah Waliyyullah?

(xvii) Syekh Syamsuddin disebut sebagai “khaatama-tul-huffaaz” (Al-Tajreed-us Sareeh, Muqaddimah, hlm. 4). Hafiz adalah orang yang hafal luar kepala seluruh isi Al-Qur’an. Apakah tidak ada lagi hafiz di dunia ini setelah Syekh Syamsuddin?

(xviii) Syekh Rasyid Ridha mendapat gelar sebagai “khaatam-ul-mufassirin” (Al-Jaami’atul Islamiyyah, 9 Jumadi-us-Tsaani, 1354 H). Apakah tidak ada lagi ahli tafsir di dunia ini setelah Syekh Rasyid Ridha?

(xix) Dalam Muqaddimah Ibnu Khaldun, halaman 271 terdapat istilah “khaatam-ul-wilayah” yang digunakan untuk menunjukkan kesempurnaan wali. Apakah hanya ada satu wali saja di dunia ini?

(xx) Imam Suyuthi mendapat gelar “khaatam-ul-muhadditsin” (Hadya Al-Shiah, hlm. 210). Apakah setelah beliau tidak ada lagi ahli Hadits di dunia ini?

(xxi) Dalam Bible bahasa Arab kita temukan kata “khaatam-ul-kamaal” (gambar kesempurnaan). Kita lihat dalam Yehezkiel 28:12 versi bahasa Indonesia sebagai berikut: “Hai anak manusia, ucapkanlah suatu ratapan mengenai raja Tirus dan katakanlah kepadanya: Demikianlah firman Tuhan Allah: Gambar dari kesempurnaan engkau, penuh hikmat dan maha indah.”

(xxii) Dalam Hadits kita temukan “khaatam-ul-muhajiriin.” Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tentramlah wahai pamanku, sesungguhnya engkau adalah khaatam-ul-muhajiriin dalam hijrah, sebagaimana aku adalah khaataman-nabiyyiin dalam kenabian.” (H. R. Ibnu Asakir dan Asyaasyi, dalam Kanzul ‘Ummal, Alaudin Alhindi, Muassatur Risalah, Beirut, 1989, jld. XIII, hlm. 519, Hadits no. 37339). Apakah setelah Hz. Abbas r.a. tidak ada lagi orang yang berhijrah ke Medinah? Apakah Hz. Abbas r.a. adalah orang yang terakhir berhijrah ke Medinah? Tentu tidak.
Dan masih banyak contoh lainnya mengenai pemakaian kata khaatam yang dapat ditemukan dalam literatur-literatur dunia Islam yang mengungkapkan kata khaatam bukanlah mutlak berarti terakhir/penutup saja.
Jadi, sesuai dengan literatur-literatur berbahasa Arab seperti di atas, maka makna kata khaatam memiliki arti yang menunjukkan suatu derajat (rank) kemuliaan, keunggulan, keutamaan, kesempurnaan, atau derajat lainnya.

Sumber : http://www.cybermq.com/forum/isi/3/8/2575

Tafsir Surat Al-Fatihah ayat 1 s/d 7

In Ahmadiyah, Rukun Iman, Ta'lim, Tabligh, Tafsir, Tarbiyat on 12 November 2009 at 00:57

Surah 1 : AL-FATIHAH

Diturunkan : Sebelum Hijrah
Ayatnya : 7, dengan Bismillah
Rukuknya : 1.

Tempat dan Waktu Diturunkan

Seperti diriwayatkan oleh banyak ahli ilmu hadis, seluruh Surah ini diwahyukan di Mekkah dan sejak awal menjadi bagian shalat orang-orang Islam. Surah ini disebut dalam ayat Alquran, “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada engkau tujuh ayat selalu diulang-ulang, dan Alquran yang agung” (15:88). Ayat itu menurut pengakuan para ahli, telah diwahyukan di Mekkah, Menurut beberapa riwayat, Surah ini diwahyukan pula untuk kedua kalinya di Medinah. Tetapi waktunya Surah ini untuk pertama kali turun, dapat ditempatkan pada masa permulaan sekali kenabian Rasulullah saw.

Ikhtisar Surah

Surah ini merupakan intisari seluruh ajaran Alquran. Secara garis besarnya, surah ini meliputi semua masalah yang di uraikan dengan panjang lebar dalam seluruh Alquran. Surah ini mulai dengan uraian tentang Sifat- sifat Allah swt. yang pokok dan menjadi poros beredarnya Sifat-sifat Tuhan lainnya, dan merupakan dasar bekerjanya alam semesta, serta dasr perhubungan antara Tuhan dengan manusia. Keempat sifat Tuhan yang pokok — Rabb (Pencipta, yang memelihara dan Mengembangkan), Rahman ( Maha Pemurah ), Rahim (Maha Penyayang ) dan Maliki Yaum-Id-Din (Pemilik Hari Pembalasan) mengandung arti bahwa, sesudah menjadikan manusia Tuhan menganugerahinya kemampuan- kemampuan tabi’ (alami) yang terbaik, dan melengkapinya dengan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan jasmani, kemasyarakatan, akhlak, dan rohani. Selanjutnya Dia memberikan jaminan bahwa usaha dan upaya manusia itu akan diganjar sepenuhnya. Kemudian Surah itu mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, yakni menyembah Tuhan dan mencapai qurb (kedekatan)-Nya dan bahwa, ia senantiasa memerlukan pertolongan-Nya untuk melaksanakan tujuannya yang agung itu. Disebutkannya keempat Sifat Tuhan itu diikuti oleh doa lengkap yang didalamnya terungkap sepenuhnya segala dorongan ruh manusia. Doa itu mengajarkan bahwa, manusia senantiasa harus mencari dan memohon pertolongan Tuhan, agar Dia melengkapinya dengan sarana-sarana yang diperlukan olehnya, untuk mencapai kebahagian dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tetapi karena manusia cenderung memperoleh kekuatan dan semangat dari teladan baik wujud-wujud mulia dan agung dari zaman lampau yang telah mencapai tujuan hidup mereka, maka ia diajari untuk mendoa, agar Tuhan membuka pula baginya jalan- jalan kemajuan akhlak dan rohani yang tak terbatas, seperti telah dibukakan bagi mereka itu. Akhirnya, doa itu mengandung peringatan bahwa, jangan-jangan sesudah ia dibimbing kepada jalan lurus ia sesat dari jalan itu, lalu kehilangan tujuannya dan menjadi asing terhadap khalik-Nya. Ia diajari untuk selalu mawas diri dan senantiasa mencari perlindungan Tuhan, terhadap kemungkinan jadi asing terhadap Tuhan, itulah masalah yang dituangkan dalam beberapa ayat Al-Fatihah dan itulah masalah yang dibahas dengan sepenuhnya dan seluas-luasnya oleh Alquran, sambil menyebut contoh-contoh yang tiada tepermanai banyaknya, sebagai petunjuk bagi siapa yang membacanya.

Orang-orang mukmim dianjurkan agar sebelum membaca Alquran, memohon perlindungan Tuhan terhadap syaitan :

“Maka apabila engkau hendak membaca Alquran, maka mohonlah perlindungan Allah swt. dari syaitan yang terkutuk” ( 16 :99 ).

Perlindingan dan penjagaan itu berarti:

(1). bahwa jangan ada kejahatan menumpa kita
(2). bahwa jangan ada kebaikan terlepas dari kita
(3). bahwa setelah kita mencapai kebaikan, kita tidak terjerumus kembali ke dalam kejahatan.

Doa yang diperintahkan untuk itu ialah :

” Aku berlindung kepada Allah swt. dari syaitan terkutuk ”

Yang harus mendahului tiap-tiap pembacaan Alquran.

Bab-bab Alquran berjumlah 114 dan masing-masing disebut surah. Kata surah itu berarti :

(1). Pangkat atau kedudukan tinggi.
(2). Ciri atau tanda.
(3). Bangunan yang tinggi dan indah.
(4). Sesuatu yang lengkap dan sempurna (Aqrab dan Qurthubi ).

Bab-bab Alquran disebut surah karena :

a. dengan membacanya, martabat orang terangkat, dengan perantaraannya ia mencapai kemuliaan.
b. nama-nama surah berlaku sebagai tanda pembukaan dan penutupan berbagai masalah yang sibahas dalam Alquran
c. Surah-surah itu masing-masing laksana bangunan rohani yang mulia.
d. tiap-tiap surah berisikan tema yang sempurna.

Nama Surah untuk pembagian demikian telah dipergunakan dalam Alquran sendiri (2:24 dan 24 :2 ). Nama ini dipakai juga dalam hadis. Rasullah saw. bersabda,

“Baru saja sebuah Surah telah diwahyukan kepadaku dan bunyinya seperti berikut ” (Muslim).

Dari situ jelaslah, bahwa nama Surah untuk bagian-bagian Alquran telah biasa dipakai sejak permulaan Islam dan bukan ciptaan baru yang diadakan kemudian hari.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١)

Artinya :
“[a] Aku baca dengan [1] nama [2] Allah swt. [3], Maha Pemurah, Maha Penyayang [4]”
________________________________________
[a] Ditempatkan di permulaan tiap surah kecuali Surah 9; juga dalam 27:31. Lihat juga 96:2.

Tafsir:
[1]. “Ba’ kata depan yang dipakai untuk menyatakan beberapa arti dan arti yang lebih tepat di sini, ialah “dengan”, Maka kata majemuk bism itu akan berarti “dengan nama”. Menurut kebiasaan orang Arab, kara iqra’ atau aqra’u atau naqra’u atau asyra’u atau nasyra’u harus dianggap ada tercantum sebelum bismillah, suatu ungkapan dengan arti “mulailah dengan nama Allah swt. “, atau “bacalah dengan nama Allah swt.” atau “aku atau kami mulai dengan nama Allah swt. .”, atau ” aku atau kami baca dengan nama Allah swt.”. Dalam terjemahan ini ucapan bismillah diartikan “dengan nama Allah swt. “, yang merupakan bentuk lebih lazim (Lane).”

[2]. “ism mengandung arti:nama atau sifat (Aqrab).Di sini kata itu dipakai dalam kedua pengertian tersebut. Kata itu menunjukan kepada Allah swt., nama wujud Tuhan; dan kepada Ar-Rahman (Maha Pemurah) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang), keduanya nama sifat Tuhan’.

[3]. Allah swt. itu nama Dzat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat kesempurnaan dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab kata Allah swt. itu tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun. Tiada bahasa lain memiliki nama tertentu atau khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain, semuanya nama-petunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak; akan tetapi, kata “Allah swt. ” tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak. Kata Allah swt. itu “ism dzat,” tidak “musytak,” tidak diambil dari kata lain, dan tidak pernah dipakai sebagai karangan atau sifat. Karena tiada kata lain yang sepadan, maka nama “Allah swt.” dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Alquran. Pandangan ini di dukung oleh para alim bahasa arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat. kata “Allah swt.” itu, nama wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya sendiri, memiliki segala sifat kesempurnaan, dan huruf al adalah dipisahkan dari kata itu (Lane).

[4]. Ar-Rahman (Maha Pemurah) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) keduanya berasal dari akar yang sama. Rahima artinya, ia telah menampakan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni. kata Rahmah menggabungkan arti riqqah, ialah ” kehalusan” dan ihsan, “kebaikan” (Mufradat). Ar-Rahman dalam wazan (ukuran) fa’lan, dan Ar-Rahim dalam ukuran fa’il. Menurut kaedah tatabahasa Arab, makin banyak jumlah ditambahkan pada akar kata, makin luas dan mendalam pula artinya (Kasysyaf). Ukuran fa’lan membawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan dan (Muhith). Jadi, di mana kata Ar-Rahman menunjukan “kasih sayang meliputi alam semesta”, kata Ar-Rahim berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas, tetapi berulang-ulang ditampakkan.” Menggingat arti-arti di atas, Ar-Rahman itu Dzat Yang Menampakkan kasih sayang dengan cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa pertimbangan usaha atau amal; dan Ar-Rahim itu Dzat Yang menampakkan kasih sayang sebagai imbalan atas amal perbuatan manusia, tetapi menampakkannya dengan murah dan berulang-ulang.

Kata Ar-Rahman Hanya dipakai untuk Tuhan, sedang Ar-Rahim dipakai pula untuk manusia. Ar-Rahman tidak hanya meliputi orang-orang mukmin dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk. Ar-Rahim terutama tertuju pada mukmin saja. Menurut Sabda Rasulullah saw., sifat Ar-Rahman umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Ar-Rahim umumnya bertalian dengan kehidupan yang akan datang (Muhith). Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah dunia perbuatan, dan karena alam akhirat itu suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa, maka sifat Tuhan Ar-Rahman menganugerahi manusia alat dan bahan, untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, dan Sifat Tuhan Ar-Rahim mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang. Segala benda yang kita perlukan dan atas itu kehidupan kita bergantung adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk kita, sebelum kita berbuat sesuatu yang menyebabkan kita layak menerumahnya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan; sedang karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang-akan-datang, akan dianugerahkan kepada kita sebagai ganjaran atas amal perbuatan kita. Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahman itu pemberi Karunia yang mendahului kelahiran kita, sedang Ar-Rahim itu pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal perbuatan kita sebagai ganjaran.

Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim adalah ayat pertama tiap-tiap Surah Alquran kecuali Al Bara’ah (At-Taubah) yang sebenarnya bukan Surah yang berdiri sendiri, melainkan lanjutan Surah Al-Anfal. Ada sesuatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas yang maksudnya, bila sesuatu Surah-baru diwahyukan, biasanya dimulai dengan Bismillah, dan tanpa bismillah, Rasulullah saw. tidak mengetahui bahwa Surah baru saja dimulai (Daud). Hadis ini menampakkan bahwa (1) bismillah itu bagian dari Alquran bukan suatu tambahan, (2) bahwa Surah Bara’ah itu, bukan Surah yang berdiri sendiri. Hadis itu menolak pula kepercayaan yang dikemukakan oleh sementara orang bahwa, bismillah hanya merupakan bagian surat Al-Fatihah saja dan bukan bagian semua Surah Alquran. Selanjutnya ada riwayat Rasulullah s.a.w pernah bersabda bahwa, ayat bismillah itu bagian semua Surah Alquran (Bukhari dan Quhni). Ditempatkannya bismillah pada permulaan tiap-tiap Surah mempunyai arti seperti berikut:Alquran itu khazanah ilmu Ilahi yang tidak dapat disentuh tanpa karunia khusus dari Tuhan, “Tiada orang boleh menyentuhnya, kecuali mereka yang telah disucikan” ( 56:80 ). Jadi, bismillah telat ditempatkan pada permulaan tiap Surah untuk memperingati orang muslim bahwa, untuk dapat masuk ke dalam Khazanah ilmu Ilahi yang termuat dalam Aquran; dan untuk suci, melainkan ia harus pula senantiasa mohon pertolongan Tuhan. Ayat bismillah itu, mempunyai pula tujuan penting yang lain. Ayat itu ialah kunci bagi arti dan maksud tiap-tiap Surah, karena segala persoalan mengenai urusan akhlak dan rohani, yaitu Rahmaniya (kemurahan) dan Rahimiyah (Kasih-Sayang). Jadi tiap-tiap Surah pada hakikatnya, merupakan uraian terperinci dari beberapa segi Sifat-sifat Ilahi yang tersebut dalam ayat ini. Ada tuduhan bahwa kalimah bismillah, itudiambil dari kitab-kitab suci sebelum Alquran. Kalau Sale mengatakan bahwa, kalimah itu diambil dari Zend Avesta, maka Rodwell berpendapat bahwa, orang-orang Arab sebelum Islam mengambilnya dari orang-orang Yahudi, dan kemudian dimasukkan ke dalam Alquran. Kedua paham itu nyata salah sekali. Pertama, tidak pernah dida’wakan oleh orang-orang Islam bahwa, kalimah itu dalam bentuk ini atau sebangsanya tidak dikenal sebelum Alquran diwahyukan. Kedua, keliru sekali mengemukakan sebagai bukti bahwa, karena kalimah itu dalam bentuk yang sama atau serupa kadang-kadang dipakai oleh orang-orang Arab sebelum diwahyukan dalam Alquran, maka kalimah itu tidak mungkin asalnya dari Tuhan. Sebenarnya Alquran sendiri menegaskan bahwa, Nabi Sulaiman a.s. memakai kalimah itu dalam suratnya kepada Ratu Saba (27:31). Apa yang dida’wakan oleh orang-orang Islam — sedang da’wa itu, tidak pernah ada yang membantah, ialah bahwa, di antara Kitab-kitab Suci, Alquran adalah yang pertama-tama memakai kalimah tiu dengan caranya sendiri. Pula keliru sekali mengatakan bahwa, kalimah itu sudah lazim di antara orang-orang arab sebelum islam, sebab kenyataan yang sudah diketahui ialah bahwa, orang-orang arab mempunyai rasa keseganan menggunakan kata Ar-Rahman sebagai pangilan untuk tuhan. Pula, jika kalimah demikian dikenal sebelumnya, maka hal itu malah mendukung kebenaran ajaran Alquran bahwa, tiada satu kaum pun yang kepadanya tidak pernah diutus seorang Pemberi Ingat (35:25), dan juga bahwa, Alquran itu adalah khazanah semua kebenaran yang kekal dan termaktub dalam Kitab-kitab Suci sebelumnya (98:5).Alquran tentu menambah lebih banyak lagi dan apa pun yang diambilalihnya, Alquran memperbaiki bentuk atau pemakaiannya,atau memperbaiki kedua-duanya.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)

Artinya:
“[a] Segala [5] puji [5a] hanya bagi Allah swt. , Tuhan [6] semesta alam.[6a]”.
________________________________________[a] 6:2 ; 6:46 ; 10:11 ; 18 :2 ; 29:64 ; 30:19 ; 31:26 ; 34:2 ; 35:2 ; 37:183 ; 39:76 ; 45:37.

Tafsir :
[5]. “Dalam Bahasa Arab al itu lebih-kurang sama artinya dengan kata “the” dalam bahasa Inggeris. Kata al dipergunakan untuk menunjukan keluasan yang berarti, meliputi semua segi atau jenis sesuatu pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan, yang pula suatu segi segi keluasa oleh karena meliputi semua tingkat dan derajat, Al dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran”.

[5a]. “Dalam bahasa Arab dua kata madah dan hamd, dipakai dalam arti pujian atau syukur; tetapi kalau madah itu mungkin palsu, hamd itu senantiasa benar. Pula, madah dapat dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai oleh pelakunya; tetapi hamd hanya dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai dengan kerelaan hari dan dengan kemauan sendiri (Mufradat). Hamd mengandung pula arti pengaguman, penyanjungan, dan penghormatan terghadap yang dituju oleh pujian itu; dan kerendahan, kehinaan, dan kepatuhan orang yang memberi pujian (Lane). Jadi, hamd itu kata yang paling tepat dipakai disini, untuk maksud mengutarakan kebaikan, dan puji-pujian yang sungguh wajar lagi layak dan sebagai sanjungan akan kemuliaan Tuhan. Menurut kebiasaan, kata hamd, kemudian menjadi khusus ditujukan kepada Tuhan”
[6]. “Kata kerja rabba berarti, ia mengolah urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi, Rabb berarti,
(a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khalik (Yang menciptakan)
(b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan
(c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara setingkat demi setingkat (Mufradat dan Lane). Dan jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Tuhan”

[6a]. “Al-alamin itu jamak dari al-‘alam berasal dari kata ‘ilm yang berarti “mengetahui.” Kata itu bukan saja telah dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dingan sarana itu, orang dapat mengetahui Sang Pencipta (Aqrab). Kata itu dikenakan bukan bukan saja kepada segala macam wujud atau benda yang dijadikan, tetapi pula kepada golongan-golongannya secara kolektif, sehingga orang berkata ‘alamul-ins, artinya:alam manusia atau ‘alam-ul-hayawan, ialah, alam binatang. Kata al-‘alamin tidak hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud berakal — manusia dan malaikat — saja. Alquran mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan (26:24 – 29 dan 41:10). Akan tetapi, tentu saja kadang-kadang kata itu, dipakai dalam arti yang terbatas (2:123). Di sini kata itu dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan mengandung arti “segala sesuatu yang ada selain Allah swt.,” ialah, benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit — matahari, bulan, bintang, dan sebagainya.

Ungkapan “Segala puji bagi Allah swt.” adalah lebih luas dan lebih mendalam artinya daripada “Aku memuji Allah swt.”, sebab manusia hanya dapat memuji Tuhan menutur pengetahuannya; tetapi, anak kalimat “Segala puji bagi Allah swt.” meliputi bukan hanya sebagai puji-pujian yang di ketahui manusia, tetapi pula puji-pujian yang tidak diketahuinya. Tuhan layak mendapat puji-pujian setiap wahtu, terlepas dari pengetahuan atasu kesadaran manusia yang tidak sempurna. Tambahan pula, kata al-hamd itu masdar dan karena itu dapat di artikan kedua-duanya, sebagai pokok kalimat atau sebagai tujuan kalimat. Diartikan sebagai pokok, Al-hamdu lilahi berarti, hanyalah Tuhan memberikan pujian sejatidan tiap-tiap macam pujian yang sempurna hanya layak bagi Tuhan semata-mata. Untuk huruf al lihat 5.

Ayat ini menunjuk kepada hukum evolusi di dunia, artinya bahwa segala sesuatu mengalami perkembangan dan bahwa perkembangan itu terus-menerus — dan terlaksana secara bertahap, Rabb itu Wujud Yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang, setingkat demi setingkat. Ayat itu menjelaskan pula bahwa prinsip evolusi itu tidak bertantangan dengan dengan kepercayaan kepada tuhan. Tetapi proses evolusi yang disebut di sini,tidak sama dengan teori evolusi sebagai biasanya di artikan. Kata-kata itu dipergunakan dalam arti umum. Selanjutnya, ayatini menunjuk kepada kenyataan bahwa, manusia di jadikan untuk kemajuan takterbatas, sebab ungkapan Rabb-ul-‘alamin itu mengandung arti bahwa, Tuhan mengembangkan segala sesuatu dari tingkatan rendah kepada yang lebih tinggi dan hal itu hanya hanya mungkin jika tiap-tiap tungkatan itu diikuti oleh tingkatan lain, dalam proses yang tiada henti-hentinya”.

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣)
Artinya :
“a] Maha Pemurah, [b] Maha Penyayang [7]”.
________________________________________
[a] 25:62 ; 26:6 ; 41:3 ; 55:2 ; 59:23
[b] 33:44 ; 36:59

Tafsir:
[7]. “Dalam ungkapan bismillah, sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim berlaku sebagai kunci arti seluruh Surah. Sifat-sifat itu disebut di sini memenuhi satu tujuan tambahan. Sifat-sifat itu dipakai di sini, sebagai mata rantai antara Sifat Rabb-ul-‘alamin dan Maliki yaum-id-din”.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤)
Artinta:
“[c] Pemilik [8] [d] Hari [9] Pembalasan. [10]”
________________________________________
[c] 48:15
[d] 51:13 ; 74:47; 82:18,19; 83:7

Tafsir:
[8[. “Dalam ungkapan bismillah, sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim berlaku sebagai kunci arti seluruh Surah. Sifat-sifat itu disebut di sini memenuhi satu tujuan tambahan. Sifat-sifat itu dipakai di sini, sebagai mata rantai antara Sifat Rabb-ul-‘alamin dan Maliki yaum-id-din”.

[9]. “Yaum berarti, waktu mutlak hari mulai matahari terbit hingga terbenamnya; masa sekarang (Aqrab ).

[10]. Din berarti, pembalasan atau ganjaran; peradilan atau perhitungan; kekuasaan atau pemerintahan; kepatuhan; agama, dan sebagainya”.

Keempat sifat Tuhan, ialah, “Tuhan sekalian alam,” “Pemurah,” “Penyayang” dan “Pemilik Hari Pembalasan,” adalah sifat-sifat pokok. Sifat-sifat lain hanya menjelaskan dan merupakan semacam tafsiran, tentang keempat sifat tadi yang laksana empat buah tiang di atasnya terletak singgasana Tuhan Yang Maha Kuasa. Urutan keempat sifat itu seperti dituturkan di atas memberikan penjelasan, bagaimana Tuhan menampakkan sifat-sifat-Nya kepada manusia. Sifat Rabb-ul-‘alamin (Tuhan sekalian alam) mengandung arti bahwa, seiring dengan dijadikannya manusia, Tuhan menjadikan lingkungan yang diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan rohaninya. Sifat Ar-Rahman (Pemurah) mulai berlaku sesudah itu dengan perantaraan itu, Tuhan seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana dan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan akhlak dan rohaninya. Dan jika Ar-Rahim mulai berlaku untuk mengganjar amalnya. Yang terakhir sekali, sifat Maliki yaum-id-din (Pemilik Hari Pembalasan) mempertunjukan hasil terakhir dan kolektif amal perbuatan manusia. Dengan demikian pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan. Sungguh pun perhitungan terakhir dan sempurna akan terjadi pada Hari Pembalasan, proses pembalasan itu terus berlaku, bahkan dalam kehidupan ini juga dengan perbedaan bahwa dalam kehidupan ini perbuatan manusia, seringkali diadili dan diganjar oleh orang lain, para raja, para penguasa, dan sebagainya. Oleh karena itu, senantiasa ada kemungkinan adanya kekeliruan. Tetapi, pada Hari Pembalasan, kedaulatan Tuhan itu mandiri dan mutlak dan tindakan pembalasan itu seluruhnya ada dalam kekuasaan-Nya. Ketika itu tidak akan terdapat kesalahan, tiada hukuman yang tidak tepat, tiada ganjaran yang tidak adil. Pemakaian kata Malik (Pemilik) dimaksudkan pula untuk menunjuk kepada kenyataan bahwa, Tuhan tidak seperti seorang hakim yang harus menjatuhkan keputusan benar sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan. Selaku Maliki (Pemilik), Dia dapat mengampuni dan menampakkan kasih-sayang-Nya, kapan saja dan dengan cara apa pun sekehendak-Nya. Dengan mengambil din dalam arti “agama,” maka kata-kata “Yang mempunyai waktu agama” akan berarti bahwa, bila suatu agama sejati diturunkan, umat manusia menyaksikan suatu penjelmaan kekuasaan dan takdir Ilahi yang luar biasa, dan bila agama itu mundur, maka nampaknya seolah-olah sekalian alam berjalan secara mekanis, tanpa pengawasan atau pengaturan Sang Pencipta dan Al-Malik”.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥)

Artintya:
“[a] Hanya Engkau kami sembah [11] dan [b] hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. [12]”.
________________________________________
[a] 11:3; 12:41; 16:37; 17:24; 41:38
[b] 2:46, 154; 21:113

Tafsir:
[11]. “Ibadah berarti, merendahkan diri, penyerahan diri, ketaatan, dan berbakti sepenuhnya. Ibadah mengandung pula arti, iman kepada Tauhid Ilahi dan pernyataan iman itu dengan perbuatan. Kata itu berarti pula, penerimaan kesan atau cap dari sesuatu. Dalam arti ini ibadah akan berarti, menerima kesan atau cap dari sifat-sifat Ilahi dan meresapkan serta mencerminkan sifat-sifat itu dalam dirinya sendiri”.

[12]. Kata-kata Hanya Engkaulah kami sembah, telah ditempatkan sebelum kata-kata, hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan, untuk menunjukkan bahwa sesudah orang mengetahui kebesaran sifat-sifat Tuhan, maka dorongan pertama yang timbul dalam hatinya adalah beribadah kepada Dia.Pikirin untuk mohon pertolongan Tuhan, datang sesudah adanya dorongan untuk beribadah. Orang ingain beribadah kepada Tuhan, tetapi ia menyadari bahwa untuk berbuat demikian, ia memerlukan pertolongan Tuhan. Pemakaian huruf jamak dalam ayat ini mengarakan perhatian kita kepada dua pokok yang sangat penting:

(a) Bahwa manusia tidak hidup seorang diri di bumi ini, melainkan ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat di sekitarnya. Maka ia hendaknya berusaha jangan berjalan sendiri, tetapi harus menarik orang- orang lain juga bersama dia, melangkah di jalan Tuhan.
(b) Bahwa selama menusia tidak mengubah lingkungannya, ia belum aman.
Layak dicatat pula, Tuhan dalam keempat ayat pertama disebut sebagai orang ketiga, tetapi dalam ayat ini tiba-tiba Dia dipanggil dalam bentuk orang kedua. Renungan atas keempat sifat-sifat Ilahi itu, membangkitkan dalam diri manusa keinginan yang begitu tak tertahankan untuk dapat melihat Khalik-nya , dan begitu mendalam seta kuat hasratnya, untuk mempersembahkan pengabdian sepenuh hatinya kepada-Nya, sehingga untuk memenuhi hasrat jiwanya itu bentuk orang ketiga yang dipakai pada ayat keempat permulaan, telah diubah menjadi bentuk orang kedua dalam ayat ini.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)
Artinya:
“Tunjukilah kami pada [a] jalan yang lurus; [13]”
________________________________________
[a] 19:37 ; 36:62 ; 42:53,54

Tafsir:
[13]. “Doa ini meliputi seluruh keperluan manusia — kebendaan dan rohani, untk masa ini dan masa yang akan datang. Orang mukmin berdoa agar kepadanya ditunjukkan jalan lutus, jalan terpendek. Kadang-kadang kepada manusia diperlihatkan jalan uang benar dan lurus itu, tetapi ia ridak dipimpin kepadanya, atau, jika ia dibimbing ke sana, ia tidak berditetap pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir. Doa itu menhandaki, agar orang beriman tidak merasa pulas dengan hanya diperlihatkan kepadanya siati kalanm atau juga dengan dibimbing ke sana, ia tidak bersitetap pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir, Dia itu menghendaki, atau orang beriman tidak merasa puas dengan hanya diperlihatkan kepadanya siati jalan, atau juga dengan dibimbing pada jalan itu, tetapi ia harus senantiasa terus menerus mengikutinya hingga mencapai tujuannya, dan inilah makna hidayah, yang berarti, menunjukkan jalan yang lurus (90:11), membimbing ke jalan lurus ( 29:70 ) dan membuat orang mengikuti halan yang lurus ( 7:44 ) (Mufradat dan Baqa ). Pada hakikatnya, manusia memerlukan pertolongan Tuhan pada tiap-tiap langkah dan pada setiap saat, dan sangat perlu sekali baginya, agar ia senantiasa mengajukan kepada Tuhan permohonan yang terkandung dalam ayat ini. Maka oleh karena itu, dia terus-menerus itu memang sangat perlu, Selama kita mempunyai keperluan -keperluan yang belum kesampaian dan keperluan-keperluan yang belum terpenuhi dan tujuan- tujuan yang belum tercapai, kita selamanya memerlukan doa”.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)

Artinya:
“Jalan [a] orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, [14] bukan atas mereka [b] yang dimurkai dan bukan pula [c] yang sesat. [15]”
________________________________________
[a] 4:70 ; 5:21 ; 19:59
[b] 2:62, 91 ; 3:113 ; 5:61,70
[c] 3:91 ; 5:78; 18:105

Tafsir :
[14]. “Orang mukmin sejati tidak akan merasa puas hanya dengan dipimpin ke jalan yang lurus atau dengan melakukan beberapa amal saleh tertentu saja,. Ia menempatkan tujuannya jauh lebih tinggi dan berusaha mancapai kedudukan saat Tuhan mulai menganugerakan karunia-karunia Ilahi yang dianugerakan kepada para pilihan Tuhan, lalu memperoleh dorongan semangat dari mereka. Ia malahan tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi ia berusaha keras dan mendoa supaya digolongkan di antara “orang-orang yang telah mendapat nikmat itu, telah disebut dalam 4:70. Doa itu umum dan tidak untuk sesuatu karunia tertentu. Orang mukmin bermohon kepada Tuhan agar menganugerakan karunia rohani yang tertinggi kepadanya dan terserah kepada Tuhan untuk menganugerahkan kepadanya karunia yang dianggap-Nya pantas dan layak bagi orang mukmin itu menerimanya”

[15]. “Surah Al-Fatihah membuka suatu tertib indah dalam susunan kata-katanya dan kalimat – kalimatnya. Surah ini dapat dibagi dalam dua bagian yang sama. Separuhnya yang pertama bertalian dengan Tuhan, separuhnya yang kedua dengan manusia, dan tiap bagian bertalian sama sama lain dengan cara yang sangat menarik. Berkenaan dengan nama “Allah swt. ” yang menunjuk kepada Dzat yang memiliki segala sifat mulia yang tersebut dalam bagian pertama. Kita dapati kata- kata, hanya Engkau kamu sembah dalam bagian yang kedua. Segera setelah seseorang abid (yang melakukan ibadah) ingat bahwa Tuhan bebas dari segala cacat dan kekurangan dan memiliki segala sifat sempurna, maka seruan hanya Engkau kamu sembah dengan sendirinya timbul dari hati sanubarinya. Dan sesuai dengan sifat “Tuhan semesta Alam ” tercantum kata-kata kepada Engkau kami mohon pertolongan dalam bagian kedua. Setelah orang Islam mengetahui bahwa Tuhan itu Khalik dan Pemelihara sekalian alam dan Sumber dari segala kemajuan, ia segera berlindung kepada Tuhan, sambil berkata, kepada Engkau kamu mohon pertolongan, Kemudian, sesuai dengan sifat “Ar-Rahman,” yakni Pemberi karunia tak berbilang dan Pemberi dengan cuma-cuma segala keperluan kita, tercantum kata-kata, Tunjukilah kami pada jalan yang lurus dalam bagian kedua; sebab karunia terbesar yang tersedia bagi manusia ialah petunjuk yang disediakan Tuhan baginya, dengan menurunkan wahyu dengan perantaraan rasul-rasul-Nya. Sesuai dengan sifat “Ar-Rahim,” yakni, Pemberi ganjaran terbaik untuk amal perbuatan manusia dengan bagian pertama, kita jumpai kata-kata, Jalan orang- orang yang telah Engkau beri nikmat dalam bagian kedua, sebab memang Ar-Rahim -lah yang menganugerakan nikmat-nikmat yang layak bagi hamba-hamba-Nya yang khas. Lagi, sesuai dengan “Pemilik Hari Pembalasan” kita dapatkan Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Bila terlintas dalam pikiran manusia bahwa ia harus memberikan pertanggunjawaban atas amal perbuatannya, ia takut menemui kegagalan, maka dengan merenungkan sifat Pemilik hari Pembalasan, ia mulai mendoa kepada Tuhan, supaya ia diperlihara dari murka-Nya dan dari kesesatan dari jalan yang lurus.

Sifat khusus lainnya pada doa yang terkandung dalam Surah ini ialah dia itu mengimbau naluri-naluri manusia yang dalam, dengan cara yang wajar sekali. dalam fitrat manusia ada dua pendorong yang merangsangnya untuk menyerahkan diri ialah cinta dan takut. Sebagian orang tergerak oleh cinta, sedang yang lain terdorong oleh takut. Dorongan cinta memang lebih mulia, tetapi mungkin ada dan sungguh-sungguh ada — orang-orang yang hatinya tidak tergerak oleh cinta. Mereka hanya menyerah karena pengaruh takut. Dalam Al-Fatihah kedua pendorong manusia itu telah diimbau. Mula-mula tampil sifat-sifat Ilahi yang membangkitkan cinta, “Pencipta dan Pemelihara sekalian alam,” “Maha Pemurah” dan “Maha Penyayang”. Kemudian. segera mengikutinya sifat “Pemilik Hari Pembalasan,” yang memperingatkan manusia bahwa, bila ia tidak memperbaiki tingkah-lakunya dan tidak menyambut cinta dengan baik, maka ia harus bersedia mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Tuhan. Dengan demikian pendorong kepada “takut:dipergunakan berdampingan dengan pendorong kepada cinta. Tetapi, oleh karena kasih-sayang Tuhan itu jauh mengatasi sifat Murka-Nya sifat ini pun — yang merupakan satu-satunya sifat pokok yang bertujuan membangkitkan takut — tidak dibiarkan tanpa menyebut kasih-sayang. Pada hakikatnya, di sini pun kasih-sayang Tuhan mengatasi murka-Nya, sebab telah terkandung juga dalam sifat ini bahwa, kita tidak akan menghadap seorang Hakim ,tetapi menghadapTuhan Yang berkuasa mengampuni dan Yang hanya akan menyiksa bila siksaan itu sangat perlu sekali. Pendek kata, Al-Fatihah itu khazanah ilmu rohani yang menakjubkan. Al-Fatihah itu surah pendek dengan tujuan ayat ringkas, tetapi Surah yang sungguh-sungguh merupakan tambang ilmu dan hikmah. Tepat sekali disebut “Ibu Kitab,” Al-Fatihah itu intisari dan pati Alquran. Mulai dengan nama Allah swt., Sumber pokok pancaran segala karunia, rahmat dan berkat, Surah ini melanjutkan penuturan keempat sifat pokok Tuhan, ialah :
1. Yang menjadikan dan memelihara alam semesta
2. Maha Pemurah Yang mengadakan jaminan untuk segala keperluan manusia, bahan sebelum ia dilahirkan, dan tampa suatu usaha apa pun dari pihak manusia untuk memperolehnya.
3. Maha Penyayang, Yang menetapkan hasil sebaik mungkin amal perbautan manusia dan Yang menganjarkannya dengan amat berlimpah-limpah.
4. Pemilik Hari Pembalasan.

Di hadapan-Nya, manusia harus menpertanggungjawabkan amal perbuatannya dan Yang akan menurunkan siksaan kepada si jahat, tetapi tidak akan berlaku terhadap makluk-Nya semata-mata sebagai Hakim, melainkan sebagai majikannya Yang melunakkan hukuman dengan kasih-sayang, dan Yang sangat cenderung mengampuni, kapan saja pengampunan akan membawa hasil yang baik. Itulah citra Islam, seperti dikemukakan pada awal sekali Alquran, mengenai Dzat Yang kekuasaan serta kedaulatan-Nya tak ada hingganya dan kasih-sayang serta kemurahan-Nya tiada batasnya. Kemudian datanglah pernyataan manusia bahwa, mengingat Tuhan-nya itu Pemilik semua sifat agung dan luhur, maka ia bersedia malah berhasrat, menyembah Dia dan menjatuhkan diri pada kaki-Nya, agar mohon pertolongan-Nya pada setiap derap langkah majunya dan setiap keperluan yang di hadapinya. Akhirnya, datanglah doa — padat dan berjangkauan jauh — suatu doa yang di dalamnya manusia bermohon kepada Khalik-nya, untuk membimbingnya ke jalan yang lurus dalam segala urusan rohani dan duniawi, baik mengenai keperluan -keperluan sekarang atau pun di hari depan. Ia mencoba kepada Tuhan, agar ia bukan saja dapat menghadapi segala cobaan dan ujian dengan tabah, tetapi selaku “orang-orang terpilih,” menghadapinya dengan cara yang sebaik-baiknya dan menjadi penerima karunia dan berkat Tuhan yang paling banyak dan paling besar, agar ia selama-lamanya terus melangkah maju pada jalan yang lurus, maju terus makin dekat dan lebih dekat lagi kepada Tuhan dan Junjungan-nya, tampa terantuk-antuk di perjalanannya, seperti telah terkadi pada banyak dari antara mereka yang hidup di masa yang lampau. Itulah pokok Surah pembukaan Alquran, yang senantiasa diulangi dengan suatu bentuk atau cara lain, dalam seluruh tubuh Kitab suci itu”.

Sumber :
Al Qur’an, Terjemahan dan Tafsir Singkat Jilid I
Oleh : HM Basyiruddin.MA

Riwayat Singkat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Pendiri Ahmadiyah

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Ghulam Ahmad, Tabligh on 12 November 2009 at 00:39

A. Kelahiran dan Keluarga

Pendiri Jemaat ahmadiyah bernama mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Nama asli beliau adalah Ghulam Ahmad. Sedangkan “Mirza” melambangkan bahwa beliau berasal dari keturunan Moghul. Nama yang suka beliau gunakan yaitu Ahmad.
Beliau dilahirkan di Desa Qadian, Jumat, 13 Pebruari 1835 M atau 14 syawal 1250 H di rumah ayah beliau Mirza Ghulam Murtadha pada waktu shubuh. Qadian terletak 57 km sebelah timur kota Lahore dan 24 km dari kota Amritsar di Propinsi Punjab, India.1 Beliau adalah keturunan Haji Barlas, Raja Kawasan Qesh, yang merupakan Paman Amir Tughlak Temur. Tatkala Amir Temur menyerang Qesh, Haji Barlas sekeluarga terpaksa melarikan diri ke Khurasan dan Samarkand dan mulai menetap di sana. Akan tetapi, pada abad 10 H atau abad ke 16 Masehi, seorang keturunan Haji Barlas bernama Hadi Beg beserta 200 orang pengikutnya hijrah dari Khurasan ke India karena beberapa hal, dan tinggal di kawasan Sungai Bias lalu mendirikan sebuah perkampungan bernama Islampur, 9 km dari sungai tersebut.2
Mirza Hadi Beg adalah orang yang cerdik dan pandai, karenanya beliau diangkat oleh Pemerintah Pusat Delhi sebagai Qadhi (Hakim) untuk daerah sekelilingnya. Oleh sebab kedudukan beliau sebagai Qadhi itulah, tempat tinggal beliau disebut Islampur Qadhi. Lambat laun kata Islampur hilang tinggal Qadhi saja. Dikarenakan dialek setempat akhirnya disebut sebagai Qadi atau Qadian.3
Selama kerajaan Moghul berkuasa, keluarga ini sering memperoleh kedudukan terhormat dari Pemerintah Negara. Akan tetapi, ketika kerajaan Moghul jatuh, keluarga ini hanya mendapatkan 60 pal sekitar Qadian sebagai daerah otonomi. Keadaan ini diperparah lagi ketika Bangsa Sikh menguasai Qadian. Keluarga Barlas semuanya ditahan selama beberapa hari, kemudian diizinkan meninggalkan Qadian. Akhirnya, mereka pergi ke Kesultanan Kapurtala selama 12 tahun.

Ketika zaman Kekuasaan Maha Raja Ranjit Singh yang berhasil menguasai semua raja kecil, beliau mengembalikan sebagian harta benda keluarga itu kepada ayah Mirza Ghulam Ahmad. Kemudian datanglah Inggris yang mengalahkan Pemerintah Sikh dan merampas segala kekayaan keluarga ini kecuali satu daerah yaitu Qadian yang amat kecil. Daerah ini dibiarkan dalam kepemilikan keluarga tersebut.

B. Pendidikan

Ketika Hadhrat Ahmad berumur enam atau tujuh tahun beliau mulai menerima pendidikan dari seorang guru di rumah sebab waktu itu belum ada sekolah seperti sekarang ini. Guru itu mengajarkan Alquran dan bahasa Farsi. Waktu itu bahasa Farsi merupakan bahasa penting di India. Setelah itu beliau menerima pendidikan bahasa Farsi dan Arab dari guru yang lain. Tidak hanya itu, ayah beliau pun mengajari beliau ilmu obat-obatan, suatu ilmu yang sangat digemari di India dan Pakistan sampai sekarang. Namun, pendidikan yang beliau terima hanya bersifat dasar semata. Selain itu, beliau tidak menerima pendidikan lebih lanjut. Beliau mempelajari sendiri buku-buku keagamaan dan lebih banyak mempelajari kitab suci Alquran.

C. Akhlak

1. Cinta Kepada Allah dan Sesama Manusia
Sejak masa kanak-kanak Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sudah terkenal berakhlak luhur. Sekalipun anak seorang kaya dan terkemuka, beliau tidak tertarik dengan hal yang menghabiskan waktu sia-sia. Beliau kurang senang bermain kecuali dipandangnya berguna bagi kesehatan badan. Beliau menyukai renang dan menunggang kuda secara mahir. Beliau pun menyukai kesederhanaan. Oleh karena itulah, kepribadian beliau yang luhur itu menarik perhatian seorang wali yang bernama Maulvi Ghulam Rasul. Waktu itu, beliau melihat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. lalu mengusap rambutnya seraya berkata, “Kalau masa ini ada seorang Nabi, maka anak ini layak menjadi Nabi”. (Hayya Tayyibah)4
Selain itu, kecintaan beliau kepada Allah sangat tinggi. Ketika masih kecil, segala keinginan dan cita-cita beliau Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. ditujukan kepada keridhoan Ilahi. Beliau sering mengatakan kepada seorang anak perempuan yang seumur dengan beliau, “Doakanlah, supaya Allah memberi taufik kepada saya untuk shalat.” Perkataan ini menyatakan betapa perasaan suci bergelora dalam sanubari beliau Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. ketika masih kanak-kanak dan segala keinginan beliau hanya ditujukan kepada Allah semata.5 Misi beliau adalah “tangan bekerja, hati tertumpu kepada Sang Kekasih.” Setiap selesai mengerjakan suatu urusan, beliau langsung kembali tenggelam dalam ibadah dan dzikir Ilahi. 6 Ketika dewasa hubungan sosial dengan masyarakat sangat baik. Beliau berlaku baik terhadap sesama. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. suka membagikan makanan kepada orang-orang miskin dan untuk diri sendiri beliau hanya mencukupkan dengan sekerat roti yang tidak lebih dari 50 gram. Kadang-kadang beliau hanya makan kacang-kacangan yang disangrai, sedangkan makanan beliau dibagikan kepada fakir miskin. Oleh karena itu, banyak fakir miskin suka tinggal dengan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Mereka diperhatikan dan diurus oleh beliau lebih dari keperluan dan kepentingan sendiri. Walaupun beliau sendiri berada dalam kesusahan. 7

2. Berkata Benar
Di kota Batala, lebih kurang 18 km dari Qadian terdapat seorang ulama besar yang bernama Maulvi Muhammad Hussein Batalwi. Beliau ini ulama yang disebut “Al- Hadis” semacam “Golongan Muda”. Golongan ini mendapat tantangan besar sekali dari golongan ulama konservatif. Pada suatu hari Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. diminta membantu untuk berhadapan dengan Maulvi Muhammad Hussein Batalwi mengenai suatu permasalahan yang dipertentangkan dengan suatu golongan. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menanyakan kepada Maulvi Muhammad Hussein mengenai pendiriannya tentang masalah itu. Setelah mendengar penjelasannya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. langsung menyatakan bahwa pendirian itu benar. Mereka yang membawa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. merasa sangat kecewa karena Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. membenarkan pendirian lawan mereka. Karena melihat hal ini, beliau mengatakan, “Apa yang saya lihat benar menurut pandangan islam saya akui kebenarannya karena mencari keridhoan Allah semata. Perlawanan dan permusuhan tidak saya kuatirkan dan tidak pula saya memerlukan pujian dan pengagungan manusia.” 8

Atas kejadian ini Allah menurunkan ilham kepada beliau, “Tuhan memuji engkau dan Dia akan memberikan berkat yang besar kepada engkau hingga raja-raja akan mencari berkat dari pakaian engkau.” (Barahin Ahmadiyah). 9

Tidak hanya itu, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. pernah menulis sebuah karangan terhadap Hindu dari Arya Samaj untuk mempertahankan kebenaran Islam. Naskah itu dikirim ke sebuah percetakan yang letaknya dekat dari Qadian yaitu Amritsar. Naskah itu dikirim dengan menggunakan paket. Akan tetapi, karena ketidaktahuan tentang peraturan pos, beliau menyisipkan sebuah surat pengantar dalam paket itu.

Menurut peraturan pos, paket dan surat tidak boleh digabung, harus dikirim secara terpisah. Hal demikian merupakan pelanggaran dan dikenai denda 500 rupees atau 5 bulan penjara. Kebetulan percetakan yang dikirimi paket tersebut adalah milik Baliaram seorang Kristen yang memusuhi Islam. Kesempatan itu ia gunakan untuk menjatuhkan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Ia melaporkan hal itu kepada pihak pos sehingga Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. dibawa ke pengadilan. 10

Ketika akan diadukan ke pengadilan, para penasehat Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., meminta Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. untuk mengatakan bahwa surat itu tidak beliau masukan dan yang memasukan adalah Baliaram karena ia memusuhi Islam. Inilah satu-satunya cara untuk menghindari hukuman. Akan tetapi, permintaan itu beliau tolak dengan tegas. Beliau mengatakan, “Suratnya saya yang masukan. Apakah untuk menghindari hukuman saya harus mungkir? Hal ini tidak mungkin saya lakukan.” 11

Ketika di pengadilan, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. mengatakan hal yang sebenarnya. Rupanya, karena beliau berkata benar dan tegas itulah maka hakim yang bijaksana menyatakan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. tidak bersalah.12

3. Mujahadah
Pada tahun 1876 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. dalam mimpi melihat seorang tua menyampaikan kepada beliau bahwa dalam keluarga Nabi Muhammad saw. telah menjadi kebiasaan untuk berpuasa selama satu masa sebagai cara untuk persiapan menerima cahaya langit. (Kitaabul Bariyyah., hal. 164-167)

Beliau meyakini mimpi itu sebagai petunjuk sehingga beliau mengamalkannya dengan berpuasa selama 8 atau 9 bulan. Dalam masa-masa puasa itu beliau banyak mendapatkan mimpi dan kasyaf. Suatu kali beliau melihat malaikat dalam rupa manusia. Beliau tidak ingat malaikat- malaikat itu dua atau tiga. Mereka sedang bercakap-cakap. Kemudian malaikat itu berkata kepada beliau, “Kenapa engkau membuat dirimu menderita begitu berat? Dikuatirkan engkau akan membuat dirimu sakit.”

Beliau meyakini bahwa yang dimaksudkan oleh malaikat itu adalah berkenaan dengan puasa yang sedang beliau lakukan terus menerus itu. Beliau merahasiakan pengalaman beliau itu. Sebab, menurut beliau kadang-kadang menceritakan hal itu bisa menyebabkan hilangnya karunia. (Badar, Vol.I,No 12, 16 Januari 1903, hal.90)13
D. Menerima Ilham Pertama
Mujahadah itu membuat beliau semakin fana dalam kecintaan kepada Allah dan Nabi Muhammad saw.. Di tahun itu juga yakni 1876 bertepatan dengan usia beliau mencapai kurang lebih empat puluh tahun beliau menerima ilham pertama yang berbunyi:
و السماء و الطارق

“Persumpahan demi langit yang merupakan sumber takdir dan demi peristiwa bumi yang akan terjadi setelah tergelincir matahari pada hari ini.” 14

Ilham ini menerangkan tentang kewafatan ayah beliau yang akan terjadi setelah maghrib. Sebelum turun ilham ini Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sering memperoleh ru’ya sholihah (mimpi yang benar) yang telah disaksikan oleh orang-orang Sikh dan Hindu. Ilham ini membuat beliau sangat sedih dan kuatir kalau-kalau dalam hari-hari mendatang beliau akan menderita banyak kesusahan. Dalam kekuatiran itulah maka Allah menurunkan ilham kedua:

اليس الله بكاف عبده

“Apakah Allah tidak cukup bagi hamba-Nya?”

Ilham ini membuat beliau tenang. Sebagaimana beliau menyatakan, “Dari Ilham ini hati saya menjadi sangat teguh bagai luka parah yang menjadi sembuh dan pulih karena suatu obat. Setelah menerima Ilham ’Alaisallaahu bikaafin ‘abdahu’ saya yakin bahwa Allah pasti menolong saya.”

E. Memperoleh Sahabat yang Mukhlis dan Setia

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. bersemangat dalam membela Islam. Dalam kondisi demikian, beliau merasa membutuhkan seorang sahabat yang baik yang rela mengkhidmati Islam. Maka beliau berdoa, “Ya, Allah! berilah kepadaku seorang kawan untuk berkhidmat terhadap agama Islam.”

Pada tahun 1885 Allah Ta’ala mengabulkan doa beliau dengan mengirimkan seorang sahabat yang baik, yang siap mengkhidmati Islam. Sahabat beliau itu bernama Maulana Al-Hajj Hakim Nuruddin r.a. Sekilas mengenai sosok Maulana Hakim Nuruddin r.a. akan dijelaskan berikut ini.

Beliau berasal dari keturunan Hadhrat Umar Faruq r.a. Diantara nenek dan kakek beliau ada yang menjadi wali, alim-ulama, raja, sufi, qadhi, syahid dan sebagainya. Keluarga beliau selalu menempati kedudukan tinggi dan mulia. Di Pakistan anggota keluarga beliau dipanggil Syahzade (Anak raja). Beliau memiliki otak yang cerdas. Adalah karunia Tuhan bahwa beliau dilahirkan di rumah yang di dalamnya selalu dzikir dan ingat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mula-mula beliau belajar Alquran dari ibunya dan buku-buku agama dalam Bahasa Punjabi. Kemudian, beliau masuk sekolah.

Beliau patuh terhadap sembahyang dimulai sejak belajar di sekolah, guru-guru beliau mengizinkan beliau untuk bersembahyang bersama anak-anak yang lain. Dalam sembahyang beliau suka membaca doa-doa dengan suara lembut. Beliau sangat mencintai Tuhan dan tidak mengandalkan sarana-sarana duniawi. Suatu ketika beliau ditanya oleh seorang penilik sekolah yang bernama Khudah Bakhs pada tahun 1858 di Rawalpindi. Penilik itu berkata, “Saya dengar tuan sangat pandai dan mendapat ijazah yang gemilang. Mungkin karena hal-hal itulah tuan merasa bangga.” Beliau menjawab, “Kami tidak menganggap secarik kertas itu sebagai Tuhan.” Kemudian beliau berkata kepada seseorang,”Saudara, bawalah berhala itu!” (maksudnya ijazah itu-Pent). Dan di hadapan dia kertas itu disobek dan membuktikan bahwa beliau tidak menganggap sesuatu sebagai sekutu Tuhan. Dia merasa menyesal dan berkata, “Tuan menderita kerugian disebabkan aku.” Beliau selalu bersabda, ”Semenjak saya menyobek ijazah itu, dari sejak itu saya selalu mendapat uang yang tak ada batasnya.”

Selain itu, beliau pun pernah menuntut ilmu di Madinah. Suatu hari beliau tidak bisa ikut sembahyang zhuhur berjamaah. Beliau merasa sangat sedih. Beliau menganggap itu satu dosa besar, yang tidak bisa diampuni. Sebab rasa takut, maka beliau menjadi pucat. Beliau mulai takut masuk ke masjid. Tiba dipintu masjid, beliau membaca satu ayat Alquran yang ditulis di atas pintu, yang artinya, “Hai hamba-haamba Tuhan, jika kamu berbuat dosa, maka janganlah putus asa dari rahmat Allah swt.. Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sesudah membaca ayat itu, beliau merasa sedikit berani. Tetapi, beliau masih juga takut dan gugup masuk ke masjid. Kemudian beliau menunaikan sembahyang.

Beliau pun memperoleh berkat dari Allah swt. untuk menghafal Alquran seperti halnya leluhur-leluhur beliau di masa lampau.

Hadhrat Hakim Nuruddin mengenal Hadhrat Al-Masih Al-Mau’ud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. pada tahun 1885 melalui seorang yang bernama Syaikh Rukhnuddin. Rukhnuddin mengatakan bahwa di Qadian ada orang yang bernama Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menulis tentang agama Islam. Akhirnya, beliau pun menulis surat kepada Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. untuk meminta buku-buku. Ketika beliau membaca brosur pertama dari Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. beliau langsung pergi ke Qadian laksana kupu-kupu dari Jammu ke Qadian dan berkenalan dengan Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Demikianlah sekilas profil Maulana Alhajj Hakim Nuruddin r.a..

Dengan terkabulnya do’a Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. itu, kebahagiaan pun menyelimuti hidup Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Sebagaimana beliau mengatakan:
“Tuhan menerima doa-doaku dan kepadaku diberikan seorang kawan yang mukhlis dan mencintai (Islam – Peny.), yang namanya seperti adat nuraninya yaitu Nuruddin. Salah seorang dari tokoh Islam, keturunan dari orang-orang yang suci. Saya merasa demikian gembira bertemu dengannya, laksana gembiranya menemukan kembali kebahagiaan tubuh yang sudah hilang. Dan saya bergembira seperti gembiranya Rasulullah saw. waktu bertemu dengan Hadhrat Umar Faruq r.a.. Saya lupa semua rasa duka cita. Apabila saya melihatnya, saya yakin bahwa itulah hasil doa-doaku.”

Baru saja mereka berkenalan, Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. telah meminta Maulana Hakim Nuruddin r.a. untuk menulis sebuah kitab yang baik untuk melawan Kristen. Beliau memenuhi permintaan itu. Sampai-sampai jaksa-jaksa mengucapkan selamat dan mubarak kepada beliau atas tulisan itu.

Persahabatan kedua hamba Allah yang cinta kepada islam itu benar-benar mengamalkan ayat :
تعاونوا على البر والتقوى
“Tolong menolonglah kalian dalam perkara kebaikan.”
(Al-Maidah : 3)

F. Mendirikan Jemaat

Pada tahun 1889 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menerima ilham untuk mendirikan Jemaat. Ilham tersebut adalah demikian.
إصنع الفلك بأعينناووحيناإن الذين يبايعونك إنمايبايعون الله يدالله فوق أيديهم

“Buatlah bahtera dengan pengawasan Kami dan wahyu Kami. Sesungguhnya orang yang berbaiat kepada engkau, mereka sebenarnya berbaiat kepada Allah tangan Allah berada di atas tangan mereka.”

Sesuai dengan perintah ini, pada tanggal 23 Maret 1889 beliau mengambil baiat pertama kali di Ludhiana di rumah seorang yang mukhlis bernama Mia Ahmad Jaan. Mubayi’in pada waktu itu berjumlah 40 orang. Dalam baiat itu Maulana Hakim Nuruddin r.a. mendapatkan karunia sebagai mubayi’in pertama di tangan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Peristiwa ini merupakan awal berdirinya Jemaat Ahmadiyah.

G. Ilham Tentang kewafatan Nabi Isa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. dan Pengangkatan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud

Pada tahun 1890 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. menerima ilham bahwa Nabi Isa Israili Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. telah wafat. Dan sesuai dengan janji Allah Ta’ala, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad., diangkat oleh Allah swt. sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud. Ilham itu berbunyi:

“Al-Masih Ibnu Maryam Rasulullah telah wafat. Dan engkau telah datang dalam coraknya sesuai dengan yang dijanjikan. Dan janji Allah telah terlaksana. ”

وبشرني وقال: إن المسيح الموعود الذي يرقبونه و المهدي المسعود الذي ينتظرونه هو أنت- نفعل ما نشاءفلا تكونن من الممترين

Dan Dia memberikan kabar gembira kepadaku dan berfirman: “Sesungguhnya Al-Masih Al-Mau’ud yang mereka tunggu dan Al-Mahdi Al-Mas’ud yang mereka nantikan yaitu engkau. Kami melakukan apa yang Kami kehendaki. Maka janganlah engkau termasuk orang-orang yang ragu”
Ilham inilah yang membuat beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. Maka, pada tahun itu juga beliau segera mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi diiringi pendakwaan beliau sebagai Al-Masih yang dijanjikan pada 1891.
Setelah pendakwaan itu sesuai dengan Alquran dan Hadis Nabi saw. tentang tanda kedatangan Imam Mahdi, Allah swt. memperlihatkan gerhana matahari dan bulan yang terjadi dalam bulan Ramadhan. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1894 . Dengan demikian genaplah sudah nubuatan Alquran dan Rasulullah saw..

H. Pernyataan Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. sebagai Nabi yang Tidak Membawa Syariat

Pengakuan beliau sebagai nabi sudah dijelaskan oleh beliau sendiri. Beliau bukanlah nabi yang membawa syariat. Beliau bersabda:
“Maksud dari segala penjelasan yang kuterangkan di atas adalah, bahwa orang-orang yang tidak mengetahui dan memusuhiku serta menuduhku bahwa aku telah mengaku sebagai nabi dan rasul sebagaimana yang disangka mereka. Hendaklah diketahui bahwa aku benar-benar adalah nabi dan rasul sebagaimana yang telah kuterangkan di atas. Barangsiapa yang berburuk sangka terhadapku dan menuduhku menjadi nabi dan rasul (yang membawa syariat,Peny.,) maka orang itu adalah pendusta dan berpikiran keji.”

I. Wafat
Pada tanggal 26 Mei 1908 Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. berada di Lahore. Beliau terserang penyakit diare dan kali ini semakin parah. Dalam kondisi demikian beliau menerima ilham:

الرحيل ثم الرحيل
“Waktu keberangkatan telah tiba lalu waktu keberangkatan telah tiba.”

Para dokter tidak sanggup lagi untuk mengatasi penyakit beliau. Pada hari itu juga tepat pukul 10.30 beliau menghembuskan nafas yang terakhir untuk pulang ke rahmatullah. Innaa lillaahi wa innaa ilahhi rooji’uun. Sewaktu sakit hanya satu perkataan yang beliau ucapkan yaitu “Allah”.

Kemudian jenazah beliau dibawa ke Qadian dengan kereta api. Peristiwa ini telah menggenapkan ilham yang beliau terima:
“Un ki laasy kafan me lipith kar lae he.”
“Jenazahnya telah dibawa dengan terbungkus kain kafan.”

Dan sesuai dengan pesan beliau dalam buku beliau “Al-Wasiyat” yang berbunyi, “Allah Ta’ala akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hadhrat Abu Bakar r.a. mengurus umat islam sesudah kewafatan junjungan yang mulia Nabi Muhammad saw.” maka Jemaat ahmadiyah memilih Hadhrat Hakim Nuruddin untuk menjadi Khalifatul Masih Al-Awwal dalam meneruskan misi Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad..

Setelah Hadhrat Hakim Nuruddin terpilih sebagai Khalifatul Masih Al-Awwal, beliau memimpin sholat jenazah Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad.. Sholat jenazah ini dilakukan setelah sholat zhuhur. Kemudian, jenazah dikebumikan di Bahisyti Maqbarah, Qadian. Peristiwa terpilihnya Khalifah I ini dan dimakamkannya jenazah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. terjadi pada tanggal 27 Mei 1908. Hari inilah yang biasa diperingati tiap tahun oleh Jemaat ahmadiyah sebagai hari berdirinya Khilafat Ahmadiyah. Peristiwa ini telah menggenapkan ilham yang diterima Hadhrat mirza Ghulam Ahmad Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad. yang berbunyi:

“Stais ko eik waqiah”
“Sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 27.”

Oleh Ridwan Buton
http://1-islam.net/ahmadiyah/70-riwayat-mirza-ghulam-ahmad.html

Ahmadiyah : Kisah orang-orang yang masuk Ahmadiyah

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Berita, Ghulam Ahmad, Imam Mahdi, Islam, Khalifah V, Masih Ma'ud, November, Tabligh on 11 November 2009 at 05:49

Saya istikharah tentang dakwah Hazrat Sahib (Mirza Ghulam Ahmad) maka didalam jawabannya saya melihat sebuah gerabak (carriage) turun dari langit dan tiba-tiba turunlah iham didalam kalbu saya bahwa Al Masih yang dijanjikan sedang turun dari langit. Ketika saya singkapkan kain penutup gerabak itu saya lihat Mirza Ghulam Ahmad duduk didalamnya. Setelah menyaksikan kasyaf dan menerima ilham itu maka sayapun langsung bai’at kepada Mirza Ghulam Ahmad.

Malik Salahuddin MA Sahib, dalam menuturkan kehidupan Mlv Rahimullah Khan Sahib r.a. telah menulis sebagai berikut: “Mlv Rahimullah Sahib seorang Muwahid yang sangat tinggi derajatnya. Beliau sering berjumpa dengan orang-orang Alim yang rajin dan tekun melakukan ibadah. Akan tetapi mereka itu sedikit-banyak terlibat didalam kemusyrikan sehingga beliau tidak bersedia untuk melakukan bai’at kepada siapapun diantara mereka itu, setelah melalui perjalanan yang susah dan jauh sampailah beliau ke Swat berjumpa dengan Ahwan Sahib Swat.

Saya merasa sangat kecewa menjumpai Ahwan Sahib Swat karena dia mengajarkan sesuatu yang berbau syirik. Dan tanpa melakukan bai’at saya kembali lagi dari sana. Lama kemudian setelah beliau bai’at kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. dalam keadaan bangun beliau sering mendapat kasyaf dari Allah swt terutama diwaktu beliau mengimami sembahyang, sehingga beliau berulang kali bertemu dalam kasyaf dengan Rasulullah saw dan para Anbiya lainnya juga. Tentang kebenaran Hazrat Masih Mau’ud a.s. beliau menerima ilham, ru’ya dan kasyaf yang sangat jelas sekali dari Allah swt. Beliau berkata ” Saya istikharah tentang dakwah Hazrat Sahib (Mirza Ghulam Ahmad) maka didalam jawabannya saya melihat sebuah gerabak (carriage) turun dari langit dan tiba-tiba turunlah iham didalam kalbu saya bahwa Al Masih yang dijanjikan sedang turun dari langit. Ketika saya singkapkan kain penutup gerabak itu saya lihat Mirza Ghulam Ahmad duduk didalamnya. Setelah menyaksikan kasyaf dan menerima ilham itu maka sayapun langsung bai’at kepada Mirza Ghulam Ahmad.

Di zaman Hazrat Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad terdapat sebuah riwayat di Fiji. Sebelum Ahmadiyah berdiri di kepulauan Fiji pendeta-pendeta Agama Kristen sedang giat mengembangkan pengaruh dan ajarannya. Seperti orang-orang Islam, orang-orang Kristen juga disana sedang menunggu Nabi Isa a.s. turun dari langit. Oleh sebab itu seorang Islam bernama Bashir Khan telah menulis, katanya pendapat Islam dan Kristen tentang Nabi Isa a.s. sama saja, jadi hati saya memutuskan pada waktu itu bahwa Agama Kristen adalah benar, tidak salah kalau saya menjadi orang Kristen. Diwaktu saya masih menjadi Kristen saya banyak berpikir-pikir tentang Agama Islam, akhirnya Allah swt memberi pengertian kepada saya melalui mimpi. Didalam mimpi itu saya bertemu dengan orang suci dan berkata dengan gagah berani kepada saya: “Hai Muhammad Basyir, sadarlah engkau!! Orang yang engkau sedang tunggu-tunggu itu bukanlah Nabi Isa a.s. melainkan orang lain lagi dan beliau sudah datang kedunia.” Pada waktu itu Muballigh pertama di Fiji Tuan Abdul Wahab Sahib sudah tiba di Fiji. Dan beliau menulis bahwa ayah saya bernama Maulvi Kasim Sahib telah bai’at dan masuk kedalam Jamaah Ahmadiyah. Pada waktu itu hati saya tidak begitu tertarik terhadap berita ini. Namun tidak lama kemudian perhatian saya mulai tercurah kepada Jema’at Ahmadiyah, kemudian akhirnya dengan lapang dada saya bai’at melalui ayah saya. Setelah bai’at ditangan Hazrat Khalifatul Masih TSani r.a. timbul semangat dan kecintaan yang sangat dalam terhadap Islam dan Allah swt telah memberi pemahaman dan pengertian tentang Agama Islam sehingga dengan yakin saya berani membuktikan kebenaran ajaran Islam serta melawan Kristen untuk membuktikan kebathilan ajaran mereka.

Peristiwa lain lagi dizaman Khilafat Tsaniah, seorang Ahmadi pertama di Sieraleone bernama Pal Sanfatulla dengan menakjubkan sekali Allah swt telah memberi taufiq kepada beliau untuk menerima kebenaran dan masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah. Katanya pada tahun 1939 ketika saya tinggal disebuah kampung bermimpi bahwa saya sedang membersihkan halaman mesjid dikampung itu. Ketika saya tengah melepaskan lelah berdiri dibawah sebatang pohon dekat Masjid itu, tiba-tiba datang seorang berpakaian putih sambil memegang Qur’an dan Byble. Setelah dekat beliau mengucapkan Assalamualaikum kepada saya. Lalu menanyakan siapa Imam Masjid ini? Saya mau berjumpa dengan beliau!! Lalu saya pergi memanggil Imam itu yang bernama Alfa. Ketika kami kembali beliau merasa heran melihat orang itu. Akhirnya orang asing itu berdiri di depan mihrab dan beliau mengajak duduk bersama-sama kemudian mulailah beliau mengajarkan Al Qur’an kepada kami. Baru beberapa menit berlalu tiba-tiba beliau keluar kemudian masuk lagi sambil berkata kepada kami, saya akan mengajarkan sembahyang dengan cara yang betul kepada kalian. (Disana pada umumnya pengikut mazhab Imam Malik, sembahyang tanpa melipat dan tanpa meletak tangan di dada) Sesudah itu sayapun bangun. Diwaktu pagi saya ceritakan mimpi itu kepada teman-teman muslim. Selanjutnya ia mengatakan, kira-kira seminggu setelah kejadian mimpi itu pagi-pagi saya pergi untuk membersihkan halaman mesjid. Kira-kira setengah jam kemudian saya berdiri dibawah pohon palm untuk melepaskan lelah. Beberapa menit kemudian datanglah seorang Muballigh Ahmadi bernama Alhaj Maulana Nazir Ali Sahib. Yang mengherankan saya adalah apa yang saya lihat dalam mimpi itu sedang saya lihat kenyataannya. Maulana Nazir Ali Sahib seorang Muballigh yang sangat mukhlis dan bersih hati dan pakaian yang beliau pakai persis seperti yang saya lihat didalam mimpi itu. Saya merasa beruntung sekali mendapat kesempatan untuk mengkhidmati tamu, maka saya bawa beliau kerumah saya sendiri. Setelah itu saya panggil kawan-kawan dan diberitahukan kepada mereka bahwa orang yang saya lihat didalam mimpi itu sekarang sudah datang dirumah saya. Selanjutnya ia katakan bahwa setelah beberapa hari kemudian saya sudah menjadi Ahmadi dan kawan-kawan muslim lainnya juga bai’at masuk Jema’at Ahmadiyah.

Pada zaman sekarang juga Allah swt membersihkan kalbu manusia dan mensucikannya. Kisah tersebut diatas adalah kisah 30 atau 40 tahun yang silam. Namun sekarang saya ingin menceritakan kisah yang telah terjadi tiga empat tahun yang lepas, bagaimana Allah swt menyediakan sarana hidayah bagi hamba-hamba-Nya. Sekarang juga tanda-tanda yang mendukung kebenaran da’wa Hazrat Masih Mau’ud – Mirza Ghulam Ahmad terus berlangsung tidak pernah berhenti. Syaratnya untuk mendapat hidayah dari Allah swt manusia harus memiliki hati bersih dan suci dan dia sedang berusaha mencari hidayah dengan niat yang lurus.

Di AlJazair seorang bernama Haddad Abdul Qadir mengatakan bahwa pada tahun 2004 saya melihat mimpi didalam bulan Ramadhan Mubarak seseorang datang dan berkata kepada saya, mari ikut saya untuk berjumpa dengan Rasulullah saw. Saya lihat Nabi Muhammad saw sedang berdiri dibelakang sebuah dinding yang tingginya kira-kira satu meter. Begitu melihat saya beliaupun tersenyum, lalu saya lihat seorang berkulit warna gandum berdiri diantara kedua dinding dimana Rasulullah saw sambil menunjuk kepada yang sedang berdiri itu berkata kepada saya: Haadza Rasulullah! Ini adalah seorang Rasul Allah. Kemudian beliau pergi kearah timur sedang orang ini tetap berdiri ditempatnya. Katanya, empat tahun kemudian pada tahun 2008 saya lihat didalam TV gambar orang yang berdiri bersama Rasulullah saw dan itulah Hazrat Mirza Ghulam Ahmad. Maka beliau yakni Haddad Abdul Qadir langsung bai’at masuk Jema’at Ahmadiyah.

Begitu juga seorang perempuan di Mesir bernama Halla Muhammad Ali Jauhari Sahibah, katanya saya melihat Hazrat Imam Mahdi bersama Jema’at beliau sedang berjalan diatas air. Saya berkata kepada beliau “Izinkanlah saya juga ikut barsama Tuan”. Maka beliau jawab, “nanti pada waktu kembali lagi akan kami bawa ikut bersama”. Setelah melihat mimpi itu saya mulai mencari-cari kebenaran didalam Sufiism, karena mimpi ini tdak mungkin salah, namun saya tidak mendapatkan sembarang pengetahuan yang mendukung makna mimpi saya itu. Kemudian saya menyaksikan MTA 3 Al Arabiyya, saya sangat terperanjat melihat gambar yang sama dengan gambar yang telah saya lihat didalam mimpi itu, yaitu Imam Mahdi sedang berjalan diatas air.

Abdurrahim Fanjan Sahib dari Irak berkata, dalam mimpi saya berjumpa dengan Imam Mahdi a.s. berkata kepada saya: Engkau salah seorang dari antara kami juga mari bai’at dan masuklah Jema’at bersama kami. Maka saya tidak tunggu-tunggu lagi langsung bai’at.

Demikian juga diterima kisah dari Mauritius seorang Muballigh kita menulis katanya, sebuah pulau kecil bernama Roldrick berpenduduk 31.000 orang, semua penduduk disana beragama Kristen Katholik. Katanya diwaktu pagi saya keluar untuk bertabligh bersama seorang Kristen yang sedang ditablighi. Sampailah kami ke rumah seorang ibu yang dituju itu yakni ibu dari teman yang dibawa tabligh ini. Setelah berjumpa dengannya kamipun mulailah bertabligh kepadanya. Nenek dari pada anak ini berkata ; Pesan yang anda terangkan sungguh benar dan saya menerima dengan hati senang, sebab semua ahli rumah menjadi saksi bahwa sebelum anda sampai disini saya telah melihat mimpi bahwa ada orang asing datang dan saya pegang tangannya dan saya katakan hubungan kita yang sedang dirintis ini saya setuju sekali. Nenek itu berkata, ketika anda sedang datang menuju rumah kami saya lihat dari jendela dan saya berkata didalam hati saya inilah orang yang pernah saya lihat didalam mimpi itu. Kedatangan yang kedua kalinya saya membawa hadiah Al Qur’an untuknya. Kemudian datang untuk yang ketiga kalinya saya membawa formulir bai’at dengan harapan orang-orang ini akan bai’at. Pada waktu itu saya lihat perempuan itu menangis sambil mencucurkan air mata dan berkata: “Saya tidak merasa ragu sedikitpun untuk mengisi form bai’at ini karena kemarin saya telah bermimpi bahwa kepada saya diberikan dua lembar kertas dan seperti inilah yang anda bawa dan orang-orang yang duduk dihadapan ini semua sebagai saksi sebab semua kisah mimpi itu telah saya jelaskan kepada mereka”. Akhirnya beliau itu bai’at masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah.

Sebuah kisah yang terjadi di Amerika, muballigh disana telah menulis ada sebuah famili dari Mexico terdiri dari 5 orang, nama perempuan dari famili itu Jorido Marilo, dipangginya Mori. Sekalipun mereka ini orang-orang Katholik tapi tidak mengamalkan ajaran agama itu. Ketika beliau berumur 27 tahun jatuh sakit dan dibawa ke Hospital dan selalu berdo’a kepada Tuhan Yang Tunggal. Katanya pada waktu di Hospital saya melihat gambar Hazrat Masih Mau’ud didalam mimpi dan gambar beliau itu berada didalam dinding cermin. Saya coba sentuh gambar beliau itu dengan harapan saya bisa sembuh dari penyakit saya. Dan sungguh betul saya menjadi sembuh dari penyakit saya setelah menyentuh gambar beliau itu dan semenjak itu saya tidak pernah jatuh sakit lagi. Dan gambar (photo) itu begitu mengesankan sehingga tidak bisa saya lupakan. Selanjutnya berkata “Saya berjumpa dengan seorang perempuan Ahmadi Mexico, beliau memberi sebuah buku kepada saya untuk dibaca sambil memperkenalkan Ahmadiyah kepada saya. Didalam buku itu saya melihat gambar Hazrat Masih Mau’ud Setelah melihat gambar beliau itu saya menangis terharu dan timbul rasa syukur kepada Allah sehingga saya langsung menerima kebenaran beliau dan bai’at bersama suami dan semua anak-anak saya. Alhamdulillah !! Beliau ini seorang wanita terpelajar dan sangat cerdas sekali.

Seorang Muballigh di Bulgaria juga telah menulis sepucuk surat mengatakan, seorang Kristen sudah lama sedang ditablighi. Isteri beliau sudah bai’at lebih dulu namun suaminya ini belum bersedia bai’at sebabnya keluarga suaminya itu orang-orang Kristen yang kuat dan bertugas menjaga Gereja. Pada tahun 2005 beliau diundang menghadiri Jalsah di Germany, beliau sangat terkesan oleh suasana jalsah itu namun beliau belum bersedia untuk bai’at. Pada suatu hari beliau datang dan berkata kepada saya; Sekarang saya mau bai’at dan saya mau menjadi orang Ahmadi. Saya tanya kenapa begitu cepat mau bai’at, apa sebabnya? Katanya sudah dua malam terus menerus saya bermimpi bertemu dengan Hazrat Khalifatul Masih Khamis – Mirza Masroor Ahmad, dan berkata kepada saya ; “Jika engkau tidak mau datang saya sendiri akan datang kepada engkau. Beliau datang kerumah saya sehingga saya merasa malu kepada beliau. Setelah melihat mimpi itu saya cepat datang kesini untuk bai’at. Demikianlah caranya Allah swt memberi hidayah kepada hamba-Nya yang Dia sukai.

Dari Kuwait seorang bernama Abdul Aziz Sahib mengatakan ; Pada malam Eid saya mimpi melihat Hazrat Masih Mau’ud (Mirza Ghulam Ahmad) Dalam mimpi itu saya seolah-olah sedang mengerjakan soal-soal ujian. Hazrat Masih Mau’ud mendekati saya dan memegang kertas ujian itu. pada waktu itu orang-orang nampak banyak sekali yang sedang mengerjakan ujian. Huzur memberi tanda tick pada kertas kertas ujian saya. Setelah itu saya lihat diri saya berada di Mesjid dan nampak banyak sekali orang-orang sedang berkumpul dan Hazrat Khalifatul Masih Khamis atba (Mirza MAsroor Ahmad) juga ada disana dan beliau sedang melihat kearah saya. Didalam mesjid ramai orang duduk dan tengah melakukan bai’at. Lalu saya mendekat kesana dan duduk lalu ikut bai’at bersama-sama disana.

Dari Moscow Muballigh kita menulis bahwa pada tanggal 27 Mei Hidayatullah Sahib datang ke Mission House beliau ingin bai’at masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah. Beliau berkata “Hari ini Tuan harus mengambil bai’at saya, sebab tadi malam saya mimpi Hazrat Masih Mau’ud datang kepada saya, saya tidak mau mengundur-undurkan waktu lagi!! Beliau menjelaskan mimpinya dengan suara berat dan penuh perasaan haru. Beliau berjumpa dengan Hazrat Masih Mau’ud (Mirza Ghulam Ahmad). dan berkata kepada beliau: Peganglah tangan-ku kuat-kuat supaya engkau jangan binasa. Lalu saya berkata kepada beliau “Bagaimana saya harus pegang tangan Huzur, saya tidak mempunyai kekuatan. Maka beliau sendiri telah memegang tangan saya dengan kuat sekali.”

Dari Burkinafaso Ishaq Sahib mengatakan bahwa didalam sebuah mesjid Ghair Ahmadi seorang Imam memberi khutbah menentang Jema’at Ahmadiyah dan dia sangat keras melarang mendengar siaran Radio Jema’at. Para Ulama tidak mempunyai senjata lain kecuali mengatakan kepada orang-orang awam “Jangan mendengarkan siaran Radio orang-orang Ahmadiyah”. Seperti cara-cara orang Mekah dizaman permulaan Islam. Katanya, jika kami tidak mendengarkan Radio orang-orang Ahmadiya bagaimana kami bisa mengetahui perkara yang benar? Imam masjid itu berkata: “Tidak ! Sama sekali jangan mendengarkan Radio mereka!’ Selanjutnya Ishaq Sahib mengatakan “Saya terus berusaha mencari jalan bagaimana menghilangkan keraguan saya. Akhirnya saya usulkan didepan Imam dan orang lain juga ramai ada disana, yaitu tulislah semua nama firqah (Golongan) yang ada dinegeri Burkinafaso masing-masing diatas secarik kertas untuk diadakan undian, lalu akan disuruh seorang anak untuk mengundinya. Nanti nama firqah apapun yang keluar pasti ia benar. Maka mulailah diundi, salah satu kertas diambil oleh seorang anak disaksikan oleh semua yang hadir. Ketika dibuka ternyata keluar nama Ahmadiyah. Namun melihat demikian Imam Masjid tidak merasa puas dan ia menyuruh untuk diundi sekali lagi. Kedua kalinya diundi lagi, maka keluarlah nama Jema’at Ahmadiyah lagi. Kedua kalinyapun Imam Sahib tidak merasa puas. Sampai tiga kali diundi tetap nama Jema’at Ahmadiyah yang keluar. Imam Mesjid merasa sangat gelisah dan malu, namun peristiwa itu menambah kuat keyakinan Ishaq Sahib, lalu beliaupun beriman dan bai’at.

Ada lagi peristiwa seperti itu, Amir Jema’at Burkinapaso menulis katanya, pada tahun 2004 ketika Khutbah Jum’ah saya disiarkan di TV seorang teman ghair Ahmadi menelpon menyatakan ingin berjumpa dengan saya. Diwaktu berjumpa ia mengatakan bahwa setelah mendengar khutbah Jum’ah itu saya telah mengadakan perobahan yang cukup besar pada diri saya. Oleh sebab itu saya ingin bai’at dan masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah. Demikianlah Allah swt menyediakan sarana atau jalan untuk hamba-Nya agar mendapat hidayah.

Di Bosnia juga ada seorang pemuda yang sedang ditablighi masuk Jema’at karena mimpi. Anak muda itu sendiri telah menulis surat menceritakan kisah mimpinya. Katanya saya mimpi sedang berjalan disebuah kota besar, disana sedang terjadi keributan. Disana saya lihat banyak sekali orang-orang Islam, Yahudi, Kristen dan lain-lain sedang berjalan berpusing-pusing dalam keadan gelisah melewati lorong-lorong yang kotor nampaknya mereka sedang kehilangan jalan. Tiba-tiba pandangan saya tertuju kearah sebelah kanan, apa yang saya lihat, sebatang pohon yang sangat rindang dan indah sekali. Dibawah pohon itu terlihat orang-orang sedang bekerumun diantaranya ada yang memakai pakaian putih dan memakai sorban. Sekalipun suasana sedang ribut namun mereka nampak tengah berkumpul dengan tenang sekali dan air muka mereka nampak berseri-seri. Dalam mimpi itu juga saya berkata didalam hati saya : “Mereka ini pasti orang-orang Ahmadi. Saya mendekati mereka dan berusaha menggabungkan diri dengan mereka. Setelah melihat mimpi itu sayapun terus ba’ait masuk Jema’at Ahmadiyah.” Tidak terhitung banyaknya kisah-kisah seperti ini terjadi diberbagai negara didunia berkaitan dengan kebenaran Jema’at Ahmadiyah.

Muballigh Fiji telah menulis sebagai berikut : Ada seorang Hindu berumur 16 tahun, dia sudah kawin dengan seorang perempuan Islam yang berasal dari Hindu. Kami datang untuk berjumpa dirumah mereka, namun pada waktu itu isterinya tengah tidur karena sakit. Suaminya sambil menangis menceritakan sebuah mimpi katanya; “Ada dua orang datang kepada saya, orang-orangnya pakaian-pakaiannya, topi-topinya persis seperti yang Tuan-tuan pakai ini. Mereka mengajak saya untuk masuk Islam.” Sesudah melihat mimpi itu diapun bai’at masuk Jema’at.

Di Jerman ada Muslim Kurdi bernama Kassim Dall isterinya orang Jerman beserta anak-anak perempuannya datang ke Tabligh Stall Jema’at. Dia mulai berbicara tentang gambar (photo) Hazrat Masih Mau’ud a.s. Di bilang : Siapa yang bisa datang setelah Nabi Muhammad saw ? Setelah berbincang-bincang selama 15 minutes mereka diajak makan bersama. Setelah itu diadakan diskusi tabligh dan dihadiahkan kepadanya dua buah buku Jema’at untuk dibaca. Setelah dua hari dia telephone saya, katanya buku yang diberikan kepada saya tidak saya baca dan sudah saya bakar sebab Maulvi kami berkata jangan membaca tulisan apapun dari Jema’at Ahmadiyah. Saya jawab tidak apa-apa, anda datanglah lagi pada hari Kamis, persahabatan kita tidak boleh putus walaupun anda percaya ataupun tidak percaya. Maka datanglah dia pada hari Kamis itu dan ia sedang berpuasa. Sekarang dari rumah orang Ahmadi tidak akan makan makanan apapun katanya. Perbincangan sangat panjang dengannya akhirnya sampailah waktu untuk dia berbuka puasa. Makananpun disediakan dan diapun akhirnya terpaksa makan juga. Saya katakan kepadanya, dalam masalah kebenaran janganlah anda mendengar kata-kata Maulvi. Tentang kebenaran Hazrat Masih Mau’ud berdo’alah selama 40 hari kepada Allah swt dengan hati bersih, selama waktu itu hilangkan kebencian dari dalam hati anda, kosongkan hati anda dari bermacam perasaan yang tidak baik. Katanya baru sampai pada hari ketiga dia telephon menanyakan apakah ada photo Hazrat Khalifatul Masih Khamis? Dijawab ya ada! Katanya lagi “Saya tinggalkan pekerjaan sekarang juga saya mau datang untuk mengambil photo itu. Saya tanya apa sebabnya ? Saya mendengar suara ghaib katanya, “ Sekarang kamu minta bukti ? Bukti sudah Aku beritahukan kepada kamu” Dan dia ceritakan mimpinya juga katanya saya (Huzur) sedang memimpin sebuah lasykar dan Malaikat juga bersama saya. Akhirnya orang itu yaitu Kassim Dall bai’at masuk Jema’at. Alhamdulillah !

Demikianlah beberapa kisah dan peristiwa tentang orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah swt untuk menerima kebenaran. Sesungguhnya banyak sekali, tidak terhitung banyaknya kisah dan peristiwa semacam itu didalam Jema’at diseluruh dunia. Diantaranya sudah diceritakan diwaktu Jalsah salanah. Sekarang waktu sangat sempit tidak mungkin bisa diceritakan semuanya. Mula-mula saya fikir di Qadian juga akan diceritakan peristiwa-peristiwa menarik semacam itu namun tidak dapat kesempatan untuk pergi kesana. Demikianlah caranya Allah swt memberi hidayah kepada hamba-hamba-Nya yang Dia sukai dan sampai sa’at ini terus berlangsung pertolongan dan dukungan terhadap kebenaran da’wa Hazrat Masih Mau’ud.

Dikutip dan diringkas dari: Ahmadiyah.info
Diposkan oleh muhammad jamil bakr di 19:21
Label: kisah
Senin, 28 September 2009

http://kamsolk.blogspot.com/2009/09/kisah-orang-orang-yang-masuk-ahmadiyah.html

Ahmadiyah : Pernyataan Jujur Para Tokoh Tentang Ahmadiyah

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Berita, Kiyai, Minggu, November, Tabligh, Ulama on 8 November 2009 at 06:21

Bung Karno, Proklamator Kemerdekaan RI dan Presiden RI Pertama:
“Maka oleh karena itulah, walaupun ada beberapa fasal dari Ahmadiyah tidak saya setujui dan malahan saya tolak,….., tokh saya merasa wajib berterima kasih atas faedah-faedah dan penerangan-penerang an yang telah saya dapatkan dari mereka punya tulisan-tulisan yang rasional, moderen, broad minded dan logis itu”. (Di Bawah Bendera Revolusi : 346; Sinar Islam, Januari 1984 : 57 )

Dr. H.A.Karim Amarulah, Ulama dan Tokoh Pergerakan Kemerdekaan RI, ayah Prof. Dr. Hamka :
“Diatas nama Islam dan kaum Muslimin se-Dunia kita mem
uji sungguh kepada pergerakannya Ghulam Ahmad tentang mereka banyak menarik kaum Nasrani (Kristen) masuk agama Islam di tanah Hindustan dan lain-lain tempat…..”. (Al Qaulus-Shahih : 149; Ibid )

Prof. Dr. Hamka, Ulama dan Ketua MUI pertama :
“Adapun kaum Ahmadi (Ahmadiyah), dan usahanya melebarkan Islam di benua Eropa dan Amerika, dengan dasar ajaran mereka, faedahnya bagi Islam ada juga. Mereka menafsirkan Qur’an ke dalam bahasa-bahasa yang hidup di Eropa. Padahal zaman 100 tahun yang lalu masih merata kepercayaan tidak boleh menafsirkan Qur
’an. Penafsiran Quran dari kedua golongan Ahmadiyah itu membangkitkan minat bagi golongan yang mengingini kebangkitan Islam ajaran Muhammad kembali buat memperdalam selidiknya tentang Islam…..”. (Pelajaran Agama Islam, Cet. I : 199; Ibid )

Muhammad Akram M.A., Cendekiawan Muslim :
“Pengaruh Jemaat Ahmadiyah memang jauh sekali. Ini disebabkan kepercayaan Pendiri Jemaat Ahmadiyah dan pengikutnya, bahwa jihad dengan pedang bukanlagh masanya sekarang. Yang diperlukan ialah jihad dengan pena, jihad dengan lisan dan tulisan. Pendirian mereka ini tidak sejalan dengan pendirian umat Islam lainnya, tetapi hakikat yang nyata ialah, kemampuan jihad dengan pedang tidak ada pada Ahmadiyah dan tidak pula terdapat pada umat Islam lainnya. Karena kepercayaan umum umat Islam terhadap jihad dengan pedang itu, maka akhirnya jihad ‘am dan dakwah pun tidak dilakukan. Orang Ahmadiyah yang mengakui jihad dengan dakwah itu merekalah yang melakukannya dengan menganggapnya sebagai kewajiban. Di sini mereka berhasil dan sukses”. (Maud-i-Kauthar, 193-194; Ibid )

Prof. Drs. K.H. Hasbullah Bakry S.H., Ulama dan Cendekiawan Muslim :
“Menurut pendapat saya, adalah suatu kesalahan yang amat besar telah dilakukan oleh Majlis Ulama kita baru-baru ini tanpa mendengar lebih dulu pendapat ulama lain, menyatakan Ahmadiyah bukan Islam (hal ini pasti bertentangan dengan ayat Alquran An-Nisa:94 yang mencegah kita mengkafirkan sesama Islam).
Kalau kita tidak boleh mengkafirkan golongan Syi’ah, begitu juga kita tidak boleh mengkafirkan golongan Ahmadiyah, sebab mereka tetap masih mengaku Islam dengan iman Islam. Kiranya para Ulama di Indonesia dapat menempati posisinya yang benar dalam membangun bangsa dan negara, amien”. (Kiblat, No.16/XXVII, hal 26 ).

Sumber : http://putradarweisy.blogspot.com/2009/05/pernyataan-jujur-para-tokoh-tentang.html

093010 : Khutbah Khalifah Ahmadiyah : SIFAT ALLAH AL WALI (The Friend) (Bagian ke 2)

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Islam, Jum'at, Khalifah V, Khutbah Khalifah Ahmadiyah, November, Oktober, Tabligh, Tarbiyat on 6 November 2009 at 11:47

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

RINGKASAN KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 30 Oktober 2009 dari Baitul Futuh London UK`
TENTANG : SIFAT ALLAH AL WALI (The Friend)
(Bagian ke 2)

Didalam khutbah ini Huzur melanjutkan pembahasan tentang sifat Allah swt Al Wali (Sahabat). Allah swt telah mengingatkan orang-orang beriman dan orang tidak beriman terutama para penyembah berhala didalam Alqur’an surah Al Ra’d ayat 12 sebagai berikut :

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال

Artinya : Untuk dia (Rasul itu) ada pergiliran malaikat-malaikat dihadapannya dan dibelakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah sudah menetapkan suatu keputusan buruk bagi suatu kaum maka tiada yang dapat menghindarkannya dari itu, dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia.

Didalam ayat tersebut Allah swt telah menjelaskan empat macam perkara :
a. Allah swt telah mengambil tanggung jawab sendiri untuk melindungi setiap orang.
b. Dia memberi keputusan tentang suatu bangsa sesuai dengan prilaku mereka.
c. Apabila Allah swt telah menganggap sesorang sudah patut dihukum, tidak ada kekuatan lain yang bisa mencegahnya.
d. Dia sendiri adalah Penolong, Penjaga, Pelindung dan Sahabat yang paling benar dan setia.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. sambil menjelaskan maksud
sesungguhnya pada permulaan ayat tersebut ini

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ‌ؕ

Untuk dia (Rasul itu) ada pergiliran malaikat-malaikat dihadapannya dan dibelakangnya bersabda : “ Allah swt telah menetapkan para pengawal untuk menjaga hamba-hamba-Nya disetiap penjuru baik secara zahiri maupun secara ruhani. Yang paling utama Allah swt menetapkan para pengawal atau penjaga itu bagi para Utusan-Nya khasnya bagi Hazrat Rasulullah saw. Setelah kelahiran beliau kedunia, beliau telah menjadi wujud yang paling dikasihi dan disayangi oleh Allah swt sampai kepada masa akhir hayat beliau saw. Allah swt telah menyempurnakan semua perkara itu pada wujud beliau saw dengan sangat luar biasa sehingga tidak ada tara bandingannya. Situasi kehidupan beliau di Mekkah telah diketahui oleh semua, bagaimana Allah swt telah menolong dalam setiap langkah beliau dengan sangat luar biasa cemerlangnya. Surah Ar Ra’d tersebut diturunkan kepada beliau dalam suasana di Mekkah yang sangat mencekam disa’at usaha-usaha lawan yang memusuhi beliau sudah mencapai taraf yang paling membahayakan dan telah melampaui batas kemanusiaan. Kita juga mempunyai sebuah pemandangan zahiri dan bathini peristiwa Perang Badar yang sangat mengerikan dan luar biasa hebatnya dimana Allah swt sesuai dengan janji-Nya telah menurunkan pertolongan-Nya secara luar biasa kepada Hazrat Rasulullah saw, sehingga bagaimanapun kerasnya kehendak musuh untuk menghancurkan beliau beserta para sahabah beliau tidak berhasil.

Amir Ibnu Tufail seorang tokoh dan pimpinan penyembah berhala datang kepada Hazrat Rasulullah saw dan bertanya kepada beliau : “ Wahai Muhammad !! Apabila saya menjadi muslim apakah saya bisa menjadi Khalifah pengganti engkau setelah engkau wafat ? Maka Rasulullah saw menjawab : “ Takhta Khilafat tidak akan pernah turun kepada seseorang yang memberi persyaratan demikian dan juga tidak akan turun kepada pengikutnya.” Mendengar demikian dia menjadi marah dan berkata : “Aku akan membawa lasykar berkuda yang sangat berpengalaman yang akan memberi pelajaran dan menghancurkan Muhammad (saw)” Na’uzubillah !! Nabi Muhammad saw bersabda : “ Tuhan tidak akan pernah memberi taufiq untuk berbuat demikian !” Maka ia beserta temannya pergi dari sana, dan Rasulullah saw-pun membiarkan mereka pergi. Diperjalanan temannya itu berkata : “ Mari kita kembali lagi ketempat Muhammad dan aku akan mengatur siasat, aku akan mengajak dia untuk berbicara dengan-ku, disa’at itu kamu hunuslah pedangmu dan seranglah lalu bunuhlah dia !” Dia menjawab : “ Cara begini sangat berbahaya. Jika aku berhasil membunuhnya maka sahabat-sahabatnya pasti akan mengejar-ku dan membunuh-ku!” Temannya yang sudah dirasuk syetan itu semakin menghasutnya dan berkata : “ Jangan takut kita akan memberi wang tebusan kepada mereka itu, setelah berhasil membunuh Muhammad !” Maka Amir Bin Tufail itu setuju dengan saran temannya itu dan kembali menuju Hazrat Rasulullah saw. Dan setibanya dihadapan Rasulullah saw teman Amir Bin Tufail itu mulailah bercakap-cakap dengan Rasulullah saw dan Amir Bin Tufailpun yang tengah berdiri dibelakang Rasulullah saw mulai menghunus pedangnya. Namun setelah ia berhasil menghunus pedangnya itu timbul didalam hatinya rasa takut yang menggetarkan hatinya dan tertegun sejenak sehingga tangannya tidak mampu mengayunkan pedangnya itu untuk membunuh Hazrat Rasulullah saw. Disa’at itu Hazrat Rasulullah saw berbalik kebelakang dan memandang Amir Bin Tufail yang sedang memegang pedang terhunus ditangannya. Dan Rasulullah saw faham apa yang dimaksud oleh Amir Bin Tufail itu dan mereka-pun berdua mundur dari sana, lalu pergi meninggalkan Rasulullah saw. Dan Rasulullah saw pun membiarkan mereka berdua pergi dan sedikitpun tidak mengucapkan sebarang perkataan terhadap mereka berdua. Namun Allah swt Yang Maha Kuasa telah mnjatuhkan hukuman terhadap mereka berdua. Ditengah perjalanan turun hujan dan temannya itu telah disambar petir sehingga mati dan hancur binasa, sedangkan tentang Amir Bin Tufail dikatakan bahwa dia mati setelah diserang oleh penyakit bisul yang mengerikan.

Banyak sekali peristiwa serupa yang telah terjadi terhadap diri Hazrat Rasulullah saw yang menunjukkan bahwa Allah swt betul-betul telah memberi perlindungan dan keselamatan yang khas sesuai dengan janji-Nya melalui para Malaikat-Nya terhadap wujud suci Rasulullah saw dari maksud-maksud jahat pihak lawan yang memusuhi Hazrat Rasulullah saw. Peristiwa-peristiwa demikian telah mewarnai seluruh masa kehidupan beliau saw sehingga nampak jelas sekali bahwa Allah swt melalui para Malaikat-Nya telah menjaga dan melindungi beliau saw. Janji Allah swt yang turun di Mekkah itu telah diperlihatkan kesempurnaannya untuk meyakinkan dan menenteramkan hati beliau ketika terjadi penyerangan dan pengepungan terhadap kota Madinah, dengan firman-Nya :

وَاللهُ يَعْسِمُكَ مِنَ النَّاسِ

artinya Allah sentiasa menjaga engkau dari kejahatan tangan manusia. Tentang itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Hazrat Rasulullah saw selamat dan terlindung dari usaha pembunuhan manusia merupakan sebuah mu’jizah yang sangat luar biasa besarnya, dan merupakan bukti nyata kebenaran Kitab Suci Alqur’an, sebab nubuwatan ini :

وَاللهُ يَعْسِمُكَ مِنَ النَّاسِ

artinya Allah sentiasa menjaga engkau dari kejahatan tangan manusia tercantum didalam Kitab Suci Alqur’an dan nubuwatan ini tercantum didalam Kitab-kitab sebelumnya juga bahwa Nabi akhir zaman tidak akan dapat dibunuh oleh siapapun juga.”

Huzur bersabda tentang ; mereka menjaganya atas perintah Allah artinya pertama, melalui para Malaikat Rasulullah saw selalu dijaga dan dilindungi dari kejahatan manusia dan keduanya Allah swt menanamkan semangat kecintaan yang mendalam didalam hati orang-orang mukmin sehingga mereka setiap sa’at siap mengurbankan jiwa raga mereka untuk melindungi dan menjaga Rasulullah saw. Semangat kecintaan itu timbul didalam hati orang-orang mukmin setelah mereka beriman kepada Hazrat Rasulullah saw. Para sahabah menjaga dan melindungi Hazrat Rasulullah saw kerana Allah swt telah menamkan iman yang hakiki didalam hati mereka dan mereka lakukan hal itu semua semata-mata demi meraih keridhaan Allah swt. Allah swt telah menyelenggarakan perlindungan seperti itu terhadap Rasulullah saw lebih dari pada terhadap Nabi atau Rasul yang lain. Akan tetapi salah satu arti dari pada itu adalah bahwa bisa juga perlindungan Tuhan itu berlaku terhadap siapapun, sebab Allah swt telah mengatur sistim penjagaan dan perlindungan bagi setiap orang atau setiap manusia. Misalnya walaupun tidak ada penyakit yang tengah menular, namun didalam udara terdapat berbagai jenis kuman atau bakteri yang bisa masuk kedalam tubuh manusia melalui pernafasan. Untuk itu Allah swt telah menaruh sistim penjagaan didalam tubuh setiap orang, yang mampu mencegah pengaruh buruk sebagian kuman atau bakteri yang terhirup dari udara melalui pernafasan manusia. Disamping itu Allah swt memberi perlindungan terhadap para wali-Nya atau para Utusan-Nya bahkan terhadap para pengikutnya yang khas melalui para penjaga yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri.

Pada zaman sekarang ini kita telah mengetahui merebaknya serangan wabah penyakit pes atau tha’un dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. untuk membuktikan kebenaran da’wa beliau sebagai Utusan Tuhan. Dan hal itu telah membuktikan adanya perlindungan khas dari Allah swt terhadap para pengikut beliau a.s. dari serangan wabah penyakit berbahaya itu. Didalam Kitab Kisyti Nuh (Bahtera Nuh) Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Akan tetapi dengan segala hormat, kami ingin mengatakan kepada Pemerintah yang baik hati itu, bahwa seandainya tidak ada rintangan samawi, maka kamilah yang pertama-tama diantara semua warga negara yang akan meminta disuntik untuk mencegah bahaya penyakit pes itu. Rintangan samawi itu adalah, Tuhan menghendaki untuk memperlihatkan suatu Tanda kasih sayang dari langit kepada umat manusia yang telah beriman kepada Utusan-Nya dizaman ini, mereka akan dilindungi dari bahaya wabah pes atau tha’un itu. Dunia luas telah menyaksikan bahwa walaupun telah merebaknya wabah pes atau tha’un itu selama enam tahun dinegeri India pada waktu itu, dengan karunia Allah swt tidak ada seorang Ahmady-pun yang terkena serangan wabah pes tersebut.”
Hanya semata-mata adanya perlindungan Allah swt manusia bisa terselamat dari setiap tragedi yang berbahaya dari kehilangan nyawa, harta dan anak-anak atau kehormatan. Jika tidak manusia akan kehilangan akal dan ingatan atau perasaan setelah ditimpa berbagai macam kerugian dan kehilangan yang mengerikan. Hal itu juga merupakan salah satu cara Allah swt untuk memberi perlindungan kepada manusia. Banyak manusia yang tidak mampu atau tidak bijak menyikapi akibat kehilangan atau kerugian disebabkan suatu musibah itu sehingga mengakibatkan penderitaan yang sangat keras. Akhirnya banyak diantara mereka yang kehilangan iman dan keyakinan terhadap Allah sawt. Hal itu harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menyikapi dengan rasa syukur atas ni’mat Allah swt, jika tidak ada rahmat dan karunia-Nya kehidupan kita tidak mungkin bisa berlanjut. Orang-orang mukmnin apabila menghadapi suatu musibah akan selalu berkata : Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un !! Kita semua dan apapun yang kita miliki semuanya kepunyaan Allah dan kita semua akan kembali kepada-Nya !! (Al Baqarah : 157) sebagai natijahnya mereka mendapat barkat dari Allah swt dan mereka mendapat perlindungan Allah swt dari akibat buruk musibah atau kesusahan serta kesulitan yang mereka hadapi itu.

Sesuai dengan peraturan alam semua manusia berada dibawah perlindungan Allah swt secara umum, baik yang beriman kepada-Nya maupun yang tidak beriman. Didalam hal ini terdapat pelajaran bagi orang-orang yang tidak beriman bahwa, jika mereka terus berlanjut didalam perbuatan kejahatan mereka Allah swt tidak akan memberi perlindungan-Nya lagi terhadap mereka sehingga mereka akan menghadapi kehancuran yang sangat parah. Sebagaimana firman-Nya didalam surah Ar Ra’d ayat 12 berikut ini :

اِنَّ اللّٰهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ؕ

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.
Hal ini membuktikan bahwa Allah swt tidak merubah cara memberi pertolongan kepada orang-orang beriman dan soleh dan mereka terus menerima banyak berkat dan rahmat dari pada-Nya. Selama mereka menjadi orang-orang yang baik dan saleh secara perorangan maupun secara keseluruhan dan memenuhi kewajiban terhadap hak-hak Allah swt dan terhadap hak-hak hamba-hamba-Nya maka mereka akan terus menerima banyak berkat dari Allah swt didalam kehidupan mereka. Berkat-berkat dan nikmat Allah swt tidak diturunkan lagi apabila manusia bukan menjadikan Tuhan sebagai wali atau sahabat mereka melainkan mengambil syaitan menjadi wali atau sahabat mereka. Kebaikan mereka lambat-laun akan hilang dan mulailah mereka melakukan kezaliman terhadap manusia. Akibatnya mereka banyak melakukan perbuatan dosa dan perbuatan jahat, merampas dan menjarah harta orang. Sebagai penguasa dipemerintahan mereka mulai melakukan suap-menyuap, melakukan korupsi dan penggelapan harta milik negara dan melakukan pelanggaran yang bertentangan dengan keadilan. Merampas hak-hak orang lain sudah menjadi adat kebiasaan sehingga akhirnya mereka berani membunuh orang atas nama agama. Pada waktu itu Allah swt tidak lagi menjaga dan melindungi mereka sehingga mereka kehilangan berkat-berkat dan nikmat serta karunia dari Allah swt sepanjang kehidupan mereka.

Maksud dari sebagian ayat tersebut bukanlah berarti bahwa Tuhan tidak memperlakukan orang-orang berbuat jahat sebagaimana mestinya, melainkan Allah swt tidak merobah perlakuan-Nya terhadap orang-orang suci dan soleh kecuali mereka sendiri telah mulai melakukan perbuatan-perbuatan buruk sehingga mereka tidak menerima lagi anugerah nikmat, karunia dan berkat-berkat dari Allah swt. Didalam sejarah agama nampak jelas sebagai saksi kepada kita dan Alqur’anpun telah menjelaskannya dihadapan kita bahwa apabila keburukan-keburukan mulai banyak timbul kepermukaan dan kebaikan-kebaikan mulai menghilang dari permukaan bumi maka perlindungan dan pemeliharaan Allah swt-pun menghilang pula. Dimanapun tidak tertulis sebuah jaminan bahwa dengan mengucapkan dua kalimah syahadat oran-orang beriman akan mendapat perlindungan istimewa untuk selamanya dari Allah swt. Untuk mendapatkan perlindungan khas dari Allah swt sesudah beriman, manusia harus melakukan amal-amal soleh sesuai ajaran Agama Islam. Hal ini harus menjadi sumber pemikiran bagi orang-orang muslim dizaman ini terutama mereka yang tinggal dinegara-negara dimana penganiayaan terhadap sesama orang muslim dan terhadap minoritas non muslim tengah berlangsung bahkan semakin meningkat. Perkara berikutnya didalam ayat tersebut diatas harus direnungkan khasnya oleh orang-orang Islam dinegara Pakistan bahkan mereka harus memohon ampun kepada Allah swt yaitu :

وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال

Artinya : Dan apabila Allah sudah menetapkan suatu keputusan buruk bagi suatu kaum maka tiada yang dapat menghindarkannya dari itu, dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia. Apa yang diperlukan oleh mereka adalah mengadakan perbaikan pada diri mereka sebelum keputusan akhir Tuhan turun kepada mereka. Jika memang penduduk negeri Pakistan sungguh-sungguh mempunyai pengertian kepada hal tersebut.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa kewajiban orang-orang yang betul-betul menghendaki bebas atau terlepas dari kesusahan dan kemalangan adalah mereka harus mengadakan perobahan yang baik dalam diri mereka. Apabila perobahan dimaksud sudah tercapai maka barkat-barkat dan nikmat serta karunia Allah swt akan segera turun kepada mereka sesuai dengan janji-janji-Nya.

Huzur bersabda bahwa sangat perlu sekali bagi mereka itu untuk merenungkan dengan penuh perhatian terhadap masalah ini terutama untuk memohon ampunan dari Allah swt dan setiap orang Ahmady harus berusaha untuk memberi penerangan dan pengertian tentang itu terhadap orang-orang Muslim disekitar lingkungan tempat tinggal mereka.

Diakhir Ayat tersebut difirmankan :

وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال

Artinya : dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia. Jadi jika tidak ada wujud lain kecuali Allah sebagai Penolong, Yang bisa melindungi kita semua dari setiap gangguan dan serangan Syaitan, maka kita harus mencari Dia dan harus menjadikan-Nya sebagai sahabat atau teman. Dan jika sekalipun umat Islam disana setiap hari menunaikan salat lima waktu dengan patuh, melakukan ibadah puasa dibulan Ramdhan dan puluhan ribu orang setiap tahun menunaikan ibadah Haji, namun tidak menimbulkan sebarang kebaikan bahkan timbul kemunduran dan kehancuran secara nasional, tentu terdapat kekurangan didalam cara menunaikan ibadah mereka terhadap Allah swt. Semoga ummat Islam di Pakistan memahami keadaan sebenarnya yang tengah berlaku disana dan semoga hati mereka runduk sepenuhnya terhadap Allah swt.

Allah swt telah menguraikan masalah tersebut didalam surah Al Anfal ayat 54 sebagai berikut :

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّـعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ۙ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ‏

Artinya : Yang demikian itu adalah karena Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Allah swt tidak pernah merampas kembali anugerh nikmat-Nya yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, melainkan manusia sendiri yang mensia-siakan anugerah nikmat-Nya itu dengan melakukan keburukan sehingga menjadikan dirinya bernasib buruk dan malang. Alqur’an tidak semata-mata hanya menceritakan perkara-perkara yang telah berlalu, melainkan menjadikan hal itu sebagai pelajaran bagi orang-orang beriman dimasa sekarang dan mereka harus selalu waspada dan selalu menghargai dan mensyukuri nikmat-nikmat luar biasa yang telah mereka terima dari Allah swt. Allah swt berfirman …

وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِىْ

telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas-mu … nikmat ini dan berkat ini telah dianugerahkan kepada kita dalam bentuk Kitab Suci Alqur’an dan kita telah diperintah untuk mengamalkan ajaran-ajarannya didalam peri kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita ikuti semua perintah-Nya ini maka kita sendiri akan menjadi orang-orang yang soleh dan sesuai firman-Nya Dia akan menjadi Penolong kita dan Dia akan menjelma sebagai Maula atau Pelindung kita.

Apakah orang-orang Muslim diseluruh dunia belum juga menyadari mengapa mereka luput dari berkat-berkat firman Tuhan yang artinya : Kamu adalah ummat terbaik dibangkitkan demi kebaikan umat manusia..?? Ummat yang telah diciptakan demi faedah manusia itu, mengapa mereka luput dari nikmat-nikmat dan karunia Allah swt ? Sebab mereka sedang saling bunuh-membunuh satu dengan yang lain. Beberapa hari yang lalu telah terjadi letupan bomb di kota Peshawar yang dikendalikan dari jauh dengan remote control. Lalu terjadi lagi bomb bunuh diri yang disusul dengan pembunuhan terhadap orang-orang Ahmady dan yang lainnya juga atas nama agama. Macam kebaikan apakah yang mereka lakukan ini ? Perkara demikian sangat perlu untuk dipikirkan oleh mereka dan mereka harus merubah pola pikir mereka untuk mengubah sikap kearah kebaikan. Jika tidak, apabila taqdir Tuhan sudah mulai bergerak untuk menghukum mereka, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya atau mencegahnya lagi.
Perbuatan baik orang lain juga harus bisa diambil contoh dan harus menjadi contoh bagi mereka. Orang-orang Ahmady juga harus mengadakan pemeriksaan dan penilaian terhadap diri masing-masing jika sesungguhnya mereka ada dipihak yang benar. Mereka harus selalu mengawasi perilaku orang-orang itu terutama yang tinggal disekitar lingkungan masing-masing. Mereka harus selalu mensyukuri karunia Allah swt yang telah turun kepada mereka. Jika hal itu tetap dipertahankan maka Allah swt akan selalu menjadi Penolong dan Pelindung kita semua sesuai dengan janji-janji-Nya. Dan tidak akan ada yang bisa mengganggu dan menghancurkan Jema’at kita. Oleh sebab itu Allah swt berfirman :

ۚ فَاَقِيْمُوْا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوْا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِؕ هُوَ مَوْلٰٮكُمْ‌ۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْر

Artinya : … Maka dirikanlah salat dan bayarlah zakat dan berpeganglah dengan teguh kepada Allah. Dialah Pemelihara-mu. Maka Dialah sebaik-baik Pemelihara dan sebaik-baik Penolong (Al Hajj : 79) Ini merupakan kewajiban bagi semua orang-oran beriman untuk menunaikan salat karena melalui ibadah salat itu setiap orang bisa berobah menjadi orang yang baik dan saleh. Harta orang-orang beriman bisa menjadi suci bersih dengan membelanjakan sebagian dari padanya dijalan Allah dan berpegang teguh kepada apa yang diperintahkan Allah swt. Dan hal itu bisa memperteguh tauhid dan keyakinan terhadap Allah Yang Maha Tunggal sebagai Penolong dan Pelindung yang sejati.
Didalam surah Al Maidah ayat 56-57 Allah swt berfirman sebagai berikut :

اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رٰكِعُوْنَ‏– وَمَنْ يَّتَوَلَّ اللّٰهَ وَ رَسُوْلَهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَاِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْغٰلِبُوْن

Artinya : Sesungguhnya penolong-penolong-mu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang dawam mendirikan salat dan membayar zakat dan mereka ta’at kepada Allah – Dan barangsiapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai penolong, maka sesungguhnya Jema’at Allah pasti menang. Disini “ beribadahlah hanya kepada Allah” berarti bahwa orang yang sungguh-sungguh dan secara sempurna beriman kepada Allah dan keimanannya benar-benar suci dari setiap jenis pelanggaran. Mereka itulah kumpulan orang-orang yang akan memperoleh kemenangan dan kejayaan dan mereka itulah sahabat-sahabat Tuhan dan Tuhan adalah Sahabat mereka.

Didalam sebuah Hadis Qudsi Allah swt berrfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw “ Barang siapa yang menjadi musuh terhadap sahabat-Ku maka Aku akan nyatakan perang kepadanya. Aku ingin hamba-Ku mendekat kepada-Ku melalui apa yang telah diwajibkan kepadanya. Hamba-Ku yang selalu mendekatkan dirinya kepada-Ku melalui nawafil sehingga Aku mencintainya. Dan apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi matanya dengan mana ia biasa melihat, Aku menjadi tangannya dengan apa ia memegang, Aku menjadi kakinya dengan apa ia berjalan. Jika ia memohon sesuatu dari pada-Ku, pasti Aku mengabulkannya. Jika ia memohon perlindungan-Ku pasti Aku beri perlindungan kepadanya. Aku tidak mempunyai keraguan sedikitpun tentang hamba-Ku mecuali ketika Aku akan mencabut nyawa seorang mukmin. Ia tidak suka kematian dan Aku juga tidak suka memberi kesulitan terhadap hamba-Ku” Demikianlah perhatian dan perlindungan Tuhan terhadap hamba-Nya yang beriman. Jika manusia mengamalkan setiap perintah Tuhan dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kecintaan maka Tuhan akan menjadi Maula-nya (Pelindngnya). Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk menjadi orang-orang soleh yang selalu mendekatkan diri kepada Maula kita yang sejati sehingga kita sentiasa menerima pertolongan-Nya dan perlindungan-Nya dalam setiap langkah kehidupan kita. Amin !!!

Alih Bahasa : Hasan Basri

19140824 : Khutbah Khalifah Ahmadiyah : Khutbah Idul Fitri

In Ahmadiyah, Khalifah II, Khutbah Id, Khutbah Idul Fitri, Ta'lim, Tabligh, Tarbiyat on 6 November 2009 at 08:31

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH IDUL FITRI
OLEH HAZRAT KHALIFATUL MASIH II r.a.
TANGGAL 24 AGUSTUS 1914 DI QADIAN – INDIA

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ-اَلْحَمْدُ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يّهْدهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ– اَمَّا بَعْدُ فَاَعُوْبِ اللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ– بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ-
اِذْ قَالَ الْحَـوَارِيُّوْنَ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيْعُ رَبُّكَ اَنْ يُّنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَآءِ‌ؕ قَالَ اتَّقُوْا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ‏ — قَالُوْا نُرِيْدُ اَنْ نَّاْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوْبُنَا وَنَـعْلَمَ اَنْ قَدْ صَدَقْتَـنَا وَنَكُوْنَ عَلَيْهَا مِنَ الشّٰهِدِيْنَ‏-قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَاۤ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَآءِ تَكُوْنُ لَـنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ‌ۚ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Ingatlah ketika para hawari berkata : “ Hai Isa Ibnu Maryam adakah Tuhan engkau mampu menurunkan bagi kami hidangan dari langit ?” Berkata ia : “ Bertaqwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”Mereka berkata : “ Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya hati kami tenteram dan supaya kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami dan supaya kami dapat menjadi saksi terhadapnya.” Berkata Isa Ibnu Mariyam, Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu Hari Raya bagi kami, bagi orang-orang yang sebelum kami dan bagi orang-orang yang akan datang setelah kami, dan sebagai Tanda kebenaran dari Engkau, dan berilah kami rizki dan Engkaulah sebaik-baik Pemberi rizki.”(Al Maidah 113-116)

Setiap insan menghendaki kebaikan dan kesenangan bagi dirinya dan menghendaki untuk mendapatkan keselesaan atau ketenteraman dirinya. Tidak ada seorang yang bodoh dan dungu sekalipun yang menghendaki kesusahan atau kesengsaraan bagi dirinya. Akan tetapi disebabkan kesilapan atau kejahilannya sendiri kadangkala seseorang menghendaki sesuatu kesenangan, namun sebaliknya apa yang dia kehendaki itu menjadi kesusahan dan kesengsaraan baginya.

Seorang insan menghendaki kesenangan dan ketenteraman bagi dirinya, namun yang dikehendakinya itu sebaliknya menjadi sebab kesusahan baginya. Dia mengarapkan nikmat dari padanya, namun akhirnya menjadi azab baginya. Dia menghendaki kemjuan bagi dirinya, namun akhirnya menjadi kemunduran baginya. Dan ia menghendaki sesuatu benda yang berguna baginya, namun sebaliknya benda itu menjadi bahan sengsara baginya.. Di atas dunia ini nampak ribuan macam pemandangan peristiwa seperti itu.. Seseorang menghendaki sesuatu dengan harapan akan menggembirakannya, akan tetapi apabila yang diharapkannya itu telah dihasilkannya menjadi penyebab batinnya sangat tersiksa pula. Seseorang berdo’a untuk mendapatkan anak keturunan bahkan meminta pertolongan kepada orang lain untuk mendo’akannya sambil banyak memberi sedeqah kepada fakir miskin agar mendapatkan anak keturunan. Bahkan apapun yang bisa dia lakukan demi mendapatkan anak keturunan itu, ia lakukan dengan semangat. Namun setelah mendapatkan anak, tabi’at anak itu tidak sesuai dengan harapannya semula, anak itu sangat jahat menjadi penyebab jatuhnya martabat-nya disisi masyarakat, sebab prilaku anak itu sangat memalukan, sehingga orang tua-pun merasa malu untuk menyebut nama anak itu sebabgai anak-nya sendiri dihadapan orang ramai.

Jadi manusia banyak merayakan kegembiraan dan kesenangan dan menganggap sesuatu akan menggembirakan dan menyenangkannya. Akan tetapi sebaliknya benda kesayangannya itu sendiri menjadi penyebab kehancuran baginya.
Tatkala lasykar orang-orang musyrik Mekah tiba dimedan tempur Badar, mereka mengira akan mudah menghancurkan pasukan orang-orang Islam sampai musnah sama-sekali, dan pada waktu itu Abu Jahhal pemimpin lasykar orang-orang musyrik itu sesumbar dengan mengatakan: “Kita akan merayakan Ied hari ini dan akan meneguk arak sepuas-puasnya.” Mereka telah memutuskan untuk kembali ke Mekah setelah menumpas pasukan Islam!

Akan tetapi apa yang telah terjadi ? Abu Jahhal itulah yang telah terkapar dibunuh di medan perang dengan sangat hina oleh dua orang anak muda yang masih ingusan. (Orang-orang Kuffar Mekah menganggap orang-orang Madinah sangat hina dan biasa menyebut mereka sebagai sampah masyarakat !! ) Abu Jahhal sangat memelas menyaksikan keadaan dirinya sendiri sangat hina sekali. Menurut adat kebiasaan orang-orang Arab, apabila seorang pemimpin besar terbunuh dimedan perang batang lehernya harus terpotong panjang, supaya orang menghormatinya sebagai pemimpin besar telah terkorban. Namun Hazrat Abdullah Bin Mas’ud r.a. setelah melihatnya tengah meringis dan terkapar di atas tanah bertanya kepadanya, hai Abu Jahhal !! Bagaimana nasib kamu sekarang ? Dia jawab, saya tidak menyesal sedikitpun akan kematian-ku ini namun aku sangat hina sekali karena dua anak kecil Madinah yang hina telah membunuh aku. Hazrat Abdullah r.a. bertanya lagi, Sekarang apa keinginan terakhir kamu hai Abu Jahhal ? Dia jawab, Potonglah leherku lebih panjang sedikit supaya orang menganggap aku pemimpin besar telah terkorban dimedan perang ! Hazrat Abdullah r.a. berkata, keinginan kamu inipun tidak akan aku penuhi ! Maka beliau memotong leher Abu Jahhal itu dibawah dagunya sedikit saja.

Tengoklah ! Abu Jahhal itulah yang telah berkata sebelumnya : Kita akan merayakan Ied dan akan meminum arak sepuas hati. Namun hari itu telah menjadi hari nahas baginya sehingga keinginan terakhirnyapun tidak terpenuhi.

Manusia memakan makanan yang bagaimanapun halusnya dan mengira ia akan mendapat enerji dan kekuatan bagi tubuhnya, namun sebaliknya makanan itu juga boleh menjadi penyebab sakit disentry yang berbahaya baginya.
Manusia ramai-ramai pergi ketempat pesta perkawinan dan bergembira-ria di sana , dan mereka meluahkan kegembiraan di sana sampai melampaui batas. Di sana mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang bercanggah (bertentangan) dengan hukum syari’at Islam.. Akan tetapi anak perempuan yang dibawa ke rumah dan dimeriahkan pesta perkawinhannya itu telah menjadi penyebab kerusuhan di dalam keluarga mertuanya. Dan ia telah melakukan banyak perbuatan buruk yang memalukan dan mencemarkan nama baik keluarga itu.

Jadi kita menyaksikan kenyataan, kadangkala manusia menghendaki suatu kegembiraan dan kesenangan, namun sebaliknya bukan kegembiraan yang terjadi melainkan kesedihan dan kesengsaraan bathin telah terjadi. Mungkin saja manusia telah menukar kegembiraan dengan perbuatan yang menimbulkan kemarahan Tuhan, akibatnya kesidihan dan kesengsaraan bathin menimpa dirinya.

Ayat suci Alqur’an yang telah saya tilawatkan pada permulaan khutbah ini menjelaskan peristiwa semacam itu. Mula-mula para Hawari Hazrat Isa a.s. meminta kepada beliau untuk mendu’akan mereka agar sebuah hidangan turun dari langit dan harta kekayaan-pun turun kepada mereka agar mereka terbebas dari membayar chanda yang menyusahkan mereka. Mereka ingin membelanjakan harta mereka dengan bebas menurut kehendak hati mereka. Dan mereka ingin supaya beribadah dengan hati senang dan terbuka sebab mereka sudah tidak dikenakan wajib bayar chanda lagi jika Jema’at mereka sudah memperoleh banyak kemampuan. Hazrat Isa a.s. berkata : “ Janganlah mengharapkan harta demikian. Apa yang Tuhan kasih kepada-mu ambillah. Manusia dalam suatu waktu mengira sesuatu benda akan berguna bagi mereka lalu mereka memohonnya. Akan tetapi sesungguhnya apa yang diminta-nya itu merupakan bahan kehancuran bagi mereka. Mereka berkata, kami memohon kepada Tuhan dengan tujuan yang baik !

Hazrat Isa a.s. lalu memanjatkan do’a untuk mereka itu. Dan Allah swt berfirman kepada beliau : “ Akan Aku kabulkan permohonan mereka itu. Akan tetapi setelah diberi, manusia yang tidak besyukur dan tidak berterima kasih atas anugerah-Ku itu akan ditimpakan azab di atas mereka sedemikian rupa sehingga tidak pernah orang lain menerima azab seperti itu.

Manusia tidak bisa menanggung derita dari azab Tuhan sekecil apapun. Bagaimanapun kuatnya seorang manusia sekalipun dia seorang body builder apabila pening kepala sekalipun atau sakit perut sudah menimpanya ia tidak berdaya mempertahankan dirinya. Ketika Edward Vll sudah sampai waktunya untuk dirayakan naik takhta dan akan diletakkan mahkota di atas kepalanya, dia sakit perut karena terdapat bisul di dalam lambungnya, sehingga sekalipun persiapan sudah diselesaikan dengan sangat rapih dan akan sangat meriah sekali perayaannya itu akan tetapi atas perintah Tuhan dia telah gagal dan pesta perayaan naik takhtanya diundurkan. Pendeknya apabila suatu ujian dari Tuhan sudah tiba masanya tidak ada yang bisa menentangnya sekalipun ia seorang raja yang sangat berkuasa. Jadi apabila manusia menghadapi banyak kegembiraan, sesungguhnya ia bukanlah kegembiraan yang sejati melainkan akhirnya menjadi sebuah musibah baginya.

Di dalam ayat tersebut di atas Allah swt berfirman : “ Kami tentu akan memberinya pada kalian apa yang kalian minta itu, namun jangan-jangan kalian berbuat khianat di dalamnya, maka Aku akan menurunkan azab yang dahsyat kepada kalian yang tidak pernah bangsa atau kaum lain menerimanya.

Siapakah yang bisa memperkirakan betapa dahsyatnya azab itu. Disatu tempat azab itu turun seperti langit pecah. Jika sebuah bintang jatuh di atas bumi atau matahari atau bulan jatuh di atas bumi ini maka tentu kehancuran akan menimpa bumi ini. Jika semua tata surya dan alam semesta sudah hancur berantakan maka tidak bisa dibayangkan bagaimana keadaan dunia pada waktu itu.
Sekarang tiba sa’atnya dunia menghadapi perang global. Kedahsyatan perang seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dizaman para sahabah Rasulullah saw perang hanya menggunakan panah dan tombak. Banyak sahabah yang luka-luka terkena panah atau tombak namun Shalat tidak pernah mereka tinggalkan. Pada zaman itu sekalipun orang-orang banyak yang mendapat luka-luka dimedan perang namun mereka masih mampu menjalankan tugas mereka. Sekarang perang menggunakan alat-alat senjata yang sangat berbahaya sekali. Ini adalah azab yang sangat dahsyat sekali. Berbagai macam peluru kendali yang bukan hanya menghancurkan manusia namun bisa memporak-porandakan dinding-dinding kubu atau bangunan-bangunan kokoh sekalipun. Berbagai jenis bom, pesawat-pesawat tempur yang sangat canggih dilengkapi dengan senjata-senjata nuklir yang sangat berbahaya yang nampak sekarang ini tidak pernah didapati di dunia ini. Di dunia sekarang ini telah tersedia berbagai jenis persenjataan yang sangat canggih sehingga manusia tidak mungkin akan bisa selamat dari padanya. Dari dahulu sampai sekarang peperangan seperti itu tidak pernah terjadi.

Orang-orang Eropah sesumbar : “Kami telah membuat berbagai jenis perlengkapan perang, berbagai jenis bom, senjata-senjata automatic, kapal-kapal perang, kapal-kapal penghancur dan sebaginya.” Kita berkata : Memang betul demikian, apa yang kalian perbuat benar sekali sebab telah membuktikan sempurnanya nubuwatan Kitab Suci Alqur’an. Semua penemuan-penemuan yang canggih telah membuktikan kebenaran firman Tuhan di dalam Kitab Suci Alqur’an. Sehingga surat-surat kabar di Eropah telah mengakui bahwa peperangan yang sangat membinasakan dan pertumpahan darah yang sangat dahsyat yang akan terjadi itu tidak pernah disaksikan manusia sebelumnya. Terbuktilah bahwa persenjataan yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri menjadi penyebab kehancuran sebagian dunia. Ingatlah bahwa kegembiraan sebagian manusia telah menjadi penyebab kehancuran yang berupa azab bagi dunia yang sangat mengerikan.

Hari ini juga Hari Ied. Orang-orang bergembira karena pada hari ini Ied sudah tiba. Orang-orang begembira-ria merayakan Ied pada hari ini. Alquran adalah sebuah Kitab Suci dan Rasulullah saw adalah seorang Nabi suci. Beliau telah menentukan sebuah Hari Ied. Dalam merayakan kegembiraan hari Ied seperti ini orang-orang menjadi lupa kepada kewajiban-kewajiban mereka dan melanggar hukum-hukum syari’at. Sembahyang yang biasa dikerjakan lima kali sehari sekarang Rasulullah saw telah menambah menjadi enam kali sembahyang di dalam hari Ied ini. Jangan-jangan manusia dalam merayakan kegembiraan ini menjadi lupa kepada perintah sembahyang dan melanggar hukum-hukum syari’at sehingga menjadi mangsa turunnya azab. Banyak bangsa-bangsa di dunia ini yang telah diberi nikmat oleh Allah swt dan memberi kegembiraan kepada mereka, namun mereka menjadi kufur karena tidak mensyukuri nikamt-nikmat Tuhan itu sehingga menjadi mangsa turunnya azab dari Allah swt.

Jadi, Ied ini memang sarana untuk bergembira-ria dan untuk bersenang-senang. Sebab Nabi Muhammad saw sendiri mengatakan bahwa Ied ini adalah hari bersenang-senang dan hari bergembira-ria. Tetapi mengapa beliau menjadikan hari Ied ini hari kegembiraan ? Jawabannya sungguh panjang ! Pendeknya hari Ied ini hari untuk bergembira-ria. Dikala merayakan kegembiraan ini manusia banyak lupa kepada kewajiban ibadah. Namun kita berkata : Di dalam hari kegembiraan ini kewajiban kita semakin bertambah banyak. Shalat yang biasanya lima kali sehari dikerjakan, pada hari ini menjadi enam kali, dan diharuskan untuk banyak-banyak membaca takbir, selawat dan do’a dan berzikir kepada Allah swt.

Hazrat Rasulullah saw, semoga beribu-ribu rahmat dan barkat serta salaam dan selawat turun kepada beliau, telah berlaku sangat hati-hati sekali dan telah menyelamatkan kita. Telah difirmankan di dalam Kitab Suci Alqur’an bawa orang yang tidak bersykur kepada nikmat-nikmat- Ku akan Aku timpakan azab kepadanya. Rasulullah saw telah mengajar kita, apabila kalian mendapat suatu kegembiraan hendaklah kalian melakukan ibadah kepada Tuhan walaupun sedikit sebagai tanda syukur kepada-Nya. Hukum syari’at mengajar kita supaya melakukan ibadah kepada Tuhan pada setiap kesempatan kita mendapat kegembiraan. Misalnya, diwaktu seorang anak lahir, banyak manusia bernyanyi gembira dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran syari’at agama. Namun kepada orang mukmin diperintahkan apabila seorang anak lahir, perdengarkanlah nama Allah dan tiupkanlah suara اللهُ اَكْبَرْ kedalam telinga sang bayi itu, maksudnya apabila sudah dewasa ia harus beribadah kepada Tuhan dan apabila mendapat kegembiraan berlakulah dibawah hukum syari’at Tuhan. Apabila sudah tiba waktunya untuk menikah, dengarlah baik-baik khutbah nikah itu yang dimulai dengan membacakan .… اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُsetelah itu dibacakan ayat-ayat Qur’an اِتَّقُوا للهَ … اِتَّقُوا للهَ artinya pernikahan kamu itu harus berasas taqwa kepada Allah. Dan diwaktu dia hendak menjumpai isterinya juga sebuah ibadah telah ditentukan yaitu dengan membaca do’a : اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشِّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَناَ Artinya : Wahai Tuhanku ! Jauhkanlah syaitan dari kami dan singkirkanlah syaitan itu dari apa yang Engkan anugerahkan (seorang anak) bagi kami.

Apabila sudah duduk siap mau makan pada waktu itu membaca Bismillah dan setelah selesai makan membaca Alhamdulillah. Dalam setiap gerak-gerik hendaklah selalu memuji Allah swt. Tidak ada suatu kegembiraan- pun yang luput dari pada perintah ibadah kepada Tuhan. Hazrat Rasulullah saw telah memberi contoh dan teladan yang sangat indah untuk semua gerakan dengan sebuah ibadah berupa do’a kepada Allah swt. Sebab jika manusia tidak melakukan ibadah ketika mendapat kegembiraan atau kebahagiaan maka ia akan termasuk orang yang mengingkari nikmat yang akibatnya mendapat azab dari Allah swt. Sebagaimana firman-Nya kepada kaum Bani Israil : فَاِنِّيْ اُعَذِّبُهُ عَذَابًأ لاَّ اُعَذِّبُهُ اَحَدًا مِّنَ اْلعَالَمِيْنَArtinya : Akan Aku timpakan azab kepadanya dengan azab yang tidak pernah seorang-pun di atas dunia ini yang menerima azab seperti itu.

Jadi, Nabi Karim saw kita telah membuka jalan yang sangat terbuka bagi kita semua, dengan mengajarkan berbagai jenis ibadah berupa do’a-do’a pada setiap kesempatan mendapat kegembiraan atau kenikmatan dari Allah swt. Beliau telah menetapkan peraturan bagi kita dan seolah-olah beliau telah memberi tahu jenis-jenis pengobatan bagi kita, apabila kita hendak melakukan sesutau amal perbuatan baik harus dimulai dengan membaca بِسْمِ اللهbismillah, menyebut nama Allah swt dan pada akhir pekerjaan yang telah selesai kita kerjakan membaca اَلْحَمْدُلِلَّهِ alhamdulillah. Terdapat firman di dalam Alqur’an : وَاٰخِرُ دَعْوٰهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ Artinya : Dan seruan akhir mereka apabila telah mengerjakan sesuatu adalah : Segala puju bagi Allah seru sekalian Alam (Yunus : 11)

Hari ini adalah Hari Kegembiraan dan hari kesenangan. Mengapa ? Sebabnya Allah swt telah memberi kesempatan untuk banyak beribadah kepada-Nya. Hazrat Rasulullah saw telah menetapkan sebuah ibadah bagi kita diwaktu kita mendapat suatu kegembiraan. Hal ini merupakan kebaikan Allah swt Yang telah memberi kita semua kesempatan untuk beribadah kepada-Nya.
Subhanallah !! Betapa indahnya pekerjaan para Nabi Allah Itu !!

Hazrat Rasulullah saw bersabda : Apabila bulan Ramadhan sudah tiba, berpuasalah dan beribadahlah dan banyak bersedekahlah kepada fakir miskin. Apabila Ramdhan sudah usai bergembiralah kalian tanda bersyukur kepada Tuhan Yang telah memberi taufiq untuk berpuasa dan memberi kesempatan beribadah pada hari Ied atau hari kegembiraan tiba.

Bukan hanya pada hari Ied ini saja, melainkan pada setiap kesempatan Allah swt telah menetapkan suatu ibadah bagi kita. Sebab biasanya manusia menjadi buta diwaktu merayakan hari kegembiraan. Oleh sbab itu Dia berfirman : Diwaktu sedang bergembira biasakanlah kalian beribadah agar kalian terhindar dari bahaya akibat kesalahan atau kesilapan kalian, sehingga kalian banyak mendapat faedah dari padanya.

Semoga Allah swt menghiasi kita dengan pakaian taqwa dan semoga Dia memberi taufiq kepada kita semua untuk mengembangkan ajaran Islam hakiki ini seluas-luasnya dan memberi taufiq kepada kita untuk menyaksikan kemenangan-nya diseluruh dunia. Amin !!!

Alih Bahasa dari Bahasa Urdu oleh Hasan Basri
Singapur 6 September 2009

Zainul Maarif : AHMADIYAH DAN PERTAHANAN-KEAMANAN INDONESIA

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, November, Rabu, Tabligh, Ustadz on 4 November 2009 at 11:06

Umumnya, kelompok minoritas merasa gamang terhadap kelompok mayoritas. Di Indonesia, justru kebalikannya. Orang-orang Islam yang mengaku mewakili “mayoritas” umat Islam Indonesia mencemaskan keberadaan Ahmadiyah.

Pseudo representasi “mayoritas” umat Islam itu menganggap Ahmadiyah sesat, meminta jamaah Ahmadiyah keluar dari atau masuk ke dalam agama Islam “yang benar”, merusak aset-aset Ahmadiyah, dan meminta pemerintah melarang eksistensi Ahmadiyah di Indonesia.

Ironisnya, pemerintah terlihat linglung: tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Alih-alih mengamankan oknum-oknum yang meneror bahkan merugikan jamaah Ahmadiyah, pemerintah justru cenderung membiarkan semua itu terjadi. Ketimbang melindungi keyakinan dan keberlangsungan hidup jamaah Ahmadiyah, pemerintah justru turut latah mengikuti fatwa penyesatan Ahmadiyah yang diluarkan MUI dan merancang pembuatan SKB (Surat Keputusan Bersama beberapa menteri) penguat fatwa tersebut.

Dilihat dari sudut pandang teori pembentukan pemerintahan negara, pemerintah Indonesia gagal menjadi nightwatchman state—meminjam istilah Robert Nozic (1974)—yang bertugas menjaga keamanan seluruh penduduk tanpa turut campur urusan privasi mereka. Dirujuk pada konstitusi Indonesia, pemerintah, di satu sisi, mengabaikan UUD 1945 yang melindungi kebebasan beragama dan berkeyakinan dan, di sisi lain, gagal mensosialisasikan dan menginternalisasikan semangat toleransi tersebut kepada bangsa Indonesia. Kalaupun posisi pemerintah Indonesia dalam hal ini dikaitkan dengan kovenan hak sipil politik yang telah dirativikasi dan diadopsi Indonesia ke dalam UU No.12 Tahun 2005, maka pemerintah dinyatakan melanggar hak-hak jamaah Ahmadiyah lantaran membiarkan orang atau sekelompok orang melanggar hak sipil politik orang lain.

Terkait dengan bahan pertimbangan yang terakhir itu, Indonesia dalam kondisi bahaya. Dunia internasional tentu memperhatikan seluruh tindakan yang dilakukan pemerintah Indonesia terhadap Ahmadiyah. Dulu, di kasus Timor-Timur, Indonesia diintervensi PBB lantaran melakukan perbuatan pelanggaran HAM (by commission). Sekarang, di kasus Ahmadiyah, masyarakat dunia sangat potensial mengintervensi pemerintahan Indonesia yang jelas-jelas melanggar HAM dengan membiarkan terjadinya pelanggaran hak sipil politik (by omission).

Jika intervensi internasional singgah lagi di Tanah Pertiwi, embargo mungkin pula dialami Indonesia. Konsekuensinya, gerak laju pemerintahan dalam mengabdi kepada bangsa dan negara Indonesia akan terhambat. Pada tingkatan yang lebih lanjut, kondisi keamanan bahkan pertahanan Indonesia pun akan terganggu.

Namun, semua kemungkinan buruk itu bisa dihindiri bila pemerintah Indonesia (1) bersungguh-sungguh menjalankan konstitusi dan konvensi HAM yang telah dirativikasi, dan (2) benar-benar menjunjung tinggi demokrasi, HAM dan pelaksanaan hukum yang berkeadilan. (Zainul Maarif, Jakarta, 8 Mei 2008)

http://zainulmaarif.blogspot.com/2008/05/ahmadiyah-dan-pertahanan-keamanan.html