Jamaluddin Feeli

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Al-Qur’an Telah Mencakup Seluruh Kebenaran

In Uncategorized on 12 November 2009 at 01:07

Menjadi keyakinanku bahwa Kitab Suci Al-Qur’an bersifat sempurna dalam ajarannya dan lengkap berisi semua kebenaran yang ada sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah s.w.t. bahwa:
“Telah Kami turunkan kepada engkau kitab itu untuk menjelas kan segala sesuatu”. (S.16 An-Nahl:90)
serta ayat:
“Tiada sesuatu yang Kami alpakan dalam Kitab ini”. (S.6 Al-Anaam:39).
Tetapi aku juga berpendapat bahwa bukanlah fungsi dari setiap ulama atau maulvi untuk mengemukakan dan mencanangkan masalah-masalah keagamaan dari Al-Qur’an. Ini adalah fungsi dari orang-orang yang secara khusus telah ditolong oleh wahyu Ilahi sebagai bagian dari semi Kenabian atau kesucian. Mereka yang bukan penerima wahyu, sebenarnya tidak cukup kompeten untuk mengemukakan wawasan Al-Qur’an. Satu-satunya cara terbaik bagi mereka adalah menerima semua ajaran yang telah diterima turun temurun tanpa berusaha ingin menafsirkan Al-Qur’an.
Mereka yang memperoleh pencerahan dengan Nur wahyu suci termasuk di antara mereka yang disucikan. Kepada mereka inilah Allah s.w.t. dari waktu ke waktu membukakan mutiara-mutiara hikmah yang tersembunyi di dalam Al-Qur’an serta menjelaskan kepada mereka bahwa Hadzrat Rasulullah s.a.w. tidak ada menambah-nambahkan apa pun pendapat beliau sendiri ke dalam Al-Qur’an, disamping mengemukakan bahwa Hadits yang sahih hanya mengemukakan rincian dari prinsip-prinsip dan pengarahan yang ada di dalam Al-Qur’an. Dengan diungkapkannya wawasan ini maka mukjizat Al-Qur’an jadi merona nyata bagi mereka dan kebenaran dari ayat-ayat yang menurut Allah s.w.t. “tiada sesuatu yang Kami alpakan dalam Kitab ini”. menjadi jelas bagi mereka. (Al-Haq, Mubahisa Ludhiana, Qadian, 1903, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 4, hal. 80-81, London, 1984).
* * *
Makna daripada ayat:
“Dia-lah yang telah mengutus di tengah-tengah bangsa yang butahuruf seorang rasul dari antara mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka Tanda-tanda-Nya, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah”. (S.62 Al-Jumuah:3)
ini ialah untuk menunjukkan bahwa Kitab Suci Al-Qur’an mempunyai dua tujuan akbar yang untuk itu maka telah diutus Hadzrat Rasulullah s.a.w. Yang pertama adalah hikmah kebijaksanaan Al-Qur’an yaitu yang berkaitan dengan wawasan dan mutiara-mutiara hikmah yang dikandungnya. Yang kedua adalah pengaruh dari Al-Qur’an dalam menyucikan batin.
Penjagaan Al-Qur’an tidak saja berarti memelihara keutuhan teksnya, karena fungsi seperti ini juga telah dilakukan oleh umat Yahudi dan Kristiani berkaitan dengan Kitab-kitab suci mereka sejak dahulu, sedemikian rupa sehingga tekanan huruf-huruf hidup (vowel) dari Kitab Taurat pun mendapat perhatian mereka. Yang dimaksud dengan penjagaan Al-Qur’an tidak saja hanya memelihara teksnya tetapi juga memelihara kemaslahatan dan pengaruh Kitab tersebut dan hal ini bisa dilakukan sejalan dengan pengelolaan Ilahi jika dari waktu ke waktu selalu didatangkan wakil-wakil dari Hadzrat Rasulullah s.a.w. dimana mereka ini memperoleh berkat Kerasulan sebagai pantulan refleksi wujud beliau. Hal ini diindikasikan dalam ayat:
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang dari antara kamu yang beriman dan bermuat amal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah-khalifah di muka bumi ini sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah-khalifah dari antara orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridhoi bagi mereka dan niscayalah Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. Mereka akan menyembah kepada-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Daku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang yang durhaka”. (S.24 An-Nur:56).
Ayat ini menjelaskan makna dari ayat lainnya yaitu:
“Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan peringatan ini dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya”. (S.15 Al-Hijr:10)
sebagai jawaban atas pertanyaan tentang bagaimana Al-Qur’an itu akan dijaga. Allah yang Maha Agung telah berfirman bahwa dari waktu ke waktu Dia akan mengirimkan pewaris Hadzrat Rasulullah s.a.w.
(Shahadatul Qur’an, Panjab Press, Sialkot, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 6, hal. 338-339, London, 1984).

oleh Mirza Ghulam Ahmad pendiri Jemaat Ahmadiyah

Iklan

Tanda-tanda kebenaran Al-Qur’an sebagai Kitab Ilahi

In Uncategorized on 12 November 2009 at 01:07

Cara yang pasti, mudah, sempurna, tanpa kesulitan, tanpa susah payah, tanpa keraguan atau kecurigaan, tanpa kesalahan atau kealpaan, berikut prinsip-prinsip yang benar yang dilengkapi dengan argumentasi yang mendukung serta memberikan keyakinan yang sempurna adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Tidak ada Kitab atau pun sarana lainnya yang bisa memberikan sarana guna pencapaian tujuan akbar tersebut. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 77, London, 1984).
* * *
Tanda jelas yang digunakan seorang yang berpikir untuk mengenali suatu Kitab yang diwahyukan hanya bisa ditemukan di dalam Kitab Suci dari Allah yang Maha Kuasa yaitu Al-Qur’an. Di masa ini semua sifat-sifat yang seharusnya bisa ditemukan sebagai tanda yang jelas dari suatu Kitab Ilahi nyatanya tidak terdapat di dalam Kitab-kitab lainnya. Bisa jadi Kitab-kitab tersebut ada memiliki sifat-sifat tersebut di masa awalnya, tetapi yang jelas sekarang ini sudah tidak ada lagi.
Cara yang pasti, mudah, sempurna, tanpa kesulitan, tanpa susah payah, tanpa keraguan atau kecurigaan, tanpa kesalahan atau kealpaan, berikut prinsip-prinsip yang benar yang dilengkapi dengan argumentasi yang mendukung serta memberikan keyakinan yang sempurna adalah Kitab Suci Al-Qur’an. Tidak ada Kitab atau pun sarana lainnya yang bisa memberikan sarana guna pencapaian tujuan akbar tersebut. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 77, London, 1984).
* * *
Tanda jelas yang digunakan seorang yang berpikir untuk mengenali suatu Kitab yang diwahyukan hanya bisa ditemukan di dalam Kitab Suci dari Allah yang Maha Kuasa yaitu Al-Qur’an. Di masa ini semua sifat-sifat yang seharusnya bisa ditemukan sebagai tanda yang jelas dari suatu Kitab Ilahi nyatanya tidak terdapat di dalam Kitab-kitab lainnya. Bisa jadi Kitab-kitab tersebut ada memiliki sifat-sifat tersebut di masa awalnya, tetapi yang jelas sekarang ini sudah tidak ada lagi. Berdasarkan alasan yang telah kami kemukakan, Kitab-kitab tersebut masih kami anggap sebagai sesuatu yang diwahyukan, namun dalam kondisinya sekarang ini sebenarnya Kitab-kitab itu sudah tidak ada gunanya. Kitab-kitab itu lebih mirip istana yang telah kosong dan tinggal puing-puingnya serta kalis dari kekayaan dan kekuatan. (artikel dilekatkan pada Chasma Marifat, Qadian, Anwar Ahmadiyyah Press, 1908; sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 23, hal. 402, London, 1984).
* * *
Jika ada lawan Islam yang berkeberatan atas superioritas atau lebih baiknya Al-Qur’an dibanding semua Kitab-kitab yang diwahyukan, karena hal itu berarti bahwa Kitab-kitab lainnya itu mutunya lebih rendah, padahal isinya bersumber pada Tuhan yang sama sehingga seharusnya tidak ada masalah superioritas atau inferioritas di antara Kitab-kitab tersebut, maka jawaban untuk itu ialah bahwa dari sudut pandang pewahyuan memang semua Kitab itu sama adanya, namun nyatanya yang satu lebih tinggi dari yang lain berkaitan dengan kuantitas isi dan penyempurnaan keimanan yang dikandungnya. Dari sudut pandang ini, jelas bahwa Al-Qur’an lebih unggul dibanding semua Kitab samawi lainnya karena Kitab-kitab tersebut tidak mengandung petunjuk guna penyempurnaan agama seperti masalah-masalah yang berkaitan dengan Ketauhidan Ilahi, penyangkalan segala bentuk syirik, obat penawar bagi penyakit-penyakit ruhani, argumentasi untuk menolak agama-agama palsu serta bukti-bukti dari aqidah yang benar, sebagaimana secara tegas dikemukakan dalam Al-Qur’an. (Barahin Ahmadiyah, sekarang dicetak dalam Ruhani Khazain, vol. 1, hal. 74, London, 1984)

oleh Mirza Ghulam Ahmad Pendiri Jemaat Ahmadiyah

RIWAYAT SINGKAT PENDIRI JEMAAT AHMADIYAH

In Uncategorized on 12 November 2009 at 01:02

RIWAYAT SINGKAT PENDIRI JEMAAT AHMADIYAH

Pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. berasal dari keluarga terhormat. Mirza adalah gelar yang biasa diberikan kepada kaum ningrat keturunan raja-raja Islam dinasti Moghul berasal dari Parsi (Iran). Sebutan Hadhrat biasa diberikan orang kepada wujud-wujud suci atau para rohaniawan. Sebutan Ghulam adalah nama keluarga. Sedangkan nama asli beliau adalah “AHMAD”.

Hadhrat Ahmad lahir pada tanggal 13 Februari 1835, bertepatan dengan 14 Syawal 1250 Hijrah, pada hari Jum’at di kediaman orang tua beliau sendiri, Mirza Ghulam Murthada, di dusun Qadian, yang terletak 36 mil dari kota Amritsar, Punjab, India. Keluarga Mirza yang menetap di dusun Qadian itu mempunyai hak atas seluruh Qadian dan berhak memungut pajak 5% dari tiga desa sekitarnya. Setelah mengalami kejayaan, kerajaan Moghul mengalami kepudarannya dan menjadi terpecah-pecah, lalu dilanda oleh kebangunan kembali raja-raja Hindu dan Sikh, hingga musnah sama sekali dengan datangnya Inggris.
Di zaman penjajahan Inggris ayahanda beliau berusaha mendapatkan kembali hak-hak atas tanah milik dengan membelanjakan puluhan ribu rupee untuk memenangkan tuntutan-tuntutan di meja hijau. Akan tetapi semuanya tidak berhasil. Sebagai ayah, Mirza Ghulam Murtadha menumpahkan banyak harapan kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, agar puteranya itu kelak dapat berjuang untuk memulihkan kejayaan dan pamor duniawi keluarga Mirza. Akan tetapi Hadhrat Ahmad berkecenderungan sebaliknya, bahkan beliau mengungkapkan perasaan beliau, bahwa “tidak menghendaki kekayaan dalam arti duniawi, akan tetapi kaya dalam arti rohani”. Sekedar hormat dan taat kepada ayahandanya, beliau acap kali juga menyelesaikan perkara-perkara pengadilan membantu ayahanda, akan tetapi sebenarnya beliau merasa enggan dan hati beliau selalu tertarik kepada urusan rohani dan mencari-cari kepuasan dalam berzikir dan beribadat kepada-Nya.
Kata beliau dalam sebuah syair :

“Aku punya Teman dan aku dipenuhi kecintaan-Nya.
Aku merasa muak dengan segala pangkat dan kehormatan dan
kulihat dunia dan pengikut-pengikutnya menderita kelaparan.
Namun negeri cintaku tak pernah mengalami kekurangan;
Manusia cenderung kepada kesenangan dunia,
Sedangkan aku cenderung ke Wajah yang memberi
kenikmatan dan kesahduan”.

Hadhrat Ahmad tidak pernah menduduki bangku sekolah, karena memang sekolah-sekolah tidak ada waktu itu di Qadian. Akan tetapi sebagai anak dari keluarga terhormat, beliau diasuh oleh guru-guru pribadi yang mengajarkan Al-Qur’an dan bahasa Parsi (Iran). Beliau menunjukkan bakat dan keinginan belajar yang luar biasa, dengan demikian kecintaan kepada Al-Qur’an tumbuh dan semakin meresap ke dalam hati sanubari beliau. Sebagai seorang yang mempunyai pembawaan suci, kebanyakan waktu beliau lewatkan di dalam mesjid, asyik membaca dan menelaah Al-Qur’an, dan sering orang mendapatkan beliau tengah berjalan mondar-mandir di mesjid itu dengan sebuah kitab di tangan – suatu tanda bahwa otak beliau penuh dengan daya dinamika dan hati penuh dengan kecintaan kepada Al-Qur’an.

Beberapa waktu sebelum Mirza Ghulam Murtadha wafat, Hadhrat Ahmad mimpi bahwa seorang malaikat datang kepada beliau dan menasehati beliau supaya menjalankan ibadah puasa tertentu sesuai dengan sunnah para Rasul Allah dan Waliullah untuk memungkinkan diri beliau menerima Rahmat Ilahi. Maka beliaupun menjalankan puasa-puasa itu dengan diam-diam tanpa diketahui orang. Beliau tinggal di sebuah kamar di tingkat atas dan mengatur agar makanan dibawakan ke kamar beliau. Dengan diam-diam beliau suka mengundang anak-anak yatim untuk makan bersama-sama. Sesudah dua atau tiga minggu berikutnya beliau memutuskan untuk mengurangi makanannya sedikit demi sedikit; akhirnya beliau cukupkan hanya makan sekerat roti saja untuk isi perut beliau sehari semalam. Dalam hari-hari itu banyaklah ru’ya dan kasyaf yang beliau saksikan. Puasa khusus yang beliau jalankan atas perintah Allah tersebut di atas berkali-kali dilakukan beliau dan kadang-kadang berjalan selama 9 (sembilan) bulan.
Pada tahun 1876 ketika Hadhrat Ahmad sedang tinggal di Lahore, beliau menerima ilham yang maksudnya bahwa ayah beliau akan segera tutup usia. Beliau segera pulang ke Qadian dan mendapati ayahanda sedang sakit. Beliau diberi khabar lagi oleh Allah, bahwa ayah beliau akan wafat sesudah matahari terbenam. Beliau sangat bersedih hati, karena beliau segera akan kehilangan tanah tempat berpijak dan ranting tempat bergantung. Kemudian menyusullah wahyu berikut yang berbunyi: “Alaisallaahu bikaafin ‘abdahu?”, artinya: “Apakah Allah tidak cukup bagi hamba-Nya?”. Beliau menulis dalam catatannya mengenai peristiwa itu demikian: “Waktu itu disusul oleh suatu perasaan lega, seperti layaknya suatu luka pedih tiba-tiba menjadi sembuh oleh suatu obat mujarab”. Sesuai dengan khabar ghaib itu, ayahanda beliau wafat sesudah matahari terbenam.

TAMPIL KEMUKA MEMBELA ISLAM

Pada masa itu badai perlawanan terhadap Islam menjadi-jadi, menerjang dari segala jurusan. Perlawanan yang paling sengit datang dari golongan Kristen dan sekte Hindu Arya Samaj, yang memburuk-burukkan nama dan pribadi Nabi Muhammad saw., sedangkan orang-orang Islam dijadikan bulan-bulanan, tak ubahnya seperti perahu dipermainkan gelombang samudra.

Dengan rasa pedih Hadhrat Ahmad menangkis serangan-serangan itu dengan mengirimkan artikel-artikel dalam surat-surat kabar. Di saat menghebatnya serangan-serangan itu seringlah beliau menerima ilham-ilham yang mengandung khabar ghaib, yang kelak menjadi sempurna pada waktunya. Ketika serangan-serangan semakin gencar dan ulama-ulama lain tidak kuasa menjawab dan menangkis serangan-serangan itu beliau mengambil keputusan menulis buku yang terbit dengan judul “Barahin Ahmadiyah”. Jilid pertama terbit bulan Mei 1880. Untuk menerbitkan buku itu beliau tidak mempunyai dana. Lalu beliau berdo’a kepada Allah Taala dan hasilnya pun mengalirlah.
Di dalam buku itu beliau mengungkapkan ketinggian-ketinggian Islam serta mengumumkan bahwa bila ada seorang penganut agama lain dapat menampilkan ketinggian ajaran agamanya untuk menandingi ketinggian ajaran Islam seperti yang beliau uraikan, beliau bersedia memberikan hadiah sebesar 10.000 rupee. Ternyata tidak seorang pun yang sanggup memenuhi tantangan itu.

Alim ulama Islam di India mengakui keunggulan-keunggulan yang amat besar dari beliau dalam pembelaannya terhadap Islam. Kitab “Barahin Ahmadiyah” semakin masyhur dan dari beberapa kalangan orang suci datang anjuran-anjuran kepada beliau agar beliau menerima bai’at dari orang-orang, tetapi beliau selalu mengelak. Sampai akhirnya atas perintah Tuhan maka pada bulan Desember 1888 beliau mengeluarkan pengumuman tentang perlunya bai’at. Dan bai’at yang pertama dilakukan di kota Ludhiana pada tanggal 23 Maret 1889. Pada hari itu kurang lebih 40 orang bai’at ke tangan beliau dan yang pertama adalah Al Haj Maulvi Hakim Nuruddin, keturunan langsung Sayyidina Umar r.a. yang sesudah Hadhrat Ahmad berpulang ke rahmatullah menggantikan beliau menjadi Khalifatul Masih yang pertama.

DAKWA MENJADI MASIH DAN MAHDI YANG DIJANJIKAN

Dalam tahun 1890 beliau menulis buku yang berjudul “Fatah Islam” yang disusul kemudian oleh karya berikutnya: “Tauzih Maram”. Kedua buku tersebut terbit tahun 1891 bersama kitab “Izala Auham”. Di dalam buku-buku itu beliau mengumumkan bahwa berdasarkan wahyu kepada beliau Allah Swt. telah menunjuk beliau sebagai Masih dan Mahdi yang dijanjikan. Pendakwaan beliau ini ditunjang oleh banyak ayat-ayat Al-Qur’an dan Sabda Suci Rasulullah saw. yang akan kami utarakan di pasal-pasal yang menyusul. Kita mencatat bahwa di dalam kitab “Barahin Ahmadiyah”, beliau masih memegang pendirian yang sama seperti kebanyakan kaum muslimin tentang Nabi Isa a.s. yaitu masih hidup di langit. Akan tetapi dalam tahun 1891, ketika beliau diberitahu dengan wahyu bahwa Nabi Isa a.s. telah wafat, beliau mengubah pendirian itu.

SEMINAR AGAMA-AGAMA

Pada tahun 1896, di kota Lahore, diadakan seminar agama-agama atas prakarsa beberapa tokoh yang bercita-cita hendak menghentikan sengketa antara agama di India. Dalam seminar itu wakil-wakil dari berbagai agama menampilkan lima pokok masalah, dengan syarat bahwa pengemukanya tidak boleh menyerang agama lain dan hendaknya mengemukakan dalil-dalilnya hanya berdasarkan kitab sucinya masing-masing. Kelima pokok itu adalah sebagai berikut :

1. Keadaan Jasmani, Akhlak dan Rohani manusia.

2. Keadaan manusia sesudah mati.

3. Maksud hidup manusia dalam dunia ini dan jalan untuk mencapainya.

4.Akibat dan natijah dari perbuatan dan amal manusia di dunia ini dan di akhirat.

5. Jalan-jalan untukmemperoleh ilmu dan ma’rifat.

Oleh Panitia Seminar tersebut beliau pun di minta untuk ambil bagian dan beliau menjanjikan akan turut. Sebelum seminar berlangsung, dari awal beliau sudah diberi khabar oleh Allah Taala bahwa karangan beliau akan unggul. Khabar itu beliau umumkan dalam surat-surat selebaran. Beliau sendiri tidak dapat hadir pada seminar itu, dan mengutus salah seorang pengikut beliau, Maulvi Abdul Karim, yang mendapat kehormatan membacakan karangan beliau.

Semua surat kabar mengakui dalam laporan masing-masing tentang keunggulan karangan beliau. The Theosophical Book Notes menulis: “Penampilan tentang agama Muhammad yang terbaik dan paling menarik, yang baru kita jumpai”.

Karangan beliau itu telah diterbitkan dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia dengan judul “Filsafat Ajaran Islam” dan bahasa Inggris dengan judul “The Teaching of Islam”.

Mengenai karangan itu pujangga Rusia kenamaan, Leo Tolstoy, menulis: “The ideas are very profound and very true”, yakni”gagasan-gagasannya sangat dalam dan benar”.

Harian “Bristol Times and Mirror” memberikan ulasan “Jelas, bukan orang sembarangan yang berdialog dengan orang Barat”.

“The Muslim Review” (India) menulis: “Dengan membacanya ternyata menghilangkan banyak salah pengertian tentang Islam”.

Semenjak beliau mendakwakan diri sebagai Masih dan Mahdi yang dijanjikan, tak ada lagi waktu yang terluang bagi beliau. Beliau seorang diri menghadapi perlawanan dari pihak musuh-musuh Islam dan bahkan dari kalangan kaum muslimin sendiri yang tidak menyadari tugas suci beliau, dan yang sama-sama melancarkan bermacam-macam fitnahan. Tetapi Allah Swt. selamanya menyelamatkan beliau dari segala fitnahan dan kesulitan-kesulitan yang ditimpakan kepada beliau dan Jemaatnya.

Pada tahun 1893 terbit buku beliau “Aina Kamalati Islam” yang berisikan uraian-uraian yang mencerminkan keindahan dan keluhuran agama Islam. Juga di dalam buku ini terdapat seruan kepada Ratu Victoria dari Inggris untuk memeluk agama Islam. Dengan kata-kata yang gagah dan berwibawa beliau menulis:
“Wahai Sri Baginda Ratu! Berlimpah-limpah kebajikan Tuhan yang Dia anugerahkan kepada Sri Baginda Ratu dalam urusan duniawi, kini dambakanlah kerajaan rohani. Bertaubatlah dan taatilah Dia yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai serikat dalam Kerajaan-Nya dan sanjunglah Dia ….”
Wahai Sri Baginda Ratu, terimalah Islam dan Baginda akan selamat”.

Pada tahun 1900 beliau menyempurnakan da’wah beliau kepada kaum Kristen dengan mengajak pendeta-pendeta di kota Lahore untuk “meminta Keputusan Ilahi” supaya Dia menyatakan siapa yang berdiri di pihak yang betul dan siapa di pihak yang bathil. Tetapi tantangan ini tidak diterima.

Pada tahun 1902 beliau mengarahkan pandangan ke Bangsa Eropa lalu menerbitkan majalah berbahasa Inggris bernama “Review of Religions” untuk mengajak orang-orang Eropa masuk ke pangkuan Islam.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. berpulang ke rahmatullah pada tanggal 26 Mei 1908 dan dikebumikan di Qadian setelah memberi pesan terakhir kepada Jemaatnya dalam Kitab “Al Wasiyat”. Beliau meninggalkan pengikut sebanyak 200.000 orang yang setia dan saleh.

TUGAS-TUGAS IMAM MAHDI A.S.

Yang dibebankan oleh Allah Taala di pundak beliau, secara singkat adalah sebagai berikut :

1. Memperkenalkan kepada dunia tentang Tuhan Yang Maha Hidup dan Berkata-kata, seperti dahulu Dia Hidup dan Berkata-kata.

2. Menghilangkan segala rintangan dan hambatan yang menghalangi antara Khalik dan makhluk-Nya.

3. Memperkenalkan kepada dunia, bahwa Al-Qur’an-lah satu-satunya Kitab Suci dan Muhammad-lah satu-satunya Nabi yang sanggup menuntun ummat manusia ke jalan kebenaran dan yang diridhai oleh Allah Taala.

4.Membendung arus orang-orang Islam yang menyeberang ke agama Kristen dan lain-lain.
5. Menggembalakan ummat Islam di bawah naungan seorang Imam dengan perantaraan Khalifah-khalifah pilihan Tuhan.
6. Membuktikan kepada dunia bahwa Islam adalah agama yang hidup dan sanggup menjawab segala tantangan dan persoalan kehidupan ummat manusia di segala zaman.

Sumber Buku : Kami Orang Islam JAI,2007 h.22-26

NABI ISA AKAN DATANG

In Uncategorized on 27 Oktober 2009 at 06:33

HADITS-HADITS TENTANG KEDATANGAN NABI
SESUDAH RASUL SUCI MUHAMMAD SAW

اَنَّ لَهُ مُرْضِعًا فىِ الْجَنَّةِ وَلَوْعَاشَ لَكَانَ صِدِّيْقًا نَبِيًا. ( تاريخ ابن عساكر, جلد  ص )

Artinya:
Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, berkatalah ia: Tatkala wafat putra Rasulullah saw. yang bernama Ibrahim, anak dari istri nabi yang bernama Mariah Qibtiyyah, beliau sembahyangkan jenazahnya dan berkata: “Sesungguhnya di sorga ada pengasuhnya dan sekiranya usianya panjang, tentu ia (Ibrahim) akan menjadi seorang nabi yang benar”.

Peristiwa wafat Ibrahim tersebut terjadi pada tahun kesembilan Hijrah, sedangkan ayat khataman nabiyyin turunnya pada tahun lima Hidjrah. Jadi ucapan beliau itu, beliau berikan empat tahun sesudah beliau menerima ayat khataman nabiyyin. Jadi sekiranya ayat khataman nabiyyin itu berarti kesudahan nabi,maka seharusnya beliau saw. berkata: sekiranya usianya panjang sekalipun, ia tidak akan bisa menjadi nabi, karena aku penghabisan nabi. Jadi jelas, bahwa Nabi saw. yang menerima wahyu tersebut tidak mengartikan khatam dengan kesudahan atau penghabisan.

Sabda Rasulullah saw. itu dapat diberi kesimpulan sebagai berikut :

1. Nabi bisa datang sesudah beliau,
2. Putra beliau tidak menjadi nabi karena wafat dalam usia kecil
3. Anak beliau Ibrahim pasti akan menjadi nabi, jika usianya panjang.
4. Kemungkinan ada nabi tidak hanya lama sesudah wafat beliau, tetapi di masa yang sangat berdekatan dengan masa beliau.

Dalam hadits Nawas bin Sam’an yang menceriterakan dengan panjang lebar tentang kedatangan Nabi Isa yang dijanjikan akan datang di akhir zaman, terdapat 4 (empat) kali perkataan Nabi :

وَيُحْصَرُ نَبِيُّ الله ِعِيْسى وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة)

(Nanti Nabi Isa dengan sahabat-sahabatnya akan dikepung)

فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيْسى وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة)

(Nanti Nabi Allah Isa akan memanjatkan do’a kepada Allah)

ثُمَّ يَهْبِطُ نَبِيُّ اللهِ عِيْسى وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة)

(Kemudian turunlah Nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya)

فَيَرْغَبُ نَبِيُّ اللهِ عِيْس وَاَصْحَابُهُ. (مشكوة)

(Maka berdo’alah Nabi Allah Isa dan sahabat-sahabatnya)
(Muslim, Misykat, halaman 474)

Dalam hadits Muslim tersebut, empat kali Rasulullah saw. menggunakan perkataan nabi terhadap Isa yang telah dijanjikan kedatangannya oleh beliau saw. sendiri di akhir zaman, sebelum hari kiamat. Maksudnya jelas Nabi saw. sendiri berpendirian, bahwa beliau bukanlah nabi yang penghabisan, karena Nabi Isa yang akan datang di akhir zaman, beliau saw katakan nabi juga.

اَبُوْبَكْرٍ اَفْضَلُ هذِهِ اْلاُمَّةِ اِلاَّ اَنْ يَكُوْنَ نَبِيٌ. (كنوزالحقائق فى حديث خيرالخلائق )

Artinya :
“Abu Bakar adalah orang yang lebih afdhal(mulia) dari antara ummat ini, kecuali apabila dari ummat ada yang berpangkat nabi”.

Maksudnya terang, Abu Bakar yang berpangkat shiddiq itu adalah yang termulia di antara seluruh ummat Islam dan jika ada yang melebihi beliau, maka hanya seorang Islam yang berpangkat nabi. Sebab pangkat nabi itu lebih tinggi dari pangkat shiddiq.

Sumber:
Buku Kami Orang Islam

KEBENARAN PENDIRI AHMADIYAH

In Uncategorized on 27 Oktober 2009 at 06:26

KEBENARAN PENDIRI JEMAAT AHMADIYAH
MENURUT AL-QUR’AN DAN HADITS

Allah Taala berfirman dalam Al-Qur’an Syarif, surah Al-Baqarah ayat 285 :

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ (٢٨٥)

Artinya:
“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Pada zaman ini Allah Swt. telah membangkitkan seorang Utusan dan Rasul untuk kemajuan rohani ummat manusia di seluruh dunia, yaitu Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Masih Mau’ud dan Imam Mahdi. Banyak orang yang sudah beriman kepada beliau, tetapi sebagian besar ummat manusia dewasa ini masih belum dapat mempercayai kebenaran beliau a.s. Berikut ini kami kemukakan beberapa ayat Al-Qur’an Suci dan Hadits Sahih yang menunjang kebenaran beliau.

Firman Allah Taala dalam Al-Qur’an surah Yunus ayat 16 :

قُلْ لَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا تَلَوْتُهُ عَلَيْكُمْ وَلا أَدْرَاكُمْ بِهِ فَقَدْ لَبِثْتُ فِيكُمْ عُمُرًا مِنْ قَبْلِهِ أَفَلا تَعْقِلُونَ (١٦)

Artinya:
“Katakanlah: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak (pula) memberitahukannya kepadamu”. Sesungguhnya aku telah tinggal bersamamu beberapa lama sebelumnya Maka Apakah kamu tidak memikirkannya”?

Menurut ayat ini, orang yang mendakwakan dirinya sebagai Nabi dan Rasul haruslah orang yang suci dan tidak mempunyai keaiban sedikitpun. Begitu pulalah kehidupan Pendiri Jemaat Ahmadiyah, baik kawan maupun yang tidak menyenangi beliau mengakui keluhuran akhlak beliau.

Ulama besar India, Mohammad Husain Batalwi, yang hidup sezaman dengan Pendiri Jemaat Ahmadiyah menulis tentang Masih Mau’ud a.s. di dalam “Isyaatus sunnah”:

“Pengarang kitab Barahin Ahmadiyah sebagai yang telah disaksikan dan dilihat oleh kawan dan lawan adalah seorang yang berpegang atas syariat, lagi muttaqi dan seorang yang benar”.

Lebih lanjut dikatakannya :
“Dengan ringkas dan tidak berlebih-lebihan, kami terangkan pemandangan kami tentang kitab ini (Barahin Ahmadiyah), bahwa melihat kepada keadaan yang ada pada masa sekarang, adalah kitab ini suatu kitab yang tidak ada bandingannya, dan belum ada contohnya di dalam Islam sampai sekarang. Dan pengarangnya pun adalah seorang yang selalu tetap memajukan Islam dengan pengorbanan jiwa, tulisan dan perkataan dengan perbuatan dan kenyataan. Orang semacam ini, di antara orang Islam yang dahulu-dahulu pun jarang di dapat contohnya”.

Pengakuan ulama besar India ini ditulis sebelum pendakwaan Masih Mau’ud a.s. yang kemudian, setelah pendakwaan, sangat membenci Pendiri Jemaat Ahmadiyah.

Allah Swt. berfirman dalam surah Al-Haqqah ayat 44 – 47 :

وَلَوْ تَقَوَّلَ عَلَيْنَا بَعْضَ الأقَاوِيلِ (٤٤)
لأخَذْنَا مِنْهُ بِالْيَمِينِ (٤٥)
ثُمَّ لَقَطَعْنَا مِنْهُ الْوَتِينَ (٤٦)
فَمَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ عَنْهُ حَاجِزِينَ (٤٧)

Artinya:
“Seandainya Dia (Muhammad) Mengadakan sebagian Perkataan atas (nama) Kami, niscaya benar-benar Kami pegang Dia pada tangan kanannya, kemudian benar-benar Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorangpun dari kamu yang dapat menghalangi (Kami), dari pemotongan urat nadi itu.”.

Menurut ayat ini, jika seseorang mengaku mendapat wahyu dari Allah Swt. padahal pendusta, maka Allah Swt. sendiri akan membinasakannya. Orang yang mendapat wahyu dan ilham kemudian mendakwakan dirinya sebagai Nabi dan Rasul, ia harus hidup sekurang-kurangnya 23 tahun, dihitung sejak menerima wahyu (Kitab Nibras halaman 444). Sejak menerima wahyu pertama (1871), Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad berumur lebih dari 23 tahun (wafat 1908).

Allah Swt. berfirman dalam surat Al-Ankabut ayat 15 :

فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ وَجَعَلْنَاهَا آيَةً لِلْعَالَمِينَ (١٥)

Artinya:
“Maka Kami selamatkan Nuh dan penumpang-penumpang bahtera itu dan Kami jadikan peristiwa itu pelajaran bagi semua ummat manusia”.

Dimasa hidup Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s., India dilanda musibah penyakit ta’un (pes). Tak terhitung banyaknya orang yang meninggal dunia akibat penyakit itu. Pendiri Ahmadiyah menerima wahyu dari Allah Swt. :

إنِّي اُحَافِظُ كُلَّ مَنْ فِى الدَّارِ

Artinya:
“Aku (Allah) akan selamatkan semua orang yang ada di dalam rumahmu” (Bahtera Nuh).

Benarlah, sebagaimana dijanjikan oleh Allah Taala, semua orang yang bernaung di rumah beliau, begitu juga orang yang beriman kepada beliau dengan tulus ikhlas, seorangpun tidak ada yang terserang penyakit itu.

Allah Taala berfirman dalam surah Al-Mujadalah ayat 21 :

كَتَبَ اللَّهُ لأغْلِبَنَّ أَنَا وَرُسُلِي إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (٢١)

Artinya:
“Allah telah menetapkan: “Aku dan rasul-rasul-Ku pasti menang”. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.”.

Pendiri Jemat Ahmadiyah mendapat wahyu dari Allah Taala yang bunyinya :

“Aku akan sampaikan tablighmu ke pelosok-pelosok dunia”. Kebenaran kedua wahyu ini telah terbukti dan dari hari ke hari semakin nyata dalam perjuangan Jemaat Ahmadiyah. Pendiri Jemaat Ahmadiyah tatkala beliau masih hidup telah mendapat tantangan keras dari segala penjuru. Akan tetapi janji Allah Taala lewat wahyu tersebut telah terbukti kebenaran pendakwaan beliau yang disertai dalil-dalil yang unggul. Kebenaran lainnya adalah bahwasanya sampai hari ini missi-missi yang diteruskan oleh para Khalifahnya telah tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Allah Taala berfirman dalam surah Al-Jin ayat 26 – 27

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦)
: إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (٢٧)

Artinya:
“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu., kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.”.

Hadhrat Masih Mau’ud (Pendiri Jemaat Ahmadiyah) mendapat wahyu dari Allah Swt.:
“Seorang Pemberi-Ingat datang di dunia, tapi dunia tidak menerimanya. Allah-lah yang akan menerimanya dan akan menzahirkan kebenarannya dengan serangan-serangan hebat”.

Wahyu ini menyatakan, bahwa Jemaat beliau akhirnya akan dimenangkan oleh Allah Taala dengan pertolongan-Nya yang khas. Penentang-penentang dan musuh-musuh beliau yang besar di antaranya: Alexander Dowie, pemimpin kaum Kristen di Amerika Serikat, mati dengan kehinaan pada tahun 1907. Abdullah Atham, pendeta Kristen di India, mati dengan keaiban pada tahun 1896. Lekhram, pemimpin kaum Hindu terbunuh pada tahun 1897 dengan kesedihan, dan lain-lain.

Kebiasaan mereka itu semuanya sesuai dengan khabar ghaib yang diterima oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Pembelaan yang dilakukan oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah adalah semata-mata pembelaan untuk kemuliaan, kesucian Islam dan Rasulullah saw., karena ketiga tokoh agama itu senantiasa memaki, menghina dan memburuk-burukkan agama Islam dan Nabi Muhammad saw.

Allah Taala berfirman dalam surah Al-Jum’ah ayat 3 :

وَآخَرِينَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوا بِهِمْ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (٣)

Artinya:
“Dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. dan Dia-lah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”.

Tafsir dari ayat ini terdapat dalam Hadits Bukhari jilid III halaman 1560 :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ ر.ع قَالَ : كُنَّا جُلُوْسًا عِنْدَ النَّبِىّ صعلم فَأُنْزِلَتْ عَلَيْهِ سُوْرَةُ الْجُمُعَةِ (وَآخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ) قَالَ: قُلْتُ: مَنْ هُمْ ياَ رَسُوْلَ الله ؟ فَلَمْ يُرَاجِعْهُ حَتَّى سَأَلَ ثَلاَثاً, وَفِيْناَ سَلْماَنُ الْفاَرِسِىُّ وَضَعَ رَسُوْلُ اللهِ صعلم يَدَهُ عَلَى سَلْمَانَ الْفاَرِسِىِّ ثُمَّ قَالَ: لَوْكَانَ اْلإِيْمَانُ عِنْدَ الثُّرَيَّا لَناَ لَهُ رِجَالٌ أَوْ رَجُلٌ مِنْ هؤُلآءِ

Artinya:
“Abu Hurairah ra. berkata: “Pada suatu hari kami sedang duduk-duduk bersama Rasulullah saw., lalu diturunkan kepada beliau Surah Jumu’ah, pada kata-kata (Dan Dia akan membangkitkannya pada kaum lain dari antara mereka yang belum pernah bertemu dengan mereka). Saya bertanya, siapa yang dimaksud dengan mereka wahai Rasulullah? Beliau tidak menjawab hingga saya menanyakan itu sampai tiga kali. Diantara kami sedang duduk Salman al-Farisi (Salman asal Parsi) dan Rasulullah saw. meletakkan tangan beliau diatas pundak Salman, lalu bersabda: Bila iman telah terbang ke bintang Tsurayya, seorang laki-laki atau beberapa orang laki-laki dari antara mereka ini yang akan mengambilnya kembali.” (HR Bukhari, bab Tafsir Surah Jum’ah dalam kata Wa aakhariina minhum lammaa yalhaquu bihim, Jilid III, hal. 1560).

Surah Jum’ah ayat 3 diatas beserta tafsirnya ada dalam Bukhari tersebut. Sebagaimana Allah Swt. wahyukan kepada Imam Mahdi a.s. beliau tiada lain adalah Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, karena nenek moyang beliau berasal dari Persia (Iran) dan tinggal di Qadian, India. Dan beliau pulalah yang “membawa kembali iman dari bintang Tsurayya” itu.

Allah swt. berfirman dalam surah Ali Imran ayat 61 :

فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنْفُسَنَا وَأَنْفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ فَنَجْعَلْ لَعْنَةَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ (٦١)

Artinya:
“Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak Kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri Kami dan isteri-isteri kamu, diri Kami dan diri kamu; kemudian Marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta”.

Sehubungan dengan ayat ini, Hadhrat Masih Mau’ud a.s dalam kitabnya Anjame Atham halaman 65 – 67 tahun 1896 menulis :
“Orang-orang yang tidak mau mengerti dakwaanku meskipun aku telah menjelaskannya berdasarkan dalil-dalil dari Al-Qur’an Suci dan Hadits Sahih, dan mereka tidak henti-hentinya mengkafirkan dan mendustakan aku, maka aku memanggil mereka semua untuk memanjatkan do’a mubahalah (putusan do’a). Tetapi ternyata tidak ada dari pihak musuhku yang menerima tantanganku ini”.

Rasulullah saw. bersabda dalam Hadits Ad-Darul Qutni jilid I halaman 188 :

عَنْ مُحَمَّد بْنِ عَلِيِّ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلعم اِنَّ لِمَهْدِيِّنَا اَيَتَيْنِ لَمْ تَكُوْنَ مُنْذُ خَلْقِِِ السَّمَاوَاتِ وَاْلاَرْضِ يَنْكَسِفُ الْقَمَرُ لِأَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَ تَنْكَسِفُ الشَّمْسُ فِى النِّصْفِ مِنْهُ

Artinya:
“Muhammad bin Ali meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: ”Sesungguhnya untuk Mahdi kita ada dua tanda yang belum pernah terjadi sejak saat bumi dan langit diciptakan. Gerhana bulan akan terjadi pada malam pertama bulan Ramadhan, dan gerhana matahari akan terjadi pada pertengahannya.”

Tidak ada yang tersembunyi dari ahli ilmu bahwa untuk gerhana tersebut, Tuhan telah mengatur tanggal kejadiannya. Dan sudah ditetapkan yaitu tanggal 13, 14, dan 15. dan untuk gerhana matahari tanggal 27, 28 dan 29. maka yang dimaksud dengan gerhana matahari pada tanggal pertengahannya adalah tanggal 28 Ramadhan. Sebagaimana telah diterangkan dalam hadits demikianlah gerhana bulan terjadi pada tanggal 13 di bulan Ramadhan dan terjadi gerhana matahari pada tanggal 28 pada bulan itu juga. Dan pada waktu itu (pada waktu terjadinya kedua gerhana tersebut) Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Imam Mahdi juga sudah ada. Pada saat itu juga berdasarkan Ilham dari Tuhan beliau telah mendakwakan diri sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi. Dan sebelum zahirnya tanda-tanda itu, orang-orang telah meminta munculnya tanda itu kepada Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad sebagai tanda kebenarannya. Dan mereka berkata, “Bagaimana mungkin kami percaya kepada Tuan sebagai Al-Masih dan Al-Mahdi, apabila gerhana bulan dan gerhana matahari pada bulan Ramadhan belum terpenuhi.”

Maka Allah Ta’ala pada tahun 1311 H yaitu tahun 1894 M, telah memenuhi penzahiran tanda dari langit ini dan langitpun telah memberi kesaksian, bahwa pendakwaan orang yang telah mendakwakan dirinya itu benar datang dari Tuhan.

Rasulullah saw. bersabda dalam kitab Hadits Abu Daud jilid II halaman 21 dan Misykat halaman 36 :

اِنَّ اللهَ يَبْعَثُ لِهَاذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِِّدُ لَهَا دِيْنَهَا

Artinya:
“Sesungguhnya Allah Taala senantiasa akan membangkitkan untuk umat ini pada permulaan tiap abad orang yang akan memperbaharui agamanya.”

Pendiri Jemaat Ahmadiyah mendakwakan dirinya sebagai Mujadid pada akhir abad ketiga belas sebagai Mujadid abad ke 14 Hijrah. Abad ke 14 Hijrah telah berlalu, dan hanya beliaulah yang mendakwakan diri sebagai mujadid yang diutus oleh Allah Taala.

Rasulullah saw. bersabda dalam kitab Hadits Musnad Ahmad bin Hanbal jilid II halaman 411 :

يُوْشِكُ مَنْ عَاشَ مِنْكُمْ أَنْ يَلْقى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اِمَامًا مَهْدِ يًّا وَحَكَمًا عَدْلاً وَيَكْسِرُ الصَّلِيْبَ وَيَقْتُلُ الْحِنْزِيْرَ

Artinya:
“Sudah dekat orang yang hidup di antara kamu akan bertemu dengan Isa Ibnu Maryam sebagai Imam Mahdi dan Hakim yang adil. Ia akan memecahkan salib, dan membunuh babi.”

Dari hadits ini terbuktilah bahwa Mahdi adalah bayangan Isa ibnu Maryam. Isa aslinya tidak akan mungkin datang lagi, melainkan Imam Mahdi ummat Muhammad itulah yang akan dikatakan sebagai bayangan Isa ibnu Maryam a.s. Dan di dalam kitab Hadits Bukhari dan Muslim tertulis;

فَأَمَّكُمْ مِنْكُمْ danوَاِمَامُكُمْ مِنْكُمْ

Yakni, “Al-Masih bin Maryam akan mengimami kalian dan menjadi imam dari kalian juga.”

Dalam kalimat ini Imam Mahdi itulah yang ditetapkan sebagai Al-Masih bin Maryam.

Dari ayat Istikhlaf terbukti bahwa khalifah-khalifah ummat Nabi Muhammad akan terjadi dari ummat beliau saw sendiri. Maka kalaupun seandainya Nabi Isa a.s. masih hidup pun, tidak akan bisa menjadi khalifah atau pengganti Nabi Muhammad saw. dalam ummat ini, hanya masilnya saja yang bisa datang, karena Musyabahnya bukan Musyabah bihi yakni tidak ada persamaan yang persis dengannya. Nabi Isa a.s. disebabkan berkedudukan sebagai khalifatullah sebelum ummat Nabi Muhammad, maka telah ditetapkan sebagai Musyabah bihi (ada persamaan dengannya). Dalam ayat ini telah dijanjikan akan menjadikan terus-menerus khalifah-khalifah yang ada persamaannya dengan khalifah-khalifah sebelumnya (Musyabah bihi). Maka Nabi Isa a.s. sendiri tidak mungkin bisa datang lagi.

Di lain tempat Rasulullah saw. bersabda lagi (Hadits Ibnu Majah bab ayidatuz-zaman) :

لاَ مَهْدِيَّ اِلاَّ عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ

Artinya:
“Isa ibnu Maryam itulah Imam Mahdi”.

Hadits ini dengan sangat jelas menerangkan bahwa, selain Isa ibnu Maryam tidak ada Imam Mahdi. Dalam makna inilah Hadits Musnad Ahmad bin Hambal mengemukakan sabda Rasulullah saw.:

يُوْشِكُ مَنْ عَاشَ مِنْكُمْ أَنْ يَلْقَى عِيْسَى ابْنَ مَرْيَمَ اِمَامًا مَهْدِيًّا وَحَكَمًا عَدْلاً

“Sudah dekat orang yang hidup dari antara kamu akan bertemu dengan Isa ibnu Maryam sebagai Imam Mahdi dan hakim yang adil.” (Musnad Ahmad bin Hanbal jld. II hal. 411).

Ada juga satu kelompok para ulama Suni berpendapat bahwa yang akan datang adalah “bayangan” Masih ibnu Maryam. Demikian juga Syekh Muhyiddin ibnu Arabi yang mendapat gelar Syaikhul Akbar menulis tentang hal ini dalam Futuhat Makiyah, beliau berkata: Yang maksudnya: “Sudah pasti, bahwa nuzul (turun)-nya Masih ibnu Maryam di akhir zaman adalah dalam bentuk personal lain, yaitu turunnya Al-Masih ibnu Maryam bukan pada wujud aslinya.”
Tentang tugas beliau a.s. berkenaan dengan kedua nama itu, beliau a.s. mengemukakan :

“Wahai manusia! Bangunlah untuk Tuhan dengan segera dan takutlah kepada Tuhan dan berfikirlah seperti bukan seorang musuh atau orang kafir. Bukankah sudah tiba waktunya bagi Tuhan untuk bersikap rahim terhadap makhluk-Nya? Tidakkah Dia sepatutnya melenyapkan kejahatan dan melepaskan manusia dari dahaga keras dengan hujan musim semi? Tidakkah badai kejahatan berada di puncaknya yang tertinggi? Tidakkah tepi-tepi kebodohan membentang jauh? Bukankah seluruh dunia telah rusak? Tidakkah syetan senang terhadap pengikut-pengikutnya sehingga berterima-kasih kepada mereka? Bersyukurlah kamu kepada Tuhan yang ingat kepada kamu dan agamamu. Dan Dia tidak mengizinkannya menjadi rusak. DIA menjaga panenanmu dan ladang-ladangmu dengan rumput muda. DIA telah menurunkan hujan dan menyempurnakan ukurannya. Dan Dia telah membangkitkan Almasih-Nya untuk melenyapkan kejahatan dan Mahdi-Nya untuk kebaikan ummat manusia. DIA telah membawa kamu kepada suatu masa yang imamnya adalah dari kamu sendiri, hal mana tidak demikian sebelumnya”(Khutbah Ilhamiyah, 13 April 1900 M).

Rasulullah saw. bersabda dalam kitab Hadits Kanzul Ummal jilid III halamn 200 dan dalam Abu Daud :

مَنْ لَمْ يَعْرِفْ إِمَامَ زَمَاِنهِ فَقَدْ مَاتَ مَيْتَةَ الْجَاهِلِيَّةِ
Artinya:
“Orang yang tidak mengenal Imam Zamannya, maka kematiannya dalam keadaan jahiliyah”.

Rasulullah saw. bersabda dalam kitab Hadits Musnad Ahmad, jilid IV halaman 85 dan Ibnu Majah halaman 315, bab Khurujul Mahdi :

فَاِذاَ رَأَيْتُمُوْهُ فَبَايِعُوْهُ وَلَوْ حَبْوًا عَلَى الثَّلْجِ فَاِنَّهُ خَلِيْفَةَ اللهِ الْمَهْدِيُّ.

Artinya:
“Apabila kamu melihatnya (Mahdi), maka ambil bai’atnya, kendatipun engkau merangkak di gunung es (berjalan di atas salju dengan lututmu) karena beliau itu Khalifah dan Mahdi dari Allah swt.”

Kesaksian Ulama Rabithah terkemuka tentang :

“KEMUTAWATIRAN HADITS-HADITS MAHDI”

Dalam berkala Akhbarul Alamul Islami, 21 Muharram 1400 Hijrah, halaman 7, terdapat karangan ulama terkemuka dari Rabithah Alam Islami, Syekh Abdul Azis bin Baaz, dengan judul (terjemahannya), “Kejahatan yang terjadi di Masyjidil Haram, pemikiran yang bathil tentang Mahdi Al-Muntazar”. Berikut ini adalah guntingan bagian akhir dari karangan itu beserta terjemahannya dalam bahasa Indonesia:

اماانكارالمهدي المنتظر بالكلية كما زعم ذالك بعض المتأخرين فهو قول باطل لان احاديث خروجه فى اخرالزمان وانه يملأ الارض عدلاوقسطا كما ملئت جورا قد تواترت تواترا معنويا وكثرت جدا واستفاصت كماصرح بذالك جماعة من العلماء بينهم ابوالحسن الابرى السجستانى من علماء القرن الرابع والعلامع السفارين والعلامه الشوكانى وغيرهم وهم كالا جماع من اهل العلم ولكن لا يجوز الجزم بأن فلانا هوالمهدي الا بعي توافر العلامات التى بينهاالنبي صلى الله عليه وسلم فى الاحديث الثابتة واعظمها واوضحها كونه يملأ الارض قسطاوعدلا كما ملئت جورا وظلما كما سبق بيان ذلك.

Artinya:
“Adapun mengingkari sama sekali kedatangan Mahdi yang dijanjikan, sebagaimana anggapan sementara golongan mutaakhkhirin, adalah pendapat yang salah. Karena hadits-hadits tentang kedatangannya di akhir zaman dan tentang ia akan mengisi bumi ini dengan keadilan dan kejujuran, karena telah penuh kezaliman, adalah mutawatir dari segi isi dari artinya dan terdapat dalam jumlah banyak. Hal ini seperti sudah dijelaskan oleh kalangan ulama, di antaranya Abdul Hasan Al-Abiri As-Sajastani, seorang ulama abad keempat Hijrah, Allamah As-Safarini, Allamah As-Syaukani dan lain-lain. Hal ini sudah menjadi semacam ijmak di kalangan para ahli ilmu.
Memang tidak dapat dipastikan seorang adalah Mahdi kecuali bila ia dipenuhi tanda-tanda sebagaimana diterangkan oleh Nabi saw. dalam hadits-hadits yang teguh, dan tanda paling besar dan jelas ialah bahwa ia (Mahdi) akan mengisi bumi dengan kejujuran dan keadilan, karena telah dipenuhi oleh kekejaman dan kezaliman, seperti diterangkan di muka tadi”.

Ayat-ayat Al-Qur’an Suci yang mendukung kebenaran Pendiri Jemaat Ahmadiyah:

1. Ummat Islam setiap waktu disuruh untuk memanjatkan do’a sebagaimana kita dapati dalam surah Al-Fatihah, meminta petunjuk jalan “mustaqim” yaitu jalan yang dijejaki oleh nabi-nabi (Al-An’am 84-88, 127) dan yang diberi nikmat oleh Tuhan (Maryam 41-59; Al-Maidah 21; An-Nisaa 69-71).

2. Selama dunia berkembang, Allah swt. senantiasa akan memilih dan mengirim nabi-nabi-Nya untuk memberi petunjuk kepada manusia (Al-Hajj 76; Ali Imran 180; An-Nisaa 69-70; Al-A’raf 36; An-Nahl 3; Al-Mu’min 16, 51 – 52; Al-Jum’ah 4).

3. Menolak atau mengingkari seorang nabi berarti menolak atau mengingkari semua nabi (An-Nisaa 150-151; As-Syu’ara 105, 123, 141, 160, 176).

4. Seorang nabi yang palsu atau khianat akan tidak sukses dan dihancurkan oleh Tuhan (Al-Haqqah 43-53; Ali Imran 159-164; Yunus 17-18; An-Nahl 117).

5. Tugas nabi ialah menyampaikan perintah Tuhan kepada manusia (5:100; 6:49; 10:48, 73; 16:36, 37, 83; 19:52, 55; 21:31; 25:11; 28:48, 49; 20:135).

6. Orang yang beriman kepada nabi-nabi akan diberi balasan besar oleh Allah Swt. (2:285-287; 3:180, 191-195; 4:174; 40:52; 30:48; 57:19-20; 58:22; 10:104).

7. Bilamana penduduk dunia menjadi sesat. Allah Swt. akan mengutus nabi-nabi-Nya (As-Shaffaat 72-73; 172-183; Al-Mukmin 50-53; Al-Mujadalah 18-22; Yaasin 15-20).

8. Allah Swt. tidak akan menurunkan pelbagai azab di dunia kecuali Dia lebih dahulu mengirim nabi-Nya (6:132; 11:117-120; 17:16-18, 59; 20:135; 22:46-49; 26:209; 28:59-60).

9. Setiap nabi yang diutus oleh Allah Swt. senantiasa dipermainkan, ditertawakan, dicemoohkan, dituduh pembohong dan ahli sihir, dimusuhi dan lain-lain oleh manusia (6:11, 35, 112-113; 13:33; 14:10-14; 15:11-12; 16:102, 114; 17:48; 21:42; 22:43-47; 23:45; 25:9, 32; 36:8, 31; 38:15; 43:8-9).

17 Dalil Pintu Kenabiyan Masih Terbuka

In Uncategorized on 26 Oktober 2009 at 09:22

A Nizami berkata : “

Saya lihat terjemah Qur’an Suryawan (orang Ahmadiyyah) benar2 beda.
Kalau kita lihat Al Qur’an terjemah Departemen Agama mau pun terjemah dari ulama Arab Saudi yang disebar ke seluruh dunia, maka terjemahnya betul2 beda.

Pertama, Al Ahzab:40. Pada terjemah Islam, arti Khaataman Nabiyyin artinya Muhammad penutup Nabi2. Artinya Nabi Muhammad Nabi terakhir dan tak ada lagi Nabi sesudahnya. Di berbagai hadits shahih di Bukhori, Muslim, dsb, menegaskan hal itu.

Kalau terjemah Ahmadiyyah, Nabi Muhammad cuma “Cincin Nabi2.” Hampir tidak ada maknanya. Bahkan orang bias memahami, Nabi cuma cincin/perhiasan Nabi2. Bukan Nabi…:)

Terjemah Ahmadiyah:

QS. (44:6-7) Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.

Ini juga beda. Kalau terjemah Islam:

“sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.”

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”.

Terjemah Islam:
“Allah mengetahui apa yang di hadapan mereka dan apa yang di belakang mereka. Dan hanya kepada Allah dikembalikan semua urusan.”

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.

Terjemah Islam:

Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi merek Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Terjemah Ahmadiyah:

QS.(7:36) Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam (umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

Terjemah Islam:

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, mereka itu penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ”

Semua ayat2 Al Qur’an yang dikemukakan oleh Suryawan, orang Ahmadiyah ini, ternyata berbeda dgn terjemahan Al Qur’an yang umum dari Departemen agama mau pun dari Kerajaan Saudi Arabia. Apa Al Qur’an Ahmadiyah memang betul2 berbeda dengan Al Qur’an ummat Islam?

Jadi apa yang mau didiskusikan?

Alhamdulillah Al Qur’an dituliskan dalam bahasa Arab yang satu, sehingga tidak mudah diselewengkan artinya.

Agar tidak tersesat, marilah kita bersama2 membaca Al Qur’an serta hadits2 seperti “Shahih Bukhori”, “Shahih Muslim”, dsb.

“ma_suryawan”

, A Nizami

Soal 17 dalil yg diambil oleh Nizami dan Nurhuda dari Abul Ala Maududi, mari lihat penjelasan dibawah ini.

1. QS AL AHZAB 40: ” Bukanlah Muhammad itu bapak Salah seorang laki-laki di antara kamu tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup Nabi-nabi” Yang benar tulisannya adalah (kh-alif-t-m) yaitu “khaatam” – bukan “khatam” (kh-t-m). Kata “khaataman-nabiyyiin” sudah sering dijelaskan. “Khaataman-nabiyyiin berarti “cincin para nabi” atau “meterai para nabi” atau “seal of the prophets”, dan “khaataman- nabiyyiin” bukanlah berarti: Tidak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw. Sebab, dalam Al-Qur’an Karim banyak didapat penjelasan dapat datangnya nabi/rasul setelah Nabi Muhammad saw, beberapa diantaranya sbb:

QS.(44:6-7) – Allah Ta’ala bersifat Mursil (yang mengutus Rasul-Rasul-Nya). Sifat Allah Ta’ala ini akan selalu dan terus bekerja selama- lamanya. Sifat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, adanya kenabian setelah Nabi Muhammad s.a.w. adalah tidak mustahil dengan mempertimbangkan salah satu sifat Allah Ta’ala ini.

QS.(22:76) – “Allah senantiasa memilih rasul-rasul-Nya dari antara malaikat-malaikat dan dari antara manusia”. Perkataan “yashthafii” (memilih) dalam ayat ini, menurut peraturan bahasa Arab adalah fi’il mudhari, yaitu menunjukkan pekerjaan yang sedang atau akan dilakukan. Jadi, Allah S.w.t. sedang atau akan memilih Rasul-Rasul-Nya menurut keadaan zaman atau menurut keperluannya. Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu.

QS.(3:180) – Dalam ayat tersebut terdapat perkataan: “yadzara”, “yamiidza”, “yuthli’a”, “yajtabii”. Bentuk perkataan tersebut adalah fi’il mudhari yang dipakai untuk zaman kini dan zaman yang akan datang. Jadi maksud ayat ini adalah Allah S.w.t. akan (terus) mengirimkan utusan-utusan-Nya untuk memisahkan yang baik dari yang buruk dan untuk memberitahukan tentang kabar-kabar ghaib.

QS.(7:36) – Dalam ayat ini: “Wahai anak cucu Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul dari antaramu …”. Yang dimaksudkan anak cucu Adam adalah umat manusia. Baik umat manusia terdahulu sebelum Nabi Muhammad s.a.w. dan umat manusia setelah Nabi Muhammad s.a.w. tetap akan didatangi oleh Rasul-Rasul Allah dari antara anak cucu Adam umat manusia). Dengan kata lain ayat ini tidak terikat dengan tempat dan waktu. Jadi, jelasnya kalau anda mengartikan ayat “khaataman nabiyyiin” sebagai nabi penutup/terakhir yaitu tidak adanya nabi apapun juga setelah Nabi Muhammad saw – maka akan bertentangan/bertabrakan dengan ayat-ayat tersebut diatas yg menjelaskan dapat datangnya kenabian setelah Nabi Muhammad saw. Padahal Allah Ta’ala telah menetapkan: Tidak ada pertentangan antara satu ayat dengan ayat lainnya

QS.(4:82). Jadi, arti harfiah/letterlijk “khaataman-nabiyyiin” adalah: meterai para nabi atau cincin para nabi. Arti maknawi/hakiki “khaataman-nabiyyiin” adalah: menunjukkan suatu rank/derajat/martabat/status/maqam. Dengan kata lain adalah: nabi yang tersempurna/terunggul/termulia dari para nabi. Sebab: kata “khaataman-nabiyyiin” adalah ism tunggal (i.e. “khaatam”) yang direndeng dengan ism jamak (i.e. “nabiyyiin”) – maka mengandung arti martabat/maqam/derajat/rank. Jadi, arti dan hakikat
Sesungguhnya “khaataman-nabiyyiin” adalah: yang termulia/tersempurna/terunggul diantara para nabi atau meterai para nabi atau cincin (perhiasan) para nabi, dst. Sekarang kita lihat penjelasan Hadits berikut ini: Peristiwa wafatnya Ibrahim (putera Rasulullah dari Hz. Maria Qibtiyah ra) tercatat sebagai berikut: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, berkatalah ia: “Ketika Ibrahim ibnu Rasulullah saw wafat, beliau (saw) menyembahyangkan jenazahnya dan berkata, “Sesungguhnya di sorga ada yang menyusukannya, dan kalau usianya panjang, ia akan menjadi nabi yang benar”. (Sunan Ibnu Majah, Abu Abdillah Alqazwaini, Darul Fikr, jld. II, hlm. 484, Hadits no. 1511).

Peristiwa wafatnya Ibrahim terjadi pada tahun 9 H, Sedangkan ayat “khaataman-nabiyyiin” turun pada tahun 5 H. Jadi, ucapan beliau saw mengenai Ibrahim sebagaimana ditemukan dalam Hadits itu adalah 4 tahun kemudian setelah beliau saw menerima ayat “khaataman- nabiyyiin”. Jika seandainya ayat “khaataman-nabiyyiin” kemudian diartikan sebagai “penutup/kesudahan/penghabisan/akhir” nabi-nabi yaitu enggak boleh ada nabi lagi apapun juga setelah beliau saw, maka seharusnya beliau mengatakan jikalau usianya panjang, tentu ia tidak akan pernah menjadi nabi karena akulah penutup nabi-nabi. Jadi, amat jelas bahwa Nabi saw yang menerima wahyu, dan beliau-lah yg paling mengetahui arti serta makna dari wahyu yang diterimanya dan beliau saw tidak mengungkapkan pengertian “khaatam” sebagai penutup atau terakhir, yaitu enggak boleh ada nabi apapun juga setelah beliau saw – seperti yg biasa diucapkan kyai2/mullah2/ulama2 Islam mainstream.

2. Imam Muslim dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda: “Perumpamaan saya dan para Nabi sebelum saya seperti orang yang membangun satu bangunan lalu dia membaguskan dan membuat indah bangunan itu kecuali tempat batu yang ada di salah satu sudut. Kemudian orang-orang mengelilinginya dan mereka ta’juk lalu berkata: ‘kenapa kamu tidak taruh batu ini.?’ Nabi menjawab : Sayalah batu itu dan saya penutup Nabi-nabi” Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (Bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “saya adalah penutup nabi-nabi”. Jadi, jika Hadits tsb di-interpretasikan bahwa yang menjadi sebuah “batu terakhir” itu adalah Nabi Muhammad saw, maka itu adalah merupakan suatu penghinaan atas diri Nabi saw
sendiri. Apakah beliau saw hanya seperti sebuah batu saja untuk ditempatkan bagi sebuah bangunan yang sangat indah itu? Jika dimisalkan dengan tiang, mungkin dapat diterima. Tetapi jika Nabi saw hanya “sekedar batu bata terakhir” saja, sangat keterlaluan, padahal kedudukan nabi Muhammad saw jauh lebih tinggi dari semua nabi yang pernah ada, bahkan dari malaikat sekalipun. Jadi, jelaslah bahwa maksud Hadits ini adalah bahwa beliau saw adalah nabi yang terakhir membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.

3. Imam Muslim juga meriwayatkan dari Jubair bin Mut’im RA bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya saya mempunyai nama-nama, saya Muhammad, saya Ahmad, saya Al-Mahi, yang mana Allah menghapuskan Kekafiran karena saya, saya Al-Hasyir yang mana manusia berkumpul di kaki saya, saya Al-Aqib yang tidak ada Nabi setelahnya”

Dalam Hadits Tirmizi ditemukan: ” Anal ‘aaqibu wal ‘aqibul-ladziy laisa ba’di hu nabiyyun” maksudnya adalah tidak akan ada lagi nabi yang serupa/sederajat dengan Hz. Rasulullah saw. Nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam tidak dapat datang lagi. Dalam Mirqat, Syarah Misykat, Jilid V, Hal. 376, Imam Mulla Ali Al- Qari berkata: “Lahirnya ungkapan itu (‘Aqib) adalah tafsir dari sahabat-sahabat atau dari orang yang kemudian. Dalam syarah Muslim, Syekh Ibn Arabi berkata, bahwa ‘aqib ialah orangyang menggantikan seseorang dalam sifat-sifat yang baik.

Jadi, dalam bahasa Arab, bahasa asli yang digunakan oleh para sahabat, mereka sudah mengerti apa arti “aqib” yang sebenarnya, sehingga para sahabat ra tidak ada yang protes ketika Hz. Aisyah ra melarang orang untuk mengatakan “laa nabiya ba’dahu” (Tidak ada nabi sesudahnya).

4. Abu Daud dan yang lain dalam hadist Thauban Al-Thawil, bersabda Nabi Muhammad SAW: “Akan ada pada umatku 30 pendusta semuanya mengaku nabi, dan saya penutup para Nabi dan tidak ada nabi setelahku”

Membatasi jumlah itu hanya sampai 30 orang pembohong yang akan mendakwakan dirinya nabi, sudah menunjukkan bahwa akan adanya nabi yang benar. Kalau tiap-tiap orang yang akan mendakwakan diri sbg nabi adalah pendusta, tentu Nabi Muhammad saw akan mengatakan bahwa tiap- tiap orang yang mendakwakan diri sebagai nabi semuanya adalah pembohong/pendusta.

Jika anda mau melihat dalam syarah Muslim, Ikmalul Ikmal, Jilid VI, hal 258, dikatakan: “Kebenaran Hadits ini sudah nyata, sebab jika dihitung jumlahnya orang-orang yang mendakwakan dirinya nabi dari sejak masa Nabi saw hingga sekarang pasti sudah tercapai jumlah tersebut, dan ini diketahui oleh orang-orang yang suka mempelajari riwayat (tarikh)”. – Penulis buku tsb wafat pada tahun 828 Hijriah.

Jadi, dalam masa 400 tahun sudah ada 30 orang yang Mendakwakan dirinya jadi nabi.

Jadi jelasnya, yang dimaksud oleh Hz. Rasulullah saw dengan “laa nabiyya ba’di” adalah tidak akan ada lagi nabi yang membawa Syari’at baru yang akan menggantikan Syari’at Islam.

5. Khutbah terakhir Rasulullah ” …Wahai manusia, tidak ada nabi atau rasul yang akan datang sesudahku dan tidak ada agama baru yang akan lahir. Karena itu, wahai manusia, berpikirlah dengan baik dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu. Aku tinggalkan dua hal: Al Qur’an dan Sunnah, contoh-contoh dariku; dan jika kamu ikuti keduanya kamu tidak akan pernah tersesat …” Sumbernya darimana? Ngarang ya? Atau jangan-jangan ini cuma karangan Maududi dan fans beratnya saja seperti Nizami dkk.

6. Rasulullah SAW menjelaskan: “Suku Israel dipimpim oleh Nabi-nabi. Jika seorang Nabi meninggal dunia, seorang nabi lain meneruskannya. Tetapi tidak ada nabi yang akan dating sesudahku; hanya para kalifah yang akan menjadi penerusku (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Hadits ini benar dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an Karim maupun Hadits lainnya. Tidak akan datang nabi yang membawa Syari’at baru dan setelah wafatnya Hz. Rasulullah saw, diteruskan oleh para khalifah rasulullah. Lihat kata “sayakunu khulafa” (akan ada khalifah-khalifah) menunjukkan maksud “dibelakang” atau “kemudian aku” itu adalah masa yang dekat, karena huruf SA dalam perkataan SAYAKUNU menunjukkan kepada masa yang dekat. Jadi, setelah beliau saw wafat, dalam waktu dekat tidak akan ada nabi.

Tapi ingat, ditempat lain Nabi saw bersabda: “Akan terjadi nubuat kenabian) sampai waktu yang disukai Allah Swt, kemudian akan terjadi khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian akan berdiri kerajaan sampai waktu yang dikehendaki Allah swt, kemudian terjadi khilafat dalam nubuat. Kemudian beliau berdiam diri”.(Musnad Ahmad, Baihaqi, Misykat hal.461).

Juga dalam shahih Bukhari: “kaifa antum idza nazala
ibn maryama fikum wa imamukum minkum” – Bagaimana keadaan kamu [umat Islam] jika turun ibn maryama dari antara kamu dan menjadi imam bagi kamu? [Bukhari, kitabul-anbiya, chapter nuzul isa bin maryam] – bahwa Isa ibn Maryam yg akan datang berasal dari umat Islam.

7. Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Bangunan yang dimaksud adalah Syari’at yang dibuat oleh Allah Ta’ala melalui para utusan-Nya. Syari’at (Bangunan) Tuhan secara bertahap dibangun ditiap masa dan mencapai puncak kesempurnaanya pada Syari’at (bangunan) Islam, yang dibawa oleh Hz. Rasulullah saw (5:3). Oleh sebab itu tidak akan ada lagi nabi yang akan membawa Syari’at baru, sebab bangunan indah (Syari’at) tersebut telah sempurna. Tidak dapat lagi ditambah/dikurangi. Inilah maksud dari arti kalimat “aku seperti batu yang hilang itu” artinya beliau yg membawa dan menyempurnakan Syari’at (Bangunan), sehingga beliau adalah nabi terakhir yang membawa Syari’at. Tidak akan datang nabi lain yg membawa Syari’at.

8. Rasulullah SAW menyatakan: “Allah telah memberkati aku dengan enam macam kebaikan yang tidak dinikmati Nabi-nabi terdahulu: – Aku dikaruniai keahlian berbicara yang efektif dan sempurna. – Aku diberi kemenangan kare musuh gentar menghadapiku – Harta rampasan perang dihalalkan bagiku. – Seluruh bumi telah dijadikan tempatku beribadah dan juga telah menjadi alat pensuci bagiku. Dengan kata lain, dalam agamaku, melakukan shalat tidak harus di suatu tempat ibadah tertentu. Shalat dapat dilakukan di manapun di atas bumi. Dan jika air tidak tersedia, ummatku diizinkan untuk berwudhu dengan tanah (Tayammum) dan membersihkan dirinya dengan tanah jika air untuk mandi langka. – Aku diutus Allah untuk menyampaikan pesan suciNYA bagi seluruh dunia. – Dan jajaran Kenabian telah mencapai akhirnya padaku (Riwayat Muslim, Tirmidhi, Ibnu Majah) Dalam hadist ini terlihat jelas dan tidak diragukan lagi bahwa banyak peraturan/hukum disebutkan dalam Hadits ini
dan yang dimaksudkan oleh peraturan-peraturan itu adalah Syari’at yang sempurna (Islam) telah berakhir pada kenabian Hz. Muhammad saw.

9. Rasulullah SAW menegaskan: “Rantai Kerasulan dan Kenabian telah sampai pada akhirnya. Tidak akan ada lagi rasul dan nabi sesudahku”. (Tirmidhi, Kitab-ur-Rouya, Bab Zahab-un-Nubuwwa; Musnad Ahmad; Marwiyat-Anas bin Malik).Idem. Lihat diatas ttg maksud “laa nabiyya ba’di”.

10. Rasulullah SAW menjelaskan: ‘Saya Muhammad, Saya Ahmad, Saya Pembersih dan kekafiran harus dihapuskan melalui aku; Saya Pengumpul, Manusia harus berkumpul pada hari kiamat yang datang sesudahku. (Dengan kata lain, Kiamat adalah satu-satunya yang akan datang sesudahku); dan saya adalah Yang Terakhir dalam arti tidak ada nabi yang dating sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab-ul-Fada’il, Bab Asmaun-Nabi; Tirmidhi, Kitab-ul-Adab, Bab Asma-un-Nabi; Muatta’, Kitab-u-Asma-in-Nabi; Al-Mustadrak Hakim, Kitab-ut-Tarikh, Bab Asma-un-Nabi).

Bagaimana dengan pemahaman Hz. Aisyah ra? Beliau berkata: “Katakanlah, sesungguhnya ia [Muhammad] adalah khaatamul-anbiya’, tetapi jangan sekali-kali kamu mengatakan laa nabiyya ba’dahu (tidak ada Nabi sesudahnya)” (Durrun Mantsur, jld. V, hlm. 204; Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 5)

Lagi, dipertegas dan dibenarkan oleh ulama-ulama Salaf sebagai berikut:

Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi r.h. dalam kitabnya Futuuhatul Makiyyah menulis: “Inilah arti dari sabda Rasulullah s.a.w.. Sesungguhnya risalah dan nubuwat sudah terputus, maka tidak ada Rasul dan Nabi yang dating sesudahku yang bertentangan dengan Syari’atku. Apabila ia datang, ia akan ada di bawah Syari’atku'”. (Futuuhatul
Makiyyah, Ibnu Arabi, Darul Kutubil Arabiyyah Alkubra, Mesir, jld II, hlm. 3)

Imam Abdul Wahab Asy-Syarani r.h. berkata: “Dan sabda Nabi s.a.w.: tidak ada Nabi dan Rasul sesudah aku, adalah maksudnya: tidak ada lagi Nabi sesudah aku yang membawa Syari’at'” (Al-Yawaqit wal Jawahir, jld. II, hlm. 42)

Imam Thahir Al Gujrati berkata: “Ini tidaklah bertentangan dengan Hadits tidak ada Nabi sesudahku, karena yang dimaksudkan ialah tidak akan ada lagi Nabi yang akan membatalkan Syari’at beliau”. (Takmilah Majmaul Bihar, hlm. 85)

Sayyid Waliyullah Muhaddits Ad-Dahlawi berkata: “Dan khaatam-lah Nabi-Nabi dengan kedatangan beliau, artinya tidak akan ada lagi orang yang akan diutus Allah membawa Syari’at untuk manusia”. (Tafhimati Ilahiyyah, hlm. 53) .

Imam mazhab Hanafi yang terkenal, yaitu Mulla Ali al-Qari menjelaskan: “Jika Ibrahim hidup dan menjadi Nabi, demikian pula Umar menjadi Nabi, maka mereka merupakan pengikut atau ummati Rasulullah s.a.w.. Seperti halnya Isa, Khidir, dan Ilyas `alaihimus salaam. Hal itu tidak bertentangan dengan ayat Khaataman-Nabiyyiin. Sebab, ayat itu hanya berarti bahwa sekarang, sesudah Rasulullah s.a.w. tidak dapat lagi datang Nabi lain yang membatalkan Syari’at beliau s.a.w. dan bukan ummati beliau s.a.w.”. (Maudhu’aat Kabiir, hlm. 69).

Jadi, jelaslah maksud dan hakikat dari sabda suci Nabi saw: “laa nabiya ba’diy” (tidak ada nabi sesudahku) itu adalah seperti yang dijelaskan oleh Hz. Shiddiqah Aisyah ra dan para ulama terkemuka dalam dunia Islam.

11. Rasulullah SAW menjelaskan: “Allah yang Maha Kuasa tidak mengirim seorang Nabi pun ke dunia ini yang tidak memperingatkan ummatnya tentang kemunculan Dajjal (Anti-Kristus, tetapi Dajjal tidak muncul dalam Masa mereka). Aku yang terakhir dalam jajaran Nabi-Nabi Dan kalian ummat terakhir yang beriman. Tidak diragukan, suatu saat, Dajjal akan datang dari antara kamu”. (Ibnu Majah, Kitabul Fitan, Bab Dajjal). Dalam banyak kitab Hadits shahih ditemukan bahwa dajjal akan dibunuh oleh Imam Mahdi/Al-Masih ibn Maryam.

Jadi jelas bahwa akan ada kenabian tanpa Syari’at setelah Hz. Rasulullah saw.

12. Abdur Rahman bin Jubair melaporkan: “Saya Mendengar Abdullah bin `Amr ibn-`As menceritakan bahwa suatu Hari Rasulullah SAW keluar dari rumahnya dan bergabung Dengan mereka. Tindak-tanduknya memberi kesan seolah-olah Beliau akan meninggalkan kita. Beliau berkata: “Aku Muhammad, Nabi Allah yang buta huruf”, dan mengulangi pernyataan itu tiga kali. Lalu beliau menegaskan: “Tidak ada lagi Nabi sesudahku”. (Musnad Ahmad, Marwiyat `Abdullah bin `Amr ibn-`As).Lihat penjelasan diatas dari Hz. Siti Aisyah ra dan para ulama SALAF di no. 10.

13. Rasulullah SAW berkata: ” Allah tidak akan mengutus Nabi sesudahku, tetapi hanya Mubashirat”. Dikatakan, apa yang dimaksud dengan al-Mubashirat. Beliau berkata: Visi yang baik atau visi yang suci”. (Musnad Ahmad, marwiyat Abu Tufail, Nasa’i, Abu Dawud). (Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci). Yang ada dalam tanda kurung di kalimat terakhir: “Dengan kata lain tidak ada kemungkinan turunnya wahyu Allah di masa yang akan datang. Paling tinggi, jika seseorang mendapat inspirasi dari Allah, dia akan menerimanya dalam bentuk mimpi yang suci” – adalah bukan bagian dari Hadits. Itu adalah tulisan dan interpretasi Maududi, Seorang kyai/mullah/ulama Pakistan penentang sengit Ahmadiyah. Mengapa manusia (Maududi dan fans berat-nya seperti Nizami dkk) kok berani mengatakan bahwa wahyu tidak boleh turun lagi? Apakah manusia dapat meng-intervensi sunnah Allah? Bukankah Allah Ta’ala bersifat Mutakallim (Maha Berkata-kata), sehingga sifat tsb akan tetap bekerja untuk selama-lamanya Sebagai informasi, banyak diantara umat Islam yang juga menerima wahyu dari Allah Ta’ala seperti: Syekh Muhyiddin Ibn Arabi rh (Bapak kaum Sufi), Khawajah Miir Dard rh, Abdullah Ghaznawi rh, Syekh Abdul Qadir Jaelani rh dll.

14. Rasulullah SAW berkata: “Jika benar seorang Nabi akan datang sesudahku, orang itu tentunya Umar bin
Khattab”. Tirmidhi, Kitab-ul-Manaqib). Oleh karena nabi Muhammad saw yang diutus, maka Hz. Umar ra tidak diutus sebagai nabi. Jadi bukan tidak akan ada nabi yang akan diutus. Disini ada satu hal yang harus mendapat perhatian. Kenapa Nabi saw tidak menyebut nama Abu Bakr ra, padahal Abu Bakr seorang shiddiq, lebih tinggi dari Umar yang berpangkat syahid? Rahasianya adalah Sayyidina Umar ra diketahui oleh Rasulullah saw mempunyai bakat hokum undang-undang) melebihi dari para sahabat lainnya, termasuk Abu Bakr. Sering Hz. Umar memberikan saran kepada Hz. Rasulullah saw, dan akhirnya turun ayat-ayat yang membenarkan saran Hz. Umar tsb. Jadi, maksudnya Hadits ini adalah bahwa tidak akan datang nabi yang akan membawa Syari’at (hukum/undang-undang).

15. Rasulullah SAW berkata kepada `Ali,
“Hubunganmu denganku ialah seperti hubungan Harun dengan Musa. Tetapi tidak ada Nabi yang akan datang sesudahku”. (Bukhari dan Muslim, Kitab Fada’il as-Sahaba). Perkataan “laa nabiyya ba’diy” jelas khusus untuk Hz. Ali ra dan tidak berlaku untuk umum. Sebab kita temukan penegasannya atas Hadits itu dalam Hadits lain sbb: “Berkata ia (Rasulullah saw), “Wahai Ali, tidakkah engkau suka mempunyai kedudukan Harun disamping Musa, tetapi bedanya engkau bukan nabi” (Thabaqat Kabir, Jilid V, hal. 15).

16. Rasulullah SAW menjelaskan: “Di antara suku Israel sebelum kamu, benar-benar ada orang-orang yang
Berkomunikasi dengan Tuhan, meskipun mereka bukanlah NabiNYA. Jika ada satu orang di antara ummatku yang akan berkomunikasi dengan Allah, orangnya tidak lain daripada Umar. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib)

Telah terjawab dengan sangat jelas bahwa bukan hanya Hz. Rasulullah saw saja yang dapat “berkomunikasi” dengan Allah Ta’ala, orang yang bukan nabi juga dapat menerima anugerah wahyu (komunikasi) dengan Allah Ta’ala. Jadi, omongan Maududi dan para fans beratnya seperti Nizami dkk yg mengatakan bahwa wahyu enggak boleh turun lagi setelah Nabi Muhammad saw telah dibantah oleh Hadits ini.

17. Rasulullah SAW berkata: “Tidak ada Nabi yang akan dating sesudahku dan karena itu, tidak akan ada ummat
lain pengikut nabi baru apapun”. (Baihaqi, Kitab-ul-Rouya; Tabrani) Jawab : Pengertian “laa nabiyya ba’di” telah dijelaskan dengan komprehensif diatas.

Salam,
M. A. Suryawan

Bacalah artikel tentang Islam di:
http://www.nizami.org

HAKIKAT NABI DAN RASUL

In Uncategorized on 26 Oktober 2009 at 08:48

Allah swt. berfirman dalam Surat Al Jinn ayat 26 s/d 28 (QS.[7]:26-28)

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا (٢٦)
إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا (٢٧)
لِيَعْلَمَ أَنْ قَدْ أَبْلَغُوا رِسَالاتِ رَبِّهِمْ وَأَحَاطَ بِمَا لَدَيْهِمْ وَأَحْصَى كُلَّ شَيْءٍ عَدَدًا (٢٨)

Artinya:
“(Dia adalah Tuhan) yang mengetahui yang ghaib, Maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu, kecuali kepada Rasul yang diridhai-Nya, Maka Sesungguhnya Dia Mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.Supaya Dia mengetahui, bahwa Sesungguhnya Rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu”.

Pengertian Nabi dan Rasulullah

Nabi menurut bahasa Arab adalah adalah bentuk mufrod (tunggal) , sedang bentuk jamaknya adalah anbiyaaatau Nabiyyun. Nabi itu artinya orang laki-laki yang menyampaikan kabar ghaib yang telah diterima dari Allah swt.

Ahmad Warsan Munawir menulis Annabiyyu (jama’) anbiyaa-u : almukhbiru ‘anillah. Artinya: “Nabi itu bentuk jamaknya anbiyaa,yaituorang laki-laki yang menyampaikan berita dari Allah”.

Nabi juga disebut Rasul sebab jika ia bukan rasul tidak akan mendapat kabar gaib yang bersih dari Allah dan akan berlawanan dengan firman Allah di atas (Al Jinn Surat 72 ayat 26 s/d 28).(QS.[7]:26-28)
Jadi setiap nabi atau rasul itu dipilih oleh Allah sebagaimana firmannya dalam Surah Al Hajj ayat 75

اللَّهُ يَصْطَفِي مِنَ الْمَلائِكَةِ رُسُلا وَمِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ (٧٥)

Artinya:
“Allah memilih utusan-utusan-(Nya) dari Malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha melihat”.

Seperti Nabi Adam as., Nabi Nuh as, para nabi keturunan Nabi Ibrahim as dan keturunan Imran sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al Imran ayat 33 (QS.[7]:33)

إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ (٣٣)

Artinya:
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).”

Nabi atau Rasul itu wajib menyampaikan risalah Allahkepada umatnya disamping itu ia juga mengumumkan bahwa dirinya itu seorang nabi atau rasul misalnya Nabi Nuh as. Allah berfirman dalam Surah Al A’raf ayat 61 (QS. [7]:61)

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي ضَلالَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٦١)

Artinya:
“Nuh menjawab: “Hai kaumku, tak ada padaku kesesatan sedikitpun tetapi aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam”.

Nabi Hud as. sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al A’raf ayat 67 (QS [7]:67) dan Surah Asy Syu’araa’ ayat 125 (QS.[26] :125)

قَالَ يَا قَوْمِ لَيْسَ بِي سَفَاهَةٌ وَلَكِنِّي رَسُولٌ مِنْ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٦٧)

Artinya:
“Hud herkata “Hai kaumku, tidak ada padaku kekurangan akal sedikitpun, tetapi aku ini adalah utusan dari Tuhan semesta alam.

إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٢٥)

Artinya:
“Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu”.

Nabi Musa as.sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al A’raf ayat 103 (QS. [7]:103)

ثُمَّ بَعَثْنَا مِنْ بَعْدِهِمْ مُوسَى بِآيَاتِنَا إِلَى فِرْعَوْنَ وَمَلَئِهِ فَظَلَمُوا بِهَا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ (١٠٣)

Artinya:
“kemudian Kami utus Musa sesudah Rasul-rasul itu dengan membawa ayat-ayat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya, lalu mereka mengingkari ayat-ayat itu. Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang membuat kerusakan”.

Nabi Nuh as, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Asy Syu’araa’ ayat 107 (QS. [26]:107)

إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٠٧)

Artinya:
“Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu”.

Nabi Shaleh as, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Asy Syu’araa’ ayat 43 (QS. [26]:43)

قَالَ لَهُمْ مُوسَى أَلْقُوا مَا أَنْتُمْ مُلْقُونَ (٤٣)

Artinya:
“Berkatalah Musa kepada mereka: “Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan”.

Nabi Luth as, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Asy Syu’araa’ ayat 162 (QS. [26]:162)

إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٦٢)

Artinya:
“Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu”.

Nabi Syuaib as, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Asy Syu’araa’ ayat 178 (QS. [26]:178)

إِنِّي لَكُمْ رَسُولٌ أَمِينٌ (١٧٨)

Artinya:
“Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu”.

Nabi Isa as, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Ash Shaf ayat 6 (QS. [61]:6)

وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ (٦)

Artinya:
“Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata.”

Nabi Muhammad saw, sebagaimana Allah berfirman dalam Surah Al A’raf ayat 158 (QS. [7]:158)

قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الأمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ (١٥٨)

Artinya:
“Katakanlah: “Hai manusia Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, Yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang Ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah Dia, supaya kamu mendapat petunjuk”.

Adapun bentuk kenabiyan atau kerasulan itu ada dua macam, yaitu nabi atau rasul yang membawa syariat dan nabi atau rasul yang tidak membawa syariat

Sedang nabi atau rasul yang tidak membawa syariat itu ada yang mustakil (berdiri sendiri/tidak terikat) seperti para nabi yang diutus sesudah nabi Musa as. dan nabi ghirul mustakil (terikat) dengan kenabiyan Muhammad saw. Sebagai khataman nabiyyin

Sumber : Al Quran dan Terjemahannya Depag RI Tahun 1889

Jemaah Ahmadiyah NTB Dibolehkan Berhaji

In Ahmadiyah, Kamis, November, Tabligh, Uncategorized on 22 Oktober 2009 at 15:19

Ditulis oleh The Young Community di/pada September 29, 2009
Rate This

Kantor Wilayah Departemen Agama (Depag) Nusa Tenggara Barat (NTB) masih memperbolehkan warga Ahmadiyah berhaji atau menunaikan ibadah haji meskipun ada larangan Pemerintah Arab Saudi.
“Kami tidak melarang mereka berhaji makanya tidak ada pendeteksian warga Ahmadiyah dalam daftar calon haji,” kata Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Depag NTB, Suhaimy Ismy, di Mataram, Senin (7/9), usai penandatanganan nota kesepahaman (MoU) pemberangkatan calon haji dan dan pemulangan jamaah haji asal NTB.

Ia mengatakan, Pemerintah Arab Saudi yang melarang pengikut Ahmadiyah menunaikan ibadah haji karena beranggapan bahwa Ahmadiyah itu sudah dinyatakan pengikut di luar Islam. Kebijakan tegas Pemerintah Arab Saudi itu kemudian ditindaklanjuti berbagai organisasi Islam di Indonesia yang ikut melarang warga Ahmadiyah berhaji.
“Namun, itu tidak berarti kami melarang warga Ahmadiyah untuk menunaikan ibadah haji. Terserah Pemerintah Arab Saudi karena aturan negara itu berbeda dengan negara kita,” ujarnya.

Dengan demikian, tambah Suhaimy, pihaknya tidak dapat memastikan bahwa rombongan calon haji asal NTB yang akan diberangkatkan akhir Oktober mendatang, bebas dari pengikut Ahmadiyah.

Dengan kata lain, mungkin saja ada warga Ahmadiyah yang ikut berhaji pada musim haji tahun ini karena tidak dideteksi oleh pengurus haji.
Data versi Kanwil Depag NTB, jumlah calon haji asal NTB tahun ini dijatahkan sebanyak 4.550 orang dan yang sudah mendaftar sebanyak 4.494 orang, termasuk tim pendamping haji daerah.

Sementara pengikut Ahmadiyah di wilayah NTB diperkirakan mencapai 180 orang. Sebanyak 33 Kepala Keluarga (KK) atau 130 jiwa mendiami Mataram, Ibukota Provinsi NTB dan puluhan pengikut lainnya yang berjumlah 50 jiwa berada di Kabupaten Lombok Tengah.

Khusus di Mataram, sejak tiga tahun lalu sebanyak 130 orang mendiami asrama Transito Mataram setelah rumah mereka di Kecamatan Lingsar, Lombok Barat dirusak dan dibakar massa. (Ant/OL-04)

Sumber : http://jarikmataram.wordpress.com/2009/09/29/jemaah-ahmadiyah-ntb-dibolehkan-berhaji/

BUKU KAMI ORANG ISLAM : FATWA, PANCASILA DAN KEBIJAKSANAAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

In Ahmadiyah, Kamis, November, Tabligh, Uncategorized on 18 Oktober 2009 at 02:59

BUKU KAMI ORANG ISLAM :
FATWA, PANCASILA DAN KEBIJAKSANAAN
PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA

Saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.

Dalam Musyawarah Nasional ke-11 Majelis Ulama Indonesia yang berlangsung pada tanggal 26 Mei s/d 1 Juni 1980, telah diadakan keputusan-keputusan serta fatwa-fatwa yang disiarkan oleh Sekretariat Majelis Ulama Indonesia, Mesjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta; antaranya di halaman 29, dan juga dalam majalah “Mimbar Ulama”, tahun ke V no.41, Juli/Agustus 1980 M, halaman 25, kami menjumpai fatwa sebagai berikut :

JEMAAT AHMADIYAH

1.“Sesuai dengan data dan fakta yang diketemukan dalam 9 buah buku tentang Ahmadiyah, maka Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwa Ahmadiyah adalah Jamaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan”.

2.“Dalam menghadapi persoalan Ahmadiyah, hendaknya Majelis Ulama Indonesia selalu berhubungan dengan Pemerintah”.

Berhubung Jemaat Ahmadiyah sudah berdiri sejak tahun 1925 di pangkuan bumi Indonesia yang indah ini, dan sejak 13 Maret 1953 diakui sebagai Badan Hukum oleh Pemerintah Republik Indonesia cq. Menteri Kehakiman Republik Indonesia, sebagaimana tercantum dalam penetapannya tertanggal 13 Maret 1953, nomor JA.5/23/13, dimuat dalam Tambahan Berita Negara R.I. tanggal 31 Maret 1953 nomor 26, diperkuat dengan pernyataan Departemen Agama R.I. tertanggal 11 Mei 1968, tentang hak hidup seluruh organisasi Agama di Indonesia bagi yang telah disahkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangganya dengan resmi oleh Menteri Kehakiman sebagai Badan Hukum; yang kini anggota-anggotanya sudah tersiar di pelosok-pelosok tanah air kita, baik di kota-kota maupun di dusun-dusun serta pula sudah tersiar dan berkembang hampir di seluruh pelosok di dunia ini, maka kami, Pengurus Besar Jemaat Ahmadiyah Indonesia, Jakarta, merasa terpanggil dan tergugah, serta merasa wajib dan berhak, sebagai warganegara yang sangat patuh dan loyal kepada Pemerintah Republik Indonesia, untuk mengemukakan kebenaran dan memberikan penjelasan-penjelasan demi kokohnya Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Garis-Garis Besar Haluan Negara yang diridhai Allah Swt.

PERNYATAAN HAK-HAK ASASI MANUSIA DAN
UNDANG-UNDANG DASAR 1945

Perserikatan Bangsa-Bangsa yang kini (1980) beranggotakan 152 Negara, termasuk Negara kita Republik Indonesia, memiliki Piagam mengenai Pernyataan Hak-hak Asasi Manusia sebagaimana dinyatakan dalam pasal 18 :
“Setiap orang mempunyai hak atas kebebasan berfikir, hati nurani dan agama; hak itu mengandung juga hak atas kebebasan berganti agama dan keyakinan, hak atas kebebasan, baik seorang diri, baik bersama-sama dengan orang-orang lain, di tempat umum atau di dalam alam hidupnya sendiri untuk mengimankan agamanya atau keyakinannya dengan jalan mengajarkan agama atau keyakinannya itu, dengan mengamalkan, dengan menjalankan ibadatnya serta dengan menjalankan perintah dan peraturannya”.

Undang-Undang Dasar 1945 secara tegas menyatakan dalam Bab XI, Pasal 29 :

1). Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa.

2). Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.

Dalam penjelasan mengenai pasal 29 ayat 2 ini dinyatakan bahwa :
“Kebebasan agama adalah merupakan salah satu hak yang paling asasi di antara hak-hak asasi manusia, karena kebebasan beragama itu langsung bersumber pada martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Hak kebebasan beragama bukan pemberian Negara atau bukan pemberian golongan. Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu berdasarkan keyakinan, hingga tidak dapat dipaksakan dan memang agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri tidak memaksa setiap manusia untuk memeluk dan menganutnya”.

Pendirian Pemerintah R.I ini sesuai benar-benar dengan firman Allah Swt dalam Al-Qur’an Suci, surah Al-Baqarah ayat 256 :

Artinya:
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang salah”.

Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Eka Prasetia Pancakarsa) dalam menjelaskan “Sila Ketuhanan Yang Maha Esa” menyatakan :

“Dengan Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, bangsa Indonesia menyatakan kepercayaan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan oleh karenanya manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

“Di dalam kehidupan masyarakat Indonesia dikembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama antara pemeluk-pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga dapat selalu dibina kerukunan hidup di antara sesama ummat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Sadar bahwa agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi dengan Tuhan Yang Maha Esa yang dipercayai dan diyakininya, maka dikembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya dan tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaannya itu kepada orang lain”.

Dalam Keputusan Menteri Agama nomor 70 tahun 1978 tentang Pedoman Penyiaran Agama, antara lain dinyatakan :
“Untuk menjaga Stabilitas Nasional dan demi tegaknya kerukunan antar ummat beragama, pengembangan dan kepercayaan agama supaya dilaksanakan dengan semangat kerukunan, tenggang rasa, tepo saliro, saling menghargai, hormat-menghormati antar ummat beragama juga kerukunan inter agama yang sama (antara pemeluk agama yang sama) sesuai jiwa Pancasila”.
Selanjutnya dalam Keputusan Menteri Agama ini, dalam Penjelasan Umum dinyatakan :
“Ditegaskan pula dalam GBHN ‘Pola Umum Pelita III’ bahwa atas dasar kepercayaan bangsa Indonesia terhadap Tuhan Yang Maha Esa, maka peri kehidupan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah selaras dengan Penghayatan dan Pengamalan Pancasila. Kehidupan keagamaan dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa makin dikembangkan sehingga terbina hidup rukun di antara sesama ummat beragama, di antara sesama penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan antara semua ummat beragama dan sesama penganut kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dalam usaha memperkokoh kesatuan dan persatuan bangsa dan meningkatkan amal untuk bersama-sama membangun masyarakat.

“Kerukunan hidup yang semakin mantap di antara sesama ummat beragama, berarti ikut serta meningkatkan tercapainya stabilitas dan keamanan nasional yang sehat dan dinamis yang merupakan salah-satu dari Trilogi Pembangunan sebagaimana tertera dalam Pola Umum Pelita Ketiga.

“Berdasarkan pokok-pokok pikiran yang tertuang dalam UUD 1945 dan ketetapan-ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat tersebut diatas, maka kerukunan hidup antar ummat beragama merupakan syarat mutlak bagi usaha menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa serta pemantapan stabilitas dan keamanan nasional yang merupakan syarat bagi kelancaran dan suksesnya pembangunan Nasional di segala bidang.

“Dalam kerangka inilah maka Pemerintah dalam hal ini Departemen Agama, sebagai bagian dari Pemerintahan Negara, yang tugas pokoknya menyelenggarakan sebagian tugas umum Pemerintahan dan pembangunan di segala bidang, berkewajiban untuk melindungi setiap usaha pengembangan dan penyiaran agama”.

“Di dalam penyiaran dan pengembangan agama, agar pengembangan dan penyiaran agama tersebut tidak menimbulkan ekses-ekses negatif yang mengakibatkan retaknya kerukunan hidup antara ummat beragama. Oleh karena itu pengembangan dan penyiaran agama tidak boleh ditujukan kepada orang dan atau orang-orang lain yang telah memeluk sesuatu agama yang berbeda. Ummat beragama sebagai warga negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila telah sepakat mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara diatas kepentingan sendiri, golongan, perbedaan agama dan lain-lain, demi terciptanya tujuan nasional sebagaimana ditetapkan dalam UUD 1945 dan Ketetapan-ketetapan MPR RI ……”

“Pemerintah tidak mencampuri orang yang dengan sukarela atas kemauan dan kesadaran sendiri pindah dari suatu agama ke agama lain. Pemerintah tidak melarang orang yang dengan suka-rela atas kemauan dan kesadaran sendiri mengunjungi atau mendengarkan ceramah/khotbah/pengajian/ penginjilan dan lain-lain dengan maksud untuk mengenal suatu agama”.

Pada peringatan Nuzulul Qur’an di Mesjid Istiqlal tanggal 20 Agustus 1978, Menteri Agama R.I. antaranya mengemukakan :

“Dengan demikian, membina, meningkatkan dan menegakkan kehidupan beragama adalah merupakan tugas dan kewajiban Pemerintah sebagai pelayanan terhadap masyarakat. Masyarakat itu sendiri berkewajiban untuk berpartisipasi dalam meningkatkan kehidupan beragama. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama memikul tanggung jawab dalam membina dan menghidup-suburkan kehidupan beragama seperti yang tumbuh dan berkembang sekarang ini …….”

“Syukur alhamdulillah, beberapa mesjid terutama di kota-kota besar setelah seruan Bapak Presiden beberapa waktu yang lalu telah berkembang fungsinya ke arah yang diharapkan. Dengan demikian, maka akan lebih terasalah bahwa kehidupan beragama merupakan satu rahmat bagi kehidupan manusia”.

“Adanya rasa rahmat kepada manusia yang dapat diberikan oleh kaum beragama adalah memberi kedamaian hidup, kebahagiaan lahir dan batin, dan terciptanya kerukunan. Kerukunan yang diharapkan adalah :
Pertama : Kerukunan antar golongan, intern agama,
Kedua : Kerukunan antar ummat beragama,
Ketiga : Kerukunan antar ummat beragama dan Pemerintah.

“Dengan kerukunan dimaksudkan adalah kerukunan yang dinamis. Setiap agama mempunyai hak dan kesempatan untuk melaksanakan dan mengembangkan ajaran agamanya. Akan tetapi hal itu harus dilakukan dengan tidak mengganggu atau merugikan fihak lain”. (Pembinaan Kehidupan Beragama dalam Pembangunan Nasional, Bagian I halaman 198 dan 199).

Dalam ceramah Menteri Agama R.I. pada pembukaan Musyawarah kerja Majelis Da’wah Islamiyah Keluarga Besar Golongan Karya Jawa Timur pada tanggal 16 September 1978 di Surabaya, antara lain dikemukakan :
“Pancasila memberikan ciri khas dalam kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Dalam kaitannya dengan hubungan antara negara dan agama pada umumnya, kita melihat dua alternatif. Negara itu kemungkinan sebagai Negara Agama atau Negara Sekuler. Di dalam Negara Agama, Kepala Pemerintah bertindak sebagai Wakil Tuhan yang tidak pernah salah dan di dalam Negara Sekuler agama tidak diacuhkan dan tidak mendapat tempat. Dengan alternatif Pancasila, maka Indonesia mempunyai seorang Presiden yang merupakan Mandataris MPR yang juga manusia biasa yang dapat berbuat salah. Oleh karena itu Presiden dapat dikontrol oleh Rakyat melalui wakil-wakilnya di DPR/MPR.

“Dalam Negara Pancasila, agama hidup dan berkembang dengan perlindungan Negara. Pemeluk agama berhak untuk mengembangkan agamanya sesuai dengan keyakinan agama yang dipeluknya. Masing-masing agama diberi kebebasan untuk menyiarkan agamanya dengan tetap menghargai agama orang lain. Dengan demikian jelaslah bahwa dalam Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, agama mempunyai peranan penting dan asasi dalam kehidupan bangsa dan negara. Negara tidak hanya melindungi pemeluk agama dan memberi kebebasan untuk melaksanakan ajaran agama tetapi juga memberikan dorongan dan bantuan untuk memajukan agama.

“Sesungguhnya, bahwa Negara Pancasila mengembangkan dan menyemarakkan kehidupan beragama serta menegakkan kehidupan agama menjadi kewajiban para pemimpin dan seluruh rakyat. Agama merupakan tanggung jawab bangsa, baik ia pemimpin ataupun rakyat, baik sipil maupun ABRI. Pembangunan agama merupakan satu bagian dari Pembangunan Nasional.

“Sebagai usaha mengokohkan kerukunan hidup antar ummat beragama maka satu langkah yang dilakukan oleh Departemen Agama adalah dialog antara ummat beragama. Dialog sementara ini masih dilakukan dalam lingkungan terbatas dalam kampus/perguruan tinggi.

“Diadakan dialog dimaksudkan sebagai usaha untuk adanya pembicaraan yang terbuka antar ummat beragama yang berdasarkan adanya saling menerima dan memberi, saling hormat menghormati dan saling percaya satu sama lain. Dialog dimaksudkan untuk mencari persamaan dan pengertian serta menimbulkan kebersamaan dalam membangun negara dan bangsa. Melalui dialog dikembangkan rasa kebersamaan dalam menanggulangi masalah sosial dan aneka tantangan masyarakat. Dengan demikian kerukunan yang diharapkan adalah kerukunan yang dinamis dan merupakan bagian dari pertumbuhan dan perkembangan masyarakat. Dialog tidak dimaksud untuk menimbulkan perpecahan dan tidak mencapai kalah menang dalam argumentasi, bukan pula polemik terbuka”.(Pembinaan Kehidupan Beragama dalam Pembangunan Nasional, Bahagian I halaman 215, 218 dan 219).

Dalam pidato kenegaraan Presiden R.I. di depan sidang Dewan Perwakilan Rakyat pada tanggal 15 Agustus 1974, antaranya menasehatkan :

“Usaha dominasi-dominasian dalam bidang agama adalah bertentangan dengan ketentuan, bahwa “Negara kita bukanlah Negara Agama; bukan negara yang mendasarkan diri pada agama tertentu saja”. Tenggang-rasa dan bekerja samalah yang harus dibina oleh para pemeluk berbagai agama di Indonesia, bukan takut menakuti, ancam mengancam dan saling menyaingi. Kekuatan suatu agama terletak pada ajaran-ajarannya dan penghayatan para pemeluknya. Pada dua faktor inilah letak daya-kembangnya bukan pada kemampuan materil dan kemampuan fisik organisasinya”.

Dalam amanat Presiden R.I. dalam sidang raya ke-9 DGI di Stadion Klabat; Menado, antaranya diingatkan:

“Kebebasan beragama dan berkepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dijamin sepenuhnya di Indonesia berdasarkan Pasal 29 UUD 1945. Ini juga berarti jaminan akan kebebasan menyiarkan agama, kebebasan beralih agama dan keyakinan serta kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa”.

Selain itu, menurut Presiden, Pasal 29 UUD 1945 tersebut juga berarti jaminan akan keleluasaan mendirikan rumah-rumah ibadah. Yang penting adalah agar semuanya itu dilaksanakan sesuai tatakrama, nilai-nilai, kaidah-kaidah yang berlaku dalam kehidupan dan peri-laku bangsa Indonesia dan tetap dalam semangat dan kemantapan persatuan seperti disebutkan tadi.

“Agama berpangkal pada keyakinan orang per orang. Keyakinan tidak dapat dipaksakan dan juga tidak dapat dicabut oleh orang lain. Juga tidak oleh negara. Hak kebebasan beragama bukan pemberian negara dan bukan pemberian golongan”.

Menurut Kepala Negara, Kebebasan beragama merupakan salah satu hak yang paling asasi dari manusia, dan langsung bersumber dari martabat manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang bersifat universil. Karena itu, Presiden Soeharto mengajak semua pemuka agama, semua ulama dan rohaniawan, semua ummat beragama untuk memanfaatkan wadah musyawarah antar ummat beragama ini semaksimal mungkin. Dengan demikian wadah yang telah dimufakati bersama ini benar-benar dapat mencapai sasaran kegiatannya yaitu sebagai wadah bersama untuk berkonsultasi antara pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka agama di satu fihak dan di lain fihak antara pemimpin-pemimpin dan pemuka-pemuka agama dengan pemerintah.

“Alangkah indahnya hidup rukun antara bangsa dan rakyat Indonesia di Negara Pancasila kita ini, karena meskipun berbeda-beda dalam keyakinan agama dan kepercayaam, kita dapat berucap sama satu kalimat yang mungkin berbeda bahasanya, namun satu maknanya. Yaitu: Allahu Akbar, Allah Maha Besar, Terpujilah selalu nama-Nya”. Demikian antara lain Presiden Soeharto (Kompas Minggu, 20 Juli 1980).

Dalam perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad saw. yang dilangsungkan di istana negara pada tanggal 7 Januari 1980, Bapak Presiden R.I. antaranya memperingatkan kepada seluruh bangsa Indonesia bahwa “Pembangunan kehidupan agama paling tidak akan mampu memelihara keseimbangan, keserasian dan keselarasannya”. Bapak Presiden menasehatkan :

“Kita ingin menegaskan bahwa yang kita pentingkan dalam pembangunan manusia Indonesia bukan hanya kehidupan fisik jasmani, melainkan juga kehidupan mental rohaniah. Mengabaikan aspek-aspek mental keagamaan menyebabkan kekosongan rohani yang menjerumuskan kehidupan manusia kepada kekerasan dan kekasaran.
Kekosongan rohani tidaklah kalah berbahayanya daripada pengotoran dan perusakan lingkungan hidup alami kita”.

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang terhormat.

Sengaja kami mengutip secara luas peraturan-peraturan Pemerintah serta pidato-pidato Bapak Presiden dan Bapak Menteri Agama R.I. berupa nasehat-nasehat tentang cara-cara pengamalan kerukunan beragama di tanah air kita ini dengan maksud supaya dapat diketahui bahwa Majelis Ulama Indonesia secara sengaja tidak menghiraukan nasehat-nasehat yang diberikan oleh Bapak Presiden dan Bapak Menteri Agama R.I. Kami anggota-anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia tidak merasa rendah diri atau sirna ketakwaan atau mendangkalkan iman kami atas fatwa-fatwa yang diberikan oleh Majelis Ulama Indonesia itu.

Sayang sekali, fatwa-fatwa itu dinyatakan dengan tidak lebih dahulu mengadakan dialog dengan kami, sehingga apa-apa yang dianggap salah menurut perkiraan Majelis Ulama Indonesia itu dapat diselesaikan dengan secara persaudaraan sebagaimana dikehendaki oleh Bapak Menteri Agama R.I. dan berdasarkan firman-firman Allah Swt. serta sabda-sabda Nabi Muhammad saw.

Ajaran-ajaran Jemaat Ahmadiyah Indonesia senantiasa didasarkan atas Al-Qur’an Suci dan Hadits-hadits Rasulullah saw. Dalam Al-Qur’an, surah Hujurat ayat 10,11, Allah Swt berfirman
Artinya:
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu memperoleh rahmat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengolok-olokkan kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) itu lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan), dan janganlah pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita-wanita lain, (karena) boleh jadi wanita (yang diolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan), dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri (orang-orang mu’min seperti satu badan) dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan julukan-julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah (mereka) beriman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.

Dalam Surah Al-Hujurat ayat 14, Allah berfirman :
Artinya:
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Dalam surah Al-Baqarah ayat 148, Allah berfirman :
Artinya:
“Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan”.

Dalam surah Al-An’am ayat 108, Allah berfirman :
Artinya:
“Dan janganlah kamu memaki-maki sembahan-sembahan yang mereka puja selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan”.

Dalam surah Al-Furqan ayat 63, Allah berfirman
Artinya:
“Dan hamba-hamba Tuhan yang sebenarnya ialah orang-orang yang melewatkan kehidupan-kehidupannya di dunia ini dengan penuh sopan santun, ramah-tamah dan rendah hati, dan bilamana ada golongan-golongan yang mengejek atau mempermainkan mereka, mereka hanya menjawab selamat dan berbahagialah saudara”.

Dalam surah Bani Israil ayat 36, Allah berfirman
Artinya :
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya, (karena) sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semua itu akan ditanya”.

Dalam surah Al-Maidah ayat 8, Allah berfirman :
Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi yang adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Junjungan kita Nabi Muhammad saw. bersabda :
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ. (رواه البخارى ومسلم)
Artinya:
“Setiap pemimpin (atau kamu sekalian) adalah pengawas-pengawas atau pemimpin-pemimpin dan kamu semua akan ditanyakan oleh Allah Swt. berkenaan dengan tugas yang dibebankan kepada kamu”.(Bukhari – Muslim).

Nabi Muhammad saw. bersabda :

يُوْشِكُ اَنْيَأْتِيَ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَيَبْقَى مِنَ اْلاِسْلاَمِ اِلاَاسْمُهُ وَلاَ مِنَ الْقُرْآنِ اِلاَرَسْمُهُ مَسَا جِدُهُمْ عَامِرَةٌ وَهِيَ خَرَابٌ مِنَ الْهُدَى عُلَمَا ئُهُمْ شَرُّ مَنْ تَحْتَ اَدِيْمِ الشَّمَاءِ مِنْ عِنْدِهِمْ تَخْرُجُ الْفِتْنَةُ وَفِيْهِمْ تَعُوْدُ.
(بيحاقى ومسكوة ـ ص )
Artinya:
“Akan datang masanya pada manusia bilamana Islam hanya tinggal namanya saja, dan Al-Qur’an tinggal tulisannya saja (tanpa manusia mengerti dan mengamalkan isinya). Mesjid-mesjid akan ramai dan penuh dengan orang-orang, tetapi kosong dari petunjuk. Ulama-ulama mereka akan menjadi wujud yang paling buruk di bawah kolong langit ini, fitnah-fitnah dan kekacauan akan mengalir dari mereka dan akhirnya akan kembali kepada mereka juga”. (Baihaqi, Misykaat, halaman 38).

اَلْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَاجَرَ مَانَهَى اللهُ عَنْهُ. (رواه البخارى)
Artinya:
“Orang muslimin ialah orang yang memelihara orang Islam dari bencana lidah dan tangannya, dan orang muhajir ialah orang yang meninggalkan larangan Allah”(Bukhari).

لاَيُؤْمِنُ اَحَدُكُمْ حَتىَّ يُحِبُّ لأَِخِيْهِ مَايُحِبُّ لِنَفْسِهِ. (رواه البخارى و مسلم)
Artinya:
“Tidak sempurna keimanan seseorang di antara kamu, sebelum disukainya untuk saudaranya apa yang disukainya untuk dirinya sendiri”(Bukhari – Muslim).

لاَيَرْحَمُ اللهُ مَنْ لاَ يَرْحَمُ النَّاسَ. (رواه البخارى)
Artinya:
“Allah tidak akan memperlihatkan belas kasihan pada seseorang yang tidak memperlihatkan belas kasihan pada orang lain”.(Bukhari).

سَتَفْتَرِقُ اًمَّتىِ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً كُلُّهُمْ فىِ النَّارِ اِلاَّ مِلَّةً وَاحِدَةً. (رواه الابوداود والترمذى ومشكوة ص )
Artinya:
“Suatu masa akan datang bilamana ummatku akan pecah menjadi 73 firqah (golongan); semuanya masuk neraka kecuali satu firqah atau golongan” (Abu Daud; Tirmizi Misykaat, halaman 30).

مَنْ دَعَارَجُوْلاً بِالْكُفْرِ اَوْقَلَ عَدُوَّاللهِ وَلَيْسَ كَذلِكَ اِلاَّحَارَعَلَيْهِ.
(رواه البخارى)
Artinya:
“Barangsiapa memanggil atau menyebut seseorang itu kafir atau musuh Allah dan sebenarnya bukan demikian (yakni orang yang dipanggil itu tidak kafir dan pula musuh Allah), maka ucapan itu akan kembali kepada orang yang mengatakan (menuduh) itu. (Dan dia itu akan menerima dosa kekafiran dan dosa menjadi musuh Allah)”(Bukhari).

مَنْ صَلَّى صَلَوتَنَا وَاسْتَـقْبَلَ قِبْلَتَناَ وَاَكَلَ ذَبِيْحَتَنَا فَذَلِكَ الْمُسْلِمُ.
(رواه البخارى)
Artinya:
“Barangsiapa sembahyang seperti kami, dan menghadapkan wajahnya ke Kiblat kami dan makan makanan yang kami sembelih, maka ia itu adalah seorang muslim” (Bukhari).

Saudara-saudara sebangsa dan setanah air yang terhormat.

Dengan mengemukakan 15 firman-firman Allah serta sabda-sabda Rasul Suci Muhammad saw., Saudara-saudara dapat memaklumi betapa dalamnya “Jurang Pemisah” antara kedudukan (fatwa) Majelis Ulama Indonesia dengan nasehat-nasehat suci tersebut. Sesungguhnya hanyalah Allah Taala saja yang berhak dan dapat menentukan, apakah seorang atau suatu golongan berada di luar Islam atau tidak, karena Dia-lah saja yang dapat mengetahui “hati” dimana iman tersimpan.

Majelis Ulama Indonesia bukanlah suatu lembaga yang diberi kekuasaan atau wewenang oleh Allah Taala untuk mengeluarkan orang atau suatu badan dari Islam. Sepengetahuan kami, Majelis Ulama Indonesia hanya satu lembaga yang didirikan oleh Pemerintah Republik Indonesia, dengan tugas memberi nasihat kepada Pemerintah, diminta atau tidak diminta, artinya nasihat Majelis Ulama Indonesia bisa dierima kalau sesuai dengan dua landasan Negara Republik Indonesia yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dan akan ditolak kalau bertentangan dengan kedua dasar itu.

Fatwa Majelis Ulama Indonesia itu jelas sangat bertentangan dengan Sila Pertama yang mengemukakan bahwa seseorang atau badan yang berpegang pada Kemahaesaan Tuhan terjamin hidup dalam Negara Republik Indonesia. Pancasila tidak menentukan apakah Kemahaesaan Tuhan itu di dalam atau di luar Islam, di dalam atau di luar Kristen, di dalam atau di luar Katholik, di dalam atau di luar Hindu, di dalam atau di luar Budha, semua itu tercakup dalam rangkuman Sila Pertama dari Pancasila.

Menerima fatwa itu berarti sama saja dengan membiarkan barang suatu yang akan menggoyahkan, bahkan akan membahayakan Pancasila. Demikianpun bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 pasal 29, yang secara tegas menjamin “kebebasan beragama”. Dalam pasal itu sama sekali tidak ada ketentuan bahwa yang dimaksudkan dengan agama dalam pasal itu adalah agama Islam. Mungkin Majelis Ulama Indonesia justru hendak meng”identik”kan agama dalam Undang-Undang Dasar 1945 itu dengan agama Islam dalam fatwanya itu.
Jadi secara prinsipil, fatwa Majelis Ulama Indonesia tentang Ahmadiyah adalah suatu keputusan yang bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Apalagi bilamana kita perhatikan bahwa fatwa itu tidak didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadits dan hanya didasarkan pada isi 9 (sembilan) buah buku (yang dikarang oleh orang-orang atau golongan yang tidak menyenangi Ahmadiyah) dan hanya semata-mata bertujuan untuk mengelabui ummat Islam, sebagaimana yang dimaksudkan oleh Hadits-hadits yang dijelaskan di atas. Padahal tujuan pokok dari Majelis Ulama Indonesia sebagaimana yang dinyatakan dalam Pedoman Dasar Majelis Ulama Indonesia, Bab II pasal 3, ialah :

“Majelis Ulama Indonesia bertujuan ikut serta mewujudkan masyarakat yang aman, damai, adil dan makmur rohaniah dan jasmaniah sesuai dengan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan Garis-Garis Besar Haluan Negara yang diridhai oleh Allah Swt”.

Berdasarkan tujuan utamanya itu, bagaimana mungkin Majelis Ulama Indonesia dapat mewujudkan suatu masyarakat yang aman, damai, adil dan makmur yang diridhai Allah Swt bilamana mereka secara terang-terangan mengabaikan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia nomor II/MPR/1978 tentang Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (Ekaprasetia Pancakarsa). Keputusan-keputusan Menteri Agama R.I. nasihat-nasihat Presiden Republik Indonesia serta firman-firman Allah Swt dan sabda-sabda Rasul Suci Muhammad saw?.

Majelis Ulama Indonesia mungkin menyangka bahwa merekalah yang menjadi pembela Islam yang sebenarnya. Apakah ajaran-ajaran Islam yang suci itu dapat tersiar di dunia ini dengan jalan melemparkan fatwa atau memfitnah sesama ummat? Apakah mereka memang mendapat mandat dari Allah Taala bahwa merekalah yang berhak me-non-Islam-kan seseorang? Apakah mereka mendapat pula jaminan dari Allah Taala bahwa merekalah yang berada di pihak yang benar? Bukankah Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an Suci : “Laa ikraaha fiddin, qad tabayyanar rusydu minal ghayyi” yang maksudnya “Tidak ada paksaan dalam soal-soal agama, karena hidayah atau petunjuk itu jelas sekali kebenarannya dari kebathilannya”(Al-Baqarah ayat 256)

Sebenarnya fatwa dan tuduhan-tuduhan yang diputuskan itu hanya merupakan fitnahan belaka. Keputusan itu hanya merupakan pengulangan dari fatwa-fatwa yang telah dilontarkan terhadap Ahmadiyah sejak ia mulai berdiri, karena sebagaimana yang telah kami kemukakan tadi, bahwa hanya Tuhan sajalah yang dapat menyatakan seseorang kafir atau bukan. Fatwa Ulama-ulama itu bisa berobah dari suatu keadaan kepada keadaan yang lain. Fatwa kafir mengkafirkan sudah biasa terdapat di antara satu mazhab dengan mazhab lain, di antara satu golongan dengan golongan yang lain. Dan hal ini terdapat dalam semua negara Islam, antaranya di India, Pakistan, Arab dan lain-lain. Oleh karena itu kalau dibenarkan fatwa-fatwa itu maka di dunia ini tidak ada tinggal lagi golongan yang masih Islam, karena semuanya telah dicap kafir atau bukan Islam oleh golongan lainnya (The Munir Report, Pakistan, 1953).

Atau mungkin fatwa Majelis Ulama Indonesia bermaksud mengikuti jejak Ulama-ulama Mekah. Keputusan Ulama-ulama di Mekah yang menghukum “kafir” terhadap Jemaat Ahmadiyah itu diambil di Mekah di bawah naungan Raja Saudi yang menjadi pengikut dari gerakan Wahabi. Justru golongan Wahabi ini pada suatu waktu dalam sejarah pernah juga dihukum kafir atau dikafirkan oleh suatu kumpulan ulama-ulama. Keputusan ini juga diambil di Mekah, pada waktu kota suci itu masih belum jatuh ke tangan kaum Wahabi. Selama dua belas tahun keluarga Saudi dilarang menunaikan ibadah haji. Beberapa ulama dari India, yang pergi ke Hijaz dan kemudian diketahui bahwa mereka penganut-penganut Wahabi, didera oleh pembesar-pembesar Hijaz dengan 39 kali lecutan.

Nasib yang malang ini juga menimpa patriot India yang terkenal, Hadhrat Sayyid Ahmad Barelvi, mujadid abad yang ke 13. Ia diusir dari Mekah ketika ia melakukan ibadah haji pada tahun 1822-1823 dan sebabnya hanya karena ia ternyata menganut ajaran Wahabi (Encyclopedia of Islam, halaman 621).
Sekarang bagaimana bisa sah fatwa ulama-ulama dengan dukungan ajaran Wahabi yang sudah dianggap kafir dan bukan Islam oleh ulama-ulama terdahulu?

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, sewaktu almarhum Bung Karno pada tahun tiga puluhan sedang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia, seorang ulama yang kebetulan pula seorang lawan keras dari Jemaat Ahmadiyah, memfitnah dengan fatwanya, bahwa perjuangan Bung Karno adalah sesat karena didasarkan pada Kebangsaan (Nasionalisme). Fitnahan ini nyatanya menyakitkan hati Bung Karno sehingga ketika beliau menjadi Presiden Republik Indonesia sesudah merdeka selaku hasil perjuangannya bersama rakyat Indonesia, beliau sering menyindir ulama yang menghukumnya sesat atau kafir itu. Di sini terlihatlah, bahwa betapa gampangnya para ulama itu mengkafirkan sesama muslim tanpa kelihatan adanya rasa takut dari Allah Taala.

Sesungguhnya tujuan dan maksud Jemaat Ahmadiyah adalah jelas sekali. Hal ini dinyatakan secara terperinci dalam syarat-syarat bai’atnya. Tujuannya terutama adalah mencari keridhaan Allah Swt, serta hidup secara damai dan membantu sesama manusia sebagaimana diperintahkan dalam Al-Qur’an Suci dan dipesankan oleh Nabi Besar Muhammad saw. Sekiranya ada golongan-golongan manusia yang mencoba memutar-balikkan tujuan dan keimanan kami ini, maka mereka ini harus mempertanggung-jawabkan kepada Allah yang bersifat Kahhar dan Jabbar itu. Allah Swt senantiasa melihat gejala sesuatu yang tersembunyi dalam hati sanubari manusia.

Setiap manusia yang bertindak munafik tentu akan mendapat ganjaran dari perbuatannya. Dalam hal ini kami dapat mengutip kata-kata tegas dari Imam kami, Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. yang terdapat dalam buku Invitation to Ahmadiyyat. Buku ini merupakan surat terbuka yang dihadapkan kepada Raja dan Pemimpin-pemimpin Afghanistan. Buku tersebut berisi + 400 halaman, yang di dalamnya secara panjang lebar dilukiskan itikad, tujuan, ajaran-ajaran dan pesan Jemaat Ahmadiyah yang wajib diperhatikan, karena akan berakibat serius dan membahayakan bilamana tidak dihiraukan.

Dalam buku itu, beliau di antaranya mengatakan :
“Kami adalah orang-orang Muslim, baik dalam hati maupun dalam jiwa. Kami memiliki kepercayaan-kepercayaan sebagaimana seorang muslim sejati mempercayainya dan menolak kepercayaan-kepercayaan sebagaimana seorang muslim sejati menolaknya. Kami menyatakan dengan secara tulus kebenaran ajaran-ajaran Islam serta secara patuh mengamalkan seluruh hukum Allah Swt. Orang yang menamakan dan mencap kami kafir atau pembuat agama baru, maka tindakannya itu adalah sangat aniaya dan tak menaruh belas kasihan. Hal ini harus ia pertanggung-jawabkan kepada Allah Swt.

“Seseorang dapat dihukum sesuai dengan keterangan-keterangan yang keluar dari mulutnya, tetapi ia tak dapat dituntut mengenai hal-hal yang tersembunyi dalam hati sanubarinya. Siapakah yang dapat menerka hal-hal yang tersembunyi dalam hati manusia? Seseorang yang menuduh orang lain dengan tuduhan, bahwa apa yang dikatakannya berlainan dengan yang ada dalam kalbunya, mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Karena hanya Tuhan-lah yang dapat mengetahui hal-hal yang ada dalam hati sanubari manusia. DIA sajalah yang mengetahui apa-apa yang dipikirkan manusia dan apa-apa yang dipercayainya”.
“Rasul Suci Muhammad saw. sendiri mengakui batas-batas kemampuan manusia ini. Beliau saw. bersabda :

اِنَّكُمْ تَخْتَصِمُوْنَ اِلَيَّ وَاِنَّمَا اَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ وَلَعَلَّ بَعْضَكُمْ اَنْ تَكُوْنَ اَلْحَنَ بِحُجَّتِهِ مِنْ بَعْضٍ فَإِنَّمَاقَضَيْتُ ِلأَحَدٍ مِنْكُمْ بِشَيْئٍ مِنْ حَقِّ اَخِيْهِ فَإِنَّمَا اَقْطَعُ لَهُ قِطْعَةً مِنَ النَّارِ فَلاَ يَأْخُذُ مِنْهُ شَيْئًا. (رواه البخارى كتاب الاحكم باب موعظة الايمان)
Artinya:
“Ada di antara kamu yang membawa sengketanya kepadaku. Aku hanya manusia biasa sebagaimana kamu. Ada kemungkinan bahwa segolongan dari kamu lebih fasih mengemukakan perkaranya dari golongan lain. Sekiranya aku memutuskan sesuatu perkara dan membenarkan seseorang padahal bukan haknya, maka ketahuilah bahwa aku telah memberikan api neraka kepadanya. Hendaknya ia menolaknya”(Bukhari, Kitabul-Ahkam, bab Muuzatul Iman).

Lebih lanjut Imam kami menulis :
“Dalam buku-buku hadits, kita telah membaca, bahwa Usama bin Zaid telah diangkat sebagai Panglima dari suatu pasukan oleh Rasulullah saw. Usama telah menghadapi seorang musuh kafir dan kemudian menyerangnya. Ketika orang kafir itu terdesak, maka ia segera mengucapkan kalimah syahadat, menyatakan keyakinannya tentang kebenaran agama Islam. Tetapi Usama waktu itu membunuhnya. Ketika kejadian ini didengar oleh Rasulullah saw., maka beliau menanyakan hal itu kepada Usama, kenapa ia melakukan hal itu. Usama menjelaskan bahwa orang kafir itu menyatakan kalimah syahadat atau akan memeluk Islam didorong oleh ketakutan.
Mendengar hal ini, Rasulullah saw. berkata : “Apakah Usama telah membelah hatinya kemudian melihatnya?” Maksudnya apakah Usama mengetahui benar-benar bahwa orang kafir itu telah memeluk Islam didorong oleh ketakutan atau semata-mata disebabkan keikhlasan hati, karena apa yang terkandung dalam hati manusia sukar untuk diketahui. Tegasnya, sesuatu fatwa dapat dinyatakan sesuai dengan kata-kata yang dikeluarkan manusia, tetapi bukan berdasar atas hal-hal yang tersembunyi dalam hati sanubarinya, karena yang terkandung dalam hati manusia, hanya Tuhan-lah yang mengetahui. Dan orang yang menjatuhkan fatwa atas apa yang ada dalam hati sanubari manusia maka orang demikian adalah pendusta dan tentu Tuhan akan memegang batang lehernya.

Dengan demikian manusia hanya dapat dihukum atas hal-hal yang dinyatakannya, tetapi bukan atas hal-hal yang tersembunyi dalam hatinya. Dalam hal ini bilamana anggota-anggota Jemaat Ahmadiyah menyatakan dirinya sebagai orang-orang Muslim, maka tak seorang pun berhak menjatuhkan fatwa untuk menyatakan bahwa pengakuan kami itu adalah semata-mata perbuatan pura-pura saja; bahwa dalam hati sanubari kami mengingkari Islam atau Nabi Muhammad saw. bahwa kami membuat kalimah syahadat baru atau kami menghadap kiblat baru.
Sekiranya golongan manusia lain berhak menuduh seenaknya saja terhadap kami, maka kami pun berhak untuk membalas tuduhan demikian. Kamipun berhak untuk menyatakan bahwa mereka memeluk Islam secara pura-pura, bahwa mereka – naudzu billah – hanya di mulut mengakui Islam dan Nabinya tetapi hatinya menolak Islam dan Nabinya. Akan tetapi kami akan tetap memegang kebenaran, walaupun ada golongan yang memusuhi. Kami tidak dapat menyatakan fatwa terhadap seseorang bahwa apa saja yang dinyatakan oleh mulutnya adalah berlainan dengan hatinya. Kami patuh benar-benar terhadap hukum-hukum Islam. Putusan-putusan atau pendapat kami adalah hanya didasarkan atas hal-hal yang dinyatakan manusia”.

Sesudah kami mengemukakan pandangan mengenai tindakan Majelis Ulama Indonesia, yang pada hakekatnya dapat menodai kemurnian Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, maka kami akan menjelaskan beberapa masalah yang mungkin menimbulkan syak wasangka di kalangan ummat Islam terhadap beberapa itikad dan pendirian Jemaat Ahmadiyah.

Kami mengemukakan hal ini semata-mata berdasarkan ajaran-ajaran agama Islam dan nasehat-nasehat Imam Mahdi a.s. serta terdorong oleh keikhlasan maksud untuk mencari keridhaan Allah Swt. dan supaya di hari kiamat di hadapan Allah Swt., Pencipta segala sesuatu di alam semesta ini, kami anggota-anggota Jemaat Ahmadiyah Indonesia tidak akan merasa malu dan dengan lapang dada akan dapat mempersembahkan, bahwa kami sebagai hamba-hamba Tuhan yang hina dina telah menyelesaikan kewajiban kami menyampaikan khabar suka dan peringatan hakiki kepada sesama manusia selama kami hidup di dunia yang fana ini.

Adapun masalah-masalah itu adalah sebagai berikut :

Pendirian dan itikad Jemaat Ahmadiyah.

Riwayat Singkat Jemaat Ahmadiyah.

Syarat-syarat bai’at masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah.

Riwayat Singkat Pendiri Jemaat Ahmadiyah, dan ajaran-ajarannya.

Pengakuan dan Keimanan Pendiri Jemaat Ahmadiyah.

Itikad Jemaat Ahmadiyah mengenai wafatnya Nabi Isa a.s.

Ayat-ayat Al-Qur’an Suci tentang kedatangan Nabi-nabi sesudah Nabi Suci Muhammad saw.

Penjelasan Al-Qur’an Suci mengenai Nabi Muhamad saw. sebagai Khataman Nabiyyin.

Hadits-hadits tentang kedatangan Nabi sesudah nabi suci Muhammad saw.

Kebenaran Pendiri Jemaat Ahmadiyah menurut Al-Qur’an dan Hadits.

Nabi-nabi dan para pengikutnya senantiasa dimusuhi manusia.

Janji-janji Allah Swt. kepada Pendiri Jemaat Ahmadiyah.

Sumbangan Jemaat Ahmadiyah terhadap Islam.

Pengabdian Jemaat Ahmadiyah kepada Perjuangan Kemerdekaan Republik Indonesia.

Cara seorang Ahmadi melaksanakan Pancasila.
Tugas yang dihadapi Ahmadiyah dewasa ini.

Buku-buku karya Agung Pendiri Jemaat Ahmadiyah.

Mudah-mudahan keterangan dan penjelasan-penjelasan ini akan memberi petunjuk, taufiq, hidayat, karunia dan sakinah bagi seluruh bangsa Indonesia yang kami hormati dan cintai. Semoga Allah Swt mengabulkan harapan-harapan kami. Amin ya Robbal Alamin.

ARTI KHATAMAN-NABIYYIN

In Ahmadiyah, Ahmadiyah, Kamis, November, Tabligh, Uncategorized on 17 Oktober 2009 at 12:19

Kata “Khatam”

1. Allamah Az-Zarqani: “Sebagus-bagus Nabi dalam hal kejadian dan dalam hal akhlaq.” (Syarh Al-Mawahibul Laduniyah, Juz III, hal. 163).

2. Allamah Ibnu Khaldun: “Nabi yang mendapat Kenabian yang sempurna.” (Muqadimah Fatsal 52).

3. Abu Hasan Asy-Syarif Ar-Ridha: “Penjaga bagi syariat, pengumpul bagi ajaran dan tanda-tanda, cap atau stempel.” (Takhsinul Biyan Fii Majaazatil-Quraan, hal. 191-192).

4. Asy-Syech Bali Effendi: “Tidak ada sesudahnya Nabi yang membawa syariat dan tidak menghalangi adanya Nabi Isa di belakang beliau.” (Syarh Fususul-Hikam, hal. 56).

5. Menurut ahli Lughot `Arab: “Paling mulia”. (Miratusy-Syuruh, hal. 38).

6. Kamus Quran Imam Ar-Raghib: “Stempel.” (Di bawah kata “khatam”).

7. Allamah Abdul Fadhli: “Kebagusan atau perhiasan.” (Gharibul-Quraan Fii Lughatil-Quraan).

8. Lembaga Bahasa IAIN Syarif Hidayatullah: “Cincin”. (Al-`Arabiyyah Bin Namaazij, hal. 149).

9. Allamah Imam `Ali Al-Qori: “Tidak ada Nabi sesudahnya yang akan membatalkan agamanya, dan Nabi yang bukan dari umatnya.” (Maudhuat Kabir,
hal. 59).

10. Maulana Jalaluddin Rumi: “Limpahan karunia Tuhan tidak akan menyamai beliau saw. baik sebelumnya atau yang akan datang.” (Matsnawi, Jilid VII, hal. 8).

11. Waliyullah Syah Muhaddits Delvi, Mujaddid Abad XII: “Tidak didapatkan seseorang yang seperti beliau yang Allah utus kepada manusia sebagai pembawa syariat.” (Tafhimatul Ilahiyyah, Jilid II, hal. 72; APB, hal. 204).

12. Syech Abdul Qadir Al-Rustani: “Setelah beliau saw., tak dibangkitkan seorang Nabi pembawa syariat baru.” (Taqribul-Maram, Jilid II, hal. 233; AKN, hal. 13).

13. Maulana Abu Hasanat Abdul Hayye: “Setelah pribadi Rasulullah saw., tidak tertutup kemungkinan adanya Nabi kecuali pembawa syariat baru.” (Dafi’ul Was-waas, hal. 16; AKN, hal. 13).

14. Ahli Tasawuf, Mirza Madhzar Jan Jana (wafat, 1781): “Selain pembawa syariat sempurna, bagi Allah tidak ada penghalang adanya Kenabian lain.” (Maqamat Mazhari, hal. 88; AKN, hal. 14).

15. Syech Abu Said Mubarak Ibn Ali Mahzumi (wafat, 513 H): “Manusia yang paling sempurna.” (Tuhfah Mursalah Syarif Materjam, hal. 51; AKN, hal. 21).

16. Sufi Abu Abdullah Muhammad bin Ali Hussain Al-Hakim At-Tarmidzi (wafat, 308 H): “Nabi terakhir dalam hal kedatangan tiada keistimewaan, ini adalah ta’wil orang-orang bodoh dan jahil.” (Kitaab Khaatamul-Auliyaa’, hal. 341; AKN, hal. 21).

17. Maulana Muhammad Qosim Nanotawi (wafat, 1297 H): “Kedudukan terpuji.” (Tahzirun-Naas, hal. 3; AKN, hal. 22).

18. Imam Fachruddin Ar-Razi (wafat, 544 H): “Harus berarti paling mulia.” (Tafsir Kabir, Jilid VI, hal. 31).

19. Sayyid Abdul Karim Jailani (wafat, 767 H): “Pembawa kesempurnaan.” (Insaanul-Kamiil, Bab 36, Jilid X, hal. 69).

20. Tafsir Shafi, hal. 111: “Paling mulia.”

21. Tafsir Majma’ul Bahrain, di bawah ayat “khataman-nabiyyin”: “Rasulullah saw. adalah perhiasan bagi para Nabi.” IN 76

22. Tafsir Fat’hul-Bayan, Jilid VII, hal. 286: “Cincin bagi para Nabi.” IN 81

23. Imam Qasthalani menulis dalam Syarh Bukhari: “Penyempurnaan syariat-syariat agama (Irsyad Assari Qasthalani, Jilid VII, Bab “Khataman-Nabiyyin”, hal. 256) dan turunnya Nabi Isa a.s. tidak bertentangan khataman-nubuwwat, sebab, ia ada pada agama beliau saw. (Syarh Bukhari, Jilid VII, hal. 255). IN 81

24. Akmal Addin, hal. 375 adalah kitab orang Syiah: “Kedatangan pemberi petunjuk dari antara Nabi-nabi dan Wali-wali, sekali-kali tidak boleh tertutup selagi manusia belum mengamalkan hukum-hukum Allah.” IN 82

25. Tafsir Al-Qummi, hal. 33: “Allah Taala mengambil air, lalu berfirman, Aku akan tetap menjadikan Nabi dari-mu, menjadikan Rasul, orang-orang Saleh, Imam-imam pemberi petunjuk…” IN 82