Jamaluddin Feeli

Archive for the ‘Tarbiyat’ Category

Persyaratan Masuk Dalam Jemaat Ahmadiyah

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Aqidah, Ghulam Ahmad, Imam Mahdi, Kamis, Khalifah I, Khalifah II, Khalifah III, Khalifah IV, Khalifah V, November, Tabligh, Tarbiyat on 12 November 2009 at 01:07

SYARAT-SYARAT BAI’AT
DALAM JEMA’AT AHMADIYAH

Oleh: HAZRAT IMAM MAHDI, MASIH MAU’UD A.S.

Orang yang bai’at berjanji dengan hati yang jujur bahwa:

1. Di masa yang akan datang hingga masuk ke dalam kubur senantiasa akan menjauhi syirik.
2. Akan senantiasa menghindarkan diri dari segala corak bohong, zina, pandangan birahi terhadap bukan muhrim, perbuatan fasiq, kejahatan, aniaya, khianat, mengadakan huru-hara, dan memberontak serta tidak akan dikalahkan oleh hawa nafsunya meskipun bagaimana juga dorongan terhadapnya.
3. Akan senantiasa mendirikan shalat lima waktu semata-mata karena mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, dan dengan sekuat tenaga akan senantiasa mendirikan shalat Tahajud, dan mengirim salawat kepada Junjungannya Yang Mulia Muhammad Rasulullah s.a.w. dan memohon ampun dari kesalahan dan mohon perlindungan dari dosa; akan ingat setiap saat kepada nikmat-nikmat Allah, lalu mensyukurinya dengan hati tulus, serta memuji dan menjunjung-Nya dengan hati yang penuh kecintaan.
4. Tidak akan mendatangkan kesusahan apa pun yang tidak pada tempatnya terhadap makhluk Allah umumnya dan kaum Muslimin khususnya karena dorongan hawa nafsunya, biar dengan lisan atau dengan tangan atau dengan cara apa pun juga.
5. Akan tetap setia terhadap Allah Ta’ala baik dalam segala keadaan susah atau pun senang, dalam duka atau suka, nikmat atau musibah; pendeknya, akan rela atas keputusan Allah Ta’ala. Dan senantiasa akan bersedia menerima segala kehinaan dan kesusahan di jalan Allah. Tidak akan memalingkan mukanya dari Allah Ta’ala ketika ditimpa suatu musibah, bahkan akan terus melangkah ke muka.
6. Akan berhenti dari adat yang buruk dan dari menuruti hawa nafsu, dan benar-benar akan menjunjung tinggi perintah Alquran Suci di atas dirinya. Firman Allah dan sabda Rasul-Nya itu akan menjadi pedoman baginya dalam tiap langkahnya.
7. Meninggalkan takabur dan sombong; akan hidup dengan merendahkan diri, beradat lemah-lembut, berbudi pekerti yang halus, dan sopan santun.
8. Akan menghargai agama, kehormatan agama dan mencintai Islam lebih daripada jiwanya, hartanya, anak-anaknya, dan dari segala yang dicintainya.
9. Akan selamanya menaruh belas kasih terhadap makhluk Allah umumnya, dan akan sejauh mungkin mendatangkan faedah kepada umat manusia dengan kekuatan dan nikmat yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepadanya.
10. Akan mengikat tali persaudaraan dengan hamba ini “Imam Mahdi dan Al-Masih Al-Mau’ud” semata-mata karena Allah dengan pengakuan taat dalam hal makruf (segala hal yang baik) dan akan berdiri di atas perjanjian ini hingga mautnya, dan menjunjung tinggi ikatan perjanjian ini melebihi ikatan duniawi, baik ikatan keluarga, ikatan persahabatan ataupun ikatan kerja.

Diterjemahkan dari “ISYTIHAR TAKMIL TABLIGH”

Tafsir Surat Al-Fatihah ayat 1 s/d 7

In Ahmadiyah, Rukun Iman, Ta'lim, Tabligh, Tafsir, Tarbiyat on 12 November 2009 at 00:57

Surah 1 : AL-FATIHAH

Diturunkan : Sebelum Hijrah
Ayatnya : 7, dengan Bismillah
Rukuknya : 1.

Tempat dan Waktu Diturunkan

Seperti diriwayatkan oleh banyak ahli ilmu hadis, seluruh Surah ini diwahyukan di Mekkah dan sejak awal menjadi bagian shalat orang-orang Islam. Surah ini disebut dalam ayat Alquran, “Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada engkau tujuh ayat selalu diulang-ulang, dan Alquran yang agung” (15:88). Ayat itu menurut pengakuan para ahli, telah diwahyukan di Mekkah, Menurut beberapa riwayat, Surah ini diwahyukan pula untuk kedua kalinya di Medinah. Tetapi waktunya Surah ini untuk pertama kali turun, dapat ditempatkan pada masa permulaan sekali kenabian Rasulullah saw.

Ikhtisar Surah

Surah ini merupakan intisari seluruh ajaran Alquran. Secara garis besarnya, surah ini meliputi semua masalah yang di uraikan dengan panjang lebar dalam seluruh Alquran. Surah ini mulai dengan uraian tentang Sifat- sifat Allah swt. yang pokok dan menjadi poros beredarnya Sifat-sifat Tuhan lainnya, dan merupakan dasar bekerjanya alam semesta, serta dasr perhubungan antara Tuhan dengan manusia. Keempat sifat Tuhan yang pokok — Rabb (Pencipta, yang memelihara dan Mengembangkan), Rahman ( Maha Pemurah ), Rahim (Maha Penyayang ) dan Maliki Yaum-Id-Din (Pemilik Hari Pembalasan) mengandung arti bahwa, sesudah menjadikan manusia Tuhan menganugerahinya kemampuan- kemampuan tabi’ (alami) yang terbaik, dan melengkapinya dengan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan jasmani, kemasyarakatan, akhlak, dan rohani. Selanjutnya Dia memberikan jaminan bahwa usaha dan upaya manusia itu akan diganjar sepenuhnya. Kemudian Surah itu mengatakan bahwa manusia diciptakan untuk beribadah, yakni menyembah Tuhan dan mencapai qurb (kedekatan)-Nya dan bahwa, ia senantiasa memerlukan pertolongan-Nya untuk melaksanakan tujuannya yang agung itu. Disebutkannya keempat Sifat Tuhan itu diikuti oleh doa lengkap yang didalamnya terungkap sepenuhnya segala dorongan ruh manusia. Doa itu mengajarkan bahwa, manusia senantiasa harus mencari dan memohon pertolongan Tuhan, agar Dia melengkapinya dengan sarana-sarana yang diperlukan olehnya, untuk mencapai kebahagian dalam kehidupan di dunia dan akhirat. Tetapi karena manusia cenderung memperoleh kekuatan dan semangat dari teladan baik wujud-wujud mulia dan agung dari zaman lampau yang telah mencapai tujuan hidup mereka, maka ia diajari untuk mendoa, agar Tuhan membuka pula baginya jalan- jalan kemajuan akhlak dan rohani yang tak terbatas, seperti telah dibukakan bagi mereka itu. Akhirnya, doa itu mengandung peringatan bahwa, jangan-jangan sesudah ia dibimbing kepada jalan lurus ia sesat dari jalan itu, lalu kehilangan tujuannya dan menjadi asing terhadap khalik-Nya. Ia diajari untuk selalu mawas diri dan senantiasa mencari perlindungan Tuhan, terhadap kemungkinan jadi asing terhadap Tuhan, itulah masalah yang dituangkan dalam beberapa ayat Al-Fatihah dan itulah masalah yang dibahas dengan sepenuhnya dan seluas-luasnya oleh Alquran, sambil menyebut contoh-contoh yang tiada tepermanai banyaknya, sebagai petunjuk bagi siapa yang membacanya.

Orang-orang mukmim dianjurkan agar sebelum membaca Alquran, memohon perlindungan Tuhan terhadap syaitan :

“Maka apabila engkau hendak membaca Alquran, maka mohonlah perlindungan Allah swt. dari syaitan yang terkutuk” ( 16 :99 ).

Perlindingan dan penjagaan itu berarti:

(1). bahwa jangan ada kejahatan menumpa kita
(2). bahwa jangan ada kebaikan terlepas dari kita
(3). bahwa setelah kita mencapai kebaikan, kita tidak terjerumus kembali ke dalam kejahatan.

Doa yang diperintahkan untuk itu ialah :

” Aku berlindung kepada Allah swt. dari syaitan terkutuk ”

Yang harus mendahului tiap-tiap pembacaan Alquran.

Bab-bab Alquran berjumlah 114 dan masing-masing disebut surah. Kata surah itu berarti :

(1). Pangkat atau kedudukan tinggi.
(2). Ciri atau tanda.
(3). Bangunan yang tinggi dan indah.
(4). Sesuatu yang lengkap dan sempurna (Aqrab dan Qurthubi ).

Bab-bab Alquran disebut surah karena :

a. dengan membacanya, martabat orang terangkat, dengan perantaraannya ia mencapai kemuliaan.
b. nama-nama surah berlaku sebagai tanda pembukaan dan penutupan berbagai masalah yang sibahas dalam Alquran
c. Surah-surah itu masing-masing laksana bangunan rohani yang mulia.
d. tiap-tiap surah berisikan tema yang sempurna.

Nama Surah untuk pembagian demikian telah dipergunakan dalam Alquran sendiri (2:24 dan 24 :2 ). Nama ini dipakai juga dalam hadis. Rasullah saw. bersabda,

“Baru saja sebuah Surah telah diwahyukan kepadaku dan bunyinya seperti berikut ” (Muslim).

Dari situ jelaslah, bahwa nama Surah untuk bagian-bagian Alquran telah biasa dipakai sejak permulaan Islam dan bukan ciptaan baru yang diadakan kemudian hari.
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (١)

Artinya :
“[a] Aku baca dengan [1] nama [2] Allah swt. [3], Maha Pemurah, Maha Penyayang [4]”
________________________________________
[a] Ditempatkan di permulaan tiap surah kecuali Surah 9; juga dalam 27:31. Lihat juga 96:2.

Tafsir:
[1]. “Ba’ kata depan yang dipakai untuk menyatakan beberapa arti dan arti yang lebih tepat di sini, ialah “dengan”, Maka kata majemuk bism itu akan berarti “dengan nama”. Menurut kebiasaan orang Arab, kara iqra’ atau aqra’u atau naqra’u atau asyra’u atau nasyra’u harus dianggap ada tercantum sebelum bismillah, suatu ungkapan dengan arti “mulailah dengan nama Allah swt. “, atau “bacalah dengan nama Allah swt.” atau “aku atau kami mulai dengan nama Allah swt. .”, atau ” aku atau kami baca dengan nama Allah swt.”. Dalam terjemahan ini ucapan bismillah diartikan “dengan nama Allah swt. “, yang merupakan bentuk lebih lazim (Lane).”

[2]. “ism mengandung arti:nama atau sifat (Aqrab).Di sini kata itu dipakai dalam kedua pengertian tersebut. Kata itu menunjukan kepada Allah swt., nama wujud Tuhan; dan kepada Ar-Rahman (Maha Pemurah) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang), keduanya nama sifat Tuhan’.

[3]. Allah swt. itu nama Dzat Maha Agung, Pemilik Tunggal semua sifat kesempurnaan dan sama sekali bebas dari segala kekurangan. Dalam bahasa Arab kata Allah swt. itu tidak pernah dipakai untuk benda atau zat lain apa pun. Tiada bahasa lain memiliki nama tertentu atau khusus untuk Dzat Yang Maha Agung itu. Nama-nama yang terdapat dalam bahasa-bahasa lain, semuanya nama-petunjuk-sifat atau nama pemerian (pelukisan) dan seringkali dipakai dalam bentuk jamak; akan tetapi, kata “Allah swt. ” tidak pernah dipakai dalam bentuk jamak. Kata Allah swt. itu “ism dzat,” tidak “musytak,” tidak diambil dari kata lain, dan tidak pernah dipakai sebagai karangan atau sifat. Karena tiada kata lain yang sepadan, maka nama “Allah swt.” dipergunakan di seluruh terjemahan ayat-ayat Alquran. Pandangan ini di dukung oleh para alim bahasa arab terkemuka. Menurut pendapat yang paling tepat. kata “Allah swt.” itu, nama wujud bagi Dzat yang wajib ada-Nya menurut Dzat-Nya sendiri, memiliki segala sifat kesempurnaan, dan huruf al adalah dipisahkan dari kata itu (Lane).

[4]. Ar-Rahman (Maha Pemurah) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) keduanya berasal dari akar yang sama. Rahima artinya, ia telah menampakan kasih-sayang; ia ramah dan baik; ia memaafkan, mengampuni. kata Rahmah menggabungkan arti riqqah, ialah ” kehalusan” dan ihsan, “kebaikan” (Mufradat). Ar-Rahman dalam wazan (ukuran) fa’lan, dan Ar-Rahim dalam ukuran fa’il. Menurut kaedah tatabahasa Arab, makin banyak jumlah ditambahkan pada akar kata, makin luas dan mendalam pula artinya (Kasysyaf). Ukuran fa’lan membawa arti kepenuhan dan keluasan, sedang ukuran fa’il menunjuk kepada arti ulangan dan (Muhith). Jadi, di mana kata Ar-Rahman menunjukan “kasih sayang meliputi alam semesta”, kata Ar-Rahim berarti “kasih sayang yang ruang lingkupnya terbatas, tetapi berulang-ulang ditampakkan.” Menggingat arti-arti di atas, Ar-Rahman itu Dzat Yang Menampakkan kasih sayang dengan cuma-cuma dan meluas kepada semua makhluk tanpa pertimbangan usaha atau amal; dan Ar-Rahim itu Dzat Yang menampakkan kasih sayang sebagai imbalan atas amal perbuatan manusia, tetapi menampakkannya dengan murah dan berulang-ulang.

Kata Ar-Rahman Hanya dipakai untuk Tuhan, sedang Ar-Rahim dipakai pula untuk manusia. Ar-Rahman tidak hanya meliputi orang-orang mukmin dan kafir saja, tetapi juga seluruh makhluk. Ar-Rahim terutama tertuju pada mukmin saja. Menurut Sabda Rasulullah saw., sifat Ar-Rahman umumnya bertalian dengan kehidupan di dunia ini, sedang sifat Ar-Rahim umumnya bertalian dengan kehidupan yang akan datang (Muhith). Artinya, karena dunia ini pada umumnya adalah dunia perbuatan, dan karena alam akhirat itu suatu alam tempat perbuatan manusia akan diganjar dengan cara istimewa, maka sifat Tuhan Ar-Rahman menganugerahi manusia alat dan bahan, untuk melaksanakan pekerjaannya dalam kehidupan di dunia ini, dan Sifat Tuhan Ar-Rahim mendatangkan hasil dalam kehidupan yang akan datang. Segala benda yang kita perlukan dan atas itu kehidupan kita bergantung adalah semata-mata karunia Ilahi dan sudah tersedia untuk kita, sebelum kita berbuat sesuatu yang menyebabkan kita layak menerumahnya, atau bahkan sebelum kita dilahirkan; sedang karunia yang tersedia untuk kita dalam kehidupan yang-akan-datang, akan dianugerahkan kepada kita sebagai ganjaran atas amal perbuatan kita. Hal itu menunjukkan bahwa Ar-Rahman itu pemberi Karunia yang mendahului kelahiran kita, sedang Ar-Rahim itu pemberi Nikmat-nikmat yang mengikuti amal perbuatan kita sebagai ganjaran.

Bismillah-ir-Rahman-ir-Rahim adalah ayat pertama tiap-tiap Surah Alquran kecuali Al Bara’ah (At-Taubah) yang sebenarnya bukan Surah yang berdiri sendiri, melainkan lanjutan Surah Al-Anfal. Ada sesuatu hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas yang maksudnya, bila sesuatu Surah-baru diwahyukan, biasanya dimulai dengan Bismillah, dan tanpa bismillah, Rasulullah saw. tidak mengetahui bahwa Surah baru saja dimulai (Daud). Hadis ini menampakkan bahwa (1) bismillah itu bagian dari Alquran bukan suatu tambahan, (2) bahwa Surah Bara’ah itu, bukan Surah yang berdiri sendiri. Hadis itu menolak pula kepercayaan yang dikemukakan oleh sementara orang bahwa, bismillah hanya merupakan bagian surat Al-Fatihah saja dan bukan bagian semua Surah Alquran. Selanjutnya ada riwayat Rasulullah s.a.w pernah bersabda bahwa, ayat bismillah itu bagian semua Surah Alquran (Bukhari dan Quhni). Ditempatkannya bismillah pada permulaan tiap-tiap Surah mempunyai arti seperti berikut:Alquran itu khazanah ilmu Ilahi yang tidak dapat disentuh tanpa karunia khusus dari Tuhan, “Tiada orang boleh menyentuhnya, kecuali mereka yang telah disucikan” ( 56:80 ). Jadi, bismillah telat ditempatkan pada permulaan tiap Surah untuk memperingati orang muslim bahwa, untuk dapat masuk ke dalam Khazanah ilmu Ilahi yang termuat dalam Aquran; dan untuk suci, melainkan ia harus pula senantiasa mohon pertolongan Tuhan. Ayat bismillah itu, mempunyai pula tujuan penting yang lain. Ayat itu ialah kunci bagi arti dan maksud tiap-tiap Surah, karena segala persoalan mengenai urusan akhlak dan rohani, yaitu Rahmaniya (kemurahan) dan Rahimiyah (Kasih-Sayang). Jadi tiap-tiap Surah pada hakikatnya, merupakan uraian terperinci dari beberapa segi Sifat-sifat Ilahi yang tersebut dalam ayat ini. Ada tuduhan bahwa kalimah bismillah, itudiambil dari kitab-kitab suci sebelum Alquran. Kalau Sale mengatakan bahwa, kalimah itu diambil dari Zend Avesta, maka Rodwell berpendapat bahwa, orang-orang Arab sebelum Islam mengambilnya dari orang-orang Yahudi, dan kemudian dimasukkan ke dalam Alquran. Kedua paham itu nyata salah sekali. Pertama, tidak pernah dida’wakan oleh orang-orang Islam bahwa, kalimah itu dalam bentuk ini atau sebangsanya tidak dikenal sebelum Alquran diwahyukan. Kedua, keliru sekali mengemukakan sebagai bukti bahwa, karena kalimah itu dalam bentuk yang sama atau serupa kadang-kadang dipakai oleh orang-orang Arab sebelum diwahyukan dalam Alquran, maka kalimah itu tidak mungkin asalnya dari Tuhan. Sebenarnya Alquran sendiri menegaskan bahwa, Nabi Sulaiman a.s. memakai kalimah itu dalam suratnya kepada Ratu Saba (27:31). Apa yang dida’wakan oleh orang-orang Islam — sedang da’wa itu, tidak pernah ada yang membantah, ialah bahwa, di antara Kitab-kitab Suci, Alquran adalah yang pertama-tama memakai kalimah tiu dengan caranya sendiri. Pula keliru sekali mengatakan bahwa, kalimah itu sudah lazim di antara orang-orang arab sebelum islam, sebab kenyataan yang sudah diketahui ialah bahwa, orang-orang arab mempunyai rasa keseganan menggunakan kata Ar-Rahman sebagai pangilan untuk tuhan. Pula, jika kalimah demikian dikenal sebelumnya, maka hal itu malah mendukung kebenaran ajaran Alquran bahwa, tiada satu kaum pun yang kepadanya tidak pernah diutus seorang Pemberi Ingat (35:25), dan juga bahwa, Alquran itu adalah khazanah semua kebenaran yang kekal dan termaktub dalam Kitab-kitab Suci sebelumnya (98:5).Alquran tentu menambah lebih banyak lagi dan apa pun yang diambilalihnya, Alquran memperbaiki bentuk atau pemakaiannya,atau memperbaiki kedua-duanya.

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)

Artinya:
“[a] Segala [5] puji [5a] hanya bagi Allah swt. , Tuhan [6] semesta alam.[6a]”.
________________________________________[a] 6:2 ; 6:46 ; 10:11 ; 18 :2 ; 29:64 ; 30:19 ; 31:26 ; 34:2 ; 35:2 ; 37:183 ; 39:76 ; 45:37.

Tafsir :
[5]. “Dalam Bahasa Arab al itu lebih-kurang sama artinya dengan kata “the” dalam bahasa Inggeris. Kata al dipergunakan untuk menunjukan keluasan yang berarti, meliputi semua segi atau jenis sesuatu pokok, atau untuk melukiskan kesempurnaan, yang pula suatu segi segi keluasa oleh karena meliputi semua tingkat dan derajat, Al dipakai juga untuk menyatakan sesuatu yang telah disebut atau suatu pengertian atau konsep yang ada dalam pikiran”.

[5a]. “Dalam bahasa Arab dua kata madah dan hamd, dipakai dalam arti pujian atau syukur; tetapi kalau madah itu mungkin palsu, hamd itu senantiasa benar. Pula, madah dapat dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai oleh pelakunya; tetapi hamd hanya dipakai mengenai perbuatan baik yang tidak dikuasai dengan kerelaan hari dan dengan kemauan sendiri (Mufradat). Hamd mengandung pula arti pengaguman, penyanjungan, dan penghormatan terghadap yang dituju oleh pujian itu; dan kerendahan, kehinaan, dan kepatuhan orang yang memberi pujian (Lane). Jadi, hamd itu kata yang paling tepat dipakai disini, untuk maksud mengutarakan kebaikan, dan puji-pujian yang sungguh wajar lagi layak dan sebagai sanjungan akan kemuliaan Tuhan. Menurut kebiasaan, kata hamd, kemudian menjadi khusus ditujukan kepada Tuhan”
[6]. “Kata kerja rabba berarti, ia mengolah urusan itu; ia memperbanyak, mengembangkan, memperbaiki, dan melengkapkan urusan itu; ia memelihara dan menjaga. Jadi, Rabb berarti,
(a) Tuhan, Yang Dipertuan, Khalik (Yang menciptakan)
(b) Wujud Yang memelihara dan mengembangkan
(c) Wujud Yang menyempurnakan, dengan cara setingkat demi setingkat (Mufradat dan Lane). Dan jika dipakai dalam rangkaian dengan kata lain, kata itu dapat dipakai untuk orang atau wujud selain Tuhan”

[6a]. “Al-alamin itu jamak dari al-‘alam berasal dari kata ‘ilm yang berarti “mengetahui.” Kata itu bukan saja telah dikenakan kepada semua wujud atau benda yang dingan sarana itu, orang dapat mengetahui Sang Pencipta (Aqrab). Kata itu dikenakan bukan bukan saja kepada segala macam wujud atau benda yang dijadikan, tetapi pula kepada golongan-golongannya secara kolektif, sehingga orang berkata ‘alamul-ins, artinya:alam manusia atau ‘alam-ul-hayawan, ialah, alam binatang. Kata al-‘alamin tidak hanya dipakai untuk menyebut wujud-wujud berakal — manusia dan malaikat — saja. Alquran mengenakannya kepada semua benda yang diciptakan (26:24 – 29 dan 41:10). Akan tetapi, tentu saja kadang-kadang kata itu, dipakai dalam arti yang terbatas (2:123). Di sini kata itu dipakai dalam arti yang seluas-luasnya dan mengandung arti “segala sesuatu yang ada selain Allah swt.,” ialah, benda-benda berjiwa dan tidak berjiwa dan mencakup juga benda-benda langit — matahari, bulan, bintang, dan sebagainya.

Ungkapan “Segala puji bagi Allah swt.” adalah lebih luas dan lebih mendalam artinya daripada “Aku memuji Allah swt.”, sebab manusia hanya dapat memuji Tuhan menutur pengetahuannya; tetapi, anak kalimat “Segala puji bagi Allah swt.” meliputi bukan hanya sebagai puji-pujian yang di ketahui manusia, tetapi pula puji-pujian yang tidak diketahuinya. Tuhan layak mendapat puji-pujian setiap wahtu, terlepas dari pengetahuan atasu kesadaran manusia yang tidak sempurna. Tambahan pula, kata al-hamd itu masdar dan karena itu dapat di artikan kedua-duanya, sebagai pokok kalimat atau sebagai tujuan kalimat. Diartikan sebagai pokok, Al-hamdu lilahi berarti, hanyalah Tuhan memberikan pujian sejatidan tiap-tiap macam pujian yang sempurna hanya layak bagi Tuhan semata-mata. Untuk huruf al lihat 5.

Ayat ini menunjuk kepada hukum evolusi di dunia, artinya bahwa segala sesuatu mengalami perkembangan dan bahwa perkembangan itu terus-menerus — dan terlaksana secara bertahap, Rabb itu Wujud Yang membuat segala sesuatu tumbuh dan berkembang, setingkat demi setingkat. Ayat itu menjelaskan pula bahwa prinsip evolusi itu tidak bertantangan dengan dengan kepercayaan kepada tuhan. Tetapi proses evolusi yang disebut di sini,tidak sama dengan teori evolusi sebagai biasanya di artikan. Kata-kata itu dipergunakan dalam arti umum. Selanjutnya, ayatini menunjuk kepada kenyataan bahwa, manusia di jadikan untuk kemajuan takterbatas, sebab ungkapan Rabb-ul-‘alamin itu mengandung arti bahwa, Tuhan mengembangkan segala sesuatu dari tingkatan rendah kepada yang lebih tinggi dan hal itu hanya hanya mungkin jika tiap-tiap tungkatan itu diikuti oleh tingkatan lain, dalam proses yang tiada henti-hentinya”.

الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (٣)
Artinya :
“a] Maha Pemurah, [b] Maha Penyayang [7]”.
________________________________________
[a] 25:62 ; 26:6 ; 41:3 ; 55:2 ; 59:23
[b] 33:44 ; 36:59

Tafsir:
[7]. “Dalam ungkapan bismillah, sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim berlaku sebagai kunci arti seluruh Surah. Sifat-sifat itu disebut di sini memenuhi satu tujuan tambahan. Sifat-sifat itu dipakai di sini, sebagai mata rantai antara Sifat Rabb-ul-‘alamin dan Maliki yaum-id-din”.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤)
Artinta:
“[c] Pemilik [8] [d] Hari [9] Pembalasan. [10]”
________________________________________
[c] 48:15
[d] 51:13 ; 74:47; 82:18,19; 83:7

Tafsir:
[8[. “Dalam ungkapan bismillah, sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim berlaku sebagai kunci arti seluruh Surah. Sifat-sifat itu disebut di sini memenuhi satu tujuan tambahan. Sifat-sifat itu dipakai di sini, sebagai mata rantai antara Sifat Rabb-ul-‘alamin dan Maliki yaum-id-din”.

[9]. “Yaum berarti, waktu mutlak hari mulai matahari terbit hingga terbenamnya; masa sekarang (Aqrab ).

[10]. Din berarti, pembalasan atau ganjaran; peradilan atau perhitungan; kekuasaan atau pemerintahan; kepatuhan; agama, dan sebagainya”.

Keempat sifat Tuhan, ialah, “Tuhan sekalian alam,” “Pemurah,” “Penyayang” dan “Pemilik Hari Pembalasan,” adalah sifat-sifat pokok. Sifat-sifat lain hanya menjelaskan dan merupakan semacam tafsiran, tentang keempat sifat tadi yang laksana empat buah tiang di atasnya terletak singgasana Tuhan Yang Maha Kuasa. Urutan keempat sifat itu seperti dituturkan di atas memberikan penjelasan, bagaimana Tuhan menampakkan sifat-sifat-Nya kepada manusia. Sifat Rabb-ul-‘alamin (Tuhan sekalian alam) mengandung arti bahwa, seiring dengan dijadikannya manusia, Tuhan menjadikan lingkungan yang diperlukan untuk kemajuan dan perkembangan rohaninya. Sifat Ar-Rahman (Pemurah) mulai berlaku sesudah itu dengan perantaraan itu, Tuhan seolah-olah menyerahkan kepada manusia sarana-sarana dan bahan-bahan yang diperlukan untuk kemajuan akhlak dan rohaninya. Dan jika Ar-Rahim mulai berlaku untuk mengganjar amalnya. Yang terakhir sekali, sifat Maliki yaum-id-din (Pemilik Hari Pembalasan) mempertunjukan hasil terakhir dan kolektif amal perbuatan manusia. Dengan demikian pelaksanaan pembalasan mencapai kesempurnaan. Sungguh pun perhitungan terakhir dan sempurna akan terjadi pada Hari Pembalasan, proses pembalasan itu terus berlaku, bahkan dalam kehidupan ini juga dengan perbedaan bahwa dalam kehidupan ini perbuatan manusia, seringkali diadili dan diganjar oleh orang lain, para raja, para penguasa, dan sebagainya. Oleh karena itu, senantiasa ada kemungkinan adanya kekeliruan. Tetapi, pada Hari Pembalasan, kedaulatan Tuhan itu mandiri dan mutlak dan tindakan pembalasan itu seluruhnya ada dalam kekuasaan-Nya. Ketika itu tidak akan terdapat kesalahan, tiada hukuman yang tidak tepat, tiada ganjaran yang tidak adil. Pemakaian kata Malik (Pemilik) dimaksudkan pula untuk menunjuk kepada kenyataan bahwa, Tuhan tidak seperti seorang hakim yang harus menjatuhkan keputusan benar sesuai dengan hukum yang telah ditetapkan. Selaku Maliki (Pemilik), Dia dapat mengampuni dan menampakkan kasih-sayang-Nya, kapan saja dan dengan cara apa pun sekehendak-Nya. Dengan mengambil din dalam arti “agama,” maka kata-kata “Yang mempunyai waktu agama” akan berarti bahwa, bila suatu agama sejati diturunkan, umat manusia menyaksikan suatu penjelmaan kekuasaan dan takdir Ilahi yang luar biasa, dan bila agama itu mundur, maka nampaknya seolah-olah sekalian alam berjalan secara mekanis, tanpa pengawasan atau pengaturan Sang Pencipta dan Al-Malik”.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥)

Artintya:
“[a] Hanya Engkau kami sembah [11] dan [b] hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan. [12]”.
________________________________________
[a] 11:3; 12:41; 16:37; 17:24; 41:38
[b] 2:46, 154; 21:113

Tafsir:
[11]. “Ibadah berarti, merendahkan diri, penyerahan diri, ketaatan, dan berbakti sepenuhnya. Ibadah mengandung pula arti, iman kepada Tauhid Ilahi dan pernyataan iman itu dengan perbuatan. Kata itu berarti pula, penerimaan kesan atau cap dari sesuatu. Dalam arti ini ibadah akan berarti, menerima kesan atau cap dari sifat-sifat Ilahi dan meresapkan serta mencerminkan sifat-sifat itu dalam dirinya sendiri”.

[12]. Kata-kata Hanya Engkaulah kami sembah, telah ditempatkan sebelum kata-kata, hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan, untuk menunjukkan bahwa sesudah orang mengetahui kebesaran sifat-sifat Tuhan, maka dorongan pertama yang timbul dalam hatinya adalah beribadah kepada Dia.Pikirin untuk mohon pertolongan Tuhan, datang sesudah adanya dorongan untuk beribadah. Orang ingain beribadah kepada Tuhan, tetapi ia menyadari bahwa untuk berbuat demikian, ia memerlukan pertolongan Tuhan. Pemakaian huruf jamak dalam ayat ini mengarakan perhatian kita kepada dua pokok yang sangat penting:

(a) Bahwa manusia tidak hidup seorang diri di bumi ini, melainkan ia merupakan bagian yang tak terpisahkan dari masyarakat di sekitarnya. Maka ia hendaknya berusaha jangan berjalan sendiri, tetapi harus menarik orang- orang lain juga bersama dia, melangkah di jalan Tuhan.
(b) Bahwa selama menusia tidak mengubah lingkungannya, ia belum aman.
Layak dicatat pula, Tuhan dalam keempat ayat pertama disebut sebagai orang ketiga, tetapi dalam ayat ini tiba-tiba Dia dipanggil dalam bentuk orang kedua. Renungan atas keempat sifat-sifat Ilahi itu, membangkitkan dalam diri manusa keinginan yang begitu tak tertahankan untuk dapat melihat Khalik-nya , dan begitu mendalam seta kuat hasratnya, untuk mempersembahkan pengabdian sepenuh hatinya kepada-Nya, sehingga untuk memenuhi hasrat jiwanya itu bentuk orang ketiga yang dipakai pada ayat keempat permulaan, telah diubah menjadi bentuk orang kedua dalam ayat ini.

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (٦)
Artinya:
“Tunjukilah kami pada [a] jalan yang lurus; [13]”
________________________________________
[a] 19:37 ; 36:62 ; 42:53,54

Tafsir:
[13]. “Doa ini meliputi seluruh keperluan manusia — kebendaan dan rohani, untk masa ini dan masa yang akan datang. Orang mukmin berdoa agar kepadanya ditunjukkan jalan lutus, jalan terpendek. Kadang-kadang kepada manusia diperlihatkan jalan uang benar dan lurus itu, tetapi ia ridak dipimpin kepadanya, atau, jika ia dibimbing ke sana, ia tidak berditetap pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir. Doa itu menhandaki, agar orang beriman tidak merasa pulas dengan hanya diperlihatkan kepadanya siati kalanm atau juga dengan dibimbing ke sana, ia tidak bersitetap pada jalan itu dan tidak mengikutinya hingga akhir, Dia itu menghendaki, atau orang beriman tidak merasa puas dengan hanya diperlihatkan kepadanya siati jalan, atau juga dengan dibimbing pada jalan itu, tetapi ia harus senantiasa terus menerus mengikutinya hingga mencapai tujuannya, dan inilah makna hidayah, yang berarti, menunjukkan jalan yang lurus (90:11), membimbing ke jalan lurus ( 29:70 ) dan membuat orang mengikuti halan yang lurus ( 7:44 ) (Mufradat dan Baqa ). Pada hakikatnya, manusia memerlukan pertolongan Tuhan pada tiap-tiap langkah dan pada setiap saat, dan sangat perlu sekali baginya, agar ia senantiasa mengajukan kepada Tuhan permohonan yang terkandung dalam ayat ini. Maka oleh karena itu, dia terus-menerus itu memang sangat perlu, Selama kita mempunyai keperluan -keperluan yang belum kesampaian dan keperluan-keperluan yang belum terpenuhi dan tujuan- tujuan yang belum tercapai, kita selamanya memerlukan doa”.

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (٧)

Artinya:
“Jalan [a] orang-orang yang telah Engkau beri nikmat atas mereka, [14] bukan atas mereka [b] yang dimurkai dan bukan pula [c] yang sesat. [15]”
________________________________________
[a] 4:70 ; 5:21 ; 19:59
[b] 2:62, 91 ; 3:113 ; 5:61,70
[c] 3:91 ; 5:78; 18:105

Tafsir :
[14]. “Orang mukmin sejati tidak akan merasa puas hanya dengan dipimpin ke jalan yang lurus atau dengan melakukan beberapa amal saleh tertentu saja,. Ia menempatkan tujuannya jauh lebih tinggi dan berusaha mancapai kedudukan saat Tuhan mulai menganugerakan karunia-karunia Ilahi yang dianugerakan kepada para pilihan Tuhan, lalu memperoleh dorongan semangat dari mereka. Ia malahan tidak berhenti sampai di situ saja, tetapi ia berusaha keras dan mendoa supaya digolongkan di antara “orang-orang yang telah mendapat nikmat itu, telah disebut dalam 4:70. Doa itu umum dan tidak untuk sesuatu karunia tertentu. Orang mukmin bermohon kepada Tuhan agar menganugerakan karunia rohani yang tertinggi kepadanya dan terserah kepada Tuhan untuk menganugerahkan kepadanya karunia yang dianggap-Nya pantas dan layak bagi orang mukmin itu menerimanya”

[15]. “Surah Al-Fatihah membuka suatu tertib indah dalam susunan kata-katanya dan kalimat – kalimatnya. Surah ini dapat dibagi dalam dua bagian yang sama. Separuhnya yang pertama bertalian dengan Tuhan, separuhnya yang kedua dengan manusia, dan tiap bagian bertalian sama sama lain dengan cara yang sangat menarik. Berkenaan dengan nama “Allah swt. ” yang menunjuk kepada Dzat yang memiliki segala sifat mulia yang tersebut dalam bagian pertama. Kita dapati kata- kata, hanya Engkau kamu sembah dalam bagian yang kedua. Segera setelah seseorang abid (yang melakukan ibadah) ingat bahwa Tuhan bebas dari segala cacat dan kekurangan dan memiliki segala sifat sempurna, maka seruan hanya Engkau kamu sembah dengan sendirinya timbul dari hati sanubarinya. Dan sesuai dengan sifat “Tuhan semesta Alam ” tercantum kata-kata kepada Engkau kami mohon pertolongan dalam bagian kedua. Setelah orang Islam mengetahui bahwa Tuhan itu Khalik dan Pemelihara sekalian alam dan Sumber dari segala kemajuan, ia segera berlindung kepada Tuhan, sambil berkata, kepada Engkau kamu mohon pertolongan, Kemudian, sesuai dengan sifat “Ar-Rahman,” yakni Pemberi karunia tak berbilang dan Pemberi dengan cuma-cuma segala keperluan kita, tercantum kata-kata, Tunjukilah kami pada jalan yang lurus dalam bagian kedua; sebab karunia terbesar yang tersedia bagi manusia ialah petunjuk yang disediakan Tuhan baginya, dengan menurunkan wahyu dengan perantaraan rasul-rasul-Nya. Sesuai dengan sifat “Ar-Rahim,” yakni, Pemberi ganjaran terbaik untuk amal perbuatan manusia dengan bagian pertama, kita jumpai kata-kata, Jalan orang- orang yang telah Engkau beri nikmat dalam bagian kedua, sebab memang Ar-Rahim -lah yang menganugerakan nikmat-nikmat yang layak bagi hamba-hamba-Nya yang khas. Lagi, sesuai dengan “Pemilik Hari Pembalasan” kita dapatkan Bukan jalan mereka yang dimurkai dan bukan pula yang sesat. Bila terlintas dalam pikiran manusia bahwa ia harus memberikan pertanggunjawaban atas amal perbuatannya, ia takut menemui kegagalan, maka dengan merenungkan sifat Pemilik hari Pembalasan, ia mulai mendoa kepada Tuhan, supaya ia diperlihara dari murka-Nya dan dari kesesatan dari jalan yang lurus.

Sifat khusus lainnya pada doa yang terkandung dalam Surah ini ialah dia itu mengimbau naluri-naluri manusia yang dalam, dengan cara yang wajar sekali. dalam fitrat manusia ada dua pendorong yang merangsangnya untuk menyerahkan diri ialah cinta dan takut. Sebagian orang tergerak oleh cinta, sedang yang lain terdorong oleh takut. Dorongan cinta memang lebih mulia, tetapi mungkin ada dan sungguh-sungguh ada — orang-orang yang hatinya tidak tergerak oleh cinta. Mereka hanya menyerah karena pengaruh takut. Dalam Al-Fatihah kedua pendorong manusia itu telah diimbau. Mula-mula tampil sifat-sifat Ilahi yang membangkitkan cinta, “Pencipta dan Pemelihara sekalian alam,” “Maha Pemurah” dan “Maha Penyayang”. Kemudian. segera mengikutinya sifat “Pemilik Hari Pembalasan,” yang memperingatkan manusia bahwa, bila ia tidak memperbaiki tingkah-lakunya dan tidak menyambut cinta dengan baik, maka ia harus bersedia mempertanggungjawabkan amal perbuatannya di hadapan Tuhan. Dengan demikian pendorong kepada “takut:dipergunakan berdampingan dengan pendorong kepada cinta. Tetapi, oleh karena kasih-sayang Tuhan itu jauh mengatasi sifat Murka-Nya sifat ini pun — yang merupakan satu-satunya sifat pokok yang bertujuan membangkitkan takut — tidak dibiarkan tanpa menyebut kasih-sayang. Pada hakikatnya, di sini pun kasih-sayang Tuhan mengatasi murka-Nya, sebab telah terkandung juga dalam sifat ini bahwa, kita tidak akan menghadap seorang Hakim ,tetapi menghadapTuhan Yang berkuasa mengampuni dan Yang hanya akan menyiksa bila siksaan itu sangat perlu sekali. Pendek kata, Al-Fatihah itu khazanah ilmu rohani yang menakjubkan. Al-Fatihah itu surah pendek dengan tujuan ayat ringkas, tetapi Surah yang sungguh-sungguh merupakan tambang ilmu dan hikmah. Tepat sekali disebut “Ibu Kitab,” Al-Fatihah itu intisari dan pati Alquran. Mulai dengan nama Allah swt., Sumber pokok pancaran segala karunia, rahmat dan berkat, Surah ini melanjutkan penuturan keempat sifat pokok Tuhan, ialah :
1. Yang menjadikan dan memelihara alam semesta
2. Maha Pemurah Yang mengadakan jaminan untuk segala keperluan manusia, bahan sebelum ia dilahirkan, dan tampa suatu usaha apa pun dari pihak manusia untuk memperolehnya.
3. Maha Penyayang, Yang menetapkan hasil sebaik mungkin amal perbautan manusia dan Yang menganjarkannya dengan amat berlimpah-limpah.
4. Pemilik Hari Pembalasan.

Di hadapan-Nya, manusia harus menpertanggungjawabkan amal perbuatannya dan Yang akan menurunkan siksaan kepada si jahat, tetapi tidak akan berlaku terhadap makluk-Nya semata-mata sebagai Hakim, melainkan sebagai majikannya Yang melunakkan hukuman dengan kasih-sayang, dan Yang sangat cenderung mengampuni, kapan saja pengampunan akan membawa hasil yang baik. Itulah citra Islam, seperti dikemukakan pada awal sekali Alquran, mengenai Dzat Yang kekuasaan serta kedaulatan-Nya tak ada hingganya dan kasih-sayang serta kemurahan-Nya tiada batasnya. Kemudian datanglah pernyataan manusia bahwa, mengingat Tuhan-nya itu Pemilik semua sifat agung dan luhur, maka ia bersedia malah berhasrat, menyembah Dia dan menjatuhkan diri pada kaki-Nya, agar mohon pertolongan-Nya pada setiap derap langkah majunya dan setiap keperluan yang di hadapinya. Akhirnya, datanglah doa — padat dan berjangkauan jauh — suatu doa yang di dalamnya manusia bermohon kepada Khalik-nya, untuk membimbingnya ke jalan yang lurus dalam segala urusan rohani dan duniawi, baik mengenai keperluan -keperluan sekarang atau pun di hari depan. Ia mencoba kepada Tuhan, agar ia bukan saja dapat menghadapi segala cobaan dan ujian dengan tabah, tetapi selaku “orang-orang terpilih,” menghadapinya dengan cara yang sebaik-baiknya dan menjadi penerima karunia dan berkat Tuhan yang paling banyak dan paling besar, agar ia selama-lamanya terus melangkah maju pada jalan yang lurus, maju terus makin dekat dan lebih dekat lagi kepada Tuhan dan Junjungan-nya, tampa terantuk-antuk di perjalanannya, seperti telah terkadi pada banyak dari antara mereka yang hidup di masa yang lampau. Itulah pokok Surah pembukaan Alquran, yang senantiasa diulangi dengan suatu bentuk atau cara lain, dalam seluruh tubuh Kitab suci itu”.

Sumber :
Al Qur’an, Terjemahan dan Tafsir Singkat Jilid I
Oleh : HM Basyiruddin.MA

JANJI-JANJI ALLAH TAALA KEPADA PENDIRI JEMAAT AHMADIYAH

In Tarbiyat on 12 November 2009 at 00:57

Berikut ini kami turunkan beberapa wahyu yang merupakan janji-janji AllahTaala kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah:

Pada tahun 1882. Imam Mahdi a.s. menerima wahyu dari Allah swt. yang berbunyi:

يَأْتِيْكَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ وَيَأْتُوْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ.

Artinya:
“Orang-orang dari tempat yang jauh-jauh akan datang kepada engkau” (Tazkirah, halaman 49).

Ketika untuk pertama kalinya mengumumkan pendakwaannya, beliau masih seorang diri, tidak mempunyai teman. Adapun tempat beliau, Qadian, adalah sebuah kampung kecil. Tidak memiliki fasilitas modern dalam bentuk kantor pos, kantor telegrap atau stasiun kereta api dan lain-lain.. Keadaan sekitar tidak menarik parawisata. Di kampung yang sekecil itu pun, kebanyakan orang tidak mengenal kepada beliau. Di dalam keadaan demikian, beliau menerima wahyu tersebut diatas. Maka bagaimanakah kemudian kenyataannya?

Kini, ratusan ribu orang telah menjadi saksi atas kebenaran wahyu ini. Tahun demi tahun banyak orang yang datang ke sana, baik dari dalam negeri India/Pakistan, mapun dari benua-benua lainnya, hanya semata-mata untuk mencari ilmu kerohanian yang dikaruniakan oleh Allah Taala kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Masih Mau’ud a.s.

Untuk mudahnya mengenal hal ini dapat dilihat dari jumlah pengunjung pertemuan tahunan yang diselenggarakan di Pusat Jemaat (di samping pengunjung yang datang di setiap waktu). Pertemuan tahunan yang pertama diadakan pada tahun 1891, dengan jumlah pengunjung 75 orang. Waktu berjalan terus, dan pengunjung pun terus bertambah dan pada pertemuan tahunan (jalsah) akhir Desember 1979 yang lalu di Rabwah, Pakistan, pengunjung mencapai jumlah 175.000 orang yang datang dari berbagai benua: Afrika, Amerika, Eropa dan Asia sendiri termasuk Indonesia. Jadi selama 88 tahun mencapai kemajuan lebih dari 2000 kali lipat. Demikianlah janji Allah ini kini telah sempurna dengan seterang-terangnya.

Wahyu:
“Aku akan sampaikan tabligh engkau ke seluruh penjuru dunia” (Tazkirah).
Di kala beliau menerima wahyu ini, masih dalam keadaan seperti di atas. Di kala beliau mengumumkan pendakwaannya sebagai Imam Mahdi a.s. dan Almasih yang dijanjikan, spontan ditentang sekeras-kerasnya oleh para ulama dan pengikutnya pada waktu itu. Perlawanan dan pemagaran begitu hebat dan ketatnya, sehingga sampai ke dinding-dinding rumah beliau. Ditilik dari keadaan lahiriyah, mustahil bisa bertahan, apalagi harus meluas ke seluruh pelosok dunia. Akan tetapi bagaimanakah keadaannya sekarang? Dunia menjadi saksi atas kebenaran wahyu ini, bahwa tiada benua atau tempat yang penting di dunia ini, yang tidak didatangi oleh muballigh-muballigh Jemaat Ahmadiyah.

Wahyu :
“Seorang pemberi-ingat telah datang ke dunia, akan tetapi dunia tidak menerimanya. Tetapi Tuhan sendiri yang akan menerimanya, dan menegakkan kebenarannya dengan serangan-serangan yang hebat”(Barahin Ahmadiyah /Tazkirah).

Wahyu ini berisikan khabar ghaib, bahwa kedatangan beliau akan ditentang, tetapi Allah swt. dengan kudrat-Nya akan menegakkannya. Dan sebagai akibat dari penentangan ini, di dunia ini akan timbul kejadian-kejadian yang hebat, seperti peperangan, gempa bumi, penyakit dan lain-lain. Wahyu tersebut ditunjang oleh wahyu-wahyu lainnya, yang mengisyaratkan akan timbulnya peperangan, antara lain berbunyi :
“Akan datang racun dan tentara dari langit”.
“Asap akan datang dari langit”. (Tazkirah).

Wahyu tersebut mengisyaratkan akan terjadinya peperangan yang hebat yang menggunakan sarana-sarana seperti bom-bom, bom racun, bom atom, dan tentara yang diturunkan dari kapal terbang yang belum terjadi pada saat-saat sebelumnya.

Sehubungan dengan wahyu tersebut sebagai peringatan kepada dunia, dalam Tazkirah halaman 491, beliau menyatakan sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang lalai, dari langit akan turun api, dan untuknya tidak ada obatnya yang lain kecuali menangis di hadapan Allah. Karena Allah swt. telah berfirman kepadaku, bahwa gada-Nya itu hampir sampai ke bumi”.

Khusus mengenai Tsar (Kaisar Rusia), beliau menulis :
“Sebagai akibat peperangan ini, akan terasa berbagai-bagai kesusahan di muka bumi. Sedang Kaisar Rusia akan menderita kesusahan yang lebih dahsyat lagi”.

Wahyu tersebut diterima oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah pada tahun 1905, dan Perang Dunia I terjadi pada tahun 1914 – 1918. Tsar jatuh pada Perang Dunia tersebut dengan sangat menyedihkan, tepatnya dalam revolusi Oktober 1917.

Wahyu :
“Hai Masih, mendo’alah untuk penyakit-penyakit yang menular dan yang telah mulai mengamuk”(Sirajul Munir, 1897).

Ketika turunnya wahyu ini, di Bombay, yang tadinya pernah berjangkit penyakit pes, keadaannya mulai normal. Penduduk Bombay sudah merasa senang, karena dengan usaha para dokter, penyakit pes lenyap sama sekali. Pada waktu itulah beliau mengumumkan wahyu tersebut, semata-mata di dorong oleh rasa cinta beliau kepada ummat manusia, agar dapat berjaga-jaga.

Tepat 6 Februari 1898, beliau menulis sebagai berikut :
“Saya melihat malaikat-malaikat sedang menanam pohon yang hitam warnanya dan rupanya sangat buruk lagi pendek-pendek. Pohon-pohon itu sudah ditanam di daerah Punjab dan lain-lain tempat di Hindustan. Kemudian saya menanyakan pohon apakah yang ditanam itu? Mereka menjawab, bahwa pohon-pohon itu adalah bibit penyakit pes”(Kisti Nuh).

Tak lama kemudian, maka benar-benar timbul penyakit pes itu dengan hebatnya, sehingga beribu-ribu orang mati karenanya.

Mengenai wabah pes ini, beliau menerima wahyu, bahwa beliau beserta orang-orang yang berada di dalam rumah beliau (Jemaat beliau) akan dipelihara dari wabah pes ini. Wahyu tersebut berbunyi:
“Allah akan memelihara engkau beserta orang-orang yang berada di dalam rumahmu” (Kisti Nuh).

Orang-orang yang berada di dalam lingkungan Jemaat beliau kemudian ternyata secara mengagumkan terpelihara dari wabah ini. Mengenai ikhtisar penjagaan yang dilakukan oleh pemerintah dengan melakukan penyuntikan umum beliau menulis demikian :

“Patut bersyukur, karena rasa kasihan kepada rakyat, dalam rangka membasmi wabah pes, pemerintah Inggris telah mengadakan gerakan untuk kedua kalinya. Dan demi kesejahteraan ummat Tuhan, pemerintah telah memikul biaya ratusan ribu rupee. Akan tetapi dengan segala hormat, kami ingin mengatakan kepada pemerintah yang baik hati itu, bahwa seandainya tiada suatu rintangan samawi,maka kamilah yang pertama-tama di antara semua warga yang akan minta disuntik. Rintangan samawi itu ialah, bahwa Tuhan menghendaki untuk memperlihatkan kepada manusia suatu tanda kasih sayang dari langit di zaman ini. Oleh karena itu Dia berfirman kepadaku, bahwa Dia akan menyelamatkan daku dari wabah pes ini beserta semua orang yang tinggal di dalam tembok rumahku – yaitu yang memfanakan diri secara sempurna serta ketaqwaannya yang setulus-tulusnya. Dan ini akan menjadi tanda Ilahi di zaman mutakhir ini, dengan mana Dia memperlihatkan perbedaan di antara satu kaum dengan kaum yang lain. Akan tetapi yang tidak mematuhi secara sempurna, mereka itu bukan dari padaku, maka tidak usah dihiraukan, demikian perintah Tuhan”(Kisti Nuh).
“Oleh karenanya bagi diriku dan semua orang yang tinggal di dalam dinding rumahku tidak perlu disuntik…”.

Peristiwa itu menjadikan banyak orang menggabungkan diri kepada Jemaat Ahmadiyah.

Adapun mengenai gempa, antara lain beliau menerima wahyu yang berbunyi: “Zalzalah ka dhaka” (Urdu) yang artinya ialah berbunyi: “Gempa bumi akan datang yang akan memusnahkan rumah-rumah yang tetap dan rumah-rumah yang dibikin untuk tinggal sementara”.

Di daerah Kangra, Punjab, India, ada sebuah pegunungan yang di atasnya banyak sekali didirikan rumah, villa, dan mandar-mandar(tempat persembahan orang Hindu), Maka pada tanggal 4 April 1905 sempurnalah wahyu itu, dan karena gempa itu melanda ratusan kilometer, maka semua rumah, villa dan mandar yang ada di atas pegunungan itu hancur sama sekali, dan menelan korban jiwa lebih dari dua puluh ribu orang.

Ada lagi suatu khabar ghaib mengenai seseorang sebagai tanda bagi bangsa India, khususnya bagi yang beragama Hindu. Pada zaman Pendiri Jemaat Ahmadiyah, di India ada suatu golongan dari agama Hindu, yang namanya Arya Samaj, yang telah berdiri lebih kurang 50 tahun. Golongan tersebut sangat aktip dalam menarik orang-orang Islam ke dalam agama Hindu, karena mereka melihat pemeluk agama Islam telah rusak dan tidak berpengaruh lagi. Cara mereka itu ialah dengan jalan menghamburkan fitnah, perkataan kotor (caci maki) terhadap Islam dan Rasul Suci Mhammad saw.

Di antara pemimpin mereka ada seorang yang masyhur bernama Lekh Ram. Ia sangat lancang memfitnah Islam dan Rasulullah saw. dan Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Ia juga selalu menantang siapa pun di antara orang Islam yang dapat menunjukkan sebuah tanda dan mukjizat tentang kebenaran Islam yang harus disiarkan lebih dahulu di kalangan manusia umumnya. Sehubungan dengan itu, Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memohon khabar kepada Allah swt mengenai apa yang akan terjadi atas diri Lekh Ram itu.

Bulan Februari 1893, beliau menerima wahyu dalam bahasa Arab yang artinya: “Anak sapi yang bersuara yang akan menderita siksa”. Kemudian beliau menjelaskan dalam tulisannya, bahwa Allah swt. telah memberi khabar kepada beliau, bahwa Lekh Ram dalam tempo 6 tahun sejak saat itu, akan menerima azab yang hebat sehingga ia akan binasa. Dan jika dalam tempo 6 tahun itu ternyata Lekh Ram tidak binasa, maka katakanlah bahwa beliau itu pendusta.Kemudian khabar ghaib itu disiarkan dalam beberapa surat khabar di India.

Pada tanggal 2 April 1893, bertepatan dengan 14 Ramadhan 1310 H, beliau melihat dalam kasyaf, seorang yang nampaknya bermuka ganas berkata kepada beliau a.s. dan menanyakan tentang Lekh Ram. Sambil memberi isyarat bahwa ia adalah malaikat, yang diperintahkan untuk membinasakan Lekh Ram. Khabar ghaib tersebut sempurna pada tanggal 6 Maret 1897, sehari sesudah Idul Fitri. Ketika Lekh Ram berada di tingkat atas di sebuah rumah dengan mendapat pengawalan yang ketat di tingkat bawah,dan ditemani oleh seorang laki-laki yang bermaksud masuk agama Hindu. Di kala ia sedang duduk dengan santainya, kemudian menggeliat tiba-tiba orang tersebut menghunjamkan pisau ke arah perutnya sehingga ususnya berhamburan keluar. Lekh Ram menjerit dan tidak lama kemudian mati di rumah sakit sedang pembunuhnya menghilang secara misterius.

Suatu kejadian yang demikian telah terjadi pula di Amerika, semata-mata suatu mu’jizat bagi benua itu pada umumnya dan bagi ummat Kristen khususnya. Pada tahun 1888, seorang termasyhur bernama Dr. John Alexander Dowie, pindah dari Skotlandia ke Amerika. Ia banyak memberikan khotbah-khotbah agama sehingga pengaruhnya menanjak melebihi pendeta-pendeta Kristen yang lain. Terutama di kala ia mendakwakan diri sebagai Elia, untuk membersihkan jalan, guna kedatangan Almasih yang kedua kalinya, di kala itu pengikutnya bertambah banyak. Kemudian ia membeli tanah dan mendirikan sebuah kota bernama Zion. Bahkan selanjutnya ia mengatakan bahwa Almasih akan turun di kota Zion itu. Dowie sangat memusuhi Islam. Pada tahun1902 ia menyiarkan surat selebaran, yang menerangkan bahwa tiap-tiap orang Islam yang tidak mau mengikut agama Kristen akan dibinasakan.

Setelah khabar ini sampai kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah, maka segera beliau menyiarkan surat-surat selebaran yang isinya menerangkan kebagusan Islam, kemudian menantang Dowie. Dalam tantangan itu beliau menulis :

“Apa perlunya membinasakan berjuta-juta orang Islam. Sayalah seorang yang datang dari Tuhan (Allah swt.). Dan sayalah Almasih yang ditunggu-tunggu. Marilah kita bermubahalah (kontes do’a) supaya dunia dapat mengenal, agama manakah yang benar dan agama manakah yang salah”.

Selebaran-selebaran itu disiarkan dalam berbagai surat kabar di Amerika, di Eropa hingga tahun 1903.

Terhadap tantangan itu Dr. Alexander Dowie tidak menjawab apa-apa, melainkan mengeluarkan kecaman terhadap agama Islam dengan perkataan-perkataan yang kotor. Pada tanggal 14 Februari 1903, Alexander Dowie menulis dalam surat kabarnya, bahwa ia berdo’a kepada Tuhan, “Hai Tuhan, hancurkanlah agama Islam itu selekasnya”.

Setelah pendiri Jemaat Ahmadiyah mengetahui, bahwa Dr. Alexander Dowie tidak juga berhenti dari kata-kata kotornya itu, maka beliau mengeluarkan lagi selebaran yang isinya menerangkan, bahwa beliau datang ke dunia ini untuk menjelaskan Tauhid Ilahi dan menghapuskan syirik.

“Allah Swt. sudah memberi tanda kebenaran kepadaku, bahwa jika Dr.Alexander Dowie mau bermubahalah denganku, baik dengan terang-terangan maupun dengan isyarat, ia akan meninggal dunia dengan penderitaan, kesedihan dan kesusahan di waktu saya masih hidup. Dahulu pernah aku memanggil kepadanya untuk bermubahalah, tapi sayang ia tidak memberikan jawaban. Sekarang saya memberi tempo kepadanya selama tujuh bulan lamanya”.
Selebaran ini disiarkan juga di Amerika dan Eropa.

Waktu tersiarnya selebaran itu Dr. Alexander Dowie sedang dalam keadaan jaya. Ia mempunyai murid yang banyak serta kekayaan yang melimpah. Hadiah berdatangan dari mana-mana, sehingga simpanannya di bank berjumlah jutaan dollar. Singkatnya ia berada dalam keadaan yang benar-benar jaya, baik dari segi ketenaran, maupun kejayaan dan kesehatan. Tentang tantangan pendiri Jemaat Ahmadiyah, banyak muridnya yang bertanya,mengapa Dowie tak ingin menjawabnya. Ia mengatakan: “Kalau saya injakkan kaki di atas ulat-ulat itu, niscaya mereka akan hancur. Dan kalau saya bukan nabi yang datang dari Tuhan, maka tidak akan ada satu lagi nabi pun”. Katanya kemudian: “Saya telah kedatangan malaikat yang menerangkan bahwa ia akan menang di atas musuhnya.

Kejadian berikutnya, pada tanggal 9 Desember 1904, tiba-tiba Dowie mendapat penyakit lumpuh, hingga tak dapat menggerakkan badan. Di saat itu pula timbul kekacauan intern dalam golongannya. Murid-muridnya banyak yang meninggalkannya. Kemudian ia sering berpindah-pindah tempat, hingga akhirnya pada tangal 8 Maret 1907, Dowie mati dalam keadaan yang sangat menyedihkan. Pengikutnya tinggal 4 orang dan kekayaannya hanya tinggal 30 dollar.

Atas kemenangan pendiri Jemaat Ahmadiyah dalam kontes do’a atau mubahalah ini, harian “Herald of Boston”, 23 Juni 1904 menulis :

“Dowie meninggal dan kawan-kawannya menjauhkan diri dari dia. Ia menderita kelumpuhan dan penyakit gila. Ia mengalami kematian yang sangat menyedihkan. Kotanya, Zion, terpecah oleh kekalutan intern. Mirza (Pendiri Jemaat Ahmadiyah, pen.) tampil ke muka dengan terang-terangan dan menyatakan bahwa ia akan menang dalam tantangannya”.

Dua kejadian di atas telah membuktikan kebenaran sebuah janji Allah Taala dalam salah satu wahyu yang ditujukan kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Wahyu tersebut berbunyi: “Aku akan menghinakan orang yang menghinakan engkau, wahai Ahmad”.

Wahyu :
“Aku beserta engkau dan orang-orang yang percaya kepada engkau”.

Sekarang kesaksian wahyu ini telah menjadi kenyataan, bahwa Jemaat Ahmadiyah sekalipun banyak mendapat perlawanan dan rintangan-rintangan yang berat, namun bahteranya setahap demi setahap melaju ke depan dengan tetap dan pasti.

Masih Mau’ud a.s. menulis :
“Wahai seluruh ummat manusia, dengarlah, bahwa nubuwatan ini dari Dzat yang menciptakan langit dan bumi. Ia akan menyebarkan Jemaat-Nya ini ke seluruh penjuru bumi dan akan memberi kemenangan kepada mereka di atas golongan yang lain dengan hujjah-hujjah dan burhan yang nyata. Hari itu akan datang bahkan sudah dekat, bahwa di bumi ini (hanya mazhab inilah) yang akan disebut-sebut dengan penuh kehormatan. Allah swt. akan memberi berkat yang luar biasa kepada mazhab dan gerakan ini. Dan setiap orang yang berfikir untuk menghancurkan Jemaat ini akan menemui kegagalan. Kemenangan ini untuk selama-lamanya, hingga saat bila kiamat akan tiba”.

“Ingatlah bahwa tiada seorang pun yang akan turun dari langit. Semua fihak yang tak menyenangi kita akan mati. Seorang pun di antara mereka tidak akan melihat Isa Ibnu Maryam turun dari langit. Dan keturunan mereka yang menggantikan mereka pun akan mati. Di antara mereka tak seorang pun yang akan menyaksikan turunnya Isa Almasih dari langit. Sesudah itu secara turun temurun dari keturunan mereka akan menemui ajal, dan mereka ini pun tak akan ada yang dapat melihat putera Maryam turun dari langit”.

“Ketika itu Allah Swt. akan menimbulkan kegelisahan dalam hati mereka, bahwa masa kemenangan salib pun telah berlalu, dan dunia telah mengalami perubahan total, tetapi Ibnu Maryam belum turun dari langit. Ketika itu orang-orang yang berakal pun akan menjauhkan diri dari kepercayaan ini. Dan mulai hari ini, tidak akan genap abad ketiga, bila orang-orang yang menantikan Isa Almasih – baik orang Islam maupun orang Kristen – akan menjadi putus asa, dan meninggalkan akidah yang palsu itu. Dan di dunia ini hanya ada satu mazhab dan satu penghulu (Nabi Muhammad saw. pen.)”.

“Banyak rintangan akan ditemui dan banyak percobaan akan datang. Tetapi Tuhan akan melenyapkan semua itu dan akan memenuhi janji-Nya. Dan Tuhan telah bersabda kepadaku: Aku akan curahkan rahmat demi rahmat kepadamu yang demikian banyaknya sehingga raja-raja (kepala-kepala negara) akan mencari rahmat dari padamu. Karena itu wahai kamu yang mendengar, ingatlah selalu kata-kata ini dan simpanlah nubuwatan ini dalam peti-petimu dengan aman, karena ia adalah perkataan Tuhan yang harus menjadi sempurna pada suatu hari”(Tazkiratus-Syahadatain).

Pendiri Jemaat Ahmadiyah menulis :
“Setiap orang yang bermaksud menyerang padaku berarti orang itu menempatkan dirinya dalam api yang sedang menyala-nyala. Ketahuilah orang itu bukannya menyerang padaku, tetapi menyerang kepada wujud (Allah) yang mengutusku. Wujud itu berfirman : “Inni Muhiinun man araada ihaanataka”. Maksudnya: “Aku akan menghina orang-orang yang bermaksud menghinamu”. Orang-orang yang demikian tidak tersembunyi dari pandangan Allah Taala. Jangan kamu mengira bahwa untuk kebenaranku Dia telah berhenti memperlihatkan tanda-tanda-Nya. Sekali-kali tidak. Sekarang juga Dia akan penuhi dunia ini dengan tanda demi tanda sebagai saksi-saksi yang hidup untuk menyokongku. Dia akan memperlihatkan juga tanda-tanda yang maha hebat, serta menimbulkan bulu-roma dan ketakutan. Sudah lama Dia melihat perbuatan-perbuatan buruk dilakukan oleh manusia. Tapi Dia hanya bersabar. Sekarang Dia akan datang semisal hujan yang turun pada musimnya dan kemudian api petirnya akan menyambar orang-orang jahat, yang tidak takut kepada-Nya, dan kesombongannya sudah melampaui batas. Orang-orang itu mencoba menyembunyikan perbuatan-perbuatan jahat serta kelakuannya yang buruk. Tetapi Tuhan senantiasa melihat mereka itu. Apakah orang-orang jahat itu dapat menentang iradah Allah swt.? Apakah mereka dapat memusuhi Tuhan dan akan memperoleh kemenangan?” (Barahin Ahmadiyah jilid V halaman 84).

“Dalam suatu mimpi, aku menampak diriku memasang pelana pada kudaku untuk suatu maksud tertentu, tetapi aku tidak tahu ke mana aku harus pergi dan untuk tujuan apa. Aku mempunyai perasaan dalam hati bahwa aku sedang bersiap-siap dengan penuh hasrat untuk suatu urusan. Aku memakai beberapa senjata dan dengan mengikuti jalan orang saleh, aku menunggang kudaku sambil bertawakkal kepada Allah. Kemudian aku merasa bahwa aku berada pada jalan dari beberapa orang penunggang yang bersenjata, dan yang datang ke rumahku dengan tujuan hendak memusnahkanku. Aku seorang diri dan aku tidak punya topi besi atau alat penjagaan lainnya selain senjata-senjata yang dikaruniakan Tuhan kepadaku untuk mempertahankan diri. Aku tidak suka mundur dari pertarungan itu dan duduk di dalam dengan ketakutan, dan karena itu aku bergerak segera ke suatu arah dengan penuh tenaga dan upaya untuk mencapai maksud yang ada dalam pikiranku, dan upaya itu ialah untuk memperoleh hasil-hasil yang paling baik dari segi pandangan dunia dan agama.

”Tiba-tiba aku melihat ribuan orang, yang semuanya menunggang kuda, sambil marah menuju dengan cepat ke arahku. Demi melihat mereka, aku merasa gembira sekali seakan-akan aku telah memperoleh ganimah besar dan aku merasakan dorongan besar di hatiku untuk melawan mereka dan aku mulai mengejar mereka bagai pemburu mengejar mangsanya. Lalu aku menderapkan kudaku menuju mereka untuk mengetahui keadaan mereka, dan aku yakin di hatiku bahwa aku akan menang terhadap mereka.

“Ketika aku telah mendekati mereka lalu melihat bahwa pakaian mereka telah lusuh dan cabik-cabik. Roman mereka menjijikkan dan mereka nampak seperti orang-orang musyrik dan mereka mengenakan pakaian orang-orang fasiq. Aku melihat bahwa mereka sedang mengatur gerakan kuda mereka dengan maksud hendak melakukan penjarahan dan aku memperhatikan mereka dengan seksama sekali sambil maju cepat ke arah mereka sebagai juara yang berani. Kudaku bergerak maju ke muka begitu kencang sehingga seakan-akan ia sedang dipacu oleh suatu kekuatan yang tidak terlihat, sebagaimana onta digalakkan oleh senandung penunggangnya. Aku juga gembira melihat keindahan dan kecantikan langkah-langkahnya.

“Lalu mereka berbalik tiba-tiba untuk mematahkan kekuatan dan rencanaku, untuk menghancurkan buah-buah tamanku, dan untuk menumbangkan pohon-pohonku, dan untuk merampas semua itu. Mereka maju kearah tamanku dan masuk ke dalamnya. Hal itu memuatku kuatir dan aku menjadi sangat gelisah, karena aku memperkirakan bahwa mereka ingin memusnahkan buah-buahan tamanku dan memotong dahan-dahannya. Aku maju secepatnya kepada mereka dan aku sadar bahwa saat itu adalah waktu yang sangat berbahaya dan musuh-musuhku telah membuat perumahan mereka di tanahku. Aku mulai menaruh takut dalam hatiku seperti seorang yang lemah dan penakut, tetapi aku maju terus ke tamanku sehingga aku dapat menilai keadaan.

“Ketika aku masuk ke dalam tamanku dan memeriksa hati-hati dan mencoba menemukan tempat di mana mereka berhenti aku melihat dari suatu jarak bahwa mereka semuanya telah jatuh berguguran dan bertebaran sebagai orang-orang mati di petak tengah taman. Lalu kekuatiranku lenyap dan aku menjadi tenang dan maju ke arah mereka dengan cepat dan gembira. Ketika aku telah tiba di dekat mereka aku melihat bahwa mereka semuanya mati tiba-tiba karena dihina dan ditimpa kemurkaan Tuhan. Kulit mereka terkelupas, kepala mereka hancur lebur, leher mereka tersayat-sayat dan tangan serta kaki mereka terkudung dan berserakan dalam potongan-potongan kecil. Mereka telah dihancurkan sekonyong-konyong seperti suatu kaum telah dihancurkan sekaligus oleh sambaran petir. Mereka telah ditimpa kehancuran besar.

“Kemudian aku berdiri pada tempat di mana mereka telah berkumpul untuk menentang aku, yang telah menjadi tempat kehancuran mereka, dan mataku meneteskan butiran-butiran besar air mata dan aku mendo’a: Tuhanku, biarlah hidupku menjadi korban di jalan Engkau. Engkau telah menganugerahkan karunia khusus kepadaku dan Engkau telah menolong hamba-Mu dengan suatu cara yang belum pernah ditemui dalam riwayat bangsa-bangsa. Tuhanku, Engkau telah menghancurkan mereka dengan tangan-Mu malahan sebelum kedua pihak bertempur atau dua jarak berkelahi atau dua pahlawan masuk ke dalam gelanggang. Engkau melakukan apa yang Engkau inginkan. Tak ada penolong yang seperti Engkau. Engkau telah menolong dan membebaskan aku. Wahai Engkau Yang Paling Pemurah, sekiranya Engkau tidak menaruh kasihan kepadaku, maka tak ada kemungkinan bagiku untuk menghindari semua bencana dan penderitaan ini.

“Aku tersentak ketika aku masih asyik bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Besar dan ruhku masih menghadap kepada-Nya. Semua pujian adalah untuk Allah, Tuhan sekalian alam”.
“Aku menafsirkan mimpi ini dengan arti bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa akan mengirimkan bantuan dan sukses-Nya tanpa campur tangan dari benda-benda luar dan dari usaha-usaha manusia, karena Dia ingin hendak menyempurnakan karunia-Nya kepadaku dan hendak memasukkanku ke dalam rahmat-Nya.

“Kini aku akan menafsirkan itu bagimu secara terperinci, supaya kamu memperoleh penilaian yang betul tentang itu. Menghancurkan tangan dan memotong leher musuh-musuh berarti mematahkan keangkuhan dan kesombongan mereka yang penuh kebanggaan dan merendahkan atau menistakan mereka. Mengudung tangan mereka berarti mematahkan kekuatan perlawanan mereka, menggagalkan mereka, menghentikan mereka melakukan perlawanan dan pertandingan, mencegah mereka memperoleh alat-alat persenjataan, dan membuat mereka tidak berdaya. Memotong kaki mereka berarti menangkis semua hujjah mereka, menutup segala jalan lari bagi mereka, menghukum mereka dan membuat mereka menjadi orang-orang tangkapan. Ini adalah rahmat Allah Yang berkuasa atas segala-galanya. Dia menghukum orang yang Dia kehendaki dan mengampuni orang yang Dia kehendaki. Dia mengalahkan bagi siapa yang Dia ingini dan membiarkan kemenangan kepada orang yang Dia kehendaki dan tak seorang pun dapat menggagalkan-Nya”(Ainah Kamalati Islam, halaman 578-581).

Sumber :
Buku Kami Orang Isalam PB. JAI Tahun 2007

093010 : Khutbah Khalifah Ahmadiyah : SIFAT ALLAH AL WALI (The Friend) (Bagian ke 2)

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Islam, Jum'at, Khalifah V, Khutbah Khalifah Ahmadiyah, November, Oktober, Tabligh, Tarbiyat on 6 November 2009 at 11:47

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

RINGKASAN KHUTBAH JUM’AH
HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 30 Oktober 2009 dari Baitul Futuh London UK`
TENTANG : SIFAT ALLAH AL WALI (The Friend)
(Bagian ke 2)

Didalam khutbah ini Huzur melanjutkan pembahasan tentang sifat Allah swt Al Wali (Sahabat). Allah swt telah mengingatkan orang-orang beriman dan orang tidak beriman terutama para penyembah berhala didalam Alqur’an surah Al Ra’d ayat 12 sebagai berikut :

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ‌ؕ اِنَّ اللّٰهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ؕ وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال

Artinya : Untuk dia (Rasul itu) ada pergiliran malaikat-malaikat dihadapannya dan dibelakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka. Dan apabila Allah sudah menetapkan suatu keputusan buruk bagi suatu kaum maka tiada yang dapat menghindarkannya dari itu, dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia.

Didalam ayat tersebut Allah swt telah menjelaskan empat macam perkara :
a. Allah swt telah mengambil tanggung jawab sendiri untuk melindungi setiap orang.
b. Dia memberi keputusan tentang suatu bangsa sesuai dengan prilaku mereka.
c. Apabila Allah swt telah menganggap sesorang sudah patut dihukum, tidak ada kekuatan lain yang bisa mencegahnya.
d. Dia sendiri adalah Penolong, Penjaga, Pelindung dan Sahabat yang paling benar dan setia.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. sambil menjelaskan maksud
sesungguhnya pada permulaan ayat tersebut ini

لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ‌ؕ

Untuk dia (Rasul itu) ada pergiliran malaikat-malaikat dihadapannya dan dibelakangnya bersabda : “ Allah swt telah menetapkan para pengawal untuk menjaga hamba-hamba-Nya disetiap penjuru baik secara zahiri maupun secara ruhani. Yang paling utama Allah swt menetapkan para pengawal atau penjaga itu bagi para Utusan-Nya khasnya bagi Hazrat Rasulullah saw. Setelah kelahiran beliau kedunia, beliau telah menjadi wujud yang paling dikasihi dan disayangi oleh Allah swt sampai kepada masa akhir hayat beliau saw. Allah swt telah menyempurnakan semua perkara itu pada wujud beliau saw dengan sangat luar biasa sehingga tidak ada tara bandingannya. Situasi kehidupan beliau di Mekkah telah diketahui oleh semua, bagaimana Allah swt telah menolong dalam setiap langkah beliau dengan sangat luar biasa cemerlangnya. Surah Ar Ra’d tersebut diturunkan kepada beliau dalam suasana di Mekkah yang sangat mencekam disa’at usaha-usaha lawan yang memusuhi beliau sudah mencapai taraf yang paling membahayakan dan telah melampaui batas kemanusiaan. Kita juga mempunyai sebuah pemandangan zahiri dan bathini peristiwa Perang Badar yang sangat mengerikan dan luar biasa hebatnya dimana Allah swt sesuai dengan janji-Nya telah menurunkan pertolongan-Nya secara luar biasa kepada Hazrat Rasulullah saw, sehingga bagaimanapun kerasnya kehendak musuh untuk menghancurkan beliau beserta para sahabah beliau tidak berhasil.

Amir Ibnu Tufail seorang tokoh dan pimpinan penyembah berhala datang kepada Hazrat Rasulullah saw dan bertanya kepada beliau : “ Wahai Muhammad !! Apabila saya menjadi muslim apakah saya bisa menjadi Khalifah pengganti engkau setelah engkau wafat ? Maka Rasulullah saw menjawab : “ Takhta Khilafat tidak akan pernah turun kepada seseorang yang memberi persyaratan demikian dan juga tidak akan turun kepada pengikutnya.” Mendengar demikian dia menjadi marah dan berkata : “Aku akan membawa lasykar berkuda yang sangat berpengalaman yang akan memberi pelajaran dan menghancurkan Muhammad (saw)” Na’uzubillah !! Nabi Muhammad saw bersabda : “ Tuhan tidak akan pernah memberi taufiq untuk berbuat demikian !” Maka ia beserta temannya pergi dari sana, dan Rasulullah saw-pun membiarkan mereka pergi. Diperjalanan temannya itu berkata : “ Mari kita kembali lagi ketempat Muhammad dan aku akan mengatur siasat, aku akan mengajak dia untuk berbicara dengan-ku, disa’at itu kamu hunuslah pedangmu dan seranglah lalu bunuhlah dia !” Dia menjawab : “ Cara begini sangat berbahaya. Jika aku berhasil membunuhnya maka sahabat-sahabatnya pasti akan mengejar-ku dan membunuh-ku!” Temannya yang sudah dirasuk syetan itu semakin menghasutnya dan berkata : “ Jangan takut kita akan memberi wang tebusan kepada mereka itu, setelah berhasil membunuh Muhammad !” Maka Amir Bin Tufail itu setuju dengan saran temannya itu dan kembali menuju Hazrat Rasulullah saw. Dan setibanya dihadapan Rasulullah saw teman Amir Bin Tufail itu mulailah bercakap-cakap dengan Rasulullah saw dan Amir Bin Tufailpun yang tengah berdiri dibelakang Rasulullah saw mulai menghunus pedangnya. Namun setelah ia berhasil menghunus pedangnya itu timbul didalam hatinya rasa takut yang menggetarkan hatinya dan tertegun sejenak sehingga tangannya tidak mampu mengayunkan pedangnya itu untuk membunuh Hazrat Rasulullah saw. Disa’at itu Hazrat Rasulullah saw berbalik kebelakang dan memandang Amir Bin Tufail yang sedang memegang pedang terhunus ditangannya. Dan Rasulullah saw faham apa yang dimaksud oleh Amir Bin Tufail itu dan mereka-pun berdua mundur dari sana, lalu pergi meninggalkan Rasulullah saw. Dan Rasulullah saw pun membiarkan mereka berdua pergi dan sedikitpun tidak mengucapkan sebarang perkataan terhadap mereka berdua. Namun Allah swt Yang Maha Kuasa telah mnjatuhkan hukuman terhadap mereka berdua. Ditengah perjalanan turun hujan dan temannya itu telah disambar petir sehingga mati dan hancur binasa, sedangkan tentang Amir Bin Tufail dikatakan bahwa dia mati setelah diserang oleh penyakit bisul yang mengerikan.

Banyak sekali peristiwa serupa yang telah terjadi terhadap diri Hazrat Rasulullah saw yang menunjukkan bahwa Allah swt betul-betul telah memberi perlindungan dan keselamatan yang khas sesuai dengan janji-Nya melalui para Malaikat-Nya terhadap wujud suci Rasulullah saw dari maksud-maksud jahat pihak lawan yang memusuhi Hazrat Rasulullah saw. Peristiwa-peristiwa demikian telah mewarnai seluruh masa kehidupan beliau saw sehingga nampak jelas sekali bahwa Allah swt melalui para Malaikat-Nya telah menjaga dan melindungi beliau saw. Janji Allah swt yang turun di Mekkah itu telah diperlihatkan kesempurnaannya untuk meyakinkan dan menenteramkan hati beliau ketika terjadi penyerangan dan pengepungan terhadap kota Madinah, dengan firman-Nya :

وَاللهُ يَعْسِمُكَ مِنَ النَّاسِ

artinya Allah sentiasa menjaga engkau dari kejahatan tangan manusia. Tentang itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Hazrat Rasulullah saw selamat dan terlindung dari usaha pembunuhan manusia merupakan sebuah mu’jizah yang sangat luar biasa besarnya, dan merupakan bukti nyata kebenaran Kitab Suci Alqur’an, sebab nubuwatan ini :

وَاللهُ يَعْسِمُكَ مِنَ النَّاسِ

artinya Allah sentiasa menjaga engkau dari kejahatan tangan manusia tercantum didalam Kitab Suci Alqur’an dan nubuwatan ini tercantum didalam Kitab-kitab sebelumnya juga bahwa Nabi akhir zaman tidak akan dapat dibunuh oleh siapapun juga.”

Huzur bersabda tentang ; mereka menjaganya atas perintah Allah artinya pertama, melalui para Malaikat Rasulullah saw selalu dijaga dan dilindungi dari kejahatan manusia dan keduanya Allah swt menanamkan semangat kecintaan yang mendalam didalam hati orang-orang mukmin sehingga mereka setiap sa’at siap mengurbankan jiwa raga mereka untuk melindungi dan menjaga Rasulullah saw. Semangat kecintaan itu timbul didalam hati orang-orang mukmin setelah mereka beriman kepada Hazrat Rasulullah saw. Para sahabah menjaga dan melindungi Hazrat Rasulullah saw kerana Allah swt telah menamkan iman yang hakiki didalam hati mereka dan mereka lakukan hal itu semua semata-mata demi meraih keridhaan Allah swt. Allah swt telah menyelenggarakan perlindungan seperti itu terhadap Rasulullah saw lebih dari pada terhadap Nabi atau Rasul yang lain. Akan tetapi salah satu arti dari pada itu adalah bahwa bisa juga perlindungan Tuhan itu berlaku terhadap siapapun, sebab Allah swt telah mengatur sistim penjagaan dan perlindungan bagi setiap orang atau setiap manusia. Misalnya walaupun tidak ada penyakit yang tengah menular, namun didalam udara terdapat berbagai jenis kuman atau bakteri yang bisa masuk kedalam tubuh manusia melalui pernafasan. Untuk itu Allah swt telah menaruh sistim penjagaan didalam tubuh setiap orang, yang mampu mencegah pengaruh buruk sebagian kuman atau bakteri yang terhirup dari udara melalui pernafasan manusia. Disamping itu Allah swt memberi perlindungan terhadap para wali-Nya atau para Utusan-Nya bahkan terhadap para pengikutnya yang khas melalui para penjaga yang ditetapkan oleh Tuhan sendiri.

Pada zaman sekarang ini kita telah mengetahui merebaknya serangan wabah penyakit pes atau tha’un dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. untuk membuktikan kebenaran da’wa beliau sebagai Utusan Tuhan. Dan hal itu telah membuktikan adanya perlindungan khas dari Allah swt terhadap para pengikut beliau a.s. dari serangan wabah penyakit berbahaya itu. Didalam Kitab Kisyti Nuh (Bahtera Nuh) Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Akan tetapi dengan segala hormat, kami ingin mengatakan kepada Pemerintah yang baik hati itu, bahwa seandainya tidak ada rintangan samawi, maka kamilah yang pertama-tama diantara semua warga negara yang akan meminta disuntik untuk mencegah bahaya penyakit pes itu. Rintangan samawi itu adalah, Tuhan menghendaki untuk memperlihatkan suatu Tanda kasih sayang dari langit kepada umat manusia yang telah beriman kepada Utusan-Nya dizaman ini, mereka akan dilindungi dari bahaya wabah pes atau tha’un itu. Dunia luas telah menyaksikan bahwa walaupun telah merebaknya wabah pes atau tha’un itu selama enam tahun dinegeri India pada waktu itu, dengan karunia Allah swt tidak ada seorang Ahmady-pun yang terkena serangan wabah pes tersebut.”
Hanya semata-mata adanya perlindungan Allah swt manusia bisa terselamat dari setiap tragedi yang berbahaya dari kehilangan nyawa, harta dan anak-anak atau kehormatan. Jika tidak manusia akan kehilangan akal dan ingatan atau perasaan setelah ditimpa berbagai macam kerugian dan kehilangan yang mengerikan. Hal itu juga merupakan salah satu cara Allah swt untuk memberi perlindungan kepada manusia. Banyak manusia yang tidak mampu atau tidak bijak menyikapi akibat kehilangan atau kerugian disebabkan suatu musibah itu sehingga mengakibatkan penderitaan yang sangat keras. Akhirnya banyak diantara mereka yang kehilangan iman dan keyakinan terhadap Allah sawt. Hal itu harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk menyikapi dengan rasa syukur atas ni’mat Allah swt, jika tidak ada rahmat dan karunia-Nya kehidupan kita tidak mungkin bisa berlanjut. Orang-orang mukmnin apabila menghadapi suatu musibah akan selalu berkata : Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un !! Kita semua dan apapun yang kita miliki semuanya kepunyaan Allah dan kita semua akan kembali kepada-Nya !! (Al Baqarah : 157) sebagai natijahnya mereka mendapat barkat dari Allah swt dan mereka mendapat perlindungan Allah swt dari akibat buruk musibah atau kesusahan serta kesulitan yang mereka hadapi itu.

Sesuai dengan peraturan alam semua manusia berada dibawah perlindungan Allah swt secara umum, baik yang beriman kepada-Nya maupun yang tidak beriman. Didalam hal ini terdapat pelajaran bagi orang-orang yang tidak beriman bahwa, jika mereka terus berlanjut didalam perbuatan kejahatan mereka Allah swt tidak akan memberi perlindungan-Nya lagi terhadap mereka sehingga mereka akan menghadapi kehancuran yang sangat parah. Sebagaimana firman-Nya didalam surah Ar Ra’d ayat 12 berikut ini :

اِنَّ اللّٰهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ؕ

Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sebelum mereka sendiri mengubah apa yang ada pada diri mereka.
Hal ini membuktikan bahwa Allah swt tidak merubah cara memberi pertolongan kepada orang-orang beriman dan soleh dan mereka terus menerima banyak berkat dan rahmat dari pada-Nya. Selama mereka menjadi orang-orang yang baik dan saleh secara perorangan maupun secara keseluruhan dan memenuhi kewajiban terhadap hak-hak Allah swt dan terhadap hak-hak hamba-hamba-Nya maka mereka akan terus menerima banyak berkat dari Allah swt didalam kehidupan mereka. Berkat-berkat dan nikmat Allah swt tidak diturunkan lagi apabila manusia bukan menjadikan Tuhan sebagai wali atau sahabat mereka melainkan mengambil syaitan menjadi wali atau sahabat mereka. Kebaikan mereka lambat-laun akan hilang dan mulailah mereka melakukan kezaliman terhadap manusia. Akibatnya mereka banyak melakukan perbuatan dosa dan perbuatan jahat, merampas dan menjarah harta orang. Sebagai penguasa dipemerintahan mereka mulai melakukan suap-menyuap, melakukan korupsi dan penggelapan harta milik negara dan melakukan pelanggaran yang bertentangan dengan keadilan. Merampas hak-hak orang lain sudah menjadi adat kebiasaan sehingga akhirnya mereka berani membunuh orang atas nama agama. Pada waktu itu Allah swt tidak lagi menjaga dan melindungi mereka sehingga mereka kehilangan berkat-berkat dan nikmat serta karunia dari Allah swt sepanjang kehidupan mereka.

Maksud dari sebagian ayat tersebut bukanlah berarti bahwa Tuhan tidak memperlakukan orang-orang berbuat jahat sebagaimana mestinya, melainkan Allah swt tidak merobah perlakuan-Nya terhadap orang-orang suci dan soleh kecuali mereka sendiri telah mulai melakukan perbuatan-perbuatan buruk sehingga mereka tidak menerima lagi anugerah nikmat, karunia dan berkat-berkat dari Allah swt. Didalam sejarah agama nampak jelas sebagai saksi kepada kita dan Alqur’anpun telah menjelaskannya dihadapan kita bahwa apabila keburukan-keburukan mulai banyak timbul kepermukaan dan kebaikan-kebaikan mulai menghilang dari permukaan bumi maka perlindungan dan pemeliharaan Allah swt-pun menghilang pula. Dimanapun tidak tertulis sebuah jaminan bahwa dengan mengucapkan dua kalimah syahadat oran-orang beriman akan mendapat perlindungan istimewa untuk selamanya dari Allah swt. Untuk mendapatkan perlindungan khas dari Allah swt sesudah beriman, manusia harus melakukan amal-amal soleh sesuai ajaran Agama Islam. Hal ini harus menjadi sumber pemikiran bagi orang-orang muslim dizaman ini terutama mereka yang tinggal dinegara-negara dimana penganiayaan terhadap sesama orang muslim dan terhadap minoritas non muslim tengah berlangsung bahkan semakin meningkat. Perkara berikutnya didalam ayat tersebut diatas harus direnungkan khasnya oleh orang-orang Islam dinegara Pakistan bahkan mereka harus memohon ampun kepada Allah swt yaitu :

وَاِذَاۤ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهٗ‌ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال

Artinya : Dan apabila Allah sudah menetapkan suatu keputusan buruk bagi suatu kaum maka tiada yang dapat menghindarkannya dari itu, dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia. Apa yang diperlukan oleh mereka adalah mengadakan perbaikan pada diri mereka sebelum keputusan akhir Tuhan turun kepada mereka. Jika memang penduduk negeri Pakistan sungguh-sungguh mempunyai pengertian kepada hal tersebut.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda bahwa kewajiban orang-orang yang betul-betul menghendaki bebas atau terlepas dari kesusahan dan kemalangan adalah mereka harus mengadakan perobahan yang baik dalam diri mereka. Apabila perobahan dimaksud sudah tercapai maka barkat-barkat dan nikmat serta karunia Allah swt akan segera turun kepada mereka sesuai dengan janji-janji-Nya.

Huzur bersabda bahwa sangat perlu sekali bagi mereka itu untuk merenungkan dengan penuh perhatian terhadap masalah ini terutama untuk memohon ampunan dari Allah swt dan setiap orang Ahmady harus berusaha untuk memberi penerangan dan pengertian tentang itu terhadap orang-orang Muslim disekitar lingkungan tempat tinggal mereka.

Diakhir Ayat tersebut difirmankan :

وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّال

Artinya : dan tiada bagi mereka penolong selain dari pada Dia. Jadi jika tidak ada wujud lain kecuali Allah sebagai Penolong, Yang bisa melindungi kita semua dari setiap gangguan dan serangan Syaitan, maka kita harus mencari Dia dan harus menjadikan-Nya sebagai sahabat atau teman. Dan jika sekalipun umat Islam disana setiap hari menunaikan salat lima waktu dengan patuh, melakukan ibadah puasa dibulan Ramdhan dan puluhan ribu orang setiap tahun menunaikan ibadah Haji, namun tidak menimbulkan sebarang kebaikan bahkan timbul kemunduran dan kehancuran secara nasional, tentu terdapat kekurangan didalam cara menunaikan ibadah mereka terhadap Allah swt. Semoga ummat Islam di Pakistan memahami keadaan sebenarnya yang tengah berlaku disana dan semoga hati mereka runduk sepenuhnya terhadap Allah swt.

Allah swt telah menguraikan masalah tersebut didalam surah Al Anfal ayat 54 sebagai berikut :

ذٰلِكَ بِاَنَّ اللّٰهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا نِّـعْمَةً اَنْعَمَهَا عَلٰى قَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ‌ۙ وَاَنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌۙ‏

Artinya : Yang demikian itu adalah karena Allah tidak akan mengubah suatu nikmat yang telah Dia anugerahkan kepada suatu kaum, sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui. Allah swt tidak pernah merampas kembali anugerh nikmat-Nya yang telah Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, melainkan manusia sendiri yang mensia-siakan anugerah nikmat-Nya itu dengan melakukan keburukan sehingga menjadikan dirinya bernasib buruk dan malang. Alqur’an tidak semata-mata hanya menceritakan perkara-perkara yang telah berlalu, melainkan menjadikan hal itu sebagai pelajaran bagi orang-orang beriman dimasa sekarang dan mereka harus selalu waspada dan selalu menghargai dan mensyukuri nikmat-nikmat luar biasa yang telah mereka terima dari Allah swt. Allah swt berfirman …

وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِىْ

telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas-mu … nikmat ini dan berkat ini telah dianugerahkan kepada kita dalam bentuk Kitab Suci Alqur’an dan kita telah diperintah untuk mengamalkan ajaran-ajarannya didalam peri kehidupan kita sehari-hari. Apabila kita ikuti semua perintah-Nya ini maka kita sendiri akan menjadi orang-orang yang soleh dan sesuai firman-Nya Dia akan menjadi Penolong kita dan Dia akan menjelma sebagai Maula atau Pelindung kita.

Apakah orang-orang Muslim diseluruh dunia belum juga menyadari mengapa mereka luput dari berkat-berkat firman Tuhan yang artinya : Kamu adalah ummat terbaik dibangkitkan demi kebaikan umat manusia..?? Ummat yang telah diciptakan demi faedah manusia itu, mengapa mereka luput dari nikmat-nikmat dan karunia Allah swt ? Sebab mereka sedang saling bunuh-membunuh satu dengan yang lain. Beberapa hari yang lalu telah terjadi letupan bomb di kota Peshawar yang dikendalikan dari jauh dengan remote control. Lalu terjadi lagi bomb bunuh diri yang disusul dengan pembunuhan terhadap orang-orang Ahmady dan yang lainnya juga atas nama agama. Macam kebaikan apakah yang mereka lakukan ini ? Perkara demikian sangat perlu untuk dipikirkan oleh mereka dan mereka harus merubah pola pikir mereka untuk mengubah sikap kearah kebaikan. Jika tidak, apabila taqdir Tuhan sudah mulai bergerak untuk menghukum mereka, maka tidak akan ada yang bisa menghalanginya atau mencegahnya lagi.
Perbuatan baik orang lain juga harus bisa diambil contoh dan harus menjadi contoh bagi mereka. Orang-orang Ahmady juga harus mengadakan pemeriksaan dan penilaian terhadap diri masing-masing jika sesungguhnya mereka ada dipihak yang benar. Mereka harus selalu mengawasi perilaku orang-orang itu terutama yang tinggal disekitar lingkungan masing-masing. Mereka harus selalu mensyukuri karunia Allah swt yang telah turun kepada mereka. Jika hal itu tetap dipertahankan maka Allah swt akan selalu menjadi Penolong dan Pelindung kita semua sesuai dengan janji-janji-Nya. Dan tidak akan ada yang bisa mengganggu dan menghancurkan Jema’at kita. Oleh sebab itu Allah swt berfirman :

ۚ فَاَقِيْمُوْا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوْا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِؕ هُوَ مَوْلٰٮكُمْ‌ۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْر

Artinya : … Maka dirikanlah salat dan bayarlah zakat dan berpeganglah dengan teguh kepada Allah. Dialah Pemelihara-mu. Maka Dialah sebaik-baik Pemelihara dan sebaik-baik Penolong (Al Hajj : 79) Ini merupakan kewajiban bagi semua orang-oran beriman untuk menunaikan salat karena melalui ibadah salat itu setiap orang bisa berobah menjadi orang yang baik dan saleh. Harta orang-orang beriman bisa menjadi suci bersih dengan membelanjakan sebagian dari padanya dijalan Allah dan berpegang teguh kepada apa yang diperintahkan Allah swt. Dan hal itu bisa memperteguh tauhid dan keyakinan terhadap Allah Yang Maha Tunggal sebagai Penolong dan Pelindung yang sejati.
Didalam surah Al Maidah ayat 56-57 Allah swt berfirman sebagai berikut :

اِنَّمَا وَلِيُّكُمُ اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا الَّذِيْنَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَهُمْ رٰكِعُوْنَ‏– وَمَنْ يَّتَوَلَّ اللّٰهَ وَ رَسُوْلَهٗ وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فَاِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْغٰلِبُوْن

Artinya : Sesungguhnya penolong-penolong-mu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang dawam mendirikan salat dan membayar zakat dan mereka ta’at kepada Allah – Dan barangsiapa yang menjadikan Allah, Rasul-Nya dan mereka yang beriman sebagai penolong, maka sesungguhnya Jema’at Allah pasti menang. Disini “ beribadahlah hanya kepada Allah” berarti bahwa orang yang sungguh-sungguh dan secara sempurna beriman kepada Allah dan keimanannya benar-benar suci dari setiap jenis pelanggaran. Mereka itulah kumpulan orang-orang yang akan memperoleh kemenangan dan kejayaan dan mereka itulah sahabat-sahabat Tuhan dan Tuhan adalah Sahabat mereka.

Didalam sebuah Hadis Qudsi Allah swt berrfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw “ Barang siapa yang menjadi musuh terhadap sahabat-Ku maka Aku akan nyatakan perang kepadanya. Aku ingin hamba-Ku mendekat kepada-Ku melalui apa yang telah diwajibkan kepadanya. Hamba-Ku yang selalu mendekatkan dirinya kepada-Ku melalui nawafil sehingga Aku mencintainya. Dan apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi matanya dengan mana ia biasa melihat, Aku menjadi tangannya dengan apa ia memegang, Aku menjadi kakinya dengan apa ia berjalan. Jika ia memohon sesuatu dari pada-Ku, pasti Aku mengabulkannya. Jika ia memohon perlindungan-Ku pasti Aku beri perlindungan kepadanya. Aku tidak mempunyai keraguan sedikitpun tentang hamba-Ku mecuali ketika Aku akan mencabut nyawa seorang mukmin. Ia tidak suka kematian dan Aku juga tidak suka memberi kesulitan terhadap hamba-Ku” Demikianlah perhatian dan perlindungan Tuhan terhadap hamba-Nya yang beriman. Jika manusia mengamalkan setiap perintah Tuhan dengan sungguh-sungguh dan dengan penuh kecintaan maka Tuhan akan menjadi Maula-nya (Pelindngnya). Semoga Allah swt memberi taufiq kepada kita semua untuk menjadi orang-orang soleh yang selalu mendekatkan diri kepada Maula kita yang sejati sehingga kita sentiasa menerima pertolongan-Nya dan perlindungan-Nya dalam setiap langkah kehidupan kita. Amin !!!

Alih Bahasa : Hasan Basri

19140824 : Khutbah Khalifah Ahmadiyah : Khutbah Idul Fitri

In Ahmadiyah, Khalifah II, Khutbah Id, Khutbah Idul Fitri, Ta'lim, Tabligh, Tarbiyat on 6 November 2009 at 08:31

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH IDUL FITRI
OLEH HAZRAT KHALIFATUL MASIH II r.a.
TANGGAL 24 AGUSTUS 1914 DI QADIAN – INDIA

اَشْهَدُ اَنْ لاَّ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ-اَلْحَمْدُ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يّهْدهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُّضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ– اَمَّا بَعْدُ فَاَعُوْبِ اللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ– بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ-
اِذْ قَالَ الْحَـوَارِيُّوْنَ يٰعِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ هَلْ يَسْتَطِيْعُ رَبُّكَ اَنْ يُّنَزِّلَ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَآءِ‌ؕ قَالَ اتَّقُوْا اللّٰهَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ‏ — قَالُوْا نُرِيْدُ اَنْ نَّاْكُلَ مِنْهَا وَتَطْمَئِنَّ قُلُوْبُنَا وَنَـعْلَمَ اَنْ قَدْ صَدَقْتَـنَا وَنَكُوْنَ عَلَيْهَا مِنَ الشّٰهِدِيْنَ‏-قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَاۤ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَائِدَةً مِّنَ السَّمَآءِ تَكُوْنُ لَـنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ‌ۚ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ

Ingatlah ketika para hawari berkata : “ Hai Isa Ibnu Maryam adakah Tuhan engkau mampu menurunkan bagi kami hidangan dari langit ?” Berkata ia : “ Bertaqwalah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.”Mereka berkata : “ Kami ingin memakan hidangan itu dan supaya hati kami tenteram dan supaya kami yakin bahwa engkau telah berkata benar kepada kami dan supaya kami dapat menjadi saksi terhadapnya.” Berkata Isa Ibnu Mariyam, Ya Allah, Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit supaya menjadi suatu Hari Raya bagi kami, bagi orang-orang yang sebelum kami dan bagi orang-orang yang akan datang setelah kami, dan sebagai Tanda kebenaran dari Engkau, dan berilah kami rizki dan Engkaulah sebaik-baik Pemberi rizki.”(Al Maidah 113-116)

Setiap insan menghendaki kebaikan dan kesenangan bagi dirinya dan menghendaki untuk mendapatkan keselesaan atau ketenteraman dirinya. Tidak ada seorang yang bodoh dan dungu sekalipun yang menghendaki kesusahan atau kesengsaraan bagi dirinya. Akan tetapi disebabkan kesilapan atau kejahilannya sendiri kadangkala seseorang menghendaki sesuatu kesenangan, namun sebaliknya apa yang dia kehendaki itu menjadi kesusahan dan kesengsaraan baginya.

Seorang insan menghendaki kesenangan dan ketenteraman bagi dirinya, namun yang dikehendakinya itu sebaliknya menjadi sebab kesusahan baginya. Dia mengarapkan nikmat dari padanya, namun akhirnya menjadi azab baginya. Dia menghendaki kemjuan bagi dirinya, namun akhirnya menjadi kemunduran baginya. Dan ia menghendaki sesuatu benda yang berguna baginya, namun sebaliknya benda itu menjadi bahan sengsara baginya.. Di atas dunia ini nampak ribuan macam pemandangan peristiwa seperti itu.. Seseorang menghendaki sesuatu dengan harapan akan menggembirakannya, akan tetapi apabila yang diharapkannya itu telah dihasilkannya menjadi penyebab batinnya sangat tersiksa pula. Seseorang berdo’a untuk mendapatkan anak keturunan bahkan meminta pertolongan kepada orang lain untuk mendo’akannya sambil banyak memberi sedeqah kepada fakir miskin agar mendapatkan anak keturunan. Bahkan apapun yang bisa dia lakukan demi mendapatkan anak keturunan itu, ia lakukan dengan semangat. Namun setelah mendapatkan anak, tabi’at anak itu tidak sesuai dengan harapannya semula, anak itu sangat jahat menjadi penyebab jatuhnya martabat-nya disisi masyarakat, sebab prilaku anak itu sangat memalukan, sehingga orang tua-pun merasa malu untuk menyebut nama anak itu sebabgai anak-nya sendiri dihadapan orang ramai.

Jadi manusia banyak merayakan kegembiraan dan kesenangan dan menganggap sesuatu akan menggembirakan dan menyenangkannya. Akan tetapi sebaliknya benda kesayangannya itu sendiri menjadi penyebab kehancuran baginya.
Tatkala lasykar orang-orang musyrik Mekah tiba dimedan tempur Badar, mereka mengira akan mudah menghancurkan pasukan orang-orang Islam sampai musnah sama-sekali, dan pada waktu itu Abu Jahhal pemimpin lasykar orang-orang musyrik itu sesumbar dengan mengatakan: “Kita akan merayakan Ied hari ini dan akan meneguk arak sepuas-puasnya.” Mereka telah memutuskan untuk kembali ke Mekah setelah menumpas pasukan Islam!

Akan tetapi apa yang telah terjadi ? Abu Jahhal itulah yang telah terkapar dibunuh di medan perang dengan sangat hina oleh dua orang anak muda yang masih ingusan. (Orang-orang Kuffar Mekah menganggap orang-orang Madinah sangat hina dan biasa menyebut mereka sebagai sampah masyarakat !! ) Abu Jahhal sangat memelas menyaksikan keadaan dirinya sendiri sangat hina sekali. Menurut adat kebiasaan orang-orang Arab, apabila seorang pemimpin besar terbunuh dimedan perang batang lehernya harus terpotong panjang, supaya orang menghormatinya sebagai pemimpin besar telah terkorban. Namun Hazrat Abdullah Bin Mas’ud r.a. setelah melihatnya tengah meringis dan terkapar di atas tanah bertanya kepadanya, hai Abu Jahhal !! Bagaimana nasib kamu sekarang ? Dia jawab, saya tidak menyesal sedikitpun akan kematian-ku ini namun aku sangat hina sekali karena dua anak kecil Madinah yang hina telah membunuh aku. Hazrat Abdullah r.a. bertanya lagi, Sekarang apa keinginan terakhir kamu hai Abu Jahhal ? Dia jawab, Potonglah leherku lebih panjang sedikit supaya orang menganggap aku pemimpin besar telah terkorban dimedan perang ! Hazrat Abdullah r.a. berkata, keinginan kamu inipun tidak akan aku penuhi ! Maka beliau memotong leher Abu Jahhal itu dibawah dagunya sedikit saja.

Tengoklah ! Abu Jahhal itulah yang telah berkata sebelumnya : Kita akan merayakan Ied dan akan meminum arak sepuas hati. Namun hari itu telah menjadi hari nahas baginya sehingga keinginan terakhirnyapun tidak terpenuhi.

Manusia memakan makanan yang bagaimanapun halusnya dan mengira ia akan mendapat enerji dan kekuatan bagi tubuhnya, namun sebaliknya makanan itu juga boleh menjadi penyebab sakit disentry yang berbahaya baginya.
Manusia ramai-ramai pergi ketempat pesta perkawinan dan bergembira-ria di sana , dan mereka meluahkan kegembiraan di sana sampai melampaui batas. Di sana mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang bercanggah (bertentangan) dengan hukum syari’at Islam.. Akan tetapi anak perempuan yang dibawa ke rumah dan dimeriahkan pesta perkawinhannya itu telah menjadi penyebab kerusuhan di dalam keluarga mertuanya. Dan ia telah melakukan banyak perbuatan buruk yang memalukan dan mencemarkan nama baik keluarga itu.

Jadi kita menyaksikan kenyataan, kadangkala manusia menghendaki suatu kegembiraan dan kesenangan, namun sebaliknya bukan kegembiraan yang terjadi melainkan kesedihan dan kesengsaraan bathin telah terjadi. Mungkin saja manusia telah menukar kegembiraan dengan perbuatan yang menimbulkan kemarahan Tuhan, akibatnya kesidihan dan kesengsaraan bathin menimpa dirinya.

Ayat suci Alqur’an yang telah saya tilawatkan pada permulaan khutbah ini menjelaskan peristiwa semacam itu. Mula-mula para Hawari Hazrat Isa a.s. meminta kepada beliau untuk mendu’akan mereka agar sebuah hidangan turun dari langit dan harta kekayaan-pun turun kepada mereka agar mereka terbebas dari membayar chanda yang menyusahkan mereka. Mereka ingin membelanjakan harta mereka dengan bebas menurut kehendak hati mereka. Dan mereka ingin supaya beribadah dengan hati senang dan terbuka sebab mereka sudah tidak dikenakan wajib bayar chanda lagi jika Jema’at mereka sudah memperoleh banyak kemampuan. Hazrat Isa a.s. berkata : “ Janganlah mengharapkan harta demikian. Apa yang Tuhan kasih kepada-mu ambillah. Manusia dalam suatu waktu mengira sesuatu benda akan berguna bagi mereka lalu mereka memohonnya. Akan tetapi sesungguhnya apa yang diminta-nya itu merupakan bahan kehancuran bagi mereka. Mereka berkata, kami memohon kepada Tuhan dengan tujuan yang baik !

Hazrat Isa a.s. lalu memanjatkan do’a untuk mereka itu. Dan Allah swt berfirman kepada beliau : “ Akan Aku kabulkan permohonan mereka itu. Akan tetapi setelah diberi, manusia yang tidak besyukur dan tidak berterima kasih atas anugerah-Ku itu akan ditimpakan azab di atas mereka sedemikian rupa sehingga tidak pernah orang lain menerima azab seperti itu.

Manusia tidak bisa menanggung derita dari azab Tuhan sekecil apapun. Bagaimanapun kuatnya seorang manusia sekalipun dia seorang body builder apabila pening kepala sekalipun atau sakit perut sudah menimpanya ia tidak berdaya mempertahankan dirinya. Ketika Edward Vll sudah sampai waktunya untuk dirayakan naik takhta dan akan diletakkan mahkota di atas kepalanya, dia sakit perut karena terdapat bisul di dalam lambungnya, sehingga sekalipun persiapan sudah diselesaikan dengan sangat rapih dan akan sangat meriah sekali perayaannya itu akan tetapi atas perintah Tuhan dia telah gagal dan pesta perayaan naik takhtanya diundurkan. Pendeknya apabila suatu ujian dari Tuhan sudah tiba masanya tidak ada yang bisa menentangnya sekalipun ia seorang raja yang sangat berkuasa. Jadi apabila manusia menghadapi banyak kegembiraan, sesungguhnya ia bukanlah kegembiraan yang sejati melainkan akhirnya menjadi sebuah musibah baginya.

Di dalam ayat tersebut di atas Allah swt berfirman : “ Kami tentu akan memberinya pada kalian apa yang kalian minta itu, namun jangan-jangan kalian berbuat khianat di dalamnya, maka Aku akan menurunkan azab yang dahsyat kepada kalian yang tidak pernah bangsa atau kaum lain menerimanya.

Siapakah yang bisa memperkirakan betapa dahsyatnya azab itu. Disatu tempat azab itu turun seperti langit pecah. Jika sebuah bintang jatuh di atas bumi atau matahari atau bulan jatuh di atas bumi ini maka tentu kehancuran akan menimpa bumi ini. Jika semua tata surya dan alam semesta sudah hancur berantakan maka tidak bisa dibayangkan bagaimana keadaan dunia pada waktu itu.
Sekarang tiba sa’atnya dunia menghadapi perang global. Kedahsyatan perang seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dizaman para sahabah Rasulullah saw perang hanya menggunakan panah dan tombak. Banyak sahabah yang luka-luka terkena panah atau tombak namun Shalat tidak pernah mereka tinggalkan. Pada zaman itu sekalipun orang-orang banyak yang mendapat luka-luka dimedan perang namun mereka masih mampu menjalankan tugas mereka. Sekarang perang menggunakan alat-alat senjata yang sangat berbahaya sekali. Ini adalah azab yang sangat dahsyat sekali. Berbagai macam peluru kendali yang bukan hanya menghancurkan manusia namun bisa memporak-porandakan dinding-dinding kubu atau bangunan-bangunan kokoh sekalipun. Berbagai jenis bom, pesawat-pesawat tempur yang sangat canggih dilengkapi dengan senjata-senjata nuklir yang sangat berbahaya yang nampak sekarang ini tidak pernah didapati di dunia ini. Di dunia sekarang ini telah tersedia berbagai jenis persenjataan yang sangat canggih sehingga manusia tidak mungkin akan bisa selamat dari padanya. Dari dahulu sampai sekarang peperangan seperti itu tidak pernah terjadi.

Orang-orang Eropah sesumbar : “Kami telah membuat berbagai jenis perlengkapan perang, berbagai jenis bom, senjata-senjata automatic, kapal-kapal perang, kapal-kapal penghancur dan sebaginya.” Kita berkata : Memang betul demikian, apa yang kalian perbuat benar sekali sebab telah membuktikan sempurnanya nubuwatan Kitab Suci Alqur’an. Semua penemuan-penemuan yang canggih telah membuktikan kebenaran firman Tuhan di dalam Kitab Suci Alqur’an. Sehingga surat-surat kabar di Eropah telah mengakui bahwa peperangan yang sangat membinasakan dan pertumpahan darah yang sangat dahsyat yang akan terjadi itu tidak pernah disaksikan manusia sebelumnya. Terbuktilah bahwa persenjataan yang mereka buat dengan tangan mereka sendiri menjadi penyebab kehancuran sebagian dunia. Ingatlah bahwa kegembiraan sebagian manusia telah menjadi penyebab kehancuran yang berupa azab bagi dunia yang sangat mengerikan.

Hari ini juga Hari Ied. Orang-orang bergembira karena pada hari ini Ied sudah tiba. Orang-orang begembira-ria merayakan Ied pada hari ini. Alquran adalah sebuah Kitab Suci dan Rasulullah saw adalah seorang Nabi suci. Beliau telah menentukan sebuah Hari Ied. Dalam merayakan kegembiraan hari Ied seperti ini orang-orang menjadi lupa kepada kewajiban-kewajiban mereka dan melanggar hukum-hukum syari’at. Sembahyang yang biasa dikerjakan lima kali sehari sekarang Rasulullah saw telah menambah menjadi enam kali sembahyang di dalam hari Ied ini. Jangan-jangan manusia dalam merayakan kegembiraan ini menjadi lupa kepada perintah sembahyang dan melanggar hukum-hukum syari’at sehingga menjadi mangsa turunnya azab. Banyak bangsa-bangsa di dunia ini yang telah diberi nikmat oleh Allah swt dan memberi kegembiraan kepada mereka, namun mereka menjadi kufur karena tidak mensyukuri nikamt-nikmat Tuhan itu sehingga menjadi mangsa turunnya azab dari Allah swt.

Jadi, Ied ini memang sarana untuk bergembira-ria dan untuk bersenang-senang. Sebab Nabi Muhammad saw sendiri mengatakan bahwa Ied ini adalah hari bersenang-senang dan hari bergembira-ria. Tetapi mengapa beliau menjadikan hari Ied ini hari kegembiraan ? Jawabannya sungguh panjang ! Pendeknya hari Ied ini hari untuk bergembira-ria. Dikala merayakan kegembiraan ini manusia banyak lupa kepada kewajiban ibadah. Namun kita berkata : Di dalam hari kegembiraan ini kewajiban kita semakin bertambah banyak. Shalat yang biasanya lima kali sehari dikerjakan, pada hari ini menjadi enam kali, dan diharuskan untuk banyak-banyak membaca takbir, selawat dan do’a dan berzikir kepada Allah swt.

Hazrat Rasulullah saw, semoga beribu-ribu rahmat dan barkat serta salaam dan selawat turun kepada beliau, telah berlaku sangat hati-hati sekali dan telah menyelamatkan kita. Telah difirmankan di dalam Kitab Suci Alqur’an bawa orang yang tidak bersykur kepada nikmat-nikmat- Ku akan Aku timpakan azab kepadanya. Rasulullah saw telah mengajar kita, apabila kalian mendapat suatu kegembiraan hendaklah kalian melakukan ibadah kepada Tuhan walaupun sedikit sebagai tanda syukur kepada-Nya. Hukum syari’at mengajar kita supaya melakukan ibadah kepada Tuhan pada setiap kesempatan kita mendapat kegembiraan. Misalnya, diwaktu seorang anak lahir, banyak manusia bernyanyi gembira dan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran syari’at agama. Namun kepada orang mukmin diperintahkan apabila seorang anak lahir, perdengarkanlah nama Allah dan tiupkanlah suara اللهُ اَكْبَرْ kedalam telinga sang bayi itu, maksudnya apabila sudah dewasa ia harus beribadah kepada Tuhan dan apabila mendapat kegembiraan berlakulah dibawah hukum syari’at Tuhan. Apabila sudah tiba waktunya untuk menikah, dengarlah baik-baik khutbah nikah itu yang dimulai dengan membacakan .… اَلْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُsetelah itu dibacakan ayat-ayat Qur’an اِتَّقُوا للهَ … اِتَّقُوا للهَ artinya pernikahan kamu itu harus berasas taqwa kepada Allah. Dan diwaktu dia hendak menjumpai isterinya juga sebuah ibadah telah ditentukan yaitu dengan membaca do’a : اَللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشِّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَناَ Artinya : Wahai Tuhanku ! Jauhkanlah syaitan dari kami dan singkirkanlah syaitan itu dari apa yang Engkan anugerahkan (seorang anak) bagi kami.

Apabila sudah duduk siap mau makan pada waktu itu membaca Bismillah dan setelah selesai makan membaca Alhamdulillah. Dalam setiap gerak-gerik hendaklah selalu memuji Allah swt. Tidak ada suatu kegembiraan- pun yang luput dari pada perintah ibadah kepada Tuhan. Hazrat Rasulullah saw telah memberi contoh dan teladan yang sangat indah untuk semua gerakan dengan sebuah ibadah berupa do’a kepada Allah swt. Sebab jika manusia tidak melakukan ibadah ketika mendapat kegembiraan atau kebahagiaan maka ia akan termasuk orang yang mengingkari nikmat yang akibatnya mendapat azab dari Allah swt. Sebagaimana firman-Nya kepada kaum Bani Israil : فَاِنِّيْ اُعَذِّبُهُ عَذَابًأ لاَّ اُعَذِّبُهُ اَحَدًا مِّنَ اْلعَالَمِيْنَArtinya : Akan Aku timpakan azab kepadanya dengan azab yang tidak pernah seorang-pun di atas dunia ini yang menerima azab seperti itu.

Jadi, Nabi Karim saw kita telah membuka jalan yang sangat terbuka bagi kita semua, dengan mengajarkan berbagai jenis ibadah berupa do’a-do’a pada setiap kesempatan mendapat kegembiraan atau kenikmatan dari Allah swt. Beliau telah menetapkan peraturan bagi kita dan seolah-olah beliau telah memberi tahu jenis-jenis pengobatan bagi kita, apabila kita hendak melakukan sesutau amal perbuatan baik harus dimulai dengan membaca بِسْمِ اللهbismillah, menyebut nama Allah swt dan pada akhir pekerjaan yang telah selesai kita kerjakan membaca اَلْحَمْدُلِلَّهِ alhamdulillah. Terdapat firman di dalam Alqur’an : وَاٰخِرُ دَعْوٰهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ Artinya : Dan seruan akhir mereka apabila telah mengerjakan sesuatu adalah : Segala puju bagi Allah seru sekalian Alam (Yunus : 11)

Hari ini adalah Hari Kegembiraan dan hari kesenangan. Mengapa ? Sebabnya Allah swt telah memberi kesempatan untuk banyak beribadah kepada-Nya. Hazrat Rasulullah saw telah menetapkan sebuah ibadah bagi kita diwaktu kita mendapat suatu kegembiraan. Hal ini merupakan kebaikan Allah swt Yang telah memberi kita semua kesempatan untuk beribadah kepada-Nya.
Subhanallah !! Betapa indahnya pekerjaan para Nabi Allah Itu !!

Hazrat Rasulullah saw bersabda : Apabila bulan Ramadhan sudah tiba, berpuasalah dan beribadahlah dan banyak bersedekahlah kepada fakir miskin. Apabila Ramdhan sudah usai bergembiralah kalian tanda bersyukur kepada Tuhan Yang telah memberi taufiq untuk berpuasa dan memberi kesempatan beribadah pada hari Ied atau hari kegembiraan tiba.

Bukan hanya pada hari Ied ini saja, melainkan pada setiap kesempatan Allah swt telah menetapkan suatu ibadah bagi kita. Sebab biasanya manusia menjadi buta diwaktu merayakan hari kegembiraan. Oleh sbab itu Dia berfirman : Diwaktu sedang bergembira biasakanlah kalian beribadah agar kalian terhindar dari bahaya akibat kesalahan atau kesilapan kalian, sehingga kalian banyak mendapat faedah dari padanya.

Semoga Allah swt menghiasi kita dengan pakaian taqwa dan semoga Dia memberi taufiq kepada kita semua untuk mengembangkan ajaran Islam hakiki ini seluas-luasnya dan memberi taufiq kepada kita untuk menyaksikan kemenangan-nya diseluruh dunia. Amin !!!

Alih Bahasa dari Bahasa Urdu oleh Hasan Basri
Singapur 6 September 2009

071109 : Khutbah Khalifah Ahmadiyah : KEUTAMAAN MUKMIN LAKI-LAKI DAN MUKMIN PEREMPUAN

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Jum'at, Khutbah Khalifah Ahmadiyah, November, Tahrik Jadid, Tarbiyat on 6 November 2009 at 04:26

KHUTBAH JUM’AH HADZRAT AMIRUL MUKMININ KHALIFATUL MASIH V atba.
Tanggal 09 November 2007 dari Baitul Futuh London U.K.
Alih bahasa : Hasan Basri

KEUTAMAAN MUKMIN LAKI-LAKI DAN MUKMIN PEREMPUAN

Setelah membaca Syahadat, ta’awwuz dan surat Al-Faatihah, Huzur atba menilawatkan ayat 71 dari Surah At Taubah sebagai berikut : Artinya Dan. Orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan itu satu sama lain bersahabat. Mereka menyuruh kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan dan mendirikan shalat dan membayar zakat serta mentaati Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah yang akan dikasihi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana. (Surah Taubah ayat 71)

Didalam ayat ini dijelaskan tentang sifat orang-orang mukmin laki-laki dan mukmin perempuan. Tanda-tanda atau sifat-sifat yang indah ini apabila timbul didalam sebuah golongan atau Jemaat, pasti ia adalah Jemaat orang-orang mukmin hakiki. Sebagaimana telah kita baca dari terjemahan diatas bahwa Allah swt telah menjelaskan ada tujuh macam keistimewaan Jemaat orang-orang mukmin. Keistimewaan pertama adalah satu sama lain bersahabat. Mereka bersahabat demikian akrabnya sehingga setiap saat siap untuk saling tolong-menolong. Keistimewaan kedua adalah mereka mengajak orang untuk berbuat baik, menganjurkan orang-orang untuk berbuat baik dan beramal soleh. Selain mereka menginginkan berkat dari Allah swt untuk diri mereka sendiri, mereka juga menginginkan berkat itu untuk orang lain. Dan mereka menghendaki sambil menegakkan kebaikan-kebaikan, dan sambil menegakkan kecintaan antar sesama, ingin menegakkan sebuah Jemaat yang mengamalkan hukum-hukum Allah swt dengan hati yang sungguh-sungguh dan penuh ikhlas. Keistimewaan ketiga adalah mencegah dari setiap keburukan. Mereka mencegah setiap perbuatan yang bertentangan dengan perintah-perintah Allah swt. Menolong orang-orang yang zalim dan orang-orang mazlum (yang dizalimi) kedua-duanya. Mencegah orang zalim supaya jangan berbuat kezaliman (penganiayaan). Dan setiap waktu siap untuk menolong dan melepaskan orang-orang mazlum (yang diperlakukan secara zalim). Untuk itu jika harus mengeluarkan pengorbananpun mereka itu tidak akan merasa keberatan, agar suasana aman, damai dan sejahtera, serta persaudaraan dapat ditegakkan. Keistimewaan keempat adalah mendirikan shalat. Shalat yang merupakan tiang agama diperintahkan agar setiap orang mukmin memperhatikannya dengan sungguh-sungguh. Jika tidak, pendawaan diri sebagai orang mukmin tidak ada artinya. Hadzrat Masih Mau’ud a.s. sambil menekankan pentingnya shalat bersabda : Shalat adalah amal sholeh yang sangat penting dan ia adalah mi’raj (tangga) untuk mencapai martabat tertinggi bagi orang-orang mukmin. Dan shalat adalah sarana paling baik untuk berdo’a kepada Allah swt. Selanjutnya beliau bersabda : Tidak ada ibadah yang paling baik selain dari pada shalat. Sebab didalamnya terdapat pujian terhadap Tuhan, istighfar dan darood syarif (sanjungan terhadap Allah dan Rasulullah-Nya saw) dan ini semua merupakan kumpulan dari semua ibadah-ibadah. Banyak macam-macam wirid terhimpun semuanya didalam shalat, dengan itu semua kesedihan dan kesengsaraan bathin dapat dijauhkan dan semua kesulitan dapat dipecahkan.

Menunaikan shalat dengan sangat tertib dan sangat hati-hati, menunaikan shalat tepat pada waktunya, dan menunaikan shalat dengan berjemaah, maka firman Allah swt: Itulah ciri-ciri khas orang mukmin sejati. Dan memang seharusnya demikian. Keistimewaan kelima adalah membayar zakat, orang yang membelanjakan harta mereka dijalan Allah swt. Penjelasan selanjutnya akan diberikan kemudian.Keistimewaan keenam adalah ta’at kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Dalam memenuhi kewajiban terhadap Allah swt dan terhadap manusia dengan senang hati sesuai perintah Allah swt dan perintah Rasul-Nya saw. Dan keistimewaan yang ketujuh adalah : terhadap orang-orang mukmin yang menyandang keistimewaan seperti itu semua, Allah swt sangat menaruh belas-kasih terhadap mereka dan merekapun pewaris-pewaris rahmat dan kasih-sayang Allah swt. Allah swt selalu berlaku kasih-sayang dan mencintai orang-orang mukmin seperti itu. Harus diingat selalu bahwa keistimewaan orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan tersebut telah difirmankan oleh Tuhan sendiri Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.

Dengan mengikat hubungan yang erat dengan Tuhan Yang Maha Perkasa dan Maha Bijaksana ini dan dengan mengamalkan hukum-hukum-Nya maka hasilnya didalam diri kita juga akan timbul sifat arif dan bijksana. Sebagai hasil dari hikmah ini berkat mengamalkan hukum-hukum Allah swt dan Rasul-Nya didalam diri kita timbul kekuatan yang akan menjadi sarana bagi teguhnya Jemaat, sehingga keadilan dan kebijakan akan berdiri dengan kokoh-kuat. Karena hikmah dan kebijakan ini sebagai Jemaat kejahilan dan kebodohan akan dilenyapkan dari tengah-tengah kita dan kita akan berbuat sesuatu berdasarkan akal sehat serta kebijaksanaan dan keadaan pribadi kita akan terus bertambah kuat dan antara sesama kita akan saling cinta-mencintai dan akan meningkatkan hubungan persaudaraan diantara kita. Kita menerima amanat yang penuh dengan hikmah yang dihasilkan dengan penuh pemahaman dari Allah swt Yang Tunggal, yang untuk menyebarluaskannya di zaman ini kepada setiap orang diseluruh dunia Allah swt telah mengutus Hadzrat Ghulam Shadiq Rasulullah saw Imam Zaman, Hadzrat Masih Mauud a.s. Sebagai hamba dari Masih dan Mahdi ini kita menjadi penyampai amanat ini kepada masyarakat dunia. Dan sebagai hasilnya kita akan menjadi orang-orang yang akan menyaksikan kemenangan yang Allah swt telah janjikan kepada Hadzrat Masih Mau’ud a.s.Dengan menciptakan keistimewaan didalam diri kita sendiri, maka kita akan menjadi pewaris nikmat-nikmat yang telah Allah swt janjikan kepada Hadzrat Masih Mau’ud a.s. Maka itulah khabar suka bagi orang-orang mukmin laki-laki dan orang-orang mukmin perempuan. Bahwa jika kamu sekalian menjadi penyandang keistimewaan itu, maka kalian akan menjadi penyebar luas amanat Allah swt yang sangat agung ini yang dalam setiap perkataannya mengandung hikmat yang luas laksana samudra dan kalian akan menjadi orang-orang yang bernasib baik untuk menyaksikan hari kemenangan Islam diseluruh dunia.

Untuk menjadi penyandang sifat Allah swt dan untuk mendapatkan barkat dari padanya sangat diperlukan sekurang-kurangnya kita harus memiliki keistimewaan didalam diri sehingga hasilnya dapat memperoleh berkat dari sifat Aziz dan Hakim (Maha Perkasa, Maha Bijaksanan). Jika kita berusaha menumbuhkan keistimewaan itu didalam diri kita maka pasti Allah swt Yang Ghalib dan Hakim akan memberi kekuatan kepada lidah kita untuk berbicara, sehingga dengannya kita akan dapat menyampaikan amanat Allah swt yang penuh dengan kebijakan kepada dunia sehingga kita akan menyaksikan kemenangan Islam dan Ahmadiyyat. Maka setiap orang Ahmadi harus memahami betul kepada maksud-maksud yang sangat penting ini. Supaya kita menjadi orang-orang yang menyempurnakan perjanjian bai’at yang kita lakukan kepada Hadzrat Masih Mau’ud a.s. pada zaman ini, bahwa kami setiap waktu bersedia untuk mengorbankan jiwa-raga, harta, waktu dan kehormatan kami untuk menyebar-luaskan ajaran Islam keseluruh dunia.

Sebagaimana telah saya katakan bahwa sekarang saya akan menjelaskan tentang kewajiban membayar zakat atau kewajiban pengorbanan harta. Seperti kita maklum bahwa bulan November ini adalah waktu untuk diumumkannya perjanjian baru candah Tahrik-i-jadid. Bulan Oktober adalah bulan penutupan perjanjian candah tahrik jadid dan pada tanggal satu November dimulai lagi pengumuman perjanjian baru. Namun tepat pada awal bulan November ini tidak dapat diumumkan, baru pada hari ini akan saya umumkan. Dan dalam kesempatan ini akan saya jelaskan lebih lanjut tentang keistimewaan orang-orang mukmin lelaki dan orang-orang mukmin perempuan yang membayar zakat. Apa artinya zakat? Artinya mengeluarkan sebagian dari harta dibelanjakan dijalan Allah swt supaya harta itu suci bersih, menyatakan ita’at kepada Allah swt dan mengharapkan agar Allah swt menurunkan berkat diatas harta itu dan melipat-gandakan jumlahnya.

Maka seorang mukmin yang membelanjakan hartanya untuk keperluan sanak saudaranya, untuk keperluan kerja agama, untuk usaha meraih kemenangan Islam, sesungguhnya ia sedang melakukan perniagaan dengan Allah swt. Yakni dengan perantaraan pengorbanan itu ia akan dapat menarik karunia Allah swt lebih banyak lagi. Oleh sebab itulah Allah swt meningkatkan jumlah hartanya lebih banyak dari sebelumnya, supaya dia dapat mengambil manfa’at dari kenikmatan dunia juga dan dengan membelanjakannya lagi maka Allah swt terus meningkatkan jumlah hartanya itu. Itulah sebuah amal yang merupakan perniagaan yang tidak akan pernah mengalami kerugian. Disatu pihak ia mengeluarkan sebagian dari hartanya dan dipihak lain ia akan menerima berkali-lipat ganda secara berterusan jumlahnya sebagai pembalasan dari padanya.

Didalam urusan dunia, kita sering menyaksikan jika seseorang membelanjakan uangnya untuk sesuatu barang kepada orang lain maka sebanyak harga benda itu orang akan menerima harga dari pada benda itu. Seorang manusia berakal akan membayar harga benda itu setelah betul-betul ia periksa dan perhatikan nilai dari pada setiap benda itu. Dan harganya akan diberikan kepadanya sebanyak biaya yang telah ia keluarkan. Dari perniagaan seperti itu memang dapat dihasilkan faedahnya. Dan sesuai dengan peredaran waktu benda itupun akan semakin berkurang nilainya. Sehingga pada suatu waktu benda itu akan betul-betul menjadi sia-sisa tidak berharga lagi.

Kemudian kita menyaksikan lagi didalam sebuah perniagaan untuk mendatangkan hasil apabila bahan mentah dipergunakan, maka sebagian dari bahan mentah itu menjadi terbuang tidak dipergunakan, sekalipun seratus persen modal dibelanjakan untuk itu semua namun hasilnya tidak dapat diperoleh sepenuhnya, sekalipun semua pengeluaran telah diperhitungkan berapa yang terbuang, kemudian bisnisman (pengusaha) itu menentukan harganya setelah memperhitungkan berapa yang terbuang kemudian menentukan berapa keuntungan yang akan ia peroleh itu. Selain itu banyak lagi hal-hal yang harus diperhitungkan sehingga akhirnya kadang-kadang bukan keuntungan yang diperoleh melainkan kerugian. Akan tetapi Allah swt memberi jaminan kepada hamba-hamba-Nya yang membelanjakan harta mereka dijalan-Nya bahwa harta mereka akan berkembang berlipat ganda. Disatu tempat didalam Al Quran Allah swt berfirman, bahwa Dia akan mengganti tujuh ratus kali kali ganda bahkan lebih banyak lagi dari itu. Maka orang-orang mukmin diingatkan kearah perniagaan seperti itu, sekalipun keuntungan itu diperoleh dengan jalan perniagaan duniawi, akan tetapi apabila kalian membelanjakannya dijalan Allah swt sesuai dengan perintah-perintah-Nya, maka apabila keridoan Allah swt telah diperoleh, pengorbanan kalian akan menjadi sarana untuk memperkuat Jema’at-Nya. Dimana kalian sibuk memeperbaiki keadaan kehidupan diri sendiri, disana kalian juga akan bebas dari pengaruh buruk yang dapat mempengaruhi usaha kalian, supaya beberapa perkara yang mungkin mempengaruhinya tidak akan merugikan perniagaan kalian. Sehubungan dengan pokok masalah ini ditempat lain Allah swt telah berfirman sebagai berikut :Artinya : Dan harta apapun yang kamu belanjakan maka manfa’atnya adalah untuk dirimu, dan sebenarnya tidaklah kamu belanjakan melainkan tujuannya untuk mencari keridhoan Allah. Dan harta apapun yang kamu belanjakan niscaya akan dikembalikan kepada kamu dengan penuh (melimpah) dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Surah Al Baqarah ayat 273). Jika Allah swt menggunakan perkataan akan dikembalikan dengan penuh (melimpah) maksudnya pengembalian yang tidak terkira banyaknya sehingga manusia tidak mampu membayangkan berapa banyaknya. Setiap manusia melakukan perniagaannya masing-masing. Mereka mencatat dan menghitungnya, membagi dan memperkalikannya menggunakan pencil dan kertas dan sekarang zaman moden menggunakan alat-alat canggih, dengan mesin hitung dengan computer dan lain-lain. Sambil duduk-duduk dihadapan computer membuat planning dan menghitung-hitungnya, 5% atau 10 % diusahakan untuk menetapkan keuntungannya. Jika keuntungannya banyak dia tulis angka lebih besar lagi, apabila sesuatu barang banyak disukai dia lakukan system harga black market sehingga keuntungan dapat diraih sampai 100% besarnya. Itulah batas-batas ketentuan yang dibuat oleh manusia dan apabila didalam itu semua sudah diselesaikan, dia pasti mendapatkan faedah dan keuntungan secara duniawi, akan tetapi jika dalam mengambil keuntungan itu dengan jalan yang tidak benar, ia menjadi berdosa akibatnya harta yang dia peroleh itu tidak dapat dikatakan harta yang bersih dan suci. Akan tetapi Allah swt berfirman, untuk meraih keridhoan Allah swt, harus ditanamkan kecintaan didalam hati kepada Allah swt dan mengamalkan hukum-hukum-Nya dan mengalahkan kecintaan terhadap harta kekayaan. Apa yang kalian belanjakan dijalan-Nya tentu Allah swt akan mengembalikannya kepada kamu dengan sepenuhnya. Pembelanjaan dijalan Allah yang selalu dibalas dengan sepenunya dan berkali lipat ganda serta tidak terbatas jumlahnya. Orang yang mencari harta dengan jalan yang bersih dan suci ia faham kepada masalah duniawi dan juga masalah ukhrawi. Orang seperti ini tidak mau menggunakan kesempatan untuk mengambil keuntungan dari orang yang dalam situasi sangat terdesak atau disa’at orang menghadapi kesulitan. Bahkan ianya selalu berusaha mencegah dirinya dari jalan usaha yang tidak dibenarkan atau tidak dihalalkan oleh hukum agama.

Dengan karunia Allah swt didalam Jema’at ini terdapat banyak orang-orang yang kaya raya selain banyak juga orang yang miskin. Oleh kerana Jema’at ini adalah Jema’at orang-orang mukmin maka setiap tingkatan dari para anggautanya cepat menyadari, bahwa berapapun harta yang telah Allah swt rizkikan kepadanya ia belanjakan sebagian dari padanya dijalan Allah swt, supaya ia menjadi pewaris dari pada karunia-karunia dan ni’mat-ni’mat-Nya.

Banyak juga orang-orang yang sudah berlalu bahkan sekarang juga banyak yang menjalani kehidupan dengan gaji yang ia terima setiap bulan. Akan tetapi apabila mereka mendengar ada gerakan pengorbanan dari Khalifa-e-waqt, mereka mengeluarkan dari uang gaji bulanannya itu untuk mengambil bahgian dalam gerakan pengorbanan itu dengan penuh semangat dan kecintaan. Sehingga mereka menyaksikan banyak karunia Allah swt turun kepada mereka, karena mereka selalu berusaha meraih karunia-Nya dan selalu berusaha meraih keridhoan-Nya juga. Sekarang dengan karunia Allah swt beribu-ribu orang diseluruh dunia telah memahami maksud dan tujuan sebenarnya dari pengorbanan yang sangat penting ini. Mereka melakukan perniagaan dengan Allah swt kemudian mereka membelanjakannya kembali sebahagian dari rizki yang diterimanya itu dijalan Allah swt. Kemudian mereka menyaksikan pembalasannya secara melimpah dari Allah swt.

Seorang Ahmadi telah menulis katanya, saya telah meningkatkan perjanjian Tahrik Jadid berkali lipat. Saya secara pribadi tahu betul orang ini. Dia telah berjanji melebihi kemampuannya. Maka dengan karunia-Nya, Allah swt telah memberi kemampuan kepadanya untuk melunasi perjanjiannya itu. Pada tahun ini dia berjanji lagi dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Kemudian Allah swt telah menurunkan karunia-Nya kepadanya sesuai dengan firman-Nya artinya Dia (Tuhan) memberi rizki kepada-nya diluar jangkauan pikirannya. Tuhan telah menyediakan rizki demikian melimpah kepadanya sehingga keperluan sehari-harinya dapat dipenuhi dan perjanjiannya juga dapat dilunasinya. Setelah menerima banyak karunia dari Allah swt itu, iapun menulis kepada saya : Hati saya betul-betul merasa puas dengan karunia-Nya ini !! Namun harus diingat bahwa berapapun Allah swt menurunkan karunia-Nya kepada kita sehingga hati kita merasa puas, kita tidak dapat memenuhi hak-hak-Nya secara sempurna. Itulah sebabnya kita harus sentiasa mengisi hati kita penuh dengan puji-syukur kepada-Nya. Sebab Allah swt berfirman :Artinya jika engkau bersyukur atas ni’mat-Ku itu maka Aku akan tambah lagi kepadamu. Apabila Allah swt menambah rizki Dia menambahnya dengan berkali lipat ganda, shingga rasa syukur kita tidak memadai terhadap karunia yang Dia berikan secara berlipat ganda itu kepada kita.
Allah swt selalu meningkatkan iman hamba-Nya yang banyak menyanjungkan pujian kepada-Nya dan yang tawakkal sepenuhnya kepada-Nya. Selanjutnya orang ini telah menulis lagi kepada saya katanya, Sekretaris Tahrik Jadid dengan rasa heran berkata kepada saya : Anda membuat perrjanjian tahrik jaddid demikian banyaknya, bagaimana mampukah anda melunasinya ? Lalu saya jawab : jika anda merasa khawatir memikirkan itu, apakah Tuhan tidak khawatir memikirkannya untuk saya, Yang keridhoan-Nya saya harapakan dan berdasarkan perintah-Nya saya telah berjanji dan sedang membelanjakan harta yang telah Dia rizkikan kepada saya?

Semangat dan tawakkal seperti itu timbul didalam hati orang-orang Ahmadi sebab, mereka telah bai’at ditangan Imam Zaman ini. Dan setelah bai’at ditangan beliau mereka mempunyai pengertian dan pemahaman yang sangat dalam tentang sifat-sifat Allah swt. Iman terhadap Allah swt semakin meningkat. Mereka yakin betul terhadap janji-janji Allah swt. Mereka yakin betul bahwa Allah swt selalu menepati janji-janji-Nya. Mereka yakin bahwa pengorbanan yang dilakukan kerana Allah swt dengan penuh ikhlas tidak pernah sia-sia. Mereka mempunyai iman yang sangat teguh bahwa Allah swt memberi pembalasan dan ganjaran yang melimpah terhadap amal soleh yang dilakukan dengan penuh ikhlas demi meraih keridhoan-Nya. Mereka juga yakin bahwa Allah swt sesuai janji-Nya mengganti setiap keadaan rasa takut dengan keadaan aman dan setiap kesusahan dengan kegembiraan. Sebagaimana Allah swt berfirman ; Artinya : Orang-orang yang membelanjakan harta mereka pada malam dan siang dengan sembunyi-sembunyi dan terang-terangan, bagi mereka ada ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka ; dan tak ada ketakutan pada mereka dan tidak pula mereka akan bersedih. (Surah Al Baqarah ayat 275)
Jadi orang-orang yang membelanjakan harta mereka semata-mata karena Allah swt, dan membelanjakan harta demi meraih keridhoan-Nya, maka Allah swt menjauhkan setiap perasaan takut dan kesusahan serta kesedihan mereka. Allah swt menjadi milik mereka dan mereka menjadi milik Allah swt. Dan Allah swt menurunkan barkat-Nya secara melimpah terhadap harta dan jiwa mereka. Sebagaimana terdapat riwayat didalam sebuah hadis yang diceritkan oleh Hadzrat Abu Hurairah r.a. katanya Rasulullah saw bersabda : Seorang yang memperoleh rizki yang suci-bersih berupa sebuah kurma lalu dikurbankan dijalan Allah swt maka Allah swt menerima kurma itu dengan kedua belah tangan-Nya dan Allah swt menjaga dan memeliharanya dan menambahnya terus untuk pemiliknya itu sehingga pada suatu waktu tumpukan buah kurmanya itu akan menyerupai sebuah gunung karena banyaknya. Demikianlah Tuhan menjaga dan memelihara harta hamba-Nya seperti halnya kalian menjaga dan memelihara anak sehingga pada suatu waktu ia menjadi besar.
Jadi itulah janji-janji Allah swt bahwa Dia menambah rizki hamba-hamba-Nya sebagaimana telah dijelaskan didalam Kitab Suci Al Quran dan juga didalam Hadis-hadis Rasulullah saw. Akan tetapi untuk itu kita harus ingat juga kepada persyaratannya, sebagaimana telah saya sebutkan sebelumnya yaitu harta yang dikurbankan dijalan Allah swt itu harus dari rizki yang diperoleh dengan jalan yang benar dan suci bersih agar Allah swt mengabulkannya. Rizki atau harta itu bukan hasil penipuan atau hasil usaha yang tidak halal, misalnya hasil rampasan dari harta orang-orang miskin. Allah swt menuntut orang-orang mukmin untuk mengurbankan harta mereka dijalan-Nya yang telah dihasilkan dengan jalan yang suci-bersih dan dengan hati yang bersih dan dikurbankan untuk membersihkan hatinya. Allah swt Ghani, tidak memerlukan sesuatu dari hamba-hamba-Nya. Allah swt menganjurkan kita mengurbankan harta demi mensucikan harta kita ruh dan kalbu kita.
Jadi selama kita terus membelanjakan harta kita dari hasil usaha yang suci bersih dijalan Allah swt, sambil mengharapkan keridhoan-Nya kita akan terus mendapat ganjaran dari pada-Nya yang berlimpah-limpah tak terbatas banyaknya. Sebagaimana telah saya katakan bahwa untuk menghasilkan keridhoan Allah swt setiap amal kita sebagai Jemaat harus terus semakin baik dan kuat. Untuk menyampaikan amanat Allah swt keseluruh dunia sarana kita juga akan terus semakin besar dan luas dan akan Jemaat ummul mukminin yang menjadi seperti Yakni, bangunan yang sangat kuat yang tidak dapat dikalahkan oleh siapapun. Tidak ada yang dapat membuat kekacauan didalamnya. Akan merupakan sebuah Jema’at yang selalu menyaksikan manifestasi keagungan sifat Aziz Tuhan. Dan pasti Jema’at yang telah didirikan oleh Hadzrat Masih Mau’ud a.s ini adalah Jema’at orang-orang mukmin yang telah banyak membuat perobahan didalam diri mereka. Dan mereka akan menyaksikan manifestasi keagungan Tuhan berkat banyaknya pengorbanan yang telah mereka berikan kepada Jema’at ini. Kita telah menyaksikan karya Hadzrat Khalifatul Masih II r.a. ketika beliau melancarkan sebuah gerakan dengan pertolongan dan dukungan Allah swt untuk membendung arus perlawanan pehak lawan dan untuk mengembangkan tabligh Islam keseluruh dunia dan dengan yakin bahwa beliau dalam mendirikan gerakan itu mendapat pertolongan dan dukungan dari Allah swt dan penuh dengan hikmah dan kebijakan sehingga pada waktu itu nampak sekali bahwa tabligh Islam ini akan tersebar luas keseluruh pelosok dunia dan akan mencapai kemenangan. Dan bukti dukungan Allah swt kepada beliau adalah sekarang kita dapat menyaksikan dalam bentuk tersebarnya Jema’at ini keseluruh pelosok dunia, tersebarnya missi Jema’at, mesjid-mesjid yang dibangun oleh Jema’at, dan setiap tahun tidak sedikit jumlahnya orang-orang yang berfitrat baik dan bersih masuk kedalam Jema’at ini. Golongan Ahrar (musuh utama Jemaat) yang pernah bangkit dengan tujuan utamanya akan menghancurkan Pusat Jema’at Ahmadiyah di Qadian, sekarang tidak ada lagi suaranya, kemana mereka pergi dan dimana mereka sekarang berada ? Akan tetapi berkat gerakan Tahrik Jadid, berkat pengorbanan harta orang-orang Ahmadi, berkat persatuan dan perpaduan Jema’at, berkat itha’at kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, berkat sambutan labbaik para Ahmadi terhadap seruan Khilafat , berkat pengorbanan harta untuk meraih ridho Allah swt, Jema’at Ahmadiyah ini telah tersebar luas dalam 189 negara di dunia. Didalam setiap negara banyak sekali orang-orang yang baru masuk kedalam Jema’at Ahmadiyah ini setelah memperoleh pengertian dan pemahaman yang dalam tentang Ahmadiyah, amal soleh mereka, itha’at dan keimanan mereka semakin kuat dan meningkat terus. Dan mereka terus berusaha berlomba-lomba untuk menjadi penyumbang dana bagi Jema’at. Itulah pemandangan manifestasi keagungan Sifat Hakim dan Aziz Allah swt yang sedang diperlihatkan kepada orang-orang Jema’at. Semoga Allah swt sentiasa memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang selalu menunjukkan contoh menjadi Yakni orang-orang yang selalu mencari keridhoan Allah. Dan semoga kita menjadi orang-orang yang menyaksikan kemenangan Islam diseluruh dunia. Sekarang saya sambil mengumumkan dimulainya lagi perjanjian tahun baru Tahrik Jadid bagi Daftar Awwal, kedua, ketiga, keempat dan kelima, sebagaimana biasa saya akan menjelaskan bagaimana semangat pengorbanan harta pada tahun yang lepas dari setiap negara. Sebagaimana telah saya katakan bahwa perjanjian Tahrik Jadid setiap tahun berakhir pada tanggal 31 Oktober. Dan dengan karunia Allah swt laporan yang diterima, kadangkala laporan secara komplit tidak diterima tepat pada waktunya, sesuai dengan itu penerimaan Jema’at Ahmadiyya dari seluruh dunia mata anggaran Tahrik Jadid tercatat 3.612.000 Pound, Alhamdulillah !! Pada tahun yang lalu karansi (mata uang) Pakistan dan Amerika mengalami terus-terusan merosot dibanding dengan karansi Pound. Sekalipun jumlah bilangan pengorbanannya cukup besar namun jika diconvert (dinilai) kepada mata uang Pound tidak kelihatan peningkatan yang sangat besar. Namun sekalipun demikian penerimaan tahun ini terdapat kelebihan sebanyak 110.000 pound dibanding dengan tahun yang lalu. Dari jumlah nilai penerimaan dan persentase seluruhnya maka ranking per-negara dapat disusun sebagai berikut : Pakistan menempati kedudukan pertama. Semua tahu keadaan negeri Pakistan dan tidak tersembuniyi dari pandangan orang. Situasi dinegeri itu sangat kacau-balau dan banyak gangguan kerusuhan, perniagaan para peniaga kita tidak lancar seperti biasa, bahkan banyak diantara anggauta Jema’at disana yang menyatakan prihatin apabila sudah tiba waktunya untuk melunasi perjanjian candah mereka :Candah kami belum lunas !! Disamping itu rakyat Pakistan secara majority keadaannya miskin. Namun demikian sekalipun keadaan miskin namun mereka giat membayar candah. Sebabnya, keimanan mereka kepada Tuhan sangat kuat. Allah swt menjauhkan rasa takut dan ragu dari dalam hati mereka. Jika mereka membelanjakan harta mereka demi keridhoan Allah swt tentu Dia akan memberi pembalasan kepada mereka secara berlipat ganda. Jadi mereka itu sedang melakukan segala-galanya demi meraih keridhoan Allah swt, mereka tidak memikirkan hanya kepentingan diri mereka sendiri, bagaimana akan mendapatkan roti (makanan) untuk hari esok. Mereka menyerahkan pengorbanan secara berterusan. Bagaimanapun keadaannya Pakistan tetap menduduki ranking pertama, kedua Amerika, ketiga Britania, keempat Germany, kelima Canada. Germany ketinggalan dan Britania maju kedepan. Keenam Indonesia, ketujuh India, kedelapan Australia, kesembilan Belgia dan kesepuluh Mauritius. Dan dari antara negara-negara Afrika, Nigeria menduduki ranking pertama.Jumlah pembayar candah Tahrik Jadid terdapat peningkatan dibeberapa negara, diantaranya termasuk Pakistan, Hindustan, Germany, Britania, Indonesia, Tanzania, Benin dan Nigeria. Pada tahun ini tambahan anggauta pembayar candah Tahrik Jadid adalah 16.000 orang dibanding dengan jumlah pejanji tahun yang lepas. Dan jumlah semua adalah 461.000 orang pejanji Tahrik Jadid. Jumlah pejanji tahun lepas yang dikemukakan terdapat kekeliruan, karena ada beberapa laporan yang tidak lengkap dan terdapat kesalahan dalam menjumlah angka. Mulanya ada pendapat disampaikan kepada saya bahwa dalam laporan tahun ini jumlah pejanji seluruhnya tidak usah dilaporkan, laporkanlah jumlah tambahannya saja. Namun bagi kita tidak perlu takut, sebab kita berkurban semata-mata karena Allah swt bukan untuk tujuan duniawi. Selama kita tidak memperhatikan kelemahan-kelemahan pribadi sendiri dan tidak memberi perhatian kepadanya, maka lajunya kemajuanpun tidak dapat diketahui dengan pasti. Dengan karunia Allah swt terdapat tambahan pejanji dari beberapa negara, diantaranya banyak para pendatang baru dalam Jema’at dan mereka ikut ambil bahagian. Pada laporan tahun lepas terdapat kekeliruan dalam menjumlah namun dari jumlah secara keseluruhan memang terdapat penambahan jumlah pejanji. Sebagaimana telah saya katakan apabila kita mengadakan peninjauan terhadap diri sendiri, menaruh perhatian terhadap kelemahan diri sendiri, tentu pekerjaan-pekerjaan kita akan dilimpahi banyak berkat, dan oleh karena ada perhatian terhadap kebaikan tentu kita akan menjadi pewaris-pewaris keridhoan Allah swt. Memang tujuan kita yang utama adalah untuk meraih keridhoan Allah swt. Tidak ada perkara yang tersembunyi dari pandangan Tuhan, kita tidak perlu merasa sebarang khawatiran. Kita tidak usah takut kepada manusia, kita bukan bekerja untuk manusia dan tidak pula minta balasan dari mereka, berapapun pengorbanan kita serahkan dijalan Tuhan ganjaran kita ada ditangan-Nya. Bagaimanapun secara keseluruhan dari negara-negara itu terdapat tambahan pejanji yang baru ikut dalam gerakan Tahrik Jadid ini sebanyak 16.000 orang. Saya telah menggerakkan sebuah anjuran bagi orang-orang yang sudah wafat dari para pejanji yang termasuk dalam Daftar Awwal yang jumlahnya 3743 orang. Dari antaranya 3444 rekening pembayaran orang-orang yang telah meninggal sudah berjalan, yang para ahli waris mereka telah menjalankannya. Dan 299 rekening pembayaran hari ini sudah dijalankan lagi. Jumlah ini diambil dari jumlah keseluruhan yang sudah disebutkan diatas. Dari segi ini semua orang-orang yang telah meninggal dari Daftar Awwal rekening pembayaran mereka sudah berjalan. Untuk perbandingan sekarang keadaan di Pakistan akan dikemukakan urutan kedudukan Jema’at-jema’at local menurut pembayaran mereka. Kedudukan pertama diraih oleh Jema’at Lahore, kedua Rabwah dan ketiga Karachi. Di Pakistan terdapat sepuluh Jema’at yang secara istimewa telah menunjukkan semangat dalam pengorbanan diantaranya; Pertama Rawal Pindi, kedua Islamabad, ketiga Multan, keempat Quetta, kelima Kunhri, keenam Sahiwal, ketujuh Hyderabad, kedelapan Bahawalpur, kesembilan Nawabsyah, kesepuluh Dira Ghazi Khan. Susunan menurut Distrik adalah, pertama Sialkot, kedua Faisalabad, ketiga Gujranwala, keempat Mirpur Khas, kelima Sargodha, keenam Shekhupura, ketujuh Bahawal Nagar, kedelapan Narowal, kesembilan Ukarha, kesepuluh Kesur. Selain dari itu ada beberapa Jema’at kecil-kecil yang menunjukkan semangat didalam pengorbanan diantaranya ; Wah Kent, Sosolah Murad, Karamsingh, Ghtialian, Bashirabad Kent, Bedin, Ludhra, Mianwali dsb. Itu semua sebagai contoh pengorbanan dari Jemaat Negeri Pakistan. Kebanyakan dari mereka terdiri dari orang-orang miskin, sekalipun keadaan mereka sangat miskin namun Pakistan menduduki ranking pertama dari keseluruhan. Sekarang di Britania ada sepuluh Jemaat yang terbaik dalam pembayaran diantaranya, daerah Masjil Fadhal London menduduki saf Awwal, kedua Busher Park, ketiga Bredford, keempat Canthar, kelima Glasgow, keenam Phutin, ketujuh Manchester, kedelapan Earthfild, kesembilan Birmingham East, kesepuluh New Morden. Tahun yang lepas juga saya telah menyusun sesuai dengan pembayaran candah perkapita dan Britania termasuk negara yang paling baik, sekarang setelah diadakan pemeriksaan secara cermat akan saya kemukakan, ada lima daerah terbaik yang memberikan candah secara teratur, pertama Canthar, didaerah ini candah perkapita 237 pound. Kedua daerah Masjid Fadahl London 100 pound perkapita, ketiga Busherpark 80 pound, keempat Newmorden 68 pound perkapita kelima Birmingham 41 pound perkapita. Itu semua diantara Jema’at-jema’at yang besar. Akan tetapi ada beberap Jema’at yang kecil-kecil juga dan jumlah anggautany sedikit akan tetapi anggauta-anggauta disana termasuk berpenghasilan cukup baik dan pembayaran candahnya juga cukup baik. Oleh sebab itu candah perkapita disana cukup besar. Namun demikian dari segi angka yaitu 237 pound, Jemaat daerah Canthar termasuk ranking pertama dan Devan Carneval 158 pound sebagai nomor dua, Spanvaly nomor tiga, Southeast London nomor empat, Masjid Fadhal London 100 pound. Dilihat dari segi nomor keseluruhan daerah Masjid Fadhal menduduki ranking dua dan dari segi pengorbanan menduduki ranking pertama. Jemaat Amerika juga ingin supaya keadaan mereka dikemukakan. Dari segi penerimaan dan segi kedawaman membayar candah, pertama Jemaat Silicon Valley, kedua Chicago West, ketiga North Virginia, keempat Losangelose East dan kelima Detroit. Semoga Allah swt memberi ganjaran yang paling baik kepada para pembayar canda itu, menurunkan barkat yang tidak terkira terhadap harta dan jiwa-raga mereka, semoga Dia menambah harta mereka yang suci-bersih secara terus-menerus, dan semoga menjadikan mereka semua orang-orang yang bersemangat memberi pengorbanan demi meraih keridhoan Tuhan Yang Memiliki semua kekuasaan, semoga Dia memberi mereka semua keikhlasan berkorban lebih dari masa-masa sebelumnya. Dan semoga mereka menjadi orang-orang yang betul-betul memahami dan menjiwai sifat-sifat Allah swt. Semoga mereka menjadi orang-orang yang memiliki keistimewaan seperti yang dimiliki oleh Jema’at orang-orang mukmin yang sejati. Sebagaimana telah saya katakan bahwa seperti pada tahun lepas terdapat kekeliruan didalam menjumlah peserta yang berjanji, oleh itu pertama saya anjurkan supaya setiap Jema’at harus betul-betul memeriksanya dengan sebaik-baiknya sebelum dikirim, khasnya Jema’at dinegara-negara Afrika. Kedua sekalipun Jema’at yang banyak melakukan pembayaran dan terdapat peningkatan dalam jumlah yang berjanji, akan tetapi banyak sekali negara-negara di Afrika, dimana masih terdapat banyak peluang, jika para muballighin disana dan para anggauta pengurus berusaha dengan cermat maka jumlah pejanji ditahun yang akan datang akan menjadi dua kali lipat jumlahnya. Jika terjadi kemalasan pada para petugas yang diberi tanggung jawab untuk ini dan jika para pengurus Jema’at dan juga para muballighin tidak memberi pengertian dan pemahaman yang betul tentang itu kepada mereka, bagaiamana mereka akan mengetahui pentingnya anjuran-anjuran ini (Tahrik jaddid dan waqaf jadid). Padahal seseorang yang berfitrat baik telah mengabulkan Ahmadiyyah, maksudnya tiada lain untuk meraih keridhoan Allah swt dan untuk menggabungkan diri kedalam Jema’at orang-orang mukmin sejati. Maka sebagaimana telah berulang kali saya mengatakan kepada saudara-saudara sekalian bahwa para mubayi’in baru harus dilibatkan secara khas untuk segera mengambil bahgian didalam gerakan Tahrik jadid dan Waqaf Jadid ini, sekalipun hanya membayar sedikit saja. Mereka jangan dibiarkan ketinggalan untuk meraih keistimewaan didalam segi kebaikan apapun yang menjadi ciri istimewa dari Jema’at orang-orang mukmin. Semoga Allah swt memberi taufiq kepada setiap anggauta Jema’at dan kepada para anggauta pengurus untuk mamahami intisari ajaran tersebut dan memberi taufiq kepada mereka untuk meningkatkan keikhlasan didalam pengorbanan. Amin !!

http://ahmadiyah.info/

Khutbah Jum’at Khalifah Imam Mahdi : SEORANG MUKMIN TETAP TEGUH DIDALAM MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Jum'at, Khalifah V, Khutbah Khalifah Ahmadiyah, Rabu, Tarbiyat on 4 November 2009 at 11:44

KHUTBAH JUM’AT HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba.
2 Oktober 2009 dari Masjid Baitul Futuh London UK TENTANG : ORANG-ORANG MUKMIN TETAP TEGUH DALAM MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN

“Hai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat’ sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kalian mengatakan mati tentang orang-orang yang terbunuh dijalan Allah itu. Tidak, bahkan mereka itu hidup, namun kamu tidak menyadari. Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: “Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali. Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarah 154-158)

Didalam Ayat Alquran yang baru saya tilawatkan, Allah taala berfirman tentang orang-orang beriman yang mendapatkan cobaan atau ujian yang bagaimanapun kerasnya iman mereka tetap teguh dan tidak goyah. Bahkan keimanan mereka semakin bertambah maju dan bertambah teguh dan kuat dan mereka semakin mendekat dan menyerahkan diri kepada Allah taala.

Dari ayat pertama sangat jelas sekali bahwa Allah taala telah menasihatkan untuk berlaku sabar sambil tetap menunaikan shalat. Maka kita bisa mengatakan bahwa kedua sifat ini harus dimiliki oleh orang-orang beriman, terutama diwaktu menghadapi banyak cobaan dan banyak kesulitan.

Ayat ini begitu ringkas namun maksud dan kandungan tafsirnya sangat luas sekali. Salah satu arti dari perkataan sabar adalah apabila seseorang mendapat suatu kemalangan tetapi dia tidak mengeluh melainkan tabah sambil menunjukkan perangai cerah. Ujian atau cobaan harus dipikul dengan tabah tanpa mengeluh, tanpa mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Tidak boleh mengeluh atau menyatakan kesusahan, harus betul-betul menjaga perasaan, yang kadang-kadang karena terdesak keluarlah dari mulut kata-kata tidak patut, sehingga merupakan keluhan terhadap Tuhan Yang Maha Perkasa. Perkara demikian harus dijauhi.

Yang kedua artinya adalah: Harus tetap dan teguh dalam pendirian. Yang ketiga adalah: Perintah Allah Yang Maha Kuasa harus tetap dipegang erat-erat dan harus berbuat sesuai dengan itu semua. Arti lain lagi ialah, kalian harus tetap teguh tidak boleh menyimpang dari apa yang telah Tuhan melarangnya.

Jadi perkataan sabar telah dijelaskan, yaitu bila saja menghadapi cobaan dan ujian atau kesulitan apapun harus dihadapi dengan tabah dan tahan mental serta keteguhan hati tidak bimbang, jika tidak maka akan membawa kegoncangan dan kelemahan iman. Yang kedua ialah harus selalu memperhatikan dan mentaati hukum-hukum Allah taala dan harus berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh tawakkal kepada-Nya.

Untuk memperkuat keimanan, keteguhan hati, perkataan shalat juga sudah difirmankan didalam ayat tersebut. Artinya Allah taala telah mengarahkan dan memerintahkan kita untuk tidak melupakan shalat dan harus banyak memanjatkan doa kepada-Nya didalam menghadapi ujian atau cobaan dan kesulitan itu.

Pengertian shalat yang telah dijelaskan oleh berbagai pihak ringkasannya adalah: “Memusatkan penuh perhatian kepada kewajiban shalat, disamping shalat fardu kita harus menaruh perhatian terhadap shalat-shalat nawafil lainnya juga disertai dengan banyak memanjatkan doa-doa untuk mempertahankan iman yang kokog, banyak-banyak membaca istighfar – memohon ampun kepada Allah Yang Maha Perkasa dan juga harus banyak berzikir mengingat Allah taala dan harus banyak mengirim darood atau selawat kepada Hazrat Rasulullah saw.

Jadi, itulah sifat-sifat orang mukmin sejati telah dijelaskan bahwa diwaktu menghadapi kesulitan dan cobaan dia selalu tabah dan sabar sehingga ia selamat. Diwaktu menghadapi kesulitan dan cobaan seorang mukmin tidak boleh menunjukkan lemah iman atau bimbang, ia harus meningkatkan lebih banyak berdoa dan menjalin hubungan lebih erat dengan Tuhan dan lebih banyak berzikir dan mengirim selawat kepada Hazrat Rasulullah saw.

Apabila kalian mencari perlindungan dan pertolongan Allah taala harus dilakukan dengan penuh sabar dan istiqamah yang sungguh-sungguh. Dan harus selalu diingat bahwa cobaan apapun yang dihadapi sifatnya hanya sementara. Setelah itu apabila suasana telah berubah kemenangan pasti akan berada ditangan kalian. Penolong utama orang-orang mukmin adalah Allah taala Yang Maha Kuasa. Harus diingat dalam keadaan bagaimanapun seorang Ahmadi tidak boleh mengatakan: “Aku tidak percaya kepada Allah.” Bilamana saja timbul kelemahan iman pada seseorang terhadap Allah maka orang itu bukan lagi sebagai orang Ahmadi. Dengan mengucapkan demikian habislah riwayat dia sebagai orang Ahmadi, bahkan dia sudah keluar dari Islam. Jika seorang Ahmadi mempunyai kepercayaan dan keyakinan kuat terhadap Allah taala Yang Maha Kuasa, dia telah mendapat iman bil ghaib yang sesungguhnya kepada Allah taala. Dan dia juga harus yakin bahwa yang menolong dan membantu segala urusan dia adalah Allah taala. Jadi, dalam menghadapi setiap kesulitan dan kesusahan yang ditimbulkan oleh lawan-lawan yang memusuhi Jemaat dari waktu ke waktu, kita harus meningkatkan hubungan yang lebih erat lagi dengan Zat Yang Maha Kuasa Yang mampu membantu kita didalam situasi yang genting seperti itu. Dan didalam situasi seperti itu orang mukmin harus selalu siap menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Perkasa Yang mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada yang lain. Yang kecintaan-Nya lebih dari pada kecintaan seorang ibu terhadap anaknya. Dia Yang Maha Kuasa mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada itu. Dan Allah dengan firman-Nya: (Allah bersama orang-orang yang sabar) memperkuat keadaan seperti itu. Dan Firman-Nya lagi: “Yakinlah kalian bahwa Aku akan menolong kalian.” Mereka yang berdoa dengan iman yang teguh, dan mereka yang mempunyai kesabaran akan Aku tolong semuanya. Jika kalian ingin mendapatkan pertolongan dari-Ku kalian harus menujukkan ketetapan dan keteguhan iman. Kalian harus beramal sesuai dengan kedudukan sebagai hamba-hamba-Ku. Bagaimana caranya yang harus kalian lakukan ? Yaitu disaat menghadapi kesulitan dan cobaan, pendirian kalian harus tetap jangan berubah-ubah. Pendirian kalian harus betul-betul mantap. Kalian harus rujuk kepada Allah taala Yang Maha Kuasa dengan penuh dedikasi. Itulah tanggung jawab setiap orang Ahmadi pada masa ini.

Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya di Pakistan, di beberapa negara Arab dan juga dibeberapa daerah di negara India orang-orang Ahmadi tengah dijadikan sasaran kekerasan dan kezaliman. Suasana yang mereka timbulkan sangat mempersulit kehidupan orang-orang Ahmadi disana. Terdapat beberapa kasus yang mereka hadapi semakin memburuk. Dan keadaan disana sangat mencekam dan semakin tegang karena timbul tindakan-tindakan diluar keadilan terhadap mereka. Para Mullah yang didukung oleh pemerintahan setempat disana mulai membuat isu-isu (pernyataan-pernyataan) nonsense. Di beberapa tempat para penguasa dan pejabat-pejabat pemerintah disana mencari-cari jalan untuk melancarkan berbagai macam gerakan untuk mempersulit kehidupan orang-orang Ahmadi sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk bertahan bagi orang-orang Ahmadi disana.

Di beberapa negara tertentu telah dilancarkan batasan dan larangan untuk menunaikan ibadah shalat dan menunaikan shalat Jumah di mesjid mereka, dan orang-orang Ahmadi disana tidak boleh berkumpul bersama untuk menunaikan shalat Jum’ah. Bagaimanapun sudah saya jelaskan tentang firman Allah taala bahwa di dalam situasi semacam itu posisi keimanan kalian harus jauh lebih kuat dan lebih teguh dari pada sebelumnya. Sambil memperkokoh keimanan kalian harus meningkatkan mutu ibadah kalian kepada Allah taala. Lalu lihatlah hasilnya bagaimana Allah taala Yang Maha Perkasa akan datang menolong kalian.

Sehubungan dengan peristiwa seperti ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Kalian harus berusaha untuk menjadi orang-orang yang bersih dan suci-murni, dan kalian harus menjalin hubungan lebih erat lagi dengan Tuhan. Sebab pertolongan Allah taala akan kalian peroleh jika diri kalian sudah suci murni.” Beliau a.s. bersabda lagi: “Bagaimana caranya kalian untuk memperoleh berkat dari pada Tuhan? Jawabannya Tuhan sendiri berfirmaan: yakni: Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Apa yang dimaksud dengan shalat disini? Yaitu selain ibadah shalat, juga membaca tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), membaca istighfar dan juga membaca shalawat bagi Junjungan Nabi Besar Muhammad saw, dibaca dengan penuh rasa cinta dan dedikasi terhadap Allah taala. Jadi, kalian harus menunaikan shalat dengan penuh konsentrasi dan kekhusyuan. Jangan seperti orang yang shalat dengan mulut komat-kamit mengucapkan kata-kata namun hati kalian ingat kemana-mana. Orang-orang yang tidak tahu bahasa Arab mereka boleh berdoa didalam bahasa sendiri khususnya diwaktu sujud. Doa yang diajarkan Tuhan didalam Alquran atau doa yang diajarkan Hazrat Rasulullah saw dari firman Tuhan, tidak boleh dibaca diwaktu ruku atau diwaktu sujud. Selain itu doa boleh dipanjatkan didalam bahasa yang kita pahami sendiri diwaktu sujud atau ruku. Panjatkanlah doa sambil menangis dan merintih dan merendahkan diri sedemikian rupa dihadapan Tuhan sehingga kekhusyuannya itu sangat berkesan di dalam hati kalian. Apabila doa itu dipanjatkan dengan rintihan dan perasaan yang luluh maka kesannya sangat melekat didalam hati sanubari.”

Jadi, dewasa ini sangat diperlukan doa-doa yang dipanjatkan oleh semua orang Ahmadi diseluruh dunia dengan penuh kekhusyuan sambil menangis dan merintih dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga menggetarkan pintu Arasy Ilahi. Apabila doa-doa ini dipanjatkan dengan penuh kegelisahan dan rintihan yang memilukan tentu Allah taala akan segera menerima dan mengabulkan doa hamba-hamba-Nya itu. Sebagaimana telah difirmankan oleh-Nya: Artinya: Atau siapakah yang mengabulkan doa orang yang tak berdaya apabila ia berdoa kepada-Nya dan Tuhan Yang melenyapkan keburukan, dan pada suatu hari akan menjadikan kamu pewaris-pewaris bumi ? (An Namal : 63)

Jadi doa yang dipanjatkan dengan perasaan sangat istimewa, dengan rasa gelisah dan suasana prihatin itulah yang bisa membangkitkan perubahan dan revolusi besar diatas muka bumi. Dan mereka yang tengah dianiaya dijalan Allah taala, mereka yang menanggung penderitaan dan kesusahan karena Allah taala, mereka akan menerima khabar suka dari Allah taala melalui kesabaran dan shalat. Pada suatu hari kalian akan menjadi pewaris-pewaris bumi diatas dunia ini, insya Allah !

Jadi kesusahan dan penderitaan yang tengah dihadapi oleh orang-orang Ahmadi pada hari ini khususnya di Pakistan dan pengorbanan apapun yang mereka lakukan, tidak akan dibiarkan sia-sia oleh Allah taala. Pengorbanan yang tengah dilakukan hari ini oleh orang-orang Ahmadi akan mendatangkan buah yang ranum pada hari esok. Hal itu semua adalah tugas kewajiban orang-orang Ahmadi tanpa mengeluh dan tanpa berkecil hati mereka harus terus maju kedepan dalam menghadapi cobaan dan ujian ini.

Dan Allah taala berfirman: “Orang-orang yang terus maju dalam menghadapi masa kesulitan dan cobaan ini demi meraih keridhaan Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya mereka rela menyerahkan jiwa-raga dan nyawa mereka dijalan Allah taala. Ingatlah, bahwa mereka yang menyerahkan jiwa-raga mereka karena Allah Yang Maha Perkasa, pengorbanan jiwa mereka ini bukanlah pengorbanan orang biasa, melainkan seperti pengorbanan para sahabah pada zaman permulaan Islam. Sekarang sejarah berulang kembali. Apabila kita lihat sejarah masa lalu banyak sekali orang-orang mukmin yang telah menyerahkan kehidupan mereka, mengorbankan jiwa raga dan nyawa mereka demi kepentingan agama Allah taala dan demi tegaknya Tauhid Ilahi dimuka bumi. Allah mengabulkan pengorbanan mereka sebab pengorbanan jiwa dan nyawa mereka itu demi maksud dan tujuan yang sangat mulia dan agung sekali.

Orang-orang yang terbunuh dijalan Allah demi membela agama Allah dan tegaknya Tauhid Ilahi tidak boleh disebut sungguh-sungguh mati. Mereka tetap hidup, sebab kematian mereka sangat objective, sangat tepat dan terarah demi Agama Allah dan demi kekalnya tauhid Ilahi dimuka bumi. Ganjaran mereka akan terus mengalir kepada mereka setiap saat. Pengorbanan demikian menjadi simbol bagi kehidupan orang-orang mukmin sejati lainnya dan mengundang semangat untuk menyerahkan pengorbanan apapun yang diperlukan oleh Agama ataupun Jema’at. Suatu bangsa yang selalu menyadari pentingnya pengorbanan demi membela tanah airnya tidak pernah mengalami kematian. Orang-orang yang selalu siap memberikan pengorbanan demi tegaknya agama Allah mereka pasti mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah taala.

Pada zaman sekarang zaman Masih Mau’ud a.s. peperangan sudah berakhir, tidak boleh melakukan peperangan lagi. Apakah sekarang sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mengorbankan jiwa raga demi agama Allah, yang akan mendapat kehidupan kekal setelah meninggal dunia? Dan juga menjadi sarana kehidupan hakiki bagi orang-orang beriman? Apabila kaum akhirin diakhir zaman ini harus menjalani kehidupan seperti standar kehidupan kaum awwalin dizaman Hazrat Rasulullah saw tentu mereka harus mengorbankan jiwa raga atau nyawa mereka. Para syuhada kaum akhirin dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka seperti yang telah terjadi di Kabul, Afganistan demi mempertahankan kebenaran. Melalui pengorbanan jiwa raga dan nyawa mereka itu Allah taala telah menunjukkan jalan kepada kita untuk memperoleh kehidupan yang kekal-abadi. Dan sampai sekarang banyak para anggota Jema’at yang tengah memberi contoh bagaimana caranya mereka telah menegakkan semangat dan keikhlasan dalam mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka karena Allah taala. Tetesan darah setiap orang Ahmadi yang syahid dimana telah memberi martabat dan kedudukan tinggi didalam kehidupan mereka dialam akhirat, disana juga tersedia sarana untuk kehidupan dan kemajuan Jema’at yang semakin meningkat terus dimuka bumi ini.

Jika para penentang berpikir bahwa dengan banyaknya terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Ahmadi mukhlisin akan memberi kesan kemunduran dan kelemahan iman terhadap para anggota Jema’at, khayalan mereka itu semata-mata penipuan dan kosong dari kenyataan sebenarnya. Allah taala berfirman: Kamu tidak menyadari ! Mereka tidak melihat bagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s telah membangkitkan suatu revolusi ruhani yang luar biasa, Ahmadiyah tidak bisa berhenti disebabkan banyaknya pengorbanan jiwa raga atau nyawa serta harta mereka demi mempertahankan kebenaran. Akhirnya taqdir Allah taala akan memutuskan bahwa melalui Jema’at Ahmadiyah ini Islam akan ditegakkan diseluruh permukaan bumi.”

Jadi sekarang juga setiap orang Ahmadi yang mati syahid demi Jema’at baik laki-laki, perempuan tua muda ataupun anak-anak telah menciptakan sebuah gelombang semangat hidup baru. Setiap terjadi peristiwa pensyahidan terhadap orang Ahmadi timbul dikalangan orang-orang Jema’at semangat yang bergelora untuk mengorbankan jiwa-raga dan nyawa mereka demi membela Jema’at ini. Tentang hal itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Kami sangat kagum menyaksikan keikhlasan dan kesetiaan para anggota Jema’at seperti itu.” Jadi sangat keliru sekali anggapan para penentang yang memusuhi Jemaat bahwa dengan terjadinya kerugian harta mereka, jiwa raga dan nyawa mereka akibat serangan musuh, iman orang-orang Ahmadi akan menjadi berkurang dan lemah. Sama sekali tidak!! Sebagaimana telah saya katakan berulang kali bahwa dengan terjadinya serangan dan penganiayaan dan pembunuhan, keimanan orang-orang Ahmadi justru semakin bertambah kokoh-kuat. Atau para penentang mengira dengan perlawanan mereka terhadap Jemaat, orang-orang Ahmadi akan habis dan lenyap? Pendapat mereka itu sungguh batil dan sangat keliru. Disebabkan telah dikeluarkannya undang-undang anti Ahmadiyah di Pakistan dan di beberapa negara Islam lainnya orang-orang Ahmadi telah dilarang melakukan tabligh. Akan tetapi disebabkan makin maraknya perlawanan dan terjadinya peristiwa-peristiwa kezaliman terhadap orang-orang Ahmadi, kesempatan tabligh disana dengan sendirinya menjadi lebih terbuka. Banyak orang-orang yang penasaran ingin tahu apa sebenarnya Ahmadiyah itu. Sehingga setelah jelas kedudukan yang sebenarnya banyak sekali orang-orang yang mengirim surat kepada kami menyatakan ingin bai’at masuk Ahmadiyah, baik dari Pakistan sendiri maupun dari negara-negara lainnya di dunia setelah menyaksikan peristiwa-peristiwa kezaliman lawan-lawan Ahmadiyah itu. Jadi sesungguhnya dengan timbulnya perlawanan itu justru menjadi sarana kemajuan bagi Jema’at Ahmadiyah.

Jadi para penentang memang bisa melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang Ahmadi, mereka bisa melakukan penjarahan terhadap harta orang-orang Ahmadi, bangunan dan gedung-gedung orang-orang Ahmadi bisa mereka hancurkan, pembangunan mesjid kami bisa dihalang-halangi akan tetapi kalian tidak akan bisa membuat iman kami jadi lemah. Sebab ujian dan cobaan ini menjadi bukti kebenaran firman Tuhan bahwa Dia bersama kami orang-orang beriman. Sebagaimana Allah taala telah menjelaskan dengan rinci didalam ayat berikutnya tentang khabar suka yang diberikan kepada orang-orang yang sabar. Firman-Nya: “ Kalian akan diuji dengan ketakutan, jika kalian menghadapi ujian yang menakutkan itu dengan sabar, maka terimalah khabar suka dari pada-Ku, bahwa kalian akan mewarisi nikmat-nikmat dari pada-Ku”. Seperti apa perasaan takut itu? Yaitu rasa takut yang dibuat oleh musuh-musuh kalian, misalnya takut berupa kejahatan para Mullah, menghadapi mukaddimah di pengadilan juga termasuk rasa takut, takut terhadap undang-undang blasphemy pemerintah, takut ancaman dari para petinggi negara. Akan tetapi orang-orang mukmin tidak mensia-siakan iman mereka disebabkan berbagai macam desakan atau intimidasi dari pihak golongan tertentu atau dari pihak pemerintah sekalipun. Dan tidak pula mereka menunjukkan sebarang kelemahan.

Setelah itu orang-orang mukmin diuji dengan kelaparan. Sebagai contoh telah terjadi dihadapan kita dalam jumlah yang sangat besar. Yaitu pada tahun 1974 telah terjadi peristiwa kerusuhan anti Jema’at yang ditimbulkan lawan-lawan yang memusuhi Jema’at pada tahun itu, banyak kesulitan dan kesusahan ditimpakan kepada orang-orang Ahmadi. Pada waktu itu siapapun tidak pula diizinkan untuk menyampaikan makanan ke rumah seorang Ahmadi dan tidak pula orang-orang Ahmadi diizinkan keluar dari rumah mereka pergi ke pasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Jika mereka bisa keluar juga maka para pemilik kedai dilarang menjual bahan-bahan makanan atau benda apapun yang diperlukan kepada orang-orang Ahmadi. Disamping itu banyak barang-barang kekayaan orang-orang Ahmadi dirampas dan dijarah dan secara paksa mereka menguasai hak milik orang-orang Ahmadi. Dan apabila seorang Ahmadi berusaha menuntut hak milik mereka secara hukum di Pengadilan, mereka membuat-buat alasan dengan mengatakan ini orang-orang Qadiani, mereka enggan melayani. Dengan menyebut nama Qadiani atau Ahmadi saja orang-orang yang duduk dikursi pengadilan-pun merasa enggan dan tidak mau menghiraukan atau menangani apa lagi menghormati tuntutan hak-hak mereka lagi.

Pada tahun 1974 sebidang tanah milik Jema’at di Rabwah telah diserahkan kepada para Mullah oleh Town Committee, dan sampai sekarang mereka menguasainya dan telah memberi nama tempat itu Muslim Colony. Begitu juga tanah yang sangat luas berdekatan dengan Ta’limul Islam New Campus milik Jema’at dan Rabwah Open Space yang terletak di Daarun Nasir telah dirampas dan dikuasainya secara tidak sah. Dan pemerintah telah memutuskan bahwa tanah ini milik pemerintah.

Selain itu orang-orang mukmin diuji dan dicoba melalui anak-anak keturunan. Pihak lawan sengaja berusaha untuk menghancurkan karier anak-anak Ahmadi. Di sekolah-sekolah anak-anak Ahmadi dijadikan sasaran penghinaan agar semangat belajar mereka hilang hingga putus sekolah. Dizaman saya kuliah di University Faisal Abad beberapa mahasiswa Ahmadi dilarang kuliah. Di Leyyah beberapa orang anak Ahmadi ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara atas tuduhan yang tidak benar dan palsu. Jika orang tua anak-anak tersebut mengumumkan telah bertaubah dari Ahmadiyah, maka pengadilan dimana para Mullah telah menuduh anak-anak telah menghina Hazrat Rasulullah saw, secepat mungkin mereka dibebaskan dari tahanan penjara. Sebab itulah yang mereka inginkan agar para Ahmadi dengan cara bagaimanapun karena takut melepaskan iman mereka dan bertaubah meninggalkan Ahmadiya. Begitulah trick jahat mereka lakukan dengan menimpakan berbagai macam kesulitan dan kesusahan diatas orang-orang Ahmadi berusaha untuk melepaskan mereka dari Ahmadiyah. Namun orang-orang bernasib malang itu tidak tahu kedudukan orang-orang Ahmadi adalah orang-orang mukmin sejati. Mereka yakin betul bahwa setiap huruf yang tertulis didalam Kitab suci Alquran adalah firman Allah taala. Sejak semula Allah taala telah memberitahukan kepada mereka didalam AlAlquran bahwa iman mereka akan diuji dengan kesusahan dan kesulitan seperti itu.

Jadi teguh didalam pendirian dan menanti akhir kesudahan yang baik dan mengucapkan Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) adalah sifat atau prilaku orang-orang Ahmadi. Kesusahan dan kesulitan yang ditimpakan kepada mereka dihadapi dengan penuh kesabaran, sebab itulah yang selalu diperlihatkan oleh orang-orang yang mengaku diri mereka Ahmadi. Sabar artinya setiap kesulitan atau kesusahan memang dirasakan, akan tetapi tidak kehilangan keseimbangan perasaan dan pikiran disebabkan kesulitan atau kesusahan itu. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah berkecil hati, melainkan pada setiap cobaan dan pada setiap penderitaan yang dihadapi selalu menghadapkan muka kearah Allah taala. Mereka berdiri tegak sambil bertahan bahwa biarlah ujian berupa kesulitan itu berlaku sebab ia sifatnya hanya sementara, bukan untuk selama-lamanya. Sebagai natijahnya Allah taala akan memberikan yang lebih baik lagi kepada mereka. Pada setiap musibah selalu berfikir bahwa nyawa-ku juga, anak-anak-ku juga, harta kekayaan-ku juga hanyalah barang-barang titipan yang sifatnya sementara. Apabila hal itu semua dikurbankan karena Allah taala maka tentu aku akan menjadi pewaris karunia Tuhan yang jauh lebih baik dari semula. Apabila manusia berucap “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) maka harus berdiri tegak dengan yakin bahwa kami juga adalah milik Allah taala. Dan harta kami serta anak-anak kami juga semuanya adalah kepunyaan Allah taala.

Jadi, jika Dia menginginkan bahwa nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada kami itu hendak diambil kembali oleh-Nya, maka kami rela sepenuhnya tidak perlu kecil hati atau menangis. Sebab kami berkata “Inna ilaihi raaji’un” kami juga akan kembali kepada-Nya. Apabila kita akan kembali kepada-Nya maka Allah taala telah berjanji bahwa Dia akan memberi barang-barang yang jauh lebih baik dari pada barang-barang yang ada didunia ini. Jadi, jika seorang mukmin berfikir seperti itu maka kerugian berupa barang-barang duniawi apapun yang ditimpakan oleh pihak lawan, memang bisa mendatangkan kesusahan yang sifatnya sementara, akan tetapi hal itu tidak akan menjadi kendala bagi kehidupan yang masih terus berlanjut. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Sebagai orang mukmin kalian jangan menganggap buruk terhadap cobaan atau ujian. Hanya orang mukmin yang tidak sempurna yang akan menganggapnya buruk. Allah taala berfirman didalam AlAlquran: Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu, ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata: “ Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali.”

Kesusahan dan kesulitan apapun yang mereka hadapi tidak menimbulkan kesengsaraan dan kesusahan hati mereka. Dan mereka selalu gembira dengan keridhaan Allah taala. Dan mereka menyukai tinggal dalam suasana seperti itu. Mereka itu betul-betul sabar. Dan Allah taala memberi ganjaran kepada orang-orang yang sabar tanpa perhitungan. Demikianlah reaksi yang harus ditimbulkan oleh setiap orang Ahmadi. Dan dengan karunia Allah taala sampai sekarang para anggota Jema’at telah menzahirkan keadaan demikian. Dan reaksi itulah sebagai tanda untuk memperoleh kemajuan. Untuk itu kita harus selalu memanjatkan doa kepada Allah taala. Memang kewajiban kita untuk berdoa demi keselamatan dari ujian dan cobaan, Allah taala sendiri telah berfirman demikian. Akan tetapi jika turun suatu cobaan dan ujian dari Allah taala, maka untuk menghadapi hal itu keteguhan iman dan ketabahan sangat penting sekali. Dan hal itulah yang boleh membuat turunnya pembalasan yang tidak terhingga dari Allah taala.

Setelah menyebutkan hal itu, selanjutnya dikatakan bahwa Allah taala bersama orang yang sabar, orang yang meraih kedudukan syahid disisi Allah taala, akan mendapat kehidupan yang kekal. Terdapat khabar-khabar gembira bagi orang-orang yang sabar, dan banyak sekali khabar-khabar gembira itu mereka terima. Dan suasana gembira yang meluap-luap itu telah-pun mereka wakafkan demi patuh dan setia kepada Allah taala. Tentang kesulitan yang biasa timbul ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Tidak pernah datang seorang-pun Utusan Tuhan yang tidak menghadapi ujian atau cobaan. Hazrat Masih Israili a.s. telah dipenjarakan dan telah dihadapkan kepada berbagai macam siksaan oleh orang Israil. Selanjutnya bagaimana perlakuan kaum terhadap Nabi Musa a.s, Nabi Muhammad saw sendiri pernah dikepung dan diserang, akhirnya sesuai sunnah Allah taala semua kesulitan itu berakhir diganti dengan kemudahan yang jauh lebih baik. Jika memang sunnah Allah taala seperti itu adalah kesenangan dan kemudahan bagi kehidupan Utusan Allah taala dan para pengikutnya, maka setiap hari pesta-pora makan-makanan yang lezat, tentu bisa dilihat apa bedanya para ahli dunia dengan para Utusan Allah taala? Jika setiap waktu hanya menjalani kehidupan yang senang sejahtera dan tidak pernah menderita kesulitan, apa bedanya orang-orang dunia dengan Utusan Allah taala? Setelah kenyang memakan makanan yang lezat mengucapkan alhamdulillah wa syukru lillah memang mudah sekali. Mudah sekali menyatakan rasa syukur seperti itu kepada Allah taala jika setiap hari menjalani kehidupan yang baik dan senang, makanan dan minuman setiap waktu bisa diperoleh dengan mudah. Jadi dalam menghadapi keadaan musibah juga harus kita harus mengucapkan perkataan seperti itu dengan sungguh hati, seperti diwaktu menerima nikmat dari Allah taala.”

Beliau bersabda lagi: “Para utusan Tuhan dan Jema’at beliau sering ditimpa oleh berbagai macam ujian, ditimpa rasa takut dengan kehancuran, menghadapi berbagai macam mara bahaya dan sebagainya. Itulah arti dari pada Kazzabu mereka mendustakan. Dari peristiwa kesulitan itu ada manfaatnya? yaitu untuk membedakan diantara orang yang kuat iman-nya dan yang lemah iman. Sebab orang yang imannya lemah, hanya sampai waktu yang menguntungkan mereka saja bisa bertahan, namun apabila masa ujian dan cobaan tiba, mereka berhenti tidak mau bergerak maju. Sedangkan orang yang kuat imannya mereka terus maju kedepan, sekalipun sedang dalam masa cobaan dan ujian seperti itu. Dan itulah sunnah Allah taala yang berlaku kepada saya. Selama tidak ada ujian atau cobaan tidak pernah timbul suatu tanda yang zahir dari Allah taala. Apabila Allah taala mencintai hamba-hamba-Nya maka Dia menimpakan ujian kepada mereka. Sebagaimana Tuhan berfirman: Yakni setiap mendapat kesulitan dan kesusahan mereka selalu rujuk dan runduk kepada Allah taala. Dan orang-orang itulah yang menerima nikmat-nikmat Allah taala, yaitu orang-orang yang selalu berusaha menegakkan istiqamah, tetap didalam pendirian yang teguh, sekalipun mereka menyaksikan kegembiraan duniawi itu nampaknya sangat senang serta lezat untuk dinikmati namun akhir natijahnya tidak ada kesan apa-apa. Dengan menjalani kehidupan bergemarlapan kemewahan yang penuh dengan kesenangan akhirnya hubungan dengan Allah taala menjadi terputus.

Kecintaan Allah taala terhadap hamba-Nya dibuktikan dengan menimpakan suatu ujian kepadanya sehingga dengan ujian itu Dia menzahirkan kemuliaan hamba-Nya itu. Dengan ujian itu kebesarannya, keimanannya yang kukuh kuat akan zahir. Misalnya jika Kisra Iran tidak memerintahkan seorang jenderalnya untuk menangkap Hazrat Rasulullah, maka bagaimana bisa terjadi mukjizat yaitu kematian Kisra Iran itu pada malam itu juga. Dan jika orang-orang Mekah tidak mengusir Hazrat Rasulullah saw, bagaimana mukjizat Allah taala akan zahir pada hari-hari sesudahnya. Setiap mukjizat sangat erat kaitannya dengan suatu ujian atau cobaan yang menyusahkan. Kehidupan berfoya-foya dan bergembira-ria bisa membuat manusia lengah tidak ada kaitannya sama sekali dengan Allah taala. Jika kejayaan duniawi yang melimpah ruah telah diperoleh seseorang, kehidupan merendahkan diri dan merunduk dihadapan Tuhan menjadi hilang. Padahal Allah taala mencintai orang-orang yang menjalani kehidupan dengan merendahkan diri dan mencurahkan perhatian kepada-Nya. Oleh sebab itu manusia haruslah menghadapi suatu peristwa yang manakutkan. Jadi Allah taala berfirman bahwa Dia bersama orang-orang yang berlaku sabar dan menyerahkan jiwa raga serta nyawanya dijalan Allah taala demi meraih keridhaan-Nya.

Pada akhir ayat Allah taala berfirman : Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarah 154-158). Dan orang-orang itulah yang menjadi pewaris barkat-berkat, mereka itulah yang menjadi penerima hidayah dan rahmat dari Allah taala. Dan orang-orang yang menjadi pewaris rahmat dan barkat dari Allah taala itulah orang-orang yang menerima petunjuk dari Allah taala. Karena dipergunakan perkataan solawatun mirrabihim maka hal itu bisa diterjemahkan: barkat-barkat dan maghfirat. Jadi orang-orang yang sabar dan banyak memanjatkan doa akan menyaksikan pemandangan turunnnya berkat dan maghfirat (pengampunan) dari Allah taala yang membuat martabah ruhani mereka semakin tinggi. Perkataan solawatun mirrabihim ini bukan Allah taala yang memanjatkan doa itu, melainkan berkat-berkat dan maghfirat dari Allah taala turun kepada orang-orang mukmin yang sabar dan banyak memanjatkan doa itu. Apabila rahmat Tuhan turun kepada mareka maka martabah ruhani mereka itu semakin meningkat terus.

Kerugian duniawi mereka juga bisa diganti sepenuhnya oleh Allah taala, sebab mereka setiap saat siap mengorbankan apa yang mereka miliki demi kepentingan agama Allah taala. Bisa diperiksa, siapapun orang Ahmadi yang mengorbankan sesuatu di jalan Allah taala, keinginan musuh tidak pernah berhasil membuat orang-orang Ahmadi menjadi miskin sehingga menjadi pengemis. Bahkan yang menjadi miskin dan menjadi pengemis adalah mereka sendiri yang telah berbuat zalim terhadap orang-orang Ahmadi dan yang telah merampas dan menjarah harta benda mereka. Dan demi konstitusi undang-undang, orang-orang Ahmadi telah dinyatakan sebagai non-Muslim. Maka setelah demikian jelasnya pertolongan Allah taala terhadap Jemaat ini, orang-orang bernasib buruk dan sangat malang itu tidak mau paham juga, atau memang sengaja mereka tidak mau paham. Sedangkan kami selalu berdoa kepada Allah taala semoga Allah taala memberi taufiq kepada mereka untuk memahaminya.

Pada akhir ayat in Allah taala berfirman : yakni orang-orang yang meraih rahmat dan maghfirat dari Allah taala mereka itulah yang memperoleh hidayah dari Allah taala. Oleh sebab itu disebabkan telah memperoleh hidayat maka mereka terus meningkat didalam meraih hidayat itu dari Allah taala. Dan Allah taala memperlihatkan jalan-jalan baru kepada mereka untuk mencapai kemajuan. Sehingga mereka selalu menjadi peraih qurub dan kecintaan Allah taala. Dan kita harus selalu memohon doa kepada Allah taala agar Dia menjaga dan melindungi setiap orang Ahmadi dari setiap bala atau musibah. Akan tetapi jika sesuai dengan kehendak Allah taala seseorang harus mendapat ujian dan cobaan dari Allah taala, semoga Allah taala memberi taufik kepadanya untuk melewati masa ujian itu dengan tabah, mudah dan selamat. Dan semoga Allah taala selalu memberi bimbingan kepada kita semua.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Apabila saya melihat kesulitan yang tengah kalian alami dan disamping itu saya melihat kudrat Allah taala yang maha mulia yang secara pribadi saya sendiri telah mengalaminya dan yang telah berlaku pada diri saya, sedikitpun saya tidak merasa gelisah. Sebab saya paham bahwa Allah taala adalah Dia Yang Karim (Maha Mulia) dan Qadir Qudrat, Yang Maha Kuasa. Dan Dia Yang akan melepaskan mereka dari musibah-musibah yang besar. Siapa yang ingin memperoleh banyak makrifat maka Allah taala pasti menurunkan musibah sebagai ujian kepadanya. Supaya mereka paham bahwa Tuhan memberi harapan positif kepada mereka bahwa dari tidak ada harapan sama sekali timbul hasrat dan keinginan yang baik. Pendeknya Dia sungguh Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya. Dengan adanya ujian dan cobaan itu jangan sampai Allah taala menjadi jauh dari kita. Dalam memberi ujian dan cobaan juga Allah taala Maha Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Penyayang.”

Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Jalan untuk memperoleh karunia dan rahmat-Nya selamanya terbuka selalu. Oleh sebab itu kita harus selalu menaruh harapan positif terhadap Rahmat-Nya. Dan diwaktu menghadapi kegelisahan perlu sekali bertaubah dan membaca istighfar sebanyak-banyaknya.” Harus diingat selalu bahwa orang yang diwaktu turun bala dan musibah dia tinggalkan usaha untuk bertaubah dari keburukan atau dosa, yang sebetulnya untuk meninggalkan taubah dengan segera itu tidak ada maksud sebelumnya, maka hal itu merupakan siksaan besar bagi orang itu. Dan jika musibah dan kemalangan serta kesusahan tengah terjadi, lalu ia tinggalkan dosa atau kebiasaan buruknya itu, maka hal itu akan menjadi sebuah kaffarah yang besar baginya. Bersamaan dengan terbukanya hati dia itu untuk bertaubah terbukalah juga kegelapan musibah itu baginya. Dan datangnya nur cahaya menjadi suatu harapan yang pasti baginya. Apabila hati manusia telah terbuka mata kegelapan yang disebabkan timbulnya bala atau musibah itu akan berubah menjadi cahaya terang baginya. Dan akan timbul harapan untuk mendapatkan nur dari allah taala.

Jadi keadaan dunia sekarang ini seperti telah saya katakan bahwa para Ahmadi diseluruh dunia sangat perlu sekali untuk menaruh perhatian sungguh-sungguh terhadap doa. Mengingat-ingat kelemahan dan dosa yang ada pada dirinya sangat diperlukan sekali. Dan harus berusaha keras untuk berjumpa dengan Allah taala. Usaha pribadilah yang harus dilakukan oleh Jemaat, apabila seseorang berbuat baik mudah-mudahan membawa faedah untuk semuanya. Dalam suasana sekarang ini setiap Anggota Jemaat dimanapun berada sangat perlu sekali untuk meningkatkan banyak doa untuk saudara-saudara kita itu. Mengingat keadaan yang tengah terjadi pada masa sekarang ini, nampaknya akan terjadi ujian-ujian yang lebih berat lainnya yang akan dihadapi oleh para Ahmadi di Pakistan. Oleh sebab itu dengan perantaraan doa-doa semoga hal itu bisa diatasi dengan sebaik-baiknya.

Setelah itu Huzur mengumumkan empat orang Ahmadi yang telah mati syahid dan beliau akan memimpin shalat jenazah ghaib untuk keempat orang syuhada itu.

Alihbhasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

Tulisan Imam Mahdi : Rukun Islam: Haji

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Imam Mahdi, November, Rabu, Tabligh, Tarbiyat on 4 November 2009 at 04:56

Bentuk lain dari ibadah adalah naik Haji ke Mekah. Pelaksanaan ibadah Haji tidak asal sebagai pelaksanaan formalitas berangkat ke Tanah Suci berbekal uang yang diperoleh secara halal atau tidak halal dan setelah melaksanakan tawaf serta ritual lainnya yang ditetapkan berdasar petunjuk yang menjadi pemelihara Kaabah, lalu pulang membual dan menyombongkan diri bahwa ia telah melaksanakan ibadah Haji. Tujuan ibadah Haji sebagai¬mana diinginkan Allah s.w.t. tidak akan dapat dicapai dengan cara demikian itu.

Hakikat daripada tahap terakhir perjalanan seorang pencari kebenaran adalah menarik diri sepenuhnya dari segala tuntutan dan nafsu egonya serta menenggelamkan diri sepenuhnya dalam kasih Allah s.w.t. dan pengabdian kepada-Nya. Tawaf di sekeliling Kaabah menggambarkan secara visual bentuk pengorbanan dari seorang pecinta sejati yang bersedia mengorbankan jiwa dan kalbunya. Sebagaimana ada sebuah Rumah Allah di bumi ini, begitu juga ada sebuah lagi yang ada di surga. Sampai seseorang bisa menyelesaikan tawaf mengitari Rumah Allah yang di surga maka tawafnya mengitari Rumah Allah di bumi belum bisa dianggap sempurna.

Mereka yang melaksanakan tawaf mengitari Rumah Allah yang di bumi, melakukannya dengan melepaskan semua pakaian dan hanya menyisakan selebar kain ihram untuk menutup tubuhnya, tetapi mereka yang bertawaf di sekitar Rumah Allah di surga malah melepaskan seluruh penutup tubuh dan berdiri telanjang hanya karena demi Allah yang disembahnya. Tawaf merupakan tanda dari para pecinta Tuhan. Mereka berputar di sekeliling Kaabah seolah-olah mereka tidak lagi memiliki keinginan pribadi dan hanya mengabdi sepenuhnya kepada Wujud-Nya.

Esensi Ajaran Islam Jilid 2

Alih Bahasa : AQ. Khalid

Khutbah Khalifah Ahmadiyah : Orang-orang Mukmin Tetap Teguh di Dalam Menghadapi Ujian dan Kesulitan

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Jum'at, Khalifah V, Oktober, Ta'lim, Tarbiyat on 3 November 2009 at 00:31

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
نَحْمَدُهُ وَنُصَلِّىْعَلَى رَسُوْلِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلَىعَبْدِهِ اْلمَسِيْحِ اْلمَوْعُوْدِ

KHUTBAH JUM’AH HAZRAT AMIRUL MU’MININ KHALIFATUL MASIH V atba. Tanggal 2 Oktober 2009 dari Baitul Futuh London UK` TENTANG : ORANG-ORANG MUKMIN TETAP TEGUH DIDALAM MENGHADAPI UJIAN DAN KESULITAN

يٰاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِؕ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ–وَلاَ تَقُوْلُوْا لِمَنْ يُّقْتَلُ فِىْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوٰتٌؕ بَلْ اَحْيَآءٌ وَّلٰـكِنْ لاَّتَشْعُرُوْنَ‏–وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلاَ مْوَالِ وَالاََنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَۙ‏–الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَؕ‏ –اُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَاُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ‏

Didalam Ayat Qur’an yang baru saya tilawatkan, Allah swt berfirman tentang orang-orang beriman yang mendapat percobaan atau ujian bagaimanapun kerasnya iman mereka tetap teguh tidak goyah. Bahkan keimanan mereka semakin bertambah maju dan bertambah teguh dan kuat dan mereka semakin mendekat dan menyerahkan diri kepada Allah swt. Terjemahan ayat-ayat yang saya tilawatkan tadi bunyinya sebagai berikut : “ Hai orang-orang yang beriman ! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat’ sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Dan janganlah kalian mengatakan mati tentang orang-orang yang terbunuh dijalan Allah itu. Tidak, bahkan mereka itu hidup, namun kamu tidak menyadari. Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu, ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata : “ Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali. Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarh 154-158)

Dari ayat pertama sangat jelas sekali bahwa Allah swt telah menasihatkan untuk berlaku sabar sambil tetap menunaikan salat. Maka kita bisa mengatakan bahwa kedua sifat ini harus dimiliki oleh orang-orang beriman, terutama diwaktu menghadapi banyak percobaan dan banyak kesulitan. Ayat ini sangat ringkas sekali namun maksud dan kandungan tafsirnya sangat luas sekali. Salah satu arti dari perkataan sabar adalah : apabila seseorang mendapat suatu kemalangan ia tidak mengeluh melainkan tabah sambil menunjukkan perangai cerah. Ujian atau percobaan harus dipikul dengan tabah tanpa mengeluh, tanpa mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Tidak boleh complain atau menyatakan kesusahan, harus betul-betul menjaga perasaan, yang kadang-kadang karena terdesak keluarlah dari mulut kata-kata tidak patut, sehingga merupakan keluhan terhadap Tuhan Yang Maha Perkasa. Perkara demikian harus dijauhi.

Yang kedua artinya adalah : Harus tetap dan teguh dalam pendirian. Yang ketiga adalah : Perintah Allah Yang Maha Kuasa harus tetap dipegang erat-erat dan harus berbuat sesuai dengan itu semua. Arti lain lagi ialah, kalian harus tetap teguh tidak boleh menyimpang dari apa yang telah Tuhan melarangnya.

Jadi perkataan sabar telah dijelaskan, yaitu bila saja menghadapi percobaan dan ujian atau kesulitan apapun harus dihadapi dengan tabah dan tahan mental serta hati teguh dan jangan bimbang, jika tidak akan membawa kegoncangan dan kelemahan iman. Yang kedua ialah harus selalu memperhatikan dan menta’ati hukum-hukum Allah swt dan harus berserah diri kepada Allah Yang Maha Kuasa dengan penuh tawakkal kepada-Nya. Untuk memperkuat keimanan, keteguhan hati, perkataan salat juga sudah difirmankan didalam ayat tersebut, berarti Allah swt telah mengarahkan dan memerintah kita untuk tidak melupakan salat dan harus banyak memanjatkan do’a kepada-Nya didalam menghadapi ujian atau percobaan dan kesulitan itu.

Pengertian salat yang telah diberikan oleh berbagai pihak dan ringkasannya adalah : “ Memusatkan penuh perhatian kepada kewajiban salat, disamping salat fardu kita harus menaruh perhatian terhadap salat-salat nawafil lainnya juga disertai dengan banyak memanjatkan do’a-do’a untuk mempertahankan iman yang kokoh kuat, banyak-banyak membaca istighfar memohon ampun kepada Allah swt Yang Maha Perkasa dan juga harus banyak berzikir mengingat Allah swt dan harus banyak mengirim darood atau selawat kepada Hazrat Rasulullah saw. Jadi, itulah sifat-sifat orang mukmin sejati telah dijelaskan bahwa diwaktu menghadapi kesulitan dan percobaan dia selalu tabah dan sabar sehingga ia selamat. Diwaktu menghadapi kesulitan dan percobaan seorang mukmin tidak boleh menunjukkan lemah iman atau bimbang, ia harus meningkatkan lebih banyak berdo’a dan menjalin hubungan lebih erat degan Tuhan dan lebih banyak berzikir dan mengirim selawat kepada Hazrat Rasulullah saw.

Apabila kalian mencari perlindungan dan pertolongan Allah swt harus dilakukan dengan penuh sabar dan istiqamah yang sungguh-sungguh. Dan harus selalu diingat bahwa percobaan apapun yang dihadapi sifatnya hanya sementara. Setelah itu apabila suasana telah berobah kemenangan pasti akan berada ditangan kalian. Penolong utama orang-orang mukmin adalah Allah swt Yang Maha Kuasa. Harus diingat dalam keadaan bagaimanapun seorang Ahmadi tidak boleh mengatakan : “Aku tidak percaya kepada Allah.” Bilamana saja timbul kelemahan iman pada seseorang terhadap Allah maka orang itu bukan lagi sebagai orang Ahmady. Dengan mengucapkan demikian habislah riwayat dia sebagai orang Ahmady, bahkan dia sudah keluar dari Islam. Jika seorang Ahmady mempunyai kepercayaan dan keyakinan kuat terhadap Allah swt Yang Maha Kuasa, dia telah mendapat iman bil ghaib yang sesungguhnya kepada Allah swt. Dan dia juga harus yakin bahwa yang menolong dan membantu segala urusan dia adalah Allah swt. Jadi, dalam menghadapi setiap kesulitan dan kesusahan yang ditimbulkan oleh lawan-lawan yang memusuhi Jema’at dari waktu kewaktu, kita harus meningkatkan hubungan yang lebih erat lagi dengan Zat Yang Maha Kuasa Yang mampu membantu kita didalam situasi yang genting seperti itu. Dan didalam situasi seperti itu orang mukmin harus selalu siap menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Perkasa Yang mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada yang lain. Yang kecintaan-Nya lebih dari pada kecintaan seorang ibu terhadap anaknya. Dia Yang Maha Kuasa mencintai hamba-hamba-Nya lebih dari pada itu. Dan Allah dengan firman-Nya : اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ (Allah bersama orang-orang yang sabar) memperkuat keadaan seperti itu. Dan Firman-Nya lagi: “Yakinlah kalian bahwa Aku akan menolong kalian.” Mereka yang berdo’a dengan iman yang teguh, dan mereka yang mempunyai kesabaran akan Aku tolong semuanya. Jika kalian ingin mendapatkan pertolongan dari-Ku kalian harus menujukkan ketetapan dan keteguhan iman. Kalian harus beramal sesuai dengan kedudukan sebagai hamba-hamba-Ku. Bagaimana caranya yang harus kalian lakukan ? Yaitu dikala menghadapi kesulitan dan percobaan pendirian kalian harus tetap jangan berobah-obah. Pendirian kalian harus betul-betul mantep. Kalian harus rujuk kepada Allah swt Yang Maha Kuasa dengan penuh dedikasi. Itulah tanggung jawab setiap orang Ahmadi pada masa ini.

Sebagaimana telah saya jelaskan sebelumnya di Pakistan, dibeberapa negara Arab dan juga dibeberapa daerah dinegara India orang-orang Ahmady tengah dijadikan sasaran kekerasan dan kezaliman. Suasana yang mereka timbulkan sangat mempersulit kehidupan orang-orang Ahmady disana. Terdapat beberapa kasus yang mereka hadapi semakin memburuk. Dan keadaan disana sangat mencekam dan semakin tegang kerana timbul tindakan-tindakan diluar keadilan terhadap mereka. Para Mullah yang didukung oleh pemerintahan setempat disana mulai membuat issue-issue (pernyataan-pernyataan) nonsense. Dibeberapa tempat para penguasa dan pegawai-pegawai pemerintah disana mencari-cari jalan untuk melancarkan berbagai macam gerakan untuk mempersulit kehidupan orang-orang Ahmady sehingga tidak ada lagi kesempatan untuk bertahan bagi orang-orang Ahmady disana.

Dibeberapa negara tertentu telah dilancarkan batasan dan larangan untuk menunaikan ibadah salat dan menunaikan salat Jum’ah dimesjid mereka, dan orang-orang Ahmadi disana tidak boleh berkumpul bersama untuk menunaikan salat Jum’ah. Bagaimanapun sudah saya jelaskan tentang firman Allah swt bahwa didalam situasi semacam itu posisi keimanan kalian harus jauh lebih kuat dan lebih teguh dari pada sebelumnya. Sambil memperkokoh keimanan kalian harus meningkatkan mutu ibadah kalian kepada Allah swt. Lalu tengoklah hasilnya bagaimana Allah swt Yang Maha Perkasa akan datang menolong kalian. Sehubungan dengan peristiwa seperti ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Kalian harus berusaha untuk menjadi orang-orang yang bersih dan suci-murni, dan kalian harus menjalin hubungan lebih erat lagi dengan Tuhan. Sebab pertolongan Allah swt akan kalian peroleh jika diri kalian sudah suci murni.” Beliau a.s. bersabda lagi : “ Bagaimana caranya kalian untuk memperoleh berkat dari pada Tuhan ? Jawabannya Tuhan sendiri berfirmasn :

اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِؕ

yakni : Mohonlah pertolongan dengan sabar dan salat. Apa yang dimaksud dengan salat disini ? Yaitu selain ibadah salat, juga membaca tasbih (subhanallah), tahmid (alhamdulillah), membaca istighfar dan juga membaca selawat bagi Junjungan Nabi Besar Muhammad saw, dibaca dengan penuh rasa cinta dan dedikasi terhadap Allah swt. Jadi, kalian harus menunaikan salat dengan penuh konsentrasi dan kekhusyuan jangan seperti orang yang salat dengan mulut komat-kamit mengucapkan kata-kata namun hati kalian ingat kemana-mana. Orang-orang yang tidak tahu bahasa Arab, mereka boleh bedo’a didalam bahasa sendiri khasnya diwaktu sujud, kecuali do’a yang diajarkan Tuhan didalam Alqur’an atau do’a yang diajarkan Hazrat Rasulullah saw dari firman Tuhan, tidak boleh dibaca diwaktu ruku atau diwaktu sujud. Selain itu do’a boleh dipanjatkan didalam bahasa yang kita fahami sendiri diwaktu sujud atau ruku. Panjatkanlah do’a sambil menangis dan merintih dan merendahkan diri sedemikian rupa dihadapan Tuhan sehingga kekhusyuannya itu sangat berkesan didalam hati kalian. Apabila do’a itu dipanjatkan dengan rintihan dan perasaan yang luluh maka kesannya sangat melekat didalam hati sanubari.”
Jadi, dewasa ini sangat diperlukan do’a-do’a yang dipanjatkan oleh semua orang Ahmady diseluruh dunia dengan penuh kekhusyuan sambil menangis dan merintih dihadapan Tuhan Yang Maha Kuasa sehingga menggetarkan pintu Arasy Ilahi. Apabila do’a-do’a ini dipanjatkan dengan penuh kegelisahan dan rintihan yang memilukan tentu Allah swt akan segera menerima dan mengabulkan do’a hamba-hamba-Nya itu. Sebagaimana telah difirmankan oleh-Nya :

اَمَّنْ يُّجِيْبُ الْمُضْطَرَّ اِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوْٓءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَآءَ اْلاَرْضِ‌ؕ

Artinya : Atau siapakah yang mengabulkan do’a orang yang tak berdaya apabila ia berdo’a kepada-Nya dan Tuhan Yang melenyapkan keburukan, dan pada suatu hari akan menjadikan kamu pewaris-pewaris bumi ? (An Namal : 63)

Jadi do’a yang dipanjatkan dengan perasaan sangat istimewa, dengan rasa gelisah dan suasana prihatin itulah yang bisa membangkitkan perubahan dan revolusi besar diatas muka bumi. Dan mereka yang tengah dianiaya dijalan Allah swt, mereka yang menanggung penderitaan dan kesusahan kerana Allah swt, mereka akan menerima khabar suka dari Allah swt melalui kesabaran dan salat. Pada suatu hari kalian akan menjadi pewaris-pewaris bumi diatas dunia ini, insya Allah !

Jadi kesusahan dan penderitaan yang tengah dihadapi oleh orang-orang Ahmady pada hari ini khasnya di Pakistan dan pengurbanan apapun yang mereka lakukan, tidak akan dibiarkkan sia-sia oleh Allah swt. Pengurbanan yang tengah dilakukan hari ini oleh orang-orang Ahmady akan mendatangkan buah yang ranum atau hasil yang mungil pada hari esok. Hal itu semua adalah tugas kewajiban orang-orang Ahmady tanpa mengeluh dan tanpa berkecil hati mereka harus terus maju kedepan dalam menghadapi percobaan dan ujian ini. Dan Allah swt berfirman : “ Orang-orang yang terus maju dalam menghadapi masa kesulitan dan cubaan ini demi meraih keridhaan Tuhan Yang Maha Kuasa, akhirnya mereka rela menyerahkan jiwa-raga dan nyawa mereka dijalan Allah swt. Ingatlah, bahwa mereka yang menyerahkan jiwa-raga mereka kerana Allah Yang Maha Perkasa, pengurbanan jiwa mereka ini bukanlah pengurbanan orang biasa, melainkan seperti pengurbanan para sahabah pada zaman permulaan Islam. Sekarang sejarah berulang kembali. Apabila kita tengok sejarah masa lampau banyak sekali orang-orang mukmin yang telah menyerahkan kehidupan mereka, mengurbankan jiwa raga dan nyawa mereka demi kepentingan agama Allah swt dan demi tegaknya Tauhid Ilahi dimuka bumi. Allah mengabulkan pengurbanan mereka sebab pengurbanan jiwa dan nyawa mereka itu demi maksud dan tujuan yang sangat mulia dan agung sekali. Orang-orang yang terbunuh dijalan Allah demi membela agama Allah dan tegaknya Tauhid Ilahi tidak boleh disebut sungguh-sungguh mati. Mereka tetap hidup, sebab kematian mereka sangat objective, sangat tepat dan terarah demi Agama Allah dan demi kekalnya tauhid Ilahi dimuka bumi. Ganjaran mereka akan terus mengalir kepada mereka setiap sa’at. Pengurbanan demikian menjadi simbul bagi kehidupan orang-orang mukmin sejati lainnya dan mengundang semangat untuk menyerahkan pengurbanan apapaun yang diperlukan oleh Agama ataupun Jema’at. Suatu bangsa yang selalu menyadari pentingnya pengurbanan demi membela tanah airnya tidak pernah mengalami kematian. Orang-orang yang selalu siap memberikan pengurbanan demi tegaknya agama Allah mereka pasti mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah swt. Pada zaman sekarang zaman Masih Mau’ud a.s. peperangan sudah berakhir, tidak boleh melakukan peperangan lagi. Apakah sekarang sudah tidak ada lagi kesempatan untuk mengurbankan jiwa raga demi agama Allah, yang akan mendapat kehidupan kekal setelah meninggal dunia? Dan juga menjadi sarana kehidupan hakiki bagi orang-orang beriman? Apabila kaum akhirin diakhir zaman ini harus menjalani kehidupan seperti setandar kehidupan kaum awalin dizaman Hazrat Rasulullah saw tentu mereka harus mengurbankan jiwa raga atau nyawa mereka. Para syuhada kaum akhirin dizaman Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah mengurbankan jiwa-raga dan nyawa mereka seperti yang telah terjadi di Kabul, Afganistan demi mempertahankan kebenaran. Melalui pengurbanan jiwa raga dan nyawa mereka itu Allah swt telah menunjukkan jalan kepada kita untuk memeproleh kehidupan yang kekal-abadi. Dan sampai sekarang banyak para anggauta Jema’at yang tengah memberi contoh bagaimana caranya mereka telah menegakkan semangat dan keikhlasan dalam mengurbankan jiwa-raga dan nyawa mereka kerana Allah swt. Tetesan darah setiap orang Ahmady yang syahid dimana telah memberi martabat dan kedudukan tinggi didalam kehidupan mereka dialam akhirat, disana juga tersedia sarana untuk kehidupan dan kemajuan Jema’at yang semakin meningkat terus dimuka bumi ini.

Jika para penentang berpikir bahwa dengan banyaknya terjadi pembunuhan terhadap orang-orang Ahmadi mukhlisin akan memberi kesan kemunduran dan kelemahan iman terhadap para anggauta Jema’at, khayalan mereka itu semata-mata penipuan dan kosong dari kenyataan sebenarnya. Allah swt berfirman : Kamu tidak menyadari ! Mereka tidak melihat bagaimana Hazrat Masih Mau’ud a.s telah membangkitkan suatu revolusi ruhani yang luar biasa, Ahmadyah tidak bisa berhenti disebabkan banyaknya pengurbanan jiwa raga atau nyawa serta harta mereka demi mempertahankan kebenaran. Akhirnya taqdir Allah swt akan memutuskan bahwa melalui Jema’at Ahmadiyah ini Islam akan ditegakkan diseluruh permukaan bumi.” Jadi sekarang juga setiap orang Ahmady yang mati syahid demi Jema’at baik lelaki, perempuan tua muda ataupun anak-anak telah menciptakan sebuah gelombang semangat hidup baru. Setiap terjadi peristiwa pensyahidan terhadap orang Ahmady timbul dikalangan orang-orang Jema’at semangat yang bergelora untuk mengurbankan jiwa-raga dan nyawa mereka demi membela Jema’at ini. Tentang hal itu Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Kami sangat kagum menyaksikan keikhlasan dan kesetiaan para anggauta Jema’at seperti itu.” Jadi sangat keliru sekali anggapan para penentang yang memusuhi Jema’at bahwa dengan terjadinya kerugian harta mereka, jiwa raga dan nyawa mereka akibat serangan musuh, iman orang-orang Ahmady akan menjadi berkurang dan lemah. Sama sekali tidak !! Sebagaimana telah saya katakan berulang kali bahwa dengan terjadinya serangan dan penganiayaan dan pembunuhan, keimanan orang-orang Ahmady justru semakin bertambah kokoh-kuat. Atau para penentang mengira dengan perlawanan mereka terhadap Jema’at, orang-orang Ahmady akan habis dan lenyap? Pendapat mereka itu sungguh batil dan sangat keliru. Disebabkan telah dikeluarkannya undang-undang anti Ahmadiyah di Pakistan dan di beberapa negara Islam lainnya orang-orang Ahmady telah dilarang melakukan tabligh. Akan tetapi disebabkan makin maraknya perlawanan dan terjadinya peristiwa-peristiwa kezaliman terhadap orang-orang Ahmady, kesempatan tabligh disana dengan sendirinya menjadi lebih terbuka. Banyak orang-orang yang penasaran ingin tahu apa sebenarnya Ahmadiyah itu? Sehingga setelah jelas kedudukan yang sebenarnya banyak sekali orang-orang yang mengirim surat kepada kami menyatakan ingin bai’at masuk Ahmadiyah, baik dari Pakistan sendiri maupun dari negara-negara lainnya didunia setelah menyaksikan peristiwa-peristiwa kezaliman lawan-lawan Ahmadiyah itu. Jadi sesungguhnya dengan timbulnya perlawanan itu justeru menjadi sarana kemajuan bagi Jema’at Ahmadiyah.

Jadi para penentang memang bisa melakukan pembunuhan terhadap beberapa orang Ahmady, mereka bisa melakukan penjarahan terhadap harta orang-orang Ahmady, bangunan dan gedung-gedung orang-orang Ahmady bisa mereka hancurkan, pembangunan mesjid kami bisa dihalang-halangi akan tetapi kalian tidak akan bisa membuat iman kami jadi lemah. Sebab ujian dan percobaan ini menjadi bukti kebenaran firman Tuhan bahwa Dia bersama kami orang-orang beriman. Sebagaimana Allah swt telah menjelaskan dengan rinci didalam ayat berikutnya tentang khabar suka yang diberikan kepada orang-orang yang sabar. Firman-Nya : “ Kalian akan diuji dengan ketakutan, jika kalian menghadapi ujian yang menakutkan itu dengan sabar, maka terimalah khabar suka dari pada-Ku, bahwa kalian akan mewarisi nikmat-nikmat dari pada-Ku”. Macam bagaimana perasaan takut itu? Yaitu rasa takut yang dibuat oleh musuh-musuh kalian, misalnya takut berupa kejahatan para Mullah, menghadapi mukaddimah dipengadilan juga termasuk rasa takut, takut terhadap undang-undang blasphemy pemerintah, takut ancaman dari para petinggi negara. Akan tetapi orang-orang mukmin tidak mensia-siakan iman mereka didsebabkan berbagai macam desakan atau intimidasi dari pihak golongan tertentu atau dari pihak pemerintah sekalipun. Dan tidak pula mereka menunjukkan sebarang kelemahan.

Setelah itu orang-orang mukmin diuji dengan kelaparan. Sebagai contoh telah terjadi dihadapan kita dalam jumlah yang sangat besar. Yaitu pada tahun 1974 telah terjadi peristiwa kerusuhan anti Jema’at yang ditimbulkan lawan-lawan yang memusuhi Jema’at pada tahun itu, banyak kesulitan dan kesusahan ditimpakan kepada orang-orang Ahmady. Pada waktu itu siapapun tidak pula diizinkan untuk menyampaikan makanan kerumah seorang Ahmady dan tidak pula orang-orang Ahmady diizinkan keluar dari rumah mereka pergi kepasar untuk membeli bahan-bahan makanan. Jika mereka bisa keluar juga maka para pemilik kedai dilarang menjual bahan-bahan makanan atau benda apapun yang diperlukan, kepada orang-orang Ahmady. Disamping itu banyak barang-barang kekayaan orang-orang Ahmady dirampas dan dijarah dan secara paksa mereka menguasai hak milik orang-orang Ahmady. Dan apabila seorang Ahmady berusaha menuntut hak milik mereka secara hukum di Pengadilan, mereka membuat-buat alasan dengan mengatakan ini orang-orang Qadiani, mereka enggan melayani. Dengan menyebut nama Qadiani atau Ahmady saja orang-orang yang duduk dikursi pengadilan-pun merasa enggan dan tidak mau menghiraukan atau menangani apa lagi menghormati tuntutan hak-hak mereka lagi.

Pada tahun 1974 sebidang tanah milik Jema’at di Rabwah telah diserahkan kepada para Mullah oleh Town Committee, dan sampai sekarang mereka menguasainya dan telah memberi nama tempat itu Muslim Colony. Begitu juga tanah yang sangat luas berdekatan dengan Ta’limul Islam New Campus milik Jema’at dan Rabwah Open Space yang terletak di Daarun Nasir telah dirampas dan dikuasainya secara tidak sah. Dan pemerintah telah memutuskan bahwa tanah ini milik pemerintah.

Selain itu orang-orang mukmin diuji dan dicoba melalui anak-anak keturunan. Pihak lawan sengaja berusah untuk menghancurkan karier anak-anak Ahmady. Disekolah-sekolah anak-anak Ahmady dijadikan sasaran penghinaan agar semangat belajar mereka hilang hingga putus sekolah. Dizaman saya kuliah di University Faisal Abad beberapa mahasiswa Ahmady dilarang kuliah. Di Leyyah beberapa orang anak Ahmady ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara atas tuduhan yang tidak benar dan palsu. Jika orang tua anak-anak tersebut mengumumkan telah bertaubah dari Ahmadiyah, maka pengadilan dimana para Mullah telah menuduh anak-anak telah menghina Hazrat Rasulullah saw, secepat mungkin mereka dibebaskan dari tahanan penjara. Sebab itulah yang mereka inginkan agar para Ahmady dengan cara bagaimanapun kerana takut melepaskan iman mereka dan bertaubah meninggalkan Ahmadiyat. Begitulah trick jahat mereka lakukan dengan menimpakan berbagai macam kesulitan dan kesusahan diatas orang-orang Ahmady berusaha untuk melepaskan mereka dari Ahmadiyah. Namun orang-orang bernasib malang itu tidak tahu kedudukan orang-orang Ahmady adalah orang-orang mukmin sejati. Mereka yakin betul bahwa setiap huruf yang tertulis didalam Kitab suci Alqur’an adalah firman Allah swt. Sejak semula Allah swt telah memberitahukan kepada mereka didalam Alqur’an bahwa iman mereka akan diuji dengan kesusahan dan kesulitan seperti itu.

Jadi teguh didalam pendirian dan menanti akhir kesudahan yang baik dan mengucapkan Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) adalah sifat atau prilaku orang-orang Ahmady. Kesusahan dan kesulitan yang ditimpakan kepada mereka dihadapi dengan penuh kesabaran, sebab itulah yang selalu diperlihatkan oleh orang-orang yang mengaku diri mereka Ahmady. Sabar artinya setiap kesulitan atau kesusahan memang dirasakan, akan tetapi tidak kehilangan keseimbangan perasaan dan pikiran disebabkan kesulitan atau kesusahan itu. Tidak pernah mengeluh, tidak pernah berkecil hati, melainkan pada setiap percobaan dan pada setiap penderitaan yang dihadapi selalu menghadapkan muka kearah Allah swt. Mereka berdiri tegak sambil bertahan bahwa biarlah ujian berupa kesulitan itu berlaku sebab ia sifatnya hanya sementara, bukan untuk selama-lamanya. Sebagai natijahnya Allah swt akan memberikan yang lebih baik lagi kepada mereka. Pada setiap musibah selalu berfikir bahwa nyawa-ku juga, anak-anak-ku juga, harta kekayaan-ku juga hanyalah barang-barang titipan yang sifatnya sementara. Apabila hal itu semua dikurbankan kerana Allah swt maka tentu aku akan menjadi pewaris karunia Tuhan yang jauh lebih baik dari semula. Apabila manusia berucap “Inna lillaahi wa inna ilaihi raaji’un (Kami adalah milik Dia dan kepada-Nyalah kami akan kembali) maka harus berdiri tegak dengan yakin bahwa kami juga adalah milik Allah swt. Dan harta kami serta anak-anak kami juga semuanya adalah kepunyaan Allah swt. Jadi, jika Dia menginginkan bahwa nikmat-nikmat yang telah Dia berikan kepada kami itu hendak diambil kembali oleh-Nya, maka kami rela sepenuhnya tidak perlu kecil hati atau menangis. Sebab kami berkata “Inna ilaihi raaji’un” kami juga akan kembali kepada-Nya. Apabila kita akan kembali kepada-Nya maka Allah swt telah berjanji bahwa Dia akan memberi barang-barang yang jauh lebih baik dari pada barang-barang yang ada didunia ini. Jadi, jika seorang mukmin berfikir seperti itu maka kerugian berupa barang-barang duniawi apapun yang ditimpakan oleh pihak lawan, memang bisa mendatangkan kesusahan yang sifatnya sementara, akan tetapi hal itu tidak akan menjadi kendala bagi kehidupan yang masih terus berlanjut. Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Sebagai orang mukmin kalian jangan menganggap buruk terhadap percobaan atau ujian. Hanya orang mukmin yang tidak sempurna yang akan menganggapnya buruk. Allah swt berfirman didalam Alqur’an :

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَىْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلاَ مْوَالِ وَالاََنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِؕ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَۙ‏–الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَؕ‏

Dan pasti Kami akan menguji kamu dengan sesuatu, ketakutan dan kelaparan, dan kekurangan dalam harta dan jiwa serta buah-buahan, dan berikanlah kabar suka kepada orang-orang yang sabar. Yaitu, orang-orang yang apabila musibah menimpa mereka, mereka berkata : “ Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan sesungguhnya kepada-Nya-lah kami akan kembali.” Kesusahan dan kesulitan apapun yang mereka hadapi tidak menimbulkan kesengsaraan dan kesusahan hati mereka. Dan mereka selalu gembira dengan keridhaan Allah swt. Dan mereka menyukai tinggal dalam suasana seperti itu. Mereka itu betul-betul sabar. Dan Allah swt memberi ganjaran kepada orang-orang yang sabar tanpa perhitungan. Demikianlah reaksi yang harus ditimbulkan oleh setiap orang Ahmady. Dan dengan karunia Allah swt sampai sekarang para anggauta Jema’at telah menzahirkan keadaan demikian. Dan reaksi itulah sebagai tanda untuk memperoleh kemajuan. Untuk itu kita harus selalu memanjatkan do’a kepada Allah swt. Memang kewajiban kita untuk berdo’a demi keselamatan dari ujian dan percobaan, Allah swt sendiri telah berfirman demikian. Akan tetapi jika turun suatu percobaan dan ujian dari Allah swt, maka untuk menghadapi hal itu keteguhan iman dan ketabahan sangat penting sekali. Dan hal itulah yang boleh membuat turunnya pembalasan yang tidak terhingga dari Allah swt.

Setelah menyebutkan hal itu, selanjutnya dikatakan bahwa Allah swt bersama orang yang sabar, orang yang meraih kedudukan syahid disisi Allah swt, akan mendapat kehidupan yang kekal. Terdapat khabar-khabar gembira bagi orang-orang yang sabar, dan banyak sekali khabar-khabar gembira itu mereka terima. Dan suasana gembira yang meluap-luap itu telah-pun mereka wakafkan demi patuh dan setia kepada Allah swt. Tentang kesulitan yang biasa timbul ini Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Tidak pernah datang seorang-pun Utusan Tuhan yang tidak menghadapi ujian atau percobaan. Hazrat Masih Israili a.s. telah dipenjarakan dan telah dihadapkan kepada berbagai macam siksaan oleh orang Israil. Selanjutnya bagaimana perlakuan kaum terhadap Nabi Musa a.s. Nabi Muhammad saw sendiri pernah dikepung dan diserang, akhirnya sesuai sunnah Allah swt semua kesulitan itu berakhir diganti dengan kemudahan yang jauh lebih baik. Jika memang sunnah Allah swt seperti itu adalah kesenangan dan kemudahan bagi kehidupan Utusan Allah swt dan para pengikutnya, maka setiap hari pesta-pora makan-makanan yang lazat, tentu bisa dilihat apa bedanya para ahli dunia dengan para Utusan Allah swt ? Jika setiap waktu hanya menjalani kehidupan yang senang sejahtera dan tidak pernah menderita kesulitan, apa bedanya orang-orang dunia dengan Utusan Allah swt ? Setelah kenyang memakan makanan yang lezat mengucapkan alhamdulillah wa syukru lillah memang mudah sekali. Mudah sekali menyatakan rasa syukur seperti itu kepada Allah swt jika setiap hari menjalani kehidupan yang baik dan senang, makanan dan minuman setiap waktu bisa diperoleh dengan mudah. Jadi dalam menghadapi keadaan musibah juga harus kita harus mengucapkan perkataan seperti itu dengan sungguh hati, seperti diwaktu menerima nikmat dari Allah swt.”

Beliau bersabda lagi: “ Para utusan Tuhan dan Jema’at beliau sering ditimpa oleh berbagai macam ujian, ditimpa rasa takut dengan kehancuran, menghadapi berbagai macam mara bahaya dan sebagainya. Itulah arti dari pada Kazzabu mereka mendustakan. Dari peristiwa kesulitan itu ada faedahnya yaitu untuk membedakan diantara orang yang kuat iman-nya dan yang lemah iman. Sebab orang yang imannya lemah, hanya sampai waktu yang menguntungkan mereka saja bisa bertahan, namun apabila masa ujian dan cobaan tiba, mereka berhenti tidak mau bergerak maju. Sedangkan orang yang kuat imannya mereka terus maju kedepan, sekalipun sedang dalam masa percobaan dan ujian seperti itu. Dan itulah sunnah Allah swt yang berlaku kepada saya. Selama tidak ada ujian atau percobaan tidak pernah timbul sebarang tanda yang zahir dari Allah swt. Apabila Allah swt mencintai hamba-hamba-Nya maka Dia menimpakan ujian kepada mereka. Sebagaimana Tuhan berfirman :

وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَۙ‏-الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

Yakni setiap mendapat kesulitan dan kesusahan mereka selalu rujuk dan runduk kepada Allah swt. Dan orang-orang itulah yang menerima nikmat-nikmat Allah swt, yaitu orang-orang yang selalu berusaha menegakkan istiqamah, tetap didalam pendirian yang teguh, sekalipun mereka menyaksikan kegembiraan duniawi itu nampaknya sangat senang serta lezat untuk dinikmati namun akhir natijahnya tidak ada kesan apa-apa. Dengan menjalani kehidupan berwarna-warni kemewahan yang penuh dengan kesenangan akhirnya hubungan dengan Allah swt menjadi terputus.

Kecintaan Allah swt terhadap hamba-Nya dibuktikan dengan menimpakan suatu ujian kepadanya sehingga dengan ujian itu Dia menzahirkan kemuliaan hamba-Nya itu. Dengan ujian itu kebesarannya, keimanannya yang kukuh kuat akan zahir. Misalnya jika Kisra Iran tidak memerintahkan seorang jenderalnya untuk menangkap Hazrat Rasulullah, maka bagaimana bisa terjadi mu’jizat yaitu kematian Kisra Iran itu pada malam itu juga. Dan jika orang-orang Mekah tidak mengusir Hazrat Rasulullah saw, bagaimana mu’jizat Allah swt akan zahir pada hari-hari sesudahnya. Setiap mu’jizah sangat erat kaitannya dengan suatu ujian atau percobaan yang menyusahkan. Kehidupan berfoya-foya dan bergembira-ria bisa membuat manusia lengah tidak ada kaitannya sama sekali dengan Allah swt. Jika kejayaan duniawi yang melimpah ruah telah diperoleh seseorang, kehidupan merendahkan diri dan merunduk dihadapan Tuhan menjadi hilang. Padahal Allah swt mencintai orang-orang yang menjalani kehidupan dengan merendahkan diri dan mencurahkan perhatian kepada-Nya. Oleh sebab itu manusia haruslah menghadapi suatu peristwa yang manakutkan. Jadi Allah swt berfirman bahwa Dia bersama orang-orang yang berlaku sabar dan menyerahkan jiwa raga serta nyawanya dijalan Allah swt demi meraih keridhaan-Nya.

Pada akhir ayat Allah swt berfirman :

–اُولَٰئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَاُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ‏

Mereka inilah yang dilimpahi berkat-berkat dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah yang akan mendapat petunjuk.” (Al Baqarh 154-158). Dan orang-orang itulah yang menjadi pewaris barkat-berkat, mereka itulah yang menjadi penerima hidayah dan rahmat dari Allah swt. Dan orang-orang yang menjadi pewaris rahmat dan barkat dari Allah swt itulah orang-orang yang menerima petunjuk dari Allah swt. Kerana dipergunakan perkataan solawatun mirrabihim maka hal itu bisa diterjemahkan: barkat-barkat dan maghfirat. Jadi orang-orang yang sabar dan banyak memanjatkan do’a akan menyaksikan pemandangan turunnnya barkat dan maghfirat (pengampunan) dari Allah swt yang membuat martabah ruhani mereka semakin tinggi. Perkataan solawatun mirrabihim ini bukan Allah swt yang memanjatkan do’a itu, melainkan berkat-berkat dan maghfirat dari Allah swt turun kepada orang-orang mukmin yang sabar dan banyak memanjatkan do’a itu. Apabila rahmat Tuhan turun kepada mareka maka martabah ruhani mereka itu semakin meningkat terus.

Kerugian duniawi mereka juga bisa diganti sepenuhnya oleh Allah swt, sebab mereka setiap sa’at siap mengurbankan apa yang mereka miliki demi kepentingan agama Allah swt. Bisa diperiksa, siapapun orang Ahmady yang mengurbankan sesuatu dijalan Allah swt, keinginan musuh tidak pernah berhasil membuat orang-orang Ahmady menjadi miskin sehingga menjadi pengemis. Bahkan yang menjadi miskin dan menjadi pengemis dalah mereka sendiri yang telah berbuat zalim terhadap orang-orang Ahmadi dan yang telah merampas dan menjarah harta benda mereka. Dan demi konstitusi undang-undang, orang-orang Ahmady telah dinyatakan sebagai orang-orang bukan Islam. Maka setelah demikian jelasnya pertolongan Allah swt terhadap Jema’at ini, orang-orang bernasib buruk dan sangat malang itu tidak mau paham juga, atau memang sengaja mereka tidak mau paham. Sedangkan kami selalu berdo’a kepada Allah swt semoga Allah swt memberi taufiq kepada mereka untuk memahaminya.

Pada akhir ayat in Allah swt berfirman :

وَاُولَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ

yakni orang-orang yang meraih rahmat dan maghfirat dari Allah swt mereka itulah yang memperoleh hidayah dari Allah swt. Oleh sebab itu disebabkan telah memperoleh hidayat maka mereka terus meningkat didalam meraih hidayat itu dari Allah swt. Dan Allah swt memperlihatkan jalan-jalan baru kepada mereka untuk mencapai kemajuan. Sehingga mereka selalu menjadi peraih kurub dan kecintaan Allah swt. Dan kita harus selalu memohon do’a kepada Allah swt agar Dia menjaga dan melindungi setiap orang Ahmadi dari setiap bala atau musibah. Akan tetapi jika sesuai dengan kehendak Allah swt seseorang harus mendapat ujian dan percobaan dari Allah swt, semoga Allah swt memberi taufik kepadanya untuk melewati masa ujian itu dengan tabah, mudah dan selamat. Dan semoga Allah swt selalu memberi bimbingan kepada kita semua.

Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Apabila saya melihat kesulitan yang tengah kalian alami dan disamping itu saya melihat kudrat Allah swt yang maha mulia yang secara pribadi saya sendiri telah mengalaminya dan yang telah berlaku pada diri saya, sedikitpun saya tidak merasa gelisah. Sebab saya faham bahwa Allah swt adalah Dia Yang Karim (Maha Mulia) dan Qadir Qudrat, Yang Maha Kuasa. Dan Dia Yang akan melepaskan mereka dari musibat-musibah yang besar. Siapa yang ingin memperoleh banyak ma’rifat maka Allah swt pasti menurunkan musibah sebagai ujian kepadanya. Supaya mereka faham bahwa Tuhan memberi harapan positif kepada mereka bahwa dari tidak ada harapan sama sekali timbul hasrat dan keinginan yang baik. Pendeknya Dia sungguh Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya. Dengan adanya ujian dan cobaan itu jangan sampai Allah swt menjadi jauh dari kita. Dalam memberi ujian dan cobaan juga Allah swt Maha Karim dan Rahim, Maha Mulia dan Maha Penyayang.”
Selanjutnya Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda : “ Jalan untuk memperoleh karunia dan rahmat-Nya selamanya terbuka selalu. Oleh sebab itu kita harus selalu menaruh harapan positif terhadap Rahmat-Nya. Dan diwaktu menghadapi kegelisahan perlu sekali bertaubah dan membaca istighfar sebanyak-banyaknya.” Harus diingat selalu bahwa orang yang diwaktu turun bala dan musibah dia tinggalkan usaha untuk bertaubah dari keburukan atau dosa, yang sebetulnya untuk meninggalkan taubah dengan segera itu tidak ada maksud sebelumnya, maka hal itu merupakan siksaan besar bagi orang itu. Dan jika musibah dan kemalangan serta kesusahan tengah terjadi, lalu ia tinggalkan dosa atau kebiasaan buruknya itu, maka hal itu akan menjadi sebuah kaffarah yang besar baginya. Bersamaan dengan terbukanya hati dia itu untuk bertaubah terbukalah juga kegelapan musibah itu baginya. Dan datangnya nur cahaya menjadi suatu harapan yang pasti baginya. Apabila hati manusia telah terbuka mata kegelapan yang disebabkan timbulnya bala atau musibah itu akan berubah menjadi cahaya terang baginya. Dan akan timbul harapan untuk mendapatkan nur dari allah swt.

Jadi keadaan dunia sekarang ini seperti telah saya katakan bahwa para Ahmady diseluruh dunia sangat perlu sekali untuk menaruh perhatian sungguh-sungguh terhadap do’a. Mengingat-ingat kelemahan dan dosa yang ada pada dirinya sangat diperlukan sekali. Dan harus berusaha keras untuk berjumpa dengan Allah swt. Usaha pribadilah yang harus dilakukan oleh Jema’at, apabila seseorang berbuat baik mudah-mudahan membawa faedah untuk semuanya. Dalam suasana sekrang ini setiap Anggauta Jema’at dimanapun berada sangat perlu sekali untuk meningkatkan banyak do’a untuk saudara-saudara kita itu. Mengingat keadaan yang tengah terjadi pada masa sekarang ini, nampaknya akan terjadi ujian-ujian yang lebih berat lainnya yang akan dihadapi oleh para Ahmady di Pakistan. Oleh sebab itu dengan perantaraan do’a-do’a semoga hal itu bisa diatasi dengan sebaik-baiknya.

Setelah itu Huzur mengumumkan empat orang Ahmady yang telah mati syahid dan beliau akan memimpin salat jenazah ghaib untuk keempat orang syuhada itu.

Alihbhasa dari Audio Urdu oleh Hasan Basri

Ghulam Ahmad : Riwayat Pendiri Ahmadiyah (Bagian 3) Oleh HM.Basyiruddin. MA

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Ghulam Ahmad, Imam Mahdi, Isa, Isa Yang Dijanjikan, Khalifah II, Masih Ma'ud, Tabligh, Tarbiyat on 31 Oktober 2009 at 16:47

Pidato Lahore

Selama dalam perkara yang berlarut-larut di Gurdaspur, Hazrat ahmad as. pernah melakukan perjalanan penting. Pertama pada bulan Agustus 1904, beliau as. pergi ke Lahore untuk 15 hari lamanya. Orang datang berduyun-duyun untuk menjenguk beliau as.. Setiap hari di dekat tempat tinggal beliau, orang-orang pada berkumpul ramai. Para musuh beliau pun datang untuk membuat keributan dan mencaci maki beliau. Ada seseorang yang lolos menembus dan masuk ke dalam rumah, sehingga terpaksa dikeluarkan dengan cara kekerasan.

Atas permintaan saudara-saudara di Lahore, Hazrat Ahmad as. menyusun sebuah pidato yang kemudian dicetak dalam bentuk buku. Pidato ini dibacakan oleh Hz. Mlv. Abdul Karim Sialkoti dalam sebuah pertemuan besar yang dihadiri oleh sekitar 8000 orang. Hazrat Ahmad as. sendiri hadiir pada acara itu. Setelah selesai dibacakan, hadirin minta supaya beliau as. juga menyampaikan beberapa ucapan dari mulut suci beliau sendiri. Oleh karena itu Hazrat Ahmad as. berdiri dan berbicara dengan ringkas selama setengah jam.

Pengalaman yang berulang-ulang telah menyatakan bahwa di setiap tempat yang beliau as. kunjungi, orang-orang dari berbagai agama — terutama dari kalangan yang menamakan diri sebagai Muslim — bangkit untuk melawan dan memperlihatkan kebencian mereka pada Hazrat Ahmad as.. Maka para pejabat polisi telah mengatur dengan sebaik-baiknya. Polisi pribumi maupun polisi Eropa dengan senjata lengkap telah mengawal acara itu. Pejabat Polisi telah mendapat kabar terlebih dahulu bahwa beberapa orang yang tidak bertanggung jawab telah berkumpul di luar tempat pertemuan, sengaja untuk menimbulkan keributan. Maka polisi pun telah mengatur kepulangan beliau secara khusus dengan selamat. Di bawah pengawalan yang ketat, di depan dan di belakang serta di tengah-tengah kendaraan, Hazrat Ahmad as. pulang ke tempat beliau menetap. Orang-orang berniat jahat itu tidak berhasil melaksanakan apa yang mereka rencanakan. Dari sana Hazrat Ahmad as. kembalii lagi ke Gurdaspur.

Pidato Sialkot

Pada akhir Oktober 1904, Hazrat Ahmad as. mendapat sedikit kelonggaran dari urusan perkara di Gurdaspur untuk pulang ke Qadian. Pada tanggal 27 Oktober 1904, beliau berangkat ke Sialkot atas permintaan saudara-saudara Ahmadi disana. Mereka mengemukakan bahwa dahulu ketika masih muda beliau pernah beberapa tahun tinggal di Sialkot, maka sekarang pun setelah mendapat kemajuan yang begitu mulia, beliau dimohon mengunjungi tempat itu untuk memberkatinya.

Perjalanan ini pun membuktikan kemenangan Hazrat Ahmad as.. Di setiap stasiun, luar biasa banyaknya orang yang berkumpul untuk menjumpai beliau. Begitu banyaknya masa sehingga begitu sulit dikendalikan oleh petugas stasiun. Di stasiun Lahore karcis masuk ke stasiun habis sama sekali, dan terpaksa kepala stasiun mengizinkan orang-orang masuk tanpa karcis.

Ketika Hazrat Ahmad as. tiba di Sialkot, mulai dari stasiun sampai ke tempat penginapan beliau, lebih satu pal panjangnya penuh sesak oleh khalayak ramai yang ingin menyaksikan kedatangan beliau as.. Kereta api tiba di stasiun hampir malam, dan karena banyaknya penumpang yang mencari kendaraan untuk pergi ke tempat masing-masing, maka beliau as. terlambat. Dan kendaraan beliau aas. baru jalan sedikit, malam sudah gelap betul. Karena banyaknya orang dan kegelapan malam — dikhawatirkan ada yang dapat tergilas roda kendaraan — maka polsi mengambil tindakan penertiban yang perlu, untuk melapangkan jalan agar kendaraan beliau as. dapat berjalan dengan lancar.

Seorang hartawan dari Sialkot disertai seorang jaksa ditetapkan untuk menjalankan kewajiban-kewajiban tersebut, dan mereka mengatur jalan-jalan dengan susah payah. Kendaraan-kendaraan pun jalan dengan sangat perlahan, dan jendela-jendelanya dibiarkan terbuka. Jalanan di kiri kanan penuh oleh manusia, dan banyak pula yang tidak dapat tempat berdiri sehingga terpaksa naik ke atap-atap rumah dan jendela.

Orang-orang Hindu dan Muslim menunggu-nunggu kedatangan Hazrat Ahmad as. Dengan menyalakan lampu-lampu malam itu. Banyak yang menggunakan obor besar untuk melihat wajah beliau as.. Dan ada pula yang menaburkan bunga kepada beliau as..

Di Sialkot, Hazrat Ahmad as tinggal selama 5 hari. Dan selain tabligh kepada orang-orang yang datang menjumpai beliau di rumah, beliau as. mengadakan pidato dalam pertemuan terbuka. Ketika berita tentang pidato tersebut disiarkan, maka para ulama di Sialkot pun berusaha keras agar masyarakat menambahkan fatwa: barangsiapa mendengarkan pidato beliau as. maka nikahnya akan batal.

Para ulama itu tidak berhenti sampai disitu saja, malah mereka mengumumkan akan menyelenggarakan ceramah-ceramah tandingan dari beberapa ulama di depan bangunan tempat Hazrat Ahmad as. akan menyampaikan pidato beliau as. dan tertahan di luar saja. Selain itu ditugaskan pula beberapa orang dipintu-pintu tempat rapat itu untuk melarang orang-orang masuk dan menjelaskan bahwa mendengarkan pidato Hazrat Ahmad as. adalah dosa.

Memang ada yang benar-benar dipaksa agar pergi ke tempat para ulama itu berpidato. Meskipun demikian, ketika mendengar kabar Hazrat Ahmad as. telah tiba di tempat yang telah ditentukan, maka banyak orang yang lari meninggalkan pidato para ulama tersebut, lalu masuk mendengarkan pidato yang disampaikan oleh Hazrat Ahmad as. sehingga para pegawai pemerintah yang pada hari itu tidak cuti sekali pun, telah merasa perlu menghadiri pidato beliau as. atas kemauan mereka sendiri.

Pidato Hazrat Ahmad as. tersebut telah dicetak dalam bentuk buku dan dibacakan oleh Hz. Mlv. Abdul Karim Sialkoti. Ada juga beberapa orang yang hendak menimbulkan keributan ketika pidato dibacakan, tetapi seorang pejabat polisi Eropa dapat mengendalikan mereka dengan bijaksana. Pejabat itu menjelaskan :

“Orang-orang Islam tidak perlu gelisah atau gusar atas pidato Mirza Ghulam Ahmad. Karena, pidato ini adalah untuk membela agama Islam serta untuk memuliakan Nabi Muhammad. Justru orang-orang Kristen lah yang berhak untuk merah dan gusar hati, karena pidato-pidato Mirza Ghulam Ahmad ini menyatakan bahwa Tuhan orang Kristen (Jesus) telah wafat.”

Pendeknya, karena kecakapan polisi, tidak ada keributan maupun huru-hara yang timbul. Satu hal yang istimewa dalam pidato ini adalah, pertama kali Hazrat Ahmad as.menyatakan diri sebagai Khrisna untuk menyempurnakan keterangan-keterangan bagi orang-orang Hindu.

Sesudah pidato itu, ketika Hazrat Ahmad as. menuju ke tempat tinggal beliau as., ada beberapa orang yang hendak melemparkan batu. Tetapi kejadian itu pun dapat dicegah oleh poliisi. Begitu pula pada hari kedua, ketika beliau as. berangkat pulang dari Sialkot, karena upaya polisi, tidak ada kejadian yang buruk. Orang-orang yang ingin memudaratkan beliau as. tidak mendapat kesempatan. Lalu beberapa orang dari mereka pergi ke pinggir kota di tepi rel kereta api, dan melempari kereta api itu dengan batu. Tetapi selain beberapa kaca yang pecah, tidak ada seorang pun yang terluka.

Mlv. Abul Karim Sialkoti Wafat & Pendidikan Ulama

Seorang murid mukhlis Hazrat Ahmad as. bernama Mlv. Abdul Karim Siialkoti — yang selalu membacakan pidato beliau as. pada beberapa acara besar — setelah lama sakit, wafat pada tanggal 11 Oktober 1905.

Hazrat Ahmad as. memberi anjuran untuk membuka sebuah lembaga pendidikan berbahasa Arab di Qadian untuk mempersiapkan orang-orang yang pandai dan alim dalam agama Islam. Sehingga para alim ulama yang wafat dapat digantikan oleh mereka.

Perjalanan ke Delhi

Beberapa hari setelah wafatnya Mlv. Abdul Karim Sialkoti ra., Hazrat Ahmad as. berangkat ke Delhi untuk 15 hari lamanya. Delhi pada kali ini tidaklah seperti Delhi 15 tahun lalu yang kacau, namun tidak pula kosong dari keributan atas kedatangan beliau as.. Selama 15 hari di Delhi itu, beliau as. tidak mengadakan pidato di hadapan umum di tempat terbuka. Tetapi di rumah tempat beliau menetap, hampir setiap hari beliau as. mengadakan ceramah-ceramah yang dapat dihadiri oleh 250 orang pada satu waktu, berhubung tempatnya sempit.

Satu dua hari ada juga orang-orang yang ingin menimbulkan keributan. Bahkan suatu hari mereka datang dengan niat menyerang rumah dimana Hazrat Ahmad as. menetap. Tetapi semua kejadian ini jauh berbeda dari kedatangan beliau as. yang pertama ke Delhi dahulu.

Kunjungan ke Ludhiana dan Amritsar

Ketika kembali, Jemaat Ahmadiyah di Ludhiana memohon agar Hazrat Ahmad as. singgah d Ludhiana untuk satu dua hari. Disana beliau as. menyampaikan sebuah pidato di hadapan umum yang mendapat cukup perhatian.

Kemudian datang permintaan dari Jemaat Ahmadiyah Amritsar agar beliau sudi pula datang ke Amritsar. Hazrat Ahmad as. memenuhi permintaan mereka, dan dari Ludhiana beliau singgah di Amritsar. Disana telah direncanakan agar beliau menyampaikan sebuah pidato di hadapan umum.

Di Amritsar banyak pihak yang memusuhi Jemaat Ahmadiyah. Dan saat itu para ulama yang mempunyai pengaruh besar menghasut masyarakat umum untuk menimbulkan keributan dan kekacauan. Pada hari pidato akan diselenggarakan, pihak musuh telah berniat mengacaukan suasana supaya pidato beliau as. tidak jadi diselenggarakan disana.

Ketika Hazrat Ahmad as. tiba di tempat acara pidato itu, tampak banyak para ulama mengenakan jubah-jubah panjang berdiri di pintu gedung. Mereka menghasut masyarakat untuk menentang beliau as.. Banyak orang membawa batu. Hazrat Ahmad as. terus masuk ke dalam gedung tempat diselenggarakannya pidato itu dan mulai menyampaikan pidato beliau, supaya orang-orang tidak berkesempatan untuk mencela.

Pidato baru saja berlangsung dua menit, lalu ada orang yang meletakkan secangkir teh di depan Hazrat Ahmad as.. Pada waktu itu tenggorokan beliau as. sakit, dan kalau minum sedikit dan berulang-ulang tentu akan meredakan sakit tenggorokan itu. Beliau as. memberi isyarat dengan tangan supaya tidak diberi teh, tetapi mengingat sakit tenggorokan beliau itu orang-orang tersebut tetap saja menaruh teh di hadapan beliau. Kemudian Hazrat Ahmad as meminum sedikit air teh tersebut. Sedangkan waktu itu Ramadhan, bulan puasa. Maka para ulama pun ribut menyatakan bahwa Hazrat Ahmad as bukan orang Islam, sebab tidak puasa pada bulan Ramadhan.

Hazrat Ahmad as. menjawab, menurut firman Allah dalam Al-Quran, orang-orang sakit dan bepergian tidak perlu berpuasa, melainkan apabila sudah sehat atau kembali dari perjalanan, barulah boleh berpuasa. Sedangkan beliau sendiri dalam keadaan sakit serta dalam perjalanan.

Tetapi mereka yang telah emosi itu tidak mau memperhatikan penjelasan beliau. Kekacauan semakin meningkat, polisi pun tidak dapat mengendalikan suasana. Melihat keadaan itu, Hazrat Ahmad as. duduk dan meminta orang lain untuk membacakan syair-syair dengan suara merdu. Hal itu berhasil juga menentramkan khalayak ramai. Kemudian beliau as. kembali berdiri dan meneruskan pidato beliau. Namun para ulama kembali ribut dan mulai menyerang ke arah mimbar, dan polisi yang sedikit itu tidak mampu mengendalikan ribuan orang yang maju seperti ombak itu. Karena pihak keamanan tidak berdaya lagi, Hazrat Ahmad as. pun menghentikan pidato beliau. Tetapi kekacauan tidak berhenti, dan mereka terus membuat keributan.

Para pejabat polisi meminta agar Hazrat Ahmad as. pindah ke ruangan lain, dan memerintahkan para petugas untuk segera mendatangkan kendaraan yang tertutup. Polisi mencegah orang-orang masuk ke ruangan yang ditempati Hazrat Ahmad as., dan dari pintu yang lain telah didatangkan kendaraan tersebut. Beliau pun keluar menaiki kendaraan itu, dan orang-orang yang mengadakan keributan tersebut mengetahui bahwa beliau akan berangkat, maka mereka serentak keluar dari gedung dan menyerbu ke arah kendaraan beliau.

Seorang dari mereka menyerang Hazrat Ahmad as. dengan tongkat besar. Tetapi seorang murid beliau as. menghalangi, dan pintu kendaraan yang masih terbuka justru menghalangi tongkat tersebut, sehingga murid beliau itu hanya mengalami luka ringan saja. Sekiranya tidak demikian, tentu orang itu akan mengalami luka parah.

Kendaraan terus berangkat membawa Hazrat Ahmad as.. namun pihak penentang terus saja melempari batu dari kiri dan kanan. Meski jendela kendaraan itu telah ditutup, lemparan-lemparan batu membuatnya terbuka lagi. Kami yang duduk dalam kendaraan itu menutup kembali jendela-jendela dan menahannya dengan tangan. Namun lemparan-lemparan batu itu cukup kuat sehingga jendela kendaraan tersebut berkali-kali terbuka lagi.

Dengan karunia Ilahi tidak ada yang terluka, hanya sebuah batu mengenai tangan adik saya. Polisi yang mengawal di sekelilling kendaraan itu banyak yang kena batu. Maka pihak yang berwajib mengambil tindakan untuk menjauhkan orang-orang itu. Dari depan dan belakang kendaraan itu terus dikawal oleh polisi. Bahkan ada polisi yang duduk di atap kendaraan. Dengan cepat kendaraan itu tiba di tempat kediaman beliau as.. Nafsu amarah para penentang itu bergelora, dan benyak yang berlari mengejar dari belakang kendaraan yang terus dikawal oleh polisi itu. Pada keesokan harinya Hazrat Ahmad as. pun kembali pulang ke Qadian.

Al-Wasiat

Pada bulan Desember 1905, Hazrat Ahmad as. mendapat ilham yang menerangkan bahwa saat kewafatan beliau telah dekat, oleh karenanya beliau menulis sebuah buku yang berjudul Al-Wasiat, yang disebar luaskan kepada seluruh warga Jemaat Ahmadiyah. Di dalamnya beliau as. memberitahukan bahwa saat kewafatan beliau telah dekat, dan menasihatkan agar Jemaat tenteram serta berbesar hati.

Demikian pula, berdasarkan ilham Ilahi, Hazrat Ahmad as. mengumumkan untuk membuat sebuah areal perkuburan khusus (Bahesyti Maqbarah), dan orang-orang yang akan dikebumikan disana harus memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan. Yakni mengurbankan paling sedikit 1/10 harta bendanya dan 1/10 dari penghasilannya setiap bulan untuk kepentingan Islam. Hazrat Ahmad as menjelaskan :

“Allah Taala telah memberi kabar suka kepada saya, bahwa di perkuburan itu hanya orang-orang ahli surga saja lah yang akan dikuburkan.”

Dan beliau as. juga membentuk sebuah badan untuk mengurus harta benda yang akan diserahkan oleh orang-orang yang akan dikuburkan di pekuburan tersebut, untuk digunakan bagi pengembangan Islam. Selain ketentuan tersebut, beliau as. memberikan sebuah kabar ghaib :

“Untuk menjaga dan mengurus Jemaat ini setelah kewafatanku Allah Taala sendiri yang akan mengaturnya sebagaimana Dia telah mengatur setelah (kewafatan) nabi-nabi terdahulu. Allah akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hazrat Abu Bakar ra. mengurus umat Islam sesudah kewafatan Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw.”

Sebelum Al-Wasiat terbit, terlebih dahulu sudah ada badan-badan yang mengurus masalah pekerjaan-pekerjaan, pendidikan dan tabligh, yakni yang mengurus sekolah-sekolah dan majalah. Kemudian untuk mengurus Bahesyti Maqbarah, tempat perkuburan tersebut, telah pula dibentuk sebuah badan baru. Namun atas permintaan beberapa murid beliau as, pada bulan Desember 1906, badan urusan wasiat atau Bahesyti Maqbarah itu diganti dengan sebuah lembaga yang mengurus sekolah-sekolah, majalah Review of Religions, Bahesyti Maqbarah tempat perkuburan itu, dan urusan-urusan lainnya. Yakni sebuah lembaga yang dinamakan Sadr Anjuman Ahmadiyah yang berpusat di Qadian.

Kewafatan Mirza Mubarak Ahmad

Pada bulan September 1907, seorang putera Hazrat Ahmad as. yang bernama Mirza Mubarak Ahmad wafat dalam usia delapan setengah tahun, sesuai kabar ghaib yang telah disiarkan ketika anak itu lahir.

Sementara itu dalam tahun ini juga telah didirikan cabang-cabang Sadr Anjuman Ahmadiyah di kota-kota lain.

Tamu Dari Amerika

Pada tahun 1907 itu telah datang tiga orang Amerika dua laki-laki dan seorang perempuan — ke Qadian untuk berjumpa dengan Hazrat Ahmad as.. Mereka lama berbincang-bincang dengan beliau as. dan beliau telah menjelaskan kepada mereka tentang kedatangan Nabi Isa yang kedua kalinya.

Konferensi Agama Pihak Ariya

Pada tahun 1907 itu juga telah timbul kekacauan dan huru-hara di daerah Punjab. Oleh sebab itu Hazrat Ahmad as. menganjurkan kepada Jemaat beliau agar tetap setia kepada pemerintah. Dan di beberapa tempat Jemaat Ahmadiyah bekerja semata-mata untuk mencegah dan mengamankan huru-hara tanpa mengharapkan suatu apapun.

Pada bulan Desember 1907, orang-orang Ariya di Lahore menyelenggarakan konferensi agama, dan mengundang pihak-pihak dari agama lainnya. Mereka menetapkan sebuah persyaratan, bahwa para pengikut suatu agama tidak boleh menyerang agama lain dan mereka sendiri pun berjanji akan mentaati persyaratan itu. Mereka minta pula Hazrat Ahmad as. untuk menghadiri konferensi itu. Ketika itu beliau as. mengatakan bahwa beliau merasakan adanya tipu muslihat dalam rencana tersebut. Namun Hazrat Ahmad as tetap menyiapkan sebuah karangan untuk dibacakan dalam acara itu.

Dalam karangan itu Hazrat Ahmad as. mengajak kaum Ariya ke arah perdamaian, dan dengan sangat halus beliau memaparkan keindahan-keindahan Islam pada mereka. Sekitar 500 orang dari Jemaat kita membeli karcis untuk menghadiri konferensi itu. Dan karena mengikuti kita, banyak orang Islam lainnya yang turut menghadiri konferensi itu.

Dalam ceramah orang-orang Ariya, mereka sangat mencaci Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw. dengan cara kotor dan menggunakan kata-kata yang sangat buruk. Kami semua mendengarkan pidato-pidato orang Ariya dengan tenteram menurut ajaran Islam, dan tidak ada yang memperlihatkan bahwa kita ditipu oleh mereka.

Kunjungan Sir Wilson ke Qadian

Pada tanggal 21 Maret 1908, Sir Wilson sebagai Financial Commissioner propinsi Punjab berkunjung ke Qadian. Hazrat Ahmad as. memerintahkan warga Ahmadi menyambut dan menghormati Sir Wilson, serta menyediakan sebuah kemah di lapangan sekolah, dan memberikan jamuan kepadanya.

Para penentang Hazrat Ahmad sudah lama menyebarluaskan isu bahwa beliau anti pemerintah, sebab tidak suka bergaul dengan para pembesar negeri. Maka dengan amal perbuatan nyata beliau as. telah membersihkan tuduhan itu. Hazrat Ahmad as. sendiri beserta tujuh atau delapan tokoh Ahmadi lain pergi menemui tamu tersebut. Sir Wilson pun menerima Hazrat Ahmad as. dengan sangat hormat di depan pintu kemahnya, dan menanyakan berbagai hal tentang Jemaat Ahmadiyah.

Satu hal yang penting dalam pembicaraan tersebut ialah tentang Muslim League yang baru saja didirikan pada waktu itu. Para pembesar pemerintah Inggris waktu itu sangat menyetujui anggaran dasar partai Muslim League tersebut, dan menganggap bahwa partai ini benar-benar akan dapat menjauhkan kesalahan-kesalahan yang ditimbulkan oleh partai Kongres.

Bahkan ada juga para pembesar negeri yang dengan halus menganjurkan tokoh-tokoh terkemuka dan rakyat untuk masuk ke dalam partai tersebut. Sir Wilson pun menceritakan tentang Muslim League ke Hazrat Ahmad as. dan menanyakan tanggapan beliau as.. Hazrat Ahmad as. menerangkan, beliau tidak begitu menyetujuinya. Sir Wilson memuji lagi lembaga itu. Hazrat Ahmad as. menerangkan bahwa lembaga itu dapat membahayakan. Sir Wilson menyatakan, lembaga ini jangan disamakan dengan partai Kongres, karena dari permulaan pun telah kelihatan bahwa partai Kongres akan melampaui batas-batas yang diinginkan, tetapi lembaga yang satu ini telah didirikan atas undang-undang dan peraturan yang sedemikian rupa sehingga tidak akan menyerupai partai Kongres.

Seorang murid Hazrat Ahmad as. bernama Khwaja Kamaluddin — yang mendirikan Woking Mission dan menerbitkan majalah Muslim India — juga menyatakan persetujuannya atas keteranngan Sir Wilson. Ia menerangkan bahwa ia pun ikut menjadi anggota partai tersebut karena undang-undang dasarnya bagus dan jauh dari bahaya.

Tetapi Hazrat Ahmad as. menjawab, ” Saya merasa lembaga ini pun nanti pada suatu waktu akan menyerupai partai Kongres, dan caranya ikut campur dalam politik negeri akan berbahaya juga.”

Kini setiap orang yang memperhatikan masalah politik dapat menyaksikan kebenaran ucapan Hazrat Ahmad as. yang telah menjadi sempurna itu.

Perjalanan Terakhir

Pada tanggal 27 April 1908, berhubung karena sakitnya ibu kami, Hazrat Mu’minin (istri Hazrat Ahmad as., yang bernama Nusrat Jahan Begum ra. -pen.), beliau akan berangkat ke Lahore. malam itu beliau as. mendapat ilham :

Janganlah mengabaikan permainan zaman1

Hazrat Ahmad as. menerangkan bahwa ilham ini mengisyaratkan pada suatu peristiwa yang akan menyedihkan. Justru pada malam itu juga, adik kami, Mirza Syarif Ahmad jatuh sakit. Namun Hazrat Ahmad as. tetap memaksakan untuk berangkat.

Ketika sampai di Batala — stasiun kereta api terdekat dari Qadian — pada waktu itu diketahui bahwa karena ada huru-hara di perbatasan, hanya sedikit kereta api yang digunakan untuk keperluan umum. Maka Hazrat Ahmad as. terpaksa menunggu dua tiga hari di Batala, kemudian barulah diperoleh sebuah gerbong bagi beliau as.. Dan beliau menceritakan kepada kami anggota keluarga, bahwa beliau mendapat ilham yang menakutkan, dan juga mendapat beberapa hambatan di perjalanan. Oleh karena itu beliau as. menetapkan untuk sementara waktu menetap dulu di Batala dan memanggil seorang dokter perempuan.

Tetapi istri beliau as. meminta supaya tetap melanjutkan perjalanan ke Lahore. Setelah dua tiga hari, beliau as. meneruskan perjalanan ke Lahore. Kedatangan Hazrat Ahmad as di Lahore menimbulkan keributan besar. Dan sebagaimana biasanya, para ulama berkumpul untuk menentang beliau as.

Di sebuah lapangan yang tidak begitu jauh dari rumah tempat Hazrat Ahmad as. menginap, setiap hari dari jam empat sore sampai jam sembilan malam para penentang itu menyelenggarakan pidato-pidato yang menghina dan mencaci maki beliau as. dengan kata-kata kotor. Para murid beliau as. yang terpaksa harus melalui kawasan itu, menyatakan keprihatinan atas kata-kata kotor para penentang tersebut. Hazrat Ahmad as. memberi nasihat kepada murid-murid beliau bahwa cacian dan kata-kata kotor itu sedikit pun tidak merugikan kita, maka jangan perdulikan hal itu, bahkan tidak perlu memandang ke arah itu.

Oleh karena Hazrat Ahmad as. akan menetap agak lama di Lahore, maka orang-orang Ahmadi dari kota-kora lain pun banyak berdatangan dan berkumpul di Lahore. Setiap waktu ramai orang yang datang untuk berjumpa dengan beliau as..

Umumnya orang-orang kaya di seluruh dunia kurang memberikan perhatian agama. Maka untuk menyampaikan tabligh kepda orang-orang kaya di Lahore, Hazrat Ahmad as. melalui seorang hartawan yang telah beriman kepada beliau as. mengundang orang-orang kaya lainnya dala sebuah jamuan khusus. Sebelum jamuan disajikan, Hazrat Ahmad as menyampaikan sebuah pidato yang agak panjang. Baru satu jam beliau as. berbicara, sudah ada seorang dari hadirin yang menyatakan kebosanannya. Tetapi hadirin lainnya segera membantah dan mendesak supaya santapan rohani itu dilanjutkan. Maka Hazrat Ahmad as. pun meneruskan pidato beliau setengah jam lamanya.

Ada yang salah paham tentang pidato tersebut, bahwasanya hazrat Ahmad as. telah menarik kembali penda’waan beliau sebagai nabi. Dan berita yang berisikan kesalah- pahaman itu dicetak pula oleh sebuah surat kabar bernama Akbhar-e-Aam Lahore.

Hazrat Ahmad as. pun segera membantah berita yang salah itu dan menyiarkan sebuah karangan yang berjudul Ek Ghalathy Ka Izalah, yakni memperbaiki suatu kesalahan. Beliau as. menjelaskan :

“Saya memang menda’wakan sebagai nabi dan sama sekali tidak pernah menarik kembali penda’waan itu. Hanya saja saya tidak membawa syariat baru, dan tetap hanya satu syariat saja, yang dibawa oleh Junjungan yang Mulia Nabi Muhammad saw..”

Kewafatan Hazrat Ahmad as.

Hazrat Ahmad as. sering terserang penyakit diare, dan kali ini setelah tiba di Lahore penyakit ini menyerang dengan lebih hebat lagi. Orang-orang tidak henti-hentinya datang menjumpai beliau, sehingga beliau tidak dapat waktu yang cukup untuk istirahat. dalam keadaan sakit demikian beliau as. menerima sebuah ilham :

Waktu berangkat telah tiba, lalu waktu untuk berangkat telah tiba2

Ilham ini menimbulkan kekhawatiran pada banyak orang. Lalu datang pula sebuah berita dari Qadian bahwa seorang Ahmadi mukhlis disana telah wafat. Sebagian orang mulai menganggap bahwa ilham tersebut berkenaan dengan Ahmadi yang telah wafat itu. Tetapi Hazrat Ahmad as. menjelaskan bahwa ilham itu adalah tentang seseorang yang terkemuka dalam Jemaat Ahmadiyah, dan bukan tentang orang yang telah wafat tersebut.

Karena perasaan yang ditimbulkan oleh ilham itu, Hazrat Ummul Mu’minin mengajak Hazrat Ahmad as. pulang ke Qadian. Hazrat Ahmad as. menjawab :

“Sekarang saya tidak kuasa lagi untuk pulang, dan jika Allah mau membawa nanti, saya dapat juga sampai ke Qadian.”

Meski pun beliau telah menerima ilham itu dan dalam keadaan sakit, Hazrat Ahmad as. tetap saja sibuk dalam pekerjaan beliau. Dalam keadaan sakit itu beliau merencanakan sebuah pidato untuk menimbulkan kecintaan dan perdamaian antara Hindu dan Muslim. Hazrat Ahmad as. mulai menulis pidato tersebut, yang diberi nama Peygham-e-Suluh yang artiinya : Himbauan ke Arah Perdamaian.

Pekerjaan ini semakin melemahkan tubuh belaiu as. dan penyakit buang-buang air pun bertambah parah. Sebelum karangan pidato tersebut selesai, pada malam hari itu Hazrat Ahnad as. mendapat ilham dalam bahasa Farsi :

Janganlah menyandarkan diri pada umur yang tidak kekal3

Hazrat Ahmad as. menyampaikan ilham ini kepada anggota keluarga beliau, dan menerangkan bahwa, “Ilham ini adalah tentang diri saya.”

Keesokan harinya naskah pidato itu telah selesai dan diserahkan untuk dicetak. Setelah itu pada waktu malam, penyakit Hazrat Ahmad as. semakin parah dan sangat melemahkan tubuh beliau. Hazrat Ummul Mu’minin bangun dan terkejut melihat keadaan beliau as. yang sudah benar-benar lemah, lalu menanyakan kenapa. Hazrat Ahmad as. menjawab, “Sekarang saat kewafatan saya sudah tiba.”

Kemudian beliau as. buang air lagi, dan kondisi beliau menjadi sangat lemah. Beliau memerintahkan agar memanggil Hazrat Mlv. Nuruddin ra. (tabib yang ahli dan seorang Ahmadi Mukhlis). Kemudian beliau as. meminta agar membangunkan Mahmud (penulis buku ini) dan Mir sahib (mertua beliau as.)

Tempat tidur saya tidak jauh dari tempat tidur beliau as.. Saya pun bangun dan melihat keadaaan beliau yang sangat gelisah. Para dokter telah datang, dan mulai mengobati beliau. Tetapi obat-obat itu tidak dapat menolong. Akhirnya beberapa obat diberikan melalui suntikan, dan beliau pun dapat tertidur. Pada waktu Subuh, Hazrat Ahmad as. terbangun dari tidur, dan melaksanakan shalat Subuh. Suara beliau as serak, sehingga sulit berbicara. Kemudian beliau meminta pena dan tinta untuk menulis sesuatu, tetapi karena terlalu lemah, Beliau tidak mempu memegang pena lagi dan tidak dapat menulis. beliau pun merebahkan diri di atas tempat tidur. Tidak lama kemudian tampak beliau as. seperti tertidur.

Pada tanggal 26 Mei 1908, pukul 10:30 pagi Hazrat Ahmad as. Telah mengkhidmati agama-Nya. Innaa lillahi wa innaa illayhi roji’uwn.

Sewaktu sakit, hanya satu perkataan yang selalu beliau ucapkan, yaitu “Allah”.

Kabar tentang kewafatan Hazrat Ahmad as. dengan cepat tersebar keseluruh Lahore. Jemaat Ahmadiyah di tempat-tempat lain -pun diberitahukan dengan telegram pada petang hari itu dan esok harinya, surat-surat kabar diseluruh India memuat berita tentang kewafatan beliau as..

Selama hidup, Hazrat Ahmad as. senantiasa bersikap halus dan sopan terhadap musuh-musuh beliau. Akan tetapi ketika beliau as. wafat, para musuh beliau memperlihatkan kebencian dan dendam mereka, dengan melakukan berbagai macam perbuatan yang hina.

Setengah jam setelah kewafatan beliau as., sebuah rombongan besar orang-orang yang tidak senang terhadap beliau as. telah berkumpul didepan rumah tempat tinggal beliau di Lahore. Mereka berteriak dan bersorak-sorak, serta melakukan berbagai macam tindakan yang menampakan kekotoran batin mereka.

Jemaat Hazrat Ahmad as. sangat mencintai beliau. Mereka menyaksikan jenazah beliau di hadapan mereka. Namun karena kecintaan yang tinggi, mereka hampir tidak sudi menerima kenyataan bahwasanya beliau as. telah wafat, berpisah dari mereka untuk selama-lamanya. Murid-murid Nabi Isa Israili dahulu sangat heran melihat Nabi Isa as. masih tetap hidup setelah disalib. Tetapi murid-murid Masih Mau’ud as. yang sekarang justru sangat heran melihat beliau as. telah wafat. Seribu tiga ratus tahun sebelumnya, ketika Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw. — Khaataman Nabiyyin, penghulu sekalian Nabi — telah wafat, seorang penyair Muslim pernah mengungkapkan perasaan hatinya sebagai berikut:

Engkau lah biji mataku,

kewafatanmu telah menghilangkan penglihatanku;

kini setelahmu, siapa pun yang meninggal aku tidak perduli,

sebab hanya kewafatnmu lah yang daku risaukan.

Kini setelah 1300 tahun, kita menyaksikan lagi keadaan semacam itu atas wafatnya Hazrat Ahmd as. — seorang murid Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw. Orang-orang yang telah beriman kepada Hazrat Ahmad as. sangat berduka dan bersedih hati atas kewafatan beliau. Seolah-olah dunia telah menjadi gelap bagi mereka. Hingga sekarang pun mereka tetap berduka demikian di dalam hati. Walaupun sudah seabad mereka tidak akan dapat melupakan suasana tersebut — tatkala Rasul Allah, Hazrat Ahmad as. yang mereka cintai itu masih hidup dan bergaul dengan mereka. Kedukaan hati dapat mempengaruhi dan menggelisahkan manusia. Saya pun sewaktu , menceritakan keawafatan Hazrat Masih Mau’ud as. ini telah jauh bergeser dari pokok pembahasan.

Saya telah ungkapkan tadi bahwa Hazrat Ahmad as. wafat pada pukul 10:30 pagi. Kemudian segera diatur segala yang perlu untuk membawa jenazah beliau as. ke Qadian. Dengan kereta api sore, pada hari itu juga, jenazah beliau as. disertai rombongan besar Jemaat Ahmadiyah, diberangkatkan ke Qadian. Demikianlah telah sempurna ilham beliau as. (dalam bahasa Urdu berikut ini) yang telah dicetak sebelumnya :

Jenazahnya telah dibawa dengan terbungkus kain kafan4.

Setelah turun di stasiun Batala, jenazah Hazrat Ahmad as. diusung sampai ke Qadian. Sebelum beliau dikebumikan Jemaat yang berada di Qadian dan ratusan wakil Jemaat Ahmadiyah dari tempat-tempat lainnya dengan sepakat telah mamilih Hazrat Haji Maulvi Nuruddin sebagai pengganti beliau as. dan sebagai Khalifatul Masih Awwal. Dan mereka pun bai’at kepadanya. Demikianlah kabar ghaib yang tercetak di dalam buku Al-Wasiat Hazrat Ahmad as. telah menjadi sempurna:

“Allah Taala akan menegakkan orang yang akan mengurus Jemaat ini sebagaimana Hazrat Abu Bakar ra. mengurus umat Islam sesudah kewafatan Junjungan Yang Mulia Nabi Muhammad saw..”

Kemudian Hz. Khalifatul Masih Awwal ra. memimpin shalat jenazah Hazrat Ahmad as.. Dan setelah Zuhur, jenazah hazrat Ahmad as. dikebumikan.

Demikian pula telah sempurna ilham Hazrat Ahmad as. yang beliau terima pada bulan Desember 1907, dan yang telah dicetak sebelumnya:

Sebuah peristiwa pada tanggal 275.

Hazrat Ahmad as. wafat pada tanggal 26 Mei 1908, dan dikebumikan di Qadian pada tanggal 27 Mei 1908. Selain ilham tersebut, ada lagi ilham (dalam bahasa Farsi) yang menjelaskan hal itu:

Telah tiba saatnya6.

Pada perstiwa kewafatan Hazrat Ahmad as., seluruh surat kabar berbahasa Inggris maupun Urdu di India — walau memusuhi — juga mengakui bahwa beliau as. adalah seorang tokoh besar zaman sekarang ini.

Wassalam
Hadhrat Al Hajj Basyiruddin Mahmud Ahmad ra.
Khalifatul Masih II